"Ehm… Sebelumnya… Apa tidak sebaiknya kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini? Keadaan seperti ini sangat merepotkan." suara malas Shikamaru bercampur dengan sedikit nada protes. Bagaimanapun, keadaan ini masih membuat dirinya bingung.

"Hn. Makhluk kuning di depanmu ini … " Fugaku memejamkan matanya. Cukup kerepotan dengan acara 'memilih-kata-yang-tepat' yang baru saja ia lakukan.

" – adalah Raja Dunia Langit." Lanjut Madara lancang. Benar. Ia harus menceritakan hal ini kepada keempat pengawal yang kini menunjukkan tatapan heran itu. Mereka harus tahu yang sebenarnya.

Title: Night Kingdom

Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story "Night Kingdom": KyuuRiu

Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing

Pair : SasuNaru

FugaMina (just like an usual rival -?- )

Pujaan hati x Sai (lebay dehh)

.

Rated: T

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, alur ngebut, maju-mundur seenak hati, pergantian tempat seenak jidat

.

Chap 8: Dunia Langit

.

.

Terlihat dua pemuda berbeda aura tengah berdiri berhadapan. Seorang diantaranya menunjukkan wajah masam, tangannya mengepal erat menahan amarah. Seorang lagi mencoba bersikap tenang, mata birunya menunjukkan tekad yang sangat kuat.

"Katakan kalau semua itu hanya lelucon bodohmu." gumam pemuda yang sedari tadi mengepalkan tangannya. Onyx-nya kini menatap tajam bola mata azure milik sahabatnya.

"Ini bukan tanggal satu april Fugaku. Kau tahu itu." Wajah yang biasanya ceria itu sedikit meredup. Ia telah membuat keputusan. Tekadnya untuk 'menyelamatkan' istrinya yang tengah mengandung itu tidak dapat diganggu-gugat.

"Kenapa harus pergi? Bukankah tempat ini aman?" masih tidak terima dengan keputusan sahabatnya yang ingin meninggalkan Dunia Langit, Fugaku terus saja berusaha mematahkan argument sang Namikaze.

"Tidak jika ada Orochimaru dan para anteknya. Kau tahu kan Kushina awalnya adalah manusia?" Fugaku menjawab pertanyaan rival sekaligus sahabat baiknya itu dengan ber-hn ria.

"Kekuatannya tidak sama seperti kita. Dia memang memiliki keabadian, tapi bukan berarti dia memiliki kekuatan khusus. Itu sebabnya –"

"Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Orochimaru. Katakana saja kalau kau ingin menghindar dari tanggung jawab yang kau pegang." Fugaku muda mendengus. Ia masih belum bisa menerima keputusan Minato yang ingin meninggalkan Dunia Langit dengan alasan Kushina tengah mengandung. Bukankah hamil dan melahirkan biasa terjadi di Dunia Langit?

"Seminggu yang lalu Mikoto baru saja melahirkan anak kedua kami.. Dan kau sekarang ingin merusak kebahagiaanku? Memberikan masalah yang tidak jelas ini kepadaku?" Minato terdiam, tidak biasanya penguasa malam di depannya ini banyak bicara.

"Kau pikir siapa yang akan mengendalikan benda bulat panas itu saat kau pergi nanti?"

"Kau tenang saja Fuga-kun.. Aku akan membawa pergi benda itu. Hanya akan ada malam disini, dan kau harus mengendalikannya dengan bai –"

'bugghhh!'

"Kau pikir dengan siapa kau bicara, hah?" mata onyx itu berubah merah. Dicengkeramnya kerah baju sang Namikaze.

"Kau ini sangat menyebalkan!"

'brughhh! Dashhh!'

Didorongnya tubuh Namikaze itu hingga menabrak tembok, kemudian dengan kekuatan yang cukup besar, kepalan tangan pemuda bermarga Uchiha itu melayang dan dengan suksesnya menghantam pipi kanan Minato. Sama sekali tidak ada perlawanan. Pemilik iris azure itu bahkan tidak 'mengaktifkan' self defense yang ia miliki, tidak pula menggunakan kecepatannya yang sangat luar biasa itu untuk menghindar. Bukankah dia Yellow Flash? Iblis paling cepat yang pernah ada?

"Kau menyedihkan Minato.." Fugaku membanting tubuh rivalnya itu tanpa peri ke-iblis-an sedikitpun. Dasar Uchiha!

"Ya. Lalu kenapa?" tubuh berkulit kuning langsat itu bangkit. Dia tertawa miris. Bahkan ia tidak berminat menghapus jejak darah di sudut bibirnya, eh?

"Sayangnya gadis yang kucintai bukanlah iblis kuat seperti gadismu itu. Dan kau tahu apa lagi yang Kami-sama berikan padaku?" Minato tertawa garing. Persis seperti orang yang sedang frustasi.

Fugaku mengeryitkan dahi. Apa sih yang sebenarnya dipikirkan pemuda kuning di depannya ini? Dia mengatakan sesuatu yang tidak nyambung dengan topik awal pembicaraan ini. Haruskah ia memanggil rivalnya itu 'dobe'? tidak… tidak boleh. Itu panggilan anaknya untuk sang kekasih di masa depan. Ok lupakan!

