"Kau benar! Rubah." dibelalakkannya mata lebar-lebar saat merasakan tepukan di bahu kirinya dengan bonus mendengar seruan bernada datar dari Sang Pangeran.
"Jaga dia baik-baik. Aku akan berada di perpustakaan untuk mencari sesuatu." lanjut Sasuke sambil melepaskan tangannya dari bahu Gaara.
Gaara masih cengok. Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
'Pangeran tidak marah padaku? Padahal... Padahal...'
"Berhenti berpose seperti itu."
Mendengar instruksi Sang Pangeran, siluman rakun pun memasang kembali wajah stoicnya.
"Seharusnya Neji melihat ekspresimu tadi." Sasuke sedikit terkekeh saat memunggungi Gaara dan membentangkan sayap hitam yang sedari tadi tersembunyi di balik punggungnya.
Mendengar hal itu, Gaara pun hanya dapat berjuang mati-matian menyembunyikan semburat merah yang hampir menelan seluruh pipinya.
"Dan kurasa dia sudah melihatnya." Sang Pangeran bersiap meninggalkan ujung menara yang menjadi tempat pertemuannya dengan Gaara.
"Keluar dari situ Hyuuga." perintah Sasuke sambil melempar sebuah batu – yang entah dari mana mendapatkannya – ke sebuah jendela yang berada tidak jauh dari mereka
Tak lama kemudian, keluarlah seorang pemuda berambut coklat panjang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memasang wajah stoic sambil memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan rasa malunya karena ketahuan mengintip.
Sasuke berjalan pelan ke arah Neji.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan me-rape nya." ucapnya datar namun sukses membuat wajah Neji bersemu merah.
"Nikmati malam kalian." Sang Pangeran pun terbang menuju jendela perpustakaan yang berada di bagian istana sebelah utara.
Sementara Neji dan Gaara yang ditinggalkan hanya dapat saling mematung dan tersipu.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." ucap Gaara pada akhirnya.
"Hn. Ayo pulang." gumam sang Hyuuga mencoba stoic sambil menggandeng lengan si pemuda rakun.
"Sasuke-sama memintaku menjaga Naruto." bagaimanapun juga perintah Sang Pangeran harus dilaksanakan, tapi tak dapat dupingkiri bila Gaara ingin menghabiskan malam ini bersama kekasihnya. Bagaimana ini?
"Kelihatannya Sasuke sudah memasang kekkai terbaiknya, dan aku juga akan mengawasi dengan byakugan." Neji berucap. Seakan ingin menenangkan kekasihnya yang terlihat bimbang.
Gaara mengangguk sekali.
'Ahh akhirnya malam ini bisa melakukan 'itu' dengan Gaara.' Inner Neji mulai berpikir yang iya-iya.
Tanpa mengetahui 'bahaya' yang mengancam, pemuda berambut scarlet itu mengeratkan gandengan di tangan kanannya sambil berjalan mengikuti kekasihnya.
.
.
Title: Night Kingdom
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Fantasy, Romance (?) Hurt/Comfort (?) Humor (?)entahlah.. bantu Kyuu menentukan :3
Pair: SasuNaru (main)
ItaDei
MendokuseixKiba
Warning: tittle n sub-tittle ga nyambung, abal, geje, nista, ga mutu, bikin muntah, typo berkeliaran dimana-mana dan masih banyak lagi
Chap 4: Anger
.
.
Remang cahaya bulan menembus jendela kristal dibelakang seorang pemuda berambut midnight-blue yang tengah asik mengobrak-abrik sebuah ruangan dengan ribuan buku di dalamnya, perpustakaan istana.
'Ini sama sekali tidak berguna. Tidak ada satupun yang memuat tentang rubah disini.' Sasuke mulai geram. sudah tiga jam ia berkutat dengan buku-buku tebal itu. Mulai dari memilih mana yang kira-kira memuat tentang rubah, sampai membaca kilat isi bukunya. Tapi hasilnya nihil. Benar-benar tidak ada satupun yang memuat tentang rubah.
'Aku yakin pernah membacanya di suatu tempat. Tapi dimana sih? Dan, Hei? Kenapa aku jadi sangat tertarik dengan rubah? Ck, mendokusei.' Gerutu Sang Pangeran (lagi) sambil menirukan trademark dari seseorang yang dikenalnya.
Berjam-jam kemudian dihabiskan Sang P angeran untuk mencari dan mencari sesuatu yang sejak tadi membuatnya penasaran, rubah. Dan bertambah bingunglah Sasuke karena tidak satupun dari buku yang diambilnya memuat sesuatu yang berhubungan tentang rubah.
Bagaimana bisa seperti ini? Padahal menurut kakeknya, rubah adalah makhluk legenda yang memiliki kekuatan yang sangat besar.
.
Flashback
"Sasuke, kau tahu bahwa keluarga kita adalah yang terkuat di Dunia Langit?" seorang pria paruh baya berambut raven panjang agak jabrik mengelus kepala seorang anak berusia 6 tahun yang duduk disampingnya. Sudah sangat jelas bahwa pangeran kecil berambut pantat ayam itu adalah cucunya. Lihat saja ke rambut sang pria paruh baya! Benar-benar rambut pantat ayam versi panjang.
"Tentu saja. Ji-san. Memangnya ada yang lebih kuat dari keluarga Uchiha?" sang bocah mendongakkan kepalanya, menatap bingung kakeknya yang tiba-tiba menanyakan hal – yang menurut si bocah adalah hal – yang sangat bodoh.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa keluarga Uchiha adalah keluarga terhebat di Dunia Langit. Dan untuk apa kakeknya menanyakan hal yang sudah sangat jelas seperti itu?
Sang kakek tersenyum. Diacaknya rambut sang cucu, "Begitukan? Kenapa kau sangat yakin Sasuke?" pria bernama lengkap Uchiha Madara itu menuntut penjelasan dari sang cucu. Walau jujur, dia juga tahu bahwa Uchiha adalah iblis paling kuat – setidaknya untuk saat ini.
