Sebenarnya saya berniat membuat satu chapter per hari, tapi dua hari kemarin tidak sempat mengunjungi , jadi... *sembah sujud* So, this is a once in awhile stuff: triple-whammy!
.
.
.
Title: Restu
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, pornoaksi, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC, typo, foreign language galore.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
Thanks to: karkat_v at Twitter, untuk bantuannya menerjemahkan beberapa dialog.
.
.
.
III. Angin
.
.
.
Jujur, melihat tempat-tempat yang tampaknya menarik untuk dikunjungi melalui kaca mobil yang melaju kencang di jalan raya membuat Dino ingin memerintahkan supirnya untuk berhenti agar ia bisa mengeksplorasi tempat-tempat tersebut. Sayangnya, Romario yang duduk di kursi di sebelah kursi pengemudi pasti tidak akan mengijinkannya, karena kedatangan mereka ke Hong Kong bukanlah untuk liburan dan bermain-main.
Ya, Dino dan beberapa anak buahnya berada di Hong Kong saat ini. Mobil mereka mengarah pada Gunung Wo Tong, di mana seorang Arcobaleno tinggal di puncaknya seorang diri.
Ya, mereka akan menemui Fon.
Jalan yang mereka lalui cukup berliku-liku dan menanjak, namun perlahan tetapi pasti mereka bisa melihat puncak gunung yang menjadi tujuan mereka. Dan semakin mobil mereka melaju mendekati puncak, semakin jelas mereka melihat siluet rumah yang di dirikan di atas sana.
Baru kali ini Dino merasa tidak sabar ingin bertemu dengan seorang Arcobaleno.
Mesin mobil dimatikan begitu mereka tiba di tempat yang menyerupai pekarangan rumah yang luar biasa luas dan para penumpang melangkah keluar dari mobil masing-masing. Dengan Dino di barisan terdepan dan 6 orang anak buahnya mengekor di belakang, mereka berjalan mendekati rumah di puncak gunung itu. Sebuah rumah tradisional yang tampaknya sedang tidak mengakomodasi pemiliknya.
Namun, baru beberapa langkah dan mereka sudah disambut suara yang tidak terlalu asing di telinga.
"Huānyíng."
Ketujuh mafioso itu menoleh dan mendapati sosok Hibari Kyouya berdiri di bawah sebuah pohon magnolia.
Ah, bukan. Bukan Hibari Kyouya. Seorang Hibari Kyouya tidak mungkin tersenyum lebar sambil menebarkan ion negatif di udara seperti orang ini.
Semua orang yang ada di sana memang baru pertama kali melihat sang Arcobaleno dalam sosok aslinya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ialah Fon, pemegang Storm Pacifier dan ahli bela diri kelas wahid. Keberadaan monyet kecil yang duduk di atas pundaknya juga mempertegas identitasnya. Seperti rumor yang beredar, wajah lelaki itu memang sangat mirip dengan wajah sang Awan dari Vongola, sehingga banyak yang menebak bahwa mereka memiliki hubungan darah.
"Don Cavallone dan para anak buahnya," mereka mendengarnya berbicara lagi, kali ini dengan bahasa Italia yang masih terdengar logatnya. "Kedatangan kalian mendadak sekali. Padahal kalau kalian memberitahu terlebih dahulu, aku bisa menjamu kalian dengan lebih baik."
"Ah, ya… maaf tiba-tiba datang kemari," Dino tersenyum, sedikit gugup. "Aku hanya ingin meminta sedikit informasi darimu."
Fon menaikkan sebelah alisnya. "Informasi? Maaf, tapi karena aku sudah tidak terlalu sering berinteraksi dengan anggota mafia selain dari organisasiku, kurasa aku tidak tahu banyak—"
"Bukan. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mafia."
"Lalu?"
Sang bos menarik napas panjang dan menghembuskannya keluar. Kegugupannya belum hilang, tapi ia harus menjawab dengan jujur.
"Ini tentang Kyouya."
Ekspresi wajah lelaki berdarah Asia itu sedikit berubah mendengar nama sang karnivora disebut. Selama beberapa saat, tidak ada respon dari Fon. Hingga menit ke-3 semenjak Dino selesai mengucapkan kalimatnya, barulah pria yang mengenakan changsan merah itu bergerak.
"Tidak enak mengobrol sambil berdiri di luar begini. Mari masuk."
.
.
.
