"Dengar bocah.." aura mengerikan menguar dari tubuh sang maniak ular. Mata kuning tajamnya menatap lurus pemuda berambut pirang di hadapannya.
" – aku akan mengambil Kyuubi darimu. Dan aku akan me –"
'BUAAGHHH'
"Kyuubi. Adalah. Aku." Gumam Naruto dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Mata ruby itu menatap tajam Orochimaru.
"Beraninya kau memukul Orochimaru-sama sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Tidak akan kumaafkan!" Kabuto maju, melayangkan pukulannya ke bocah Namikaze.
'bettss'
"Kurasa si banci kaleng itu harusnya ditangkap Satpol PP. bukan berada di tempat terhormat seperti ini." Tangan alabaster Sasuke mencengkeram kuat pergelangan Kabuto. Ia tidak akan membiarkan Dobe-nya terluka.
Keadaan semakin kacau.
Ucapan ngawur Sasuke sukses membuat emosi sang Ular memuncak, ia mulai mengeluarkan desisan-desisan mengerikan, membuat para anak buahnya mundur satu langkah namun tetap menunjukkan posisi siaga.
Perang diantara para iblis akan segera dimulai.
Siapakah yang akan selamat dan memimpin Dunia Langit?
Apakah kekhawatiran Itachi akan terbukti?
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil 'saudaraku' begitu saja." Ucap Naruto tanpa ragu. Tubuhnya mulai mengeluarkan aura merah yang menakutkan.
Ia berjanji pada Kyuubi, juga dirinya sendiri, untuk membunuh pria ular yang telah 'memakan' neneknya.
"Aku akan membunuhmu!"
.
.
Night Kingdom
Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story "Night Kingdom": KyuuRiu
Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing
Pair : SasuNaru
ItaDei
SasuSai
SaiNaru
ItaSasu (?)
FugaMina (?)
NejiGaa
ShikaKiba
.
Rated: T
Warning: abal, jelek, geje, typo, mis-typo, semuanya gak banget :3
.
Chap 13: for Everyone's Sake
.
.
"Siapa sebenarnya iblis ini? Dia benar-benar kuat… Hoshh.. hosh sial!" sesosok iblis bertubuh serupa ikan menggerutu kesal. Ia menatap tajam Samaheda kesayangannya yang ternyata tidak dapat menandingi senjata-senjata tulang yang digunakan musuhnya.
Keadaan anggota tim dua yang lainnya tidak berbeda jauh dari Kisame. Mereka hampir tidak bisa 'menyentuh' iblis yang mengaku bernama Kimimaro itu. Self-defense yang dimilikinya begitu kuat, ditambah lagi kelima manusia –yang diyakini sebagai teman Naruto- yang 'terbangun' dan langsung memasang kuda-kuda untuk melindungi si anak buah Orochimaru.
"Ini.. Sesuatu banget! Makhluk itu benar-benar menyebalkan." Bola mata Hidan melirik gadis Hyuuga yang terbatuk beberapa kali dan mengeluarkan darah. "Bagaimana kalau kita bunuh para manusia itu saja?"
Shino menyahut cepat, "Tidak. Naruto-sama yang sedang marah saja tidak mau membunuh mereka. Itu berarti kita juga tidak boleh membunuh mereka."
"Kemungkinan besar, mereka adalah teman Naruto-sama. Kau tahu kan apa artinya? Kita harus melindungi mereka." Zetsu bergumam pelan, matanya tak lepas dari Kimimaro yang kini berkulit abu-abu (atau apalah itu namanya). Taringnya bertambah panjang dan ia memiliki ekor seperti kadal.
Sekitar 10 menit yang lalu, tim dua hampir mengalahkan iblis tulang berambut keputihan itu. Namun keadaan langsung berbalik begitu tanda aneh di dada Kimimaro meluas dan memenuhi hampir seluruh tubuhnya, membuat ia berubah menjadi makhluk aneh yang dapat bergerak sangat cepat. 'Bangkitnya' kekuatan anak buah Orochimaru itu seolah membangunkan kelima manusia asing yang tadinya sedang tertidur. Mereka langsung memasang posisi siaga dan siap menyerang tim dua.
Hal itu tentu sangat menyulitkan tim yang dipimpin pemuda Aburame itu. di satu sisi mereka harus segera mengalahkan Kimimaro, di sisi lain, Kimimaro mendapat 'pengawalan' dari para manusia yang harus mereka lindungi.
"Kalau mereka berlima tidak ikut campur. Kurasa akan lebih mudah." Gumam Kakuzu sambil menghindari pukulan yang dilayangkan gadis manusia berambut pink.
"Kurasa tidak. Maniak tulang itu jauh lebih kuat dari sebelumnya." Shino menggerakkan beberapa serangganya untuk menebar wabah tidur kepada seorang pemuda berpakaian serba hijau.
"Setidaknya kita tidak harus membatasi kekuatan serangan yang kita lakukan.. Hiaaa!" gadis Hyuuga itu menekan beberapa titik syaraf pemuda gempal bermata sipit.
"Percuma. Sihir Danzou membuat mereka memiliki daya tahan seperti kita." Sesosok Venus Fly-trap terlihat menghindari serangan peluru tulang yang menghujamnya.
"Tidak mungkin mengalahkan Kimimaro tanpa melukai manusia-manusia ini. Otak mereka seakan deprogram untuk selalu berada di depan si kadal sialan itu."
"Dia pasti punya kelemahan…" gumam Kisame. Shino dan Hinata gagal melumpuhkan dua manusia dengan cara yang halus. \
"Hinata. Kau cari kelemahan iblis itu. Kami akan mengalihkan perhatian mereka semua." Perintah Hidan. Dia mulai kesal dengan keadaan ini.
"Ha'i!"
"Huhh.. Kalau saja ada si bocah Nara di sini.. Kita akan lebih mudah menangkap makhluk bertulang tajam itu."
"Berhenti mengeluh Hidan! Kita harus segera menyelesaikan misi ini!"
