.
.
.
Title: Restu
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, pornoaksi, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC, typo, foreign language galore.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
V. Burung Bulbul
.
.
.
Setelah pertengkaran antara dua bersaudara tadi dihentikan dan baik Dino maupun si Fon gadungan telah merapikan penampilan mereka hingga pantas di pandang, tiga orang tersebut pindah lokasi ke sebuah ruangan luas yang bisa dianggap sebagai ruang tamu. Supaya mereka bisa lebih nyaman untuk berbincang-bincang.
"Jadi, Don Cavallone." Fon mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan. "Perkenalkan, ini adik perempuanku, Huángniǎo. Dia adalah wakil komandan dari organisasi kami. Dalam struktur organisasi mafia, bisa dikatakan dia adalah sotto capo kami. Dan… mungkin kau pernah mendengar nama Dowager Nightingale? Huángniǎo adalah penyandang julukan itu."
Dino merespon dengan "salam kenal" pelan. Ia mengamati penampilan si calon mertua yang duduk di seberangnya.
Chén Huángniǎo, meskipun memiliki anak berusia 25 tahun, tampak awet muda. Sama sekali tidak kelihatan seperti seorang ibu-ibu. Seperti abang dan puteranya, ia memiliki mata sipit berwarna abu-abu gelap dan kulit berwarna kuning langsat. Rambut hitam panjangnya yang tadi dibiarkan tergerai kini dikuncir dua. Tubuh moleknya terbalut qipao putih dengan corak naga biru yang menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya dengan baik.
Benar-benar seperti versi wanita dari Hibari Kyouya.
"Nah." Suara sang sotto capo membuat Dino kembali fokus kepada tujuannya datang kemari. "Aku sudah dengar ceritanya dari Fēng, tapi hanya untuk memastikan: kau melamar Kyouya dan dia setuju untuk menikah denganmu asalkan kau mendapatkan restu dariku dan ayahnya, benar begitu?"
"Benar."
"Kau sudah mempersiapkan mental dan fisikmu untuk menghadapi berbagai macam ujian yang mungkin akan kami ajukan untuk melihat apakah kau layak menjadi menantu kami?"
Pemilik surai keemasan itu mengangguk mantap, meskipun kemantapan itu sedikit tergoyahkan kala melihat kilatan berbahaya di mata si calon mertua. Ia merasa seperti akan diterkam binatang buas. Dino mengira ia akan diserang secara tiba-tiba untuk mengetes refleks atau kemampuan bertarungnya, tapi ternyata tidak.
"Penghasilanmu sebulan berapa?"
…
"Maaf?"
"Peng-ha-si-lan-mu se-bu-lan be-ra-pa?" Huángniǎo mengulang pertanyaannya. "Jangan bilang kalau kau tidak menggaji dirimu sendiri."
Dino menggaruk belakang lehernya, kagok. Ia sama sekali tidak mengira akan diberi pertanyaan standar, seperti yang dilakukan para mertua dari kalangan umum. "Uh, jumlah tepatnya tidak bisa kusebutkan, tapi cukup untuk membiayai proyek-proyek penelitian organisasi yang dipimpin Kyouya."
"The Foundation, hm? Berarti kau lumayan kaya juga, eh…"
"Mèimei!"
Dino melengos. Ternyata memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Lalu, mungkin kau sudah bosan mendengarnya, tapi: kenapa kau menyukai dan ingin menikahi Kyouya? Bukankah putera semata wayangku itu lelaki yang tidak ramah, mudah marah, tidak suka diatur, egois, mata duitan, dan masih banyak lagi sifat jeleknya yang tidak mungkin kusebutkan satu persatu karena akan menghabis-habiskan oksigen saja?"
Jika ini adalah pertunjukan anime, maka di atas kepala Dino dan Fon akan muncul tetesan air besar. Wanita itu sendiri yang tidak ingin menghabiskan oksigen untuk menyebutkan kejelekan anaknya tapi tetap saja ia mengatakan sebagian besar dari kejelekan tersebut. Dan ia berbicara dalam satu hentakan napas. Luar biasa.
Sang capofamiglia mengubah posisi duduknya sehingga ia dapat bersandar pada sandaran kursi. Jawabannya akan lumayan panjang, dan akan lebih nyaman jika ia berada di posisi seperti ini.