Bagian dalam rumah tradisional itu membuat Dino takjub. Dekorasi dan strukturnya memang berbeda, tapi atmosfernya mengingatkannya pada kediaman kekasihnya. Mungkin karena hunian itu sama-sama bangunan Asia yang telah didirikan lama sebelum bangunan-bangunan bergaya Eropa mulai menjamur di seluruh pelosok dunia? Entahlah. Lagipula tidak terlalu penting untuk dibahas.
Ada masalah yang lebih penting.
"Maaf, aku hanya bisa menghidangkan makanan ringan ala kadarnya."
Dino mendongak dan mendapati Fon mendekat ke arahnya sambil membawa sebuah nampan. Sang bos tahu bahwa lelaki bermata sipit itu baru saja kembali dari menghidangkan kudapan dan minuman untuk para anak buahnya yang kini tengah menunggu di luar ruangan. Kudapan yang sama kini diletakkan di atas meja rendah di tengah ruang santai itu bersama dengan dua gelas teh bunga krisan hangat, masing-masing untuk si pemilik rumah dan tamu terhormatnya.
"Kuharap kau tidak punya alergi terhadap gorengan," ujar Fon seraya duduk di atas zabuton-nya.
"Ah, tidak. Tentu saja tidak masalah," Dino tersenyum ramah sembari melirik kudapan itu. Mantou, atau bisa disamakan dengan manju-nya orang Jepang, yang digoreng. Lumayan menggiurkan.
"Syukurlah." Pemilik pacifier berwarna merah itu meraih gelasnya sendiri dan menyesap tehnya sekali, sebelum kembali menatap sang Decimo. "Lalu? Apa yang ingin kau ketahui tentang Kyou?"
"Tentang keluarganya."
Pria dengan surai keemasan itu menyadari bagaimana lawan bicaranya terlihat sedikit terkejut saat mendengar kata 'keluarga'. Hanya sekilas, memang, tapi senyum di wajah Fon agak memudar sesaat tadi. Dino segera mengambil kesimpulan bahwa pria yang entah berapa tahun lebih tua darinya ini memang tahu sesuatu tentang keluarga kekasihnya, atau bahkan berhubungan langsung dengan garis keturunan Hibari.
"Kau tahu sesuatu, 'kan?"
"Dan kenapa kau menduga seperti itu, Cavallone Decimo?"
"Karena kau mirip dengannya."
"Hanya itu?"
"Ada informasi dari Tsuna juga."
Sebelah alis Fon terangkat naik. Ia tampak tertarik. "Informasi seperti apa?"
"Katanya kau pernah memberi penjelasan bahwa kau memang berhubungan dengan Kyouya," Dino menatap tehnya—yang belum ia cicipi sesesap pun—sesaat, memandangi refleksi wajahnya. Ada sedikit keraguan di sana. "Kau tidak pernah menjabarkan hubungan seperti apa yang kau punya dengannya karena kau takut ia akan marah."
"Ah, waktu Reborn dan Sawada mewawancaraiku, ya…"
Fon meraih salah satu mantou yang terhidang dan merobeknya sebagian. Sembari membiarkan uap panas mengepul keluar dari panganan hangat itu, ia berkata, "Lalu? Apa yang akan kau lakukan kalau nyatanya aku memang tahu sesuatu tentang keluarga Kyou?"
"Kyouya memintaku untuk menemui orang tuanya dan mendapatkan restu mereka," sahut Dino, tegas.
"Restu? Untuk apa?"
"Untuk menikahinya, tentu saja."
Potongan mantou yang hendak dimakan terlepas dari tangan Fon. Mulutnya terbuka lebar karena tadinya ingin melahap potongan tersebut. Mata sipitnya membelalak lebar. Sebegitu terkejutnya ia dengan fakta baru yang diberikan Dino padanya ini sampai-sampai ia membeku seperti itu.
"Meni… kah? Kau dan… Kyou?"
Si bos tertawa pelan sembari menggaruk belakang lehernya—kebiasaannya kalau merasa gugup. "Ya, begitulah. Aku membujuknya mati-matian, dan ia setuju untuk menerima lamaranku kalau aku berhasil memenuhi syarat tadi: mendapat izin dari orang tuanya."
Selama beberapa saat Fon meneruskan fase mematungnya, dan Dino membiarkan saja. Wajar kalau orang awam bereaksi seperti itu. Terlebih lagi, katanya Fon kurang berkomunikasi dengan dunia luar? Wajar, 'kok, kalau ia tidak tahu bahwa pernikahan antara dua lelaki itu sebenarnya diperbolehkan. Meski hanya di beberapa negara saja.
Beberapa menit berselang dan akhirnya lelaki berwajah Asia di hadapannya itu berhasil menguasai dirinaya lagi.