'Aku harus menemukan kelemahannya. Kalau aku sampai terlambat kembali ke Night Kingdom, Naruto-sama bisa… Tidak! Itu tidak boleh terjadi.' Gadis Hyuuga itu berusaha keras mencari kelemahan Kimimaro dengan Byakugan-nya.
"Tidak terlihat…" gumamnya tanpa sadar.
"Kurasa kita memang harus 'menyingkirkan' kelima manusia itu. mereka memiliki tenaga yang cukup untuk bertahan hidup. Mereka tidak akan mati hanya dengan satu pukulan. Bagaimana, Shino?" Kisame mengeluarkan pendapat. Menurutnya, para manusia itu bukan hanya diberi 'sedikit' kekuatan untuk menyerang, tapi juga bertahan.
"Baiklah kalau hanya ini caranya… Kita lakukan bersama-sama –" Shino memotong kalimatnya, menunggu kelima teman Naruto itu menyerang.
" – sekarang!"
.
.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil 'saudaraku' begitu saja." Ucap sesosok berambut pirang jabrik tanpa ragu. Tubuhnya mulai mengeluarkan aura merah yang menakutkan.
Ia berjanji pada Kyuubi, juga dirinya sendiri, untuk membunuh pria ular yang telah 'memakan' neneknya.
"Aku akan membunuhmu!" ruby tajam Naruto menatap lekat pria ular di depannya. Aura membunuh makin kuat terpancar dari tubuh tan eksotis si pemuda pirang. Dia benar-benar berbeda dari Naruto yang sebelumnya.
'Si Dobe ini… Benar-benar kuat.' Gumam Sasuke sambil tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Sayangnya mata Sang Baka Aniki berhasil menangkap momen berharga ini.
"Adikku benar-benar ganteng dan manis…" gumam Itachi yang langsung mendapat hadiah death glare dari Otouto tercintanya.
"Ow ow ow… Nampaknya Fugaku sudah membersihkan area pertempuran dari kerikil-kerikil tidak berguna itu. Ingatkan aku untuk mengucapkan terima kasih padamu nanti." Orochimaru sedikit menyeringai, di ruang utama Night Kingdom kini sudah tidak ada lagi iblis yang tidak berkepentingan dalam perseteruan ini. Hanya ada dua kubu, kubu Sasuke dan kubu Orochimaru.
"Kelihatannya kau senang sekali saat kerikil-kerikil itu sudah tidak ada lagi." Madara berdiri di samping kanan cucunya.
" – kenapa? Kau tidak bisa melata jika ada kerikil di depanmu? Sungguh nista!" lanjutnya dengan nada meremehkan.
"Dia kan ular abal, Tou-san. Dia tidak akan bisa melata tanpa si Maman*." Fugaku menambahkan. (P/N: Maman: maksudnya si Manda)
"Kakek dan Tou-san sangat keterlaluan." Itachi menyejajarkan diri dengan kedua seniornya.
" – kalian tidak mau kan kalau harus membelikan balon untuk Oro-chan saat dia menangis nanti?"
'Astagon dragon… Keluargaku ababil banget!' pekik batin Sang Uchiha Terpilih. Ia merasa ingin memakan ketiga seniornya itu.
'Berani-beraninya mereka mengganggu aksi kerenku!'
"Kau melupakan targetmu, bocah?"
'Tentu saja tidak, Om. Aku akan menghajar si bibir jontor setelah membunuh Orochimaru.' Batin Naruto menjawab pertanyaan di kepalanya. Mata semerah darah itu tengah mengamati sesosok pemuda raven cepak yang sedari tadi diam. Sungguh tidak terlihat seperti Sai yang biasanya.
"Masalah?" Tanya Danzou singkat. Matanya tak lepas dari Sang Tuan yang auranya mulai berubah.
"Tidak. Aku hanya sedih karena aku tidak jadi menikah dengan Sasuke." Jawab Sai sambil memamerkan senyum palsunya. Jika ia boleh jujur, masalah yang sebenarnya dia hadapi adalah makhluk berkulit tan yang memiliki tanda seperti kumis kucing di kedua pipinya.
'Dia baik?' pertanyaan bermakna ambigu di dalam kepala Sai.
"Dengar ya bocah. Sekali kau meremehkan Orochimaru-sama. Kau akan menyesal seumur jagung!" bentak Danzou sok keren.
"Ayah.. Maksudnya seumur hidaup kan?" bisik Sai pelan, membuat Kabuto dan yang lainnya ber-sweatdrops ria.
"Mati kau bocah Kyuubi!" Orochimaru berteriak lantang. Dari mulutnya keluar sebuah pedang besar yang langsung ia gunakan untuk menebas Naruto.
'whuuuzttt'
Pemuda berkulit tan itu menghindari serangan si pria ular dengan sangat mulus. Matanya berkilat tajam, aura merah di sekeliling tubuhnya membentuk sesosok makhluk yang seakan 'membungkus' tubuh Namikaze junior.
"Tidak mungkin! Bocah itu .." Kabuto tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia masih belum dapat memercayai penglihatannya sendiri. Bocah yang kemarin lusa hanyalah sesosok iblis polos yang bahkan tidak mengetahui kekuatannya sendiri, sekarang berubah menjadi sesosok makhluk legenda yang dipercayai sebagai iblis terkuat yang pernah ada.
"Dia sudah bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Tidak! Bukan hanya mengendalikan, Naruto bahkan mendapat kepercayaan dari Kyuubi untuk memiliki seluruh kekuatannya. Anakku benar-benar hebat." Gumam Minato tanpa sadar. Mata azure-nya menangkap sesosok iblis muda yang diselimuti aura merah berbentuk seperti rubah berekor Sembilan.
"Tapi.. Apa tidak masalah jika ia memiliki kekuatan itu secepat ini? Bagaimanapun juga, waktu yang dia pakai untuk 'berlatih' pastilah sangat singkat. Apa dia tidak terlalu memaksakan diri?" sahut Madara. Saat ini ia bersama yang lainnya sedang menonton aksi kejar-kejaran Naruto dan Orochimaru. Ular nista itu berkali-kali melancarkan serangan. Naruto pun berusaha menghindari serangan itu, sayangnya tak sedikit dari serangan Orochimaru yang mengenai dirinya.
