Thanks a lot for the reviews! Ini, nih, sesuai permintaan, apdetnya cepat...
Sad ending lover: Karena... karena lahir dan tumbuh besar di Jepang? Lagipula kenapa kamu tidak memperhitungkan kebangsaan ayahnya Kyouya...
.
.
.
Title: Restu
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, pornoaksi, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
VI. Kaisar
.
.
.
"Hei, Fon?"
"Ya, Don Cavallone?"
"Ayah Kyouya itu orangnya seperti apa?"
Mereka berdua sedang berada di dalam Honda Civic yang melaju ke rumah ayah dari Hibari Kyouya ketika percakapan itu terjadi. Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepat ditujukan pada Huangniao, tapi apa daya saat ini di dalam mobil itu hanya ada Dino, Fon, Romario, dan satu lagi anak buah Dino yang menjadi supir dan mengendalikan mobil mengikuti Honda City milik Huangniao yang melaju di depan.
"Ayah Kyou," Fon memulai, "adalah seorang oyabun dari sebuah organisasi yakuza terkenal."
"Oh, jadi mereka dijodohkan…" Dino mengangguk tanda mengerti. Ia langsung mengambil asumsi seperti itu karena bukan hal yang tidak biasa bagi para pemimpin organisasi kriminal untuk menjodohkan putri mereka dengan pemimpin organisasi kriminal lain.
Namun pria Asia dengan surai hitam panjang yang duduk di sebelahnya itu menggeleng. "Ametoku Mikado sendiri yang melamar Huangniao. Mereka bertemu saat Huangniao berusia 15 tahun dan Mikado berusia 21 tahun. Me—"
"Tunggu sebentar."
Fon menghentikan penjelasannya dan menoleh ke arah Dino, mempersilahkan sang bos mafia mengajukan pertanyaannya. "Ametoku Mikado? Kalau begitu, darimana Kyouya mendapatkan nama keluarganya?"
"Oh, ya. Kau tidak tahu tentang keluarga kami." Fon terkekeh sejenak sebelum mulai bercerita. "Aku dan Huangniao bersaudara karena ayah kami sama. Tapi ibuku adalah istri pertama, sementara ibu Huangniao adalah istri kedua. Huangniao lahir dan besar di Jepang dengan nama Hibari Kouchou dan baru mengadopsi nama Chen Huangniao setelah resmi menjadi organisasi Triad kami. Singkatnya, Kyou saat ini menggunakan nama keluarga ibunya."
"Kenapa tidak menggunakan nama keluarga ayahnya?"
"Tentu saja karena Mikado dan Huangniao sudah bercerai, dan Kyouya memilih untuk ikut dalam bagian keluarga ibunya yang di Jepang."
Sang capofamiglia asal Italia itu terhenyak. Ia tidak menyangka bahwa kekasihnya berasal dari keluarga broken home. Namun, mengingat bahwa kedua orang tua Kyouya menikah di usia muda, rasanya Dino bisa menduga alasan mereka bercerai.
"Ah, lihat. Kita sudah sampai."
Pintu mobil di buka, dan Dino mengerutkan dahinya begitu ia keluar dari kendaraan. Mereka berada di sebuah gapura besar yang tampaknya merupakan gerbang masuk menuju sebuah distrik. Ada tulisan besar terpampang di atas gapura itu, tapi karena pengetahuan Dino tentang huruf kanji cukup terbatas, ia tidak bisa membacanya.
"Nah." Suara Huangniao membuat pria dengan rambut pirang itu berhenti melihat sekelilingnya. "Selamat datang di Kabukichou, Don Cavallone dan anak buahnya!"
.
.
.
Kabukichou adalah sebuah red-light district di daerah Tokyo yang terkenal dengan bermacam-macam bisnis hiburan, mulai dari toko, restoran, bar, hingga love hotel. Dikatakan bahwa kepolisian sering mengadakan razia di tempat itu. Selain menjaring bisnis-bisnis ilegal, mereka juga berusaha membekuk anggota-anggota yakuza yang kabarnya menguasai beberapa tempat di distrik tersebut.
Maka dari itu, Dino tidak terlalu kaget saat menemukan dirinya masuk ke dalam markas rahasia bōryokudan yang diketuai oleh ayah kekasihnya melalui jalan rahasia bawah tanah di sebuah rumah pelacuran.
"Aku takjub, Fūrén."
Huangniao melirik ke arah Dino, yang berjalan di sampingnya, dan bertanya dengan sedikit acuh tak acuh. "Oh? Kenapa?"
"Bukankah kau sudah bercerai dengan pemilik tempat ini? Tapi ternyata kau masih tahu cara menghubunginya dan juga keberadaan jalan rahasia ini."
"Hanya karena pemimpin organisasi kami menjalin kontrak dengan si lolicon itu untuk memperlancar bisnis senjata dan obat-obatan kami, dan kadang aku harus ke sini bersama perwira penghubung kami untuk bernegosiasi."
