"Itachi-sama. Deidara-san." suara malas seorang pemuda mengintrupsi kegiatan suami-suami yang tengah bermesraan di halaman belakang istana. Pemuda berambut nanas ini tidak perlu repot-repot memberi hormat atau apalah itu. Apalagi alasannya kalau bukan terlalu malas untuk melakukan hal yang – dianggapnya – sangat merepotkan.

"Ahh kau sudah kembali?" seru Itachi.

"Aku menemukannya. Tapi ada sedikit masalah yang kita hadapi. Beberapa waktu lalu dia menghilang dan aku tidak bisa menemukannya."

"Menghilang? Kau tidak sedang bercanda denganku kan – " Itachi menatap tajam salah satu orang kepercayaannya itu, " – Nara?"

Title: Night Kingdom

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Fantasy, Romance (?)

Pair : Sasuke x Naruto

Itachi x Deidara

ItaSasu (like an usual brothers, maybe)

Warning: abal, geje, nista, typo, mis-typo dim,ana-mana, and banyak lagi. Silakan beri tahukan kepada saya :3

Chap 5: The Fact

..

.

Pagi yang cukup cerah di Dunia langit.

"Kau sudah mengatakannya kepada Naruto?" seorang pemuda raven berkuncir mengajukan sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk pemuda raven midnight-blue dengan model pantat ayam. Mereka berdua tengah berada di sebuah ruangan berukuran sedang dengan rak-rak berisi buku di tiap sisinya. Di tengahnya terdapat satu set sofa berwarna marun lengkap dengan meja dan karpet sebagai alasnya.

"Hn." gumam Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. 'hn' yang – kali ini – cukup jelas dimengerti oleh sang kakak.

"Semua akan baik-baik saja Otouto.." Itachi mengacak rambut adik kesayangannya. Tindakan ini sukses membuat sang adik menghentikan aksi membacanya dan segera menepis tangan kakaknya.

Sang kakak bergerak cepat ke arah adiknya, merebut buku di tangan adiknya dan segera menaruhnya di meja. Dia sedikit membungkuk, ditariknya tubuh Sang Pangeran ke dalam sebuah pelukan yang hangat. Pelukan dari seorang kakak untuk adiknya.

"Tidak perlu takut." Itachi menenggelamkan wajah Sasuke di dadanya. Sebelah tangannya mengelus kepala sang adik.

"Siapa yang ta –"

"Dan tidak perlu kau sembunyikan seperti itu..." ucapan Sasuke terpotong oleh pemuda yang berumur 20 tahun lebih tua darinya itu.

Sasuke terdiam. Dibiarkannya sang kakak memeluknya seperti saat ia masih berusia 7 tahun. Bagaimanapun juga dia sadar bahwa Itachi dapat 'membaca' rasa takut yang tengah ia rasakan. Apalagi untuk mengatakan 'hal itu', Sasuke bahkan tidak yakin apakah Naruto akan menerimanya atau tidak mau bertemu Sasuke untuk selamanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Uchiha Sasuke benar-benar merasa takut.

"Aniki.." gumam Sasuke ditengah pelukan Sang Raja. Dibalasnya ragu pelukan pemuda yang sering menjahilinya, bahkan sejak Sasuke masih dalam kandungan.

"Hn?"

Cukup lama mereka terdiam. Itachi pun tidak memaksa Sasuke untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Apa aku bisa.. " Sasuke menghela napas berat, " – berubah menjadi manusia?" sang kakak mengeratkan pelukannya. Hatinya sakit saat mendengar nada putus asa mengalun dari bibir adiknya. Adiknya yang bahkan tidak menangis saat terjatuh dari menara setinggi 50 meter saat ia baru pertama kali belajar terbang. adiknya yang sejak kecil terkenal arogan dan memiliki sifat keras itu kini berbicara seolah dia akan mati besok.

"Semua akan baik saja.." hanya itu yang bisa keluar dari bibir Itachi. Kalimat yang sama seperti yang diucapkan Sasuke kepada kekasihnya beberapa waktu lalu. Kalimat yang menenangkan kekasihnya saat kekasihnya menanyakan pertanyaan dengan maksud yang – hampir – sama dengan pertanyaan Sasuke.

"Terima kasih... Aniki." sebuah kalimat yang – sangat – jarang diucapkan oleh Sasuke. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. Begitupun dengan bibir sang kakak.

Itachi mulai melepaskan pelukannya. Diacaknya pelan rambut pantat ayam snag adik.

'Dheggg!'

Kegiatannya terhenti. Matanya sedikit terbelalak, begitu juga dengan Sasuke.

"Deidara.." gumam Itachi saat merasakan jantungnya memompa lebih cepat.

"Naruto juga.." Sasuke merasakan hal yang sama. Rasa khawatir menyelimuti mereka berdua.

"Itachi-sama! Sasuke-sama! Deidara-san.. Naruto... Mereka – " seorang pemuda menggedor sebuah pintu berwarna coklat yang tidak akan pernah bisa dimasukinya. Pintu menuju sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh Raja dan pewarisnya, keluarga Uchiha.

Teriakan panik itu sukses membuat duo Uchiha melesat keluar dari ruangan itu.

"Dimana mereka?" tanya Itachi panik saat didapatinya pemuda bertanda segitiga di masing-masing pipinya masih berusaha menggedor pintu. Nafas Kiba masih belum stabil, wajahnya sedikit pucat.

"Kamar," Kiba menarik nafas dalam-dalam," – Itachi-sama."

Duo Uchiha itu pun segera meninggalkan Kiba setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Beberapa hari ini memang Naruto lebih sering menghabiskan waktunya bersama Deidara. Sementara Kiba dan Gaara sibuk menyelidiki Sai, namun masih menyempatkan diri 'menengok' Naruto bersama Akamaru.

