" – Apakah Kau, Uchiha Sasuke, bersedia untuk setia kepada Sai. dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun bla bla …" Sasuke menghela nafas untuk yang terakhir kalinya.

" – apakah Kau bersedia?"

"Aku –"

"Ada yang datang!" pekik Neji dan beberapa lainnya. Aura yang mereka rasakan sangatlah kuat. Begitu panas dan seakan ingin membunuh mereka semua yang ada disini.

'GLAARRRRRRR!'

"SA-SU-KEEEEEE!"

'Zzaashhhhhhhh… Buaghhhh!'

"BRENGSEK!"

.

.

Night Kingdom

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story "Night Kingdom": KyuuRiu

Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing

Pair : SasuNaru

ItaDei

SasuSai

ItaSasu (?)

FugaMina (?)

NejiGaa

ShikaKiba

.

Rated: T

Warning: abal, jelek, geje, typo, mis-typo, semuanya gak banget :3

.

Chap 12: The Rise of Kyuubi Power

.

.

Kyuubi menyeringai melihat Naruto mematuhi perintahnya untuk duduk di pusat gambar spiral. Matanya menajam dan disekeliling tubuhnya menguar sesuatu yang berwarna kemerahan.

"Hei! Apa yang ingin kau lakukan? Hei!"

'WOOOSSHHHHH'

Tiba-tiba ada api besar yang mengelilingi tubuh pemuda pirang bermata sapphire. Kulit tan Naruto merasakan hawa panas yang seolah ingin membunuhnya.

'Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Om Kyuu lakukan padaku?' pekik Naruto dalam hati. Mata birunya kini memantulkan cerminan orange-kemerahan dari api di sekelilingnya.

"Tenanglah bocah. Aku akan melatihmu!"

"Ta –"

"Api ini tidak akan membunuhmu." Kyuubi mendekatkan dirinya ke arah pemuda pirang yang masih terlihat shock.

"Percayalah padaku dan .." Om Kyuu meletakkan 'tangan' kanannya di kepala pirang Naruto.

" – pada dirimu sendiri."

Pemuda bermata sapphire itu tidak berkedip dan terus menatap ruby tajam yang penuh dengan tekad dan keyakinan Sang Rubah Api.

Beberapa saat kemudian, Naruto memejamkan matanya dan mengangguk mantab, "Un!"

"Bagus! Duduklah dengan tenang. Kita akan mulai mempraktekkannya." Rubah api berekor Sembilan melepas paksa baju Naruto dan menarik kembali 'tangannya'. Ia duduk di depan Naruto dan mulai memejamkan mata.

"Tapi Om, Kau be –"

"Tidak ada waktu untuk memberimu teori!" bentak Kyuubi serius. Bagaimanapun juga dia tidak mau jika dirinya harus bersemayam di dalam tubuh pria penyuka ular itu. Pria itu terlalu nista.

'Padahal aku belum menyuarakan pertanyaanku.' Keluh Naruto dalam hati.

"Kau mau berlatih, atau berdebat denganku?"

"OK.. Ok Om. Kita berlatih." Naruto mulai memejamkan matanya dan berkonsentrasi.

Iblis rubah itu menyeringai senang. "Aku adalah rubah api, kau tahu kan?"

Naruto mengangguk singkat tanpa membuka matanya. Ia memutuskan untuk serius memelajari kekuatannya sendiri. Ia harus lepas dari Sai dan bertemu dengan Sasuke.

Kyuubi mengulurkan satu 'jari tangannya', menyentuh pusat tanda spiral di perut si pirang dan menekannya sedikit –tanpa membuat kuku tajamnya melukai Naruto- kemudian menariknya setelah Naruto merasakan sensasi aneh di perutnya.

"Sekarang berkonsentrasilah dan coba buat api disekelilingmu berkobar makin besar." Naruto mengeryitkan dahinya. Benarkah ini yang harus dia lakukan? Menambah besar kobarannya, bukan memadamkannya?

"Jangan bilang kalau kau tidak tahu mengenai kemampuan para Uchiha untuk mengeluarkan api dari mulutnya. Yahh.. walau apinya sangat terbatas sih…"

Naruto sedikit tersentak mendengar ucapan Kyuubi. Itu berarti dia dan kekasihnya memiliki kekuatan yang sama.

Dengan penuh semangat, Naruto berkonsentrasi dan mencoba mengeluarkan api dari tubuhnya.

Kyuubi adalah rubah api kan? Itu berarti Naruto juga memiliki kekuatan api. Bocah pirang itu mencoba memusatkan kekuatan pada kedua telapak tangannya.

Satu..

Dua…

Tiga…

'dheggg!'

Dengan penuh semangat, Naru membuka matanya lebar, menunjukkan ruby tajam yang hampir sama dengan milik makhluk di hadapannya.

"Gaaa~~~aahhhhhh!" ia membentangkan tangannya, 'menyemprotkan' api dari kedua telapak tangannya selama beberapa saat.

"Hoshh.. Hoshhh.. Berhasil." Senyum terukir di bibir manisnya. Ia berhasil membuat apinya sendiri. Ia dan kekasihnya akan menjadi pasangan duet yang hebat saat bertempur bersama nanti.

Senyum di bibir Naruto lenyap begitu ia mata merahnya menangkap api disekelilingnya tak juga bertambah besar. Api yang ia keluarkan sama sekali tidak memengaruhi nyala api Om Kyuu.

'Kemana perginya apiku tadi? Kenana? Om …' tatapan menuntut penjelasan ditujukan Naruto kepada Om kesayangannya.

'Bocah ini memang terlalu polos …' Kyuubi menghela nafas.

"Apa? Beritahu aku mana yang salah!" kedua bola mata Naruto memandangi kedua telapak tangannya dengan tatapan yang aneh.