"Itu.. Mungkin karena keluarga Kita digariskan sebagai pemimpin dan juga Raja di sini?" Uchiha bungsu itu sedikit ragu. Ia hanya tahu bahwa keluarga Uchiha adalah iblis terkuat di Dunia Langit – yang entah sejak kapan berganti menjadi 'Night Kingdom'. Otak jeniusnya tidak pernah memikirkan hal-hal remeh seperti itu. Membuang-buang waktu saja, lagipula dia masih berusia 6 tahun kan?
Sang kakek tersenyum, "Uchiha adalah iblis dengan wujud paling sempurna. Berbeda dengan iblis lain yang merupakaan 'jelmaan' hewan atau tumbuhan, iblis dari keluarga Uchiha memiliki wujud manusia sempurna dengan sepasang sayap berbulu hitam. Selain itu, Uchiha juga memiliki mata Sharingan yang sangat kuat. Kita juga menguasai banyak jurus yang hanya bisa dilakukan oleh iblis berdarah Uchiha." cucu kesayangan yang duduk disampingnya kini manggut-manggut.
'Ternyata Uchiha memang akuma yang sangat kuat. Aku akan lebih banyak belajar dan berlatih agar bisa menjadi akuma yang hebat. Kemudian aku akan melamarnya...' inner Sasuke mulai menata masa depannya dengan seseorang yang dicintainya.
"Tapi.." perkataan Madara menggantung, " – sebenarnya ada yang sekuat kita loh.. Bahkan mungkin bisa memandingi kekuatan keluarga Uchiha." lanjutnya sambil tersenyum. Sasuke kecil yang tidak paham dengan apa yang dikatakan kakeknya itu pun memiringkan kepalanya, bingung.
"Mereka adalah 'bangsa rubah'. Dan mereka adalah orang-orang yang – "
"Otou-san. Ada masalah yang harus segera kita bicarakan." ucapan seseorang yang tengah berjalan terburu-buru ke arah duo kakek-cucu itu pun sukses memotong perkataan Madara.
"Tenanglah Fugaku. Tidak sepantasnya seorang Raja merengek seperti itu kan?" Madara mendecak pelan, merasa acara bersantainya dengan sang cucu telah dirusak oleh anaknya sendiri.
"Ini masalah Oroch – "
"Aku mengerti." potong Madara cepat. Ditatapnya sang anak dengan tatapan yang tidak Sasuke mengerti.
Mengerti maksud tatapan ayahnya, Fugaku pergi meninggalkan ayah bersama anak kesayangannya.
"Lain kali kakek ceritakan lagi soal rubah. Sekarang kakek harus pergi." Madara memegang bahu kiri sasuke, menyentuh tanda lahir yang bertengger manis di perpotongan antara leher dan bahu kiri Sasuke. Tanda lahir berbentuk tiga koma yang berkolaborasi sedemikian rupa membentuk struktur seperti lingkaran dengan beberapa garis meliuk yang mengelilinginya.
Sasuke mengangguk pelan, kemudian memandang langit yang mulai dihiasi satu-dua bintang.
'Sudah sore.' Pikir bocah berambut pantat ayam itu.
"Kakek. Aku akan pergi ke tempat temanku. Pulangnya mungkin besok pagi." ucap Sasuke agak keras mengingat kakeknya sudah berjarak lebih dari 10 meter dari tempatnya berdiri.
"Hati-hati.." hanya itu yang didengar Sang Pangeran kecil sebelum ia melayang menuju tempat temannya, Naruto.
End od Flashback
.
"Tou-san sialan!" bisiknya sambil mengacak rambutnya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Andai saja saat itu ayahnya tidak datang mengganggu acaranya bersantai dengan sang kakek, pasti saat ini Sasuke tidak akan penasaran dengan hal-hal berbau rubah – dan juga Naruto-nya yang selalu ber'atribut' rubah itu, apalagi rubah yang 'dimiliki' sang kekasih bukanlah rubah biasa. Rasa penasaran Sang Pangeran bertambah saat mengingat tanda lahir di perut pemuda pemilik sapphire itu
'Rubah... Tanda spiral... Piyama yang tiba-tiba muncul.. Dan lagi pukulannya terasa sakit. Huhh! Ada apa sih dengan kekasihku?'
"Benar juga.." gumam Sasuke tanpa sadar.
'Kalau rubah adalah makhluk legenda yang sangat kuat, maka tidak ada satupun dari buku disini yang memuat tentangnya.' Lanjutnya dalam Hati.
Dengan menggunakan sihir, Sasuke membereskan buku-buku yang tadi diambilnya.
'Tempat itu..'
Pangeran berambut pantat ayam *buaghh* (tinjued) itu pun berjalan angkuh keluar dari perpustakaan.
"Ahh Sasuke-sama. Maaf aku tidak melihatmu." ucap seorang pria berambut perak yang hampir menabrak Sasuke saat hendak keluar dari perpustakaan.
"Hn." gumam Sang Pangeran tanpa melihat pria bernama Kabuto itu sedikitpun.
."Apa yang Sasuke-sama cari di sini?" tanya Kabuto basa-basi sambil membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengahnya.
"Bukan urusanmu." jawab Sasuke sambil lalu, meninggalkan Kabuto yang saat ini tengah memandang punggung pangerannya dengan mata yang dipenuhi kilatan tajam, sarat akan kebencian yang mendalam.
"Jangan pedulikan pangeran bodoh itu. Cari informasi sebanyak-banyaknya!" perintah suara di dalam kepala Kabuto.
"Ha'i! Orochimaru-sama." pria yang bertugas sebagai tukang sapu kerajaan itu pun melangkahkan kakinya masuk ke perpustakaan.
.
.
Kicauan burung dan cahaya matahari yang hangat menemani sepasang suami-istri yang tengah membicarakan sesuatu yang kelihatannya sangat penting. Keduanya kini tengah duduk di meja makan, saling berhadapan.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu Minato?" terdengar suara khas seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya.