"Kyuubi."

'dhegg –'

'Dia bilang apa?'

"Bayi yang ada dalam kandungan Kushina adalah pewaris kekuatan rubah berekor Sembilan. Hahaha…" tawa garing itu seakan memekakkan gendang telinga Fugaku.

Sekarang Fugaku mengerti benar alasan Minato ingin meninggalkan Dunia Langit secepat mungkin.

Fakta pertama: Kushina adalah manusia yang berubah menjadi iblis – setelah berciuman dengan Minato tentunya, masih ingat dengan perkataan Sasuke tempo hari kan? - . itu berarti ia adalah iblis yang hanya memiliki keabadian. Tidak memiliki kekuatan spesifik seperti iblis tulen pada umumnya.

Fakta kedua: Semua bayi yang lahir dari pasangan iblis tulen + iblis yang sebelumnya adalah seorang manusia akan lahir dengan membawa sebagian besar sifat manusianya. Sifat manusia ini perlahan akan menghilang seiring bertambahnya usia si anak dan akan benar-benar menghilang saat ia berumur sekitar 17 tahun.

Fakta ketiga: Orochimaru yang menurut pengintaian FugaMina sangat menantikan lahirnya pewaris Kyuubi itu pasti akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.

Otak jenius Uchiha di kepala Sang Raja Penguasa Malam itu mulai meganalisis apa yang akan terjadi.

Kemungkinan yang paling besar adalah Orochimaru akan langsung 'mengambil' kekuatan Kyuubi saat Minato junior belum benar-benar menjadi iblis – saat usianya belum mencapai 17 tahun. Dan dengan keadaan Kushina yang 'lemah' (tidak memiliki kekuatan spesifik), pasti akan sangat sulit untuk melindungi kedua orang itu dalam waktu yang bersamaan.

Mereka tentu tidak bisa memakaikan sihir kepada Kushina. Masih ingat kan kalau memakaikan sihir kepada manusia – terutama untuk mengobati – akan menimbulkan efek samping yang tidak baik? Walaupun Kushina bukan lagi manusia, self defense yang ia miliki belum tentu cukup untuk mengatasi 'efek samping' itu.

"Minato." Fugaku berjalan mendekati Sang Raja Penguasa Siang yang tengah terduduk sambil mengacak rambutnya frustasi.

"Kami-sama benar-benar membenciku." Gumam bibir Minato lirih, "Apa di kehidupan masa laluku, aku adalah seorang musuh dalam selimut yang ingin mengadakan kudeta, menentang pemerintahan di negaranya demi menyejahterakan klannya?"

Fugaku terdiam, entah mengapa sisi lain dirinya merasa sedikit tersinggung. Hei! Kenapa ia harus merasa begitu? Dasar aneh…

"Kau mengerti kan sekarang?" azure itu terlihat sedikit basah saat menatap onyx Fugaku.

Orochimaru adalah iblis dengan kekuatan kegelapan. Ia mempunyai beberapa kemampuan terlarang. Menurut informasi yang Minato dapatkan, Orochimaru telah berhasil mendapatkan kekuatan yang ia inginkan. Ia tinggal menyempurnakan kekuatan itu dengan cara 'memakan' Kyuubi. Saat Orochimaru berhasil mendapatkan Kyuubi. Maka tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.

"Bagiku, tidak apa jika aku melepas jabatan ini. Kupikir kau akan baik-baik saja jika kutinggal." Senyum di bibir Sang Yellow Flash terlihat sedikit aneh di mata Fugaku. Apa benar tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Kushina, bayi yang dikandungnya dan Dunia Langit sekaligus?

"Jika hanya ada malam disini, ular itu tidak akan terlalu ganas. Yah.. Setidaknya 'cahaya' yang dia miliki tidak akan berkembang dan akan memberikan sedikit beban."

"Hn." Fugaku mengangguk. Otak sahabatnya ini benar-benar encer. Orochimaru tidak akan mampu berkutik. Apalagi sekarang sudah lahir pewaris Mangekyou Sharingan – putra kedua Fugaku – di tengah-tengah mereka. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan. Setidaknya focus si Bakoro akan sedikit teralih dari 'berburu Kyuubi' menjadi 'mengawasi perkembangan Uchiha'.

Mereka berdua terdiam. Mengingat sejarah terciptanya Dunia Langit. Kedua penguasa ini tidak akan membiarkan seorangpun merusak kedamaian yang sudah susah payah mereka dan para pendahulunya ciptakan.

Ini adalah Dunia Langit. Dunia dimana siang dan malam saling melengkapi satu sama lain.

Uchiha dan Namikaze. Uchiha menguasai kekuatan malam, sedangkan Namikaze memegang siang. Tidak ada aksi saling menjatuhkan. Mereka bersama-sama membangun Dunia Langit. Dunia dimana para iblis dapat hidup aman tanpa takut terjadi perebutan wilayah dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.

Tiga ratus tahun yang lalu, iblis masih tinggal di dunia manusia. Mereka dianggap 'pengganggu' dan perusak oleh makhluk-makhluk yang mengaku paling sempurna itu.