"Dengar bocah. Aku ingin kau melihat masalah dari sudut yang berbeda." Ruby si blonde kembali menatap Kyuubi.

"Bayangkan. Jika kau melihat tumpukan kayu yang terbakar, apa yang akan kau lakukan untuk membuat kobaran apinya bertambah besar?" Naruto terdiam. Haruskah ia menambahkan kayunya?

"Kayu siapa yang akan kau tambahkan? Kau pikir akan mudah mengangkut kayu dengan jumlah besar?" kepala pirang itu menggeleng.

"Pikirkan baik-baik. Beri tahu aku jika kau sudah menemukan jawabannya. Dan jangan sia-siakan waktumu hanya untuk memilirkan hal itu." Kyuubi memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi dengan kekuatannya sendiri.

Bagaimanapun juga, ia harus membiasakan Naruto untuk mandiri dengan kekuatannya. Hal ini dilakukannya demi menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi –Orochimaru berhasil memisahkan dirinya dari Naruto- karena saat itu ia tidak akan dapat berkomunikasi –apalagi membagi kekuatannya- dengan bocah pirang itu. Pewaris Namikaze ini harus bisa memecahkan masalahnya sendiri.

"Om ~"

"Aku membiarkanmu mengetahui apa yang kupikirkan tentangmu dan kemungkinan terburuk itu. tapi jangan harap aku mau memikirkan solusi dari masalahmu." Ucap Kyuubi berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan apapun tentang permasalahan Naruto.

Naruto adalah Kyuubi. Kyuubi adalah Naruto. Secara otomatis, mereka bisa saling membaca pikiran masing-masing.

"Yosh! Aku sudah berjanji padamu untuk selalu bersama kan? Aku akan menepatinya!" ucap Naruto penuh semangat. Hal ini sukses membuat jantung Kyuubi seakan berhenti berdetak

'Bocah ini benar-benar akan menjaga janjinya…' batin Kyuubi. Senyuman terkembang di bibir Om Kyuu saat mendapati Naruto mengabaikan pikirannya dan lebih memilih untuk berkonsentrasi dengan masalahnya.

Kekasih dari Uchiha Sasuke itu memejamkan matanya dan mencoba berkonsentrasi, mencari solusi dari masalah api tadi.

Sudah hampir satu jam berlalu sejak Naruto mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membuat kobaran api disekelilingnya membesar, namun hasilnya nihil. Pikiran bocah pirang itu terus saja tertuju pada api, api dan api.

'Jika aku menambahkan api.. Itu sama saja dengan menyalakan lilin yang sudah menyala. Tentu saja kobarannya tidak akan bertambah besar.' Pemuda bermata ruby itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

'Ok. Lilin menyala = Sasuke dan kekuatannya. Kalau aku menambahkan kekuatanku…' kepala duren itu mengangguk beberapa kali, kemudian menggeleng cepat.

'Tidak.. Tidak! Aku tidak tahu bagaimana caranya menyalurkan kekuatanku kepada Teme. Kekuatanku sendiri saja, aku belum bisa menguasainya.. Pasti butuh waktu yang sangat lama untuk belajar menyalurkan kekuatan seperti itu.' rubah api yang duduk didepannya menyeringai mendengar pemikiran si bocah pirang.

'Haaahhh… Kalau saja aku disuruh memadamkannya. Pasti sudah kutiup lilin it –' Naruto membuka matanya, menyadari sesuatu.

"Kalau itu sebuah lilin, pasti akan mati kalau kutiup. Tapi kalau itu tumpukan kayu yang sangat banyak… Pasti kobarannya akan bertambah besar!"

Bocah rubah itu memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya agar dia bisa mengeluarkan angin dalam jumlah banyak.

"Makan ini! Hiaaaahhhhhh!" lengan tan itu kembali terlentang. Kali ini bukan api yang dikeluarkannya, melainkan gumpalan udara yang bergerak random, membuat api yang menyala disekelilingnya berkobar makin besar.

Reflek, Naruto berdiri dan menatap Kyuubi dengan mata merah yang berbinar. " Oommm ~"

"Kau pintar sekali bocah." Kyuubi menyeringai. Ia sering dibuat bingung oleh bocah imut dihadapannya. Terkadang pintar.. kadang Dobe. Terkadang kuat.. kadang lemah dan sama sekali tidak menunjukkan kekuatannya.

"Bagus. Kau akan membuat seperti ini.." Kyuubi membuka telapaknya, beberapa saat kemudian, muncul sesuatu yang berputar-putar dengan sangat cepat di telapak penuh bulu itu.

" – Rasengan. Pusatkan kekuatanmu di telapak tangan kananmu. Buat anginnya berkumpul dan berputar di satu titik. Pertahankan putaran itu dan buat putarannya bertambah cepat." Naruto mengeryit.

"Kau juga harus bisa membantu dirimu sendiri bocah. Kau juga perlu memperbesar apimu sendiri. Dan dengan bentuk yang seperti ini, kekuatanmu akan lebih efisien." Kyuubi melenyapkan api yang mengelilingi Naruto.

"Terserah kau sajalah Om.." Jujur, Naruto masih tidak mengerti dengan maksud dari ucapan om-nya itu, tapi ia lebih memilih untuk mengabaikannya.

Telapak kanan Naruto membuka ke atas, kemudian tangan kiri bocah itu memegang pergelangan kanannya sendiri. Ia memusatkan 'keinginannya'.

'Angin.. Angin.. Aku ingin Rasengan di telapak kananku!'

"Sasuke benar-benar tahu cara mengajari Naruto." Gumam Kyuubi cukup jelas didengar, namun si pirang lebih memilih berkonsentrasi dengan dirinya sendiri.

