"Aku bisa menikah tanpa cinta. Tapi satu hal yang harus kalian tahu. Yang kucintai hanyalah Naruto."
"Naruto pasti merasa sangat sakit… Mereka berdua akan terluka." Lengan Minato mendekap erat istrinya. Bagaimanapun juga, yang diucapkan Kushina memang benar.
"Satu hal lagi Sasuke. Saat kau telah menikah dengan seorang iblis, kau akan memiliki ikatan abadi dengannya. Jadi saat pasanganmu mati. Separuh dari dirimu juga ikut mati."
"Aku tahu Kakek.. Dan aku sudah siap untuk itu."
.
.
'Siaaalll….!' Teriak Naruto dalam hati. Dari tadi terngiang suara-suara aneh yang membicarakan tentang sihir dan matahari.
Naruto paling benci cerita hantu. Dan kejadian ini tentu saja membuatnya sangat ketakutan.
"Iblis yang takut pada hantu, eh? Khukhukhu… Lucu sekali." suara om-om itu menggema lebih jelas dari sebelumnya.
"Siapa?"
"Aku."
"Huhh? 'aku' siapa?" rasa takut itu mulai bercampur dengan sedikit bumbu penasaran.
"Aku adalah dirimu Naruto. Aku adalah ~"
Naruto mengeryitkan dahinya.
" – Kyuubi"
.
.
Night Kingdom
Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story "Night Kingdom": KyuuRiu
Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing
Pair : SasuNaru
ItaDei
SasuSai
ItaSasu (?)
NejiGaa
ShikaKiba
.
Rated: T
Warning: abal, geje, banyak drabble, typo, mis-typo, jelek, ga banget, silakan nilai sendiri sajalah
.
Chap 10: Promise
.
.
"Pangeran. Mereka sudah hampir sampai." Seorang pemuda bermata tanpa pupil terlihat menajamkan pandangannya, membuat beberapa kerutan mencurigakan di sekitar matanya – byakugan.
"Hn." Itachi merespon.
"Berjalan santai memasuki pintu gerbang. Kira-kira lima menit lagi." Gumam Neji seolah mengerti maksud dua huruf yang terlontar dari bibir Rajanya.
"Raut tidak terima, terpaksa dan kesedihan. Samar-samar saja, jangan terlalu over-act." Perintah Sasuke menggunakan kalimat yang sedikit rancu.
"Ck. Ini sudah ke-30 kalinya kau mengingatkan kami dalam lima menit terakhir. Entah setan mana yang merasukimu, kau jadi lebih cerewet dari ibuku."
"Sstt.. Shika. Kita ini iblis. Tidak akan ada setan yang merasuki kita. Kau bagaimana sih?" bisik Kiba sambil menyikut pelan perut kekasihnya. sepertinya siluman anjing ini harus belajar tentang kata kiasan =_=
"Diamlah! Mereka sudah sampai." Semua yang berada di ruangan itu pun terdiam setelah mendengar instruksi dari Neji. Pemakai byakugan itu langsung me-nonaktif-kan byakugannya dan segera memasang wajah datar seperti biasa. Mereka bersiap untuk menjalankan rencana yang kemarin telah dijelaskan oleh Sang Pangeran.
Wajah Sasuke masih terlihat lebam. Sangat samar memang, tapi bagi mata seorang iblis, lebam sesamar itu akan terlihat cukup jelas. Sebenarnya ia bisa saja 'menghapus' bekas pukulan itu, tapi tentu saja ia menyisakan sedikit bekas pukulan kakaknya dengan tujuan tertentu.
'cklekkk'
Terlihat dua sosok iblis berbeda warna rambut berjalan memasuki sebuah ruangan luas dengan singgasana di sisi yang berlawanan dengan pintu masuk utama. Di belakang mereka terlihat empat iblis dengan wujud yang tidak biasa. Seorang wanita dengan rambut pink-kemerahan berantakan yang membawa seruling, seorang pria bertangan tiga pasang, seorang pria subur berambut orange serta pemuda emo berambut keperakan yang memiliki sebuah kepala lain di punggungnya.
"Hai." Sapa Sai sambil tersenyum sesampainya ia di depan para tuan rumah – seluruh anggota keluarga Uchiha, keempat pengawal kepercayaan mereka dan pasangan MinaKushi.- yang berdiri menyambut kedatangan rombongan Danzou yang seolah tidak diharapkan
"Hn."
"Bagaimana kabarmu?" senyum itu masih menghiasi bibir pemuda berbibir jont – maksudku 'seksi'. (pengetik diacungi golok sama Sai)
"Hn." Lagi-lagi gumaman seperti itu yang keluar dari bibir Sasuke. Sementara itu, keempat pengawal Sai yang notabene belum pernah bertemu Sasuke, saling bertukar pandang, seolah berkata 'dia bicara apa?'
"Sudah mandi?"
"Hn." Sang Pangeran masih mencoba mempertahankan martabatnya, walau tak dipungkiri batinnya tengah ber-sweatdrop ria mendengar pertanyaan 'mengagumkan' seperti ini. For Jashin's sake, ada orang yang lebih 'dobe' dari Dobe-nya.
"Um.. Bisakah kau menjawab selain dengan 'hn'? Aku tidak tahu apa artinya 'Suke."
"Kalau Naruto ada disini, dia pasti bisa mengartikannya. Walau Pangeran tidak melakukan apa-apa, dia pasti tahu apa yang Pangeran maksud. Begitu saja kau tidak mengerti.. Masih nekat ingin menikah dengannya, eh?" sahut Kiba dengan nada sinis.
"Kau ini merepotkan." Shikamaru membekap mulut 'anjing' kesayangannya, tanpa sedikitpun rasa bersalah, tanpa menghilangkan wajah mengantuknya, seolah dia memang diciptakan dengan wajah malas yang menawan (?)
