"Kami tidak akan membunuh anak ini… Asalkan –" Sai menarik dagu Sasuke, kemudian meniadakan jarak diantara mereka berdua.
Semua mata terbelalak melihat aksi tak terduga yang dilakukan sepupu jauh Uchiha ini. Dia – mencium Sasuke?
Pangeran diam mematung. Tidak melawan, tidak juga membalas. Ia tahu apa yang akan dikatakan Sai selanjutnya. Sasuke membiarkan Sai melakukan apa yang ia inginkan.
" – kau menikah denganku." Senyum aneh itu terukir kembali. Bisikan di tengah ciuman sepihak itu jelas terdengar oleh semua orang.
Kini Fugaku, Minato dan yang lainnya dapat mengerti jalan pikiran Orochimaru dan para anteknya. Dengan begini, mereka akan mendapatkan Kyuubi, sekaligus memegang kekuasaan di Night Kingdom – jika Sasuke menyetujui permintaan Sai.
Kekuatan Orochimaru akan sempurna, kemudian Namikaze tidak lagi memiliki pewaris kekuatan rubah berekor Sembilan, dan dengan masuknya Sai dalam keluarga Uchiha akan menghancurkan keluarga Uchiha, baik cepat ataupun lambat. Dunia Langit akan segera menjadi 'milik' Orochimaru.
Bagi Sai, ini adalah hal yang menyenangkan karena ia memang menyukai Sasuke sejak awal.
Sebuah rencana yang sangat sempurna.
Bagaimana ini?
Apa yang akan dilakukan Sasuke?
Menyetujui penawaran Sai dengan taruhan kehancuran Night Kingdom secara penuh,
Atau menolak permintaan Sai dengan bayaran nyawa Naruto, namun masih ada harapan untuk menyelamatkan Dunia Langit dari kehancuran total?
.
.
Night Kingdom
Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story "Night Kingdom": KyuuRiu
Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing
Pair : SasuNaru
ItaDei
SasuSai
.
Rated: T
Warning: abal, geje, membingungkan, typo, mis-typo, banyak percakapan, alur kilat, ga banget :"
.
Chap 9: Sasuke's Decision
(a Big Plan)
.
.
"Apa yang akan kau lakukan?" terlihat seorang pria raven berkuncir tengah berdiri tegak sambil menatap tajam pemuda yang terlihat 5 tahun lebih muda darinya. Mata yang tadinya serupa onyx itu berubah merah, penuh amarah. Bisa-bisanya sang adik 'membekukan' gerakan Itachi cs hanya untuk membiarkan Sai dan Danzou pergi membawa Naruto.
"Hn." Gumam Uchiha Terkuat yang baru saja melakukan hal Terbodoh itu. Apakah begini cara otak Sasuke yang jenius itu bekerja? Bahkan Shikamaru pun tidak dapat menganalisis dan menemukan alasan Sang Pangeran melakukan hal bodoh seperti ini. Mungkinkah ke-dobe-an Naruto telah menular?
"Mangekyou Sharingan membuatmu menjadi sangat kuat. Tapi bukan berarti kau bisa melakukan hal seenak pantat ayammu tanpa memikirkan akibat dari perbuatanmu itu!"
"Tenanglah… Dia pasti punya alasan." Deidara coba menenagkan suaminya yang hampir meledak karena ulah sang adik.
"Aku bahkan baru tahu kalau Mangekyou Sharingan bisa digunakan untuk hal seperti itu…" gumam Madara lirih.
"Hyuuga?" panggil Fugaku.
"Semua 'penonton' sudah kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga duo pengacau dan – Naruto…" kalimat Neji sedikit terdengar ragu pada bagian terakhir. Ia juga merasa –sangat- penasaran dengan tindakan pemuda berambut aneh itu.
17 menit yang lalu, Danzo dan Sai baru saja meninggalkan tempat ini sambil membawa Naruto –setelah Sai menyelesaikan ciuman sepihaknya tentu. Tiga menit kemudian,Sasuke menghentikan aksi 'pembekuan' terhadap gerakan keluarga dan para pengawalnya. Tidak mau membuat penghuni Night Kingdom bertambah 'berisik', Fugaku memerintahkan mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Sebenarnya kau ingin membunuh anakku atau apa?" azure Minato berubah merah. Ditatapnya tajam pemuda kurang ajar bernama Uchiha Sasuke.
"Tou –"
"Kau tidak pantas memanggilku seperti itu Uchiha!" potong Minato keras.
"Membawa kabur Naruto tanpa seijinku, membahayakan nyawanya dengan pergi dari Night Kingdom tanpa alasan dan persiapan yang jelas/ Dan sekarang kau membiarkan si bangkotan penuh keriput itu membawa anakku pergi?"
Sasuke diam mendengar ceramah kilat dari Sang Yellow Flash. Benar dia ceroboh saat memutuskan mengajak Dobe-nya kabur ke dunia manusia tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Uchiha dan Namikaze di masa lalu.
Sementara itu, Itachi merasa sedikit tersinggung setelah mendengar kata 'keriput' mengalun jelas dari bibir Sang Raja Matahari (lohh?)
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada putraku, aku akan membunuhmu!" Kushina menggenggam erat lengan suaminya. Bagaimanapun juga ia tidak pantas berkata seperti itu. Membunuh Sasuke hanya akan memperparah keadaan.
Mendengar kalimat bernada ancaman itu pun, Fugaku sama sekali tidak ingin membela anak kesayangannya. Minato benar, Sasuke sangat ceroboh dan bodoh dalam hal ini. Ia tahu betul, perasaan Minato sedang carut-marut, jadi percuma saja berdebat dengannnya untuk saat ini.
"Ano, Itachi-sama. Para Akatsuki dan orang-orang yang tadi Itachi-sama sebutkan sudah datang. Mereka sedang menunggu di ruang utama." Bisik Kiba kepada Sang Raja setelah ia 'menerjemahkan' gonggongan Akamaru yang terdengar samar dari dalam istana.