"Kau ingat? Saat Naruto berumur lima tahun, kita sering merasakan kekuatan yang berasal dari kamar Naruto?" tanya Minato sambil menatap istrinya. Kushina mengangguk, membenarkan pertanyaan Minato.
"Dan kekuatan yang terasa hampir tiap malam itu mulai menghilang saat usianya 6 tahun?" wanita berambut merah itu kembali mengangguk.
"Kupikir itu akibat dari pertambahan usianya." gumam Kushina.
"Awalnya kupikir juga begitu..." Minato menanggapi pendapat istrinya.
"Dan di malam saat anak kita menghilang, aku merasakan kekuatan yang jauh lebih besar. Auranya sangat kuat." lanjut sang kepala keluarga.
"Aku tidak merasakannya." sanggah sang istri.
"Kau sudah tidur Kushi-chan.."
"Ohh ya. Maaf. Apa kau yakin itu bukan berasal dari tubuh Naruto?"
"Apa Kyuubi memiliki aura yang dingin?"
Kushina menggeleng. Kyuubi adalah rubah api. Bagaimanapun juga kekuatannya tidak mungkin terasa dingin.
"Hanya ada dua kemungkinan, Naruto berada di tempat yang aman. Atau Naruto berada di tempat yang sangat berbahaya." jelas pria yang memiliki julukan 'Yellow Flash' itu sambil memberikan penekanan pada kata 'aman'.dan 'sangat berbahaya'.
Kushina mengerti betul dengan ucapan suaminya, terutama kata 'sangat berbahaya'. Itu sudah sangat jelas, nyawa Naruto sedang dalam bahaya. Dan untuk kata 'aman', itu berarti Naruto berada di tempat yang tidak benar-benar aman.
"Dan lagi.. Ada salah satu teman Naruto yang membuatku penasaran. Anak laki-laki yang tiba-tiba menjadi siswa Konoha Gakuen enam bulan yang lalu. Anak laki-laki yang membuat semua orang tidak menaruh curiga saat dia tiba-tiba duduk di bangku sekolah." Minato menatap jauh langit biru cerah melalui jendela di sebelahnya.
"Maksudmu, anak itu?" tanya Kushina tanpa menuntut jawaban sedikitpun.
"Ya. Dan kita harus tahu apa tujuannya datang ke tempat ini." gumam Minato penuh tekad.
.
.
"Nee Kiba. Kenapa Gaara sering terlihat bersama siapa itu namanya?" tanya seorang pemuda bermata secerah langit siang sambil menunjuk ke arah dua orang yang dicurigai bernama Gaara dan 'siapa itu namanya'.
"Neji?" Naruto mengangguk mengiyakan pertanyaan pemuda dengan tanda segitiga merah di pipi yang kini tengah mengelus dan memanjakan seekor anjing yang disinyalir memiliki hubungan darah dengan Kiba.
"Mereka kan sepasang kekasih." gumam pria berambut coklat jabrik itu.
"Uhukk... Uhgg.. Uhukk.." Naruto tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Kiba.
"Hei hei.. Kau ini kenapa sih?" Kiba menjentikkan jarinya, memunculkan segelas air putih di tangan kanannya, kemudian memberikan air putih itu kepada sahabatnya yang entah kenapa jadi mendadak keselek.
"Arigato..." si rambut duren mengambil air putih itu dan segera meminumnya.
"Kau tidak apa-apa Naruto? Tadi aku lihat kau terbatuk-batuk?" tanya Gaara yang – entah sejak kapan – berdiri di samping Naruto sambil menepuk-nepuk punggung Naruto, tepat di lambang keluarga Uchiha yang bertengger manis di punggung baju kerajaan Naruto.
"Eto.. Tidak apa-apa kok.. eheheh." Naruto tertawa garing, sedangkan Gaara menatap Kiba penasaran. Kiba hanya menggelengkan kepalanya saat sosok merah itu duduk disampingnya.
"Pantas saja Sasuke memanggilmu 'dobe'." perkataan sinis seorang pria berambut coklat panjang sukses menghentikan kegiatan ketiga orang disampingnya plus seekor anjing.
"Bicaralah yang sopan Neji. Tidak pantas kau memanggil Sasuke-sama dan juga Naruto seperti itu." Gaara menatap tajam kekasihnya. Dia memang tidak suka kalau kekasihnya itu bersikap tidak sopan, dan entah sejak kapan ia menjadi sangat tidak suka saat kekasihnya mengganggu Naruto.
"Hn. Aku pergi dulu." cuek, Neji pun meninggalkan para uke yang tengah terbengong – minus Gaara.
"Jadi... Sejak kapan kau berpacaran dengan Neji, Gaara?" tanya Naruto dengan tatapan menyelidik ke arah Gaara.
"Su – sudah lama sih." wajah Gaara memerah. Naruto dan Kiba yang melihat tingkah sahabat mereka itu pun hanya terkikik geli.
"Kau Kiba? Apa sudah memiliki kekasih?" kini tatapan menggoda Naruto beralih ke sosok siluman anjing yang duduk di sampingnya. Sementara yang ditatap hanya bersemu merah sambil mengelus rambut Akamaru.
"Kau.. Bukan pacarnya Akamaru kan?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, matanya memicing, menatap curiga ke arah Kiba.
"Baka! Tentu saja bukan!" teriak Kiba sambil menghadiahi kepala Naruto dengan jitakan.
"Aduh... Itaiii." si kepala duren mengusap kepalanya.
"Kiba..." Gaara ikut mengusap kepala Naruto sambil menghadiahi Kiba dengan death glare yang dia pelajari dari Sang Pangeran.
"Iya iya... Dasar Naruto-complex!" gerutu Kiba yang jelas-jelas ditujukan kepada Gaara. Beberapa hari ini Kiba memang menganugerahi si bocah rakun dengan julukan seperti itu. Ini semua disebabkan oleh perubahan sifat Gaara saat berada di dekat Naruto yang berubah menjadi super protective dan menjadi sedikit OOC. Kiba sendiri merasakan perasaan yang sama, rasa hangat dan ingin melindungi sebagai seorang sahabat.