Sang Rubah Api begitu menggantungkan harapannya kepada si bocah pirang. Jika Naruto bisa menguasai Rasengan, maka bocah itu akan dapat mengendalikan kekuatannya dengan mudah.

"Memfokuskan pikiran dan bersungguh-sungguh dengan apa yang ingin dilakukan dengan sihirnya.. Kurasa itu cara yang cukup mudah dipahami oleh Naruto." Kyuubi mengingat perkataan Sasuke saat si pantat ayam itu mengajari Naruto sihir.

Kalimat sederhana itu nampaknya lebih cepat dipahami dan diterapkan Naruto. Makanya Kyuubi lebih memilih cara yang sama ketimbang melatih Naruto 'memahami' dirinya sendiri dengan cara yang sedikit rumit – melatih kekuatan fisik, melatih kekuatan mental, dan melatih kemampuan menggunakan sihir itu sendiri.

"Ya. Bocah itu sudah meyakini perkataan kekasihnya, dan keyakinan itulah yang akan membuatnya kuat." Mata crimson si rubah melirik anak didiknya yang tengah mengeryitkan dahi.

'Bocah ini sama sekali tidak terpengaruh dengan pikiranku. Dia benar-benar hebat.' Satu lagi kejutan dari Naruto. Saat ia berkeinginan untuk serius, maka benar-benar tidak ada yang bisa mengganggunya. Kyuubi tersenyum.

Naruto membuka matanya. Menatap tajam telapak kanannya.

"Gghhhhh!" taring si pirang memanjang seiring dengan menguarnya sesuatu yang berwarna merah dari tubuhnya. Beberapa saat kemudian, mulai terlihat putaran kecil di pergelangannya.

Naruto merasakan sesuatu berputar-putar di dalam tubuhnya.

Apakah ini kekuatannya yang sedang berusaha untuk bangkit?

"Rileks, bocah. Kalau kau memikirkan sesuatu yang berputar dalam tubuhmu itu, kau tidak akan bisa berkonsentrasi dengan baik. Seperti kata kekasihmu itu, 'Pikirkan apa yang kau inginkan. Konsentrasi dan fokuskan pikiranmu. Dan kau akan merasakan saat kau mendapatkan apa yang kau inginkan'. Kau ingin cepat keluar dari sini kan?"

Lagi-lagi Kyuubi melatakkan tangan kanannya di kepala Naruto, "Saat kau terbiasa nanti, melakukan sihir itu rasanya seperti bernafas." Lagi-lagi Kyuubi mengulangi kalimat kekasih si kepala duren.

Ia ingin memberi semangat sekaligus tekanan pada saat yang bersamaan.

"Ra .." putaran udara di telapak Naruto makin konstan dan memiliki bentuk yang tetap, sebuah lingkaran dengan beberapa gerigi yang terlihat tajam.

" –sen" Naruto menarik Nafas dalam.

"RASENGAAAAAAAANN!" aura merah dari tubuhnya bertambah pekat. Putaran angin di tangannya makin terlihat nyata. Entah dari mana ia mendapat ide, bocah rubah itu melompat dan mengulurkan tangan kanannya ke sebuah tembok di belakang Kyuubi.

'BRUAAGHHHHHH'

Rasengan menabrak tembok itu dan dengan sukses menghancurkannya. Kyuubi tertawa senang.

"Hahahahhh… kau hebat sekali bocah.. sekarang kau bi –"

'buagghh!' tiba-tiba Naruto terlihat memegangi perutnya, matanya melotot, wajahnya terlihat menahan sakit.

'bughh bughh duaghhh!'

"Ggghhhhh.. Si-siaaal !"

.

.

"Bangun bodoh! Siapa yang menyuruhmu tidur!" bentak Sai kasar. Hampir saja ia kehilangan kendali diri – dan mencium Naruto. Untungnya ia cepat mendapatkan kembali kesadarannya dan mengalihkan keinginannya untuk mencium si blonde menjadi memukuli si blonde.

"Sial! Aku terlalu fokus padamu sehingga tidak menyadari kedatangannya. Kau tidak apa-apa bocah?" Tanya sebuah suara berat ala om-om dengan nada khawatir.

'Ini bukan apa-apa. Cih! Beraninya si jontor ini menggangguku.' Naruto mengeryit menahan sakit. Perutnya yang benar-benar kosong itu terasa makin sakit saat kepalan tangan si jontor menghantam kasar perutnya. Poor Naru…

"Aku akan segera berangkat ke tempat Sasuke, dengar?" tangan Sai memegang kasar pipi tan bergaris tiga, "Aku akan menikah dengannya hari ini. ME-NI-KAH." Lanjutnya dengan penekanan di kata terakhir.

'Hari ini? Berarti aku –'

"Tidak terbangun sejak kemarin lusa. Kau berada bersamaku. Ingat?" Naruto menghela nafas mendengar penuturan suara yang hanya bisa didengarnya itu. Ia sama sekali tidak memedulikan Sai yang masih berdiri di hadapannya.

"Sai! Orochi-sama sudah datang. Cepatlah!" teriak suara serak-serak becek dari arah atas – suara Danzou,

"Sebentar ayah ~~!"

"Aku ingin melihatmu menangis saat Sasuke telah menjadi milikku nanti." Sai tersenyum sinis.

"Kau akan dibuang dan tidak dipedulikan! Hahahahhh!"

'Sssshhhh… Sssshhhhhh…'

"Cepatlah atau kutinggal!" kali ini suara Kabuto yang terdengar beberapa saat setelah suara desisan ular. Kalau mobil menggunakan klakson, 'kendaraan' Orochimaru menggunakan desisannya :D

"Yaaa~~~" teriak Sai sambil berlari keluar. Ia tidak mau terlambat di acara pernikahannya sendiri. Saking tergesa-gesanya, ia tidak sadar kalau benda yang sedari tadi dipegangnya telah terjatuh.