"Kurasa sudah cukup main-mainnya." Pria setengah mumi yang sedari tadi diam itu maju dua langkah. Ditatapnya wajah datar pemuda emo berambut pantat ayam.
"Bagaimana keputusanmu Sasuke-sama?" ucap Danzou cukup jelas dengan memberikan penekanan pada kata '-sama'
"Hn." Sasuke memejamkan mata dan dengan santainya duduk di singgasana kakaknya. Itachi menghela nafas, 'Seenaknya dia duduk di kursiku!'
"Jangan memanggilku seperti itu." Menyilangkan kakinya, masih memejamkan mata. Sebenarnya Fugaku sendiri bingung dengan apa yang dilakukan putra bungsunya, tapi ia lebih memilih diam ketimbang mengambil resiko menggagalkan rencana Sang Uchiha Terpilih.
"Ck.. kau minta aku memanggilmu bagaimana? 'Tuan Putri', eh?" Danzou mendengus kesal. Semua yang mendengarnya – kecuali Sasuke dan Sai.
"Sebenarnya Sasuke tidak berbicara padamu, Danzou." Gumam Deidara tanpa mengalihkan pandangannya dari putranya. Ia yang sering bersama Naruto dan mendengar banyak cerita tentang SasuNaru dari bibir pemuda berambut duren itu tentu saja –sangat- memahami situasi ini. Sasuke tidak suka ada yang memanggilnya seperti itu – selain Naruto tentunya.
"Kau," Pangeran membuka kelopak matanya, menampakkan iris sewarna darah dengan tiga koma yang bertengger manis mengelilingi pupilnya yang tajam.
" – sekali lagi kau memanggilku begitu, kubunuh kau!" sambung si pantat ayam dengan nada yang turun tiga oktaf.
"Shika?" bisik Kiba sambil menarik-narik lengan kekasihnya.
"Sepertinya ada kaitannya dengan Naruto. Huh, mendokusei.." gumamnya seolah mengerti maksud dari panggilan mesra (?) si anjing imut.
"Menurutmu yang mana?"
"Entahlah Neji. Aku tidak mendengar kata 'teme' disini." Gumam Gaara masih dengan wajah datar.
Tidak ada suara yang keluar dari bibir Sasuke setelah itu. Ia menunggu respon dari tersangka yang telah merusak moodnya. Sementara yang lain masih sibuk mencari-cari tersangka yang membuat Sang Pangeran menjadi begini.
"Sasuke bicara padamu, Sai. Dia tidak suka caramu memanggilnya." Deidara berjalan mendekati adik iparnya, kemudian berdiri disampingnya. Hideo yang berada di gendonganya pun seakan mendukung perkataan sang Kaa-chan tercinta dengan cara bersin-bersin (?) (pengetik maksa banget =,=)
"Hanya Naruto yang boleh memanggilnya 'Suke', apalagi 'Teme'. Sekali saja kau memanggil Sasuke dengan 'Teme', kau akan berakhir di rumah duka." Senyum puas bertengger manis di bibir Sang Ratu. Kata-katanya terlalu hiperbola, memang. Tapi itu cukup menunjukkan betapa tidak sukanya Sasuke pada kedua kata yang terdengar nista bila terucap bukan dari bibir kekasihnya.
'Ya ampuuun.. Dei-nii tahu banyak tentang aku dan Dobe! Apa saja sih yang dia ceritakan padanya? Bocah rubah itu benar-benar tidak bisa menjaga privacy!'
Ohh.. Betapa jengkelnya Sasuke saat mengetahui bahwa bibir manis Naruto telah menceritakan banyak hal tentang dirinya. Hal yang harusnya bisa menjadi rahasia kecil yang romantis antara ia dan sang Dobe, ternyata dengan mudahnya bisa diketahui kakak iparnya. Tapi ia juga bersyukur karena ia tidak harus mengalunkan nada merdu dengan suara baritone-nya hanya untuk menjelaskan hal seperti ini kepada si bibir jontor.
Sai terdiam, menundukkan kepalanya dalam. Hatinya terasa sakit saat pendengar perkataan Deidara, serta reaksi dari Sasuke – yang langsung me-nonatifkan sharingan-nya – setelah pemuda berambut pirang panjang itu menyelesaikan kalimatnya. Sebegitu sukanya kah Sasuke pada Naruto? Akankah penolakan yang ia dapat hari ini?
"Sudahlah! Katakana saja kepada kami, apa keputusanmu?" Danzou mencoba menutupi perubahan sikap putranya yang tiba-tiba menghapus senyum dari wajahnya. Tapi tentu saja hal ini sia-sia. Semua sudah menyadari perubahan sikap Sai.
"Aku terima." Gumam Sang Pangeran cukup jelas.
Pemuda emo berambut cepak itu mendongakkan kepalanya, memicingkan mata, menatap si pemuda pantat ayam yang dengan santainya membolak-balik moodnya.
"Bisa kau ulangi sekali lagi?" pinta Sai antusias. Matanya berbinar mendengar ucapan pujaan hatinya itu.
"Aku terima tawaranmu."
'grepp'
"Hn. Lepaskan aku." Ucap pemuda berkulit alabaster itu saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh si kulit sepucat mayat.
"Bukannya ki –"
"Aku tidak mengijinkanmu untuk menyentuhku." Sasuke melepas paksa pelukan Sai, ia berdiri dan 'melempar' Sai hingga ia kembali ke tempatnya berdiri – disamping pria bangkotan setengah mumi.
"Besok lusa. Pukul delapan pagi. Disini. Aku tidak menerima keterlambatan. Dan aku ingin kau memberikan penawar itu kepadanya, didepanku." Kalimat rancu yang sangat dimengerti oleh semua yang hadir disini.
