Amarah Sang Pangeran lenyap begitu Mange-Sharingan-nya menangkap keadaan si uke. Tembok di samping mereka berdua hancur lebur akibat terkena Rasengan, tapi bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah saat ini adalah Naruto yang sama sekali tidak menggubris ejekannya.

"Dobe?" tangan alabaster Sasuke menepuk pundak sang kekasih. Mangekyou Sharingan itu mengikuti arah pandang mata ruby Naruto.

'dheeggg'

"Mereka.." Uchiha Terpilih memandang Naruto dan makhluk di depan Orochimaru secara bergantian. " – bagaimana mereka bisa sampai kemari?"

"Bagaimana Kyuubi? Kau tidak bisa melakukan apapun, eh? Mana kekuatan yang kau bilang tadi?" pria pucat itu berjalan beberapa langkah, menyejajarklan dirinya dengan kelima makhluk-bukan-iblis yang secara tidak sengaja menyelamatkan nyawanya.

"Kau tidak akan bisa menyerangku kalau ada mereka."

"Teme…" Naruto menengokkan kepalanya ke kiri, menatap Mangekyou Sharingan sang kekasih.

Saat ini di depan mereka ada Orochimaru. Itu tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka jika kelima teman manusia Naruto (Sakura, Lee, Ino, TenTen, dan Chouji) tidak berada di depan Orochimaru dan memasang kuda-kuda untuk melindungi 'Tuan' mereka.

Naruto tidak akan pernah bisa melukai –apalagi menyerang- temannya sendiri. Dan teman-temannya saat ini bertindak seolah mereka adalah 'perisai' Orochimaru. Dengan kata lain, Naruto tidak bisa 'menyentuh' si pria ber-eyeshadow ungu.

"Skak Mat." Gumam Orochimaru cukup jelas.

.

.

Night Kingdom

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story "Night Kingdom": KyuuRiu

Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing

Pair : SasuNaru

ItaDei

SasuSai

SaiNaru

FugaMina (?)

NejiGaa

ShikaKiba

.

Rated: T

Warning: abal, jelek, geje, typo, mis-typo, semuanya gak banget :3

.

Chap 14: He is Already – !

.

.

Gadis bermata lavender nampak tengah memasang kuda-kuda sambil menatap tajam seorang gadis pirang panjang di depannya, 'Aku harus melakukannya. Kalau aku tidak segera kembali ke istana, Dia akan…'

"Tidak boleh!" pekik Hinata tanpa sadar. Ia melesat dan langsung menekan beberapa titik syaraf si gadis pirang. Berbeda dari serangan sebelumnya, kali ini si gadis Hyuuga mengikutsertakan tenaga dalamnya.

"Aaghhhh!" teriak Ino saat tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas. Hinata mencoba sehalus mungkin, namun bagi tubuh manusia, serangan Hinata pasti akan terasa sangat menyakitkan.

"Dia akan baik-baik saja." Gumam Kakuzu pelan. Saat ini dia sedang 'menyambungkan' lengan kanan Hidan yang putus akibat serangan Kimimaro beberapa saat lalu. Hidan memang memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula. Walaupun ia sudah dimutilasi menjadi bagian-bagian terkecil, potongan-potongan itu akan dapat bersatu dan kembali membentuk wujud Hidan. Namun tentu saja, keahlian Kakuzu sangat dibutuhkan untuk membantu iblis klimis ini. Itulah sebabnya mereka menjadi partner yang saling menguntungkan.

"Huhhh! Sesuatu bang –"

" ini tidak akan selesai!" potong Kakuzu cepat.

Saat ini Kakuzu, Hidan dan Hinata tengah berada di salah satu sudut ruang bawah tanah tempat Naruto disekap beberapa saat lalu. Kakuzu dan Hidan sibuk dengan aksi jahit-menjahit mereka, sedangkan Hinata memerhatikan gerak gerik Kimimaro untuk mencari pola serangan yang dimiliki iblis tulang itu.

"Kakuzu-san." Bisik Hinata tanpa mengalihkan pandangannya dari si iblis tulang, "Kita harus segera menyelesaikan ini."

"Hmm?" Kakuzu menghentikan aksi menjahitnya dan segera memerhatikan mimik serius si junior.

Hinata menghela nafas sekali, ia memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya perlahan.

"Naruto-sama melupakan ini." Tangan langsat si gadis Hyuuga memerlihatkan sebuah benda transparan berisi sesuatu yang berkilau.

"Benda itu…"

" – kita selesaikan secepat mungkin!" lagi-lagi Kakuzu memotong ucapan partnernya. Ini gawat. Naruto pergi tanpa membawa benda penting itu.

Shino yang mendengar percakapan mereka langsung bersiap mengeluarkan serangga yang paling mematikan. Ia tidak peduli jika ia akan terkena amukan Naruto saat bocah itu mengetahui bahwa Shino telah melukai teman-temannya.

"Hidan. Bantu aku mengalihkan perhatian mereka!" gumam si pemuda Aburame dengan nada yang sedikit meninggi. Ia harus bertindak cepat atau semuanya akan terlambat.

Hidan, Kisame, Zetsu dan Hinata langsung menghadapi kelima manusia yang sedari tadi menghambat pertarungan mereka. Hinata menggunakan Jyuuken untuk menyerang titik-titik syaraf Ino dan Lee, Hidan asyik memukulkan pegangan sabitnya ke arah Sakura dan Chouji. Sementara itu, Tenten terlihat mencoba menyerang Shino.

"Walau kalian sangat menyebalkan, aku tidak akan membunuh kalian." Ucap Shino. Dari sekujur tubuhnya keluar serangga terbang berwarna kemerahan. Serangga-serangga itu langsung berhamburan menyerang Sakura, Lee, Tenten, Ino, dan Chouji.

Tak jauh dari tempat itu, terlihat Kakuzu yang berusaha mengekang Kimimaro dengan semacam tali yang dikeluarkan dari pergelangan tangannya.

"Aku akan segera membunuhmu!" teriak Kimimaro. Tubuh berwarna abu-abu tua itu bergerak memutar, ekor tajamnya menyabet benang tali milik Kakuzu hingga putus.

'crassshhh'

"Sial! Kadal ini benar-benar kuat!" Mata Kakuzu melirik rekan-rekannya. Kerja mereka cukup bagus. Serangga-serangga Shino mulai menyuntikkan cairan ungu ke tubuh lawannya.

Kimimaro memanfaatkan kelengahan Kakuzu dengan sangat baik. Ia melompat ke arah Kakuzu dengan pedang tulang yang terhunus di tangan kirinya.

3..

2..

1..

"Mati kau!"

'buaghhh!'

"Kakuzu!"

Mata bulat besar tanpa pupil itu menangkap bayangan seorang pemuda berambut jabrik tengan memukul rahang makhluk berekor tajam dengan kecepatan yang sangat tinggi.

