Sasuke berjalan menuju pintu keluar, kedua seniornya pun hanya menatap punggungnya, membiarkan sasuke memikirkan baik-baik takdirnya.
'cklekkk' suara pintu terdengar terbuka. Pintu yang bahkan sejak awal ruangan ini dibuat, tidak pernah dibuka sama sekali. Siapa? Siapa yang membuka pintu itu.
"Nee, Teme! Apa kau didalam?" terdengar suara cempreng yang diikuti dengan sosok pemuda berambut pirang dengan mata sapphire. Suksem membuat ketiga Uchiha menghentikan aktivitasnya, menatap terkejut ke arah pemuda bernama lengkap Uzumaki Naruto itu.
'Anak itu. Bukan hanya kebal dengan 'kutukan' kalung Namikaze, ia juga bisa masuk ke ruangan ini. Siapa dia sebenarnya?'
.
.
Title: Night Kingdom
Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story "Night Kingdom": KyuuRiu
Genre: Fantasy, Romance (?)
Pair : Sasuke x Naruto (main)
Itachi x Deidara
Warning: abal, geje, nista, typo, mis-typo dimana-mana, and banyak lagi. Silakan beri tahukan kepada saya :3
Chap 6: Friend or Foe
.
.
"Na – Naruto?" Sasuke tergagap saat melihat kekasihnya dapat memasuki ruangan yang hanya dapat dimasuki oleh seorang iblis berdarah Uchiha murni. Samar-samar ia dapat mendengar suara tou-san dan kakeknya bergumam 'tidak salah lagi'.
'Apa? Apanya yang tidak salah? Mungkinkah Naruto benar-benar –'
"Teme?" si pirang melambai-lambaikan tangan kanannya di depan muka Sang Pangeran, tanpa sedikitpun luka yang tersisa di pergelangan tangannya. Hal ini sukses membuat Fugaku dan Madara mengambil kesimpulan yang sama. Sedangkan Sasuke...
"Dobe, kita pergi." tanpa babibu Sasuke langsung menyeret kekasihnya keluar ruangan. Tak dipedulikannya sang kekasih yang meronta meminta penjelasan.
"Sepertinya Sasuke menyadari sesuatu." gumam Madara tenang. Dia lebih memilih diam dan membiarkan cucunya meninggalkan ruangan bersama sang kekasih. Sedangkan Fugaku masih tidak – lebih tepatnya belum – memercayai bahwa anak itu adalah –
.
"Temeee... Apa yang kau lakukan sih? Lepaskan aku!" Naruto meronta semakin kuat. Sekarang mereka berada di halaman belakang istana.
"Diam Dobe!' bentak Sasuke sambil menatap tajam kekasihnya itu. Sang Uchiha Terpilih yang berusaha menghindari takdirnya, menghentikan langkahnya, matanya berubah merah dengan tiga koma yang berputar di tengahnya.
"Te – teme. Apa yang –"
"Kita harus pergi." potong pemuda berambut pantat ayam sambil memeluk erat Naruto.
Naruto terdiam. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia dan Sasuke harus pergi?
"Akan kujelaskan nanti. Sekarang kita bersiap untuk pergi." Naruto mengangguk dalam pelukan sang kekasih. Dia percaya pada Sasuke. Saat pemuda berkulit alabastar itu berkata mereka harus pergi. Maka Naruto akan mengikuti kemanapun kekasihnya pergi.
Sasuke melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lembut ke arah si blonde. Tapi mata si blonde tidak tertuju padanya, melainkan pada –
"Shikamaru?" gumam Naruto pelan. Matanya memicing, mencoba meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah.
Nara Shikamaru. Teman sekelasnya di SMA. Berada di sini? Bagaimana bisa?
Sasuke mengikuti arah pandang Naruto.
'Nara? Bukannya dia sedang menjalankan misi dari aniki? Tunggu! Dobe mengenalnya?'
"Do – sial!" Naruto telah berlari ke arah empat orang yang tengah duduk di bangku taman. Neji, Gaara, Kiba dan – Shikamaru.
"Hoiii Naru!" teriakan Kiba sukses membuat Neji dan Gaara mengalihkan pandangannya ke arah sosok berambut secerah matahari yang sedang berlari ke arah mereka. Sedangkan seorang pemuda lain yang memiliki alis indah dan rambut serupa nanas lebih memilih untuk mengabaikan teriakan kekasihnya itu. Terlalu merepotkan.
Kiba berdiri. Menyambut sahabatnya yang berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Jarak mereka sebelumnya 100 meter, ingat? Dan hei! Naruto bisa melihat Shikamaru dengan jelas? Awesome... tapi tentu saja tidak ada yang menyadari hal ini, kecuali Sasuke yang terbang mengekor beberapa meter di belakang Naruto.
'Sial! Aku tidak bisa mengejarnya.' Runtuk Sang Pangeran dalan hati.
"Kenapa berlari?" Gaara menepuk-nepuk punggung si pemuda blonde. Dua detik yang lalu pemuda itu memutuskan untuk berhenti berlari, tepat satu meter di depan pemuda yang dikenalinya sebagai teman sekelasnya di sekolah.
'Kenapa Shika berada di sini? Mungkinkan... Mungkinkah ia juga... Tidak mungkin!' pekik batin Naruto.
"Dobe!" Sang Pangeran 'menyimpan' kembali sayapnya, kemudian menarik bahu kekasihnya. Sasuke mencoba menyeret dan membawanya pergi (lagi), kali ini hanya bergesar 5 meter dari tempat semula.
"Teme. Apa dia – "
"Seperti yang kau lihat." Sasuke menatap tajam sapphire kekasihnya mencoba mengatakan 'kita harus cepat pergi, Dobe'. Namun keinginan Sasuke nampakna harus ditunda karena sang kekasih lebih memilih melepaskan tangan Sasuke dan berjalan kembali menuju ketiga iblis dan seseorang yang dia curigai sebagai –
"Hei Naru! Kuperkenalkan kau pada seseorang." ucap Kiba ceria seraya menarik tangan pemuda berbandul kalung prisma ke arah bangku yang mereka duduki. Dia sama sekali tidak menyadari mata Nartuto yang menatap lurus ke arah kekasihnya.