"Ok. Setelah upacaranya selesai, akan kubawa bocah itu kemari."
"Satu lagi," onyx Sang Pangeran menatap tajam pemuda sepucat mayat, "Aku sama sekali tidak menyukaimu." Lanjut Sasuke santai. Ia langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan orang-orang yang heran dengan perkataan terakhirnya ini – kecuali pemuda Nara dan Namikaze senior tentunya.
"Kurasa itu cukup. Sai! Ayo kita pulang."
Sai menatap ayahnya dengan sorot protes. Ia masih ingin bersama calon suaminya. "Tapi ayah …"
"Kau harus menyiapkan dirimu, ingat?"
"Ok deh…" walauapun sedikit kecewa, pemuda berbaju dengan lengan yang tidak sama panjang itu mengikuti ayahnya yang berjalan meninggalkan ruang utama, tanpa sedikitpun berpamitan kepada si empunya rumah. Dasar calon mantu ga tau diri!
Neji langsung mengaktifkan byakugan-nya, memantau kepergian mereka berdua sekaligus memastikan bahwa mereka tidak meninggalkan satupun 'benda' (pengintai) di ruangan ini.
"Ruangan ini aman."
"Haahh… Aku tidak habis pikir. Kenapa Pangeran malah mengucapkan hal seperti itu sebelum ia pergi?" wanita berambut merah yang sedari tadi diam itu berbisik di telinga kiri suaminya. 'aku tidak menyukaimu' merupakan kalimat yang tidak pernah diucapkan oleh seseorang kepada calon mempelainya sebelum menikah. Yah… walau Kushina tahu sih kalau Sasuke hanya mencoba mengungkapkan isi hatinya.
Minato membelai lembut kepala istrinya, "Dia hanya mencoba terlihat 'biasa'. Percayalah padanya." Pria berambut secerah matahari itu tersenyum.
"Itachi. Cepat cari adikmu. Aku merasa khawatir." Sentuhan lembut di bahu kanan Sang Raja membuyarkan lamunannya tentang imajinasi nistanya. 'Sasuke + Sai = ?' sungguh sangat nista =,=
"Baiklah Kaa-san. Kurasa aku tahu dia dimana."
Itachi mulai berjalan meninggalkan ruangan yang sebentar lagi akan diubah menjadi tempat berlangsungnya pernikahan sang adik. Seperti saat ia menikah dengan Deidara dulu, tepat di singgasana Raja yang tadi Sasuke tempati akan berubah menjadi altar pernikahan, tempat Sang Pangeran mengucap janji setianya.
"Itachi." Pengendali tanah liat bermata biru itu menarik lengan suaminya, " – cobalah untuk menahan amarahmu."
-chu-
Kecupan lembut diberikan Itachi kepada sang pendamping hidup, juga kepada jagoan kecilnya, "Aku tahu apa yang harus kulakukan di saat seperti ini."
"Tenang saja manis… Tou-san tidak akan membiarkanmu melihat pamanmu yang berwajah bodoh seperti ini. Kau harus melihat betapa kerennya pamanmu." Telapak tangan Itachi mengusap pelan kepala putranya. Akhirnya ia mengakui kalau Sasuke –dulu- memang keren.
Setelah puas membelai kepala jagoan kecilnya, Itachi melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang dicurigai sebagai tempat Sasuke berada saat ini – kamar Sasuke.
Sesampainya di depan sebuah pintu besar – yang bagi Itachi terlihat lebih gelap dari pada warna hitam – ia langsung menghela nafas dan mempersiapkan diri untuk melihat keadaan sang adik.
"Otou –"
"Sejak kapan kau harus meminta ijin sebelum memasuki kamarku?" sahut suara datar dari balik pintu suram itu sebelum pemuda berkeriput halus menyelesaikan kalimatnya. Itachi pun menghela nafas untuk yang kedua kalinya, kemudian langsung memasuki kamar adik kesayangannya tanpa harus repot membuka pintu.
Itachi –sedikit- terkejut saat memasuki kamar adiknya. Ini sungguh berbeda dengan 'kamar Sasuke' yang ia masuki tiga bulan yang lalu. Kamar yang dulunya bernuansa 'hanya dongker' kini terlihat sedikit ceria dengan hadirnya beberapa perabot kecil berwarna orange. Sebagian dari perabot itu adalah benda berbentuk rubah – lampu tidur, gantungan baju dan piyama (?) Sejak kapan adiknya memakai barang-barang seperti itu?
"Itu punya Dobe. Dia tetap saja ngotot menginginkan barang-barang itu. Dia tidak percaya bahwa semuanya bisa kulakukan dengan menjentikkan jari." Gumam sosok yang tengah duduk diatas kasur king size itu. Ia terlihat tengah menundukkan kepalanya.
"Dia bilang warna orange sangat cocok dengan warna dongker. Menurutmu bagaimana?" lanjut Sasuke tanpa memedulikan kakaknya yang kini telah berdiri tepat di hadapannya.
"Selera kekasihmu memang sangat unik." Gumam Itachi, memegang erat pundak adiknya, membuat Pangeran yang sering dijahilinya itu mendongakkan kepalanya, memperlihatkan matanya secara tidak sengaja.
Sang kakak tersenyum, menarik tubuh sang adik dalam sebuah pelukan hangat. "Menangislah.. Kau membutuhkan itu."
Bahu pemuda super arogan itu mulai bergetar. Usakan-isakan kecil mulai terdengar. Mata yang tadi terlihat membendung butiran Kristal cair itu nampaknya mulai memuntahkan kristalnya sedikit demi sedikit.
"Kau menyesali keputusanmu?" gelengan lemah terasa oleh Itachi.