"Ini terdengar sangat klise, tapi aku suka semua sifat Kyouya. Dan sebelum Anda bertanya, Nyonya, mungkin aku memang sedikit masokis karena menyukai dia yang seperti itu. Hanya sedikit." Dino berhenti sejenak untuk tersenyum tipis saat melihat Huángniǎo seperti menahan tawanya. "Karena Anda ibunya, Anda pasti tahu Kyouya itu seperti apa. Senyumnya manis, meskipun sangat langka. Kalau menikah dengannya, kemungkinan untuk melihat senyumannya itu akan meningkat. Aku ingin lebih sering melihat senyumnya itu."
"Benar hanya itu alasanmu?"
Mengerutkan dahi, Dino melihat Huángniǎo menerima iPad yang disodorkan oleh Fon. Jarinya lihai bergerak di atas layar, tampaknya mencari-cari sesuatu. Dan sesuatu itu bukan hal yang baik. Dino tahu betul, kalau seorang anggota keluarga Hibari sudah menunjukkan seringai ala maniak, berarti mereka memiliki pikiran jahat di benak mereka.
"Oh, ini dia." Jari wanita itu akhirnya berhenti. Matanya terfokus pada layar gadget di tangannya sembari membaca apa yang ia lihat dengan suara lantang. "Bos ke-10 dari Cavallone famiglia, 32 tahun. Memiliki reputasi sebagai salah satu dari segelintir bos muda berwajah tampan dan berperilaku seperti seorang gentleman. Termasuk dalam jajaran 5 besar 'mafioso yang belum menikah dan paling diincar para mafiosa'. Digosipkan sebagai gay karena tidak kunjung memilih seorang wanita untuk dinikahi. Tidak memiliki sanak saudara lain, sehingga dikhawatirkan garis keturunan keluarganya akan berakhir pada generasinya. Se—"
"Mèimei."
Huángniǎo berhenti, mengangkat sebelah alisnya seraya menatap abangnya dengan penuh tanya. Fon menghela napas dan menunjuk ke arah Dino, yang entah sejak kapan memiliki aura madesu di sekelilingnya. Uraian dari sang underboss tampaknya benar-benar menohok si calon menantu.
Wanita dengan surai hitam itu tertawa selama beberapa detik. "Duìbùqǐ! Tapi aku hanya membacakan beberapa fakta yang dikumpulkan oleh informan kami, lho, dan yang tadi itu baru sebagian kecil."
"Kurasa usahamu untuk memojokkan Don Cavallone sudah cukup," Fon menengahi.
Huángniǎo mencibir, tapi tidak memprotes ataupun memaksakan kehendaknya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Dino. Kembali ke mode serius.
"Bukankah lebih baik kalau kau menikahi seorang wanita, Don Cavallone? Aku yakin orang tuamu dan juga anak buahmu ingin kau memiliki keturunan yang bisa mengambil alih posisimu saat kau mangkat nanti. Cari saja wanita yang bersedia menikahimu meskipun dia tahu kau akan terus berhubungan dengan Kyouya."
"Aku sudah menjelaskannya pada Kyouya, bahwa jika aku menikah dengan perempuan, maka kesempatan untuk menghabiskan waktu dengannya akan semakin kecil." Sang bos mafia mengurut keningnya, mulai merasa stress menghadapi wawancara ini. "Lagipula, kalaupun aku nekat menikah dengan perempuan lain dan berhasil mendapat keturunan darinya, kesannya seperti memperalatnya saja. Aku tidak suka itu. Kalau aku berhasil menikahi Kyouya nanti, aku tidak keberatan mewariskan posisiku ini kepada salah seorang anak buahku yang bisa kupercayai. Atau kami bisa mengadopsi anak dan melatihnya…"
"Atau kau bisa membuat Kyou menjadi wanita dan mendapatkan keturunan darinya."
Dino dan Huángniǎo menoleh ke arah Fon, yang baru saja memberikan gagasan 'unik' itu. Keduanya menatap pemilik pacifier merah itu dengan tatapan yang seolah mengatakan "kau sudah gila?". Yang ditatap sendiri tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya.
"Oh, jadi Verde belum memberitahukannya ke kalangan mafia, ya?" Pria bermata sipit itu menjentikkan jarinya. "Aku dengar saat ini dia sedang mencoba membuat obat yang bisa mengubah jenis kelamin seseorang. Jadi, pasangan homoseksual tetap bisa mendapatkan keturunan tanpa harus mengkhianati pasangan masing-masing."
Saking terkejutnya Dino atas informasi baru ini, ia beranjak dari kursinya. "Be-benarkah?"
"Ya, tapi aku tidak tahu sudah sampai sejauh apa dia mengembangkannya."