"Terima kasih, Shino." Gumam Kakuzu. Hampir saja ia terkena serangan anak buah Orochimaru.

"Lain kali, jangan lengah." Shino menggerak-gerakkan tangan kanannya yang dipenuhi cairan ungu.

"S –sial!" Kimimaro mengusap cairan ungu di rahangnya.

"Bodoh! Racunnya akan menyebar ke bagian lengan." Komentar Shino. Ia baru saja menggunakan jurus rahasia yang dimiliki keluarganya –menyelimuti tubuh mereka dengan racun yang sangat mematikan.

"Sebentar lagi para manusia itu akan kehilangan sebagian dari kemampuan mereka."

"Hahahah! Rasakan kalian! Sebentar lagi tidak ada yang menghalangiku membunuh si kadal itu!" teriak Hidan girang. Ia tengah bertarung dengan para manusia yang dikerubungi serangga-serangga beracun.

"Sebentar lagi. Hiaa! Kita pulang." Sahut Hinata yang keadaannya tak jauh berbeda dari Hidan.

Para manusia itu benar-benar seperti zombie. Separah apapun keadaan mereka, mereka tetap berusaha bergerak dan menyerang para prajurit Night Kingdom.

"Hmm.. Lima, empat, tiga, du –"

'wyuuussshhhhh'

Angin yang cukup besar menghentikan hitungan mundur Kisame. Pusaran angin puting beliung itu menyelimuti kelima manusia yang masih berada di bawah kendali Orochimaru itu membuat pandangan Hidan dan para prajurit Night Kingdom lainnya kabur.

Entah dari mana datangnya angin itu, entah bagaimana caranya... kelima manusia itu tiba-tiba menghilang, bersamaan dengan angin yang tiba-tiba lenyap.

"Shino?" pekik Hinata. Ia meminta penjelasan dari kejadian ini.

"Bukan aku." Sanggah Shino.

"Sial! Tempat ini benar-benar aneh. Tadi aku tidak bisa menggunakan kemampuanku berpindan tempat, sekarang kelima manusia itu tiba-tiba menghilang!" gerutu Zetsu.

"Sepertinya Tuan Orochimaru mengundang mereka dalam pesta." Kimimaro bangkit dan mencoba menyerang Kisame, ia tidak sadar bahwa racun yang mengenai rahang dan lengannya mulai masuk ke dalam kulit dan merusak sel tubuhnya.

"Kita selesaikan ini secepatnya." Gumam Kakuzu.

.

.

"Teme.."

"Semua akan baik-baik saja, Dobe." Sasuke mencoba menenangkan kekasihnya yang terlihat panic.

"Bagaimana bisa baik-baik saja? Lihat keadaan mereka yang penuh luka itu!" ruby Naruto tak lepas dari kelima temannya yang berdiri membelakangi Orochimaru.

'Luka-luka itu…' gumam Sang Pangeran.

' – pukulan-pukulan Hinata.' Lanjutnya saat melihat pola pukulan Jyuuken di sekujur tubuh Ino.

'Racun Shino,' tambahnya saat Sharingannya menangkap guratan ungu tipis di masing-masing tubuh-teman Naruto.

"Tim Dua benar-benar menghadapi masalah." Gumamnya tanpa sadar. Kini ia menemukan alasan mengapa Zetsu tak juga memberikan laporan.

"Bagaimana Pangeran? Masih ingin melanjutkan pertarungan ini?" bibir sepucat mayat Orochimaru terlihat menyeringai. Aksinya benar-benar membekukan gerakan Naruto cs.

"Brengsek! Dia menggunakan teman-teman anakku sebagai umpan!" gerutu Minato, tangannya mengepal erat. Dihadapannya terlihat sosok Manda yang hampir mati. Tubuh ular besar itu terlihat penuh sayatan dan luka bakar di beberapa bagian.

"Bagaimana Fugaku? Sepertinya orang-orangmu tidak akan bisa berbuat banyak. Kasihan…"

'blaaashhhh!'

Fugaku membalas ejekan si kacamata bulat dengan jurus bola apinya, 'Sial! Mereka benar-benar licik!'

"Fuga! Selesaikan makhluk sialan ini! Aku akan mengurus mereka." Teriak Minato. Ia berjalan meninggalkan Manda yang masih mencoba untuk melata. Mata merahnya menatap tajam Orochimaru yang tengah menyeringai riang.

Minato melaju secepat kilat ke arah si iblis ular, tangan kirinya mengepal, bersiap melepaskan pukulan yang ditujukan ke rahang kanan Orochimaru.

"Brengsek kau ular!"

'bettsss!'

Sesosok makhluk hijau berambut bob dengan sigap menghalau serangan Sang Raja Matahari. Tangan dan kakinya lincah bergerak menangkis pukulan demi pukulan yang dilancarkan tetua Namikaze.

"Tou-san! Hentikan!" teriak Naruto. Kakinya masih belum bisa bergerak. Pikirannya belum mampu memutuskan apa yang harus ia lakukan.

Dengan terpaksa, Minato menghentikan aksinya. Ia melompat dan berdiri tepat di samping Sang Pewaris Namikaze.

"Dengar, Nak." Minato memegang erat bahu putranya, membuat kedua pasang ruby Sang Namikaze saling bertatapan.

"Di saat seperti ini, kau harus bisa memutuskan. Keraguan dan ketakutanmu hanya akan membawa kehancuran bagi dirimu sendiri."gumam Minato lirih, namun tegas.

"Tapi mereka adalah teman-temanku." Ruby Naruto mulai meredup. Bagaimanapun juga, Sakura dan yang lainnya adalah sahabatnya sewaktu ia masih berada di 'dunia manusia'.

"Semua ada di tanganmu. Menyelamatkan Night Kingdom dengan resiko membunuh mereka berempat, atau menyelamatkan mereka dengan resiko menghancurkan Night Kingdom dan para iblis di dalamnya. Kau yang memutuskan."

Ucapan Minato sukses membuat Sasuke menggerutu dalam hati, 'Dasar Baka Mertua! Jumlah mereka ada lima, bukan empat!"

"Aku.. Aku akan –"

"Biar aku yang memutuskan! Otak Dobemu tidak akan bisa memutuskan." Potong Sang Pangeran dengan nada datar. Tangan kirinya mulai mengeluarkan petir yang membentuk katana panjang.

"Teme…"

"Menyelamatkan Night Kingdom tanpa harus membunuh mereka berlima. Iya kan, Dobe?" gumam Sasuke sambil tersenyum tipis. Matanya menyiratkan tekad yang kuat untuk mewujudkan keinginan sang kekasih yang belum sempat terucap itu.

Naruto menunjukkan cengiran khasnya. Ia dan kekasihnya akan berjuang bersama untuk mewujudkan keinginan mereka. Semua pasti akan baik-baik saja.

"Uchiha Muda, kau –"

"Tenanglah Tou-san. Asalkan aku dan Naruto bersama-sama, tidak ada yang tidak mungkin." Potong Sasuke lancang.