Apa yang terjadi dengan Naruto, juga Deidara? Kenapa dada para seme idaman ini terasa begitu sesak?

'Ohh tidak! Jangan-jangan –'

"D – Dei-nii.. Hentikan.." erang suara cempreng khas yang sangat familiar di telinga Sasuke.

"Ngghh... Hoshh... Uhh.." terdengar suara lain yang sangat Itachi kenal.

Jarak kakak-beradik Uchiha masih 25 meter dari kamar sang kakak, namun mereka bisa mendengar suara-suara itu dengan cukup jelas. Mereka adalah akuma. Jangan lupakan itu! Mereka saja yang terlalu panik – atau bodoh – karena melupakan kemampuan mereka sebagai iblis dan lebih memilih berlari untuk menuju TKP.

"Aghhh... Ja – "

"Na – Naru... Uhhh"

"Hiks... Hiks... Ghhh sa – sakit..."

'BRAAKKKK'

Sang adik dengan brutalnya menghancurkan pintu kamar kakaknya yang malang.

"Hen – hiks... Jangan..."

Mata kedua Uchiha itu terbelalak saat mendapati tubuh Naruto melemas dengan pergelangan tangan kanan yang dicengkram kuat oleh Deidara. Sementara jemari lentik Deidara yang lain meremas bed covernya, wajahnya dipenuhi peluh.

"Na – Naruto.." gumam Sasuke tanpa sadar saat didapatinya sang kekasih meringis kesakitan. Sementara Itachi bereaksi lebih cepat. Dia sudah melesat cepat ke arah duo pirang itu.

"Dei.. Lepaskan..." Itachi berkata lembut. Dibelainya perut sang pendamping hidup. Bagaimanapun juga, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. Naruto – yang hanya manusia biasa itu – bisa mati kalau terus seperti ini.

"Ughhh..." pemuda berambut pirang panjang itu mengerang tertahan. Cengkramannya makin kuat, kuku-kukunya yang memanjang menancap lebih dalam, membuat darah yang mengalir dari pergelangan Naruto makin banyak.

Sasuke masih terdiam. Matanya tertuju ke pergelangan Naruto yang berdarah.

Kekasihnya terluka...

Naruto terluka.. Dia menangis...

Dan orang yang menyebabkan itu semua adalah...

Mata Sasuke berubah merah.. Sharingan. Ditatapnya tajam sang kakak ipar yang telah menyakiti Dobe-nya.

"Kau..." dari tubuh Sang Pangeran keluar aura membunuh yang sangat pekat. Kiba, dan beberapa orang yang berada di luar ruangan itu pun memundurkan langkah menjauh.

"Teme – akhh ja – jangan lakukan..." Naruto mencoba mencegah tindak 'pidana' yang akan dilakukan kekasinya.

"Beraninya kau melukai Dobe-ku.." kalimat itu diucapkan dengan nada yang kelewat rendah. Itachi yang merasakan aura membunuh sang adik pun tidak bisa berbuat banyak. Dia bingung harus bagaimana. Mencegah sang adik membunuh Deidara, atau mencegah Deidara 'membunuh' Naruto.

Dari tangan kiri Sasuke muncul semacam kilatan-kilatan tajam berwarna biru yang makin lama makin membesar, suaranya memekakan telinga, bagaikan petir yang siap membunuh siapa saja. Pemuda berusia 17 tahun itu mulai melesat ke arah kakak iparnya, siap membunuh oemuda yang dengan lancangnya 'menyentuh' sang kekasih.

"Kau – "

"Sasuke!" aksi Sasuke terhenti saat lengannya dicekal kuat oleh sang kakek yang baru saja tiba.

"Hentikan tindakan bodohmu itu! Kalau Kau melanjutkannya, Kau bukan hanya akan membunuh satu orang saja!"

'Dhegg'

Perkataan Madara sukses memaksa Sasuke meredakan kembali amarahnya. Bagaimanapun juga di dekat Deidara ada Naruto, manusia biasa yang dengan mudahnya bisa mati. Dengan terpaksa, pemuda berambut midnight-blue itu melenyapkan 'Chidori' di tangan kirinya dan memejamkan sejenak matanya, mengembalikan onyx yang sempat berubah menjadi sharingan.

"Aaghhh!"

"Dei... Kau tidak ingin membunuh Naruto kan?" suara Itachi terdengar lebih tegas. Telapak kanannya memegang tangan Deidara. Mencoba membujuk pemuda yang sedang hamil tua itu agar melepaskan cengkramannya. Itachi bisa saja menarik paksa tangan Dei-Dei. Tapi tentu saja, pergelangan Naruto akan patah.

"Bagus... Kau bisa melakukannya..." gumam Itachi saat cengkraman pujaan hatinya mulai melemah.

"Na – Naru.. Maaf." ucap Deidara lirih, penuh Nada penyesalan. Dia telah membuat Naruto melihat keadaannya yang seperti ini, kuku-kuku jari yang memanjang, taring yang juga memanjang, serta tatapan tajam yang mengerikan dari matanya. Rasa sakit yang teramat sangat di perutnya membuat pengendalian dirinya lemah, bahkan dengan kejamnya dia melukai Naruto dengan harapan rasa sakit yang dia rasakan akan berkurang (P/N: kaya' ibu-ibu hamil kalau lagi kontraksi gitu deh :p)

Naruto mundur dua langkah. Dia jatuh terduduk tepat saat Fugaku dan Mikoto memasuki ruangan, diikuti Konan di belakangnya.

Mata Naruto masih belum bisa berkedip, kristal-kristal bening pun masih berjatuhan.

"Hiks... hiks..." isakan Naruto membuat Sasuke menghampiri Dobe-nya.

"Dobe..." entah sejak kapan Sasuke berada tepat di samping Naruto. Dipeluknya lembut pemuda yang kini meringkuk ketakutan sambil memegang pergelangan tangannya yang terluka.