"Kenapa bisa lama sekali sih?" gerutu Naruto sepeninggal calon mempelai dari kekasihnya itu.

"Sudahlah! Lebih efektif kalau melakukannya di rumahku dari pada disini. Kau merasakannya juga kan, bocah?" Sahut suara lain.

"Kau benar Om! Aku sudah siap keluar dari sini…" mata pewaris Namikaze itu memerah, taringnya seakan memanjang tujuh millimeter, seringai di bibirnya pun terlihat sangat mengerikan.

"Biasakan dirimu dulu! Baru kau boleh melakukannya." Naruto menyeringai mendengar ucapan Om Kyuu. Ia mengangguk pelan dan mulai berkonsentrasi.

.

.

"Bagaimana Shino?" Tanya seorang pria bercadar yang memilliki banyak jahitan di tubuhnya. Kakuzu.

"Serangga-serangga bilang, mereka mulai meninggalkan tempat mereka." Jawab seorang pemuda berkacamata bulat, Shino.

"Aku sudah berikan laporan ke istana. Kita akan segera masuk sesaat setelah mereka pergi." Sahut Zetsu.

"Tunggu… Ada yang aneh." Gumam gadis bermata lavender tanpa pupil.

"Ada apa Hinata?"

"Entahlah.. Aku belum pernah melihat ini. Seperti ada sesuatu yang terbakar di tempat mereka." Hinata masih menggunakan byakugan-nya.

"Kurasa kita harus melihat secara langsung." Gumam Kakuzu lagi. Kali ini dia tidak mau bermain-main dengan tugas yang diberikan Sang Pangeran. Entah bagaimana caranya, Kakuzu seakan menaruh kepercayaan dan harapannya di bahu Pangeran ayam itu.

"Aman. Kita berangkat sekarang…" sahut Hinata setelah beberapa saat mereka terdiam. Byakugan-nya melihat Orochimaru sudah berada pada jarak aman yang telah diperkirakan. Mereka pun mulai mengendap masuk ke tempat Orochimaru melalui jalan sebelah selatan, berlawanan dengan jalan yang dilalui Orochi cs.

"Alhamdulillah yah.. Kita mulai berangkat. Sesuatu banget nih setelah sekian lama menunggu!" seru seorang pria berambut abu yang dengan PD-nya mengekspose dada bidangnya.

Perkataannya sukses membuat rekan satu timnya gubrak berjamaah.

,

,

"Aku siap Om!" bisik Naruto setelah hampir setengah jam memejamkan matanya.

"Kau akan membunuh mereka?" Tanya Kyuubi penasaran. Naruto adalah pemuda yang sangat menyayangi teman-temannya. Dia tidak mungkin akan melukai mereka.

"Tidak! Hanya akan membuat mereka tertidur." Gumam si ramen freak sambil menggerak-gerakkan pergelangan tangan dan kakinya yang terikat. Memunculkan semacam api yang perlahan melelehkan baja yang mengekang si pirang.

'Bocah ini belajar cepat. Emosinya saat ini membuat kekuatannya semakin mengerikan.' Batin Om Kyuu yang tentunya dapat didengar jelas oleh Naruto.

"Aku tidak mau Teme-ku menjadi milik orang lain." Sapphire itu lagi-lagi menjadi ruby menyala.

Tangan tan si Namikaze mengusap-usap pergelangan tangannya setelah rantai baja yang mengikatnya meleleh sempurna. Ia pun secepat kilat berada di depan teman-temannya.

"Ada musuh!" seru kelima sahabat Naruto bersamaan. Mereka langsung membuat kuda-kuda dan menatap Naruto dengan pandangan kosong.

"Maaf. Tapi kalian harus tidur." Gumam pemuda yang memiliki tanda lahir spiral di perutnya itu sambil menyentil dahi mereka satu per satu sebelum mereka sempat menyerang. Gerakan Naruto sangat cepat, hampir melebihi kecepatan Sang Yellow Flash, ayahnya sendiri.

"Apa yang kau lakukan bocah?" Tanya Kyuubi penasaran. Sihir apa yang Naruto gunakan sehingga teman-temannya bisa seperti itu?

"Aku hanya menginginkan mereka tidur. Itu saja." Balas Naruto sambil menunjukkan cengiran khasnya.

Berhasilnya si pewaris Namikaze menggunakan Rasengan memang 'membuka akses' bagi Naruto untuk lebih dapat mengendalikan dan menggunakan kekuatannya sendiri. Bagaimanapun juga Kyuubi tidak menyangka bahwa bocah pirang ini akan belajar dengan sangat cepat.

Pikiran Naruto yang simple dan keyakinannya dengan perkataan Sasuke tentang keinginan dan sihir membuat Naruto mampu mengembangkan kekuatannya dengan sangat menakjubkan, bahkan tanpa ia sadari sekalipun. Naruto memang bocah penuh kejutan.

"Kita pergi sekarang, bocah. Ada makhluk lain yang tertidur di tempat ini." Gumam Kyuubi setelah Naruto menyelimuti kelima temannya dengan karung beras yang ia temukan entah dari mana. Ia memang terlalu baik untuk ukuran seorang iblis.

"Beraninya dia menikah dengan orang lain… Akan kutendang anu-nya!" seru Naruto sambil melesat pergi meninggalkan ruang lembab yang sangat nista itu. perkataan uniknya membuat Kyuubi jawsdrop dalam diam. (P/N: Sabar yah Om.. Naruto emang kaya' gitu orangnya -,-)

.

.

"Apa yang kau lihat Hinata?" Tanya Hidan sambil menyisir rambut klimis kesayangannya.

"Lima orang tertidur." Gumam gadis bermata lavender itu. Ia terlihat mengeryitkan dahinya saat melihat selimut unik yang melindungi badan mereka.