Gaara dan Neji yang menyadari kejanggalan di scene kali ini saling tukar pandang.
'Ada apa ini?' namun jawaban yang mereka dapat hanyalah tatapan yang menunjukkan pertanyaan yang sama. Mereka pun memutuskan untuk menunjukkan pertanyaan itu ke Sasuke.
"Naru ini –"
"Shikamaru?" Naruto memotong ucapan Kiba. Pertanyaannya ditujukan entah kepada siapa, tapi matanya menatap tajam pemuda berambut nanas yang baru saja membuka mata saat ia mendengar suara cempreng yang mulai dikenalinya sejak enam bulan yang lalu.
"Naruto?" mata pemuda ber-IQ lebih dari dua ratus itu membulat. Mencoba menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat Naruto berada di sini.
"Kalian sudah saling kenal rupanya. Naru, ini Shika. Keka – " Gaara menarik bahu pemuda itu menghentikan ucapannya.
"Perhatikan!" ucapan Neji sukses membuat Kiba mengalihkan tatapan protenya ke arah kekasihnya. Shikamaru dan Naruto saling adu pandang. Sedangkan Sasuke menatap tajam Shikamaru. Adegan ini benar-benar membuat Kiba memikirkan kemungkinan terburuk yang sedang terjadi.
'bletakkk'
"Ouchh!" pekik Kiba saat merasajak jitakan dari pemuda berkanji 'ai' dibelakangnya.
"Jangan katakan padaku kalau kau mengira Shikamaru pacaran dengan Naruto." Kiba hanya nyengir kuda saat mendengar sahabatnya itu.
"Sasuke bersiap 'mengeluarkan' sayapnya." gumam Naji.
Mereka bertiga pun menonton adegan yang belum mereka mengerti itu dengan khusyu'.
"Katakan padaku Shika! Kenapa kau bisa berada di sini."
Shikamaru terdiam. Bukankah seharusnya pertanyaan itu ditujukan kepada pemuda blonde yang sedang mengajukan pertanyaan itu padanya.
"Apa Kau... Mereka..." Naruto menundukkan kepalanya.
"Dobe!" sayap di punggung Sasuke sudah tampak.
'Sasuke mengenal bocah ini, eh?' Shikamaru menatap dua makhluk berbeda aura di depannya secara bergantian.
"Kau..."
"Shika katakan padaku kalau kau – " pemilik iris sapphire mendongakkan kembali kepalanya. Mata terlihat err... berbinar (?)
"Apa kekasihmu juga makhluk disini lalu kau dibawa ke dunia ini?" sebuah pertanyaan berhiaskan mata berbinar yang sukses membuat dua pasangan kekasih disekitarnya saling pandang dengan tatapan bingung. Sedangkan Sasuke sweatdop dalam hati.
'Ja – jadi Dobe berpikir seperti itu? Bukan menyadari kalau bocah nanas ini adalah seorang iblis?' sweatdrop Sasuke bertambah besar saat dia menyadari bahwa kapasitas otak sang Dobe tidak akan mampu berfikir sampai sejauh itu *duaghhh (ditonjok Naru)
"Kau mengenalnya?" pertanyaan Sasuke sukses merebut perhatian pemuda bermarga Nara serta keempat orang lainnya.
"Teme apa-apaan sih?" protes Naruto saat pinggangnya dipeluk erat oleh sang kekasih. Namun tatapan tajam yang didapatkan sukses membuat Naruto lebih memilih diam dan memperhatikan.
"Hn." mata Sasuke kembali tertuju pada pemuda bermarga Nara.
"Dia itu," Shika menghela Nafas bosan menyadari hubungan Sang Pangeran dengan pemuda yang membuatnya tidak bisa tidur selama beberapa hari, " – target Itachi-sama"
'Dheggg!'
"Hn." gumam Sasuke cukup jelas. Yang lain lagi-lagi bertukar pandang. 'Target? Target apa?'.
Secepat kilat Sasuke menarik lengan Naruto, menggendongnya ala bridal style dan langsung melesat terbang.
"Sasuke-sama?" teriak keempat orang yang ditinggalkan Sasuke hampir bersamaan. Ada apa dengan Pangeran mereka? Kenapa dia bersikap aneh begitu?
"Ck. Merepotkan." decak Shikamaru sambil menguap. Otak jenius Shikamaru sudah mengambil dua kesimpulan dengan kemungkinan terbesar. Pertama, Pangeran Berambut Ayam itu sudah mengetahui siapa Naruto sebenarnya, dia juga mengartikan 'target' sebagai kalimat berkonotasi negatif sehingga membawa Naruto – yang kelihatannya berstatus sebagai kekasih Sasuke – pergi menjauh dari istana.
Kemungkinan kedua, Sasuke – yang memang sulit ditebak – 'hanya' ingin membawa Naruto pergi. Sasuke memang sering bertindak tanpa alasan yang dapat dimengerti – bahkan oleh Shikamaru dan keluarga Uchiha sekalipun.
"Shika. Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa Naruto adalah target Itachi-sama?" Kiba duduk disebelah kekasihnya. nada bicaranya menuntut penjelasan. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengejar Sasuke. Tidak akan pernah ada. Jadi percuma saja mengejarnya, setidaknya untuk saat ini...
"Aku pergi ke dunia manusia untuk mencari seseorang. Setelah beberapa bulan, akhirnya aku dapat memastikan bahwa Naruto adalah orang yang Itachi-sama cari. Tapi saat aku ingin memastikannya untuk yang terakhir kali, dia menghilang. Beratus tahun berlalu... Aku dan kakakku menemukan avatar baru. Seorang pengendali uda –"
'Dughh!'
"Apa yang kau bicarakan bodoh!" Neji menjitak kepala teman seperjuangannya itu. Bagaimana bisa si Nanas Shikamaru – yang terkenal jenius itu – mengatakan hal-hal yang... aneh (?)