"Biar aku yang kesana. Kalian pasti masih ingin berada di tempat ini…" gumam Deidara sambil berjalan menjauh dari TKP yang dihiasi darah Naruto itu.
"Hn."
"Kushina. Kita bantu Deidara menjelaskan semua kepada mereka…" Mikoto menarik pelan lengan sahabatnya yang masih saja menunduk dan beberapa kali terlihat mengusap air matanya. Kushina hanya mengangguk dan mengikuti langkah Mikoto.
"Sabaku, Inuzuka … Aku meminta kalian untuk mejaga mereka bertiga!" perintah Sasuke dengan suara yang kelewat rendah. Semua orang jelas tahu bahwa ini adalah aksi pengusiran-tak-langsung.
"Ha'i.. Sasuke-sama!"
Mereka semua terdiam. Menunggu para uke dan istri tercinta masuk ke istana.
"Aku memang bertindak bodoh." Onyx Sasuke menatap ceceran darah Naruto yang terlihat masih basah.
"Kalau saja kalian tahu apa yang dimasukkan Sai ke dalam tubuh Naruto, mungkin kalian akan mengerti." Sasuke menyentuh darah kekasihnya dengan telapak tangan, kemudian mengangkatnya, membuat Neji, Shikamaru dan Minato serta ketiga Uchiha senior mendekat dan menatap lekat darah itu.
'Aku tidak ingin calon ayah mertuaku membenciku. Bagaimanapun juga aku harus menjelaskannya.' Tahu kan siapa yang mikir kaya' gini? =_=
"Ti – tidak mungkin! I – ini.. Aku pasti salah lihat. Byakugan!" gagap Neji. Ia bahkan tidak mempercayai penglihatan byakugan-nya. Aktif – nonaktif – aktif – nonaktif .. berulang kali pemuda Hyuuga itu memastikan, namun hasilnya tetap sama.
"Bau ini – " Itachi menatap tajam adiknya, "benda itu.. Seperti milikku."
Sasuke mengeryitkan dahi. 'Dia bilang apa? 'milikku' ? dia punya benda seperti ini?'
"Tidak salah lagi.. Ini pasti.." Ucapan Itachi sedikit menggantung.
"Pasti?" Sasuke membeo dengan nada datar. Malu dong kalau ketahuan dia sedang penasaran…
"Aku memilikinya… Ini pasti benda itu!" pekik Sang Raja lebay.
"Bisakah kau berhenti mendramatisir keadaan? Kau membuatku malu memiliki anak sepertimu…" ohh kejam sekali Papa Fuga.. (Fuga: Ogah gue punya anak kaya' elu!)
:Bau ini…"
"Hn?"
"Pasti ini sejenis –" Itachi menghela nafas. Entah penciumannya yang salah, atau darah calon adik iparnya benar-benar berbau seperti sesuatu yang sangat familiar baginya.
Semua terdiam menunggu lanjutan dari kalimat Sang Raja.
"Benda ini seperti…"
" –"
"Seperti …"
"Hn?"
"Seperti KRIM ANTI KERIPUT milikku!"
'GUBRAAKK'
Iblis-iblis penasaran itu pun gubrak berjamaah, tak terkecuali Madara dan Fugaku.
"Ck, Mendokusei. Bisakah kau menggunakan matamu saja? Sepertinya hidungmu sudah tidak beres." Shikamaru mencoba bangun sambil menguap.
'Bletakkk!'
"Aku benar-benar malu memiliki anak sepertimu!"
"Tou-san ~~ Kau menyakitiku!" protes Sang Raja sambil mengusap kepalanya. Sunggguh kejam papa Fuga..
"Lain kali pastikan bahwa krim anti keriputmu sudah rata sebelum kau keluar kamar!" Madara mengusap hidung cucunya kasar. Diusapkannya tangan itu di bahu sang cucu, meninggalkan noda berwarna putih-softpink. Aromanya sangat khas. Tidak salah lagi. Itu adalah krim anti keriput milik Itachi yang mengganggu penciuman sang pemilik keriput *buaghh (tampolled)
"Perhatikan baik-baik baka Aniki!"
"Hn."
Minato terdiam sambil menahan diri agar tidak ber-sweatdrop ria. Bagaimanapun juga ia tidak pernah menyangka bahwa Itachi yang dulu imut-imut itu tumbuh menjadi pemuda konyol berkeriput. Poor Itachi …
"Ini bau racun?" Tanya pemuda berkuncir setelah –akhirnya- menyadari bau aneh di darah Naruto.
"Warnanya aneh…"
"Hn?" Mengeryitkan dahi, kemudian mengaktifkan sharingan-nya agar penglihatannya menajam adalah hal yang dilakukan ayah dari Uchiha Hideo itu.
"Kita tidak akan bisa membuat penawar untuk racun ini." Gumam Sasuke sambil tetap memandangi cairan merah kental yang bila dilihat lebih teliti, warnanya bersemburat hijau keunguuan dan mengeluarkan semacam asap ungu tipis berbau menyengat
"Sai bisa membuat racun seperti ini?"
"Orochimaru…" sahut Madara menjawab pertanyaan Hyuuga muda.
"Iblis sekuat apapun tidak akan bisa berbuat banyak kalau sudah berurusan dengan racun. Benda itu akan merusak system kekebalan tubuh dan langsung menggerogiti organ tubuh satu per satu hingga si iblis kehabisan tenaga dan …" pemuda ber-IQ lebih dari dua ratus itu sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, "Apalagi ini adalah racun dari sang ahli pembuat racun.. sungguh merepotkan."
"Kalau tidak segera diberi penawar, Naruto akan … Tidak!" Minato mulai sedikit memahami jalan pikiran pemuda yang telah mengeklaim dirinya sebagai menantu Namikaze itu.