"Kelihatannya mereka tidak berbahaya." Lanjut gadis Hyuuga itu lagi.

"Mungkin kita harus segera masuk ke ruangan itu. aku sudah melapor ke istana bahwa kita akan segera memulai misi inti." Sesosok Venus flytrap menepuk pundak si gadis dan memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk segera memasuki ruang bawah tanah yang mereka amati sejak dua menit yang lalu.

Tim dua memang baru sampai di markas Orochimaru ini dan langsung mencari tempat yang mereka curigai sebagai tempat Sang Pangeran Pirang disekap. Mereka harus segera menyelamatkannya.

"Tapi .." gumam Hinata ragu saat mereka hampir sampai ke anak tangga terakhir.

" – aku tidak melihat Naruto-sama disini."

"Serangga-seranggaku juga tidak menemukan keberadaannya. Tapi aku yakin, beberapa saat yang lalu ia masih berada di sini." Pemuda Aburame yang berjalan di samping seorang pria maniak jahitan mendukung perkataan pengguna byakugan itu.

"Kurasa kita butuh api untuk menerangi tempat gelap ini." Kisame memandangi temannya satu per satu. Mereka telah sampai di dasar anak tangga itu, namun ruangan yang teramat lembab dan tidak memiliki cahaya membuat mereka tidak bisa berkutik – kecuali Hinata (yang menggunakan byakugan) dan Shino (yang mendapat arahan dari serangga-serangganya,)

"Ohh DJ. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Berikanlah kami cahaya penerang yang menenangkan…. Yang menunjukkan kebenaran…." Ucap si rambut klimis mantab dengan nada ala orang berdoa (ditambah bumbu lebay dan nista).

Tanpa memedulikan rekan satu timnya, Kakuzu langsung menyambar obor mati yang tergantung di sisi tembok. Ia meniupnya sekali, membuat obor itu menyala cukup terang.

Kisame dan Zetsu mengikuti jejak si pria bermasker dengan melakukan hal yang sama. Mereka pun mulai memeriksa ruang bawah tanah itu. Selain lima makhluk mecurigakan yang mereka temukan sedang tertidur, tidak ada tanda kehidupan yang mereka temukan di tempat itu.

"Selnya kosong." Gumam Kakuzu. Pria maniak jahitan itu sedikit terkejut saat ia dengan mudah dapat membuka pintu selnya.

"Shino?"

"Tempat ini belum lama ditinggalkan. Baunya masih segar." Gumam si 'Bobo Ho wanna be' sambil terus memerhatikan serangga kesayangannya yang sibuk mengitari ruang bernoda darah di beberapa bagian itu.

" – Naruto-sama memang pernah disini. Dan beberapa waktu lalu, dia baru saja pergi."

"Ohh DJ. Naruto-sama pasti tersiksa saat berada di ruangan ini."

"Dia dipindahkan atau apa?" Tanya Zetsu entah kepada siapa. Yang jelas matanya saat ini tengah menatap si gadis Hyuuga.

"Kurasa tidak. Benda ini meleleh jelas bukan karena ulah anak buah Orochimaru." Kaki kiri gadis itu menendang-nendang sebuah rantai baja yang telah meleleh di beberapa bagian.

'crkkkk'

Ujung rantai yang dimainkan oleh kaki gadis tanpa pupil itu menabrak sesuatu yang terlihat mencurigakan. Hinata langsung berjongkok dan mengamati benda berisi cairan keemasan itu.

"I – ini… Apa aku tidak salah lihat?" Byakugan yang sedari tadi masih aktif itu menangkap sesuatu dari cairan di benda kecil yang ia pegang.

"Hinata! Cepat kemari!" mendengar seruan pemuda Aburame, Hinata langsung memasukkan benda itu ke kantongnya dan segera menghampiri teman-teman satu tim yang sudah berada di luar sel.

"Lihat baik-baik mereka." Perintah Shino dengan suara bass khasnya. Membuat sang gadis langsung mengamati kelima makhluk geje yang tengah tertidur di sudut ruangan.

"Mereka …"

" – manusia biasa. Bukan iblis." Potong Shino, sukses membuat keempat rekannya tersentak kaget.

"Dari mana Danzou mendapatkan mereka?"

"Entahlah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa yang harus kita lakukan kepada mereka." Kisame menyibakkan 'selimut' mereka dengan ujung samaheda kesayangannya.

"Kurasa kau harus berhati-hati." Siluman hiu itu merasakan tepukan pelan di bahu kirinya.

"Ada bau Naruto-sama di 'selimut' itu. Itu berarti ia tidak mau membunuh mereka, dan itulah yang harus kita lakukan. Jangan biarkan mereka terluka." Gumam Shino dengan kalimat rancu. (P/N: dia ga pernah ngomong banyak, sekalinya ngomong banyak, langsung kacau kalimatnya.)

"Ada yang datang…" pekik Hinata sambil memasang kuda-kuda menghadap ke arah tangga.

"Wah wah … ada tamu rupanya." Gumam sebuah suara berat ala mas-mas.

Perlahan namun pasti terlihat sesosok makhluk berambut putih dengan tanda aneh di jidatnya.

"Sepertinya aku tidur terlalu nyenyak… Tuan Orochimaru pasti akan marah padaku saat mengetahui Kyuubi telah kabur." Lanjutnya tanpa nada khawatir sedikitpun.

"Sup hiu saus Padang pasti akan meredakan amarah Tuan Orochimaru." Ucapan mas-mas sok cool ini sukses membuat Kisame merinding dangdut.

"Kurasa kita akan telat pulang…" Venus Flytrap menanggapi. Ia sudah dapat membayangkan amukan Sang Puppet Master saat ia sampai di Istana nanti.