Manusia memang begitu. Tidak dapat menerima perbedaan. Mereka bahkan kadang 'memburu' iblis, menyegelnya, membakar, bahkan 'membunuhnya' secara sadis. Iblis memang makhluk abadi. Tapi keabadian yang mereka miliki bukan berarti membuat mereka tidak bisa mati.

Iblis yang terlalu lama disegel akan kehabisan tenaga dan lenyap (mati). Mereka juga bisa mati karena adanya upacara khusus yang dilakukan untuk melenyapkan mereka.

Karena tidak mau mencari masalah dan terus-terusan hidup dalam dunia yang tidak aman. Uchiha Madara – iblis dengan kekuatan kegelapan – dan Namikaze Tsunade – Iblis dengan kekuatan cahaya – memutuskan untuk menciptakan 'dunia baru'. Mereka berdua pun menggabungkan kekuatannya untuk menciptakan Dunia Langit.

Dengan proses yang cukup lama, serta kekuatan yang tidak bisa dibilang sedikit, mereka berhasil membuat dunia melayang yang hanya bisa dimasuki dengan cara membuka portal khusus. Portal ini hanya bisa dibuka oleh iblis dengan kekuatan yang cukup besar, membuat Dunia Langit mendapat predikat tempat teraman di seluruh jagad raya (lohh?)

Adanya dua pemimpin yang saling berkomitmen menjaga kedamaian di Dunia Langit juga membuat tempat ini menjadi tempat paling ideal yang pernah ada.

Namun ini semua tidak berlangsung lama. 288 tahun kemudian, mulai terasa pergerakan-pergerakan dari pihak tertentu. Dalam hal ini, Orochimaru dan para pengikutnya. Awalnya Madara dan Tsunade – kedua pemimpin di Dunia Langit – hanya menganggap Orochimaru dan pengikutnya adalah pemberontak biasa.

Kalian ingin tahu hal yang membuat Madara menyadari betapa bahayanya Orochimaru? Pecinta ular itu 'memakan' kekuatan Tsunade hingga tak bersisa. Mereka lengah. Dan mereka harus membayarnya dengan nyawa Tsunade. Minato yang masih sangat muda pun terpaksa menggantikan posisi ibunya sebagai 'Pemegang Matahari'.

"Kita harus menyelamatkan Kyuubi."

"Akhirnya kau sependapat denganku, eh?" Minato menyeringai jahil. Tangannya sesekali menyikut pelan perut Fugaku yang kini duduk di sebelahnya.

"Apa keuntungan kita jika tidak ada kau disini?" onyx itu menerawang jauh, menatap jutaan bintang di langit malam Dunia Langit.

"Tidak akan ada matahari disini."

"Ck. Aku tahu…"

"Fuga.."

"Hn?"

"Ular nista itu juga memiliki kekuatan sepertiku ya?" Minato menyandarkan kepalanya di pundak sang sahabat.

Fugaku terdiam. Memang benar, Orochimaru bukan hanya memiliki kekuatan kegelapan, tetapi juga cahaya – setelah mengambil kekuatan Tsunade tentunya.

"Kau merencanakan untuk membuat kedua kekuatan yang ia miliki itu tidak seimbang ya?" lengan alabaster itu menelusup ke belakang kepala Minato, membuat posisi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. *bletakkk

"Ya. Kekuatan kegelapannya akan 'berkembang' karena dunia ini selalu malam, kemudian cahaya yang ia miliki akan semakin melemah karena tidak ada matahari. Bagaimana? Aku jenius kan?" Minato sedikit mendongakkan kepalanya, menatap onyx tajam sang rival. Merasa diperhatikan, Fugaku pun melirik azure Minato.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti ini. Namun pemandangan indah di mata para fujoshi ini pun berakhir saat kedua pemuda tampan itu memutuskan untuk memalingkan kepalanya ke arah yang berlawanan.

'A – aku sudah memiliki istri yang sangat kucintai. Tidak… aku tidak mungkin menyukai pemuda ini. Iblis hanya bisa mencintai satu kali. Dan aku sudah memiliki orang yang sangat kucintai. Pasti ini hanya salah paham…' batin mereka hampir bersamaan.

"Apa Orochiwati akan mati jika kita menjalankan rencana ini?" Tanya Minato berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.

"Kurasa tidak. Ini akan menjadi kondisi yang sangat merugikan sekaligus menguntungkan."

"Begitu?" Minato menyamankan posisinya. Bagaimanapun juga.. Malam ini mungkin adalah malam terakhir ia bertemu dengan teman seperjuangannya itu.

"Merugikan karena kekuatan kegelapannya semakin besar. Menguntungkan karena ketidak-seimbangan kekuatan di dalam tubuh Orochimaru akan membuatnya sedikit sulit mengendalikan diri dan juga cepat merasa lelah. Tapi kalau sampai dia mendapatkan Kyuubi…"

" – Dia tidak akan membutuhkan bulan untuk kekuatan kegelapannya, juga tidak membutuhkan matahari untuk mengembangkan kekuatan cahaya. Kekuatannya akan benar-benar sempurna."