"Bagaimana jika Sai tidak memberi penawar kepada Naruto?"
"Aku sudah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi baka Aniki…" Sasuke menyeringai ke arah sang kakak.
"Si udel bodong itu pasti sangat mengharapkan jawaban 'Ya' dariku. Dan dia akan menjaga agar Dobeku tetap hidup demi mendengar jawaban itu. Dia percaya bahwa jika Naruto tetap hidup, aku akan menerima tawarannya."
"Huh.. Pangeran terlalu percaya diri." Gumam Neji tanpa sadar.
"Tentu saja akan seperti itu. Dia sudah terjerat oleh pesonaku. Tidak akan ada yang bisa menolak pesona Tuan Uchiha Sasuke. Kau tahu itu." semua iblis yang mendengar ucapan itu langsung sweatdrops kuadrat. Bagaimanapun juga.., ini terlalu narsis untuk ukuran Sasuke yang biasanya –sok- cool dan arogan.
"Lagipula, Sai akan melakukan apapun untuk mendapatkan jawaban 'Ya' dariku. Sama seperti aku yang akan melakukan apapun agar Naruto bisa selamat." Sasuke tersenyum miris. Memang hal yang ia lakukan ini cukup membingungkan dan membuat keluarganya bertanya-tanya. Tapi… Ini adalah keputusan yang sudah dibuatnya.
"Tidak akan ada yang bisa membuat penawar untuk racun ini kan? Setidaknya belum…" sharingan itu nampak tidak cocok dipadukan dengan senyum miris di bibir Sasuke, "Jadi aku lebih memilih untuk membiarkan mereka membawa Naruto pergi. Agar ia bisa tetap hidup." Pangeran mendongakkan kepalanya, menatap iblis di depannya satu per satu.
Mereka semua terdiam, namun masih terlihat rona-tidak-terima dari wajah mereka.
Sasuke menghela Nafas. "Bagiku tidak ada yang lebih penting dari Naruto."
"Jadi kau akan membiarkan Orochimaru menguasai tempat ini dan menjadikan para iblis sebagai 'budak'nya? Semua makhluk di Dunia Langit tidak berarti bagimu… Begitu kan?"
"Ya." Jawab Sasuke mantab. Membuat semuanya terbelalak kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kata itulah yang akan keluar dari bibir si Uchiha bungsu.
Ia bahkan tidak memberikan sedikitpun penyangkalan atas hipotesis Shikamaru dan secara blak-blakan membenarkan ucapan pemuda Nara itu.
"Kau – "
"Kalau aku tidak pernah bertemu dengan Dobe, aku pasti akan membiarkan kalian tersiksa, bahkan mati demi mendapatkan apa yang aku inginkan." Sasuke memotong ucapan Sang Raja yang hendak protes. Mangekyou Sharingannya kembali beraksi dan membekukan gerakan para Uchiha senior yang ingin menamparnya, Neji dan Shikamaru yang seakan ingin membunuhnya, bahkan Minato yang sedari tadi tidak melakukan apapun juga ikut tidak bisa bergerak.
"Beraninya kau membahayakan semua orang demi duren bodoh itu!" Neji memberontak, kendali dirinya pun lepas. Minato yang mendengar sebutan 'duren bodoh' yang ditujukan untuk anaknya, seakan tak peduli. Bagaimanapun juga, ia tetap tidak ingin mempertaruhkan Dunia Langit dan para iblis di dalamnya. Itu terlalu egois…
"Aku ingin menjawab 'Ya'. Tapi Naruto memaksaku berkata 'Tidak'." Pemilik rambut solid pantat ayam itu mendongak, menatap langit biru tanpa awan yang baru pertama ia lihat di Night Kingdom.
"Dia membuatku menyadari 'ikatan' yang selama ini kuabaikan. Ikatan dalam keluargaku..," iris merah itu menatap teduh ketiga seniornya.
" – ikatan antara aku dan kalian…" kali ini giliran Neji dan Shikamaru yang mendapat kesempatan untuk melihat Mangekyou Sharingan dengan sorot sendu.
"Dobe bilang semua orang memiliki ikatan seperti itu…"
Lagi-lagi semua terdiam. Pangeran super egois yang sedingin es itu mengatakan ucapan hangat seperti ini? Unbelievable
"Dan aku tidak ingin menghancurkannya."
"Sebenarnya apa yang ada di kepalamu?" Tanya Madara tegas. Cucunya sudah beranjak dewasa ternyata.
"Teentu saja rambut pantat ayam. Apa lagi?"
'dziiingg~~~~~'
Semua mata tertuju ke arah Raja yang entah kenapa sejak tadi seolah berkata bunuh-aku-sekarang-juga.
"Aku benar-benar malu…"
"Hahaha.. Berhenti melawak Aniki. Kau sama sekali tidak terlihat lucu." Tawa garing terdengar begitu krispi di telinga Itachi.
"Hn. Satu yang ingin ku pastikan Otouto." Nada serius itu mulai mengalun dari bibir Sang Raja.
"Hn?"
"Kau tidak akan melakukan hal bodoh lagi kan?"
"Semua akan baik-baik saja." Sasuke mulai menghentikan aksi pembekuan itu.
"Kau sudah merencanakan sesuatu, eh?" Shika ngulet geje.
"Hn."
"Kalau begitu, beri tahu kami." Emosi pemuda tanpa pupil itu sudah mulai stabil.
"Aku tidak ingin rencana yang kau buat membahayakan para penghuni Dunia Langit."
"Tenang saja Tou-san.. aku tidak akan melakukannya…"
' – mungkin.' Lanjut Sasuke dalam hati. Matanya yang telah kembali serupa onyx menatap penuh harap pria berjubah panjang dengan aksen lidah api itu.