'Sial. Padahal aku ingin bilang "kau jenius" kepadamu. Dasar sok tahu!' omel Minato dalam diam.

"Boleh aku sedikit melukai mereka, Dobe?" bisik Sasuke. Katana berbalut petir itu terlihat menyilaukan dengan pancaran light-blue.

"Sedikit." Aura merah di tubuh Naruto mulai tampak lagi. Bagaimanapun juga, ia memahami betul arti kalimat 'no pain, no gain' yang pernah diucapkan gurunya dulu. Mereka tetap akan terluka. Itu pasti.

"Kau tenang saja. Kaa-san akan dapat mengobati mereka." Gumam Sang Pangeran. Aura hitam muncul perlahan di punggungnya, membentuk pola pekat yang kemudian berubah menjadi sayap kebanggaan Sasuke.

"Kita tidak boleh kalah!" seru Kiba. Melihat kedua pewaris tahta Night Kingdom seperti itu membuat Kiba bersemangat juga.

"Hh… Mendokusai." Gumam Shikamaru sambil tersenyum. Mereka berdua akan lebih serius menghadapi iblis berambut merah yang suka bermain seruling dan iblis kembar berbentuk mencurigakan.

"Aku temukan cara untuk membunuhnya. Kau urus si kembar." bisik Shika tanpa menoleh pada kekasihnya.

"Yosh! Akamaru disini untuk membantuku." Beberapa detik setelahnya, datang seekor anjing putih besar yang berisap dengan posisi siaga di samping Kiba.

Sementara itu, Neji mulai menyadari irama-irama serangan Kidoumaru. Walau tubuhnya penuh luka. Ia tetap menghindar sekaligus melancarkan beberapa serangan. Dibalik wajah yang menahan sakit itu, Neji sedang merencanakan sebuah jebakan bagi si iblis laba-laba bertangan empat.

"Aku tidak boleh kalah…" gumam Gaara. Ia juga ingin menyelamatkan Night Kingdom, ia juga ingin membantu Naruto yang entah sejak kapan dianggapnya sebagai teman. Dan untuk itu, ia harus bisa mengalahkan iblis orange bertubuh gempal di hadapannya.

'Kalau aku tidak bisa mengalahkannya dengan pasir yang biasa, aku akan mencoba dengan cara yang ini…' jemari putih susu Gaara bergerak lincah. Ia bersiap melakukan sesuatu.

Di sisi lain, Naruto terlihat menahan sesuatu. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

"Beristirahatlah.."

'Tidak.'

"Jangan bodoh! Sesuatu yang salah terjadi pada tubuhmu. Jangan mencoba untuk membohongiku!" teriak suara berat ala om-om itu kepada Naruto. Ia bisa merasakan ada yang aneh dengan tubuh bocah kesayangannya.

'Kau memintaku untuk menyerah sekarang, eh? Saat semua orang sedang bersemangat? Kau ingin mereka mati atau apa?'

"Aku hanya ingin semua yang kau katakan itu tidak terjadi pada siapapun." Gumam Kyuubi. Walau ia meminta bocah berambut jabrik itu untuk berhenti, ia tetap memberikan kekuatannya kepada si bocah. Ia harus 'menjaga' Naruto agar semua baik-baik saja. Dan satu-satunya cara yang dapat ia lakukan adalah dengan memercayakan kekuatannya kepada bocah itu.

.

.

"Dei.. hosh.. Bisa kau katakan kepada kami apa yang kau lihat?" pinta seorang wanita berambut merah panjang. Perasaannya yang sedari tadi tidak enak membuatnya benar-benar ingin tahu apa yang diperlihatkan Hideo kepada pemuda pengendali tanah liat itu.

"Tidak ada waktu untuk itu Bibi. Kita harus cepat kembali ke sana." Balas Deidara. Mereka berempat masih saja berlari dan mencoba kembali ke ruang utama. Tak jarang mereka menemui monster ular abal-abal yang mencoba menghalangi.

'brughhh'

"Dei, berhenti." Tubuh berambut pirang panjang itu menabrak sosok lain. Sosok yang sangat familiar.

"Jii-san." Ucap Deidara terkejut. Raja dua generasi sebelumnya ini memang sering muncul tiba-tiba dan sering menghilang tiba-tiba juga.

"Kusarankan kau untuk tidak kembali." Mata onyx itu berubah merah. Sharingan Madara menatap lurus mata biru cucu menantunya.

"Tou-san.. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Mikoto panic. Lengannya yang sejak tadi menggendong Hideo sambil berlari rasanya sedikit nyeri. (Sial lu Dei. Masa mertua suruh bawa barang berat gitu =,=/ Dei: dia anak gue tau -,-. A-N-A-K gue *dikubur tanah liat)

"Madara-sama.." gumam Konan. Ia tahu Madara sedang melakukan sesuatu kepada Deidei. Yang ia tidak tahu adalah apa yang sedang dilakukan mantan Raja itu.

.

Deidara's PoV

"D – dimana ini?" tanyaku entah kepada siapa. Saat ini aku berada di sebuah tempat berkabut yang 'kelihatannya' pernah kukunjungi.

Kulihat bayangan berambut hitam panjang berjalan mendekatiku. Hampir saja aku meneriakinya 'kuntilanak' jika aku tidak mendengar ia berbicara.

"Kau tidak boleh membawa mereka kembali ke ruang utama." Gumam suara yang sering kudengar sebagai suara kakek mertuaku.

Agak lama aku menangkap apa yang sebenarnya terjadi padaku sampai aku lihat mata merah Jii-san menatapku lurus. 'Haaahhh… berada dalam pengaruh corethipnotiscoret Sharingan ternyata.'

Aku menghela nafas panjang. Itachi bilang, ini adalah teknik yang hanya bisa digunakan oleh seorang Uchiha kepada Uchiha lainnya. Menurut suami tercintaku, dulu teknik ini sering digunakan oleh para Uchiha untuk 'mengatur strategi' saat sedang rusuh dengan manusia. Katanya sih, biar manusia pada gak denger. Entahlah.. kalimat ini membingungkan bagiku. Itachi mengatakan bahwa aku sudah menjadi seorang Uchiha setelah aku ehem-ehem dengannya. Makanya dia bisa menggunakan teknik sihir itu padaku. Dan sekarang Jii-san juga menggunakannya padaku.

Mata biruku menatap sepasang Sharingan milik kakek dari cowok ganteng yang pernah menolongku, "Kami harus membantu Sa –"

"Dan membuat'nya' melihat kematian anaknya? Itu yang kau mau?" potong Jii-san cepat. Bayangan wajah Kaa-san yang sedang menggendong Hide-chan, Kushina-san dan Konan terbayang saat aku mendengar kalimat barusan.

"B – bagaimana Jii-san tahu?"

