"Bagaimana kabarmu Uchiha?" tatapan tajam dari pria bermarga Namikaze itu ditujukan kepada seorang Uchiha berambut cepak yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pria berjuluk 'Yellow Flash' itu.

"Seperti yang kau lihat, Namikaze." Aura canggung sungguh terasa di antara mereka. Halaman depan istana yang biasanya terasa nyaman, kini terasa seperti terkena cipratan api neraka. Panas dan Membara…

"Kelihatannya aka nada pesta disini." The Yellow Flas mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu iblis dari pihak Uchiha. Genggaman di lengan kirinya terasa sedikit menguat. Mengerti dengan isyarat yang diberikan istrinya, ia pun memfokuskan pandangannya kepada Sang Raja sebelum Itachi.

"Katakan…" Minato menyeringai, " – Dimana Anakku!"

.

.

Title: Night Kingdom

Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story "Night Kingdom": KyuuRiu

Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing

Pair : SasuNaru

Rated: T plus

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, title n sub-title ga nyambung sama cerita (semoga enggak) dan silakan cari sendiri kekurangan yang lain *buaghhh

.

Chap 7: The Begining

.

.

Sinar matahari dari ufuk timur menembus jendela kaca sebuah kamar apartemen di Kota Konoha. Kedua sosok pemuda yang tengah bergelung dibalik sebuah selimut putih itu nampaknya tidak terusik dengan sapaan Sang Surya.

"Ngghhhhhh…." Si pirang nampaknya mulai terganggu dengan sapaan Sang Surya yang kian lama kian terik. Direnggangkannya tubuh tan berbalut kaos orange itu perlahan. Kelopak mata yang tadinya tertutup pun mulai menampakkan kilauan sapphire yang tak kalah cerah dengan langit pagi ini.

'Sasuke belum bangun. Sebaiknya aku mandi, lalu memasak sesuatu.'

Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, merapikan selimut ke tubuh pemuda yang sepanjang malam memeluknya erat.

-chuu-

Dikecupnya dahi Sang Pangeran, kemudian segera berjalan menuju dapur.

.

"Hmm… Masak apa ya?" tangan berkulit caramel itu membuka pintu kulkas dengan penuh semangat.

"Tomat.. Tomat…"

" – daaaan… Tomat?" Naruto mengeryitkan dahinya. Apa-apaan sih kekasihnya itu? Bagaimana bisa kulkas sebesar ini hanya diisi oleh tomat?

Naruto hampir berteriak frustasi. 'Hei! Aku kan juga bisa melakukan yang seperti ini.'

Bola mata sapphire itu berbinar saat otak 'jenius'nya mengingat bahwa dirinya juga seorang iblis yang memiliki kekuatan 'tak biasa'.

'Ayolah Naruto yang tampan… Menyembuhkan luka saja hanya dalam waktu beberapa menit. Pasti akan mudah mendatangkan makanan yang kau inginkan.'

Dengan semangat, Naruto memakai apron orange yang ada di laci meja dapur. Warna yang cukup serasi dengan kaos kuning pucat dan rambut pirangnya.

"Ramen… Ramen… Ramen. Aku mau ramen!" Naruto memejamkan matanya, kemudian menepukkan telapak tangannya tiga kali, seperti saat ia berdoa di kuil. Beberapa detik kemudian, dia mencoba membuka lemari kecil yang ada di atas kompor.

"Ramen instan… Aku dat – " ucapan Naruto terhenti. Yang didapatinya bukanlah ramen instan seperti yang ia harapkan, melainkan dodol tomat, kripik tomat dan beberapa makanan berbahan dasar tomat lainnya.

"Huh! Seberapa besar sih kecintaan si Teme itu pada tomat? Sampai-sampai kekuatanku tidak berguna. Padahal aku kan hanya ingin ramen instan.." pipi bertanda seperti kumis kucing itu mengembung sebal.

"Bukan begitu caranya Dobe." Jemari berkulit alabaster itu mencubit gemas pipi kekasihnya. Disandarkannya dagu ke pundak kiri Naruto, kemudian mengecup pelan lehernya.

"Temeee…" semburat merah menelan bulat-bulat pipi tan Naruto.

"Kuajarkan padamu." Sasuke menarik lengan Naruto hingga mereka berdiri di depan kulkas.

"Pikirkan apa yang kau inginkan." Bisik Sang Pangeran tepat di belakang telinga Naruto. Lengan kekarnya memeluk pinggang sang kekasih. Menyentuh perut pemuda berambut pirang, tepat di tanda lahir spiral dengan beberapa garis rumit di sekitarnya. Tanda bahwa Naruto adalah pewaris kekuatan rubah ekor Sembilan, Kyuubi.

"Konsentrasi Dobe.. Fokuskan pikiranmu…" perintah Sasuke saat menyadari kekasihnya masih saja menggerutu kesal.

"Kau akan merasakannya saat kau mendapatkan apa yang kau inginkan… Lakukan perlahan. Jangan terburu-buru." Telapak alabaster itu menuntun tangan tan Naruto ke arah pintu kulkas.

"Teme ?" Naruto menatap ragu kekasihnya. Apa ini akan berhasil?

"Kalau kau tidak melihatnya. Kau tidak akan pernah tahu."

Perlahan-lahan pemuda berambut jabrik itu membuka pintu kulkas.