"Ahh maaf. Di dunia manusia ada kartun yang sangat menarik sih. Judulnya Avatar: The Legend of – " Shikamaru menghentikan ucapannya. Dunia manusia telah mengontaminasi otak jeniusnya dengan berbagai hiburan-hiburan aneh. Ohh No! Julukan jeniusnya telah ternoda!
"Sampai mana tadi?" akhirnya ia bisa fokus kembali.
"Naruto menghilang." gumam Gaara. Jujur, ia juga penasaran dengan kisah avatar tadi. Tapi pemuda ber-eye liner super tebal itu sadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu. Sebenarnya, 'gengsi' adalah alasan terbesarnya untuk tidak menanyakan kelanjutan kisah ava *duaghhh (Gaara: diem bego! Ngapain lu bilang-bilang soal gue?)
"Hn. Aku mencarinya kemana-mana. Tapi semua orang di sekolah tidak menyadari bahwa bocah duren itu menghilang, bahkan mereka bersikap seakan Naruto tidak pernah ada. Sama seperti saat aku tiba-tiba masuk ke sekolah itu."
"Jadi kau mengambil kesimpulan bahwa Naruto telah dibawa pergi bangsa kita?" Neji yang berdiri sambil menyilangkan tangannya tak sanggup menyembunyikan rasa penasarannya.
"Tidak.. Maksudku – belum." kalimat ini sukses membuat ketiga pemuda berbeda kemampuan didekatnya mengeryitkan dahi.
"Orang tuanya tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun."
"Mereka tidak menyadari kalau Naruto menghilang?"
"Bukan. Mereka lebih memilih diam. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau saja kalian tahu siapa ayah dari Naruto..." Shikamaru ngulet disko. Menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.
Mereka berempat terdiam. Menyadari kehadiran seorang pemuda berambut raven cepak dengan bibir yang agak tebal. Dia bersembunyi pada radius 30 meter dan mengirimkan sesosok burung parkit berwarna putih – burung yang tercipta dari tinta yang ia goreskan ke sebuah kertas dan langsung berubah menjadi makhluk tiga dimensi yang menurut penuh pada perintah Sai.
Gaara – yang saat itu membawa gentong pasirnya – langsung 'memainkan' pasirnya. Menangkap burung itu dan menghancurkannya. Sai yang menyadari adanya bahaya langsung pergi, tidak mau mengambil resiko yang dapat membuat bibirnya bertambah tebal.
"Kenapa dia ada disini?" tanya Neji setelah byakugan-nya memastikan Sai benar-benar sudah pergi dan tidak ada burung tinta atau sejenisnya lagi.
"Kelihatannya dia mengincar Naruto. Beberapa waktu lalu dia berusaha melakukan hal buruk pada si Uzumaki itu."
Shikamaru mengeryitkan dahinya. 'Mengincar Naruto, eh?'
"Lanjutkan, Nara!" tuntut pemuda bermarga Hyuuga.
"Ck. Medokusei! Sepertinya orang tua Naruto yang membuat semua orang tidak mengingat kehadiran Naruto sebelumnya."
"Jadi... Sebenarnya siapa mereka? Tidak mencari anaknya yang hilang? Sungguh mengejutkan."
"Namikaze. Keluarga dengan kekuatan rubah berekor sembilan." ucapan Shikamaru cukup, bahkan sangat jelas didengar oleh telinga iblis ketiga pemuda lainnya.
Naruto? Keturunan siluman rubah berekor sembilan? Iblis dengan kekuatan legenda yang bahkan belum tentu bisa dikalahkan oleh seorang Uchiha?
Mereka berempat tahu siapa itu Namikaze, mereka mendapatkan penjelasan tentang keluarga itu saat mereka masih duduk di bangku akademi – tahap akhir sebelum mereka dapat masuk sebagai orang-orang kepercayaan Raja di istana.
Tapi bukannya dia sudah menghilang belasan tahun yang lalu? Kenapa dia bisa berada di dunia manusia?
"Jangan tanyakan padaku!" seakan membaca pikiran teman-temannya, Shikamaru menggeleng pelan. Yang ia dan teman-temannya tahu hanyalah bahwa bangsa rubah adalah bangsa yang kuat. Mereka tidak pernah mendapat penjelasan mengenai alasan menghilangnya Namikaze dari Dunia Langit. Hal ini masih dirahasiakan oleh Raja dan keluarganya demi menghindari kudeta yang dicurigai akan dilakukan oleh beberapa orang tersangka.
Bagaimanapun juga informasi mengenai Namikaze – dianggap – rahasia oleh para Raja sebelumnya, Fugaku dan Madara.
"Sepertinya Itachi-sama juga belum menyadari bahwa Naruto adalah orang yang ia cari-cari." lagi-lagi Shikamaru menggumam. Pemuda hyperactive yang sedang ia bicarakan memang sama sekali tidak memiliki aura iblis. Sungguh merepotkan.
"Namikaze itu..." ucapan Gaara menggantung, membuat yang lain menatapnya heran. Gaara tidak pernah tidak bisa berbicara lancar kan?
" – kawan atau lawan?"
'Dhegg'
Jantung Kiba seakan tertohok mendengar ucapan Gaara. Benar baru beberapa hari ia mengenal Naruto – pemuda keturunan Namikaze. Tapi pemuda super ceria itu sudah dianggapnya sebagai saudara. Perasaan ingin melindungi dan menyayangi itu sudah tertanam jauh di hati Kiba, juga Gaara.
Seandainya Naruto adalah lawan, itu berarti ia dan Gaara harus menjalankan perintah Raja untuk –
Kiba tidak sanggup melanjutkan kecamuk di hatinya. Terlalu membingungkan sekaligus – menyakitkan.
.
.
"Sekarang bisakah kau jelaskan padaku Uchiha?" ucap Naruto cukup datar. Saat ini mereka sedang berada di sebuah apartemen sederhana di dunia manusia. Entah mengapa hanya dunia manusia yang ada di otak jenius Sang Pangeran.
