.
.
.
Title: Restu
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, pornoaksi, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC, typo, foreign language galore.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
Thanks to: karkat_v at Twitter, untuk bantuannya menerjemahkan beberapa dialog.
.
.
.
IV. Kejutan
.
.
.
Yang pertama kali Dino temukan ketika membuka matanya adalah kandelar yang menempel di langit-langit ruangan. Butuh beberapa sekon baginya untuk menyadari kandelar itu tampak asing baginya, dan itu artinya ia berada di tempat yang tidak ia kenali. Sepertinya di dalam kamar tidur, karena ia bisa merasakan empuknya kasur tidur menyentuh bagian belakang tubuhnya. Panik dan waswas mulai merasukinya, tapi sang bos mafia meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Tidak ada yang bisa dicapai dengan merasa khawatir, 'kan?
Menghela napas lega, ia berniat bangkit ke posisi duduk, tapi tidak bisa melakukannya. Ada sesuatu yang berat diletakkan di atas dadanya, menahannya agar tetap terlentang. Heran, ia mencoba melihat benda apa yang menahannya itu.
Coba tebak apa yang ia lihat.
Kyouya.
Sedang tidur dengan kepala berebah di atas dada si rambut pirang.
Bukan pemandangan yang terlalu mengejutkan, mengingat mereka adalah sepasang kekasih. Hanya saja, Dino sama sekali tidak ingat pergi ke Jepang untuk mengunjunginya. Ingatan terakhirnya adalah pergi ke Hong Kong untuk menemui Arcobaleno Fon dan sukses mendapatkan bantuan untuk bertemu dengan orang tua Kyouya.
—tunggu sebentar. Jangan katakan kalau…
Sekali lagi Dino memperhatikan sosok yang tertidur di sebelahnya itu. Kalau diperhatikan dengan lebih seksama, model rambut orang itu berbeda dari model rambut Kyouya. Poninya lebih panjang, dan… rambutnya juga panjang. Meski wajahnya persis sama dengan sang pendiri The Foundation. Dari yang ia tahu, hanya satu orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu.
—merda.
"Mmh…"
Orang yang mirip Kyouya itu agaknya mulai sadar. Dino menelan ludah sementara perlahan kelopak mata orang itu membuka. Sang bos mafia merasa semakin kagok ketika mata cokelat keemasannya bertemu pandang dengan sepasang manik abu-abu gelap. Sesaat, tampaknya orang itu juga bingung kenapa ia langsung melihat wajah si pirang tampan, namun hal itu hanya terjadi selama beberapa detik. Detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum manis yang sangat familiar.
"Selamat pagi, Don Cavallone," mulai orang itu. Cara bicaranya kental dengan aksen "Kemarin malam cukup menyenangkan, ya? Terima kasih sekali, lho."
Otomatis Dino langsung bangkit ke posisi duduk, mencoba menjauhi orang yang mirip Kyouya itu. Beruntung ranjang itu lumayan besar dan luas, sehingga sang bos tidak langsung terjatuh begitu bergerak menjauh. Segera ia periksa tubuhnya sendiri. Ia masih memakai kemejanya, namun semua kancingnya terbuka sehingga mengekspos dada dan perutnya. Celananya juga masih terpasang, meski sayangnya resletingnya terbuka dan sedikit melorot ke bagian paha.
Merda.
"Kenapa? Tidak percaya pada ucapanku?"
Begitu mengangkat wajahnya, yang ia lihat adalah wajah Kyo—oh, bukan. Wajah orang yang mirip Kyouya itu. Pipi Dino memerah, takjub karena orang yang ada di hadapannya itu benar-benar mirip dengan diktator termashyur asal Namimori itu.
Menelan ludah sekali lagi, pemilik surai keemasan itu mengumpulkan keberanian untuk berbicara. "Er… maaf, tapi aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam… Arcobaleno Fon."