1…

2…

3…

"Yatta!" teriak pewaris Namikaze girang. Matanya berbinar menatap isi kulkas saat ini.

"Dobe! Apa yang kau lakukan dengan tomat-tomatku?" mata onyx sang kekasih berkilat tajam saat mendapati bulatan bulatan orange segar menggantikan sebagian besar bulatan merah yang sebelumnya memenuhi kulkas.

"Ehehe… Aku suka jeruk Teme." Senyum lima jari ditunjukkan oleh pemuda berkulit tan itu.

"Hn. Terserah kau sajalah." Sasuke mengeratkan pelukannya. Bibirnya menyentuh lembut tengkuk sang kekasih. Membuat bulu kuduk Naruto merinding disko.

"Mandi sana! Kau bau!" Naruto melepas paksa lengan kekar Sasuke. Didorongnya pemuda berkulit alabaster itu hingga sampai di depan pintu kamar mandi.

"Teme ~~"

"Hn?" Sasuke menoleh ke arah Naruto yang sudah kembali ke posisinya semula. Bersiap memasak di dapur yang berjarak lima langkah dari pintu kamar mandi.

"Yakin bukan kau yang melakukan sihir tadi?" pemuda pirang itu tampak sedikit ragu. Yahh…. Bagaimanapun juga ia belum 100% yakin bahwa dirinya yang 'normal' – kecuali dalam hal hyperactive dan kemampuan menyembuhkan diri – adalah seorang iblis.

"Aku bukan iblis yang bisa membaca pikiranmu Dobe."

"Benarkah?"

"Hn."

"Lalu bagaimana bisa kau mengubah tomat-tomat itu menjadi buah kesukaanku?" mata sapphire itu berbinar.

"Kau sendiri yang melakukannya. Kan sudah kubilang, konsentrasi dan fokuskan pikiranmu. Saat kau sudah terbiasa nanti, melakukan sihir itu serasa seperti bernafas." Naruto ber-oh ria. Tangannya sibuk memilih tomat yang bagus untuk dimasak.

"Dobe." Naruto mengalihkan pandangannya dari kulkas ke arah sang kekasih yang super duper tampan (dipaksa Sasu ngetik ini). Tangan kanannya membawa tomat yang siap untuk dimasak.

"Kau .., " Sasuke bersiap menutup pintu kamar mandi. Menyisakan sedikit celah untuk melihat Dobenya yang –

" – Kau terlihat cantik dengan apron itu."

'BLAMM' pintu kamar mandi yang malang itu tertutup dari dalam. Disusul dengan beberapa buah tomat yang melayang hendak menghantam kepala Sang Uchiha Terpilih. Tetapi apa daya. Si penghuni kamar mandi sudah menutup pintunya rapat-rapat. Jadilah tomat-tomat malang itu terbuang sia-sia. Poor tomat…

"Dasar teme Jelek! Menyebalkan! Keluar kau! – " Sasuke terkikik mendengar omelan Naruto. Mau bagaimana lagi? Naruto yang memang dari orok sudah manis itu terlihat makin cantik saat memakai apron. Sungguh seperti istri idaman setiap lelaki. Jadi jangan salahkan Sasuke jika bibir manisnya mengeluarkan kata-kata gombal seperti tadi.

.

"Huhh.. Kau lama sekali Teme!" gerutu sosok berambut pirang saat Sasuke melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi.

"Hn. Kau masih marah Dobe?" Naruto tidak menjawab pertanyaan dari sang seme. Ia menyibukkan diri dengan menata beberapa hidangan di meja makan. Bibirnya mengerucut dan pipinya menggembung.

"Cepat habiskan makanmu Teme!" Naruto mengacuhkan pertanyaan Sasuke. Kali ini ia mendudukkan dirinya sambil mengambil semangkuk sup tomat, kemudian memakannya dengan tenang.

Seme idaman setiap uke itu mengeryitkan dahi. "Sup tomat? Mana ramenmu?"

Setahunya, pemuda blonde bermata sapphire itu tidak suka tomat. Naruto adalah seorang ramen freak sejati. Saat masih di Night Kingdom saja ia selalu meminta ramen sebagai hidangan utama – walau tidak selalu dikabulkan Sasuke sih.

"Karena terlalu sibuk membuatkan sup bodoh ini untukmu. Aku jadi tidak punya waktu untuk membuat ramen." Sasuke tersenyum. Walau suara Dobe-nya itu terdengar sedang kesal, ia tahu bahwa pemuda itu sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Terima kasih… Dobe-chan…" lengan alabaster itu memeluk mesra kekasihnya. Bibirnnya mengecup singkat pipi berhiaskan garis halus kumis kucing Naruto, kemudian segera mendudukkan diri di samping kekasihnya yang semakin bersemu merah.

"Itadakimasu!" seru Sasuke mantab. Ia terlihat sangat bersemangat untuk mencicipi hidangan yang disiapkan kekasihnya. Melihat hal itu, Naruto pun hanya terkikik pelan.

"Bagaimana?" Tanya Naruto cemas saat dilihatnya wajah Teme-nya menunjukkan ekspresi yang aneh setelah menyantap sesuap sup tomat buatan Naruto.

"Teme ~~ Katakan sesuatu…."

"Rasanya – "

"Ya?"

" –"

"…"

"Apa sih Teme?"