"Kau pikir kenapa aku meminta Itachi untuk mengevakuasi kalian jika 'seandainya' perang terjadi?" raut tegas di wajah tua itu terlihat sangat jelas.

"Putramu yang manis itu memberi tahuku semuanya." Aku mengerutkan keningku. Dedengkot Uchiha di hadapanku pasti tahu apa yang ingin kutanyakan.

"Semalam saat aku menggendongnya, dia menyentuh pipiku. Seakan ada sebuah kekuatan yang membawaku melihat apa yang akan terjadi kelak. Aku tidak pernah membayangkan kekuatan seperti itu sebelumnya." Gumamnya pelan. Dari sorot matanya, aku menyadari sesuatu.

"Apa Itachi tahu?" tanyaku panic. Bisa gawat kalau si keriput ganteng itu tahu apa yang diperlihatkan Hide-chan. Dia kan suka lebay dan panic tingkat provinsi.

Kakek mertuaku menggeleng pelan. Ini membuatku sedikit lega. Yah.. walau hanya sedikit sih.

"Tapi Jii-san.." aku menundukkan kepalaku. Aku masih berusaha ngotot pergi ke ruang utama.

"Takdir dapat diubah jika kita berusaha. Tapi kematian…"

"Tidak ada yang bisa menghindarinya. Mengulur waktu barang sedetik pun tidak bisa." Lanjutku. Kata-kata ini pernah diajarkan pria yang dulu kupanggil 'Madara-sama' ini. Semua anggota Akatsuki memang dilatih untuk memahami betul situasi macam itu. Lain kali akan kuceritakan apa tugas Akatsuki sebenarnya. Ingatkan aku untuk itu.

"Bukankah kita adalah makhluk abadi Jii-san?" gumamku lirih. Sungguh aku tidak rela jika yang diperlihatkan Hide-chan itu benar. Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang sudah kuanggap sebagai adik kandungku.

"Aku pernah mengajarkan padamu tentang arti 'abadi' yang ada dalam diri kita, diri seorang iblis kan Dei?" aku tidak menjawab. Yang kurasakan hanyalah angin yang berhembus cukup dingin. Aku dan Madara-'sama' masih berdiri berhadapan seperti semula. Sangat canggung memang. Tapi tidak ada satupun dari kami yang berniat untuk mengubah posisi.

"Kita tidak bisa mati. Tapi jika kekuatan kita diambil sampai habis, kita 'mati'. Jika jantung kita hancur dalam sebuah pertarungan, kita 'mati'.. dan jika sel tubuh kita dihancurkan dari dalam dengan racun atau semacamnya .."

" – kita mati." Lanjutku lagi. Aku yang dulunya anggota Akatsuki dituntut untuk menyadari betul ketiga poin di atas. Kami sebisa mungkin harus menghindarinya. Dan kecerobohanku yang hampir menghancurkan jantungku sendiri membuatku bertemu dengan pangeran tampan bernama Uchiha Itachi. Aku jatuh cinta pada pan – emmphhh (Kyuu: bego! Ini fic SasuNaru, bukan ItaDei :)

"Bawa mereka kembali ke perpustakaan." Gumam pria berambut raven jabrik panjang ini. Ahh, sekarang aku baru menyadari darimana Sasuke mendapatkan rambut pantat ayamnya itu.

"Tapi Kaa-san bilang a-"

"Ada jebakan disana. Memang. Aku sendiri yang memasangnya." Sebelah alisku terangkat. Bagaimana bisa dia menyuruhku membawa Kaa-san dan yang lainnya masuk ke sebuah ruangan yang penuh jebakan?

"Kau hanya tidak bisa keluar dari ruangan itu tanpa aku. Simple kan?" Aku mengangguk pelan. Kupikir aka nada bom, ranjau, mesiu siap ledak, atau semacamnya. Ternyata hanya seperti itu.

"Tapi …" tiba-tiba sebuah angin menyelimuti tubuh kami berdua. Membawaku kembali dalam realita.

End of Deidara's PoV

.

.

"Apa yang Tou-san lakukan disini?" Tanya Mikoto dengan raut seperti sebelumnya. Deidara hampir bertanya pada sang kakek mertua jika ia tidak mengingat sebuah fakta bahwa 'dunia' yang baru saja dia masuki adalah dunia yang tidak terikat sama sekali dengan dunia 'nyata'. Sehari di dunia itu sama saja dengan semenit di dunia nyata.

"Hn. Kembalilah ke perpustakaan keluarga." Perintah Madara dengan nada datar. Sharingan yang tadinya aktif sudah kembali menjadi onyx.

"Madara-sama. Deidara bilang akan –"

"Mereka sedang bersemangat untuk bertarung…" potong Madara. Ia tahu betul, akan sangat sulit membuat mereka mau kembali ke perpustakaan. Bagaimanapun juga, Deidara sudah mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi di ruang utama. 87% analisis Madara menunjukkan, alasan inilah yang membuat mereka berlima ingin kembali ke ruang utama.

"Yahh.. kalau Jii-san bilang begitu, apa boleh buat?" gumam Deidei. Ia menggantikan Mikoto menggendong putra kesayangannya yang tampak ceria.

"Tou-san.." rengek Mikoto. Ia tahu, ayah mertuanya menyembunyikan sesuatu.

"Semua baik-baik saja. Percayalah padaku .." sorot mata Madara menunjukkan sebuah keyakinan yang kuat.

"- dan kepada putramu." Lanjut sang ayah mertua.

Konan yang merupakan kaki tangan Madara jelas akan menuruti perintah mantan raja ini. Deidara yang baru saja 'berbincang' dengan kakek mertuanya juga pasti akan menurut.

"Sesuatu yang buruk…" Kushina yang sejak tadi diam mulai membuka suaranya. Ia merasakan kejanggalan dari sikap Deidei yang tadinya ngotot ingin kembali ke ruang utama, tapi sekarang malah menurut perkataan Madara.

" –akan terjadi kan?" lanjut Kushina. Walaupun ia mencoba memercayai perkataan Madara, perasaannya yang tidak enak memaksanya untuk kembali ke ruang utama.

"Kushina.." gumam Mikoto. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Tapi..

"Kushina-san!" teriak Konan. Kushina berlari tanpa aba-aba menuju ruang utama yang jaraknya masih cukup jauh.

"Sial!"

"Konan! Kejar dia! Jangan biarkan dia kembali ke ruang utama." Konan pun langsung melesat bahkan sebelum aba-aba dari Madara selesai.

"Aku ikut!" ucap Mikoto. Ia menyusul Konan yang berusaha menghentikan Kushina. Ia percaya kepada ayah mertuanya. Semua yang diucapkan pria yang pernah duduk di singgasana raja itu pasti demi kebaikan semua orang.

'Sial! Larinya cepat.' Batin Konan.

Deidara menundukkan kepalanya. Mata birunya menatap teduh Uchiha Hideo yang masih belum mengerti dengan apa yang akan terjadi. Bocah berambut pirang itu menunjukkan kebahagiaan dari mata onyx-nya.