"Semua baik-baik saja. Aku akan mengobatinya." kedua tangan Sang Pangeran membingkai wajah Naruto. Diarahkannya sapphire Naruto ke onyxnya. Mencoba meyakinkan kekasihnya itu. Saat itulah Fugaku melihat sesuatu yang berkilau di leher jenjang nan mulus milik calon menantunya.

'Benda itu.. Jangan katakan kalau benda itu adalah – ' pikiran Fugaku terpotong saat mata sharingan-nya mulai aktif dan memastikan keaslian 'benda' yang dicurigai sebagai kalung milik seseorang yang dikenalnya dulu.

Matanya sedikit terbelalak saat mendapati bahwa kalung yang dipakai Naruto benar-benar kalung milik 'rivalnya'.

'Kenapa dia bisa memakainya? Seharusnya dia akan m – " pria penuh wibawa itu memejamkan metanya, me-nonaktifkan mata sharingannya, " – ini bukan saatnya memikirkan hal itu." Fugaku menghela nafas dan kembali ke topeng stoicnya.

Sementara itu Konan mulai memeriksa keadaan sahabat yang dulu seprofesi dengannya. Itachi terlihat masih mencoba menenangkan uke-nya. Wajahnya terlihat lebih pucat, biasanya kontraksi perut Dei-Dei akan mereda setelah Itachi membelai perut Sang 'Ratu', tapi kenapa...

Kenapa Deidara terlihat makin kesakitan?

Konan mengangguk ke arah Mikoto sambilm tersenyum, Mikoto membalasnya dengan senyum yang mampu membuat Fugaku klepek-klepek. Fugaku yang melihat adegan saling lempar senyum antara Mikoto dan Konan itu sempat menganggap bahwa istrinya memiliki hubungan 'ehem-ehem' dengan bawahannya. Tapi saat Mikoto berbalik ke arah Fugaku dan memberikan sebuah isyarat, pikiran itu musnah begitu saja.

"Sudah saatnya ya..." gumam Madara yang juga menyadari adegan itu.

"Sebaiknya kau membawanya keluar.. Kakak iparmu akan segera melahirkan."

"Hn." Sasuke menanggapi tepukan di bahunya. Sang pelaku penepukan – Mikoto – yang sedikit diabaikan oleh ananknya hanya bisa menghela nafas maklum. Calon mantunya sedang terluka, jadi wajar kalau sifat Sasuke jadi seperti itu. (P/N: emang biasanya gitu kan? O_o)

Sasuke pun menggendong Naruto ala bridal style keluar ruangan, Madara mengikuti mereka dari belakang, kemudian membetulkan pintu malang yang tadi 'dihajar' Sasuke dengan sihirnya.

Melihat gelagat dan gerak-gerik mantan Raja itu, kelihatannya dia akan pergi ke 'ruangan itu' untuk membuka-buka kamus dan buku-buku lainnya demi mendapatkan nama yang cocok untuk sang cicit. Dasar Mbah Buyut yang terlalu bersemangat!

"Teme.." Naruto menatap sang kekasih dengan mata yang masih berkaca-kaca. Tatapannya mengisyaratkan 'turunkan-aku-Teme'.

"Hn." Sasuke menurunkan Naruto perlahan. Di depan mereka masih ada Kiba dan beberapa makhluk lainnya yang masih enggan membuka mulut, mengingat keadaan Sasuke beberapa waktu yang lalu.

"Sakit Dobe?" tangan kanan Sang Pangeran mengangkat lembut tangan Naruto. Si empunya tangan mengangguk lemah, tatapannya masih tertuju pada pergelangan kanannya yang masih saja mengeluarkan darah.

"Naru, apa yang – " pertanyaan Gaara yang baru saja tiba bersama Neji terhenti saat emeraldnya menangkap pergelangan tangan Naruto yang berdarah.

"Lukanya cukup parah. Sebaiknya segera diobati." gumam Neji beberapa saat setelah byakugan-nya dengan sukses menganalisis luka si pirang.

"Dobe? Kita obati sekarang?" tanya Sasuke tanpa memedulikan Gaara juga Neji. Sang Pangeran sedikit cemas saat Naruto tak henti-hentinya menatap pergelangannya sendiri yang terluka.

"Teme.." si pirang mendongakkan kepala kuningnya, menatap onyx Sasuke dengan penuh rasa – takut.

'Jangan... Jangan katakan itu!' pekik Sasuke dalam hati.

"Aku..." Naruto kembali menunduk.

"Semua baik-baik saja Dobe. Kau akan baik-baik saja."

"Aku takut..." bisik Naruto lirih. Bahunya bergetar, isakan mulai terdengar.

'Dia.. mengatakannya.' Batin Sasuke putus asa.

"Aku takut Teme... " tak dipedulikan lagi pergelangan tangannya yang terluka. Pemuda itu mulai melangkah mundur, membuat tubuhnya sendiri menabrak tembok kokoh berwarna merah bata. Tidak ada satupun yang mencoba menenangkan pemuda itu. Mereka semua tahu penyebab terlukanya Naruto. Ditambah lagi, beberapa waktu yang lalu Sasuke baru saja menunjukkan sisi ke-iblis-an yang sangat mengerikan. Sekarang pemuda ceria itu berkata bahwa ia merasa takut. Pastilah itu disebabkan oleh pikiran Naruto yang telah menyadari bahwa iblis sangatlah 'mengerikan'.

"Aku hiks.. takut Teme... Kenapa? Kenapa? Ke – hiks..."

Isakan pemuda bermarga Uzumaki itu makin sering terdengar. Masih tidak ada satupun yang mencoba menenangkannya, begitu juga Sang Pangeran. Jika mereka mendekati Naruto, kemungkinan besar pemuda itu akan semakin merasa takut.