"Kau merindukannya?" Utachi tak merasakan apapun di dadanya. Benar kan, Sasuke merindukan Naruto?
"Sebentar lagi akan bertemu kan?" Itachi tersenyum miris. Ia mendudukkan dirinya di sebelah si bungsu, tanpa sedikitpun melepaskan pelukannya.
Hening menyelimuti mereka. Itachi membiarkan adiknya menikmati 'kesedihan' yang dirasakannya. Kadang-kadang, seorang iblis pun perlu menangis. Tiba-tiba gelengan pelan dirasakan Itachi. Membuatnya sedikit mengeryitkan dahi. Sasuke menggeleng unuk pertanyaan yang mana?
"Aku tidak bisa membayangkan semua yang akan terjadi nanti. Dia pasti sangat terluka." Sasuke membalas ragu pelukan kakaknya.
"Aku tidak bisa membayangkan saat aku bertemu dengannya nanti. Dia pasti menangis. Dan saat itu aku tidak bisa berada disampingnya dan memeluknya sambil mengucapkan 'semua akan baik-baik saja' karena pada kenyataannya semua tidak dalam keadaan baik-baik saja."
Begitukah?
Sasuke menangis 'hanya' karena hal seperti itu? Sungguh aneh memang…
Tapi adiknya yang sangat tampan ini memang sulit ditebak.
"Padahal, dulu aku yang mendatanginya. Seenaknya memilih dia sebagai calon pasangan hidupku dan membuatnya menyukaiku." Itachi mengeratkan pelukannya.
"Aku yakin.. Saat itu dia masih sangat polos dan belum mengerti apa-apa. Tapi dia menjaga janjinya sampai saat itu… Saat aku datang dan menjemputnya secara paksa. Dan dia masih tetap manjaga janjinya sampai saat ini. Sementara aku –"
"Keluarkan semuanya Otouto. Bagi kesedihanmu itu padaku." Setetes cairan bening meluncur mulus dari sudut mata kiri Itachi. Ia dapat merasakan perasaan Sasuke saat ini. Pemuda dalam dekapannya ini sedang merasa sangat 'takut'.
"Berjanjilah Aniki. Saat semuanya berjalan tidak sesuai rencana…" Sasuke melepaskan pelukan Itachi. Matanya menatap tajam Raja Night Kingdom itu.
Sasuke menghela nafas sekali, " – bunuh aku!"
.
.
"Tersenyumlah sedikit. Kau terlihat sangat jelek." Keluh Danzou kepada anaknya. Sejak keluar dari istana Night Kingdom, calon mempelai dari iblis berinisial US ini tak menunjukkan sedikitpun senyum. Ucapan-ucapan narsis pun tak terdengar.
"Ayah.. Dia tidak menyukaiku… Hiks.."
Danzou menghela nafas, ini pertama kalinya ia melihat putra kesayangannya itu tidak melakukan hal-hal memalukan seperti biasa.
"Danzou-sama, apa keputusan yang diambil Pangeran itu tidak terlalu aneh?" iblis wanita berambut pink kemerahan menyejajarkan langkahnya dengan si pria berbalut perban. Mata coklat tajamnya menatap lurus ke depan.
"Kurasa tidak. Bagaimana menurutmu Tayuya?"
"Sedikit mencurigakan…" gumam iblis yang dipanggil 'Tayuya' itu. Entah mengapa insting wanitanya mengatakan bahwa ini sedikit aneh.
"Kau tidak melihat lebam di wajahnya? Seseorang pasti memukulnya saat ia mengutarakan keputusan yang diambilnya." Danzou menghentikan langkahnya, menatap tajam Tayuya. Ia tidak ingin rencana Orochimaru plus impian Sai untuk menikah dengan Sasuke gagal begitu saja. Hei bung! Tayuya hanya memberi pendapat -,-
"Ha – Ha'i!" gagap iblis wanita itu. Sungguh ia tidak mau kehilangan pekerjaannya. Jadi diam adalah pilihannya untuk saat ini.
"Ayah…" panggil Sai yang berada beberapa langkah di depan Danzou. Pria bangkotan tua itu pun melanjutkan lagi langkahnya, menyusul pemuda berbibir seksi.
"Masih untung kau mengatakan itu di depan Danzou-sama, kalau kau mengatakannya di depan Orochimaru-sama, kau pasti sudah mati…" gumam seorang bertubuh subur di belakang Tayuya, membuat wanita itu menghela nafas untuk ke sekian kalinya.
"Merasa baikan?" Tanya Danzou setelah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Sai.
Pemuda bermata onyx yang sering dijuluki 'Sasuke wanna be' itu melirik ayahnya sekilas, "Sasuke bilang dia tidak me –"
"Kau harus mengingat pepatah Yunani Kuno." Senyum nista terukir di bibir kering si 'mummy wanna be'.
"Pepatah? Yang mana?"
"Witing tresno jalaran seka kulino."
"Uhuhkk…" pepatah 'Yunani Kuno' yang diucapkan Danzou itu sukses membuat Sai dan keempat pengawalnya tersedak ludah sendiri dalam waktu yang hampir bersamaan. Sejak kapan kalimat seperti itu berasal dari bahasa Yunani?
"Apa? Kalian tidak tahu apa artinya?" Danzou mengeryitkan dahinya. Anak muda jaman sekarang memang tidak tahu yang namanya budaya. Sungguh ironis.
"Suka itu ada karena terbiasa.. Begitu." Danzou tersenyum bangga.
Sementara sang ayah memberikan pelajaran singkat kepada keempat pengawalnya, Sai sibuk merapalkan kalimat 'witing tresno jalaran seka kulino.. witing tresno jalaran seka kulino…' berulang kali. Dan secara ajaib, ia mulai senyum-senyum sendiri.