"Kelihatannya mereka akan gagal." Gumam Madara kepada dirinya sendiri. "Haaahhh~ seandainya saja sejak awal kau tidak mengajak mereka kembali ke ruang utama…"

"Maaf." Bisik Deidara. Bagaimanapun juga, ia sadar bahwa tidak ada yang perlu disesali. Suanya sudah terlanjur.

"Aku 'melihat' mereka bertiga, bahkan kita, berada di ruang utama saat kejadian itu berlangsung." Sahut Deidara lirih.

"Untuk masa depan yang satu itu.., bisa diubah kan Jii-san?" lanjut Dei dengan mata biru yang menatap lurus onyx pria berwibawa dihadapannya.

"Tentu. Tapi kita berdua harus berada di sana." Deidara mengeryitkan dahi. Ia benar-benar tidak ingin melihat 'orang itu pergi'.

"Aku tidak sanggup jika harus melihatnya secara langsung. Rasanya pasti akan sangat menyakitkan.."

"Kau tahu apa yang terjadi jika seorang iblis marah karena pasangannya 'pergi' kan Dei?" kepala berambut pirang panjang itu mengangguk singkat.

"Kita harus kesana."

.

.

"Rasengan!" Naruto melesat membawa bulatan spiral angin yang berputar sangat cepat itu ke arah Orochimaru.

Kelima Manusia yang ber'fungsi' sebagai benteng Orochimaru pun mulai beraksi. Mereka memasang kuda-kuda, kemudian melesat menghalangi serangan Naruto.

Ruby Naruto melirik ke arah kanan. Dilihatnya sosok bayangan sedang terbang sambil membawa pedang nyala biru di tangan kirinya.

"Teme!" gumam bocah Kyuubi. ia tahu betul kalau rasengannya tidak bisa 'digunakan' untuk mengalihkan perhatian kelima temannya. Putaran angin yang sangat cepat itu akan mengakibatkan luka yang sangat parah jika terkena tubuh manusia.

"Fokus bocah. Kau bertindak sebagai pengalih perhatian sekaligus penyerang disini." Bisik suara tegas dalam diri Naruto. Ini membuat Naruto menyadari sesuatu.

"Mati kau!" Naruto melesat cepat. Tubuhnya seakan menjadi kilat kuning yang siap membunuh siapapun yang menghalangi jalannya. Rasengan yang tadinya hanya berupa pusaran angin, kini mulai berwarna kemerahan.

"Menyingkir dari jalanku!" teriak Sasuke lantang. Ia menggunakan katana chidori-nya untuk mendorong 'benteng' Orochimaru dari arah samping. 'Benteng' yang terfokus pada Naruto itu pun terdorong dengan mudah, hampir tanpa perlawanan. Kelima benteng yang tadinya terlihat begitu kokoh itu pun menabrak tembok batu ruang utama.

'braghhhh'

"Kuserahkan padamu, Dobe." gumam Sasuke dengan nafas memburu. Menggunakan chidori sekaligus menekan kekuatan yang ditimbulkan membuatnya cukup kelelahan. Yahh mau bagaimana lagi? Hanya begini cara yang bisa digunakan agar teman-teman Dobe kesayangannya tidak mati.

Orochimaru yang baru saja menyadari taktik pasangan yaoi –yang menurut Kyuu- paling OK ini langsung memasang beberapa segel. Tapi terlambat! Seper-sekian detik sebelum iblis ular itu menyelesaikan segelnya, Naruto sudah sampai di hadapannya.

'BLAAARRRRZZ'

Ledakan yang cukup besar lagi-lagi terjadi. Ledakan yang berasal dari serangan iblis yang sama, ledakan yang diarahkan kepada musuh yang sama.

"S – sial!" pekik Orochimaru yang berdiri beberapa meterdari pusat ledakan. Kedua lengannya terluka parah, tidak bisa digunakan.

"Ghh…" memegang dadanya sendiri. Kedua lututnya terasa tidak mampu menyangga berat tubuhnya. Sai yang tidak sengaja melihat keanehan ini merasakan sesuatu yang janggal.

'Sial!' teriaknya dalam hati. 'Kenapa di saat seperti ini sih!'

"Bocah! Kau tidak apa-apa? Sesuatu yang sal –"

'Aku baik Om. Sangat baik… Aku tidak akan menghancurkan harapan mereka yang memercayaiku.' Ruby Naruto menyusur setiap sudut ruang utama. Ia melihat Manda yang telah berhasil dikalahkan, entah oleh ayahnya atau calon ayah mertuanya. Yang jelas, saat ini Kabuto langsung melesat menghampiri Tuannya yang menahan sakit.

'Aku tidak akan menghancurkan semua harapan yang baru saja mereka bangun…'

Ruby itu menangkap Neji yang menggunakan Jyuuken untuk menghantam titik syaraf di keempat lengan Kidoumaru. Senyum tipis Neji terkembang. Ia sudah mencium bau kemenangan di depan matanya.

"Dengan begini. Semua kan lebih mudah! Hiaaahh!" kedua tangan pucat Neji terarah ke leher siluman laba-laba itu.

"Khhhh!" Kidoumaru seakan tercekik. Mulutnya tak lagi dapat mengeluarkan jaring-jaring lengket yang biasa digunakan untuk mengelumpuhkan lawan.

Neji bersalto tinggi. Byakugan yang sedari tadi aktif menatap lurus sosok berlengan empat yang kini lemah itu. "Hiaaah!"

'bughhh' Pemuda Hyuuga itu mengarahkan kaki kirinya ke leher Kidoumaru. Kedua tangannya menyerang dada Kidoumaru. Menekan titik-titik fatal yang sudah dipelajari Neji.

"Aaaaaggghhhh!"

"Kage mane!" teriak Shikamaru. Lengan-lengan bayangan muncul mengekang tubuh Tayuya. Membuat wanita bermata tajam itu kesulitan bernafas.

"Ghh…." Lengan kanannya sekuat tenaga mencoba bergerak. Ia berusaha meniup serulingnya untuk menggunakan jurus ilusi yang sedari tadi dia gunakan untuk melawan si pemuda Nara.

"Ck. Mendokusai!" Decak Shikamaru. Ia merasa sedikit sebal karena iblis menyebalkan itu berhasil menggerakkan lengannya. Tanpa Tayuya sadari, senyum tipis terkembang dibalik decakan sebal Shika.

"M – mati kau bocah!" gumam Tayuya singkat sebelum ia menyentuhkan bibirnya pada seruling kesayangannya. Beberapa detik kemudian, teriakan pilu menggema.

"GHaaaahhhhhhh!"

Iblis yang berhasil melancarkan direct attack itu tersenyum senang. Ia menghela nafas lega. Musuhnya jelas-jelas sudah tidak akan bisa bergerak lagi.