"Aku hiks.. kenapa harus aku... hiks.. takut Teme.." pemuda berstatus uke idaman memeluk erat dirinya sendiri. Darah yang sudah mulai berhenti mengalir dari pergelangan tangannya mengotori baju kerajaan yang ia kenakan. Warna putih bersih berhiaskan sulaman emas itu ternodai warna merah.

"Dobe tenanglah!" nada suara Sasuke sedikit meninggi, frustasi. Dobe-nya takut. Takut pada dirinya. Uchiha Sasuke, Pangeran yang selalu ditakuti dan dihormati untuk pertama kalinya membenci kata 'ditakuti'. Didekatinya perlahan sang kekasih. Sementara makhluk lain di tempat itu hanya saling pandang.

"Tem – hiks... aku ingin hiks – pu – "

"Maaf..." Naruto terbelalak merasakan dekapan erat di tubuhnya.

"Maaf Dobe. Maaf sudah membawamu ke tempat seperti ini." Sasuke menenggelamkan wajahnya di perpotongan bahu dan leher pemuda berkulit tan itu.

Keheningan menyelimuti tempat itu. Tak ada satupun dari makhluk-makhluk penghuni Night Kingdom yang membuka suara. Mereka semua terdiam, menundukkan kepala dengan raut kesedihan yang menyelimuti wajah mereka. Benar, mereka adalah seorang iblis. Iblis...

"Kuobati lukamu." Sang Pangeran melepaskan pelukannnya perlahan, menatap wajah Naruto yang masih saja tertunduk. Diacaknya pelan rambut sewarna matahari itu.

Pertanyaan Sasuke ditanggapi dengan anggukan lemah. Pemuda berambut raven itu pun menggendong Naruto ala bridal style menuju kamar mereka. Meninggalkan beberapa makhluk – termasuk Gaara yang biasanya stoic – yang masih tertunduk.

"Hei sudahlah.. Dia tidak akan apa-apa kok. Sasuke akan mengobatinya." hibur Neji sembari menepun pundak kekasihnya. Gaara mendongak, menatap mata pemuda berambut coklat panjang itu dalam. Bukan! Bukan luka Naruto yang membuatnya cemas, ketakutan Naruto lah yang membuatnya khawatir. Takut bocah itu tak mau lagi berteman dengannya. Berteman, eh? Bahkan Gaara tidak tahu kapan ia mulai mengenal kata itu...

.

.

."Hiks... Pelan-pelan Teme!" teriak seorang pemuda pirang yang tengah terduduk di ranjang. Pergelangan kanannya sedang diobati oleh sosok berambut raven pantat ayam.

"Sedikit lagi Dobe. Kau mau cepat sembuh tidak sih?" gerutu sosok raven tersebut. Dia menghela nafas lega saat kekasihnya sudah bersikap – sedikit – seperti biasa.

"Selesai." gumam Sasuke usai ia mengoleskan semacam obat merah ke pergelangan kekasihnya.

"Makasih Teme." ucap Sang Pewaris Uzumaki sambil mengalihkan pandangannya.

Sasuke menghela nafas. 'Apa Naruto benar-benar merasa takut padaku ya?'

"Teme. Kau tidak marah padaku kan?"

Sasuke mengeryitkan dahinya. Marah? Pada Naruto? Kenapa bocah pirang yang baru saaja menggigil ketakutan itu menanyakan hal yang err – gak nyambung?

"Aku takut Teme... Kalian tidak marah padaku kan?"

'Kalian?'

"Bicara yang jelas Dobe." pemilik mata onyx itu mendudukkan dirinya tepat disamping Naruto. Lengannya menelusup di leher sang kekasih, menjadikan sandaran Naruto semakin nyaman.

"Janji kau tidak akan marah padaku?" Naruto menolehkan kepalanya menghadap Sasuke. Matanya masih memancarkan rasa takut.

Pemuda berambut raven yang ditatapnya menghela nafas. 'Puppy Eyes no Jutsu...'

"Baiklah. Sekarang apa?"

"Aku takut ..." si pemilik mata sapphire lagi-lagi menundukkan kepala kuningnya.

"Takut – " bahunya mulai bergetar. Sasuke merasa tidak sabar dengan apa yang diucapkan kekasihnya itu.

"Saat aku memegang perut Dei-nii, dia jadi kesakitan seperti itu."

"Hn?" Sasuke mengeryitkan dahinya.

"Aku takut kalian akan marah padaku karena membuat Dei-nii kesakitan seperti itu..." jawab Sang Uzumaki dengan nada polos.

'Jadi dia tidak takut karena kami iblis yang mengerikan, tapi merasa takut karena mengira dia yang – ' inner Sasuke sweatdrop.

"Dasar Dobe."

"Huh! Singkirkan tanganmu Teme!" disingkarkannya tangan besar sang kekasih yang mengacak pelan rambut pirangnya.

"Istirahatlah... Aku akan beri tahu yang lain kalau kau baik-baik saja." gumam si pemilik onyx sambil mencium kening sang kekasih. Diam-diam ia bernafas lega. Naruto tidak takut padanya, tidak pernah takut pada sosok 'mengerikan' seperti Sasuke.

"Aku akan ada di 'perpustakaan keluarga'." bisik Sasuke cukup jelas sebelum ia pergi meninggalkan Naruto sendirian di kamar.

"Perpustakaan ya? Aku jadi ingat sekolah." si bocah pirang tersenyum.

"Aku... rindu mereka."

.

Flashback

"Yo Naruto! Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya sesosok serba hijau dengan rambut klimis bak mangkok ramen berwarna hitam yang dibalik kepada sosok berambut pirang yang sedang merapikan tasnya. Jam sekolah baru saja selesai lima menit yang lalu.

"Entahlah.. Mungkin mencari sesuatu yang pernah diberikannya padaku." jawab si pemuda pirang sambil menggendong tas punggung berwarna orange-black lesayangannya.