Mereka terdiam lagi. Ahh… Para Uchiha memang hobi menghemat kata. Dan para Namikaze selalu menerima begitu saja keputusan para Uchiha untuk diam.

"Minato."

"Hmm?"

"Kemana kau akan pergi?"

"Dunia Manusia…" bisik Minato. Ia berusaha bangkit dan membenahi posisi duduknya. Namun lengan kekar Fugaku seakan tidak rela. Pundak Sang Yellow Flash serasa dicengkeram dan ditarik ke arah Fugaku.

'Ap – apa?'

"Biarkan seperti ini sebentar. Aku pasti akan sangat merindukan ocehanmu itu." Onyx itu terpejam. Kedua lengannya mengunci erat pemuda berkulit langsat di dalam pelukannya.

"Sampaikan salamku untuk semuanya. Juga untuk si kecil… umm siapa?"

"Sasuke."

"Ahh nama yang bagus. Sampaikan salamku padanya juga." Ragu, Minato membalas pelukan sang sahabat.

"Hn."

"Besok pagi. Semuanya sudah akan berubah. Tidak ada lagi yang akan mengingatku."

"Sayangnya sihir itu tidak akan bekerja padaku." Fugaku mendengus. Kenapa semua penghuni Dunia Langit – yang sebentar lagi akan 'berganti nama' menjadi Night Kingdom – harus melupakan Minato sih? Huh! Makhluk kuning ini pasti hanya ingin menimbulkan kesan dramatis.

"Bisakah kau melepaskanku? Aku harus pergi sekarang…" Minato mencoba melepaskan pelukan Sang 'Pemegang Bulan'. Tapi gagal! Sepertinya si Uchiha itu benar-benar bernafsu kepada Minato. Woyy Bang Fuga! Inget istri noh dirumah =_=

"Tidak." Singkat, padat dan sangat jelas.

"Ck. Kalau Kushina melihat ini, virus fujoshi-nya akan kambuh!" suara Minato naik 5 oktaf.

Dengan sangat terpaksa, Fugaku pun melepaskan pelukannya. Padahal ia masih ingin merasakan kehangatan tubuh sang rival, menghirup aroma lemon dari rambutnya.. Ahhh hubungan mereka berdua benar-benar aneh.

"Minato…"

"Ya?" Minato yang sudah mulai melangkah pergi itu pun membalikkan badannya. Menatap onyx menawan milik Fugaku.

"Kapan kau akan kembali?"

"Saat putraku nanti sudah cukup kuat…" Minato tersenyum tulus.

"Aku pasti kembali."

" Taapi kau jangaan naakaaall.., Akuuu paasti kembaaalliiiiiii…."

.

.

End of Flashback

"Jadi begitu?" Kiba menatap makhluk kuning yang ternyata adalah seorang Raja.

Neji pun memberi isyarat kepada ketiga temannya. Kemudian mereka bertiga berdiri di depan Minato dan member hormat. "Maaf kami telah bersikap tidak sopan."

"Lupakan saja. Yang penting sekarang, aku ingin anakku dan juga Sasuke selamat." Gumam Minato santai.

"Itachi? Bagaimana?" Fugaku menatap sulungnya yang tengah mengusap lembut kepala sang cucu.

"Kita akan menghancurkan Orochimaru sekarang juga."

"Ap –"

"Aku butuh bantuan dari para Hyuuga, Sabaku, Nara dan juga Inuzuka."

"Ha'i! Itachi-sama."

"Aku juga meminta bantuan kalian untuk memberitahukan keadaan ini kepada klan Aburame. Kita akan sangat membutuhkan mereka. Jangan lupakan Konan, Kisame, Zetsu dan para anggota Akatsuki yang lain."

Fugaku terdiam melihat rekasi sulungnya yang begitu cepat mengambil keputusan. Itachi benar. Keadaan seperti ini harus segera diberitahukan kepada semuanya, mereka juga harus bersiap dengan keadaan terburuk yang akan terjadi – berperang dengan Orochimaru dan para pengikutnya.

.

.

"T – Teme.. Apa kita tidak salah dengar?" seorang pemuda berkulit tan tampak gemetar disamping pemuda lainnya yang tengah mengepalkan tangannya erat.

"Aku telah melakukan hal bodoh. Kita pulang Dobe. Sebelum mereka menyadarinya." Mata onyx itu berubah merah, tiga koma yang mengelilingi pupilnya berputar.

"Kendalikan dirimu 'Suke… Mereka akan menyadari pergerakan kita." Naruto menepuk bahu sang kekasih. Ia dan kekasihnya baru saja mengetahui fakta yang sangat mengejutkan. Keputusan mereka – lebih tepatnya Sasuke – untuk pergi dari Night Kingdom ternyata membahayakan semua orang

"Aku tidak menyangka kedua orang itu akan datang…"

"Aku juga –".

"Kita akan kembali ke Night Kingdom. Tapi kita tidak bisa membuka portal di sini. Mereka akan langsung menyadarinya." Sasuke berdiri. Dijentikkannya jari dan menghilanglah semacam layar yang sedari tadi dilihatnya bersama Naruto.