"Asal kau tahu. Aku sudah mengganti serulingmu dengan 'kage nui' milikku. Harusnya kau menyadarinya sejak tadi." Shikamaru tersenyum sinis.

Imitasi seruling dari kage nui-nya berhasil mengelabuhi si iblis wanita berambut merah berantakan. Kage nui Shikamaru menyerang bersamaan dengan bibir Tayuya yang menyentuh benda itu. Serangan tepat ke kerongkongan yang diikuti beberapa serangan ke bagian tubuh lainnya membuat Tayuya tidak bisa bergerak lagi.

Didekat Shikamaru terlihat dua ekor anjing putih besar yang mengepung Sakon dan Ukon. Kedua anjing raksasa itu adalah Kiba dan Akamaru yang menggunakan sihir rahasia yang mereka kembangkan berdua.

Diantara mereka terlihat Sakon tertunduk memegangi kaki kirinya yang terkena gigitan anjing Akamaru beberapa saat yang lalu. Disampingnya, Ukon mencoba menormalkan keseimbangannya. Pada dasarnya, mereka beruda adalah satu. Jika Sakon terluka, maka Ukon juga merasakan sakit yang sama. Rahasia kecil ini sangat menguntungkan bagi Kiba dan Akamaru, dan Sakon adalah sasaran yang dipilih mereka berdua.

"Bagus Akamaru. Air liur beracunmu membuat mereka kewalahan." ucap Kiba girang.

"Guk.. gukk!" (baca: Oke Mas Bro!)

"Sekarang kita serang mereka berdua." Mata tajam anjing Kiba member isyarat kepada Akamaru. Dalam 2 detik, kedua sosok anjing raksasa itu berubah menjadi sosok Kiba. Dua orang Kiba mengepung duo Sakon-Ukon.

"Siap!" Kiba 1 bersiap menyerang, begitu juga dengan Kiba 2. Membuat Shikamaru berpikir nista, 'Wow! Aku punya dua Kiba.. akan asik sekali saat kami bertiga melakukan itu!' (=_+)

"GAATSUGAAAAAAA!" teriak mereka berdua bersamaan. Duet Kiba-Aka seakan berubah menjadi dua mata bor yang menggiling Sakon-Ukon. Pertahanan Sakon Ukon seakan percuma saat ini. Racun dari liur Akamaru membuat tubuh mereka berdua tidak dapat bergerak bebas. Defense yang mereka lakukan pun berakhir sia-sia.

'pooffffhh'

Salah satu Kiba berubah menjadi sosok Akamaru (guguk) segera setelah mereka berdua berhenti ber-Gatsuga ria. Sosok Akamaru langsung ambruk dan tak sadarkan diri. Berubah menjadi anjing raksasa, kemudian berganti wujud menjadi sosok Kiba tentu membuatnya sangat kelelahan. Apalagi, ia adalah iblis yang masih sangat muda.

"Kerja bagus Aka-chan.." Kiba menggendong adiknya, menyandarkan tubuh anjing kecil itu di dadanya. Lantai di depannya terlihat sangat berantakan. Kedua sosok mengenaskan yang ditinggalkannya menambah lantai nitu terlihat makin horror.

"Sabaku!" gumam Gaara tenang. Bertarung seperti ini tidak membuatnya Out of Character.

"Tch! Serangan yang sama tidak akan mempan bocah!" teriak Jirobo. Ia menghindar dan menghancurkan serangan yang dilancarkan Gaara. Senyum licik terukir tipis di bibir pemuda pucat.

"Sedikit lagi." Bisiknya lirih.

"Kubunuh kau Bocah!" iblis berambut orange itu melakukan beberapa segel. Mengubah pasir Gaara tadi menjadi sebuah batu besar yang sangat berat.

"Makan ini!" Jirobo mengarahkannya tepat ke tubuh Gaara, sebuah direct attack yang diarahkan dari atas. Bukannya menghindar, sosok pemuda berambut scarlet itu malah membentuk sebuah kaki besar dari pasirnya.

Gaara melompat beberapa meter.

"Tendangan Rakuuun!" kaki pasir kekasih Hyuuga Neji itu menendang batu besar Jirobo dan langsung mengembalikannya kepada Jirobo.

Iblis subur itu tersenyum sinis. kedua tangannya menerima batu itu. dia beraksi seperti seorang kipper Tim Nasional Night Kingdom (?) Kekuatan tendangan Gaara membuat Jirobo sedikit kewalahan. Ia terdorong beberapa meter.

'zzrbbbbb'

Sesuatu yang aneh terjadi pada lantai tempat Jirobo berpijak. Batu it uterus saja mendorongnya semakin dalam ke tengah lantai pasir yang terasa empuk-empuk mencurigakan.

Gaara mendarat dengan kaki kanannya. Tangan kanannya diangkat keatas. Senyum licik terkembang di wajah stoic itu.

"Sabaku! QuickSand!" gaara menggunakan dua sihir sekaligus. Batu di tangan Jirobo berubah menjadi pasir yang menyelimuti seluruh tubuh gempal itu. pasir itu mendorongnya makin masuk ke pasir hisap yang telah disiapkan Gaara sebelumnya. Pasir hisap yang diinjak iblis berambut orange pitak itu pun seakan menghisap tubuh itu makin kuat.

"Haaaaahgggghhhhh!"

"Kau benar bocah. Kehadiranmu membangkitkan semangat mereka." Gumam Kyuubi putus asa. Sepertinya percuma memaksa Naruto beristirahat.

"Eheheh…."

"Dobe!" sebuah lengan pucat memegangi tubuh tan itu. Raut wajahnya menyiratkan kepanikan. Sayap di punggung pemuda itu mengepak beberapa kali, membawa mereka berdua ke lantai yang masih 'normal'.

"Ada apa?" tangan Sasuke memegangi dada Naruto, kemudian berpindah ke beberapa bagian tubuh lainnya. Ia berusaha mencari bagian tubuh kekasihnya yang terluka.

"Aku baik-baik saja Teme." Cengiran khas Namikaze ditunjukkan Naruto. percuma! Sasuke tahu bahwa Dobenya memaksakan diri.

Mange-Sharingan itu menatap tajam ruby kekasihnya. Untuk kali ini, Sasuke tidak memercayai Naruto.

"Eheheh… Hentikan! Kau membuatku gel –"

"Jangan bercanda! Bagian mana yang terluka?" bentak Sasuke. Teriakan yang cukup keras ini membuat Minato dan kedua Uchiha lain yang berada di tempat itu mengalihkan pandangannya kepada sang Pangeran.

'Sial..'

"Ayolah Teme. Aku hanya bersikap seperti super hero yang kutonton di televisi." Lagi-lagi Naruto nyengir, "mereka akan bertindak seolah terluka setelah mereka menyerang dengan kekuatan penuh. Kau tahu …"

Sasuke mennulikan pendengarannya. Ia membaca kebohongan dari setiap ucapan kekasihnya.

Tidak! Naruto tidak akan berbohong tanpa alasan.