"Dia? Maksudmu Kuma yang kau bicarakan tadi?" Sakura beserta jidat lebarnya yang tiba-tiba nongol langsung menanggapi ucapan teman sejak kecilnya itu.

"Begitulah..." jawab si bocah pirang sambil nyengir kuda.

"Sebaiknya kau lupakan saja Naru..." si alis tebalmerangkul bahu kekasihnya – Sakura.

"Akan aku pastikan kalau Dia bukan hanya mimpi." si bocah pirang mengacungkan jempol kirinya, kemudian tersenyum lebar.

"Yoshh! Semangat Naruto! Kalau begitu kami pergi dulu."

"Jaaa!" duo pink-green itu pun meninggalkan sosok tan yang masih sibuk menghela nafas.

"Hri Shika! Sampai kapan kau mau tidur di kelas? Semua orang sudah pulang tahu!" gumam Naruto ke arah pemuda berambut nanas yang kerjanya hanya tidur selama jam pelajaran.

"Hoaaa'emmmhhh... Mendokusei." gumam si nanas sambil ngulet geje.

"Mau pulang beRsama tidak?" tawar Naruto.

"He'emmm.." mereka berdua pun berjalan berdampingan keluar kelas. Sungguh sangat kontras, yang satu terlihat 'cerah' yang satunya memancarkan aura suram.

"Nee Shikamaru. Apa menurutmu kejadian yang kualami itu hanya mimpi?" tanya Naruto tiba-tiba saat mereka baru saja melewati gerbang sekolah.

"Kenapa kau tanyakan hal merepotkan itu padaku sih?" balas sosok pemuda berkuncir tinggi malas-malasan.

"Jawab saja kenapa sih?" gerutu Naruto sebal, " – kadang aku heran. Bagaimana manusia super malas sepertimu bisa menempati peringkat pertama dikelas, IQ-nya 200 lebih pula." digembungkannya pipi bertanda lahir itu. Hal ini sukses membuat pemuda bermarga Nara disampingnya terkekeh.

"Kau mengingatkanku pada seseorang Naruto." gumam Shikamaru tiba-tiba.

"Benarkah? Siapa itu? Kekasihmu ya? Benar begitu? Siapa? Siapa dia?" Naruto mencegat langkah temannya dan langsung membobardir dengan pertanyaan-pertanyaan geje.

Yang ditanya hanya terkekeh. Hal ini sudah cukup jelas bagi sosok pirang di depannya. Orang yang dibicarakan Shikamaru adalah kekasihnya. Setelah mendapat jawaban itu pun Naruto kembali berjalan di samping temannya itu. Kalau ada yang melihat mereka berdua dari belakang, pasti mengira sedang ada parade buah. Lihat saja, duren dan nanas berjalan beriringan *plaakkk!

"Bagaimana rasanya punya kekasih?" si duran mendongakkan kepalanya menatap langit senja yang terlihat merah.

"Entahlah. Terlalu merepotkan untuk memikirkannya." jawab si nanas asal.

"Huh kau ini!" Naruto menyikut pelan perut temannya. Mereka pun terdiam cukup lama. Terbuai dalam pikiran masing-masing.

"Lalu..." pemuda beriris mata sapphire menghela nafas, " – bagaimana kau bisa tahu kalau dia menyukaimu?"

Shikamaru menghentikan langkahnya. Membuat Naruto juga berhenti.

'Anak ini kenapa sih? Dari tadi menanyakan hal aneh.' Maklum kalau Shikamaru membatin seperti ini. Saat Naruto dan teman temannya membicarakan anak berambut raven – cinta pertama Naruto, Shikamaru sedang tidur lelap.

"Ayolah Shika... Beri tahu aku." Naruto melancarkan melancarkan jurus andalannya, Puppy Eyes no Jutsu.

"Hn. Pokoknya, saat berada bersamanya kau selalu merasa nyaman, dia juga selalu ada di sampingmu, tertawa baersamamu, memelukmu saat kau menangis, dan menemanimu saat kau sendirian..." Shikamaru mendongakkan kepalanya menatap langit sore yang belum lama ini dapat dilihatnya, membaangkan sosok sang kekasih sedang tersenyum kepadanya.

End of Flashback

.

Menemaniku... Memelukku... Sasuke melakukan itu semua untukku. Yahh walau kadang meninggalkanku dan melakukan hal-hal menyebalkan sih..." Naruto terkekeh.

"Dia – benar-benar menyukaiku ya?" bibirnya menyunggingkan senyum miris. Mengingat sosok yang menyukainya – sekaligus disukainya – bukanlah manusia biasa seperti dirinya. Apakah Kami-sama begitu membencinya sehingga Ia mempermainkan Naruto dalam takdir seperti ini? Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum miris.

.

.

"Bagaimana keadaan Naruto?" tanya seorang pria paruh baya berambut raven panjang, memecah keheningan diantara dirinya dan kedua sosok raven lainnya.

"Hn." gumam yang termuda dari ketiga orang itu, cukup jelas dimengerti oleh kedua Uchiha senior.

"Apa dia juga takut padamu?" tanya Fugaku sedikit cemas mengingat keadaan calon menantunya yang sangat memprihatnkan beberapa saat yang lalu.

"Dia kira Dei-nii kesakitan karena dirinya. Hanya itu." jawab Sasuke datar, sukses membuat Fugaku dan Madara menghela nafas lega.

"Jadi Sasuke, kenapa kau meminta kami datang ke sini?" tanya sang kakek sedikit heran. Mereka memang sering mengadakan rapat di ruangan yang Sasuke sebut sebagai perpustakaan keluarga – mengingat banyaknya buku yang menyimpan informasi penting disini, namun dari sekian banyak pertemuan itu, tidak ada satupun yang mencantumkan nama si Uchiha bungsu sebagai pengundangnya.