"Jadi bagaimana Kiba?"
Lamunan Kiba terhenti saat Naruto meminta jawaban dari Kiba atas pertanyaan yang tadi.
"Aku punya kekasih sih.. Tapi beberapa bulan yang lalu dia pergi." gumam Kiba lirih dengan raut wajah sedih.
"Gomen Kiba. Aku tidak tahu kalau dia sudah mati." ucap Naruto sembarangan dengan muka yang ikut-ikutan sedih. Ucapan itu sukses membuat kepala Naruto menerima jitakan dari Kiba, juga Gaara. Hei hei, bagaimanapun juga, pacarnya Kiba adalah teman Gaara juga. Kau tidak mau kan kalau ada orang yang mengatakan hal-hal yang sembarangan mengenai temanmu?
"Huh.. dia hanya sedang ada misi dari Itachi-sama kok." gerutu Kiba – pura-pura – kesal.
"Go – gomenneee..." erang Naruto seraya mengelus kepalanya yang benjol bertingkat.
"Kau sendiri Naruto?"
"Apanya Gaara?" Naruto balik bertanya saat mendapat pertanyaan pemuda pemilik bola mata emerald itu. Sepertinya kebiasaan Sasuke sudah menular ke Naruto. Atau memang bocah rubah ini benar-benar clueless? Entahlah...
"Ceritakan pertemuanmu dengan Sasuke-sama." jelas Gaara.
Sambil tersipu, Naruto pun mulai menceritakannya. Saat pertama kali Sasuke datang ke kamarnya, saat itu bulan purnama. Naruto kecil yang melihat sosok Sasuke awalnya menganggap bahwa Sasuke adalah malaikat, tapi saat melihat kaki Sasuke manapak di lantai kamarnya, dia memutuskan bahwa Sasuke adalah manusia.
Sesekali mereka terkikik geli saat mendengar tingkah konyol Naruto, dan tawa mereka pun pecah saat mendengar insiden 'kuma'.
"Kau ini ada-ada saja Naruto.. Aduhh perutku sampai sakit." komentar Kiba setelah beberapa saat tertawa. Naruto yang mendengar itu menggembungkan pipinya. Sementara Gaara sudah bisa mengendalikan dirinya, kembali ke topeng stoicnya.
"Nee.. apa aku bisa bersatu dengan Teme ya..." raut muka Naruto berubah sendu. Didongakkannya wajah tan yang memiliki tanda lahir berupa tiga goresan halus di masing-masing pipinya itu ke arah langit, menatap langit siang yang berupa langit gelap tanpa bintang yang diterangi bulan purnama yang selalu terlihat besar.
"Tentu saja!" pemuda bermarga Inuzuka itu menepuk pelan pundak Naru.
"Tapi aku takut..." gumam Naruto masih sibuk mengamati entah-apa yang ada di langut.
"Semua pasti akan baik-baik saja. Tenanglah Naruto. Sasuke-sama pasti bisa mengatasinya." ucap Kiba mencoba ceria. Bagaimanapun juga ia sedikit tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
"Teme juga bilang begitu sih.. Tapi kau tau kan kalau aku dan Teme 'berbeda'?" langit cerah tak berawan itu terlihat sedikit smendung saat menatap kedua sahabatnya.
"Tenanglah Naruto. Lagipula kau akan be – " Kiba membekap mulut Gaara sambil menatapnya tajam. Gaara tertunduk, seakan berkata 'maaf' kepada Kiba. Sementara Naruto yang melihat hal itu hanya mengabaikannya.
Hening menyelimuti mereka bertiga. Tidak biasanya seperti ini...
"Ahh aku mau ke kamar mandi sebentar." Naruto memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka. Dia berdiri dan langsung berjalan pelan.
"Aku antar." Gaara ikut berdiri, ingin mengikuti langkah Naruto.
"Gaara. Aku bukan anak kecil. Bisakah kali ini saja kau biarkan aku pergi sendiri?" Naruto berucap dengan nada yang sedikit bergetar tanpa membalikkan badannya ke arah dua sahabatnya. Dia menghela nafas sebentar, "Lagipula aku hanya akan ke kamar mandi kan?" lanjutnya sambil membalikkan badan, tersenyum ke arah mereka berdua dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Hati-hati." gumam Gaara seakan tak rela, namun masih cukup jelas didengar Naruto. Kiba pun menarik lengan Gaara, memaksanya kembali duduk di kursi taman.
"Jangan sampai tersesat ya..!" teriak Kiba saat Naruto mulai menjauh. Naruto melambaikan tangan kirinya tanpa melihat mereka berdua, seolah berkata 'OK' padahal di pipinya kini tengah mengalir setetes kristal bening yang berasal dari matanya.
Mereka bertiga – plus Akamaru – tidak menyadari bahwa ada sepasang onyx yang sejak tadi mengawasi mereka dengan tatapan sendu.
"Begitu ya... Aku tidak menyangka semua akan jadi seperti ini." gumam si pemilik onyx sambil pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.
"Kau tidak boleh mengatakannya kepada Naruto. Biarkan Sasuke-sama yang menjelaskannya." gumam pemilik mata coklat tanpa malihat pemuda berkulit putih susu di sampingnya.
"Maaf.." ucap Gaara lirih sambil menunduk. Ia sadar bahwa hal yang akan dia kaakan tadi dapat membuat Naruto bertambah khawatir.
.
.
"Hiks.. Tenanglah Naru... Berhenti membuat semua orang disekitarmu khawatir... Uhh Sial!" bisik sesosok pemuda berambut pirang yang tengah terduduk di salah satu sudut istana. Menurut Gaara, tempatnya menyendiri saat ini sangat jarang dikunjungi, jadi Naruto memilih pergi ke tempat ini agar tidak ada yang melihat saat ia menangis.
"Sial..!" dipukulnya tembok disampingnya hingga retak.