"Ayah benar! Sasuke pasti akan mencintaiku…" senyum nista kembali terukir, gerak-gerik tubuh pemuda berambut hitam cepak itu pun mulai kembali seperti biasanya.
"Bye byecycle.. aku duluan yah.. Akan kuberi tahu bocah Kyuubi itu kalau lusa aku akan menikah." Sai memberikan kissbye terbaiknya kepada kelima orang yang tengah berdiskusi di belakangnya, membuat mereka berlima muntah berjamaah.
Tanpa memedulikan reaksi kelima iblis – yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai aksi pelecehan – itu pun langsung berlari-lari kecil sambil sesekali berjingkat riang.
Yang ditinggalkan pun hanya bisa ber-sweatdrops ria sambil bergumam 'moodnya cepat sekali berubah…'
.
.
"Apa sih? Aku tidak bisa menggunakan sihir atau apalah itu namanya! Tanganku diikat Om!" gerutu seorang pemuda yang kekasihnya sebentar lagi akan menikah dengan orang lain.
"Fokuskan pikiranmu… Kubilang fokus! Kau ini benar-benar tidak berguna. Dasar bocah!" sahut sebuah suara lain yang hanya bisa didengar oleh bocah pirang yang tengah terikat itu. Sejak beberapa jam yang lalu, suara yang mengaku bernama 'Kyuubi' itu memberikan instruksi-instruksi yang diharapkan dapat membuat Naruto mengendalikan sihir dan menggunakan tenaga dalamnya.
"Gaaahhh! Kau ini benar-benar om-om cerewet!" dan tentu saja hasilnya nihil. Naruto benar-benar tidak tahu cara menggunakan sihir dalam keadaan seperti ini.
"Seharusnya kau menghancurkan daun pemberian kekasihmu itu. Bukannya malah tidur."
"Aku tahu Om… Seharusnya." Air muka Naruto berubah saat mendengar kekasihnya disebut. Beberapa saat yang lalu, Kyuubi baru saja menceritakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi saat dia pingsan. Kyuubi tentu saja mengetahui hal ini.
.
"Pikirkan apa yang kau inginkan. Konsentrasi Dobe.. Fokuskan pikiranmu…"
"Kau akan merasakannya saat kau mendapatkan apa yang kau inginkan… Lakukan perlahan. Jangan terburu-buru."
" – sudah kubilang, konsentrasi dan fokuskan pikiranmu. Saat kau sudah terbiasa nanti, melakukan sihir itu serasa seperti bernafas."
.
Kalimat-kalimat yang pernah diucapkan Sasuke itu terngiang kembali di kepala Naruto.
Wajah Sasuke yang tengah tersenyum..
Gerutuan sang kekasih yang tengah kesal…
Kilatan mata merah saat kekasihnya itu marah…
"Aku harus bisa melakukannya!" kelopak mata itu terpejam, Naruto mulai fokus lagi untuk mengendalikan tenaga dalamnya.
"Hentikan bocah.. Ada yang datang!" perintah Kyuubi saat merasakan aura iblis mendekat.
"Sai." gumam Naruto yang juga menyadari kedatangan si Sasuke wanna be. Ia pun menghentikan aksinya, kemudian berpura-pura tidur, menunggu kedatangan Sai. Bersiap menerima kabar buruk yang kemungkinan besar akan dia dapatkan.
"Ghhh…." Rintih pemuda pirang itu saat dirasakannya benda tajam menusuk lehernya. Ia pun membuka mata perlahan.
"Halo.. Apa kabar manis?" Sai tersenyum, ia menarik sesuatu yang tadi ia tancapkan di leher Naruto.
"Kuberikan kau sedikit penawar lagi. Karena aku sedang senang…." Jemari pucat Sai menelusur tulang pipi Pewaris Namikaze itu.
"Aku heran.." sapphire Naruto manatap Sai dengan tatapan yang meremehkan. " – kau menyukaiku atau apa?" senyum mengejek terukir di bibir Naruto.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!" teriak sebuah suara di kepala Naruto. "Harusnya kau melakukan hal yang membuatnya cepat pergi dari sini. Bukan malah memanas-manasi si jontor itu."
'Diam rubah! Kau perhatikan saja.' Batin Naruto membalas suara yang hanya bisa didengar olehnya itu.
"Menerutmu aku menyukaimu, eh? Hahaha lucu sekali.." Sai tertawa canggung.
"Benarkah?" Naruto menghela nafas.
"Menyamar sebagai Teme dan berusaha menciumku…"
"Memanggilku dengan sebutan 'manis' dan …"
Bibir pemuda berkulit tan itu menyunggingkan seringaiannya yang mengerikan, " – kau sering sekali membelai pipiku. Sebegitu menarikkah aku bagim –"
'buaghhh!'
"Tutup mulutmu!" Sai membalikkan badan, membelakangi Naruto.
"Aku hanya ingin memberi tahu satu hal. Lusa aku akan menikah dengan Sasuke." Ia pun berjalan keluar dari sel itu, melewati kelima teman Naruto yang masih saja mematung. Sai bergegas meninggalkan tempat ini, sesuatu membuatnya berkeringat dan merasa tidak nyaman di tempat ini. Yang ditinggalkan hanya menampakkan ekspresi yang sangat biasa, ia sudah sangat siap untuk berita seperti ini.
"Si – sial! Kenapa aku berdebar menghadapi bocah kampret itu sih…." runtuk Sai pelan saat ia berjalan menaiki tangga. Sayangnya kalimat ini masih bisa didengar oleh Naruto.
Bocah pirang itu terkikik geli. Rencananya untuk 'menggoda' Sai berhasil.
"Kau memanfaatkan pesona uke yang kau miliki.. Dasar bocah."