Beberapa saat yang lalu mereka baru saja sampai ke apartemen ini. Entah bagaimana caranya Sasuke membuat orang-orang disini berfikir bahwa ia dan Naruto sudah tinggal cukup lama di apartemen bernomorkan 23 yang terletak di lantai 10 – lantai paling atas di gedung ini. Pakaian mereka pun langsung berganti menjadi baju 'normal' beberapa detik setelah mereka mendarat. Naruto dengan celana pendek hitam dan kaos orange – yang lagi-lagi bergambar Kyuubi dan bertanda 'pusaran' tepat dibawah tanda kipas yang biasanya bertengger di pakaian-pakaian Naruto yang Sasuke 'berikan'. Sedangkan Sasuke sendiri memakai celana jeans dongker dengan kaos putih polos. Membuatnya terlihat makin emo.
"Katakan padaku 'Suke!" Naruto mulai kehabisan kesabarannya. Sepanjang perjalanan ke dunia ini dia terus saja menanyakan alasan sang kekasih membawanya pergi. Namun tak ada satupun dari pertanyaan itu yang mendapat respon bagus.
"Diamlah Dobe! Aku sedang berfikir." Sasuke menatap tajam kekasihnya dengan mata merah berhiaskan tiga koma.
Naruto terdiam. Ia sadar bahwa ini bukan masalah yang sepele. Tidak ingin membuat kekasihnya bertambah marah, ia memutuskan untuk mematikan tv 30 inch yang baru saja ia nyalakan lima menit yang lalu dan langsung berjalan menuju sebuah kamar terdekat.
"Hghhh..." Sang Pangeran menghela nafas. Ia baru saja membuat kesalahan. Naruto pasti sedang ngambek sekarang.
Diedarkan pandangannya menyapu ruangan sederhana yang sedang ia tempati. Sederhana, eh? Dengan tv 30 inch? Tentu saja. Luas ruang tamu apartemen ini bahkan tidak lebih dari setengah luas kamar Sasuke.
"Ini lebih sulit daripada memberi tahukan 'hal itu'. Begitukan? Apa Kami-sama benar-benar membenciku yang seorang iblis ini?" pemuda bermata onyx itu mengacak rambutnya frustasi.
"Bukannya KAU yang menciptakan makhluk sepertiku, eh? Lalu seenaknya saja KAU menuliskan takdir seperti ini? Lucu sekali.." Sasuke tertawa miris. Bukti dan fakta yang ia dapatkan menunjukkan bahwa kemungkinan Namikaze adalah kawan hanyalah 12%.
"Hahh... memang harus kukatakan padanya sekarang juga." membulatkan tekadnya, Sasuke pun beranjak menuju kamar yang tadi Naruto masuki.
'cklekkk'
"Dobe.." hati-hati Sasuke memanggil Dobe-nya.
'Krieettt... klekk'
Perlahan Sang Pangeran berjalan menuju kasur double-size yang berada di sudut kamar. Dilihatnya gundukan mencurigakan berselimut putih. Di ujung gundukan, tepatnya di sekitar bantal, terdapat sesuatu berwarna kuning jabrik.
Sasuke tersenyum. Ia tahu betul kalau kekasihnya itu belum tidur.
"Sudah tidur rupanya..." Sang Uchiha yang Terpilih membelai pelan sesuatu berwarna kuning jabrik yang dicurigai sebagai kepala kekasihnya.
'Mungkin mengatakan dalam keadaan seperti ini akan lebih mudah' batinnya.
"Kau tahu, Uzumaki Naruto? Seorang iblis harus menikah dengan iblis juga." suara datar Sasuke seakan menusuk-nusuk gendang telinga si blonde. Isakan Naruto yang terhenti beberapa waktu yang lalu kini mulai terdengar lagi. Pelan, sangat pelan. Bukannya Sasuke tidak mengetahuinya, ia hanya pura-pura tidak tahu.
'Begitu ya.. 'Suke akan memulangkan aku ke dunia manusia.' Naruto tersenyum miris disela isakannya. Tidak! Ia tidak boleh menangis!
"Kau tahu apa yang kupikirakan Dobe – " Naruto terdiam, tentu saja. Ia masih dalam mode 'berpura-pura tidur'.
" – kupikir itu hal paling 'mengerikan' yang harus kita lewati bersama." Sasuke terkekeh pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mengucapkan kata 'mengerikan'.
"Maafkan aku Dobe." entah bagaimana caranya sesosok pemuda emo sudah berada di dalam selimut bersama Naruto. Saking terkejutnya Naruto sampai menyingkap selimut dan melemparkan benda tak berdosa itu ke sembarang tempat.
Ia hampir saja berteriak kalau saja ia tidak merasakan bahunya dialiri – cairan hangat ?
"Te –temeee?"
"Biarkan seperti ini sebentar saja." gumam si Teme dengan suara datar khasnya. Menurut, Dobe pun terdiam. Ragu-ragu ia membalas pelukan Sang Pangeran yang sejak tadi bersikap aneh.
Tangan kanannya membelai lembut kepala sang kekasih, "Semua baik-baik saja kan, Teme?"
Jantung Sasuke seakan tertohok mendengar kalimat itu. Disaat seperti apapun juga, biasanya ia akan berkata 'semua akan baik-baik saja' kepada Dobe-nya. Tapi kali ini? Mengeluarkan gula-gula kristal dari matanya, eh?
"Kau benar Dobe. Semua baik-baik saja." Sang Pangeran melepaskan pelukannya. Ia menatap Naruto sambil tersenyum. Dibalas cengiran khas oleh sang Uzumaki.
"Sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu." si pemilik mata onyx mendorong bahu kekasihnya, kemudian menindihnya.
"Te – empphhh!" Naruto membelakakkan matanya.
Apa?
Sasuke munciumnya?
Tepat di bibir?
First kiss Naruto?
Diambil dengan cara seperti ini? Sungguh kejam!
"Emphh..." Naruto mengalungkan lengannya di leher Sasuke. Memejamkan mata dan mencoba menikmati apa yang dilakukan kekasihnya itu. Dalam keadaan seperti ini, melawan pun tidak ada gunanya kan?