"Kakek pernah bercerita tentang rubah kan? Apa rubah itu berwujud seperti ini?" Sang Pangeran membuka telapak tangannya, membuat bayangan chibi-kyuubi yang pernah ia lihat.

"Kyuubi?" Fugaku mengeryitkan dahinya, menatap sang ayah. Kenapa Sasuke bisa tahu tentang 'rubah'? dia merasa tidak pernah berbicara apapun mengenai hal itu dengan anak bungsunya. Saat melihat sang ayah menghela nafas, akhirnya pertanyaan Fugaku terjawab sudah.

"Bukan – " Madara menatap tajam cucunya, " Namikaze belum pernah memiliki keturunan yang seperti itu."

"Namikaze?" Sasuke menatap kedua pria dewasa di depannya secara bergantian.

"Sama seperti kita, Namikaze – bangsa rubah – memiliki kekuatan yang sangat besar. Tapi belum ada satupun dari mereka yang benar-benar mewarisi kekuatan rubah ekor sembilan. Begitu juga dengan kita, belum ada satupun dari kira yang bisa menguasai Mangekyou Sharingan."

"Mangekyou Sharingan?" Sasuke mengeryitkan dahinya, menatap sang kakek. Dia merasa belum pernah mendengar kata itu.

"Tou-san..." Fugaku terlihat sedikit keberatan saat ayahnya akan menceritakan sesuatu yang – menurutnya – belum pantas Sasuke ketahui.

"Dia harus tahu siapa dirinya Fugaku!" suara pria berusia 579 tahun itu terdengar cukup tegas. Fugaku pun terdiam. Benar sekali! Sasuke harus segera menyadari jati dirinya. Pergerakan para musuh dalam selimut semakin terasa akhir-akhir ini, dan mereka harus cepat bertindak.

Selama ini yang Sasuke tahu, 'mereka' hanyalah para pemberontak biasa. Dia belum menyadari bahwa 'mereka' benar-benar berbahaya.

'Siapa aku sebenarnya...'

"Tingkat paling sempurna dari Sharingan. Dan yang bisa menguasainya hanyalah 'Uchiha yang Terpilih'." ucap Madara cukup jelas dimengertu Sasuke.

'Aniki..' batin Sasuke dalam hati saat mendengar kalimat 'Uchiha yang Terpilih'.

Fugaku mendekati Sasuke, berdiri disampingnya.

"Dan Kau, Sasuke. Adalah pewaris Mangekyou Sharingan. Yang terkuat dari seluruh Uchiha yang pernah ada."

Uchiha bungsu tersentak mendengar ucapan ayahnya. Dia? Uchiha yang terpilih? Pewaris Mangekyou Sharingan? Uchiha terkuat? Benar-benar dia? Uchiha Sasuke? Bukan aniki-nya?

"Tou-san?" menuntut penjelasan, si rambut pantat ayam menatap tajam kedua seniornya secara bergantian.

"Ini sudah cukup menjelaskan semuanya Sasuke." Fugaku menyentuh tanda lahir di perpotongan leher dan bahu Sasuke. Sebuah tanda berwujud tiga koma dengan beberapa garis meliuk yang menghiasinya.

"Itu adalah bukti bahwa kau adalah yang terkuat diantara kami. Dan Namikaze juga memiliki pewaris... pemilik kekuatan rubah berekor sembilan."

'Kyuubi? Bohong kan? Naruto hanya sangat menyukai hewan itu... Ya. Hanya itu. Tidak ada makhluk bernama Kyuubi atau apalah itu. Naruto hanyalah manusia biasa.'

"Sudahlah. Sasuke. Kau tidak usah terlalu dipikirkan." sang ayah menepuk pundak pemuda raven pantat ayam yang terlihat err – cemas? Dia mengartikan air muka anknya sebagai perwujudan atas kererkejutannya saat mengetahui bahwa dirinya memgang tanggung jawab yang sangat besar.

"Hn."

"Sasuke." Fugaku mendudukkan dirinya disamping Sasuke, sementara Madara menyilangkan kedua lengannya di depan dada sambil memejamkan mata.

"Kalung Naruto. Dimana dia mendapatkannya?" pria berambut raven pendek itu menatap tajam anaknya. Kalung itu adalah kalung yang dulu pernah dilihatnya, milik seorang iblis yang kuat.

"Aku yang memberikannya." gumam Sasuke tanpa memedulikan tatapan tajam sang ayah.

"Dari mana kau dapatkan kalung itu?"

"Seingatku, kutemukan di laci." Sasuke memutar bola matanya, tertuju ke arah sebuah meja kecil berwarna hitam dengan ukiran sederhana. Hanya sebuah meja biasa.

"Tidak salah lagi..." gumam Madara setelah sekian lama terdiam.

"Hn?" Sang Pangeran menatap kakeknya seolah berkata 'what do you mean jerk'? *plakkk (digeplak mbah Madara). Ok lupakan kata terakhir.

"Kalung itu –"

.

Flashback

Sesosok iblis berambut raven pendek tengah mengobrak abrik sebuah ruangan ber'hias'kan ratusan buku penting, sebuah tempat yang kelak akan disebut anaknya sebagai 'perpustakaan keluarga'. Mata onyxnya menyapu ke seluruh ruangan, ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh iblis berdarah Uchiha murni.

"Dimana sih...?" gumam sang iblis yang menjabat sebagai Raja itu – Uchiha Fugaku.

"Mencari ini, eh?" tiba-tiba muncul sesosok iblis berambut pirang dengan mata biru sambil membawa sebuah benda berbentuk pipih dengan banyak sudut – sisir (?)

"Kau – " mata Sang Raja menatap nyalang pemuda seumuran yang tengah menunjukkan cengiran khasnya, " kembalikan sisirku!"

Secepat kilat, Fugaku menyambar sisir kesayangannya itu, kemudian menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Beberapa saat kemudian, pemilik mata onyx itu membelalakkan matanya, menatap tajam pemuda bermarga Namikaze yang kini duduk santai di sofa.