"Ehehe… Hwahahahahahah… Kau lihat kan Om wajahnya? Dia lucu sekali/" Naruto tertawa terbahak setelah tak lagi merasakan aura iblis di sekitarnya – kecuali auranya sendiri tentunya.
"Hahahah… Dia langsung pergi kan Om? Kubilang perhatikan saja apa yang kulakukan. Ehehh.. Aduh perutku sakit.."
"Lihat bocah! Kau bahkan lebih hebat dari yang kukira!"
'Dhegg'
Naruto seakan melihat sesuatu dalam dirinya tengah menyeringai. 'Yang barusan itu – apa?' tawa terbahak itu pun terhenti seketika.
"Bukan hanya menyadari aura iblis, kau juga tahu siapa pemiliknya."
Naruto masih terdiam, masih kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kau sudah bisa melihatku, bocah?" kali ini mata sapphire itu seakan menangkap kilatan mata tajam berwarna merah.
"Itu… Om Kyuu?" mata Naruto menelusur setiap jengkan ruangan ber-sel baja yang ia tempati. Nihil! Sesuatu yang dilihatnya tadi tidak ada di ruangan ini.
"Kubilang, aku adalah dirimu. Aku ada didalam dirimu." Gerutu suara itu.
Susah payah Kyuubi melatih 'wadah' bagi dirinya, namun hasilnya nihil. Dan secara mengejutkan, bocah pirang yang dianggapnya gagal itu bisa menggunakan 'indra penciumannya' dengan sanggat baik. Bahkan ia pun kalah dalam hal ini. Bocah ini memang penuh kejutan… kekuatan yang masih labil itu bisa muncul secara tiba-tiba.
"Terserah kau sajalah Om. Aku mau tidur."
"Begitu? Kau lebih memilih untuk tidur daripada keluar dari sini?" lagi-lagi mata Naruto seakan menangkap seringaian yang sama seperti tadi.
Naruto terdiam. Matanya terlihat sangat lelah dan Kyuubi tentu saja menyadari hal itu.
"Baiklah… Kau boleh tidur sebentar." Kyuubi menghela nafas. Bagaimanapun juga, ia bisa repot kalau bocah bernama Naruto ini sampai collapse (lagi). Karena tanpa Naruto sebagai 'pelaku', Kyuubi tidak bisa menggunakan sihirnya – setidaknya 'belum' untuk saat ini.
"Om.."
"Hmm?"
"Sejak kapan kau berada di tubuhku?" gumam Naruto setengah sadar. Matanya mulai terpejam tapi jiwanya belum juga terlelap (?)
"Sejak sebelum kau lahir." Kyuubi menjawab asal.
"Kenapa memilihku? Bukan ayahku atau Tsu.. Tsun siapa itu?" otak Dobe sang uke idaman mencoba mengingat sebuah nama yang ia dapatkan saat ia menguping pembicaraan Danzou tempo hari.
"Tsunade." Sahut Kyuubi. Ia sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan untuk pertanyaan ini. Ingat kan kalau Naruto itu ber-otak Dobe? Om Kyuubi tentu harus hati-hati menjelaskannya.
"Ya. Tsunade."
"Sejak awal. Namikaze sudah memilikiku di dalam diri mereka. Tapi…" lagi-lagi Om Kyuu berfikir keras. Apa yang harus dia katakan kepada Naruto. Ia terdiam, hampir selama lima menit – demi mendapatkan jawaban yang tepat.
"Huhh! Kau ini lemah. Jadi aku harus menjagamu." Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari bibir bergigi super tajam itu.
"Hahahah… Kau dengar bocah! Kau itu lem –" rubah api itu memotong kalimatnya sendiri. Bukankah ini terlalu sepi?
Ia pun 'menengok' keadaan Naruto. "Harusnya aku tahu kalau bocah ini sedang tidur… Seharusnya aku tidak perlu repot-repot memikirkan jawaban itu."
"Haahhh… Kuberi tahu ya bocah. Aku memilihmu karena aku membutuhkanmu, bukan kau yang membutuhkanku. Dengar?" lagi-lagi menghela nafas. Faktanya adalah bahwa Kyuubi akan 'mati' bila ia berada bukan di dalam tubuh Namikaze.
Kyuubi sudah mengetahui kelahiran Naruto, bahkan jauh sebelum Minato bertemu dengan Kushina. Itu yang membuatnya bersabar untuk menunggu kelahiran baby Naru. Seorang iblis yang kekuatannya mampu menyamai kekuatan Kyuubi sendiri.
"Kurasa kita memang harus bertemu dan aku harus mengatakannya padamu. Berbohong bukan keahlianku." Gumam Kyuubi sebelum ia 'menyusup' ke alam lain.
.
.
"Dimana ini?" gumamku tanpa sadar saat aku mendapati diriku berada di sebuah lorong besar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
'Gelap… Aku butuh lilin.' Batinku sesaat sebelum secara tiba-tiba muncul obor-obor di tembok sebelah kiri, menuntunku kedalam sebuah ruangan besar berdinding keemasan – yang entah mengapa terasa nyaman.
"Selamat datang, bocah."
Suara ini… Om Kyuubi. Apa dia yang membawaku kemari?
"Aku tidak menyangka kau sampai di tempatku secepat ini. Kupikir kau akan membutuhkan waktu lebih dari lima menit, atau malah tersesat, mungkin?" Ucapnya santai. Aku bisa mendengar suara Om Kyuubi dengan sangat jelas di ruangan ini.
"K – Kyuubi?" mataku terbelalak, tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak. Aku melihat sesosok makhluk mengerikan berwarna orange tua. Kedua bola matanya terlihat sangat tajam, sama seperti mata yang seakan pernah kulihat. Bibirnya menyunggingkan seringaian mengerikan.