Hal yang hampir sama terlihat pada Sasuke dan pengawal Orochimaru. Shikamaru, Kiba dan Neji pun berusaha membantu Sasuke dan Naruto.
"Entahlah. Anak itu hampir tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Menurutku, dia memang terlalu memaksakan diri." Minato melepas jubah beraksen api yang selalu dipakainya. Ia tersenyum tipis.
"Kita tidak akan membiarkan para iblis muda itu bersenang-senang sendirian kan?" Minato menyeringai. Aura di sekitar tubuhnya pun mulai berubah.
"Tentu saja tidak. Aku sungguh ingin membunuh pria separuh mumi itu." Madara menyeringai. Mereka akan mulai bergabung dalam pesta.
"Kurasa ini saatnya untuk menunjukkan pada mereka, sebuah kekuatan yang tercipta dari perpaduan siang dan malam." Fugaku menyeringai. Sharingannya mulai aktif.
"Jangan lupakan aku sebagai raja disini."
"Kita mulai! Hiaaa!"
.
.
"Kushina-san?" sesosok pemuda berambut pirang mencoba membangunkan wanita bermata emerald yang baru saja terjatuh.
"Aku.. hosh.. aku baik."
"Kita istirahat sebentar." Perintah Mikoto. Ia mengusap lembut kepala cucu yang sedang digendongnya.
"Maaf aku merepotkan." Kushina mencoba meluruskan kakinya. Konan yang berada di sampingnya pun memberikan segelas air putih kepada istri dari Namikaze Minato itu.
Keadaan Kushina memang tidak terlalu baik. Kekhawatirannya terhadap Naruto, serta perasaan aneh yang ia rasakan sejak semalam membuat ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.
"Kurasa tempat ini cukup aman." Deidara mengamati sekelilingnya. Saat ini mereka berada di depan Perpustakaan Keluarga.
"Haruskah kita masuk ke dalam, Kaa-san?" mata biru itu meminta jawaban dari iblis berambut hitam panjang.
"Kurasa tidak. Kau tidak tahu apa yang dipasang kakekmu saat ia mencari-cari informasi tentang para pengawal Danzou itu." gumam Mikoto cukup jelas.
"Maksud Kaa-san, kakek memasang pe –"
"Dunia iblis memiliki banyak legenda yang dirahasiakan, termasuk Kyuubi dan kekuatannya, serta kekuatan Uchiha Terpilih. Orochimaru pasti ingin mengerahuinya secara pasti. Benar kan?" potong ibu kandung Sasuke cepat. Ayah mertuanya sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi kelak.
Mikoto mendudukkan dirinya disamping sang sahabat. Hideo yang ada di gendongannya nampak sedikit resah. "Tenanglah manis.. Kita aman berada disini…"
"Mikoto."
"Ya?" onyx sang Uchiha melirik ke arah Uzumaki yang nampak menundukkan kepala.
"Dari tadi aku terus saja berdebar-debar. Perasaanku tidak enak." Gumam Kushina cukup jelas, membuat Konan dan Deidara yang tengah berbincang langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Kushina, meminta penjelasan.
"Ahh itu hanya perasaanmu saja, Kushina-san." Konan mencoba menenangkan. Ia mendekati Kushina dan –lagi-lagi- menyodorkan segelas air minum. Wanita bermarga Uzumaki itu mengambilnya dan langsung menghabiskan air di gelas itu hingga tak bersisa.
Mereka semua terdiam. Entah mengapa, perkataan Kushina membuat perasaan mereka –ikut- menjadi tidak enak.
"Kaa-san." Dei mengulurkan tangannya, ia ingin menggantikan Mikoto untuk menggendong Hideo. "Terima kasih."
Mata onyx bayi iblis itu menatap lekat Kaa-chan kesayangannya, seolah berkata 'Aku mencintaimu, Kaa-chan'. Deidara tersenyum dan langsung menempelkan pipinya ke pipi bayi mungil berambut pirang itu.
Saat itulah Hideo mengulurkan tangannya menyentuh pipi sang Kaa-chan.
'dheggg!'
'Apa ini?' Deidara membelalakkan matanya lebar, namun segera memasang mimik wajah seperti biasa saat ia menyadari ketiga wanita dihadapannya tengah memandangi dirinya.
'Istana, api, petir. Orang-orang berteriak, darah.' pendamping hidup Sang Raja Night Kingdom mendudukkan dirinya. Ia mencoba menerjemahkan gambar-gambar random yang berputar di kepalanya.
Mantan anggota Akatsuki itu masih menempelkan pipinya di pipi sang putra, masih membiarkan tangan kecil Hideo menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Kelihatannya Hide-kun senang sekali memainkan pipimu." Konan yang masih berdiri dan mengawasi keadaan sekitar mencoba memberi komentar.
"Ya, begitulah.. Aku kan memang ganteng." Deidara mencoba menjawab seperti biasa. Dan, berhasil. Tidak ada yang curiga dengan kegiatan anak-ibu (atau ayah?) ini.
'Kau ingin mengatakan apa Hide-chan..Jangan berputar-putar begini. Kaa-chan tidak mengerti. Pelan-pelan saja. Ok?'
Deidara menghela nafas pelan. 'Nah, begitu…'
Iblis pengguna tanah liat itu memejamkan matanya. Ia melihat tembok-tembok ruang utama yang berantakan. Beberapa pengawal serta keluarganya bertarung dengan para pengawal Orochimaru yang terlihat lebih kuat dari sebelumnya. Deidara tidak tahu pasti siapa yang sedang bertarung, wajah mereka terlalu 'blur' untuk dikenali.
'Pakaian itu! Darah?' mata biru Deidei terbuka saat dilihatnya seseorang dengan pakaian yang dia kenal jatuh tersungkur dan mengeluarkan banyak darah. Beberapa orang berteriak, teriakan yang paling keras berasal dari …
" – Tidak mungkin!"
Teriakan Deidara sukses merebut perhatian ketiga iblis lainnya. Tangan mungil Hideo tidak lagi memegang pipi kenyal Deidara.