"Hinata. Jangan biarkan mereka terluka." Perintah Shino tanpa mengalihkan pandangannya dari si mas-mas yang saat ini tengan menarik sesuatu dari punggungnya sendiri.

Mengerti dengan maksud si maniak serangga, Hinata ber-Ha'i ria.

"Aku akan membunuh kalian." Ucap mas-mas itu sambil menghunuskan pedang yang terbuat dari tulang.

.

.

"Santai saja bocah. Kau akan menghancurkan Dunia Langit kalau kau terus melakukan itu!" tegur sebuah suara dalam pikiran Naruto. Saat ini bocah berambut duren itu tengah berlari kencang sambil 'menyemburkan' api, membuat tak sedikit pohon yang tumbang, bahkan sampai terbakar.

Umpatan-umpatan penuh kasih seperti:

Teme

Brengsek

Bodoh

Uchiha idiot

Dan lainnya senantiasa mengalun merdu dari bibir mungilnya.

"We're almost 'home'. Beritahu padaku bocah, mana yang akan kau hajar lebih dulu? Pemuda obral senyum atau si bocah Uchiha?" gumam Kyuubi saat mereka mulai memasuki kawasan istana Night Kingdom. Aura api dari tubuh Sang Pewaris Namikaze pun semakin kuat, seiring dengan meningkatnya emosi yang ia rasakan.

"Si udel bodong." Ucapan terakhir Naruto sebelum ia meningkatkan kecepatan berlarinya/

.

Naruto's PoV

"Si udel bodong." Gumamku menanggapi pertanyaan Om Kyuu.

Saat ini aku baru saja melewati gerbang istana Night Kingdom. Aku menambah kecepatan lariku.

Aku bisa melihatnya. Altar megah itu…

Seorang pemuda berkeriput keren yang berdiri dengan Sharingan yang aktif, menghadap dua orang pemuda ber'warna' suram.

Pemuda berambut cepak itu.. Dia Sai.

Di samping kanannya, pemuda gagah berambut pantat ayam yang berdiri angkuh dengan sepasang sayap hitam yang bertengger di punggungnya…

Itu kekasihku. Uchiha Sasuke!

" – Apakah Kau, Uchiha Sasuke, bersedia untuk setia kepada Sai. dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun bla bla …"

Jangan! Hentikan Itachi-nii!.

" – apakah Kau bersedia?"

Jangan katakan apapun Teme! Kumohon!

"Aku –".

'GLAARRRRRRR!'

Aku berhenti tepat setelah menghancurkan daun pintu dan tembok di sampingnya. Aku tidak peduli! Aku benar-benar marah.

Pikiranku yang sangat random dan sosok Sasuke yang terlihat masih tanpa ekspresi itu membuatku sangat kacau. Bisa-bisanya ia menikah bukan denganku!

"SA-SU-KEEEEEE!"

'Zzaashhhhhhhh…'

Aku melesat ke arahnya secepat yang aku bisa. Aku benar-benar ingin menghajarnya. Kukepalkan tangan kananku, mengarah ke rahang kirinya.

'Buaghhhh!'

Pukulanku sukses mengenai sasaran.

"BRENGSEK!"

Hampir semua orang terdiam setelah umpatan terakhirku.

Kutatap Sasuke dengan mata merah yang kini kumiliki. Aku sadar, bagi seorang Uchiha sepertinya, pukulanku memang tidak akan berarti apa-apa.

Tapi aku yakin, dia bisa merasakan sakit yang kurasakan.

Aku memukulmnya bukan sebagai seorang iblis, aku memukulnya sebagai seorang kekasih. Aku tidak akan pernah membiarkan kekasihku menikah dengan orang lain tanpa mengatakan apapun kepadaku. Itu terlalu kejam.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, HAAHHH?"

"Kau pikir semua akan selesai dengan cara seperti ini?" kutarik kerah bajunya tinggi-tinggi.

"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja?" suaraku mulai bergetar. Tidak! Aku tidak boleh terlihat lemah.

"Menangislah. Kau membutuhkan itu." gumam Om Kyuu dalam kepalaku.

" – sudah saatnya kau membagi rasa sakit itu kepada yang lainnya."

Aku hampir lupa kalau Om Kyuubi adalah diriku, percuma saja menyembunyikan sesuatu darinya. Dia tahu dan merasakan sakit yang kurasakan.

"Kenapa diam, Uchiha? Kau pikir ini akan –"

"Kau akan 'membunuhku'. Benar kan?" semtuhan lembut kurasakan di pucuk kepalaku. Sasuke mengacak pelan rambutku.

"Semua akan baik-baik saja Dobe, jika kau bisa diam dan mengikuti saja rencana yang aku punya." Gumam baritone itu lagi.

'Rencana apa? Yang mana?' kutatap tajam Sharingan yang berbentuk makin rumit itu. Sepertinya Sharingan Teme hanya berbentuk tiga koma –atau apalah itu- saat terakhir aku melihatnya.

Mata itu balik menatapku, wajah datar dan ekspresinya seolah berkata 'sekarang itu sudah tidak penting. Yang penting kau selamat. Aku mencintaimu.' Ok. Lupakan kalimat terakhir!

"Rupanya ada drama disini…" ucap Orochimaru dengan suara nistanya. Bibirnya menyunggingkan seringaian tapi sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.

"Sai. kau lupa mengunci selnya?" Danzou menanyakan pertanyaan bodoh yang sudah jelas jawabannya. Sai menggeleng pelan.

"Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan Kimimaru sendirian." Sahut Kabuto. Keempat pengawal mereka telah memasang kuda-kuda.

"Kurasa akan terjadi perang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Fugaku pada Minato. Matanya tak lepas dari si pemuda pirang yang sangat mirip dengan pria di sebelahnya.