"Berhenti melakukan itu Naruto... Kau akan terluka." didongakkan kepalanya ke atas saat ia mendengar suara baritone merdu yang sangat ia kenali.
"Teme?" diusapnya jejak-jejak air mata sesaat setelah ia mendapati sesosok pemuda bermata onyx dengan rambut pantat ayam yang tengah menatapnya sambil... tersenyum?
"Boleh aku duduk disini?" tanya sang pemilik onyx sambil (lagi-lagi) tersenyum.
"Kau ini apa-apaan sih Teme? Pakai minta ijin segala." Naruto menatap tajam kekasihnya sambil mengerutkan dahi.
'Teme aneh...'
Sasuke pun hanya menanggapi pertanyaan Naruto sambil tersenyum. Dia langsung duduk di samping Naruto, menggenggam tangan sang kekasih dan menatap bola mata sapphire kekasihnya itu.
Mereka berdua terdiam cukup lama.
'Seperti biasanya...' si pemuda pirang menghela napas.
"Kau manis Naruto.." Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Naruto. Posisinya saat ini duduk di depan Naruto dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri si pemuda pirang, sementara di belakang Naruto ada tembok yang sangat kokoh.
"Te – teme!" gerakan pemuda berambut raven itu sangat cepat sehingga Naruto tidak sempat menghindarinya.
'Siall!'
"Boleh kan kalau aku menciummu?" si pemuda raven makin mendekatkan wajahnya ke arah si pirang.
Naruto yang tadinya hampir menyerah dan mengikuti kemauan Sasuke pun mengurungkan niatnya saat menyadari sesuatu.
Diamatinya sosok sang kekasih dari ujung rambut, mata onyx, hidung, dan bibir yang terlihat –
"Kau..." Naruto menundukkan badannya. Bahunya bergetar.
"Hn?" pemuda berkulit alabastar itu pun menghentikan aksinya, padahal jarak mereka hanya tinggal 2,017 cm.
"Dimana Sasuke?" gumam pemilik tiga garis halus di masing-masing pipinya.
"Apa maksudmu Naru-chaan..." pemuda raven itu mengelus pipi Naruto.
"Aku tanya sekali lagi. Dimana Teme?"
"Kau ini bicara apa sih?"
Si pirang mendongakkan kepalanya. Menatap 'Sasuke' dengan mata yang bukan berwarna biru.
"KAU BUKAN SASUKE!"
'buggghhh!' Naruto meninju perut sosok 'Sasuke' di depannya.
"Aaaghhh!" erang kesakitan terdengar dari bibir 'Sasuke'.
'braaakkkh.. krrrkkk... krrkkk..' tubuh mulus itu terlempar beberapa meter dan menabrak tembok kokoh, menyebabkan tembok malang di belakangnya retak cukup parah dan juga membuat si empunya tubuh mengerang makin kesakitan.
"Beraninya kau menyamar menjadi Teme." gumam pemuda yang bola matanya kini berwarna crimson itu dengan nada yang sangat rendah. Membuat siapapun yang mendengar – termasuk 'Sasuke' dan tiga dari empat makhluk yang baru saja tiba di tempat itu – bergidik ngeri.
"Na – " langkah Gaara yang kini berjarak sekitar 10 meter dari TKP terhenti saat sosok raven di depannya menghalangi pemuda berambut scarlet dan temannya yang sedang menggendong anjing.
"Sasuke-sama?" gumam Kiba sedikit keberatan dengan aksi pemuda raven dihadapannya. Sementara si empunya nama hanya memberi isyarat agar mereka memerhatikan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.
"Katakan dimana Teme!" si pemuda pirang menarik kerah baju makhluk berwujud Sasuke itu. Hal ini otomatis membuat pemuda Sabaku dan duo Inuzuka menatap Sang Pangeran di hadapan mereka dan juga 'Sasuke' yang berada di dekat Naruto secara bergantian.
"Ke – kenapa kau bisa tahu?" kata 'Sasuke' terbata sambil mencoba melepaskan cengkraman Naruto.
"Kau pikir penyamaranmu itu sempurna?" pemuda pirang itu tertawa sinis.
"Ugghhhh!" erang pemuda itu lagi. Kali ini tanpa senyum yang menghiasi bibirnya. Pipinya terasa terbakar.
"Karena Sasuke yang asli tidak akan..."
"Ghh.."
"Karena Teme..."
"..."
"Teme..."
"..."
" – "
Naruto terdiam cukup lama. Membuat 'Sasuke', Gaara, Kiba, Akamaru dan juga Sasuke penasaran.
"Karena Sasuke..."
"..."
"KARENA SASUKE TIDAK AKAN MENABRAK TEMBOK HINGGA BIBIRNYA JONTOR SEPERTI ITU!" teriak Naruto tepat di depan muka 'Sasuke'.
Hal ini sukses membuat semua orang – termasuk Sasuke yang sedang bersama Gaara dan Kiba – sweatdrops.
"Katakan dimana Teme-KU" gumam Naruto lagi-lagi dengan nada rendah. Dia sudah bersiap memukul sosok raven di hadapannya lagi.
"Dobe." sentuhan di bahu kanannya membuat Naruto menghentikan aksinya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke. Benar-benar Sasuke. Bukan Sasuke palsu berbibir jontor.
"Teme..." mata yang tadinya berwarna crimson itu berubah menjadi seperti semula, sapphire. Dilepaskannya cengkraman pada Sasuke jontor.
"Kupikir kau sudah dimakan makhluk jontor itu.." pemuda berambut secerah matahari itu memeluk pemuda raven yang bibirnya tidak jontor. Sementara Gaara dan duo Inuzuka yang berada di belakang Sang Pangeran lagi-lagi sweatdrops.
"Hn. Berhenti berwujud sepertiku Sai." Sasuke menatap tajam sosok 'Sasuke' dihadapannya.