'Benarkah ini yang terjadi saat ini? Tidak! Ini tidak boleh.' Setetes cairan bening mengalir dari sudut mata kanan Deidara.
"Ada apa Dei? Ada yang datang?" Mikoto menepuk pundak menantunya.
"Tidak. Maksudku bukan itu Kaa-san. Sebentar." Deidara terlihat panik. Ia mencoba meletakkan tangan mungil jagoan kecilnya di pipinya lagi.
'Tidak! Bukan ini.' Dahi Deidara berkeryit saat ia melihat sesosok iblis muda berambut pirang dengan mata hitam yang sedang terbang.
'Tunggu dulu! Iblis pirang bermata onyx,' mata biru Dei menatap lekat anaknya. ' – sedang terbang?'
"Itu Hideo." Gumamnya tanpa sadar.
"Berarti yang tadi itu tidak terjadi saat ini. Itu masa depan!" pekik Deidara. Bayi di gendongannya tertawa girang seolah berkata 'kau pintar Kaa-chan!'
"Kaa-san. Kita harus kembali ke ruang utama. Kita harus membantu Tou-san dan yang lainnya." Iblis pirang panjang berdiri, ia mencoba mengajak yang lainnya untuk kembali ke ruang utama. Ia berharap bisa membantu yang lainnya melawan Orochimaru dan mencegah hal yang Hideo perlihatkan padanya tadi.
"Ada apa? Beri tahukan hal itu kepada kami.." Kushina menatap lekat Deidara. Ia mencoba mencari penjelasan dari tindakan aneh si pirang.
"Mungkin akan sulit dipercaya. Tapi Hide-chan memperlihatkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan kita harus membantu mereka di ruang utama. Yahh. Setidaknya mungkin itu akan membuat hal buruk itu tidak terjadi." Mata Dei meredup. Ia masih menyembunyikan ;sesuatu yang tadi ia lihat. Iblis pengguna tanah liat itu tidak mau membuat yang lain terlalu khawatir.
"Baiklah. Aku ikut Deidara." Perasaan tidak tenang Kushina membuatnya memilih untuk mengikuti Deidara.
"Bagaimana, Mikoto-sama?" Konan mencari kepastian.
Mikoto terdiam beberapa saat. Matanya terpejam dan dahinya mengeryit. "Baiklah. Kita kembali."
,
,
"Huhh.. Hanya begitu kekuatanmu? Kau sebut dirimu kuat?" Sharingan Sang Uchiha Terpilih terlihat amat mengerikan. Di tangan kirinya bersinar sebuah pedang yang dikelilingi petir-petir yang memekakkan telinga.
"Sial! Dasar Pangeran ayam! Rasakan ini!" Danzou menggerakkan tangannya beberapa kali membentuk simbol-simbol aneh. Sesaat setelah ia selesai bergerak, muncullah sebuah pohon besar dari lantai ruang utama. Pohon itu seakan ingin memakan Sasuke hidup-hidup, dia menyerang dan mengikuti kemanapun Sasuke pergi.
Sayap hitam di punggung Sang Uchiha Terpilih telah direntangkan, Sang Pangeran menghindari hujaman ranting dan dedaunan yang dilontarkan pohon aneh berwarna coklat tua itu. Terbang dan dengan cepat membelokkan arah terbangnya, sayangnya beberapa serangan mengenai tubuhnya. 'Aku tidak bisa lama-lama bermain.'
Sasuke terlihat berbalik menghadap pohon nista yang mencoba untuk menancapkan batangnya di tubuh mulusnya Pangeran menarik nafas dalam-dalam dan bersiap menyerang.
"Katon. Goukakyou no Jutsu!" dari mulut si Uchiha bungsu keluar sebuah bola api yang tepat mengenai pohon Danzou.
"Chidori!" Sasuke melesat dan langsung menghantam si pohon dengan kilatan petir di tangan kirinya.
'blaaarrrrrr!'
Pohon aneh itu langsung meledak dan berubah menjadi kepingan abu. Membuat beberapa iblis lain yang sedang bertarung mengalihkan perhatiannya ke arah Sang Pangeran.
"Aku bahkan tidak menyadari betapa kuatnya dirimu, Otouto." Gumam Itachi pelan. Ia tidak yankin apakah otouto kesayangannya dapat mendengar kalimat itu, kalimat itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
Sasuke terlihat menyeringai. Kesalahan Danzou saat ini adalah menatap Mangekyou Sharingan Sang Uchiha Terpilih.
'Sial! Aku tidak bisa bergerak.' Iblis setengah mumi itu tidak bisa menggerakkan tubuhmnya, untuk bergeser saja tidak bisa.
'Inikah kekuatan Mange-Sharingan itu? Aku bisa mati kalau begini caranya.'
"Tidak bisa bergerak, eh?" Sang Pangeran sudah berada tepat di depan Danzou. Tangan kirinya menghunuskan pedang chidori. Kekuatan seorang Uchiha cukup untuk menghilangkan nyawa seorang iblis.
"Mati kau Dan –"
'craaashhh!'
"Ghhhh!" tangan alabaster itu memegang bahu kirinya yang terlihat mengeluarkan darah segar. Chidori di tangan kirinya tak lagi nampak.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh ayahku!" Sai membantu ayahnya berdiri. Sihir di tubuh si mumi lepas begitu 'pisau' buatan Sai mengenai lengan Sasuke dan langsung membuatnya mundur satu langkah.
'Sial! Aku terlalu fokus pada si mumi!' gerutu si pantat ayam dalam hati. Matanya menatap tajam Sai yang sedang menundukkan kepala.
"Aku… Aku memang menyukaimu. Sangat menyukaimu." Kepala berambut raven cepak itu menengadah, bibir jontornya tersenyum miris.
" – tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu begitu saja membunuh ayahku." Onyx beradu dengan Mangekyou Sharingan.
"Aku tidak butuh pidatomu. Satu hal yang harus kukatakan padamu, aku ingin membunuhmu." Sai membelalakkan matanya. Sasuke memang tidak melakukan apapun, tapi caranya berbicara dan caranya menatap onyx Sai membuat si pemilik onyx sedikit bergidik.