"Tidak – "

Raut kecewa tampak di wajah tan Naruto. 'Tidak enak ya?'

" – tidak akan ada yang bisa memasak seenak ini Dobe."

'blushhh'

Semburat merah itu lagi-lagi menelan bulat pipi tan Naruto.

.

.

"Tuan Orochimaru. Aku menemukan mereka." Bisik sesosok berkacamata bulat kepada sosok berambut panjang yang tengah duduk sambil memberi makan makhluk besar berwarna ungu.

"Bagus! Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan, Kabuto?"

"Mereka, Namikaze itu. Sudah sampai di istana. Kelihatannya akan ada perang besar."

"Khukhukhu…. Perang besar, eh?" mata kuning tajam itu berkilat.

"Benar sekali Tuan. Yellow Flash itu kelihatan sangat marah saat tahu anaknya tidak berada di sini."

"Awasi terus mereka. Kita akan segera menjalankan rencana." Seringai mengerikan terukir di bibir Orochimaru. Ia benar-benar ingin mengambil alih kekuasaan di Dunia Langit.

.

.

"Aku bosan 'Suke."

"Hn."

"Huh.. Apa hanya 'hn' yang bisa kau ucapkan?"

"Hn."

"Teme jelek!"

"Tapi kau suka kan?"

"Ti – tidaakkk."

"Wajahmu merah Dobe."

"Kau menyebalkan." Naruto menggembungkan pipinya, lengannya disilangkan di depan dada. Posisi yang menunjukkan bahwa ia sedang 'ngambek'.

"Hhh… Baiklah. Kau mau apa?" Sasuke yang tadinya tengah membaca pun menutup bukunya. Melepas kacamata full-freme yang dipakainya, kemudian menatap sapphire kekasihnya dalam-dalam.

"Ajari aku melakukan sihir. Ya ya ya…"

'Puppy Eyes no Jutsu..Kau sangat ahli melakukan itu Dobe.'

"Baiklah. Kau ingin sihir yang bagaimana?" jemari Sasuke menyingkap poni pirang kekasihnya. Pelan dan penuh kasih sayang…

Mata secerah langit siang itu berbinar. Ditatapnya sang kekasih penuh harap. "Tentu saja sihir yang hebat Teme. Agar nanti aku bisa melindungi diriku sendiri, sekaligus membantumu bertarung. Bagaimana?" tangan tan Naruto mengepal. Menunjukkan semangat masa muda yang membara.

"Baiklah.." helaan nafas berat terdengar dari bibir Sasuke. Ia harus mengajari kekasihnya – yang sejak lahir menganggap dirinya manusia dan tidak mengerti apapun soal sihir – tentang cara mengendalikan tenaga dalam dan juga sihir. Sepertinya ia harus meminjam kata favorit Shikamaru – merepotkan.

"Kita mulai dengan mengendalikan tenaga dalam." Sang Pangeran menaruh selembar daun di telapak kanan pewaris kekuatan rubah berekor Sembilan.

Naruto mengeryitkan dahi. "Untuk apa daun ini? Apa kita akan membuat lemper?"

'bletakkk'

"Itu bukan daun pisang. Usuratonkachi!" cacian penuh kasih itu keluar beriringan dengan jitakan mesra yang ditujukan ke kepala kuning sang Namikaze yang sejak lahir menggunakan marga ibunya – Uzumaki.

"Konsentrasi dan usahakan supaya daun itu hancur." gumam si pantat ayam santai, ia mendudukkan dirinya di sebelah si duren. Memakai kembali kacamatanya dan bersiap melanjutkan aktivitas membacanya yang tadi sempat terganggu.

"Huh!" memilih untuk mengurungkan pertanyaan, Naruto mulai berkonsentrasi dengan daun di telapak tangannya. Ia memejamkan mata dan mulai memfokuskan pikiran untuk 'menghancurkan' daun pemberian Sasuke.

'Tahan… Tahan Sasuke. Jangan lakukan hal bodoh!' Uchiha bungsu yang diam-diam melirik aksi uke-nya pun hanya merapalkan kalimat supaya dirinya dapat menahan diri dan tidak seenaknya menyerang sang uke yang tengah serius belajar.

Sudah hampir setengah jam berlalu. Naruto belum juga membuka kelopak matanya. Wajah serius dan posisi duduknya pun masih sama seperti yang tadi.

Bosan dengan keheningan yang tidak biasa, Sasuke memutuskan untuk mengecek keadaan uke tercintanya itu.

Posisi duduk masih sama – check

Wajah serius – check

Daun yang masih utuh – check

Nafas yang teratur – check!

'Tunggu! Nafas teratur? Bukannya dari tadi si Dobe menghirup nafas dalam, kemudian menghembuskannya pelan?'

"Dobe –"

'brughh'

Benar saja! Tubuh tan itu limbung hanya dengan sebuah sentuhan lembut dari Sasuke The Super Seme.

'Ck. Merepotkan." Sang Pangeran menggendong tubuh pulas belahan jiwanya menuju kamar mereka.

Perlahan diturunkannya tubuh tan Naruto diatas kasur, kemudian menyelimutinya hingga perut.

"Unghhh… 'Suke."

"Aku disini Dobe. Tidurlah…."

"Mmhhh…."