"Yah.. Mau bagaimana lagi? Aku sudah ketahuan..." pemuda yang dipanggil Sai itu pun berdiri, masih dengan senyum 'palsu' yang menghiasi bibir jon – (*plakk! Sai: bibir gue Cuma agak tebel aja bego!). Dia pun berubah menjadi pemuda berambut raven klimis pendek dengan wajah tampan (pengetik: muntah) dan bibir yang memang agak tebal yang selalu menyunggingkan senyum, kulitnya sangat pucat. Baju kerajaan yang dipakainya pun sedikit err – unik (?) Baju berwarna hitam – seperti yang biasa digunakan Sasuke, hanya saja baju ini memperlihatkan perut pemuda bernama Sai itu. Lengan bajunya pun tidak sama panjang.
"Otouto! Kau menghancurkan 'rumah kita' lagi eh?" teriak seorang pemuda berambut raven panjang yang kini tengah berlari menghampiri mereka. Dibelakangnya berjalan santai seorang pemuda yang tengah hamil tua. Rambutnya pirang panjang dengan mata biru pucat, Deidara.
Kedatangan Sang Raja ke TKP pun sontak membuat Gaara dan duo Inuzuka membungkuk hormat, sementara Sai hanya tersenyum memegangi perut dan wajahnya yang memar.
"Hn." jawab sang otouto cuek.
"Naru.. Kau baik-baik saja, un?" pemuda berambut pirang panjang itu mengelus rambut pemuda pirang lain yang sedang didekap adik iparnya.
"Un!" jawab Naruto mantap sambil menunjukkan cengiran khasnya.
"Sebaiknya aku pergi. Jaa...!" ucap si perut sekseehh. Tubuhnya berubah menjadi semacam tinta dan langsung menghilang begitu saja. Dasar makhluk tidak bertanggung jawab.
"Kiba! Gaara!" panggil Sasuke. Dua orang yang dipanggilnya itu pun ber 'Hai' ria dan langsung menghilang.
"Kau berhutang penjelasan Otouto." Itachi menatap tajam adiknya yang masih saja sibuk mendekap calon adik iparnya.
"Hn. Naruto, kau temani Dei-nii ke kamarnya ya. Aku dan aniki akan membereskan semua ini." Uchiha bungsu mengelus kepala sang Uzumaki. Dia memberi isyarat mata kepada dua pemuda di depannya. Mengerti. Mereka pun mengangguk singkat.
"Baiklah.." Sasuke pun melepaskan dekapannya.
"Jaga istriku baik-baik ya Naru-chan..." bisik Itachi cukup keras dan sukses mendapat hadiah jitakan manis dari Deidara.
"Maaf ya Naru-chan.. Aku mengganggu waktumu bersama Sasuke, un." pemuda dengan perut yang didalamnya dicurigai terdapat hasil perbuatan nista Itachi pun memasang tampang sedikit menyesal.
"Ahh tidak apa-apa kok. Lagipula aku juga sedikit lelah." balas Naruto ceria. Mereka berdua pun kini berjalan meninggalkan duo Uchiha yang berdiri menatap punggung sang pujaan hati masing-masing.
"Jadi – " sang kakak menarik nafas, kemudian menghembuskannya pelan, " – kau mau bicara apa Otouto?" Itachi memulai pembicaraan setelah kedua pemuda pirang itu tak lagi terlihat.
"Naruto yang melakukan semua ini." gumam Sasuke cukup jelas.
"Ap – apa?" Itachi membelalakkan matanya, mencoba meyakinkan bahwa pendengarannya salah. Tidak mungkin seorang manusia menghancurkan tembok istana 'Night Kingdom' begitu saja. Tempat ini dibangun dengan kekuatan sihir yang melindunginya. Tidak mungkin seorang manusia tanpa kekuatan sihir dapat menghancurkan temboknya seperti ini.
"Kau bercanda Otoutu.." sang kakak menepuk pundak adiknya, "bilang saja kau yang melakukannya. Kali ini aku tidak akan marah kok."
"Apa aku kelihatan bercanda Aniki?" Sasuke menatap kakaknya.
'Dia.. tidak bercanda/' batin pemuda berambut raven panjang saat mendapati mata adiknya memancarkan aura keterkejutan yang sangat besar.
"Anak itu.. Dia pernah memukul Gaara hingga wajahnya retak."
"Memukul Gaara?" Itachi membeo.
"Tangannya memar, tapi langsung menghilang setelah dia selesai mandi."
Itachi menatap adik kesayangannya tajam. Memukul Gaara? Hingga retak? Yang benar saja...
"Dia juga pernah memukulku." Sang Pangeran mengangkat sedikit bajunya, menunjukkan tanda memar di perutnya yang terlihat samar.
"Kau bercanda. Bagaimana bisa dia memukulmu sampai begitu?"
"Saat aku dalam kondisi sangat lengah. Sakitnya tidak terlalu, tapi memarnya tak kunjung hilang." jelas Sasuke panjang lebar.
"Tapi self-defensemu – "
"Aku tahu..." potong Sasuke cepat.
"Dan dia baru saja menghajar Sai gara-gara bocah bodoh itu menyamar menjadi diriku." Itachi masih memerhatikan adiknya. Dia tahu penjelasan sang Otouto belum selesai.
"Kau tahu Aniki? Matanya berwarna merah seperti ini saat marah." Sang Raja menatap mata adiknya yang tengah menunjukkan mata crimson dengan tatapan yang sangat tajam – bukan sharingan. Mata itu berbentuk seperti mata hewan liar. Sasuke dengan sukses meng-copy mata Naruto, membuat Itachi sedikit terlonjak saat melihat mata – sangat – tajam yang ditunjukkan adiknya.
"Kau benar. Ini bukan perbuatanmu dan aku belum pernah bertemu dengan aura yang seperti ini." Itachi mengedarkan pandangannya ke arah TKP dengan mata sharingan..
"Hn." mata Sasuke kembali berwarna onyx.
"Kita harus bicarakan hal ini dengan tou-san, juga kakek..."
.
.