Mata Dino spontan berkaca-kaca. Kalau obat buatan Verde tersebut telah rampung, berarti tidak akan ada masalah jika ia menikahi Kyouya. Ia bisa mendapat keturunan, seperti apa yang diinginkan oleh Romario dan yang lainnya! Meskipun sebenarnya kalau ia boleh memilih, ia lebih menginginkan anaknya untuk tidak terlibat dengan urusan mafia, apalagi menggantikannya menjadi bos saat ia pensiun kelak. Tapi rasanya keinginan itu tidak akan terwujud kalau anaknya itu adalah anak hasil hubungannya dengan Kyouya.
Sementara bos mafia itu terbuai oleh angan-angan memiliki anak yang, di dalam bayangannya, memiliki wajah seperti kekasihnya, Huángniǎo tampak tidak senang. Fon menyadari hal ini, namun merasa ragu untuk menanyakan alasan sang adik memasang ekspresi seperti mempertimbangkan keputusan apa yang harus diambilnya. Beruntung ia memilih untuk diam dan menunggu, karena tak butuh waktu lama bagi sang wakil komandan Triad untuk lepas dari konflik batin sesaatnya.
"Baiklah, Don Cavallone. Satu pertanyaan lagi dan akan kulihat apakah kau layak meminang Kyouya atau tidak."
"Oh, ya." Dino, yang akhirnya menghentikan mode berkhayalnya, kembali menatap Huángniǎo. Serius, sebagaimana seharusnya. "Silahkan ajukan pertanyaannya, Chén fūrén."
"Apa kau lolicon?"
…
Dino mengangkat tangannya, tampak ragu. "Maaf, bisa Anda ulangi pertanyaan Anda?"
"A-pa kau lo-li-con?"
"Tentu saja bukan!"
"Bagus. Ayo pergi, kalau begitu."
Pria asal Apulia itu mengangkat sebelah alisnya, heran. Tadi memberinya pertanyaan-pertanyaan aneh, sekarang hendak mengajaknya ke suatu tempat tanpa penjelasan apapun?
Beruntung Fon ada di sana untuk menjelaskan semuanya pada Dino. Lelaki yang lebih tua namun penampilannya lebih muda darinya itu menepuk pundak sang capo agar mendapatkan perhatiannya.
"Huángniǎo sudah memberimu restunya dan sekarang kita akan pergi ke tempat ayahnya Kyou."
Spontan mata Dino membelalak lebar. Ia tak percaya akan semudah ini mendapatkan restu dari ibu Kyouya, apalagi mengingat bahwa sang ibu sebenarnya seorang pejabat tinggi dalam organisasi Triad. Ia mengira setelah wawancara, ia akan diberi tes kekuatan atau apalah, namun ternyata tidak. Dan lagi, Huángniǎo akan membantunya untuk menemui suaminya!
Melihat bahwa Dino tak kunjung beranjak dari sofanya, Fon terkekeh pelan dan menepuk pundak pria itu sekali lagi. "Ayo. Huángniǎo tidak suka dibuat menunggu. Dan lagi, kita harus mengecek keadaan anak buahmu yang ku kurung di ruang sebelah."
Dan tiba-tiba Dino merasa bodoh karena sempat melupakan anak buahnya. Segera ia berdiri dan mengikuti Fon keluar ruangan sambil menggumam, "Jadi, kau juga memingsankan anak buahku sebelum membawa kami ke tempat ini, huh?"
"Maaf. Tapi peraturan di organisasi kami adalah tidak boleh membiarkan orang-orang di luar organisasi tahu cara untuk keluar masuk dari markas kami ini." Sang ahli bela diri tersenyum tipis, tampak sedikit merasa bersalah. "Tapi tenang saja, aku tidak akan membuat kalian mengonsumsi obat tidur lagi. Setelah ini kalian hanya perlu menggunakan penutup mata saat akan keluar."
Berbelok di pertigaan pertama yang mereka temui, keduanya melihat beberapa pria—anggota Triad biasa, sepertinya—berkerumun di depan sebuah ruangan. Kelihatannya mereka sedang berusaha menahan sebuah pintu agar tetap tertutup. Fon dan Dino saling bertukar pandang, tampak mengerti apa yang sedang terjadi, sebelum berlari mendekati kerumunan itu.
"Romario!" Dino berteriak sembari menyibak kerumunan, berusaha agar dapat sampai di depan pintu tersebut. "Romario! Kau dengar?"