Sasuke mengusap pelan kepala kekasihnya. Naruto yang memang sudah manis itu terlihat makin err.. menggiurkan (?) saat tertidur pulas dengan wajah tenang seperti sekarang.

Pemuda berambut duren itu dengan santainya memeluk lengan kanan Sang Uchiha Terpilih, memaksanya ikut merebahkan diri di samping pemuda berkulit tan eksotis itu.

"Kau tahu Dobe – " jemari alabaster Sasuke menyisir helaian emas lembut Naruto.

" – aku adalah iblis yang lemah." Senyum tulus terukir di bibir pink pucat Sasuke.

"Tapi kau harus melihat sisi 'keren' ku. Karena aku tidak mau terlihat lemah di depanmu… Yah.. walau aku sudah gagal sih." Terkikik pelan, Sang Pangeran menelusur garis halus di pipi sang pewaris Kyuubi.

"Kalau aku harus melawanmu nanti…"

Sasuke menggelengkan kepalanya cepat-cepat. " – aku lebih memilih untuk memakan Devil Fruit, kemudian menceburkan diriku ke laut."

Pelukan di lengan Sasuke terlepas.. Lengan tan itu beralih ke pinggang kekasihnya.

"Kalau begitu. Aku juga akan memakan buah setan." Suara cempreng itu terdengar bersamaan dengan desakan mencurigakan di dada bidang Sasuke. Hal ini sukses membuat wajah putih susu Sasuke berubah menjadi putih merona, mirip dengan pipi keponakannya.

"Do – sejak kapan kau bangun?" pemuda bermarga Uchiha itu berusaha melepaskan dekapan kekasihnya.

"Aku tidak tidur Teme.." cengiran lima jari diberikan oleh Naruto untuk kekasihnya. Namun hal ini dianggap sebuah ejekan oleh sang penerima.

Hell yeah! Bayangkan saja! Kau adalah seorang pemuda tampan yang terkenal dingin dan arogan. Lalu suatu hari kau kepergok sedang curhat kepada kekasihmu yang sedang tertidur. Itu sungguh sangat-tidak-Uchiha-sekali. Dan Uchiha bungsu itu saat ini pasti benar-benar ingin memakan buah setan, kemudian menceburkan dirinya ke sumur terdekat – mengingat jarak pantai dari apartemennya cukup jauh.

"Wajahmu merah 'Suke."

"Hn." Pemuda Uchiha itu membuang mukanya, menghindari tatapan tajam-meremehkan sang kekasih.

"Hmm.. Kau tidak percaya padaku ya?"

Pertanyaan konyol itu sukses membuat Sasuke mengeryitkan dahi dan menatap bingung Naruto.

"Aku percaya padamu Teme. Makanya aku tidak malu menangis di depanmu." Senyum malaikat itu menghiasi wajah tan Naruto.

'Dia benar.. Aku – ' pemuda berambut pantat ayam itu balas memeluk pemuda pirang berkulit tan, "Aku percaya padamu Dobe."

Walau tidak sedang melihatnya, Naruto tahu bahwa saat ini Sasuke sedang tersenyum tulus.

.

.

"Hmm… Dunia ini menyenangkan juga." Terlihat seorang pemuda berambut raven cepak tengah berjalan bersama seorang pria bangkotan berperban.

"Bisakah kau mengganti bajumu dengan pakaian yang lebih layak, Sai? Kau membuatku malu." Danzou menggerutu kesal. Saat ini anaknya masih saja memakai pakaian ber-udel terbuka dengan lengan baju yang tidak sama panjang.

"Aku suka baju ini ayah.. Bukankah aku terlihat seksi?" senyum tanpa hati itu seakan terukir abadi di bibir jont – emphh (Sai: Lu mau ngomong apa?) maksudku bibir 'eksotis' pemuda berkulit sepucat mayat itu.

Danzou bersweatrop ria. Bagaimana bisa Jashin-sama membiarkannya memiliki anak autis seperti ini? Apakah di kehidupan masa lalunya, Danzou melakukan sebuah dosa yang tidak dapat dimaafkan? (P/N: sekarang juga lu masih jadi orang ga bener =_=)

"Gedung ini?" Sai berhenti di depan sebuah gedung tinggi berlantai sepuluh. Ditatapnya sang ayah penuh harap. Sebentar lagi ia dan sang ayah akan menjalankan rencananya. Dan setelah semuanya beres, ia akan memiliki pemuda idamannya itu. Membayangkannya saja sudah membuat Sai bermimpi basah. (Gimana mau gak basah kalau tiap tidur, si Udel bodong selalu ngigau dan teriak-teriak geje. Alhasil.. sang ayah membangunkannya dengan cara menyiram tubuh pucat Sai dengan air es)

"Ya. Gedung ini… Aku bisa merasakan aura Pangeran Ayam itu." Gumam Danzou yakin.

"Aura Naruto?"

Danzou menggeleng pelan. Aura iblis pemuda bermarga asli Namikaze itu memang tidak menentu, kadang terasa kadang tidak. Sungguh mirip seperti sinyal modem yang naik turun *plakkk

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang ayah? Aku sudah kangen padanya. Sungguh-sungguh merindunya…" lagi-lagi Danzou mendengus. Ia mengutuk siapapun yang membuat 'anaknya' autis begitu, menjadi seseorang yang sangat tampan *bletakk

"Kita akan tinggal disini." Pria bangkotan yang seperti setengah mumi itu memimpin perjalanan memasuki apartemen sepuluh lantai itu. Sang anak yang merasa sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya pun berjalan riang sambil tersenyum dan bernyanyi 'lima menit lagi… ah.. ah… ahhh… aku akan bertemu dengan pacarku…'. Hal ini sukses membuat sang ayah ingin menyumpal mulut Sai dengan sandal yang baru saja dia curi di masjid sebelah.