"Kurasa taman yang kita kunjungi tadi itu cukup jauh dari jangkauan mereka. Setidaknya mereka akan membutuhkan waktu untuk menemukan kita." Gumam Naruto yang entah mengapa otaknya berubah encer.

"Kita pergi ke sana. Kita akan berjalan seperti biasa, kemudian mencuri sepeda motor itu dan langsung pergi ke taman." Sasuke menunjuk sebuah sepeda motor hitam dari jendela apartemennya. Naruto mengangguk tanda setuju. Mereka pun bersiap untuk pergi.

.

.

Beberapa waktu yang lalu

"Nee Teme. Aku ingin tahu kenapa Sakura-chan bersikap seperti itu." Naruto merebahkan tubuhnya di sofa. Di sebelah kirinya ada pemuda berambut pantat ayam yang sedang sibuk memilih mengunyah tomat.

"Terserah kau saja." Gumam Sasuke setelah sukses menelan tomatnya.

"Baiklah. Aku akan mengunjunginya." Naruto berdiri dan hendak berjalan menuju pintu, namun jemari alabaster mencekal lengannya dan memaksanya kembali ke posisinya semula.

"Apa sih Teme?"

Naruto duduk dan menggembungkan pipinya.

"Kau tidak merasakannya?" Tanya Sasuke.

"Apa?"

"Kekuatan aneh…"

Naruto menghentikan aksi ngambeknya dan menatap serius sang kekasih. "Kupikir hanya perasaanku."

"Hn."

"Apanya yang 'hn'?"

" ini benar-benar dobe! Mungkin saja hal ini ada hubungannya dengan tingkah aneh temanmu yang berjidat lebar itu!" Dengusan sebal terdengar jelas.

"Baiklah… Kita gunakan peralatan mata-mata saja." Sapphire Naruto berbinar. Kali ini ia optimis dapat memunculkan barang yang ia inginkan.

Dengan penuh percaya diri. Ia pun menyentuhkan jarinya ke sebuah action figure yang berbentuk pemuda berkulit tan dengan rambut hitam ditutup topi jerami. Ia memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan.

"Nah, sekarang kau kutugaskan untuk menyusup ke kamar nomor 5. Ingat. Jangan sampai ketahuan ya…." Action figure itu pun mengangguk dan segera pergi.

"Hn?"

"Belum selesai Teme… Masih ada ini." Naruto memunculkan sebuah layar mencurigakan yang menampilkan lorong gedung ini. Tunggu! Layar itu menunjukkan pintu, dan masuk ke dalam pintu tersebut… Apa sih?

"Semua yang dilihat oleh mata boneka tadi, dapat kita lihat melalui layar ini. Kita juga bisa mendengar suara yang tertangkap oleh telinga si boneka. Bagaimana? Ini peralatan detektif yang keren kan?" Naruto menunjukkan cengiran lima jarinya.

Sasuke tersenyum tulus, kemudian mengacak rambut kekasihnya, "Hn. Kau pintar Dobe."

"Sebenarnya apa yang orang itu inginkan dari bocah kuning itu ayah?" suara familiar itu memancing kedua pasang permata beda warna itu untuk menatap layar yang kini diletakkan di meja.

"Sai?" pekik Naruto.

"Untuk apa dia datang kemari…" gumam Sasuke tanpa sadar.

"Tentu saja dia ingin mengambil kekuatan Kyuubi."

'dheggg'

Suara pria tua bangkotan itu membuat Sang Pangeran melirik cemas kekasihnya yang terlihat syok. Siapa yang menginginkan kekuatan Kyuubi dalam dirinya?

"Lalu setelahnya?"

"Tentu saja membunuh anak itu. Bahkan tidak masalah jika anak itu mati sebelum tuan Orochimaru mengambil Kyuubi."

"Maksud ayah? Tuan Orochimaru masih bisa mengambil Kyuubi walau anak itu sudah mati?"

"Tentu… Bukankah itu hebat?"

"Tuan Orochimaru memang banyak maunya. Hahaha." Balas Sai garing. Bibirnya masih saja terlihat menyunggingkan senyum palsu.

"Akan kuceritakan padamu tentang sesuatu… Ini akan membuatmu semakin ingin mendapatkan pemuda itu."

Perkataan Danzou itu mengawali sebuah kisah yang didengarkan dengan saksama oleh putranya, juga oleh kedua pemuda lainnya. Kisah yang sama seperti yang diceritakan Madara di depan seluruh Uchiha – kecuali Sasuke – dan keempat pengawal kepercayaannya, serta menantu dan pasangan Namikaze-Uzumaki….

Kisah yang membuat Sang Pangeran menyadari bahwa dirinya telah mengambil keputusan yang salah.

.

.

Kembali ke 'saat ini'

Di Taman Konoha

"Ingat Dobe. Apapun yang terjadi nanti, kau akan tetap berada di sampingku. Ok?" entah mengapa, Sasuke mengatakan hal aneh seperti itu. Naruto hanya menanggapinya dengan anggukan lemah.

"Dan jangan lupakan bahwa kau adalah seorang iblis yang memiliki kekuatan." Lagi-lagi anggukan itu ditunjukkan.