Samar ia mendengar sahutan berupa "Bos! Apakah itu kau?" dari dalam, namun ocehan berbahasa Mandarin para pria yang masih berusaha agar pintu besar itu tidak rusak didobrak dari dalam lumayan meredam sahutan tersebut. Jengkel, Dino menaikkan volume suaranya dan kembali berseru,
"Romario! Perintahkan yang lainnya untuk berusaha mendobrak pintu ini! Aku akan minta orang-orang ini untuk membebaskan kalian!"
Dino tidak yakin apakah titahnya didengar, namun tak butuh waktu lama hingga siapapun yang berada di dalam ruangan itu menghentikan usahanya. Para anggota Triad yang menahan pintu tersebut juga mulai merendahkan suara mereka kala menyadari bahwa Fon berada di sana. Si abang dari wakil komandan organisasi mereka itu memberi komando, yang tidak dapat dimengerti Dino karena diucapkan dengan bahasa Mandarin, dan dengan patuh dua dari sekian anggota yang berkumpul di sana membukakan kunci pintu ruangan yang menawan Romario dan lainnya.
Ini kedua kalinya ia merasa begitu lega semenjak ia membuka mata dan menemukan dirinya di kamar Huángniǎo.
Para anak buah kesayangannya terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka luar yang teramati. Romario dan yang lainnya juga terlihat sama leganya saat menyadari bahwa bos mereka tampak sehat walafiat.
Sebuah tepukan di pundak membuat Dino menolehkan kepalanya dan ia kembali bertatap muka dengan Fon. "Aku akan mempersiapkan kepergian kalian ke Jepang. Bersantailah dulu dan ceritakan tentang keberhasilanmu pada anak buah-anak buahmu tersayang, Don Cavallone."
"Ah, ya." Pria dengan surai keemasan itu mengulurkan tangannya. "Terima kasih banyak atas bantuanmu, Fon."
Sesaat Fon tampak ragu untuk menjabat tangan Dino. Ia tidak biasa dengan etika Barat. Tapi karena akan tidak sopan jika ia menolak berjabat tangan dengan sang Decimo, ia toh melakukannya juga. Keduanya saling tersenyum sebelum berhenti berjabat tangan. Lelaki berkebangsaan Italia itu melihat paman kekasihnya pergi meninggalkan lokasi diikuti dengan beberapa anggota Triad yang tadinya berkumpul di depan ruangan dan baru setelah sosoknya lepas dari pandangan, Dino berbalik dan mendekati Romario dan kawan-kawan.
"Sungguh kau tidak apa-apa, Bos?" Bono yang pertama mendekatinya dan mengajukan pertanyaan itu.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Dino menunjukkan cengiran lebar, berusaha meyakinkan mereka. "Kalian sendiri? Fon tidak melakukan hal-hal aneh untuk memingsankan kalian, 'kan?"
"Tidak, kami hanya mengonsumsi obat tidur yang ada di dalam jajanan yang disediakan pria Cina itu," sahut Ivan, kalem.
"Yang lebih penting, Bos," Romario menyela sebelum yang lainnya dapat berbicara dengan sang bos. "Apa yang dimaksud Arcobaleno Fon dengan 'keberhasilanmu'?"
Cengiran di wajah Dino semakin lebar. Ia bisa melihat semua anak buahnya penasaran ingin mendengarkan apa yang terjadi padanya selama mereka dikurung di ruangan itu. Atau mungkin mereka penasaran kenapa pimpinan mereka itu terlihat begitu bahagia, sampai-sampai ada sedikit rona merah yang terlihat ganjil di pipi pria yang usianya sudah menginjak kepala tiga itu?
Entah apapun alasan mereka menunjukkan ekspresi penasaran itu, Dino punya satu kalimat yang cukup untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di benak mereka.
"Aku berhasil mendapatkan restu dari ibu Kyouya!"
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
Qipao : cheongsam untuk wanita.
Duìbùqǐ : Maaf. Bahasa Mandarin.
Fūrén : Madam. Bahasa Mandarin.
Apulia : I'm sorry, this is my headcanon. Ada sebuah kota bernama Cavalloni di daerah Apulia, Italia Selatan. Relate it yourself.
.
.
.
Maaf kalau kegiatan membaca Anda kurang nyaman. Sepertinya nama ibu Hibari yang menyebabkan kegagalan formatting itu. *cakar tembok*
Silahkan katakan padaku kalau memang merasa tidak nyaman, dan aku akan berhenti mengetik namanya secara lengkap (a.k.a. memakai 'nada').
Kritik dan saran? Laporan kalau ada typo di mana-mana?