"Beri tahu kami rencanamu."
"Satu syarat untuk itu.." semua menatap heran mendengar gumaman Sang Pangeran.
"Kalian harus percaya padaku." Sebuah kalimat ambigu yang hamper mustahil diucapkan oleh seorang Sasuke di depan banyak orang.
"Hn."
"Baiklah."
"Ok Otouto ~"
Setelah semua memberikan persetujuannya. Sasuke member isyarat untuk mengikutinya masuk ke istana. "Kita akn membutuhkan bantuan orang-orang yang sedang ditemui Dei-nii."
Mereka pun mengikuti langkah Sang Pangeran.
Sedikit demi sedikit mereka mulai mempercayai Uchiha Terpilih yang suka melakukan hal seenaknya itu.
.
.
"Ughh.. Si – aaaaalll ! Keluarkan aku dari sini!"
"Hehh bibir jontor! Dimana kau? Beraninya kau mengikatku seperti ini…"
Terlihat seorang pemuda berambut pirang meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari jeratan rantai di kedua lengan dan kakinya. Tangannya diikat menjadi satu, digantungkan di langit-langit sebuah ruangan lembab yang dilapisi sel baja.
Kakinya pun diikat menjadi satu, digantungi rantai yang terlihat sangat berat yang terhubung dengan lantai. Pemuda bernama Uzumaki Naruto itu hampir tidak bisa bergerak.
"Aghh… Si – siaaalll! " Naruto merintih pelan, daerah pinggangnya masih terasa perih. Tenaganya pun seolah tak bisa digunakan secara maksimal.
"Hallooo… Kau sudah bangun ya?" terlihat seberkas cahaya mendekati pintu jeruji itu. Perlahan namun pasti, sosok di belakang cahaya itu masuk ke dalam ruangan, menembus sel-sel baja itu tanpa perlu bersusah payah. Tubuhnya seakan terbuat dari cairan kental berwarna hitam.
"Kau! Bibir jontor! Lepaskan aku, bodoh!" teriak pemuda berkulit tan itu.
"Kau sangat tidak sopan Naru.. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku mau memberimu sedikit penawar racun." Sai tersenyum. Digantungkannya lilin menyala yang dibawanya di dinding, kemudian kembali berdiri di hadapan Sang Pewaris Kyuubi.
'Racun? Jadi rasa sakit di pinggangku tadi akibat racun?'
"Sial!" umpat Naruto lirih. Tubuhnya kembali terasa lemas.
"Kau memang bernasib sial karena berada di sini." Jemari berkulit pucat Sai terlihat memainkan helaian pirang pemuda yang tengah tergantung lemas di depannya.
"Hhh.. Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku.. Makhluk jontor!"
"Kau tidak sopan sekali, manis.."
'bugghhh'
Sai memukul perut Naruto sekuat tenaga, membuat pemuda pirang itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Sa – Sasuke pasti akan menolongku. Uhukk…" Sapphire itu seakan berubah menjadi ruby.
"Dan kau..," Naruto menatap tajam putra tunggal dari Danzou, " – pasti akan dibinuhnya!"
"Hmm?" Sai menghentikan senyumannya. Ditatapnya sang Namikaze junior dengan tatapan yang meremehkan.
"Khukhukhu…. Kau masih berharap seperti itu? Sayangnya itu tidak akan terjadi…"
"Dia pasti akan menolongku!"
"Asal kau tahu saja ya, Tuan Namikaze.. Sasuke yang membiarkanku membawamu ke sini."
Naruto terdiam. Menatap mata onyx yang menyipit akibat sedang tersenyum itu. Nihil. Tidak ada kebohongan di mata itu.
"Dan dia …," Sai mendekatkan tubuhnya ke arah Naruto.
" – menciumku." Bisik Sai tepat di belakang telinga kiri si pemuda pirang.
'dhegg!'
Jantung pemuda yang kini bermata crimson itu seakan tertusuk bambu runcing.
'Teme… Menciumnya? Tidak! Dia pasti bohong kan? Tudak mungkin!'
"Tidak ada gunanya kan aku berbohong padamu?" seakan dapat membaca pikiran Naruto, Sai menjawab dengan santai.
Mungkin kalimat 'mencium' terlalu berlebihan. Tapi bagi Sai, menggunakan kalimat itu rasanya lebih menyenangkan.
"Dan sebentar lagi, aku akan menikah dengannya."
'dhegg deghh dheggg!'
Bukan hanya ditusuk bambu runcing, dada pemuda berkulit tan itu serasa diiris dan disayat berulang kali.
"Ini.. Bohong kan?"
'tes'
"Kau lucu sekali Sai. Hahaha.. Ini sangat lucu!"
'tes.. tes..'
Tawa garing itu terdengar beriringan dengan bunyi tetesan air mata Naruto.
Sai yang melihat hal itu hanya tersenyum.
Senyum mengejek itu jelas ditujukan kepada Naruto. Dia ingin bocah pirang itu merasakan apa yang dirasakannya selama ini. Diacuhkan Sasuke, juga saat kedatangan Naruto ke Night Kingdom… rasa sakit itu makin nyata karena onyx Sai sering menangkap gambar Sasuke yang tengah bersama Naruto.
"Sayangnya aku bukan pelawak." Senyum iblis mengiringi ucapan itu. Memang benar Sasuke belum memberikan jawaban apapun. Tapi Sai merasa sangat yakin bahwa jawaban yang besok akan didengarnya adalah 'Ya'. Karena jika sampai Sasuke menjawab 'Tidak'. Maka Sai tidak akan member naruto sisa penawar racun itu dan membiarkannya mati. Sasuke pasti akan menjawab 'Ya'. Putra Danzou ini memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi rupanya.
"Hmm.. Sudah malam. Sebaiknya aku tidur untuk menjaga kecantikan kulitku. Kalian! Awasi dia baik-baik."