"Bagaimana kalu disini?" seenak bibir jontornya, Sai memasuki kamar bernomorkan 5 di lantai dua. Di samping pintu apartemen itu bertengger manis sebuah papan nama bertuliskan 'Haruno'.

Dengan sihir dan senyuman mautnya, ia pun menjadikan lima manusia yang tengah berada di ruangan itu sebagai pembantunya. Salah satu dari mereka adalah pemilik apartemen ini. Ia adalah seorang gadis berambut pink norak dengan jidat yang kelewat lebar – Haruno Sakura. Keempat lainnya adalah teman dari sang gadis. Pemuda maniak hijau berambut super bob – Rock Lee, pemuda bertubuh subur bermata sipit – Akimichi Chouji, gadis berambut pirang pucat – Yamanaka Ino, dan seorang gadis chinnese bercepol dua – Tenten.

Bagaimana Sai tahu nama-nama mereka? Tentu saja karena ia baru saja membaca nama di masing-masing buku yang berada di depan mereka *buaghh (Sai: lu jangan ngomongin itu! Gue jadi keliatan bego.)

"Untuk sementara, kita 'menjadi' manusia biasa." Mengerti dengan ucapan sang ayah, Sai pun memejamkan matanya sejenak, menyembunyukan hawa iblis yang ia miliki.

"Nah kalian.. Siapkan air hangat untukku. Dan kau, " onyx pemuda itu melirik kearah gadis berambut pink, " – belikan aku makanan."

Tanpa diperintah dua kali, mereka pun langsung melaksanakan perintah 'tuan'nya.

"Sisakan satu untukku Sai. Aku ingin ada yang memijit punggungku." Danzou merebahkan tubuhnya di sofa. Ia benar-benar ingin beristirahat sejenak. Bagainamapun juga, membuka 'portal' ke dunia manusia membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.

"Kau makhluk hijau!" merasa dipanggul. Lee pun menolehkan kepalanya.

"Pijit tubuhku." Pemuda beralis super tebal itu pun langsung mendekati pria tua berperban yang memanggilnya.

"Yosh! Aku akan memijit dengan penuh semangat masa muda!"

"Arghh! Pelan-pelan bodoh!"

"Hentikan! Kau mau membunuh ayahku? Heh monster hijau!"

"Huoo… Punggungku! Oghh siaall!"

"Semangat masa mudaaaa… Yeaaahhh!"

"Berhenti bodoh!"

.

.

"Ngghhh …" tubuh berbalut kaos kuning pucat itu mengeliat tidak nyaman saat dirasakannya kecupan-kecupan lembut di wajahnya.

"Ummbhh… Anjing nakal! Jangan jilati aku seperti itu."

'twichh'

Empat sudut siku-siku sukses nongol di jidat mulus tanpa jerawat pemuda yang sedari tadi melakukan aksi pengecupan.

"Ewmmphh….. Mmhhhhh…"

Sebal karena kekasihnya tak kunjung bangun – juga karena sang kekasih menganggapnya makhluk berkaki empat berkelakuan jorok *grebkk (pengetik digigit Kiba), Sasuke memutuskan untuk mencium bibir mungil pemuda manis bernama Naruto itu.

"Unghh…." Cengkraman kuat dirasakan Sasuke saat dengan nistanya ia memperdalam ciumannya. Wajar kan kalau Naruto yang sedang nyenyak tertidur merasa kaget dan kehabisan nafas saat dengan tiba-tiba sebuah benda asing menyumpal mulutnya?

"Hent.. mmhh ghhh!" Naruto membuka matanya lebar saat lidah Sang Pangeran mulai menari di dalam mulutnya. Tangan pangeran yang jahil menelusuri tanda lahir Naruto, sukses membuat si empunya perut mengeliat geli.

"Sa – engghhhh Teme… emmphh… " erang Naruto di sela ciuman Sasuke yang makin lama makin menggila (lebay)

Kaki Naruto mulai bergerak. Merasakan adanya bahaya, pemilik onyx itu menghentikan ciumannya dan segera melompat menjauhi si pirang.

Aksi penyelamatan diri Sang Pangeran sukses dilakukan. Kalau saja ia tidak segera melompat, pasti 'masa depan' kebanggaannya sudah menjadi korban kebrutalan kaki Naruto.

"Dasar mesum! Pantat ayam sial! Apa yang kau lakukan hah?" pemilik sapphire itu mencak-mencak bak gadis yang sedang PMS. Poor Naru...

"Hn. Siapa suruh mengataiku anjing?" punggung tangan putih susu itu mengusap sudut bibirnya yang tengah menyunggingkan seringaian mesum. Inget puasa Sas….

"Siapa suruh mengganggu tidurku?" lengan caramel itu bersedekap, pipinya mengembung, bibirnya sedikit dimajukan. Pose ngambek ala Naruto.