Sekilas, Dino seperti melihat ekspresi terkejut terpancar di mata orang yang ia duga sebagai pemilik Storm Pacifier itu. Hanya sekilas. Dan entah kenapa, kalimatnya tadi sepertinya malah membuat sang ahli bela diri semakin berani—ia memegang kedua pundak Dino dan mencondongkan diri hingga tubuh mereka berdua saling bersentuhan.
Wajah Dino semakin memerah. Ia benar-benar ingin memukul dirinya sendiri karena bisa merasakan jantungnya berdegup kencang saat ini. Tapi, siapapun tidak bisa menyalahkannya. Pasalnya, orang ini benar-benar mirip dengan Kyouya, tapi versi lebih feminin. Wajahnya sudah sama persis, rambutnya panjang sepunggung, kulitnya halus, dan dadanya sepertinya cukup berisi…
… aspetta.
Dada?
"Akhirnya kau sadar bahwa aku ini perempuan?" Orang itu bertanya sembari terus mendekatkan wajahnya.
"Aa… maaf, s-soalnya Reborn dan juga yang lainnya membicarakanmu seolah-olah kau lelaki tulen." Dino berusaha menjauhkan wajahnya sekaligus bergerak mundur agar dadanya tidak lagi bertumbukan dengan 'gundukan lembut' milik Fon. Tapi, apa daya. Ia sudah berada di pinggir ranjang. Jika ia terus mundur, bisa-bisa ia terjatuh dan malah terjebak dalam posisi yang lebih menyulitkan lagi.
Wanita berambut hitam itu menyeringai lebar. "Well, kalau begitu, setelah ini, sebaiknya kau ceritakan saja pada semua orang bahwa Chén Fēng adalah seorang wani—"
DUAGH.
Sebuah jitakan mendarat di kepala Fon, menghentikan ucapannya. Dino mengerjap, bersyukur sekaligus kaget. Bersyukur karena tidak lagi digodai, dan kaget karena yang member jitakan dahsyat itu adalah… Fon.
Ada dua Fon di dalam ruangan itu.
"Āi!" Fon yang pertama, yang sedari tadi menggoda Dino, menoleh dan melotot kea rah Fon kedua. "Apa yang kau lakukan?"
"Menghentikanmu dari menyebarkan fitnah dan membuat Don Cavallone panik, tentu saja. Apa lagi memangnya?"
"Dan kenapa kau menghentikanku? Aku tidak memintamu untuk menganggu, tahu!"
"Mèimei, kau harus sadar umur! Kau sudah tidak muda lagi, tidak pantas menggoda pria muda, apalagi pria itu calon menantumu sendiri!"
Pertengkaran kedua Fon itu terus berlanjut sementara Dino terbengong-bengong. Ia tidak lagi memperhatikan adu bacot di antara kedua manusia yang wajahnya seperti kembar identik itu lagi karena selain mereka mulai berdebat dalam bahasa Mandarin, otaknya juga mulai meramu beberapa informasi baru yang ia dapatkan.
Pertama, Fon kedua tadi menyebut Fon pertama sebagai mèimei. Kalau ia tak salah ingat, mèimei itu berarti saudara perempuan. Itu artinya kedua Fon ini memang bersaudara, dan itu menjelaskan mengapa wajah mereka bisa begitu mirip satu sama lain.
Kedua, karena Fon kedua menghentikan Fon pertama untuk 'tidak menyebarkan fitnah', maka Fon yang asli adalah Fon kedua.
Ketiga, Fon yang asli menyebut Dino sebagai 'calon menantu', yang berarti sang mèimei adalah calon mertuanya. Dengan kata lain, ialah ibu dari Hibari Kyouya, kekasihnya.
Informasi selesai digarap. Saatnya bereaksi. Dan tentu saja, reaksi yang tepat dalam situasi seperti ini adalah…
… berteriak.
"EEEEEEHHHHH?"
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
Merda : sialan. Bahasa Italia.
Aspetta : tunggu. Bahasa Italia.
Āi! : sama seperti "itai!"-nya orang Jepang. Katanya.