Pemilik rambut solid model pantat ayam itu menyeringai dalam hati. Seharusnya ini sudah cukup, tapi –
Sang Pangeran memperdalam ciumannya. Melumat lembut bibir bawah Naruto. Naruto pun membuka sedikit mulutnya. Membuat sang raven dengan sigap menjulurkan lidahnya dan langsung mengabsen gigi kekasihnya satu per satu.
"Engghh.. Tem – mmh." si pirang mulai kehabisan nafas. Sedangkan Sang Pangeran makin gencar mengajak lidah Naruto berdansa.
"Hen – 'Sukee..." Naruto mencengkram kuat pundak Sasuke.
'Sakit.' Batin Sang Pangeran. Ia pun segera melepas ciumannya.
"Kau – Gila! Dasar Teme Mesum!" teriak sang Uke di sela kesibukannya mengusap sudut bibirnya.
"Hn." gumam tersangka pelaku pencurian first kiss Naruto.
"Begitu ya..." Sasuke mendekatkan dirinya ke arah Naruto.
"Apanya yang 'begitu'? Dasar !" Teriak si blonde dengan wajah memerah.
"Kau .. " si Teme menghela nafas, " – bukan manusia, Dobe!" Naruto mengeryitkan dahinya. Kekasihnya benar-benar memiliki selera humor yang aneh.
"Kau bercanda Teme. Hahaha itu sangat lucu!" tawa garing membahana di ruangan bercat lembut itu.
"Iblis harus menikah dengan iblis juga. Dan Kau, Naruto. Akan berubah menjadi iblis setelah berciuman denganku." wajah stoic Sang Pangeran masih nampak jelas di mata Naruto yang terbelalak lebar.
'Apa? Barusan itu... Sasuke mengubahku manjadi iblis? Tidak. Ini tidak mungkin.' Batin sang blonde berteriak. Bagaimanapun juga ia tidak mau menjadi makhluk abadi dan meninggalkan kehidupan juga orang tuanya begitu saja. Setidaknya dia belum memilirkan hal ini.
"Bukan Dobe. Sejak awal kau memang seorang iblis." Sang Pangeran merebahkan tubuhnya di samping pemuda bermarga Uzumaki yang masih terduduk bingung.
"Kau tidak merasa sakit kan?"
'Sakit? Apanya yang sakit?' Naruto menggeleng.
"Terbakar?"
"Panas?"
Semua pertanyaan Sasuke dijawab Naruto dengan gelengan pelan.
"Berarti sejak awal kau bukan manusia Dobe. Jika kau adalah manusia, maka tubuhmu akan terasa panas saat berciuman denganku." tersenyum miris. Sasuke mengacak rambut sang kekasih.
Mereka terdiam. Cukup lama... Sebuah kebiasaan yang tak bisa hilang jika mereka berdua sedang bersama.
'Keren' adalah satu kata yang berputar-putar di kepala Naruto.
Ia adalah makhluk abadi dengan kekuatan yang tidak biasa. Bukankah itu sangat keren? Kelihatannya prediksi sang ayah sangatlah tepat. Saat ia tahu bahwa ia adalah seorang iblis, Naruto akan berfikir bahwa dirinya sangat keren.
"Hei! Bukannya itu bagus 'Suke? Kenapa kau murung begitu?" tanya Naruto tiba-tiba. Wajah stoic yang sedari tadi coba dipasang Sasuke tidak bisa mengelabuhi mata Naruto ternyata.
"Tidak jika aku adalah seorang Uchiha, dan kau adalah seorang Namikaze."
"Nami – kaze?" si pemuda blonde membeo. Dibalas dengan anggukan pelan oleh pemuda alabastar yang kini menggenggam tangannya erat..
"Ada apa dengan," Naruto menarik nafas panjang, " – ayahku?"
"Tepat seperti dugaanku."
Sasuke mendudukkan dirinya perlahan, menmosisikan dirinya berhadapan dengan sang kekasih. Ia mencoba menceritakan semua yang ia ketahui tentang Namikaze serta keluarganya. Berbeda dengan Shikamaru cs yang sudah mengetahui perihal Namikaze sejak di akademi, Sasuke baru saja mengetahui hal ini, karena pemuda emo itu tidak pergi ke akademi. Dia seorang Pangeran, ingat?
Naruto percaya. Percaya pada Sasuke yang mengatakan bahwa ayahnya – dan ibunya – adalah seorang iblis. Bagaimanapun juga Naruto pernah beberapa kali memergoki orang tuanya melakukan hal-hal diluar kemampuan manusia, seperti menghentikan bus yang akan menabrak Naruto dengan satu tangan saja, melompat dari lantai tiga tanpa luka sedikitpun – hal yang sering dilakukan ayahnya.
"Jadi keluargamu dan juga keluargaku –"
"Itu kemungkinan terburuk, Dobe."
Diam. Lagi-lagi mereka terdiam. Sungguh Naruto tidak mau jika ia dan kekasihnya harus saling melukai, begitu juga dengan Sasuke. Walaupun mereka – terutama Sasuke yang sejak lahir memang sudah menyadari jati dirinya – adalah seorang iblis, mereka tetap memiliki perasaan. Bahkan iblis hanya bisa mencintai sekali seumur hidup.
"Apa mereka akan mengejar kita 'Suke?" Naruto menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke.
"Tidak. Setidaknya, belum untuk saat ini." Sasuke membelai rambut pirang kekasihnya.
Si pemuda pirang menguap pelan. Matanya terlihat lelah dan mengantuk.
"Tidurlah... Aku akan menjagamu."
.
.
"Kurasa bocah pirang itu benar-benar orang yang kita cari." gumam seorang ber-eyeshadow ungu dengan mata kuning tajam seperti ular.
"Pemuda Nara itu bilang kalau Naruto adalah target Itachi. Kurasa itu sudah cukup jelas." timpal pemuda berambut raven cepak dengan muka serius yang tengah tersenyum.
"Kita harus melaksanakan misi kita sebelum mereka menyadari siapa mereka sebenarnya. Dan sepertinya kita punya tambahan waktu. Pangeran bodoh itu baru saja membawa kekasihnya pergi ke dunia manusia." seorang berambut perak dengan kacamata bulat berkomentar setelah ia memastikan bahwa pemuda yang dilihatnya melalui cermin ajaib adalah Sang Pangeran.