"Mungkin.. Satu hal yang harus kau tahu Fuga." Tangan kanan Yellow Flash terangkat, mengarah ke pelipis kiri Fugaku.

" – jangan menatap putraku dengan tatapan nista seperti itu!"

"Aduhh! Jangan menjewerku! Dasar bodoh. Hentikan! Hoi…" (P/N: kita tinggalkan adegan geje ini.)

"Dei. Kau pergi bersama Kaa-san dan Kushina-san. Jangan lupa untuk menjaga Hideo baik-baik." Mata Itachi menangkap dua kubu yang saling siap menyerang. Ia akan segera bergabung dalam kubu yang saat ini baru memiliki dua orang anggota.

"Konan. Kau kawal mereka."

"Ha'i!"

"Pein, kau cari tahu keadaan tim dua." Pemuda ber-pierching banyak itu mengangguk.

"Gaara. Katakan kepada kakak-kakakmu untuk mengevakuasi mereka." Sharingan Itachi melirik para 'tamu'. " – jangan ragu untuk membantunya."

"Laksanakan." Gumam Sang Raja dengan nada datar. Ia berjalan menuju adiknya dan langsung memasang posisi siaga.

Bagaimanapun juga, ini 'sedikit' meleset dari rencana awal. Ia merasa lega karena Otouto kesayangannya tidak menikah dengan Sai. tapi rasa khawatir itu tetap saja ada, Naruto adalah orang yang –hampir- tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Entah mengapa, perasaannya sedikit tidak enak.

"Dengar bocah.." aura mengerikan menguar dari tubuh sang maniak ular. Mata kuning tajamnya menatap lurus pemuda berambut pirang di hadapannya.

" – aku akan mengambil Kyuubi darimu. Dan aku akan me –"

'BUAAGHHH'

"Kyuubi. Adalah. Aku." Gumam Naruto dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Mata ruby itu menatap tajam Orochimaru.

"Beraninya kau memukul Orochimaru-sama sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Tidak akan kumaafkan!" Kabuto maju, melayangkan pukulannya ke bocah Namikaze.

'bettss'

"Kurasa si banci kaleng itu harusnya ditangkap Satpol PP. bukan berada di tempat terhormat seperti ini." Tangan alabaster Sasuke mencengkeram kuat pergelangan Kabuto. Ia tidak akan membiarkan Dobe-nya terluka.

Keadaan semakin kacau.

Ucapan ngawur Sasuke sukses membuat emosi sang Ular memuncak, ia mulai mengeluarkan desisan-desisan mengerikan, membuat para anak buahnya mundur satu langkah namun tetap menunjukkan posisi siaga.

Perang diantara para iblis akan segera dimulai.

Siapakah yang akan selamat dan memimpin Dunia Langit?

Apakah kekhawatiran Itachi akan terbukti?

"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil 'saudaraku' begitu saja." Ucap Naruto tanpa ragu. Tubuhnya mulai mengeluarkan aura merah yang menakutkan.

Ia berjanji pada Kyuubi, juga dirinya sendiri, untuk membunuh pria ular yang telah 'memakan' neneknya.

"Aku akan membunuhmu!"

.

.

Tbc

.

.

Yoshh! Selesai juga fict chap 12 ini.

Hahahah *ketawa dengan muka innocent

Ehnmm…

Kyuu mau minta maaf soalnya Kyuu lamaaaaaaaaaaaaaa banget apdetnya.

Mau gimana lagi yah -,-

Tugas Ospek menumpuk.. Abis itu langsung masuk kuliah :D (anak kuliahan nih ceritanya *bangga) selesai ospek juga Kyuu langsung collapse -,-

Sialnya, Kyuu selalu masuk pagi : (

Gimana dong ini…

Uhuhuuuuhh… :'(

Kyuu pokoknya minta maaf banget *bungkuk2. Kyuu masih kaget banget sama jam kuliahnya. Sekarang sih udah terbiasa gini..

Hahahah..

Jadi ga akan telat-telat apdet lagi :3

Ohh ya. Disini Kyuu bikin Naruto latihannya sekali jadi. Soanya dalam imajinasi Kyuu, Naruto –baik di manga/anime- tuh sebenernya bisa kaya gini kalo bener-bener serius tingkat dewa (lebay)

Untuk 'There's no next time' Kyuu ubah lagi jadi 'complete'. Bukan karena Kyuu ga mau lanjutin. Kyuu udah mulai nulis skuelnya kok. Kyuu Cuma ga mau readers nungguin update chapter berikutnya terlalu lama. Jadi menurut Kyuu, bikin skuel aja bakal lebih etis :3 (ga mutu banget)

Maaf yahhh.. Sekarang Kyuu ga bisa begadang lama soalnya ^^

.

Bales review ahh : )

.

Joajoane: terima kasih joa-san..

Maaf untuk keterlambatannya yah ^^

Semoga joa-san mengerti :3

P/N: jangan panggil 'senpai' :D saya Cuma pengetik ababil

.

chielasu88: mereka emang pelawak kok :D

(Danzou bersin2 di kuburan)

Terima kasih dukungannya.. maaf ya telat :3

.

Ryuunami Sukenaru: selamat.. selamat…. *tepuk tangan geje

Muncul dong. Ga ada mereka ga bakal imbang tar battle-nya : )

Maaf yah telat banget :D

Makasih untuk dukungan terhadap cerita abal ini

.

Od3rsChWank mi4w-mi4w: itu bunyinya udah dijelasin kan ^^

Makasiiiihh dukungannya yah..

.

Heart of SnowIce: iya tuh kayaknya..

Hahaha *geje

Ada yang baca aja Kyuu udah seneng kok : )

Makasih ya Ice-san (bingung harus manggil apa)

.

CCloveRuki: iyahh..

Makasih ya dukungannya ^^

Maaf telat banget

Moga CC-san mengerti keadaan Kyuu

Terima kasih :3

.