Sayap hitam Sang Uchiha Terpilih mulai terlihat. Dia pun memeluk erat pinggang Sang Pewaris Kyuubi sambil memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, muncullah lubang hitam mencurigakan yang terlihat menyeramkan.

"Kau siap?"

Naruto mengangguk.

"Pegangan yang kuat!"

Lengan tan itu mengeratkan pelukannya. Sang pangeran pun meluncur memasuki portal menuju Night Kingdom.

Perjalanan yang tidak meninggalkan kesan apapun, karena yang sedari tadi dilewati adalah tempat dengan warna gelap yang tidak terlalu jelas.

'CRASHHHH!'

"Sial!" Sasuke menambah kecepatannya. Saat ini di belakang mereka terlihat sebuah burung besar yang ditunggangi oleh dua orang laki-laki, Danzou dan Sai. Dan mereka baru saja menyerang Sasuke dengan anak panah berwarna - pink?

Sasuke mengeryitkan dahinya memandang anak panah yang hampir mengenai punggungnya. Anak panah mencurigakan yang ujung mata panahnya meneteskan cairan pekat berwarna hijau. Racun kah?

'Ahh! Bukan!'

"Jangan-jangan…"

"Kalian pikir bisa lolos dari kami? Dasar pangeran stupid!" teriak Danzou sok pake bahasa Inggris.

'Bruaggghh!'

Suara nista ini menandakan mereka telah keluar dari portal. Tapi karena adanya gangguan, mereka mendarat bukan di dalam istana. Melainkan di dekat gerbang istana.

"Cih! Sial. Belum sampai di dalam!"

"Kena kalian!" suara rebut ini seakan memancing beberapa iblis yang berada di sekitar TKP datang mendekat.

"Dobe. Kau baik-baik saja kan? Dobe!" Sasuke mengguncang tubuh kekasihnya yang terlihat menahan sakit.

"Okaeri… Pangeran." Senyum yang berbeda ditunjukkan Sai kepada Sasuke. Senyum yang terlihat seakan ingin melahap Sasuke.

Kisame yang kebetulan berada disana dan melihat keadaan yang tidak baik ini pun langsung melaporkannya kepada Sang Raja.

"Teme…" Naruto membuka sedikit matanya, "Kakiku terkilir…"

"Semua baik-baik saja Dobe. Ada aku." Sasuke menggendong Naruto ala bridal style. Ia masih memasang posisi siaga.

"Katakan! Apa yang kalian inginkan." Bentak Sasuke dengan nada yang kelewat datar (?) Matanya mulai memerah. Bukan karena iritasi, melainkan karena ia tengah mengaktifkan Sharingan.

"Berikan bocah itu kepada kami, lalu kami akan melepasmu. Bagaimana?"

"Cih. Dalam mimpimu. Bangkotan tua!"

"Ayah.. Kau memberikan penawaran yang salah." Senyum nista itu kembari terikur di bibir Sai.

"Bagaimana kalau begini saja?" tanpa diduga Sai telah berada di belakang Sasuke. Dia langsung menarik tubuh Naruto.

"Aaaghhhhh! Lepaskan bodoh!" Naruto berteriak keras.

'Apa? Mana yang salah? Kenapa Dobe sampai berteriak seperti itu?'

Sasuke mengedarkan pandangannya mencari apa yang salah. Dobenya berteriak kesakitan, padahal Sai tidak terlalu kuat menarik tubuhnya.

"Jangan-jangan…"

"Teme.. Ughh! Tolong…." Darah segar mengalir dari pinggang Naruto, tepat di tempat tangan Sai berada.

"Sial! Apa yang kau lakukan hah? Lepaskan Dobeku!" bentak Sasuke kasar. Ia mencoba menyerang Sai. Tapi gagal. Konsentrasinya sudah terpecah.

Sebagian besar pikirannya dikuasai oleh Naruto yang kesakitan dan mengeluarkan banyak darah. Tidak! Naruto tidak boleh terluka!

"Kau!" mata Sharingan Sasuke terlihat berbeda. Tiga koma itu berputar semakin cepat dan mulai menyatu di tengah. Tubuhnya pun mulai mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat.

"Sasuke!" teriakan sang ayah yang baru saja tiba pun diabaikan.

Mikoto memeluk erat lengan Fugaku. Hatinya tidak tega melihat apa yang terjadi di hadapannya. Anaknya tengah menggenggam erat tangan kekasihnya yang terlihat kesakitan. Pinggang sang calon menantu terlihat mengeluarkan darah yang cukup banyak.

Keadaan Sasuke yang tengah dikuasai emosi membangkitkan kekuatan Mangekyou Sharingan yang ada dalam dirinya. Hal ini menambah buruk keadaan Naruto. Aura kegelapan dari tubuh Sasuke memperparah luka di pinggang Naruto.

Sementara Sai yang melihat hal itu hanya tersenyum senang. Dieratkannya cengkraman di pinggang pemuda berkulit tan itu.

"Ghaaahhhh! HENTIKAN!"

Teriakan sang kekasih seakan menyadarkan Sasuke. Aura kegelapan seakan berhenti menguar dari tubuhnya. Namun mata Mangekyou Sharingannya masih aktif dan menatap nyalang pemuda yang pernah menyatakan cinta padanya.