Sai berjalan gontai sambil memegang perutnya yang masih saja terasa sakit. Dari sudut bibirnya mengalir darah akibat pukulan si bocah pirang.
"Si – sial!" runtuknya seraya merebahkan tubuhnya di sebuah kasur yang terdapat di tengah ruangan yang cukup besar berornamen pola-pola melengkung di seluruh tembok dan dindingnya.
"Kau bertindak gegabah Sai!" seorang pria paruh baya membawa mangkuk berisi cairan mencurigakan berwarna hijau pekat. Tangan kanan serta mata kanannya dibalut perban.
"Aku meyukainya Tou-san.." gumam pemuda yang hobi mengekspose udelnya itu.
"Sudah ku bilang kau harus berhati-hati dengan bocah pirang itu kan? Dia bukan manusia!"
.
.
"Dei-nii aku kembali ke kamarku dulu..." ucap seorang pemuda berambut pirang pendek sambil berjalan menuju pintu besar berwarna hitam.
"Baiklah.. Hati-hati ya Naru-chan." balas pemuda pirang lain yang tengah duduk menyandar di kasur berukuran king size yang terletak di tengah ruangan.
"Yup.. Terima kasih sudah menceritakan tentang Sasuke." Naruto membuka pintu dan berbalik menghadap Deidara sambil nyengir kuda. Deidara baru saja menceritakan tentang Sasuke kecil yang – menurut Deidara – sangat cerewet. Naruto sangat senang dengan hal itu, apalagi saat Deidara membuat tiruan wajah Sasuke ketika menangis dengan tanah liatnya. Kemampuan Deidara adalah memanipulasi tanah liat.
"Setelah sampai di kamar, langsung tidur, un."
"Ha'i Dei-nii.. Oyasumi!" Naruto pun menutup pintu kamar Deidara – juga Itachi – perlahan.
Selepas kepergian Naruto, tinggallah Deidara sendirian.
"Kau ingin bermain dengan Naruto juga ya..? Kau benar. Dia sangat menarik." gumam Deidara saat merasakan ada pergerakan di dalam perutnya. Dielusnya penuh kasih perutnya itu.
"Hei tenanglah... Ayahmu akan pulang sebentar lagi." janin di dalam perut Deidara seakan merasakan ketidakhadiran sang ayah. Dia menuntut perhatian, tidak hanya dari ibunya, tapi juga dari ayahnya. Biasanya pergerakan di dalam perut pemuda ber-motto 'Art is a BANG!' itu akan kembali tenang saat Itachi juga ikut menenangkan.
"Uhh..." erang Deidara saat janinnya tak kunjung tenang. Dicengkramnya bed cover cukup kuat.
"Tenanglah manis… Kau tidak mau membunuh Kaa-chan kan?" sebuah lengan pucat memeluk si pemuda pirang dari samping. Sebelah tangannya membelai lembut perut Deidara.
"Kau lama! Dasar keriput menyebalkan." Deidara menyandarkan kepalanya di dada bidang pemuda yang berjanji setia kepadanya sejak 15 tahun yang lalu itu.
-chuu-
"Mwphhh.." dikecupnya bibir Dei-Dei lembut.
"Maaf.." hanya itu yang dia ucapkan. Dia mengecup puncak kepala Deidara, kemudian menghela napas keras.
"Ada masalah?" si pemuda pirang mendongakkan kepalanya. Janin di perutnya tak lagi sebrutal tadi, sekarangbergerak lembut menikmati momen kebersamaan dengan ayah dan ibunya.
"Naruto – " ucapan Itachi menggantung. Ditatapnya mata iru sang pendamping hidup.
"Kau akan terkejut saat mendengarnya." lagi-lagi Sang Raja menghela napas.
"Aku siap mendengarkannya. Dia juga penasaran loh..." Deidara melirik perutnya sambil tersenyum lembut.
"Baiklah..." gumam Itachi balas tersenyum.
.
.
Seorang pemuda berambut jabrik berjalan sambil menguap sepanjang koridor istana. Masih terlalu pagi untuknya bangun (P/N: kalau di dunia manusia sekitar jam 8 pagi). Tapi, yahh mau bagaimana lagi? Dia harus menyelidiki Maksud dan tujuan Sai melakukan hal 'aneh' kepada Naruto kemarin.
"Mana sih Gaara? Tidak biasanya dia terlambat begitu. Haa'emmh.." direnggangkannya otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
"Selalu bertindak bodoh seperti biasanya." gumam suara malas dari arah pemuda bertanda segi tiga merah itu. Reflek, dia pun membalikkan badannya saat mendapati sesosok manusia berambut nanas yang tengah menatapnya malas.
"Aku pasti masih tidur. Ayolah Kiba yang tampan. Kau harus segera bangun..." Kiba menepuk-nepuk pipinya sendiri sambil sedikit memiringkan kepalanya.
"Ck. Mendokusei. Jangan menggodaku pagi-pagi begini."
"Aku tidak bermimpi ya?" Kiba meraba sosok pemuda ber-IQ lebih dari dua ratus yang kini berdiri di hadapannya.
"Ahh beneran bukan mimpi?" ditariknya kedua pipi pemuda yang hobi tidur itu ke arah yang berlawanan.
"Ck. Mendokusei." pemuda yang berstatus sebagai kekasih Kiba itupun mendorong tubuh Kiba ke tembok terdekat, kemudian langsung menyerang bibir ranum si siluman anjing.
Mula-mula biasa saja, lama-kelamaan bertambah panas. Digigitnya lembut bibir bawah Kiba hingga ia mengerang pelan dan membuka sedikit mulutnya. Kesempatan yang hanya berlangsung sepersekian detik itu pun tak disiaksiakan oleh pemuda berkuncir tinggi.
"Ngghhh..." erang Kiba saat lidah sang kekasih menelusup mengajak lidahnya bertarung, dicengkramnya baju sang seme saat penyandang marga Inuzuka itu mulai kehabisan nafas.