"Bisakah kita berhati-hati ayah? Aku menyukainya." senyuman di wajah pemuda raven itu menghilang. Ditatapnya tajam seorang pria paruh baya yang tengah memperbaharui perban di lengan kanannya.
"Kau tenang saja Sai. Setelah semuanya selesai. Kau akan mendapati pemuda itu menjadi milikmu," Danzou menolehkan kepalanya. Menatap pria pedopil bermata ular, "Bukan begitu, Orochimaru?"
"Tentu saja. Kita akan mengubah era di Dunia Langit ini. Kabuto! Segera susun rencana untuk membereskan Pangeran bodoh itu!"
"Ha'i. Orochi-sama."
.
.
"Mhh..."
"Huhhh..."
"Ck. Tenanglah Dobe. Aku tidak akan bisa tidur kalau kau terus saja membolak-balikkan badanmu seperti itu." gerutu Sang Onyx karena sedari tadi kekasihnya itu selalu mengubah posisi tidurnya.
"Aku tidak bisa tidur Teme... Ini semua sangat tiba-tiba."
Sasuke mengerti betul apa yang dimaksud kekasihnya itu. Dia sadar bahwa Naruto tidak akan pernah sepandai dirinya dalam hal mengendalikan emosi.
Sang Pangeran menatap mata kekasihnya dalam-dalam. Mencoba memikirkan sesuatu yang dapat menenangkan kekasihnya.
"Bagaimana kalau kita melihat bintang?" tawar Sasuke. Melihat bintang adalah hal yang sering mereka lakukan bersama sebelum tidur – saat masih di Night Kingdom tentunya.
"Diluar hujan Teme." mata sapphire itu berkilat sebal. Mungkinkah otak jenius kekasihnya tak lagi berfungsi gara-gara terlalu lama bergaul dengannya? *plakkk
"Ck. Sekali Dobe tetap Dobe." tangan alabastar itu terangkat ke atas kemudian bergeser beberapa kali membentuk simbol yang tidak Naruto mengerti.
1...
2...
3...
'TADAAAA'
Langit-langit kamar yang mulanya polos itu kini terlihat seperti langit malam penuh bintang. Tanpa sedikitpun awan mendung yang menyelimutinya.
"Langit Night Kingdom." gumam si onyx yang sukses menjawab pertanyaan Naruto yang belum sempat terlontarkan.
Sang Pangeran memiringkan tubuhnya, memeluk pinggang sang kekasih yang tengah asik melihat bintang. Ditatapnya wajah tan itu dengan saksama dan dalam tempoh yang tidak singkat.
"Nee, Teme." gumam Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari 'langit bertabur bintang' di atasnya.
"Hn."
"Kira-kira kekuatanku seperti apa ya..." mata sapphire itu masih tertuju ke arah bintang-bintang. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Entahlah." sang kekasih mencoba tidak peduli. Pelukan di pinggang pemuda bermarga Uzumaki pun terasa makin erat.
"Apapun itu..." Naruto menghadapkan tubuhnya ke arah Sasuke, membalas pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda bermata obyx di depannya.
" – aku harap aku berguna untukmu dan bisa membantumu." Sasuke tersenyum mendengar ucapan pemuda yang lebih pendek 11 cm darinya itu. Sungguh ia tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya jika ia dan si blonde kesayangannya itu harus beradu pedang.
"Teme... Jika kau harus memilih. Kau akan memilih aku atau – "
Sang Pangeran menaruh telunjuk kanannya di bibir Naruto. Ditatapnya sapphire yang terlihat sendu itu.
"Tentu saja Kau yang akan kupilih."
"Bagaimana dengan posisi sebagai Raja? Kau bilang ingin menjadi Raja."
"Biarkan saja si Keriput Baka Aniki itu memjadi Raja sampai keriputnya bertambah banyak." pemuda bermata onyx itu terkekeh pelan. Dilanjutkan dengan tawa renyah pun terdengar dari bibir kedua pemuda tampan itu.
"Semua akan baik-baik saja Dobe.." tubuh tan itu pun menghangat, mendapat pelukan penuh kasih dari seseorang yang amat dicintainya.
.
.
"Tidurlah Dei… Ini masih dini hari." Seorang pemuda berambut raven panjang membelai lembut bahu pemuda lain yang tengah menggendong seorang bayi mungil berambut pirang pucat.
"Dia akan bangun kalau tidak kugendong seperti ini." Senyum lembut terlihat samar di bibir Deidara. Ditatapnya lembut bayi yang baru beberapa hari 'dilahirkan' itu. Hasil buah cintanya bersama Itachi.
"Sudah kau siapkan nama untuknya?" Itachi mencium puncak kepala pemuda bermata biru, kemudian beralih ke pipi bayi mungil yang tengah terlelap itu.
"Kurasa akan lebih baik kalau ayahnya yang memberikan nama."
"Hn."
Mereka berdua terdiam. Sungguh dalam keadaan seperti ini, rasa khawatir itu tidak bias mereka pungkiri. Beberapa jam yang lalu mereka baru saja mendapat kabar tentang Naruto, juga bahwa Sasuke membawa Naruto pergi entah kemana. Ditambah lagi mata-mata yang mereka kirim untuk mengawasi pergerakan kaum 'oposisi' memberitahukan bahwa orang-orang itu mulai menunjukkan pergerakan yang mencurigakan.
"Uchiha Hideo."
"Hmm?" Deidara mengalihkan pandangannya dari bayi mungil yang tengah digendongnya kearah Itachi. Didapatinya sang pendamping hidup tengah menatap kedua iblis pirang itu dengan tatapan penuh kasih.
"Menurutku, itu nama yang bagus untuk jagoan kecil kita."
"Baiklah… Namamu Uchiha Hideo." Pengendali tanah liat itu mencium lembut bayinya. Itachi yang melihatnya pun memeluk pinggang Sang 'Ratu'.
"Nee Itachi." Deidara menatap onyx Sang Raja dengan tatapan yang berbeda dengan yang sebelumnya.