Makhluk itu bertubuh sangat besar. Kuku-kukunya tajam dan… ia memiliki Sembilan ekor? Tidak salah lagi, ia adalah rubah berekor Sembilan – atau yang biasa ku panggul Om Kyuubi.
"Jadi.. Ini wujud aslimu?" mataku masih membulat namun tubuhku sudah bisa digerakkan.
"Kau terlihat sangat…"
"Kau takut padaku, bocah?" ia menyentuh kepalaku dengan kaki depan sebelah kanan.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menger –"
" –Keren!"
Hei! Om Kyuubi kenapa sih? dia seakan tersedak ludahnya sendiri saat melihat mataku yang berbinar dan juga mendengar kata 'keren' terucap dari mulutku.
'Sial! Kupikir dia takut padaku.' Kudengar suara Om Kyuubi. Siapa yang bicara? Bibir rubah itu sama sekali tidak bergerak. Mungkinkah..
"Kau memikirkan sesuatu Om?" tanyaku sambil memperlihatkan kerlingan menggoda.
'Aku lupa kalau bocah ini adalah diriku juga.' Om Kyuu menghela nafas, dibarengi dengan suara tanpa gerakan bibir yang kucurigai sebagai Om Kyuu yang sedang bicara dalam hati.
"Baiklah… Kuberi tahu sesuatu kepadamu. Kau dan aku adalah satu." Aku mengangguk pelan. Rubah api yang menurutku sangat keren ini sedang ingin mengajariku sesuatu.
"Dan aku. Hanya bisa 'hidup' di dalam dirimu." Aku mengeryitkan dahi. Rubah ini ngomong apa sih?
"Intinya, Aku adalah kekuatan yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga Namikaze. Tapi aku tidak bisa 'hidup' seperti ini di dalam tubuh mereka."
"Kok?" tanyaku dengan kata yang sangat nanggunbg.
"Mereka tidak cukup kuat untuk 'menghidupkanku'. Mengerti?"
Aku mengangguk tiga kali. "Dalam diri ayahku dan para Namikaze sebelumnya, kau hanyalah um… semacam tenaga dan kemampuan yang mereka miliki, tapi di dalam tubuhku, kau adalah seorang iblis dengan wujud yang nyata."
Rubah raksasa itu mengagguk. 'Bocah ini pintar juga ternyata…' pikirnya.
"Sial!" gerutuku kesal. Ia pun menunjukkan cengirannya seakan berkata 'maaf'.
Aku pun menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Kau ingin keluar dari sel bau itu kan?"
"Kurasa kau tidak perlu menanyalkan hal itu. Kau tahu betul apa yang kuinginkan."
"Berjanjilah padaku satu hal." Mara crimson tajamnya menatapku lekat. Sorotnya sedikit aneh. Apakah ia mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?
"Sesuatu yang akan terjadi." Gumamnya seakan menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat kupikirkan.
"Setuju."
"Berjanjilah untuk 'membawaku' kemanapun kau pergi."
Aku mengeryitkan dahi, "Memangnya aku akan pergi kemana? Tentu saja aku akan selalu bersamamu. Kau adalah diriku, ingat?"
Rubah itu tersenyum miris. Hei! Itu sangat tidak cocok dengan muka sangarnya yang keren itu.
"Kau tenang saja…" aku melompat cukup tinggi, kemudian berdiri di moncongnya. Kutatap mata crimson itu lekat.
"Aku tidak akan membiarkan ular sialan itu mengambilmu dariku." Kedua tangan tan-ku mengelus pelan dahi rubah api yang sangat keren ini. Rubah memang sangat keren!
"Janji?" matanya kembali menajam, mencoba mencari kepastian dari diriku.
"Janji." Aku 'memeluk' Om Kyuu erat. Aku tidak ingin mengingkari janjiku sendiri. Akan kutunjukkan pada monster jontor itu bahwa aku bukanlah uke lemah yang tidak pantas bersanding dengan Sasuke.
"Meskipun kau meninggalkan Dunia Langit, kau akan tetap membawaku." Aku mengangguk pelan dengan sedikit rasa penasaran yang mengganjal di hati. Nada bicara Kyuubi tidak sama seperti biasanya.
"Baiklah! Aku akan melatihmu mmengendalikan tenaga dalam."
Aku mengeryitkan dahi, 'Disini? Di ruangan yang tidak kukenal ini?'
"Tentu saja. Dan ini bukan tempat aneh. Ini adalah 'rumahku'." Om Kyuubi berjalan pelan, membawaku yang masih berada di moncongnya menuju tengah ruangan.
"Turunlah. Kita akan mulai." Dengan semangat empat lima, aku pun langsung melompat dan berdiri di pusat gambar spiral yang hampir sama dengan tanda lahir di perutku.
'Tidak! Ini bukan hampir sama. Ini benar-benar sama.'
"Duduklah." Perintah Kyuubi dengan nada datar. Sama seperti nada bicara kekasihku,Uchiha Sasuke.
Aku pun duduk bersila di pusat spiral itu. Kulihat Om Kyuu tengah menatapku sambil menyeringai.
'Tunggu! Ada yang tidak beres. Seringaian itu…'
"Hei! Apa yang ingin kau lakukan? Hei!"
'WOOOSSHHHHH'
Tiba-tiba ada api besar yang mengelilingiku. Kobarannya terasa sangat panas, memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Apa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang Om Kyuu lakukan padaku?
.
.
Tbc
.
.
Ahh selesai juga chapter 10 ini.