"Kalau kau sudah mendapat izin dari Kyou untuk mencari tahu tentang keluarganya, kurasa tidak masalah memberitahumu," Fon meraih potongan mantou-nya yang terjatuh, lalu meletakkannya kembali ke atas piring. "Tapi… kau sudah punya bayangan seperti apa orang tua dari seorang anak seperti Kyou, 'kan?"
Dino memberikan anggukan mantap sebagai jawaban. Well, dari awal bertemu ia juga sudah menduga-duga semengerikan apa orang tua sang Awan Vongola itu, hingga anak mereka bisa sampai begitu barbar. Ia sudah siap mental. Adolf Hitler, Elizabeth Bathory, bawa ke hadapannya!
Fon tampak sedikit tercenung, tapi tak begitu lama senyum hangatnya kembali. "Baiklah. Kalau begitu saya tinggal sebentar. Saya harus menelpon ibunya Kyou."
"Eh? Menelponnya?" Bos Cavallone itu jelas terkejut.
Dia tidak menyangka bahwa ia akan langsung bertemu calon mertua.
"Ya. Dia 'wanita karir' yang cukup sibuk, jadi jika ingin bertemu dengannya, kau harus membuat janji lebih dulu." Lelaki dengan surai hitam yang dijalin panjang itu beranjak bangkit dari posisi duduknya. Ia membungkuk, memberi hormat pada Dino sebelum melangkah keluar dari ruangan. "Silahkan nikmati mantou-nya selagi menunggu."
Ia bisa mendengar suara langkah kaki Fon menjauh. Setelah benar-benar tidak terdengar lagi, barulah ia menghela napas lega. Ia bersyukur sang Arcobaleno setuju untuk bekerja sama dengannya. Tadinya, 'sih, Dino sudah bersiap untuk melawan sang ahli bela diri kalau-kalau ia menolak. Mungkin ia terlalu khawatir.
"Baiklah~ mari kita coba kudapannya sekarang."
Meraih salah satu mantouyang belum tersentuh, Dino menirukan cara Fon memakannya—merobeknya jadi dua dan membiarkan uapnya mengepul keluar sejenak. Setelah beberapa saat, barulah ia menggigit salah satu bagian. Bagian dalamnya lumayan lembut, meskipun kulitnya garing.
Cukup enak.
Selesai dengan satu bagian, Dino melahap sisanya. Kunyah, dan terus mengunyah. Tapi lama kelamaan kunyahannya semakin pelan. Tanpa ia mengerti alasannya, rasa kantuk menyerang. Kelopak matanya semakin lama semakin menutup. Tak perlu menunggu lama, tubuhnya oleng karena kesadarannya perlahan menghilang dari genggaman, dan akhirnya jatuh ke lantai, membuat bunyi debum keras.
Semenit…
Dua menit…
Tidak ada yang menyadari bahwa Dino Cavallone telah ambruk di ruangan itu. Bahkan Romario pun tidak. Meski lebih karena pria berkumis itu mengalami nasib yang sama dengan bosnya. Begitu juga dengan anak buah Dino yang lain.
Semuanya menjadi korban mantou yang dihidangkan oleh Fon.
.
.
.
"Shì. Bùyòng dānxīn zhège." [1]
Pelan, tubuh Dino yang masih tak sadar diangkat dari lantai yang dingin. Hanya dengan satu tangan, karena tangan yang satunya menggenggam ponsel dan terus melanjutkan pembicaraan dengan menggunakan bahasa Mandarin.
Pelakunya? Tidak terlalu sulit ditebak, bukan?
"Tā zhōngyú chī wǒ tèshū mántou. Zhídào wǒ dài tā dào nǐ dì dìfāng, tā bù huì xìng xǐng guòlái." [2]
Kini ia menyampirkan Dino di sebelah bahunya. Sang bos ibarat sebuah karung ringan yang dapat dengan mudah dibawa kemana saja.
Fon menyunggingkan seringai tipis.
"Kàn dào nín de dàolái, mèimei." [3]
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
Huānyíng: Selamat datang. Bahasa Mandarin.
Changsan: cheongsam untuk lelaki.
Zabuton: alas duduk.
[1] Ya. Jangan khawatir.
[2] Dia sudah memakan mantou buatanku. Sampai aku tiba di tempatmu, dia tidak akan terbangun.
[3] Sampai bertemu nanti, saudariku.
.
.
.
FYI, aku tidak tahu kenapa dialog kedua Fon yang dalam bahasa Mandarin seutuhnya itu memiliki spasi selebar itu.