"Hei Jontor! Musuhmu ada disini!" Itachi melacarkan beberapa pukulan ke rahang Sai. Pemuda itu tampak tidak berkonsentrasi. Sejak tadi lengan pucat Sai mencari sesuatu di kantung celananya. Hal ini tak luput dari penglihatan Sasuke.

'Ada yang janggal. Tapi apa?' pemuda berambut pantat ayam itu bertanya pada dirinya sendiri. Sungguh! Ia baru saja menyadari ada yang kurang. Apa itu, Sasuke belum menemukan jawabannya.

"Tuan Orochimaru. Pemuda itu akan mati." Ucap Kabuto cukup keras. Jari-jari Kabuto terlihat berusaha mengobati lengan Orochimaru yang sudah jelas-jelas remuk itu. dia tidak rela jika seme kesayangannya cacad.

"Orochimaru melihat ke arah dua orang pemuda yang berdiri sambil berbincang entah-apa. Anak buah terkuatnya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Tapi situasi yang baru saja diberitahukan Kabuto membuatnya terinspirasi.

"Kita percepat proses kematiannya.." gumam Orochimaru. Dia berdiri dan menggerak-gerakkan lehernya. Kepala berambut panjang itu menengadah, perlahan namun pasti, sebilah pedang keluar dari mulut iblis ular.

"Bunuh bocah itu!" pedang itu bergerak sendiri. Dengan kecepatan tinggi, mata pedang itu melesat langsung ke jantung Sasuke. Bersiap menembus jantung berharga itu dari punggung sang pangeran.

"Berhenti bertindak bodoh, Usuratonkachi! Tunjukkan padaku bagian mana yang sakit." teriak Sasuke OOC.

"Pantat ayam! Sejak kapan kau menemukan ejekan baru untukk –" Naruto memotong kalimatnya sendiri. Ruby-nya menangkap bayangan mata pedang yang melesat, akan menghujam jantung kekasihnya dari belakang.

"Teme!"

'zrasssshhhhh!' Pedang itu tepat mengenai sasaran.

"Gotcha." Gumam Orochimaru. Pedang itu tepat mengenai si bocah Kyuubi. perkiraan bahwa Naruto akan menyelamatkan si pangeran ayam terbukti benar. Pedang kesayangannya berhasil menembus perut si pemuda Kyuubi.

'deghhhh!' semua iblis di pihak Night Kingdom seakan berhenti bernafas saat Pangeran Matahari mereka tersungkur bersimbah darah.

"Naruto…" gumam Minato tak percaya. Secepat kilat ia melesat dan menghampiri putranya yang masih tergeletak di lantai.

"D – dobe.." bisik Sasuke. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak. M,angekyou Sharingan-nya menatap kosong tubuh tan itu.

"Bertahanlah, Nak.. Kyuubi akan segera menolongmu." Minato menepuk-nepuk pelan pipi bergaris putranya. Wajah yang biasanya ceria itu seakan mengucapkan 'selamat tinggal' kepada sang ayah. Naruto seakan sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

"Tubuhnya tidak akan mampu membangkitkan kekuatan itu lagi." Gumam Orochimaru. Senyum kemenangan seakan terkembang di bibirnya, "Pedang itu menembus pusat kekuatan rubah berekor Sembilan kebanggaanmu. Dan lagi.. dalam tubuh bocah itu masih terdapat banyak sekali ra –"

"Tidak! Aku meninggalkannya! Ini tidak boleh terjadi." Entah apa yang disadari Sai, yang jelas terlihat saat ini adalah bahwa sosok pemuda berambut cepak itu berusaha meninggalkan ruang utama.

"Berhenti Jontor! Pertarungan kita belum selesai." Lengan putih susu Itachi mengekang tubuh pucat Sai yang berusaha melarikan diri.

"Lepaskan! Aku meninggalkan penawarnya di markas! Biasrkan aku mengambilnya!" tubuh Sai meronta. Mendengar ucapan sepupu jauhnya, Itachi menyadari sesuatu.

"Biarkan aku memberikan penawar racun itu. agar Naruto bisa mengembalikan kekuatan Naruto. agar aku bisa menyelamatkannya!" teriak Sai lantang. Matanya mengeluarkan Kristal bening, entah mengapa.

Kekangan Sang Raja melemah, ia menyadari sesuatu. Sejak tadi, tubuh calon adik iparnya menahan sakit karena racun yang belum sempurna dosis penawarnya. Dan kekuatan 'panas' Naruto menambah parah efek yang ditimbulkan racun itu.

"Dobe.." tubuh Sasuke mulai bergerak. Lengannya memaksa calon mertuanya untuk menyingkir. Tidak ada pilihan lain, Minato menyingkir. Ia tahu betul apa yang dirasakan Pangeran Ayam itu.

"Bangun.. Hei! Jangan berpura-pura seperti ini… Katakan sesuatu!" ruby pemuda Uzumaki itu terlihat hampa. Wajah tan yang biasanya cerah terlihat benar-benar redup.

"Kumohon…" setetes cairan kental berwarna merah mengalir dari sudut mata kiri Sasuke.

Di ambang pintu ruang utama. Terlihat Kushina terpuruk menangis. Perasaan tidak enak yang sejak tadi menyelimutinya… Apakah itu pertanda bahwa ia akan melihat putranya seperti ini?

Dibelakangnya, Deidara mendekap erat putranya. Diua tidak mau Hideo kecil melihat adegan berdarah yang memilukan ini.

Sesaat kemudian, terlihat pusaran aneh di lantai samping Khusina. Muncul seluruh anggota Tim Dua dengan keadaan penuh luka. Pein juga bersama mereka.

"Aku harus cepat memberikan ini kepada Naruto-sama." Hinata berlari sempoyongan. Ia yang tidak menyadari apa yang terjadi tetap berlari mendekati kedua pangeran itu.

"Hinata!" teriak Shino. Dia menggunakan serangga-serangganya untuk mengikat tubuh gadis Hyuuga itu. " sudah terlambat.." sambungnya dengan nada berbeda.

Byakugan Hinata akhirnya menagkap semuanya. Jantung Sang Pangeran Matahari hampir tidak berdetak lagi. " T – tidak mungkin…" gumam Hinata dengan suara bergetar.

"Dobe.. Kumohon. Bangun…" Sasuke masih saja berusaha membangunkan kekasihnya. Cairan kental berwarna merah itu makin deras mengalir dari mata kirinya.

"Sa –" suara parau Naruto terdengar lirih. Tubuhnya samasekali tidak bergerak. Hanya bibirnya saja yang berusaha mengatakan sesuatu. Bibir itu bergerak seakan mengucapkan 'maaf' tanpa suara.

"Tenanglah. Aku akan menyelamatkanmu…" lengan alabaster itu berusaha melakukan sesuatu.

Tapi apa?

Apa yang bisa Sasuke lakukan?