Semoga cukup menghibur :D
Di scene ItaSasu itu, Kyuu pengen menggambarkan kalau Sasuke itu susah banget mengungkapkan isi hatinya, tapi Itachi tetep berusaha ngertiin dan mendukung dia.. (setelah mendengar penjelasan dan melihat keyakinan di mata Sasuke tentunya)
Disamping itu, Kyuu juga pengen bikin readers memahami penyebab Sasuke bersikap kaya' gitu… Susah banget ternyata
Sasu: Udah dua kali ini lu bikin gue ber-akting memalukan plus dipeluk-peluk sama si keriput itu! Sekali lagi lu macem-macem, gue injek 'masa depan' kebanggaan lu! Nyahahahahhh! *ketawa nista ala hiruma
Kyuu: maap deh bang… maap lair batin aje ye. Jangan injek itu ye… *muka melas
Sementara itu, si tersangka pelaku pemelukan tengah tersenyum bahagia karena mendapat kesempatan memeluk otouto manis kesayangannya.
.
. Ahahah… Kita bales review aja yah :D
.
ttixz lone cone bebe: iyah.. itachi emang ganteng
Dei: Berani lu sama gue? Hahhh? Sini lawan gue *melotot sambil gendongin Hideo yang bengong liat emaknya
Ita: udah dong Say… gue dak bakal mau kok sama dia.. *nunjuk2 Kyuu pake jari tengah
Dei: maksud gue, berani-beraninya dia bikin gue punya anak segala! Gimana nyusuinnya coba! *itachi pundung di pojokan
I – iya deh… mereka ada yang musnah *kringet dingin
Sasuke emang tragis gitu. Chap depan ada yang lebih tragis kok. Nyahahahhhh
Dia emang pemikir hebat. Ga kalah sama Shikamacan :3 *padahal Kyuu yang muter otak :p
Trims dukungannya be-san
.
-vent: Terima kasih…
Kyuu juga setujunya sama SasuNaru. Tenang aja.. Kyuubi udah punya rencana kok.. Gak tau tuh kenapa Naruto malah dibakar. Dasar om-om bego! *pecutin Kyuubi pake lidi
Kyuubi: sialan lu! Gue kan Cuma nurut scenario *ngamuk2
Iya.. Adegannya memang mirip –sama malah- kaya itu. Kyuu pikir ngurung Naruto kaya gitu, keren sih. daripada yang di Naruto Shippuuden the movie 3 itu. Naruto jadi terkesan kaya orang gila yang harus dipakein baju pengekang.. Poor Naru
Untuk sakuranya.. Maaf yah. Sepertinya ga bisa. Tapi nanti Sakura ada tugas lain kok
Ohh iya. Kalau aku nulis pen-name senpai kok munculnya selalu Cuma buntutnya doang ya? '-vent' gitu… o_O'a
.
Blackwinx: gak apa kok.. udah ada yang mau baca aja, Kyuu udah seneng banget.
Terima kasih sarannya yah.. Akan Kyuu usahain
Ini udah apdet. Sekali lagi, terima kasih ^^
.
monkey D eimi: terima kasih doanya.., Kyuu udah merasa lebih baik.
Itu itu.. *nunjuk2 atas
Kyuubi malah nglakuin hal aneh sama Naru. Semoga tuh bocah ga mati aja :D
Semua penjahat emang aslinya pelawak sih… Eheheh :3
.
Hatakehanahungry: trims yah hana-san :D (kemaren manggilnya –san apa –senpai yahh *buaghhh) Kiyu udah agak baikan…
Kyuu udah muncul tuh? Keren ga? Menurut naru sih keren..
Aduh ini si Naru malah dimasukin ke api sama Kyuu
Besok dateng gak yah ke acara kawinannya SasuSai :3
Yang jelas Naru pengen keluar dari sel ini…
Itu nomer hape siapa o_O
Jangan2 punya rentenir ya :D *bletakkk
Yes! Ada yang suka sama kiyu :3
Rencananya sih sampe 13 ato 14. *kebanyakan ga sih?
Tapi kalo ada pertanyaan ato apa gitu yang harus dijelaskan lewat cerita, ya akan Kiyu usahain buat menampilkannya (otomatis chapnya nambah juga)
Menurut Hana-san, Kyuu harus gimana kalo ada kasus kaya gitu (lagi2 curhat :D)
.
Namikaze Trisha: kita liat nanti yah ^^
Kyuubi bantu nggak sih? itu dia malah ngelakuin hal aneh!
Dasar rubah.. *bisik2 biar Kyuubi ga denger
.
nanao yumi: terima kasih yumi-san..
Rencana Sasuke 97% akan berhasil, tapi kita lihat saja nanti ^^
Di chap ini Kyuubi muncul lagi, ketemu langsung malah sama Naruto
Bantu ga ya? si Kyuubi malah ngelakuin hal aneh gitu..
Menurut yumi-san gimana? Heheh
Trims dukungannya yah.. ini udah apdet
.
sasunaru4ever: yupp… ini tbc lagi :D
ga telat kan ini?
Terima kasih dukungannya :D
.
Meg chan: Sasu emang bodoh! *bisik2 biar ga kena gamprat
Ini udah apdet… makasih yah ^^
.
Ashahi Kagari-kun: I – ini dia malah berada da – dalam bahaya.. merinding disko liat golok di tangan asha-san
Sasuke emang bodoh. N disini dia OOC lagi :D
Semoga suka :3
Kyuu –sebenernya- juga ga terima kalo mereka sampe merit.. Hiks
Terima kasih yah
.
Ahhh… selesai juga :D
Ini pertama kalinya Kyuu apdet siang bolong gini :3 (gara2 ada 2 readers yang ngacungin Kyuu golok :p)
Semoga suka :D
Kyuu mewakili all Chara mengucapkan
Selamat Lebaran
Mohon Maaf Lahir Batin
.
Akhir kata
Review Please