Ada satu kata yang membuat Dino menaikkan sebelah alisnya. "Lolicon?"
"Begitulah." Huangniao menghela napas panjang. "Pak tua itu suka gadis di bawah umur. Dan karena kau mirip dengannya, aku bertanya padamu apakah kau juga seorang lolicon."
"M-mirip?"
"Selamat datang, Kouchou-sama."
Pembicaraan mereka terhenti kala seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dengan kimono biru tuanya menyapa mereka. Sepertinya anggota bōryokudan yang sudah cukup senior, karena ia mengenali Huangniao. Huangniao sendiri tidak membalas menyapa wanita itu dan hanya mengangguk sekali.
"Mikado-sama sudah menunggu Anda." Ucap wanita itu, kalem dan tampak tak tertanggu dengan sikap dingin Huangniao. Ia mengetuk pintu besar di belakangnya tiga kali, dan saat pintu itu mulai berderit membuka, ia berkata, "Silahkan."
Seraya pintu mengayun membuka, sedikit demi sedikit Dino bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Yang pertama ia sadari adalah kerlap-kerlip dekorasi eksentrik yang memaksanya untuk melindungi matanya karena cahaya lampu kandelir di ruangan itu membuat semua dekorasi bersinar dengan ekstrimnya. Yang kedua ia sadari adalah keberadaan karpet merah yang digelar mulai dari bibir pintu hingga ke ujung ruangan. Yang ketiga adalah pemandangan seorang pria yang dikelilingi oleh haremnya yang elok rupawan, yang tengah bercengkerama bersama di sebuah sofa besar di dalam ruangan itu.
Dan bagian yang paling menakjubkan adalah fakta bahwa pria itu memiliki rambut keemasan, tidak terlihat seperti seorang ayah yang putranya telah menginjak usia kepala dua, dan nyaris membuat Dino serta Romario dan yang lainnya mengira bahwa ia sedang melihat Cavallone Nono mengenakan kinagashi hitam dengan corak elegan dan tengah menggodai gadis-gadis muda.
"Hei, lolicon."
Suara dan ucapan Huangniao meyakinkan rombongan mafiosi Italia bahwa pria itu memang bukan bos generasi kesembilan dari klan mereka. Melainkan ayah Hibari Kyouya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ametoku Mikado memang mirip dengannya. Namun kini ia mengerti mengapa Huangniao berkata bahwa ia mirip dengan sang oyabun.
Sapaan Huangniao tadi membuat Mikado berhenti berbicara dengan kumpulan haremnya. Ia menatap lurus mantan istrinya, ekspresinya datar—mengingatkan Dino pada Kyouya. Hening selama beberapa saat sebelum sang yakuza beranjak dari sofanya dan berjalan di atas karpet merah, bergerak ke arah Huangniao dan yang lainnya.
Jika kalian mengira sebuah percakapan serius antara dua orang yang pernah menjadi suami istri akan terjadi, maka kalian salah.
Karena begitu jarak di antara Mikado dan Huangniao hanya tinggal satu meter, pria dengan surai keemasan itu melompat untuk memeluk mantannya.
"Kougou, aku kangeeeee—"
DUAGH.
Mikado sukses terlempar ke ujung ruangan berkat tinju Huangniao yang telak mengenai perutnya. Dino sedikit gemetar ketakutan kala melihat demonstrasi singkat dari kekuatan wakil komandan Triad itu. Seperti yang telah diduga, wanita yang melahirkan maniak tarung macam Hibari Kyouya memang tidak bisa diremehkan.
"Pak tua brengsek, kapan kau akan menyebut namaku dengan benar?" Huangniao mengarahkan kepalan tangannya pada Mikado yang masih terkapar dan kini dikelilingi beberapa anak buahnya. "Namaku Kouchou, tahu. KOUCHOU! Jangan terus-terusan memanggilku Kougou!"
"Tapi, Kouchou..." Mikado mulai bangkit berdiri, dibantu oleh seorang pria kekar yang mengenakan kinagashi hitam. Ada senyum tipis di wajahnya kali ini, meskipun ekspresinya tetap datar seperti boneka. "Kau tahu bahwa kau satu-satunya Ratu untukku!" [1]
"Berhenti membual sebelum kubuat organ dalammu terburai, lolicon playboy tak sadar umur!"
"Kau mengira aku membual, Kougou?"
Huangniao, yang benar-benar tidak suka ketika orang-orang sengaja salah menyebutkan namanya, benar-benar geram. Ia hendak menerjang mantan suaminya itu dan menghajarnya habis-habisan, namun ia tertahan di tempat karena Fon memegangi lengannya. Sang adik, tentunya, meronta dan berusaha agar terlepas dari genggaman sang abang.
"Fēng! Lepaskan aku! Biar kubunuh saja pak tua itu supaya tidak banyak menumpuk dosa lagi!"
"Aku tahu kau kesal, mèimei. Tapi kita ke sini untuk membantu Don Cavallone mendapatkan restu dari Mikado, ingat?"