Sang seme malah semakin ganas. Dipeluknya pinggang sang uke dengan lengan kirinya. Sementara lengan kanannya memegang kepala Kiba, mendorongnya agar ciuman mereka semakin dalam.
"Mmhhhn.. Ghhh..." Kiba kembali mengerang, lidah kekasihnya tengah mengabsen deretan gigi Kiba. Sudah tidak ada lagi darah yang mengalir akibat lidah yang terluka terkena taring si pemuda anjing seperti saat mereka pertama kali berciuman dulu.
"Ahh... Hoshh... K – kau gila!" Kiba menepuk dadanya sendiri setelah kekasihnya itu melepaskan ciumannya. Nafasnya masih terengah. Diusapnya saliva di sudut bibirnya dengan tangannya yang lain
"Siapa suruh membuat pertanyaan bodoh seperti itu?" si pemuda berkuncir tinggi menjawab malas sambil ikut-ikutan mengusap sudut bibirnya.
"Sudah percaya kalau ini aku?" tanya si pemuda berkuncir nanas lagi. Pemuda bertaring tajam itu pun mengangguk dengan wajah yang memerah.
"Baguslah."
"Mau pergi lagi?" Kiba menarik lengan kekasihnya saat melihat sang kekasih berjalan menjauh.
"Hanya ke tempat Itachi-sama untuk melapor." ditatapnya sang Inuzuka dengan tatapan lembut. Tangan kirinya mengacak rambut pemuda berisik yang kini bersemu kembali.
Kiba pun mengangguk dan melepaskan lengan kekasihnya. Beberapa detik berikutnya, sang kekasih berubah menjadi bayangan hitam dan melesat pergi dengan kecepatan diatas rata-rata.
.
"Itachi-sama. Deidara-san." suara malas seorang pemuda mengintrupsi kegiatan suami-suami yang tengah bermesraan di halaman belakang istana. Pemuda berambut nanas ini tidak perlu repot-repot memberi hormat atau apalah itu. Apalagi alasannya kalau bukan terlalu malas untuk melakukan hal yang – dianggapnya – sangat merepotkan.
"Ahh kau sudah kembali?" seru Itachi.
"Aku menemukannya. Tapi ada sedikit masalah yang kita hadapi. Beberapa waktu lalu dia menghilang dan aku tidak bisa menemukannya."
"Menghilang? Kau tidak sedang bercanda denganku kan – " Itachi menatap tajam salah satu orang kepercayaannya itu, " – Nara?"
.
.
TBC
.
.
Ahh selesai juga chap 4. Semoga memuaskan..
Maaf untuk keterlambatan updatenya, mata Kyuu bermasalah dan kemungkinan besar Typo di chap ini lebih banyak dari biasanya.. Gomenneeeeeeeeeeeeeee (bungkuk2)
Buat yang pesen ItaDei, nih udah dimunculin.
Sasuke: Brengs*k luh Peng! (maksudnya pengetik)
Kyuu: apa2an sih Sas? (mrinding dangdut)
Sasuke: Enak banget nih orang (nunjuk2 Mister Mendokusei – Nara), dulu muncul tidur doang. Sekarang muncul lagi udah main cipokan! Kapan gue hah? (narik paksa kerah baju Kyuu sampe sobek dan tereksposlah –piippp- adegan ga lulus sensor)
Mendokusei-man: Ck. Mendokusei (ngrangkul Kiba yang blushing ria)
Itachi yang puas mendapat adegan romantis dengan deidara pun menenangkan Otouto kesayangannya. Sementara Deidara yang di-grepe sama Itachi langsung mandi kembang 7 rupa.
Di tempat lain:
Sai: sakit Nar! Tega lu ah tonjokin gue! Pake ngatain gue jontor segala.
Naruto: sori deh Sai. Pengetik itu yang nyuruh... (nglirik Kyuu yang masih dibantai Sasuke)
Sai: anu lu kecil sih... jadi otak lu juga ke *buaghhhh
Naruto: lu udah ditolongin malah ga berterima kasih! Rasain nih amukan gue – sensor –
Neji: adegan gue sama Gaara kok kaga dilanjutin? (tiba2 nongol)
Sasuke: Modar luh Peng! Tsukuyomii
.
Ok kita potong dulu adegan di atas =_=
Ini Waktunya bales review.. :D
Meg chan: yup.. udah apdet ini :D
.
Hatakehanahungry: aduhh banyak banget nanyanya (sweatdrops)
Jawabnya lewat story ajah ya... Ga asik kalo bilang disini ( buaghhh)
Terus semangat untuk membaca fict abal saya XDDD
Jangan lupa review juga ya :3
Makasih banget dukungannya :D
Sasuke: pinter lu ngrayu. Dasar pengetik bego! (tiba-tiba nongol, masih dendam)
Kyuu (pengetik): diem lu ayam! Chap depan bakal gue 'siksa'
Kyuu ( - bi si rubah): kapan gue muncul?
Kyuu (pengetik): diem lu ah! Ganggu gue bales review aja! (masukin Kyuubi ke Ragunan)
.
Ashahi Kagari-kun: kali ini ga kilat
Kyuu ada masalah sama mata soalnya, terpaksa jauh2 dulu dari Lenno-kun (nama laptop Kyuu – red)
Gomen ya senpai hahaha
Kalo mau tahu jawabannya, terus baca story geje saya *buaghhh
.
Mika: Gomenne ga bisa kilat.. mata Kyuu bermasalah
Tapi ini ga apdet kok :D
.
Kimmy no Michiku: makasih banget bpujiannya :D
Terus baca lanjutan fict ini ya.. biar tau jawabannya *duaghhh
.
Namikaze Trisha: jawabannya sambil jalan :D
Maaf banget ga bisa kilat
.
Sasunaru4ever: iyahh.. ini apdet makasih ya
.
.
Ahh selesai juga bales review.. maaf untuk keterlambatannya yah
Mata Kyuu beneran bermasalah. Doakan cepet sembuh dan baik-baik saja ya
.
.Akhir kata..., REVIEW please..