"Sayang sekali. Panah cintaku tadi meleset… Seandainya berhasil mengenaimu, pasti tidak akan jadi seperti ini."

'Bruaaghh!'

Sai memukul tengkuk Naruto hingga ia pingsan. Tanpa diduga, dia menyentak kasar tubuh Naruto hingga terlepas dari Sasuke, kemudian memanggulnya seakan Naruto adalah sekarung beras yang siap dijual.

"Kenapa Pangeran? Kau tidak menyangka kalau aku akan melakukan ini ya?" Danzou mendekati anaknya yang masih saja tersenyum. Mengalahkan Uchiha terkuat itu memang sangat mudah bila menggunakan si pirang sebagai umpan – sekaligus target –. Emosi Sasuke yang masih labil serta analisisnya yang – lagi-lagi – kurang tepat membuat mereka berada dalam situasi yang sangat berbahaya.

"Kembalikan putraku!" Minato berlari ke arah kedua makhluk sialan yang telah melukai putra kesayangannya itu. Di tangan kanannya terlihat pusaran angin yang berputar tajam dan siap menghancurkan apa saja yang ada di depannya.

"Hentikan! Mereka akan membunuh Naruto!" teriak Sang Pangeran mencoba menghentikan aksi calon ayah mertuanya.

"Mati kau Danzou!" Minato mengabaikan peringatan Sasuke.

"Aaghhh!"

"Sasuke!"

"Pangeran!"

Teriakan Sang Pangeran serta pekikan Mikoto dan beberapa 'penonton' menandai adanya salah satu dari mereka yang terluka.

Ya.

Sasuke terluka. Dengan nekatnya ia menggunakan tubuhnya untuk menghentikan jurus Minato.

"Apa yang kau lakukan? Bodoh!"

"Maaf 'ayah'. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku juga yang akan bertanggung jawab. Aku akan menyelamatkan Naruto." Ucap Sasuke sambil memegang dadanya.

"Biarkan. Aku. Yang. Menyelamatkannya." Sasuke mulai bangkit. Bola matanya yang sempat menghitam kembali menunjukkan Mangekyou Sharingan.

Mata tajam itu berhasil 'membekukan' semua orang. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat menghentikan Sasuke. Beginikah kekuatan Mangekyou Sharingan itu?

"Aku ingin kalian mengembalikan Naruto dalam keadaan hidup!"

"Tentu saja Pangeran…" Sai tersenyum. Ia menyerahkan Naruto kepada Danzou. Kemudian berjalan mendekati Sasuke.

"Kami tidak akan membunuh anak ini… Asalkan –" sai menarik dagu Sasuke, kemudian meniadakan jarak diantara mereka berdua.

Semua mata terbelalak melihat aksi tak terduga yang dilakukan sepupu jauh Uchiha ini. Dia – mencium Sasuke?

Pangeran diam mematung. Tidak melawan, tidak juga membalas. Ia tahu apa yang akan dikatakan Sai selanjutnya. Sasuke membiarkan Sai melakukan apa yang ia inginkan.

" – kau menikah denganku." Senyum aneh itu terukir kembali. Bisikan di tengah ciuman sepihak itu jelas terdengar oleh semua orang.

Kini Fugaku, Minato dan yang lainnya dapat mengerti jalan pikiran Orochimaru dan para anteknya. Dengan begini, mereka akan mendapatkan Kyuubi, sekaligus memegang kekuasaan di Night Kingdom – jika Sasuke menyetujui permintaan Sai.

Kekuatan Orochimaru akan sempurna, kemudian Namikaze tidak lagi memiliki pewaris kekuatan rubah berekor Sembilan, dan dengan masuknya Sai dalam keluarga Uchiha akan menghancurkan keluarga Uchiha, baik cepat ataupun lambat. Dunia Langit akan segera menjadi 'milik' Orochimaru.

Bagi Sai, ini adalah hal yang menyenangkan karena ia memang menyukai Sasuke sejak awal.

Sebuah rencana yang sangat sempurna.

Bagaimana ini?

Apa yang akan dilakukan Sasuke?

Menyetujui penawaran Sai dengan taruhan kehancuran Night Kingdom secara penuh,

Atau menolak permintaan Sai dengan bayaran nyawa Naruto, namun masih ada harapan untuk menyelamatkan Dunia Langit dari kehancuran total?

.

.

TBC

.

.

Ahh selesai juga…

Ini chap yang paling berat yang pernah Kyuu buat. Beneran deh. Ini dirombak berkali-kali

Tapi tetep aja jadinya gini =_=

Sempet ketawa juga liat namanya Tsunade :p

Disini Kyuu coba menyajikan sejarah Dunia Langit yang ada di pikiran Kyuu. Susah banget milih kalimatnya…

Sasuke: bilang aja lu bego! Brings*k juga lu pake nyuruh si jontor nyium gue! Mau lu apa hah?

Kyuu: ampun Sas.. Emang harus gini

Sai: gue kan suka Naru-chan! Kenapa gue nyium si ayam?