"Ha'i. Sai-sama.."
'Suara itu…'
Naruto mendongak mendengar 'koor' yang menyahut perintah Sai. Iris ruby itu mencari-cari sumber suara familiar yang baru saja tertangkap gendang telinganya.
"K – kalian?" mata sang Namikaze membulat setelah menangkap bayangan 5 orang yang berstatus sebagai sahabatnya. Bukannya meraka ada di Dunia Manusia? Bagaimana mungkin mereka sampai disini?
"Wow.. Kalian sudah saling kenal rupanya? Bagus deh .. "
"Apa yang kau lakukan pada teman-temanku, hah?" pemilik raven cepak tertawa renyah mendengar pertanyaan konyol Naruto.
'Mata itu… ternyata bukan hanya Sakura, Lee dan yang lainnya juga berada di bawah kendali Sai.'
"Ada deh.. Aku pergi dulu. Jaa ~~" Sai mulai berjalan menjauh, menaiki anak tangga yang terbuat dari batu berpola lengkungan-lengkungan aneh.
"Satu lagi," Sai menghentikan langkahnya di anak tangga ke lima, " kau harus melawan mereka jika ingin keluar dari sini. Menyenangkan bukan? Melawan temanmu sendiri ..?"
Tanpa menoleh ke arah Naruto, pemuda yang hobi mengekspose udel itu berjalan santai meninggalkan tempat lembab itu.
"Nee Sakura. Kau bisa mendengarku?" ruby itu mulai kembali ke wujudnya yang semula, sapphire.
Nihil. Gadis berambut pink itu tetap berada pada jarak 10 cm di luar sel, berdiri kaku membelakangi Naruto.
"Lee.. Ino! Chouji! Kalian hanya bercanda kan? Ayolah… tanganku mulai sakit." Ketiga orang itu pun berada dalam posisi yang sama seperti si gadis bermarga Haruno/
"Ten-ten?"
Pemuda berkulit tan itu menghela nafas berat.
"Huh… Percuma. Mereka tidak bisa mendengarku/" sapphire itu menyendu.
"Hu'uhh.. Percuma!"
"Lagi pula, racun sialan itu membuatku tidak bisa menggunakan tenagaku. Bagaimana bisa aku keluar dari sini.. Menyebalkaaaaaannn!" teriak putra dari pasangan MinaKushi frustasi.
"Hehh! Kau ingin membuatku tuli ya?"
"Diam! Aku tidak ada urusan dengan –" suara protes Naruto terhenti saat ia menyadari sesuatu. Didongakkannya kepala duren yang ia miliki, sapphirenya menyapu tiap jengkal ruangan itu.
'Mereka semua masih tetap diam…' bulu kuduk pemuda tan itu mulai meremang saat mendapati Lee dan yang lainnya masih dalam posisi semula.
'Suara berat ala om-om.. Punya siapa?'
'Ohh ayolah… Ini pasti hanya halusinasi.'
"Aku bukan halusinasi. Aku ini nyata. Dasar bocah!"
.
.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu? Kau tahu Pangeran, aku sangat benci menunggu." Ucap seorang pemuda berambut merah. Sekilas, ia sangat mirip dengan Gaara, tapi jika diperhatikan, mereka sangat berbeda. Salah satu yang membedakannya adalah pemuda ini tidak memiliki kanji 'ai' di jidatnya.
"Bersabarlah Sasori." Gumam Deidara seraya bermain dengan putranya. Dulu, ia juga merupakan anggota Akatsuki.
Pemuda berambut merah yang dipanggil 'Sasori' itu pun kini lebih memilih memainkan kugutsu-nya. Akasuna no Sasori adalah seorang puppet master, sama seperti Kankuro, kakak kandung dari Sabaku no Gaara.
"Haahh… Bisa-bisanya ia tidur." Bisik Kiba saat melihat sang kekasih tengah terlelap.
Sudah tiga jam lebih sejak Sasuke dan rombongannya tiba di ruangan ini. Selama itu pula tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Sang Pangeran.
"Hei Neji. Kira-kira apa yang direncanakan Sasuke-sama?"
"Entahlah… Predikat 'Pangeran Penuh Kejutan' itu sepertinya masih akan melekat padanya. Bagaimana menurutmu, Gaara?"
"Berapa lama lagi mereka harus menunggu Otouto?" pemuda ber'keriput' tipis itu menepuk pelan pundak adiknya. Mungkinkah rencana yang dibuat sang adik adalah rencana yang terlalu sulit untuk dijelaskan?
"Hn."
Minato menatap tajam calon menantunya. Di mata azure-nya, wajah tenang itu seakan sedang menanggung beban yang sangat berat.
"Baiklah…" Sasuke mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia akan segera menjelaskan rencana yang sedari tadi melayang-layang di dalam kepalanya.
"Aku bagi kalian ke dalam dua tim." Aura pemuda berambut pantat ayam itu berubah, menjadi aura kewibawaan yang seakan menghipnotis semua yang berada di ruangan itu. Membuat mereka dengan suka rela memperhatikan setiap gerak Sang Pangeran. Ia memang benar-benar ditakdirkan menjadi seorang 'Pemimpin'.
"Tim satu adalah tim yang bertugas berjaga di istana. Kalian berempat!" onyx itu dengan tenang melirik pasangan NejiGaa dan ShikaKiba.
"Kalian tetap berada di istana bersamaku." Mereka mengangguk, termasuk Shikamaru yang masih setengah tertidur.
"Tim dua menjalankan misi pencarian. Hyuuga Hinata, Aburame Shino, Kakuzu, Hidan."
"Ha'i!" jawab mereka hamper bersamaan.
"Kalian bertugas mencari Naruto-ku!"
"Hn? Apa maksudmu Otouto?"
"Diamlah keriput! Aku belum selesai." Bentak Sasuke kepada kakaknya.