"Kau telah menyakiti Dobe-ku. Dan aku tidak akan memaafkanmu." Chidori di tangan kirinya mulai muncul lagi. Sayap di punggungnya telah 'disembunyikan'. Ia merasa tidak perlu menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghadapi si bibir jontor.
Sementara itu, Naruto masih sibuk dengan Orochimaru.
"Hosh… Ular nista ini benar-benar menyebalkan!" kuku-kuku panjang Naruto menebas beberapa ekor ular sekaligus. Iblis berambut hitam panjang yang dihadapinya selalu saja mengeluarkan ular putih yang kemudian mengahadang sekaligus menyerang si rambut duren dengan racun-racunnya.
"Kau baik-baik saja bocah? Berhentilah sebentar. Ayahmu pasti akan menggantikanmu bertarung." Gumam suara om-om di kepalanya.
"Tidak. Banci ular ini adalah musuhku. Ini pertarungan antara kami berdua!" bisik Pewaris Namikaze. Beberapa iblis –termasuk ayahnya dan keempat Uchiha di ruangan itu- dapat mendengarnya dengan cukup jelas.
"Jadi kau sedah bertemu dengan Kyuubi?" mata kuning tajam itu menatap lekat pemuda bertanda lahir spiral. " – bagaimana dia? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya juga." Bibirnya tersenyum. Senyum nista plus eyeshadow ungu katrok plus kulit pucat plus rambut hitam panjang yang ia miliki membuatnya terlihat sangat memuakkan.
"Tentu saja." Naruto menjawab mantab.
"Ceritakan padaku!" perintah Orochimaru. Bagaimanapun juga Orochimaru sangat yakin bahwa rubah api berekor Sembilan itu akan menjadi miliknya.
"Om Kyuubi itu …" ruby Naruto menatap tajam Orochimaru. Dia bertekad membuat si pria ular menyesal telah menanyakan hal ini kepadanya. Bibirnya menyunggingkan seringaian yang mengerikan. Naruto menemukan kalimat yang tepat.
" – adalah iblis bergender pria! Tidak seperti dirimu yang sangat tidak jelas itu!" jari tengah tangan kiri Sang Namikaze Junoir tertuju ke Orochimaru. Bocah pirang itu menunjuk-nunjuk si pria ular dengan sangat tidak sopan.
Lagi.. Semua iblis yang mendengarnya melakukan ritual sweatdrops bersama-sama. Orochimaru terlihat menggerak-gerakkan tangannya. Sepertinya ia akan melakukan sesuatu.
'ggrrrrgggggggg'
Istana Night Kingdom bergetar. Terlihat seekor makhluk ungu besar yang mulai memasuki ruang utama dari arah luar. Manda, ular kesayangan Orochi yang sedari tadi stand by di luar langsung masuk ke ruang utama setelah tuannya memanggil.
"Mati kau bocah Kyuubi!" Orochimaru berteriak lantang. Ular peliharaannya melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, menuju pemuda berambut pirang yang tengah memasang kuda-kuda dengan mata ruby yang menakutkan.
'ssraaashhhhhhh'
Sesosok bayangan kuning bergerak cepat dari arah samping, menghantam kepala Manda dan membuatnya terpental beberapa meter.
"Cih.. Yellow Flash." Gerutu Orochi kesal.
"Lanjutkan pertarunganmu, Nak. Tunjukkan bahwa dirimu pantas memiliki kekuatan Kyuubi."
"T – tou-san…" ruby bertemu azure.
"Jangan mengecewakan Tou-san dan..." Minato tersenyum dan langsung berbalik untuk menghadapi ular ungu kesayangan Orochimaru, " – teman-temanmu." Lanjutnya sesaat sebelum melancarkan serangan.
"Temen-teman…" ruby itu mengedarkan pandangannya. Terlihat si pemuda Hyuuga tengah menghadapi pengawal Orochimaru yang bertangan empat. Kiba mengadu punggungnya dengan Shikamaru, mereka berdua melawan iblis wanita yang membawa seruling serta iblis berambut putih yang memiliki dua kepala. Sementara itu Gaara sedang melawan pria gemuk yang sangat senang menggunakan tanah sebagai senjatanya.
"Mereka semua mencegah pengawal-pengawal Orochimaru yang ingin menyerangmu. Mereka menyerahkan Orochi padamu. Mereka percaya, kau akan bisa mengalahkannya." Suara Om Kyuubi kembali terdengar. Jujur perasaannya saat ini sedang sangat tidak enak, tapi ia tidak mau mengganggu Naruto dengan perasaannya yang tidak jelas itu.
"Bukan hanya mereka. Lihatlah di luar sana!" Naruto membelalakkan matanya. Di luar istana terlihat Sasori, Kankurou, Temari dan Akamaru bertarung melawan segerombolan mayat hidup – atau apalah itu namanya.
"Mereka semua …" pemuda pirang itu bahkan tidak bisa meneruskan kalimatnya sendiri.
"Para Uchiha pun percaya padamu." Lanjut Kyuubi.
Uchiha Fugaku beradu jurus dengan Kabuto, dan saat ini Sasuke beradu punggung dengan anikinya, Itachi, bersama-sama melawan Danzou dan Sai. yang tidak terlihat hanyalah Uchiha Madara. Iblis tua itu selalu menghilang begitu saja (pengetik digetok topeng).
"Ck. Apa yang kau lakukan Dobe? Cepat bunuh dia." Gumam Sasuke dengan nada datar sambil menghindari serangan Sai.
"Atau aku harus membantumu, eh?" seme idaman berkulit alabaster dengan rambut pantat ayam telah berdiri di samping Dobe-nya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia melesat menuju Orochimaru.
"Katon. Goukakyou no Jutsu!"
'wussshhhhhhhh'
"RASENGAN!"
'WHOOOOSHHHHHHHH!'