"Menyadari sesuatu, teman?" Sang Namikaze nyengir makin lebar.

"Bagaimana kau bisa masuk ke ruangan ini?" Fugaku masih belum percaya 'sahabatnya' itu bisa masuk ke ruangan 'khusus' Uchiha. Memang rencananya ia akan membuat 'peraturan' baru yang memungkinkan pemuda ceria itu bisa masuk ke 'perpustakaan keluarga'. Tapi seingatnya, dia belum melakukan hal itu. Dia belum terlalu yakin dengan pemuda bermarga Namikaze itu.

"Aku membuat ini." si Namikaze menunjukkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk prisma dengan ujung yang meruncing, warnanya biru berkilau.

"Hebat kan? Aku jadi bisa masuk ke sini." lagi-lagi ia nyengir kuda. Fugaku yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Rivalnya itu memang sangat meragukan, bahkan Fugaku sempat berfikir bahwa si mata biru bisa saja mengkhianatinya.

"Kau ini terlalu ceroboh!" Sang Raja mengambil kalung di leher Namikaze dengan sihirnya. Menggenggamnya kuat, kemudian menendang pemuda berambut pirang itu keluar ruangan.

"Hei! Apa yang kau lakukan! Dasar sial!" teriak si pirang sambil menggedor-gedor pintu setelah tubuhnya dengan sukses menembus pintu itu.

"Kalau ada orang lain yang memakainya bagaimana?" hardik Fugaku dengan gaya anak kecil dari dalam ruangan. Sungguh adegan ini nmirip seperti adegan sepasang kekasih, dimana sang pria menggedor pintu si wanita yang tidak meu membukakan pintunya karena sang kekasih melakukan kesalahan fatal.

Back to story. *duaghh bletakk (dihajar Fugaku dan pemuda Namikaze)

"Hanya aku yang bisa memakainya, bodoh! Kembalikan itu ata aku makan kau?" ancam sang Namikaze makin gak jelas.

"Pergi sana!"

"Huhh! Coba saja kau memakainya! Pasti kau akan mati!"

End of Flasback

.

Sasuke membelalakkan matanya.

Orang lain yang memakainya akan mati? Kalau begitu, Naruto juga akan mati? Tidak.. Ini tidak boleh terjadi! Tidak!

"Naruto akan – mati?" bibir pemuda berambut pantat ayam itu berucap lirih.

"Harusnya sejak dulu." Madara membuka matanya, entah sejak tadi ia tertidur atau apa, itu bukan hal penting untuk saat ini.

"Sihir Namikaze bukan sihir yang main-main. Sudah kukatakan padamu kalau bangsa rubah itu adalah makhluk legenda yang kuat kan?" mata pria berambut raven jabrik panjang itu kini menatap tajam cucunya.

"Itu berarti – "

"Naruto bukan manusia sembarangan." Gumam Fugaku datar. Ia dan juga madara masih menyembunyikan sesuatu dari Sasuke. Mereka belum bisa memberitahukan dugaan mereka kepada Sasuke. Bukan saat yang tepat.

Mereka bertiga terdiam, Sang Pangeran yang sibuk dengan dugaan-dugaannya yang masih 'random', juga tentang Naruto.

'Jadi sebenarnya Naruto itu – apa?'

'Dan siapa namikaze itu? Musuh? Kawan? Kenapa mereka sekarang tidak ada Night Kingdom?'

'Rubah ekor sembilan. Naruto selalu memakainya.. Jangan jangan ia –'

"Aghhh!" Sasuke mengerang frustasi.

'Tidak. Naruto bukan keturunan iblis Namikaze – yang bahkan tidak jelas kawan atau lawan – itu kan?'

'Dan dia ... – bukan salah satu dari musuh dalam selimut kan?'

'BUKAN!'

Pikiran Sang Pangeran berlayar kemana-mana. Setelah mengetahui banyak fakta mengenai dirinya dan Naruto, juga Namikaze...

'Tidak! Tou-san tidak boleh tahu tentang kekuatan Naruto. Harus kuperingatkan aniki mengenai hal ini. Aku tidak ingin Tou-san membunuh Dobeku!' sugaan sasuke yang mengatakan bahwa Namikaze adalah salah satu dari musuh mereka membuatnya beranggapan bahwa ayahnya telah membunuh seluruh klan Namikaze. Bagaimanapun juga, kemungkinan Naruto adalah salah satu dari Namikaze yang tersisa itu tetap ada kan? Dan lagi, rubah ekor sembilan, kekuatan Naruto...

Sasuke berjalan menuju pintu keluar, kedua seniornya pun hanya menatap punggungnya, membiarkan sasuke memikirkan baik-baik takdirnya.

'cklekkk' suara pintu terdengar terbuka. Pintu yang bahkan sejak awal ruangan ini dibuat, tidak pernah dibuka sama sekali. Siapa? Siapa yang membuka pintu itu.

"Nee, Teme! Apa kau didalam?" terdengar suara cempreng yang diikuti dengan sosok pemuda berambut pirang dengan mata sapphire. Suksem membuat ketiga Uchiha menghentikan aktivitasnya, menatap terkejut ke arah pemuda bernama lengkap Uzumaki Naruto itu.

'Anak itu. Bukan hanya kebal dengan 'kutukan' kalung Namikaze, ia juga bisa masuk ke ruangan ini. Siapa dia sebenarnya?'

.

.

Tbc

.

.

Chap 5 selesai :DD

Maaf yah untuk scene ini SasuNarunya juga minim. Kyuu pengen ngungkap fakta-faktanya dulu soalnya. Kepanjangan ga sih chap ini?