"Kau mau tidur sampai jam berapa Dobe?" Sasuke menyodorkan sebuah jam weker, angka di jam itu menunjukkan pukul empat tiga puluh sore. Wow… cukup lama juga Naruto tertidur.

"Cepat mandi! Kita akan jalan-jalan." Naruto menangkap sebuah handuk yang dilemparkan kekasihnya. Matanya berbinar mendengar kata 'jalan-jalan'.

"Trims 'Suke.. Kau memang paling mengerti aku.."

-chuu-

"Hn." Naruto melompat girang. Dikecupnya pipi pujaan hatinya dan langsung melesat ke kamar mandi. Aksi mesra Naruto kali ini mendapat balasan 'hn' dari sang kekasih dengan bonus senyum menawan yang terukir di bibir.

"Tentu aku tahu Dobe. Kau mengigau banyak hal saat tidur." Gumam Sasuke sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia baru selesai mandi.

.

"Kita mau kemana Teme?" Naruto telah siap dengan pakaiannya sendiri. Ya, ia 'menyiapkan' pakaiannya sendiri.

"Sasu-Temeee~~" mata sapphire itu memicing heran. Apa sih yang dilakukan kekasihnya itu? Diam saja sambil menatap layar televisi? Mengacuhkan panggilan dari Naruto?

"Baiklah… sesekali tidak apa-apa kan melalukan hal seperti ini?" Naruto bertanya kepada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk memberi kejutan kepada sang seme.

Ia berjalan perlahan hingga akhirnya sampai di belakang sofa tempat Sasuke duduk.

"Sasuke…"

-chuu-

Naruto memeluk manja si pemilik onyx dari belakang. Diciumnya beberapa kali pipi kenyal kekasihnya itu. Walaupun tidak sekenyal dan se-chubby pipi Naruto, ternyata lucu juga melihat pipi Sasuke dicium sedemikian rupa. (readers: sedemikian rupa bagaimana? Ga keliatan!)

Sedikit tersentak. Sasuke menolehkan wajahnya menatap Naruto.

"Kau kenapa sih?" Tanya Naruto heran.

"Hn. Memikirkan akan pergi kemana. Kau sudah siap?" Sasuke mengalihkan pembicaraan. Ia berdiri, kemudian menatap kekasihnya yang menggunakan kemeja putih dibalut cardigan hitam beraksen garis merah tajam di beberapa bagian. Ia juga menggunakan celana jeans hitam plus sepatu sneaker merah-hitam.

"Hmm… Lumayan." komentar Sasuke sambil manggut-manggut. Kekasihnya ini cukup modis juga ternyata.

Sasuke sendiri mengenakan kaos dongker plus jaket hitam dan celana hitam. Untuk sepatunya, ia memilih memakai sepatu sneaker warna putih polos. Ahh.. mereka sungguh serasi dengan warna dominan hitam yang mereka pilih.

"Pergi sekarang?"

"Hn."

"Asyik…" dengan penuh semangat masa muda, Naruto menarik lengan kekasihnya itu.

'Untung Dobe tidak menyadarinya. Ada yang aneh di tempat ini.. Mungkin aku harus mengajaknya pindah besok pagi.'

'Perasaanku saja atau memang hawa disini semakin panas? Ahh mungkin perasaanku saja…'

"Kau mau kemana Dobe?" Sasuke mengeryitkan dahi saat Naruto menyeretnya memasuki sebuah tempat bertuliskan 'Ichiraku'.

"Makan ramen Teme… Aku lapar."

"Selamat datang…" sapa seorang om-om bertubuh gempal saat Naruto memasuki kedai ramen itu.

"Seperti biasa ya, paman Takeuchi!" pemilik kedai ramen itu mengeryitkan dahi.

"Maaf, apa kau pernah datang ke sihi?"

Naruto menatap Teme-nya bingung. Apa Sasuke yang melakukan ini? Seingatnya, dulu ia sering sekali datang ke tempat ini.

"Bukan aku. Mungkin orang tuamu. Demi menjaga kerahasiaan identitas mereka." Jawaban tak yakin dari Sasuke ternyata cukup dapat dimengerti oleh Naruto. Ia pun kembali menatap ramah si pemilik kedai.

"Baiklah Paman… Aku mau miso ramen porsi jumbo dengan ekstra daging dan narutomaki." Ucap Naruto penuh semangat.

"Baiklah. Kalau kau ingin memesan apa?"

"Miso ramen yang biasa saja. Juga segelas jus tomat dan jus jeruk untuk dia." Sasuke melirik Naruto sekilas. Merasa mendapat perhatian dari sang kekasih, Naruto pun menunjukkan cengiran khasnya.

Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Mereka pun menghabiskan makan malam dengan tenang, lupakan soal Naruto yang melahap ramennya dengan brutal sambil bercerita, juga Sasuke yang beberapa kali menegur dan ber-hn ria.

Selesai menghabiskan ramennya, mereka berjalan-jalan menyusuri kota Konoha yang – ternyata – tetap ramai walau sudah larut malam. Dan hei.. Tebak apa yang terjadi? Naruto tidak mau pulang. Sasuke sampai harus membelikan sebuah boneka Kyuubi dan beberapa benda perbentuk rubah lainnya sebagai sogokan agar Naruto mau pulang.