Sementara itu, Minato masih saja menatap lurus Uchiha bungsu itu. Air mukanya begitu penuh tekad dan sangat yakin dengan apa yang diucapkannya.
"Sebagai pemimpin Akatsuki, Pein tetap berada di sini."
"Hmm." Gumam Pein sedikit ragu. Bukankah dia adalah Ketua Akatsuki – sebuah organisasi pencari informasi yang didirikan oleh Uchiha Madara? Kenapa malah Kakuzu dan Hidan yang mendapat misi berbahaya seperti itu?
"Kisame dan Zetsu bergabung dengan Tim dua."
"Ha'i."
"Sasori, Kankuro. Aku butuh kalian di istana." Sambung Sasuke lantang.
"Masing-masing sudah mendapatkan tugas?" Tanya Sasuke masih dengan nada yang sama seperti tadi.
"Ano.. Sasuke-sama –"
"Kau, Konan. Bergabung dengan Pein. Agar tidak mencurigakan." Potong si pantat ayam sebelum konan menyelesaikan kalimatnya.
Beberapa mengeryitkan dahi saat mendengar kalimat 'agar tidak mencurigakan' terlontar dari bibir Sasuke. Ini berarti formasi tim satu dan tim dua sudah diperhitungkan matang-matang.
" Aku hampir lupa denganmu. Temari tetap berada di istana, Akamaru juga."
"Ha'i."
Sasuke menghela nafas beberapa kali. "Dengarkan baik-baik. Jangan menyela dan jangan bertanya jika belum ku perintahkan!"
"Temari. Anggota tim satu?" ekor mata Sang Pangeran melirik kakak perempuan Gaara.
"Shikamaru, Kiba, Akamaru, Gaara, Neji, Kankuro dan aku. Dari Akatsuki ada Sasori, Pein serta Konan." Temari coba mengingat nama-nama anggota tim satu.
"Hinata. Tim dua."
"Ano.. Ada aku, Shino, Kakuzu, Kisame dan Zetsu, juga Hidan." Jawab adik dari Hyuuga Neji itu pelan.
"Bagus. Kau dan Aburame bertugas melacak keberadaan Naruto. Dan 'memandu' tim dua menuju ke sana. Selamatkan Naruto secepat yang kalian bisa."
"Ha'i." jawab mereka ragu. Bagaimanapun juga, pergi ke 'sarang' Orochimaru dengan formasi seperti ini sama saja dengan bunuh diri. Tapi tentu saja, mereka belum berani bertanya.
"Zetsu. Dengan kemampuan 'berpindah'mu yang sangat cepat itu, kau memiliki tugas tambahan untuk memberi laporan ke istana. Apapun yang terjadi, langsung beri tahukan kepada Kankuro atau Sasori.
'Kankuro atau Sasori?' pertanyaan itu tak sempat di lontarkan jelmaan Venus Flytrap itu. Ia tidak mau mengambil resiko menjadi Flytrap panggang akibat menyela penjelasan Sang Pangeran.
"Tim satu bertugas untuk 'bertundak biasa' di istana." Lagi-lagi Sasuke menghela nafas.
"Kecuali Sasori dan Kankuro berjaga di luar istana, seperti biasa. Selalu siaga dan siap menerima laporan dari Zetsu. Jadikan kagutsu kalian seperti wujud para anggota tim dua. Biarkan mereka masuk sekali atau dua kali ke ruang utama. Selebihnya biarkan mereka di luar. Aku tidak mau Orochimaru menyadari bahwa mereka palsu."
"Tunggu! Apa maksudmu dengan Orochimaru di ruang utama?"
"Bisakah Tou-san tidak bertanya dulu?" kedua onyx itu saling menatap tajam.
"Apa yang dilakukan makhluk itu di istana ini?" Fugaku tidak mempedulikan ultimatum anaknya. Rasa penasaran itu begitu memenuhi pikirannya. Dan lagi, anggota keluarga Uchiha tidak mendapat tugas apapun.
"Aku akan mengundangnya datang ke sini."
"Untuk?" Tanya Madara
"Aku.. "
Onyx Sang Uchiha Terpilih menatap Minato yang sedari tadi memperhatikan ucapannya. Mata itu seolah berkata 'maafkan aku Tou-san'. Seakan mengerti, Sang Yellow Flash menejamkan matanya dan mengangguk pelan.
" – akan menikah dengan Sai."
Minato menghela nafas berat. Dugaannya sangat tepat. Dia yang sedari tadi diam sudah menganalisin apa yang akan dilakukan Sasuke.
Sementara itu, semuanya terdiam.
Apakah mereka tidak salah dengar?
"Kau ini bicara apa, hah?" Itachi mulai bereaksi. Secepat kilat ia menyambar kerah baju sang adik dan mengangkatnya cukup tinggi.
"Aku akan menikah dengan Sai."
'bughh!'
Itachi memukul perut adiknya hingga ia terjatuh ke lantai.
"Katakan sekali lagi! Baka Otouto!" teriak Sang Raja penuh amarah.
"Aku akan me –"
'buughh buaghh'
"Sudah kubilang jangan melakukan hal bodoh!" pukulan demi pukulan dilancarkan Itachi ke wajah adik kandungnya itu. Terlihat kejam, memang. Tapi semua iblis di ruangan itu menganggap hal ini cukup wajar. Sasuke sendiri sama sekali tidak mencoba melawan.
"Itachi… Hentikan!" wajah Mikoto berurai air mata, tangannya menarik-narik lengan sulungnya yang seakan ingin membunuh si bungsu.
"Kaa-san! Dia bertindak bodoh lagi! Menerima tawaran Sai. Sama saja menghancurkan semua yang kita miliki!"
"Hiks.. Kumohon.. jangan sakiti adikmu lagi."