"Hn?"
"Apa 'mereka' akan baik-baik saja?" pertanyaan yang cukup jelas dimengerti oleh pemuda raven dihadapannya itu tidak langsung mendapat respon dari yang bersangkutan.
"Kau tahu? Sasuke bukan iblis yang lemah. Bahkan dia adalah yang terkuat diantara kami." Mata onyx itu menerawang jauh. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa Otouto kesayangannya akan baik-baik saja.
"Aku tahu. Tapi Orochimaru adalah iblis yang sangat berbahaya. Ditambah lagi keadaan Sasuke yang seperti itu. Kurasa ini tidak akan mudah. Ditambah lagi Naruto …." Deep ocean itu menyendu. Bagaimanapun juga adik iparnya tengah berada dalam masalah yang cukup rumit. Ia tahu betul hal itu.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah." Senyum kembali terkembang di bibir Uchiha sulung. Senyum yang tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran yang amat mendalam.
.
.
"Aku tidak bias membayangkan apa yang akan dilakukan siluman rubah itu padaku saat mengetahui anaknya 'hilang'." Raut cemas itu tergambar jelas di wajah tegas Fugaku. Sungguh ia tidak dapat melacak kemana bungsunya membawa pergi keturunan Namikaze itu.
"Tenanglah Fugaku. Sasuke pasti baik-baik saja." Onyx Mikoto menatap cemas suaminya yang sedari tadi mondar-mandir sambil menggumamkan kata-kata tidak jelas.
"Hn. Mereka sudah tidak ada di Dunia Langit." Gumam Madara merebut perhatian Fugaku dan juga istrinya.
"Ba – bagaimana ayah bisa mengatakan hal itu?"
"Keluarga Hyuuga tidak dapat 'melihat' mereka, Mikoto." Jelas, cukup –bahkan sangat- jelas. Hyuuga yang memiliki byakugan itu tidak dapat melihatnya. Itu berarti kedua pemuda berbeda warna kulit itu sudah tidak ada di Dunia Langit.
"Tou-san. Mikoto!" suara datar Fugaku mengalihkan perhatian kedua orang dihadapannya. Matanya menatap nyalang kea rah langit.
"Lagitnya…." Mikoto menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lagit malam tanpa bintang dihadapannya tidak lagi terlihat sama. Bukan karena mereka saat ini sedang melihat langit melalui jendela. Tapi…. Langit itu benar-benar berbeda.
Mereka bertiga pun bergegas keluar menuju halaman depan istana. Disana sudah ada Itachi dan juga Deidara yang sedang menggendong bayinya. Disamping kanan dan kiri mereka berdiri Shikamaru, Neji, Kiba dan Gaara dengan posisi siaga.
"Itachi!" Sang Raja mengalihkan pandangannya dari gerbang istana. Ditatapnya sang ayah yang berlari menuju tempatnya berdiri dengan tatapan yang tidak biasa.
"Apakah – "
"Tidak salah lagi. 'Mereka' datang."
Skak mat! Ucapan Madara mendatangkan raut cemas di wajah para Uchiha. Sedangkan wajah keempat pengawal terbaik itu menunjukkan keinginan untuk mengajukan berbagai pertanyaan.
"La – langitnya…" gagap Kiba saat langit malam tanpa bintang yang menunjukkan datangnya pagi di Night Kingdom tak lagi berwarna gelap.
Dari ufuk timur. Nampak semburat jingga menyilaukan yang makin lama makin jelas terlihat.
"I – ini. Itachi-sama! Apakah ini mungkin terjadi? 'Pagi' di Night Kingdom?" mata malas Shikamaru menatap tajam Rajanya. Ini pagi. Sungguh-sungguh pagi dengan matahari yang mulai bersinar. Bukan pagi yang ditandai dengan menghilangnya bintang yang ada di langit.
"Hn." Gumaman tanpa arti dari Sang Raja membuat Shikamaru cs makin bertambah bingung.
"Fugaku…" Mikoto merapatkan dirinya ke tubuh sang suami. Dipeluknya erat lengan kekar itu.
'Mereka benar-benar datang.'
Nampak dua sosok berbeda warna rambut tengah berjalan santai memasuki gerbang istana, diiringi matahari yang kian meninggi.
"Tenanglah.." Itachi memeluk erat pinggang 'istrinya'. Bagaimanapun juga, Itachi belum selesai menjelaskan kepada Deidara tentang semua rahasia keluarganya. Pemuda pirang itu pasti sangat 'takut'.
Langit malam itu mulai digantikan dengan warna biru cerah yang dihiasi bulatan besar menyilaukan berwarna kuning. Kedua sosok yang tengah berjalan mendekati keluarga Uchiha itu pun makin tampak jelas.
Seorang pria paruh baya dengan wajah super tampan namun tegas, memiliki sepasang iris azure yang sangat menawan. Rambutnya pirang jabrik agak panjang. Memakai jubah panjang berwarna putih dengan aksen lidah api di ujungnya.
Disampingnya berjalan seorang wanita berwajah keibuan dengan mata green ocean. Ramburnya panjang dan berwarna merah.
"Ahh.. Sudah lama aku tidak bertemu dengan 'sahabatku'. Benarkan, Kushina?" gumam si pria saat mereka berdua hanya berjarak 10 meter dari tempat para Uchiha dan pengawalnya. Tentu saja gumaman itu dapat didengar jelas oleh semua orang.
"Begitulah, Minato. Kurasa mereka sangat merindukan kita." Wanita itu tersenyum. Senyuman lembut namun menusuk. Langkah kedua makhluk yang 'membawa' serta matahari itu berhenti sekitar 3 meter di depan para Uchiha.
"Bagaimana kabarmu Uchiha?" tatapan tajam dari pria bermarga Namikaze itu ditujukan kepada seorang Uchiha berambut cepak yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pria berjuluk 'Yellow Flash' itu.