'BLAAARRGHHHH'
Naruto melesat menyusul kekasihnya. Ia mendekatkan tangan kanannya ke arah api yang dikeluarkan sang kekasih. Dengan cepat, ia memunculkan pusaran angin di telapak kanannya, membuat api dari Sasuke menyatu dengan Rasengannya.
Rasengan berbalut kobaran api itu ia hantamkan ke tubuh Orochimaru. Membuat pria ular itu membelalakkan mata kuningnya.
"Sial! Satu detik saja aku terlambat menghindar. Aku bisa mati." Seme dari Kabuto itu menggerutu kesal. Ia hampir saja terkena hantaman Rasengan super Sang Pewaris Kyuubi.
" – bocah itu benar-benar hebat." Lanjutnya setelah melihat lantai tempatnya berpijak tadi hancur. Bukan hanya hancur, di tempat itu sekarang tampak sebuah cekungan besar bergaris tengah sekitar 5 meter. Di tengah-tengah cekungan itu terlihat seorang bocah berambut pirang tengah berdiri tegak sambil menyeringai.
"Aku bisa melakukannya sendiri 'Suke." Ruby itu menatap Mangekyou Sharingan kekasihnya.
"Tidak usah terlalu terkejut. Aku kan memang hebat." Cengiran khas Namikaze ditunjukkan Naruto entah kepada siapa. Yang jelas, saat ini hampir semua iblis di ruangan itu tengah menatapnya dengan tatapan heran.
"Tidak." Sasuke menyeringai.
"Hanya saja…" Mangekyou itu telihat berbeda dari yang sebelumnya.
" – Dobe yang dulunya adalah uke terpolos di dunia, sekarang telah berubah menjadi sangat 'liar'. Kurasa akan sangat menyenangkan saat kita berdua melakuk –"
'buaaghhhh'
"Apa yang kau lakukan? Dasar Dobe!" sang Pangeran mengusap pipinya. Saat ini sang kekasih telah menduduki perutnya. Pemuda pirang itu baru saja menghadiahkan kepalan tangannya untuk sang seme idaman.
"Teme! Kau pikir kau sedang membicarakan apa, hahh? Aksiku sedang sangat keren. Kau malah merusaknya dengan perkataan mesummu itu!" tangan tan itu menarik-narik kerah baju si Uchiha bungsu.
"Terserah padaku! Aku pangeran disini. Dasar Dobe!"
"Teme!"
"Duren bodoh."
"Pantat ayam sialan!"
"Bodoh."
"Suram!"
"Idiot."
"Mesum!"
Itachi mencoba untuk menahan tawanya. Adiknya benar-benar unik. Sifatnya dapat berubah drastis begitu ia berhadapan dengan si bocah duren.
"Ehemmm.. Bisakah kalian berhenti sekarang? Saat ini sedang terjadi perang." Gumam itachi sok cool.
"Huh.. Kita lanjutkan nanti di ranjang." Bisik Sasuke lirih. Hal ini tentu membuat pipi tan Naruto bersemu merah.
Sementara putra pasangan MinaKushi itu ber-blushing ria, Sasuke sudah berada di posisinya semula, memasang kuda-kuda di depan si bibir jontor, bersiap melanjutkan pertempurannya yang tertunda.
"Ssshhhhhh…. Ternyata kau lumayan juga ya, Naruto." Lagi-lagi iblis berjiwa ular itu menyeringai. Bocah dihadapanna sungguh sangat membuatnya tertarik. Mungkin saat Kyuubi telah menjadi miliknya nanti, tubuh Naruto akan dijadikannya budak pemuas naf – emmphhh (Sasu: bego lu! Ini fict rated T!). ehmm.. maksud Kyuu, tubuh Naruto akan dijadikannya budak sekaligus pengawal pribadinya.
"Begitulah…" bibir manis si bocah Kyuubi menyunggingkan seringaian yang terlihat menggoda bagi Sasuke.
'Sabar.. Sabar Sas…' Uchiha bungsu itu coba mengingatkan dirinya sendiri agar tidak lepas control dan tetap fokus pada musuh di depannya.
Naruto memejamkan matanya, membuat aura merah yang sedari tadi menyelimutinya bertambah pekat. Ia sedikit mengeryitkan dahi saat dirasakannya sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. 'S – sial!'
"Kau baik-baik saja, Naruto? Tubuhmu –"
'Aku baik-baik saja Om! Aku baik…' bocah Kyuubi itu menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
'Lihat saja. Aku akan membunuh pria ular menyebalkan itu untukmu.' Naruto membuka telapak tangan kanannya.
'Demi para iblis di dunia langit…' pusaran angin mulai muncul. Kali ini bukan pusaran angin biasa, melainkan pusaran angin yang disertai percikan api berwarna merah.
'Demi Sakura dan yang lainnya…' pusaran itu makin membesar, putarannya semakin cepat dan konstan.
"Bocah itu akan menggunakan kekuatan yang lebih besar." Bibir Orochimaru menyeringai. Bukannya merasa takut, ia malah terlihat sangat senang.
Bibir pucat si iblis ular bergerak-gerak, seakan tengah merapalkan mantra. Mata kuning tajamnya menatap Naruto dengan tatapan yang aneh.
"Dengan ini, kau tidak akan bisa menyentuhku." Gumam pemilik Manda itu saat ia hampir menyelesaikan 'kegiatan'nya.
Naruto mengedarkan lagi pandangannya. Semuanya tengah berusaha sebaik mungkin demi melindungi dirinya. Dan yang harus ia lakukan adalah membunuh Orochimaru.
Shikamaru terbatuk beberapa kali, ia mengeluakan cukup banyak darah. Dibelakangnya ada Kiba yang sedang memegang dada kirinya. Saat ini musuh mereka berdua bukan lagi Tayuya dan Sakon. Musuh mereka bertambah satu orang. Kepala aneh di punggung Sakon ternyata adalah seorang iblis lain yang 'hidup'. Ia memisahkan diri dari Sakon dan menjadi sesosok iblis bertanduk bernama Ukon.