"Itachi!" bentak sang ayah, sukses membuat Itachi menyadari bahwa Kaa-san kesayangannya tengah menangis. Ia pun menghentikan aksi kriminalnya.
"Hei.. kenapa kau ikut menangis, hmm?" Minato berbisik di telinga istrinya. Saat ini Kushina mulai mengusapi air mata di pipinya (lagi). Kushina hanya menggeleng pelan.
"Sasuke. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Deidara mendekat, bayi di gendongannya kini tak lagi tidur, onyx jernihnya menatap sang paman. Seakan mengerti keadaan pamannya, ia tersenyum manis, mencoba member 'semangat' sang paman ganteng *hoeekk (pengetik muntah)
Sasuke bangkit, diusapnya darah di sudut bibirnya dengan tangan kiri.
"Terima kasih.." gumam Sasuke sambil mengusap lembut kepala mungil Hideo.
"Bisakah kau tanggalkan amarahmu itu? Aku ingin menjelaskan semuanya." Akhirnya Itachi mengangguk setuju. Ia pun coba mengendalikan dirinya.
"Jika kita mengadakan upacara pernikahan antara aku dan Sai. Orochimaru pasti akan menghadirinya. Benar kan, Shikamaru?" pewaris Mangekyou Sharingan itu mencoba meminta pendapat si nanas ber-IQ lebih dari 200 itu.
"Hoaahmm.. Kurasa begitu. Ini merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu Orochimaru. Dia tidak akan melewatkannya begitu saja."
"Selama ia meninggalkan 'sarang'nya, kita gunakan kesempatan itu untuk menyelamatkan Naruto. Formasi tim dua sudah sangat sempurna untuk itu."
"Tapi pangeran, mereka itu –"
"Kau benar Neji. Mereka jarang berada di istana, kemampuan mereka pun terlihat kurang mendukung untuk misi ini. Tapi itulah senjata kita." Sahut Sasuke cepat. Bibirnya menyunggingkan seringaian penuh makna.
"Jadi begitu.." Shikamaru tersenyum. Sepertinya ia mulai menyadari taktik yang akan digunakan iblis penyuka tomat ini.
"Hn."
"Bisakah kalian memberitahukan ini kepada kami juga?" komentar Kiba. Ia merasa sedikit kesal karena kekasihnya menikmati 'kesimpulan' yang ia dapat sendirian.
"Saat acara berlangsung, semuanya akan terlihat seperti biasa. Kita berempat sebagai pengawal Pangeran, Pein dan Konan yang bersama-sama, serta para iblis yang biasa terlihat berada di istana akan hadir dan sering berada di dekat keluarga kerajaan. Hinata, Zetsu dan para anggota tim dua yang memang jarang berada di dekat pangeran akan sesekali berada di dekat pangeran. Terlihat seperti memberi ucapan selamat.
Sementara itu Orochimaru yang merasa terlalu senang dengan keputusan Sasuke-sama akan datang ke tempat ini dan membawa para pengawal terbaiknya. Kemungkinan besar, yang tersisa di markasnya hanya sebagian kecil dari orang-orangnya. Saat ia tidak mendapati keadaan mencurigakan di istana, kewaspadaannya akan berkurang, saat itulah tim dua mulai bergerak. Masuk ke markasnya, kemudian secepat mungkin menyelamatkan Naruto. Sesuai dengan perjanjianmu dengan Sai. Orochi tidak akan mengambil Kyuubi sebelum kalian menikah – jika Sasuke memberikan jawaban 'Ya' atas penawaran Sai. Secara Otomatis, Orochimaru tidak akan bisa mendapatkan Kyuubi. Rencana ini 97% akan berhasil. Ada yang salah, Pangeran?"
"Cukup bagus, Nara. Jangan lupakan untuk mencari penawar racun yang disimpan Sai."
"Ha'i!"
"Dan kalian juga harus tetap waspada dan bersiap untuk semgala kemungkinan."
"Jadi kau akan mengulur waktu pernikahanmu dan menunggu sampai Naruto bisa diselamatkan?" Itachi memastikan.
"Tidak."
"Hn?"
"Akan terlalu mencurigakan jika aku melakukan itu. Yang paling aman adalah membuar Ular itu selama mungkin berada di istana."
"Maksudmu saat perayaan yang dilaksanakan setelah upacara pernikahan? Jadi kau akan tetap menikah dengan Sai?" Deidara menatap tajam adik iparnya.
"Sasuke.. Kau tahu kan, iblis hanya bisa mencintai sekali seumur hidup?" Mikoto membelai lembut punggung anaknya.
"Ya. Kaa-san. Aku sangat menyadarinya." Sasuke tersenyum.
"Sasuke, kau akan menyakitinya.."
"Aku tahu Dei-nii. tapi dia akan semakin sakit kalau sampai terjadi sesuatu di Dunia Langit.
"Bagaimana denganmu sendiri?" Tanya Itachi.
"Aku bisa menikah tanpa cinta. Tapi satu hal yang harus kalian tahu. Yang kucintai hanyalah Naruto."
"Naruto pasti merasa sangat sakit… Mereka berdua akan terluka." Lengan Minato mendekap erat istrinya. Bagaimanapun juga, yang diucapkan Kushina memang benar.
"Satu hal lagi Sasuke. Saat kau telah menikah dengan seorang iblis, kau akan memiliki ikatan abadi dengannya. Jadi saat pasanganmu mati. Separuh dari dirimu juga ikut mati."
"Aku tahu Kakek.. Dan aku sudah siap untuk itu."
.
.
'Siaaalll….!' Teriak Naruto dalam hati. Dari tadi terngiang suara-suara aneh yang membicarakan tentang sihir dan matahari.
Naruto paling benci cerita hantu. Dan kejadian ini tentu saja membuatnya sangat ketakutan.