Gak apa-apa kan para readers? Ehehe *ketawa garing

Ada scene tambahan juga soalnya, abisnya readers ga ada yang nyadar sih kalo 'orang itu' pernah muncul di chapter satu. Hahahah

'orang itu': gimana mau nyadar kalo lu ngasih gue adegan Cuma satu kalimat? Hoaahmmm...

Kyuu: iya deh gomen =_='a

Sasuke: sialan luh Peng! Ngapain pake ngebiarin nih baka aniki meluk-meluk gue?

Kyuu: kan Kyuu bilang chap ini mau nyiksa eluhh. Jangan harap perkelahian yang lu dapet! Nyahahaha *ketawa setan

Sementara Sasuke mencak mencak ga jelas. Itachi tersenyum, menangis terharu karena dapat memeluk otouto kesayangannya.

DeiDei:Naru ga apa2 kan tangannya? Maaf yah..

Naruto: ga apa apa kok Dei-nii. Lagian kan ada Kyuubi. Ya kan Kyuubi?

Kyuubi yang masih di Ragunan pun Cuma bisa manyun. Sementara Sai sedang pergi ke tempat Mash Kish untuk memaksa beliau agar mengibah gambar tentang dirinya, biar bibirnya dibikin agak tipis gitu...

.

Bales review ahh... adegan gejenya udahan dulu :3

.

CCloveRuki: Iyah tuh si udel ga pede sama muka.

Pengennya sih ngapa-ngapain si Naru biar SasuNaru pisah

Tapi yah.. walau udah nyamar tetep aja bibirnya kaya gitu *buahhhh =_=

Gomen yah buat chap ini belum bisa *bungkuk-bungkuk ga jelas, padahal CC-san ga ada

.

Ryuumaki Naruneko: Makasih Ryuu-san

Ini udah apdet

.

Uchy-san: bener nih suka adegan itu? O_o'a

Padahal Kyuu kira adegan itu aneh, ampe stress mikirnya.

Tapi ternyata hiks.. ada yang suka *terharu

Makasih dukungannya U-san*buaghhh (Uchy-san:enak bener luh ganti2 nama gue?)

.

Ashahi Kagari-kun: ahahahh... boleh boleh sini silakan daftar.

Formulirnya seharga 100ribu (kakuzu mode: on)

Makasih doanya yah Asha-san...

Ohohoh...

Oh ya, kalo punya usul tentang wujud fisik, ataupun nama buat anaknya ItaDei, tolong bagi ke Kyuu ya :D

Ita: bilang aja luh bingung =_=

Kyuu: diem lu! Udah gue bikin seneg, masih juga bersikap kaya' gitu! Awas aja chap selanjutnya

Ita: Ahh gomen Kyuu-sama *cium2 kaki Kyuu

.

Wind : yupp... Kyuu akui Kyuu lemah di summary (someone: cerita lu juga jelek!)

Makasih ya buat dukungannya :D

Dunia Langit itu, bisa dibilang ada di dimensi lain.

Kaya 'Edolas' di anime Fairy Tail gitu lah letaknya. Gak keliatan dari bumi, tapi bener2 ada *buaghhh (penjelasan yang ambigu)

Untuk rate… eheheh akan Kyuu usahakan. Tapi apa perlu ini diganti ke rate T+ ya? Tolong sarannya yah senpai

Sankyuuuuu ~

.

Kimmy no Michiku: Sankyuu senpai... Sankyuuuu ~

Untuk chap ini, seperti penjelasan di atas, ga pa2 ya ^.^'b

Untuk chap depan pasti lebih banyak kok. Tenang ajahhh

And Sai bakal muncul lagi :D

,

Hatakehanahungry: oh iya, maaf. Maklum masalah mata (sebenarnya pertanyaan yang panjang membuat otak Kyuu ga mampu ingat. Ssttttt.. jangan bilang2 Hana-san ya *buaghhh)

Dei itu cowok.

Kalau bayangan Kyuu di Fic ini sih. Ga peduli cowok apa cewek. Asal ada kesepakatan siapa yang jadi uke, ya itulah yang bakal jadi 'cewek'. Sampe bisa hamil juga.

Kalau imajinasi Kiyu (bagus juga tuh panggilan. Makasih ya ) sih bisa kaya' gitu. Gomen kalo imajinasi Kyuu terlalu ngaco :D

Kan mereka punya kekuatan sihir, dan mereka ini makhluk 'abadi' yang bisa melakukan apapun. Jadi hal semacam itu bukan hal yang mustahil disini *maksa :3

Kalo Sai, chap depan akan terjawab

Makasih banyak yah dukungan and doanya Hana-san :D

Sasu: hn. Nih pengetik brengs*k tar malem bakal gue –piipp-. Gue jadiin uke simpenan luh!

Naru: ohh gitu ya Sas? OK. Eluhh.. guehh.. E – emphhhh

Sasu: gomen Nar. Gue Cuma kesel ajah sama dia. Masa gue dapet apes banget di chap ini... jangan marah ya.. entar beli ramen deh

Kyuu: yang ada elu yang gue jagiin uke *lust in evil eyes

.

Sasunaru4ever: kalo dihitung jumlahnya sih gak Cuma 2 hehe

.

Meg chan: iyah ini uda apdet

Makasih ya

.

Sabishii no kitsune: Kyuu juga suka bagian itu :D

Iya sih bakal menuju ke sana. Tapi tetep ada humor garingnya kok. Walau di chap ini guaarriiinggg banget. Hahaha

Ini udah apdet lohh..

.

Ahh selesai juga bales review.

Buat yang punya saran nama anaknya ItaDei plus wujud fisiknya, share ke Kyuu yah

Makasih juga yang udah mau baca fic abal Kyuu. Semoga bermanfaat (bermanfaat apaan dah)

Yang doain Kyuu juga makasih. Mata Kyuu udah baikan :3

Special thanks to:

Reviewers

Silent readers

And YOU

.

Akhir kata.. Mind to Review please :3