"Terima kasih Teme… Hari ini sangat menyenangkan." Ucap Naruto riang sambil membawa beberapa kantong belanjaan di kedua tangannta. Saat ini mereka sudah sampai di gedung apartemen.

"Sakura-chan?" Naruto meatap heran seseorang yang berjalan kaku melewatinya. Sasuke pun mengikuti arah pandang kekasihnya itu.

"Hoi… Sakura-chaaaannn!" Naruto menghampiri gadis bermata emerald itu, ditariknya ramah lengan sang gadis, menyebabkan beberapa belanjaannya jatuh.

"Maaf. Aku. Tidak. Mengenalmu." Jawab gadis itu kelewat datar. Ditepisnya tangan Naruto kemudian memungut belanjaannya yang terjatuh dan memasuki gedung apartemen.

"Siapa Dobe?" Tanya Sasuke yang sudah berada di belakang Naruto.

"Teman SMA. Aku baru ingat kalau dia tinggal di gedung ini juga. Dan seepertinya dia melupakanku."

"Hn. Ulah orang tuamu juga mungkin. Sama seperti paman tadi." Ujar Sasuke santai.

"Kau benar. Tapi… dia aneh Teme…"

Sasuke menghentikan langkahnya, memang tingkah dan cara bicara gadis itu sangat aneh.

"Kalau Sakura-chan yang kukenal, pasti dia akan langsung mengamuk kalau ada orang asing yang memegangnya…."

.

.

"Dulu kau tidak mengizinkanku masuk ke sini. Sekarang kau malah membuka pintunya lebar-lebar." Seorang pria berambut pirang menyamankan dirinya duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan dengan banyak buku di dalamnya.

"Semua sudah berubah Minato. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Dan kalian…" pria bermata onyx itu menatap menantunya, juga empat orang pengawal kepercayannya, " – harus mendengarkan ini juga."

Beberapa waktu yang lalu Fugaku dan ayahnya, Madara memutuskan untunk mengalihfungsikan perpustakaan keluarga yang hanya bisa dimasuki oleh keturunan Uchiha itu menjadi ruang 'rapat' rahasia. Hal ini tentu saja dapat dilakukan dengan mudah oleh Madara – orang yang sejak awal 'menulis peraturan' tentang ruangan ini.

"Apa Naruto baik-baik saja?" suara keibuan itu mengintrupsi kegiatan kedua kepala keluarga yang saling melempar kata-kata canggung.

"Dia – " kalimat Mikoto menggantung. Ditatapnya ragu sang suami. Ia binging harus bagaimana. Bagaimanapun juga, Uzumaki Kushina, ibu dari Uzumaki Naruto sekaligus istri dari Namikaze Minato adalah seorang 'manusia'.

"Sasuke membawanya pergi." Gumam Madara mengalihkan dunia semua yang ada di ruangan itu.

"Tou-san…"

"Kami belum tahu kemana Sasuke membawanya." Madara mengabaikan suara protes anaknya. Ia tahu, iblis Namikaze di depannya bisa saja mengamuk setelah mendengar kata-katanya. Tapi bagaimanapun juga, ia harus memberitahukan keadaan yang sebenarnya.

"Minato…" wanita berambut merah itu menggenggam erat lengan suaminya.

"Dia memiliki kekuatan Kyuubi. Dia akan baik-baik saja." Kalimat menenangkan itu coba diucapkan Minato. Walau tak bisa dipungkiri, matanya masih menatap tajam sang 'sahabat' yang bisa-bisanya membiarkan pewaris Mangekyou Sharingan itu membawa kabur anak semata wayangnya.

"Lagipula ada Sasuke bersamanya. Ia tidak akan membiarkan Naruto terluka." Mikoto mencoba ikut menenangkan Kushina. Ia tidak mau kalau sampai Kushina yang 'lemah' itu terlalu khawatir.

"Kau benar. Sasuke-kun pasti sudah terjerat dengan pesona uke Naruto, dia tidak akan membiarkan uke semanis Naruto terluka. Benar begitu kan, Minato?" perkataan manusia yang telah berubah menjadi iblis ini sukses membuat iblis tulen lainnya bersweatdrops ria. Dengan gerakan patah-patah dan bibir yang nyengir canggung, Minato menganggukkan kepalanya. Meskipun sudah tak lagi menjadi manusia, istrinya itu tetap saja berjiwa fujoshi.

"Ano… Aku mendapat informasi dimana Naruto berada." Semua mata tertuju ke arah pemuda berkanji 'ai' di jidat yang sedari tadi berkonsentrasi dengan pasirnya.

"Dimana Gaara? Mereka baik-baik saja kan?"

"Maaf Mikoto-sama. Aku tidak tahu soal itu.. Tapi – "

"Ada yang tidak beres?" Deidara yang sedari tadi diam, mulai menyuarakan isi hatinya. Tak dapat dipungkiri, ia benar-benar bingung dengan keadaan ini. Mulai dari mengkhawatirkan keadaan Sasuke dan kekasihnya, sampai memikirkan siapa sebenarnya iblis Namikaze di depannya ini.

Gaara memejamkan matanya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba berterbangan pasir-pasir yang lumayan banyak, masuk ke dalam gentong kesayangan Gaara.

"Menurut cermin ajaib Kabuto, Mereka pergi ke Dunia Manusia."