"Iblis yang takut pada hantu, eh? Khukhukhu… Lucu sekali." suara om-om itu menggema lebih jelas dari sebelumnya.
"Siapa?"
"Aku."
"Huhh? 'aku' siapa?" rasa takut itu mulai bercampur dengan sedikit bumbu penasaran.
"Aku adalah dirimu Naruto. Aku adalah ~"
Naruto mengeryitkan dahinya.
" – Kyuubi"
.
.
Tbc
.
Ahhh selesai juga :D
Maaf ya untuk keterlambatannya.
Kaa-chan minta agar Kyuu konsentrasi buat ujian sih, jadi Lenno-kun disita sama Kaa-chan
Ini juga perut Kyuu lagi sakit banget :'(
Untuk chap ini Sasuke banyak ngomong… Biarin deh :D
Sasu: gue banyak ngomong juga tetep ganteng kok..
Kalo di anime or manga Naruto, biasanya penjelasan tentang strategi bertarung dikasih di belakang, setelah pertarungan selesai..
Tapi Kyuu punya alasan kenapa Kyuu ngasihnya di depan kaya gini :D
.
Ok. Mari kita jawab review :3
.
Meg chan: Ok makasih telah berbaik hati menggenapkan review ^^
Maaf untuk keterlambatannya ya…
.
-vent: ahh terima kasih sarannya. Tapi sasuke udah punya rencana sendiri tuh ^^
gimana dong?
Kalo soal Luffy.. itu sih iseng2nya naruto aja ngejadiin action figure Luffy sebagai 'robot pengintai'
Dia masuk ke apartemen sakura kok.. kan itu layar dari naruto 'nunjukin lorong-lorong, terus tiba2 nunjukin pintu dan masuk ke pintu itu' (males copas aslinya, gomen)
Maksud Kyuu, itu ngejelasin kalo robot pengintainya jalan lewat lorong, terus masuk ke apartemen Sakura.. maaf kalo ga jelas *bungkuk2
Naru: Yoshh! Karena gue diem diem ngefans Luffy :D
Sasu: ngefans apa ngefans ?
Naru: ada deh… :p
Kyuu: diem lu ah! Ga nyambung =,=
Kalo untuk kabur diam diam.. itu tetap dilaksanakan kok. Tapi action figure itu ketangkep juga sama Danzou, ketahuan deh.. Jadi mereka langsung nyusul
Maksud Kyuu sih mau bikin umm.. kita nonton dari sudut pandang Naruto and Sasuke, jadi ga diperlihatkan pas action figure itu ketangkep (yang diilangin Sasuke Cuma layar di apartemennya, action figure nya masih di apartemen Sakura, ketauan deh jadinya :p)
Kaya pas adegan Naruto sama putri siapa ya itu namanya =,= (lupa) melarikan diri masuk ke tower kan tiba tiba aja si musuhnya itu udah ada di belakangnya
Padahal kejadian yang sebenarnya kan si musuh ini udah dihadang sama Shibi dan Choza juga, tapi mereka gagal
Dari sudut pandang Naruto emang keliatan mereka udah melarikan diri, tapi tahu-tahu musuhnya udah di belakangnya (adegan di Naruto Shippuuden movie 4)
Maaf yah kalo malah tambah bingung :D
Moga penjelasan Sasuke di cerita ini juga membantu..
Terima kasih
.
Sasunaru: ahahah.. mau bagaimana lagi ^^
Ceritanya memang harus begini
Maaf yah untuk keterlambatannya
Terima kasih :D
.
ttixz lone cone bebe: tapi sai ngasih tau ke naru nih…
mana pake kalimat hiperbola lagi.. huhuhu
Naru: bukannya elu yang bikin cerita kaya gitu? Ngapain pake nangis segala? =,=
Danzosai emang cocok jadi pelawak :D
Fugamina besok lagi yah.. mereka kan udah pada punya istri..
Be-san gimana sih :p
.
Ryuumaki Naruneko: uke-nya sai dong :D
Uchiha kan seme sejati *plakk~~
Si jiraiya ga ada :D
Itu temen-temennya naru masih dimanfaatin sama sai. Kejam tuh orang =,=
Endingnya… ummm gimana ya :D
Eheheh… *malah geje sendiri
Ini udah dijawab kan? Terima kasih ya
.
Hatakehanahungry: ohh yang itu…
Itu terinspirasi gara2 temen Kyuu bilang 'di Inazuma eleven, Sasuke tuh nama anjing' =,=
Agak ga terima sih sebenernya.. ternyata Hana-san malah suka adegan ini :D
Terima kasih.. arigato… sankyuu *bungkuk2 geje
Naru lemah ya.. ini udah ketemu om Kyuubi
Kyuubi: apaan? Suara doing gue munculnya.
Kyuu: hush! Diem lu om :
Jadi dia akan lebih kuat.
Aklo kemaren sih, kan istilahnya baru nyadar kalo dia punya kekuatan
Ibarat orang baru bangun tidur.. udah melek tapi nyawanya belum kumpul *hallaahhh
Sepertinya kita harus membuka forum curhat Hana-san :p
.
Ashahi Kagari-kun: yess! Saya berhasil mengelabuhi orang-orang tentang siapa yang disukai sai :D
Yang ini berat ga? Sasu jadi banyak ngomong gitu =,=
Sasu: ga berat kok.. gue kan cinta mati sama ikan koi *lohh?
Maaf untuk keterlambatannya yah :D
Terima kasih :3
.
sasunaru4ever: terima kasih ^^
maaf untuk keterlambatannya yah :3
.
Ahh selesai :D
Terima kasih sudah mau membaca fic abal Kyuu yah..
Jangan kapok
Chap depan Kyuu usahakan lebih cepet
Doakan Kyuu cepet sembuh yah..
Sekali lagi maaf untuk keterlambatannya :3
.
Akhir kata
REVIEW please :3