Orange Tomato: ke mana yah ^^

Itu masih rahasia :D

Maaf yah telat banget…

Terima kasih :v

.

.: iya deh ga panggil senpai :D

Serius Kyuu malah bingung harus manggil siapa. Ga ada nama soalnya

Maaf yahhh

Terima kasih untuk dukungannya :maaf telat ^^'

.

Ashahi Kagari-kun: yoshh! Maaf telat *merinding disko ditodong susano'o

Ma – maaf y ate –telaat…

Iya itu batal.. ehehehhh..

Terima kasih Ashahi-san :D maaf telat

,

Aoi namikaze: terima kasih : )

Soal fugamina sih… sebenernya enggak

Fuga aja yang lebay gitu, dia terlalu 'sayang' (dalam konteks kakak-adek gitu :p)

Jadinya malah lebay geje

Maaf yah telat :3

.

sasunaru's lover: Ok hima-san :D

Kyuu emang lagi belajar ngilangin kebiasaan Kyuu itu (kebanyakan nonton anime yaoi yang biasanya gubrak mendadak pas lagi suasana galau)

Mohon bantuannya yah :D

Untuk chap ini Danzou n Sai ga banyak ngelawak sih… tapi tar pasti ada ko :3

*Semoga muncul di saat yang tepat lawakannya

Yosh!

Terima kasih dukungannya : ) maaf yahh telat *bungkuk2

,

AiChan-KIe: Yoshh! Terima kasih ya ^^

Siapa sih orang yang suka dateng2 langsung teriak?

Ya Cuma di itu kan? *ngelirik2 kasur Kyuu yang dihuni dua makhluk aneh tanpa baju, satunya berambut pirang.. satunya raven pantat ayam

Terima kasih dukungannya yah.. maaf telat :D

.

Kiroikiru no Mikazuki Chizuka: hahahah ketahuan banget sih siapa yang dating :3

Kalo Sasu+Sai.. anaknya jadi kaya kopian mereka berdua yang dipoto kopi di kertas buram, diperkecil, bolak-balik -,- (keinget jaman SMA pas bikin contekan :D)

Terima kasih dukungannya .. maaf yah telat :D

.

Hatakehanahungry: kenapa Hana-senpai selalu bisa baca apa yang Kiyu lakuin 0,0

Jangan-jangan hana-senpai naksir Kiyu ya :D *plakkk~~~

Beneran yah yang waktu itu no. hana-senpai?

Sms ahh.. mau curhat :p

Ohh iya. Di kampus Kiyu ada cowok cantik loh..

Sayangnya dia ga mau Kiyu jadiin uke :'(

Padahal udah Kiyu puji-puji cantik..

Tapi pas foto bareng2 kemaren, Kiyu dapet kesempatan buat dandanin dia..

Yayyyy :3

Terima kasih hana-senpai-san.. maaf telat :D

.

monkey D eimi: hahahh..

gimana ya ^^

Asik sih :D

Yahh.. siapa lagi sih yang hobi teriak2 geje

Ehem… mereka semua kan aslinya pelawak *bisik2 sambil ngelirik para chara yang lagi molor di ruang tamu (kecuali dua pemeran utama yan bibik di kasur Kyuu :3)

Terima kasih dukungannya yah.. Maaf telat :p

.

nanao yumi: maaf yahh Kyuu ga bisa memenuhi harapan Yu-san : (

Kyuu beneran sibuk kemaren..

Ga apa kan?

Semoga chap ini ga ancur2 amat..

Terima kasih dukungannya..

Maaf yah telat ^^

.

Meg chan: tenang aja Meg-san

Besok Sasu bakal bener-bener nyelametin Naru kok : )

Maaf yah telat.. semoga meg-san mengerti

Terima kasih : )

.

Hitsugaya Toushiro-chan: saya ngakak baca komen ini *dapet refresher gratis :p

Di sini Toushiro sama Hitsugaya tuh beda orang yah?

Eheheh… ga jadi dong..

Pokoknya Kyuu ga setuju kalo mereka nikah *dies

,

Ace Sam Luffy: maaf yah ga bisa kilat..

Serius berbakat banget kok : )

Terima kasih dukungannya

,

wind. le-vent: ini tim 2 ketahuan kenapa telat…

eh eh eh.. jangan salah :D

fugaku kan juga agak gimanaaaaa gitu kalo sama minato :p

untuk OroKabu -,-

Kyuu harus googling dulu buat nyari referensi hubungan mereka *dies

Terima kasih dukungannya.. maaf yah telat : )

.

ttixz lone cone bebe: Yoshh! Fict angst be-san emang mengurai air mata

sampe Kyuu harus mikir dulu kalo mau baca (takut pas bangun pagi mata langsung bengkak)

serius Kyuu udah baca semuanya (belum tau ada yang baru apa enggak). Ga pernah review gara2 Kyuu pikir kalo review harus punya account *bego banget

Yoshh terima kasih sarannya

Dan Kyuu kayaknya juga harus mengurangi nonton anime yaoi :D

Maaf yah telat *bungkuk2

.

Namikaze Trisha: itu dia..

Hahahah naru

Terima kasih dukungannya

Maaf yah telat :2

.

Yukihime-d'angel: yoroshikoooo..

Terima kasih dukungannya

Ahh pada bisa nebak semua nih siapa yang datang ^^

Rencana sih 14 chap..

Tapi kalo ada pertanyaan yang harus dijawab melalui cerita, ya Kyuu akan usahakan jelasin lewat cerita

Terima kasih dukungannya

Maaf yah telat : )

.

.

Akhirnya selesai balas review

Kyuu bener minta maaf atas keterlambatannya loh… ^^

Terima kasih semuanya

.

Akhir kata

REVIEW please :3