Sementara itu, duet maut Uchiha Brothers terlihat cukup sukses, mereka berdua tengah bersenang-senang. Danzou merasa sangat kelelahan, sedangkan Sai masih sibuk dengan gambar-gambar nistanya. Ia menggambar banyak sekali perisai dan binatang buas.
"Kurasa api kita berdua akan cukup membuat mereka gosong. Bagaimana Otouto?"
"Hn."
"Baiklah… Kita lakukan!" Raja dan Pangeran itu melompat beberapa meter, mereka menarik nafas dalam-dalam.
"Katon. Goukakyou no Jutsu!" keluar bola api yang sangat panas dari mulut kedua Uchiha bersaudara itu.
"Chidori!" diluar dugaan, Sasuke menambahkan serangan petir ke dalam dua bola api yang telah menyatu menjadi bola api besar itu. Kobaran panas berwarna merah yang mereka ciptakan melesat cepat ke arah Danzou dan Sai berada.
Tak jauh dari tempat Duo Uchiha beraksi, terlihat pemuda Hyuuga sedang terengah. Iblis bertangan empat yang dihadapinya ternyata cukup cerdik. Ia telah menemukan kelemahan Neji.
Gaara yang tengah terperangkap dalam 'pelukan' tanah batu musuhnya terlihat memejamkan mata. Ia berkonsentrasi, jari-jari tangannya bergerak lincah.
"Sabaku." Gumamnya dengan nada datar. Kelopak matanya terbuka, menunjukkan emerald bening yang terlihat sangat tajam. Tiba-tiba tanah keras yang menelimutinya berubah menjadi pasir dan langsung melayang membentuk tombak-tombak kecil.
"Bunuh si gendut itu." perintah si pemuda Sabaku pelan. Tombak-tombak pasir itu langsung menghujani iblis gendut berambut orange yang sedari tadi menjadi lawannya. Tidak cukup sampai disitu, kumpulan pasir itu perlahan melahap tubuh Jirobo.
"Berha –" emerald Gaara membelalak saat melihat lawannya belum juga mati.
'Seharusnya dia sudah kehabisan nafas kan? Tidak! Mereka bukan lagi pengawal seperti yang tadi.'
Jirobo, Tayuya, Kidoumaru serta Sakon-Ukon memiliki penampilan yang sedikit berbeda dari saat mereka datang tadi. Kulit mereka berwarna abu-abu pucat, di sekujur tubuh mereka seolah ada tato berpola aneh yang membuat kekuatan mereka bertambah.
"Seperti kata Madara-sama. Mereka berevolusi. Sial, aku tidak menyadarinya." Gerutu Gaara. Ia harus tetap bertarung demi memberi Naruto kesempatan untuk mengalahkan Orochimaru.
"Aku akan membunuhmu. Kau dengar itu, Banci Ular?" pusaran angin-api di telapak kanan Naruto nampaknya sudah sempurna. Orochimaru tersenyum makin lebar.
"Serang aku. Bunuh aku kalau kau bisa." Pria berambut hitam panjang itu mengangkat tangan kanannya.
"Hhhh…" pemuda Namikaze mengambil ancang-ancang dan melompat.
"RASENGAAAAANN!" Pewaris Kyuubi itu melesat cepat ke arah Orochimaru berada. Mata ruby-nya sangat menyeramkan. Seringai di bibirnya membuat kekasih Uchiha Sasuke ini terlihat seperti 'iblis' sungguhan. (Naru: gue emang iblis kan ya -,-)
"Datanglah!" Orochimaru menghantamkan tangannya ke lantai, memunculkan tanda aneh di lantai itu.
'ppoooffff'
"Ha'i. Orochimaru-sama." Gumam sosok yang muncul setelah aksi 'pemanggilan' si banci ular.
'dheegggg!'
"Mereka.. Tidak!" Naruto membelokkan serangannya ke samping kanan. Ia berusaha keras untuk tidak melukai siapapun.
'brughhhhh!'
"Dobe! apa yang kau lakukan, hah? Kau mengganggu aksiku." Gerutu Sasuke kesal. Ia heran mengapa kekasihnya tiba-tiba menubruknya dari samping.
Amarah Sang Pangeran lenyap begitu Mange-Sharingan-nya menangkap keadaan si uke. Tembok di samping mereka berdua hancur lebur akibat terkena Rasengan, tapi bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah saat ini adalah Naruto yang sama sekali tidak menggubris ejekannya.
"Dobe?" tangan alabaster Sasuke menepuk pundak sang kekasih. Mangekyou Sharingan itu mengikuti arah pandang mata ruby Naruto.
'dheeggg'
"Mereka.." Uchiha Terpilih memandang Naruto dan makhluk di depan Orochimaru secara bergantian. " – bagaimana mereka bisa sampai kemari?"
"Bagaimana Kyuubi? Kau tidak bisa melakukan apapun, eh? Mana kekuatan yang kau bilang tadi?" pria pucat itu berjalan beberapa langkah, menyejajarklan dirinya dengan kelima makhluk-bukan-iblis yang secara tidak sengaja menyelamatkan nyawanya.
"Kau tidak akan bisa menyerangku kalau ada mereka."
"Teme…" Naruto menengokkan kepalanya ke kiri, menatap Mangekyou Sharingan sang kekasih.
Saat ini di depan mereka ada Orochimaru. Itu tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka jika kelima teman manusia Naruto (Sakura, Lee, Ino, TenTen, dan Chouji) tidak berada di depan Orochimaru dan memasang kuda-kuda untuk melindungi 'Tuan' mereka.
Naruto tidak akan pernah bisa melukai –apalagi menyerang- temannya sendiri. Dan teman-temannya saat ini bertindak seolah mereka adalah 'perisai' Orochimaru. Dengan kata lain, Naruto tidak bisa 'menyentuh' si pria ber-eyeshadow ungu.
"Skak Mat." Gumam Orochimaru cukup jelas.
.
.
Tbc
.
.
Ahhh selesai juga chap 13 ini :3
Telat banget gak sih ya :D
Ehemm.. Kyuu mau minta maaf nih. Kayaknya ini gak tamat di chap 14 deh..
Gak apa kan ya?