Bahkan otak jenius Uchiha pun tidak dapat ia gunakan.

"Percuma saja.. dia akan segera …." Orochimaru menggerakkan lehernya, pedang yang menancap di perut Naruto tercabut dengan sendirinya.

" –mati!" teriak Orochimaru.

'jrebbbbb'

Pedang itu kembali menusuk tubuh si bocah Kyuubi. Tepat di jantung pemuda berkulit caramel itu.

"He is already DEAD!" ucap Orochimaru dengan suara yang menggema.

'Jika jantung seorang iblis hancur, maka dia akan mati…'

"Narutoo!" beberapa iblis berteriak bersamaan dengan selesainya ucapan nista Orochimaru.

Mereka semua panic. Hanya Sasuke yang terdiam. Dilengannya kini terbaring sosok sang kekasih yang tak lagi bergerak. Tubuhnya penuh darah berbau anyir. Ini… sangat menyakitkan.

"Na ru .." aura hitam menyelimuti tubuh Pangeran. Mange-Sharingannya berbentuk semakin rumit. Darah yang mengalir dipipinya semakin banyak.

Kekasih yang sangat dicintainya mati di hadapannya. Kekasih yang membuatnya tersadar akan siapa dirinya, mati untuk menyelamatkannya.

Sayap di punggung sasuke terkembang makin kokoh. Aura hitam di sekelilingnya bertambah pekat.

"NARUTOOOOOO!" teriaknya lantang. Gravitasi yang ada di Night Kingdom seakan menghilang entah kemana. Semua barang yang ada di tempat itu melesat ke atas. Lantai dan benda lainnya seakan bergerak sendiri mencari sasaran untuk dihantam. Tidak peduli lawan, tidak peduli kawan…

Kekuatan seorang Uchiha Sasuke yang sebenarnya baru saja muncul. Amarah menjadikan kekuatan Sasuke sebagai kekuatan pembunuh yang tak terkalahkan.

"Akan. Kubunuh. Kalian. Semuaaaaa!"

.

.

Tbc

.

.

Yosh!

Chap yang uda sangat terlambat diupdate ini akhirnya bisa diupdate :D

Hahahahhhh…

Minna-sama, gimennasai *bungkuk2 sama readers

Semoga ada yang baca 'There is No Regret in My Life' sehingga tau alasan Kyuu belum bisa update lamaaaaaa banget

Jari2 kanan Kyuu ternyata cidera. Terus belum lama ini, Kyuu malah ciuman sama mobil : (

Bad luck di akhir taun -,-

Ga enak banget DX

dan

Semoga tidak ada yang membunuh Kyuu setelah membaca chapter ini..

Kyuu sebenernya ga rela kalo Naru harus gini : (

Tapi… Naru emang harus gini DX

Sasu: g – gue ga rela.. kampret lu peng! *bawa golok, siap motong pengetik

Naru: tenang sas.. tenang… gue mati Cuma di fict ini aja kok.. tenag ya… *bawa Sasu ke kamar biar ga ngamuk

.

Ok.. Bales review :3

.

Yashina Uzumaki: terima kasih Yas-san sudah mau membaca :D

K – kok ngeselin yahhh :o

Ini uda mau tamat kok :3

Eheheh….

Arigato dan maaf buat keterlambatannya : )

.

ttixzbebe tak bisa login dan yang bisa login: ini update be-san:D

maaf banget buat keterlambatannya (-/|\-)

iya chap ini nyesekin : (

*bungkuk2 sujud biar ga digeplak sama senior Be

Arigato be-san : )

.

ck mendokusei: ini apdet.. maaf untuk keterlambatannya dan terima kasih buat reviewnya :D

.

Chidorasen: terima kasih dukungannya..

Maaf sekali ya untuk keterlambatannya : (

Ga lagi-lagi deh telat banget kaya gini *bungkuk2

.

Nara Hikari: entahlah… Kyuu juga bingung 0,0

Ok deh Hikari-san :3

Tenang aja, chap depan sasu bakal nyelesein semuanya

Thanks 4 review

Maaf banget buat keterlambatannya : (

.

Od3rsChWank mi4w-mi4w: thanks 4 review dan maaf buat keterlambatannya

Wow… mi4w-san sama hikari-san rebutan bakaleng ternyata *ditimpuk kaleng

Hahahah… daging manda yang dibakar di kawah merapi mau :o

.

Aoisun: iyah.. mesum tuh menurun lewat gen (?) *ngaco

Maaf ya aoi-san. Telat banget nih apdetnya

Btw makasi uda review : )

.

Namikuaga: iya gaje nih (dies)

Maaf untuk keterlambatannya yah ..

Chap depan sasuke bakal nyelesein semuanya : )

Arigato

.

Gray-chan no Fullbuster: gomennasai telat apdet..

Uhuhuhhhhhh :'(

Padahal udah banyak tokoh fandom sebelah yang main kesini buat dukung

Gomennasai fullbuster-san

Arigato :3

.

Aoi Namikaze: tiap iblis kan punya kekuatan gitu…

Nah Hide-chan kekuatannya bisa liatin masa depan gitu deh :D

Walau gambarnya burem :p

Gomen buat keterlambatannya yahhh

Arigato :3

.

chielasu88: ga apa :3

kyuu yang harusnya minta maap karena updet telaaaaaaaat banget : (

arigato 4 review ya : )

.

Hatakehanahungry: Hanaaaa-saaaaan *nangis gaje

Maaf buat keterlambatannya : (

Maaf banget uhuhuhhhh….

Arigato 4 review ya : )

.

CCloveRuki: kan Kyuu rubah api :D

Jadi nyambung :3

Maaf buat keterlambatannya ruki-san

Maaf banget dan terima kasih : )

.

Wulan-chan: yuppp

Maaf buat keterlambatannya : (

Arigato…

.

Meg chan: maaf ya meg chan ..

Telatnya lama banget

Moga meg chan ga sebel sama kyuu : (

Terima kasih

.

wind. le-vent: arigato 4 the tips senpai : )

tapi Kyuu baru bisa kaya gini (dies)

yoshh! Kyuu akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pengetik yang tidak abal

maaf banget buat keterlambatannya yah..

jari2 kanan Kyuu cidera, dan belum lama ini, Kyuu malah ciuman sama mobil

mohon dipermaklum ( :

arigato…

.

Ashahi Kagari-kun: yuppieee

Asik yang panjang mah (?)

Maaf di cut lagi :p

Chap depan sasu bakal nyelesein semuanya kok…

Tenang aja :3

Maaf untuk keterlambatannya yah ashahi-san

Arigato :3

.

Namikaze Trisha: thanks 4 always send me review :3

Maaf banget buat keterlambatannya yahhhh

Arigato ( :

.

.

Yoshhh! Semoga pembaca suka dengan chap ini :3

Dan Kyuu bahagia banget pas tau kalo Kyuubi bernama KURAMA

.

Akhir kata

REVIEW please : )