Kyuu: disini lu suka Sasuke! Titik

Sasuke: pokoknya bayaran gue nambah! Gue butuh banyak duit buat nraktir ramen si Dobe biar ga ngambek! Liat tuh Dobe nganbek! *nunjuk2 toilet umum

Kyuu: I – iya deh Sas… *ga berkutik

Ehmm.. Kyuu juga nyoba nampilin hubungan aneh antara FugaMina. Mereka udah pada punya istri, tapi yah… kaya tadi itu. (para lansia itu udah pada tidur, jadi ga ada yang protes :D)

Kyuu juga nyoba nampilin bahwa Sasuke tuh ga selamanya jenius

Sasu: kampr*t lu Peng! Gue keliatan goblok banget =_=

Sasuke bukan nglakuin hal konyol dan nista yang bikin ngakak, tapi nglakuin hal yang membahayakan jiwa semua iblis…

Pokoknya Gara-gara Naruto terluka, pikiran Sasuke langsung buyar. Sifatnya yang overprotective membuat si ayam satu ini Cuma mikirin Naruto. Ga peduli sama yang lain.

Hahaha semoga tersampaikan.

Kyuubi chap depan muncul!

Ehmmm…

Jangan lupa baca "If I were The Rain" yah… and jangan lupa kasih saran juga.

Kyuu suka fic itu soalnya *bletakkk

.

Ok kita bales review!

.

Kuroi Akuma: trims pujiannya

Maaf ya Kuma-san. Di chap ini berat banget sih…

Hahaha. Ga apa-apa kan Kuma-san?

Kuroi Akuma-san: gue AKUMA! Bukan beruang!

Ahh maaf maaf jadi inget chap 1 saya… maaf *bungkuk-bungkuk

Pertanyaannya udah terjawab kan :D

.

ttixz lone cone bebe: huaaa… ternyata bebe-san tidak meninggalkan Kyuu *nangis geje

ini ada scene FugaMina. Aneh sih… Hahaha Kyuu coba menyampaikan hubungan mereka yang aneh sih :p

Makasih ya be-san udah menemani Kyuu selama ini.. *plakk

Bebe-san: ngomongin apa lih?

.

Ace Sam Luffy: iya tuh mereka geje banget (loh?)

Ni Kyuu bales kan

Makasih untuk dukungannya yahh

Chap kemaren tegang banget..

Yang sekarang aneh banget.. iya gak sih? o_O'a

.

-vent: iya senpai..

kan kalo manusia ciuman sama iblis bisa jadi iblis juga :D

aduh.. gimana ya ini hasil pertarungannya?

Ahaha sasuke ga bisa konsen sih.. kalah duluan dia =_=

Padahal belum beneran battle

Payah ahh sasu!

Sasuke: lu ngomong apa, hah?

Kyuu: enggak kok Sas.. eheheh *merinding dangdut

.

tsukihime akari: iya nih…

gimana ya.. tiap nulis nama Sai, bawaannya pengen jadiin dia pelawak sih "p

eheheh…

gimana aksi Sai di chap ini?

Suka gak?

Sai: suka lah.. gue kan keren

.

fujiwara eimi: umm secara teori sih iya.

Tapi tergantung siapa yang jadi lawannya juga sih.

Kaya di chap ini, sasuke jadi keliatan lemaaahhh banget *buaghh (ditonjok Sasu)

.

sasunaru4ever: ok deh tim tam..

eh tam tam ^^

tamtam: lagi lagi lu seenak jidat! Berani lu sama gue?

Kyuu: go – gomennn *bungkuk2

Trims yah dukungannya :D

.

Meg chan: ummm bukan gitu sih..

Tapi di chap ini udah dijelasin kan ^^

Sasunaru vs danzousai ada di chap ini :D

Sebenarnya ini pra-battle mereka

Besok yang akan datang, mereka akan beneran battle :3

.

Ashahi Kagari-kun: aduhhh gimana ya..

Chap ini pasti bakal bikin Kaga-san ngamuk sama Kyuu *ngumpet di kolong meja

Sasu: yo! Mari saya bantu menghajar pengetik abal ini

Naru: jangan lah Teme.. Kasian kan dia.. Tar wajah gantengnya bisa ancur

Sasu: i- iya deh Dobe.. *nurut, takut Naru ngambek lagi

.

Hatakehanahungry: ini diceritain fugamina :D

Aduh senpai satu-satu dong… sekarang fugamina, nezt chap baru Kyuubi. Ok ok ok *maksa

Kalo mikoto sih normal normal aja kayanya… belum keliatan nih :p

Wow curhat sama Kiyu bayarpake review lohhh *buaghhh

Ps: adegan yang mana? Yang kemaren kan di apartemen sumua…

Yang mana senpai? Yang mana….? *jadi penasaran sendiri

.

.Yoshh! Akhirnya selesai juga balesnya :D *pegel

Terima kasih untuk dukungannya ya…

Kyuu seneng banget ada yang sudi baca fic abal Kyuu ini *terharu

Jangan lupa baca "If I were The Rain" yah… and jangan lupa kasih saran juga.

Kyuu suka fic itu soalnya *bletakkk

.

Akhir kata..

REVIEW please