Soalnya Kyuu gak mau ceritanya terkesan ngebut sih -,-
Kalo ada tulisan percakapan tebel-tebel gitu, itu omongannya kyuubi (maaf kalo ada yang kelewat ngeditnya :p)
Sasu: kok disini Dobe kayaknya lebih hebat dari gue ya -,-
Naru: gue kan emang hebat Tem :3
Sasu: dan kenapa gue harus duet segala sama si baka aniki? Emang kita an*ng-asiyanti apa -,-
Ita: gue sayang Otouto
Sasu: dan bla bla bla blla..
Kyuu: kita tinggalin mereka yah :DD
.
.
Ok. Saatnya bales review :3
.
Chidorasen: I – iya ini udah apdet kok…
Eheheh…
Maap yah kalo lama. Kyuu kan maba (gak nyambung)
Btw, terima kasih dukungannya :3
.
Hitsugaya Toushiro-chan: jangan digituin dong Sas -,-
Kamu tuh harusnya bangga ada bintang fandom sebelah maen-maen ke sini buat baca fict Kyuu (bangga)
Hahahah makasih dukungannya ya …. *bunging mau panggil Toushiro apa Hitsugaya
Btw, mau dong semangkanya :3
.
Ace Sam Luffy: hahahah :D
Ini terlalu lama gak Ace-san :3
Terima kasih dukungannya yah :D
Semoga chap ini gak jelek-jelek amat :p.
.
Nara Hikari: iya ini udah apdet.. makasih dukungannya yah :3
Naru: gue gak pakal pernah bisa nendang anu-nya 'Suke
Sasu: iya lah… tar kalo kita mau ehem-ehem gimana? Gak bakal bisa kan kalo anuku kau lukai (lebay)
Kita lupakan percakapan nista itu :p
.
Ashahi Kagari-kun: ahh itu jangan di fict ini :D
Di sekuel dari 'There's no next time' aja yah *promo
Ehemmm… ga apa deh ngamuk..
Silakan aja : D (uda pake baju besi, dapet nyolong dari Negara api)
Btw, terima kasih dukungannya Ashahi-san
.
Vipris: te – terima kasih telah nge-fav fict abal geje nista gak banget ini…
Hiks… terima kasih.. *bungkuk2 geje, terharu
Dan terima kasih telah mencintai Kyuu *plakkk :DD
.
Aoi namikaze: maaf yah lama..
Maklum, Kyuu kan maba (lagi-lagi ga nyambung) ^^
Makasih banget pujiannya yah…
Itu gak bohong kan yah mujinya :p
Moga chap ini memuaskannn…
.
Hatakehanahungry: yupp
And Cuma hana-san yang tau rahasia Kiyu (you know what I mean)
I hope, we're still 'friend' :D
Kalo siyahrinism itu akibat ospek kemaren -,-
Rese banget panitianya, masa kita dikasih virus geje begituan -,-
Terima kasih dukungannya yah hana-san : )
(dan Kiyu ngerasa bego, minta bantuan sama orang yang jauh lebih muda :p)
.
Aoisun: salam kenal : D
Iya nih naru keren. Sampe si sasu protest uh…
Hahahah
Terima kasih pujiannya :D
Semangat baca fict geje Kyuu yang lain juga yah ^^
.
Heart of SnowIce: semoga ini cukup kilat ^^
Untuk chap ini belum keliatan partmner in crime nya
Hahahah
Makasih dukungannya yah ice-san :3
.
Od3rsChWank mi4w-mi4w: hahaahh maklum lah,, Kyuu gak tau bunyinya gimana kalo ada kilat jalan-jalan *plaakkk~~~
Jangan panggil 'kak' dong ya
Kyuu jadi berasa tua :p
Terima kasih dukungannya : )
.
monkey D eimi: hahahah berdoalah biar kelak Kyuu jadi guru eimi-san :3
dan materi yang Kyuu ajarkan adalah tentang sasunaru, sasunaru dan sasunaru *buaghhhh
btw… 'wb' itu apa ya ^^
maklum, Kyuu kan pengetik abal :3
terima kasih dan mohon bantuannya yah ^^
.
Meg chan: yo naru naru yo yo yoooooo
Ayo berjuaaaanggggg!
Terima kasih dukungannya meg-san :3
.
ttixz lone cone bebe: ahh masa sih? jumlah halamannya hampir sama kaya biasanya kok 0,0'a
ehemmm… gaya nulis Kyuu emang kaya anak TK sih : D
jadi wajar kalo Be-san ngira gitu :3
Kyuu jadi ngerasa muda :p
Btw, terima kasih dukungannya Be-san ^^
.
CCloveRuki: yupp..
Ini gak terlalu lama kan ya ^^ *nodongin golok karatan
Eheheh :3
Gaya Kyuu yang mana yang CC-san suka 0,0
Kayaknya Kyuu abal banget deh :p
Btw, terima kasih ya :D
.
Namikaze Trisha: yuppp
Udah apdet ini ^^
Terima kasih ya :D
.
wind. le-vent: yuppp :3
anda benar sekali :D
awalnya Kyuu bingung harus bikin dia ngomongnya gimana. Akhirnya Kyuu putusin buat bikin kaya gitu, seolah tata bahasa shino jelek banget
ehhh ternyata beneran jelek ya ^^ hahahah
bukan.. itu bukan kalung kok :3 chap depan bakal terungkap :D
kalu si Gaga sih… Dia kan emang pada dasarnya aneh *plakkk~~
tapi naru emang mirip banget sama minato kan ya :D
ehem.. istananya emang udah mulai hancur tuh ^^
terima kasih dukungannya yah :3
.
namikaze hikari: yuppp ^^
terima kasih :D
ini udah apdet
.
sasunaru4ever: ga apa kok :3
dia mati di tangan … ehemmm
rahasia :p
yuppie.. ini dah apdet
terima kasih ya ^^
.
Ahhh selesai juga :D
Chap depan kayaknya bakal banyak yang ngamuk-ngamuk sama Kyuu deh ^^
Hahahah *abaikan kalimat ini
.
Akhir kata
REVIEW please :3