"Apa? Kami baru saja meninggalkan tempat itu." Minato sedikit sebal dengan kenyataan itu. Niat hati ingin mencari anaknya yang disinyalir berada di Dunia Langit, tapi ternyata sang anak dibawa kabur ke Dunia Manusia. Poor you Yellow Flash…

"Apa lagi yang kau dapat dari mereka?" Itachi melirik salah satu pengawal kepercayaannya itu. Bagaimanapun juga Kabuto sudah mengetahui tempat SasuNaru berada. Ini bukan keadaan yang bisa dibilang baik. Harry Potter wanna be itu pasti sedang merencanakan sesuatu.

"Maaf Itachi-sama. Aku hampir saja ketahuan. Tapi.." mata emerald Gaara menunjukkan sedikit kekhawatiran, " – mereka membicarakan sesuatu tentang menjalankan rencana. Sayangnya aku tidak tahu apa itu."

"Ehm… Sebelumnya… Apa tidak sebaiknya kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini? Keadaan seperti ini sangat merepotkan." suara malas Shikamaru bercampur dengan sedikit nada protes. Bagaimanapun, keadaan ini masih membuat dirinya bingung.

"Hn. Makhluk kuning didepanmu ini … " Fugaku memejamkan matanya. Cukup kerepotan dengan acara 'memilih-kata-yang-tepat' yang baru saja ia lakukan.

" – adalah Raja Dunia Langit." Lanjut Madara lancang. Benar. Ia harus menceritakan hal ini kepada keempat pengawal yang kini menunjukkan tatapan heran itu. Mereka harus tahu yang sebenarnya.

.

.

TBC

.

.

Ahh selesai juga chap ini… Semoga ga mengecewakan ^^

Makasih yah semua buat dukungannya…

Buat tsukihime akari yang ngreview lewat fic Hadiah untuk Sasuke, ini Night Kingdom udah apdet :D

Readers jangan lupa baca Hadiah untuk Sasuke juga ya :)

Dijamin abal dang a bermutu :3

Kita langsung jawab review aja yah.. keburu ngantuk nih :p

Maaf chara yang main ga bisa bantu jawab review.. Sttt - - mereka lagi bobok soalnya

.

Ace Sam Luffy: makasih.. ini Kyuu apdet chap lupa baca ya :D

.

ttixz lone cone bebe: sa – saya kaget… ternyata ada bom review dari bebe-san :3

kirain udah ga minat baca gara gara fic Kyuu terlalu abal :D

makasih ya dukungannya. Pertanyaannya udah terjawab kan ^^

P/N: tadi Kyuu kira mau bilang "I Love You Kyuu yang ganteng" ehh ternyata si Hideo yang dapet pernyataan cinta *bletakk =_=

btw makasih infonya bebe-san :D

.

Ashahi Kagari-kun: nihh chap belum ada perang.. Tapi chap selanjutnya.. dan selanjutnya... Kyuu ga jamin loh… Nyahahaha *ketawa setan ala Hiruma

Ehmmm mereka pisah gak ya.. Kalo dilihat dari pernyataan Sasuke tentang buah setan. Kayaknya bakal pisah gak ya *evil smirk

.

-vent: angst ga ya? Kyuu sendiri ga suka fict angst…

Kalo soal tokoh cewek.. emang iya. Ahahah

Kyuu ga sepinter author yang bisa membagi adegan sama rata buat para pemainnya sih. Kyuu kan pengetik abal *buaghhh

Disini temen Naru yang lain muncul kan? Kalo buat Temari, dia kan mbakya Gaara, iblis juga. Hinata, dia kan Hyuuga. Besok pasti dapet jatah kok. Tungguin ya

Ehmm… kan ga ada manusia sempurna.. jadi Sasu ganteng tapi mesum :D

.

Namikaze Trisha: ehmm.. mereka emang pernah punya masalah. Tapi hubungan Kushina sana Mikoto cukup baik kok..

Nih udah ada kan kegiatan mereka. Semoga memuaskan :D

,

Sasunaru4ever: kaga apa apa dong panggil senpai. Kan sasunaru-senpai lebi tua dari Kyuu *bletakkk

Sasunaru-senpai: kurang ajar lu ngatain gue. Gak bakal gue mau baca fic lu lagi

Kyuu: jangan dong… maaf deh senpai *bungkuk2

.

Meg chan: iya ini dah apdet ^^

.

Hatakehanahungry: yess akhirnya Kyuu menang..

Nyahahaha (ga nyambung)

Nih Kyuu udah muncul *bletakk (dijitak hana-senpai)

Hana-senpai: bukan elu. Tapi Kyuubi =_=

Eheheh.. bukan sekarang pastinya. Dilihat dari ceritanya, pasti bentar lagi muncul :D

Minato emang sensi gitu sama Fugaku… Maklumlah dulu kan…. - eitsss buat chap depan :D

.

nanao yumi: yupp ini makin membingungkan :D

selamat berbingung ria :D

but surely, semua pertanyaan pasti akan terjawab kok..

.

Yosh! akhirnya selesai :D

Makasih buat semua reviewnya. Kalo ada yang ketinggalan… Makhlum ya.. Kyuu baru pulang rapat and langsung bales review nih :D

.

Yoshhh! Kyuu and all chara yang lagi pada tidur mau ngucapin

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

Maaf yah telat

.

Akhir kata..

REVIEW please