"Seperti yang kau lihat, Namikaze." Aura canggung sungguh terasa di antara mereka. Halaman depan istana yang biasanya terasa nyaman, kini terasa seperti terkena cipratan api neraka. Panas dan Membara…
"Kelihatannya aka nada pesta disini." The Yellow Flash mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu iblis dari pihak Uchiha. Genggaman di lengan kirinya terasa sedikit menguat. Mengerti dengan isyarat yang diberikan istrinya, ia pun memfokuskan pandangannya kepada Sang Raja sebelum Itachi.
"Katakan…" Minato menyeringai, " – Dimana Anakku!"
.
.
TBC
.
.
Maaf untuk keterlambatannya yah.. *bungkuk-bungkuk
Kemaren Kyuu nyari file ini. Abisnya Lenno-kun baru diinstal ulang…..
Tapi Kyuu udah post fic selingan kok. Judulnya Find The Treasure. Jangan lupa baca yang :D *promo. Ceritanya tentang Sasuke yang jadi kapten bajak laut. Pokoknya dijamin GEJe *buagh!
Sasu: Bego lu! Kalo lu ngomong gitu, mana ada yang baca
Untuk chap ini Kyuu ngrrasa alurnya agak kecepetan ya?
Hahaha maaf deh… maaf :3
Semoga chap ini memuaskan
Naru: apanya yang puas? Lu mau bikin gue mati kehabisan napas? Bego lu Peng!
Sasu: sabar Dobe… Sabar :3
Naru: Diem luh Tem! Bilang aja luh suka nyipok gue. Kurang asem luh. Dasar pantat ayam.
Kita tinggalkan saja pertengkaran dalam rumah tangga tersebut.
Umm.. Untuk anaknya Bang DeiDei sama Bang Itachi, Kyuu ambil namanya dari Seiyuu Uchiha Itachi (Hideo Ishikawa).
Untuk fisiknya. Tuh bayi chubby (tanpa keriput). Rambutnya pirang pucet, matanya item tajem, kulitnya putih merona. Cocok buat iklan Pon*s
Ita: Lu mau pake anak gue buat iklan hah? Kurang aj*r luh! (marah2 geje)
Dei: diem luh keriput! Lu bikin anak kita bangun…
.
Ok. Saatnya bales review aja =_=
.
Ashahi Kagari-kun : Iya tuh DeiDei… Ga punya perasaan!
Ita: sialan lu ngatain bini gue!
Dei: kan elu yang nyuruh gue! Gimana sih luh Peng?
Kyuu: Ashahi-san… Tolooong saya dikeroyok
Eheheh Makasih nih sarannya. Tapi Kyuu uda terlanjur bikin kaya gini..
Ahahah
anaknya Bang DeiDei sama Bang Itachi, Kyuu ambil namanya dari Seiyuu Uchiha Itachi (Hideo Ishikawa).
Untuk fisiknya. Tuh bayi chubby (tanpa keriput). Rambutnya pirang pucet, matanya item tajem, kulitnya putih merona. Cocok buat iklan Pon*s (copas tulisan di atas)
Maaf yah Kyuu telat update
Moga chap ini bias diterima dengan baik
.
Jasui Kaname: makasih Jasu
.
CCloveRuki: Yah… begitulah Naruto
Otaknya D*be sih :p
Nih bokapnya naru dan sasu udah ketemu.
Kita tanyakan mereka saja yuukkk…..
Maaf senpai atas keterlambatan apdet saya…
.
sasunaru4ever: Yap! Anda mendapat hadiah senyum gamteng dari Kyuu *bletakk
sasunaru-senpai: muntah
ituh si DeiDei juga bilang.. Kalo si xxx berbahaya :D
maaf yah senpai, Kyuu telat apdet
chap ini sampe sini aja. Chap depan akan lebih panjang :D
.
Taiyo Miichan no Yuki: ahh makasih Michi(-senpai) :p
Maaf yah telat apdet.
Semoga (senpai) suka :3
.
Hatakehanahungry: Iya deh…
Panggil Hana-senpai aja :D
Dei itu bisa dibilang siluman tanah liat (dies). Yah hampir sama kaya di manga Naruto lah..
Ituh anaknya Itachi muncul… Namanya Uchiha Hideo, fisiknya Tuh bayi chubby (tanpa keriput). Rambutnya pirang pucet, matanya item tajem, kulitnya putih merona. Cocok buat iklan Pon*s (copas lagi)
Maaf yah telat update :D
Jangan lupa baca 'Find The Treasure' juga ya *promo lagi
Kiyu kiyu kiyu
Kyuu(bi) : kapan gue muncul hahhh? (tiba2 nongol)
Kiyu: be-besok chapter depannya… *kaburrr
.
Meg chan: iya ini apdet… Maaf ya telat ^^
.
-vent: ohh itu. Maaf ya kalo kurang jelas
itu si Deidara kontraksi gitu ceritanya
kaya ibu-ibu hamil kalo kontraksi, kan biasanya kaya gitu kalo mau nglahirin (menurut Kyuu) emangsih ini terlalu lebay :D
tapi kan mereka iblis... Jadi gak apa-apa deh :3 (maksa)
Ini shika ketemu Naru
Kalo soal gimana masuk ke dimensinya.
Di imajinasi Kyuu sih, dimensinya bisa dibuka dimana aja.
Tapi biasanya dibuka di tempat yang sepi, biar ga ada yang ikut kesedot masuk
Sebenernya siapa aja bisa ngebuka dimensi ini, asal punya kekuatan yang cukup dan bias cara ngebukanya.
Kaya' jutsu-justu di anime Naruto. Asal punya chakra yang cukup dan tau tekhniknya, bisa dilakukan oleh siapa saja.
Disini kekuatan yang dibutuhkan cukup besar. Jadi ga sembarang iblis bisa ngebuka
Maaf untuk keterlambatan apdet ^^
.
nanao yumi: iya nanao-san.
Di chap ini terjawab kan pertanyaannya ^^
.
Namikaze Trisha: terjawab di chap ini ^^
.
Ryuumaki Naruneko: makasih senpai… ini udah apdet ^^
Maaf untuk keterlambatannya ya..
.
.
Akhirnya selesai balas review
Jangan lupa baca Find The Treasure and Uchiha's Secret ya ^^
Akhir kata
.
REVIEW please