Spontan Huangniao berhenti meronta. Ia menoleh ke arah Dino, yang masih berdiri diam di sebelahnya, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Wanita berdarah Asia itu menarik napas panjang dan menghembuskannya keluar, berusaha mengontrol temperamennya. Ia ingat tujuannya, dan untuk itu ia tidak boleh membunuh Mikado sekarang.
"Restu?" Mikado mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti maksud ucapan Fon. "Restu apa?"
Huangniao menatap tajam sang oyabun yang, entah sejak kapan, telah menduduki kembali sofanya dan menghisap kiseru -nya seolah ia tidak pernah menerima pukulan dahsyat dari si mantan istri. "Lelaki muda yang wajahnya mirip denganmu ini," wanita dengan surai sehitam eboni itu menunjuk Dino dengan ibu jarinya, "adalah Dino, seorang bos mafia dari Italia. Ia ingin agar kita menerimanya sebagai menantu."
Sekilas, ekspresi datar di wajah Mikado tampak goyah. Ia berhenti menghisap cerutunya dan kembali bertanya. "Menantu?"
"Dia ingin menikahi Kyouya. Dan sepertinya anak itu membuat syarat bahwa Don Cavallone ini harus mendapatkan restu dari kita berdua, baru lamarannya akan diterima."
Mikado tidak memberikan respon berarti mendengar penjelasan itu. Ia menghisap kiseru -nya sekali dan menghembuskan asapnya perlahan, menunggu hingga asap itu hilang dari pandangannya sebelum kembali beranjak dari tempat duduknya dan melenggang di karpet merah.
"Jadi kau ke sini untuk meminta restuku." Pria berkebangsaan Jepang yang entah kenapa rambutnya berwarna pirang itu menatap Dino sambil terus berjalan. "Karena Kougou di sini, berarti dia sudah mewawancaraimu dan memberikan restunya, benar?"
Dino mengangguk mantap. "Benar."
"Hm..."
Kini Mikado berdiri tepat di depan Dino. Ia melihat perawakan sang bos mafia yang wajahnya lumayan mirip dengannya itu dari atas sampai bawah, dari kepala hingga ujung kaki. Ruangan mendadak menjadi hening selama kedua bos organisasi kriminal itu saling berhadap-hadapan. Tapi keheningan itu tidak berlangsung lama.
"Namamu Dino, 'kan?" Senyum di wajah Mikado kembali, tapi dari jarak sedekat itu Dino bisa melihat bahwa mata lelaki yang lebih tua darinya itu tidak ikut tersenyum. Sang oyabun menepuk pundak capo crimini di depannya itu dan membiarkan tangannya tetap di sana seraya melanjutkan. "Kougou pasti menanyaimu banyak hal, jadi aku hanya akan memberikan satu pertanyaan. Kau siap?"
Baik Huangniao maupun Fon memiliki firasat bahwa Mikado tidak memiliki niat untuk memberikan restunya hanya dengan satu pertanyaan saja. Tapi mereka tetap diam. Ini tes untuk Dino, dan mereka tidak berhak untuk ikut campur.
"Tentu saja. Silahkan."
"Semangatmu bagus. Kalau begitu pertanyaannya: Apa yang membuatmu..."
BUAGH.
Semua yang hadir di sana membelalakan matanya karena saat mereka berkedip tiba-tiba saja Dino telah jatuh ke lantai dengan bunyi bedebum keras, diiringi suara 'krak' pelan, pertanda ada tulangnya yang patah.
"... merasa pantas meminang salah seorang anggota keluargaku?"
Jelas bahwa pelakunya adalah Mikado. Namun semuanya terjadi begitu cepat sehingga seolah-olah pimpinan yakuza itu tidak melakukan apa-apa di mata mereka yang tidak terbiasa dengan pertarungan level tinggi.
Sebenarnya dalam waktu sepersekian detik tadi, Mikado telah mencengkeram kerah pakaian Dino dan menyarangkan tinju yang cepat namun kuat ke daerah ulu hati. Parahnya lagi, Mikado membuat Dino jatuh ke lantai dan menambahkan tekanan agar serangannya memiliki efek lebih besar. Dino, yang tidak memiliki firasat akan diserang, tentunya tidak sempat mempersiapkan diri untuk menahan serangan tersebut dan hanya bisa mengerang menahan rasa sakit.
"Kau licik, Mikado!" Huangniao, yang akhirnya tersadar dari keterkejutan sesaatnya, meraung. "Menyerang tiba-tiba seperti itu... bedebah!"
"Licik?" Mikado mendengus pelan. "Di dunia kriminal ini tidak ada yang bisa disebut sebagai perilaku licik, Kougou. Apapun boleh dilakukan untuk bertahan hidup. Lukai atau dilukai. Memanfaatkan atau dimanfaatkan. Lengah sedikit di sarang musuh dan nyawa bisa melayang. Seorang pimpinan organisasi mafia sepertinya seharusnya hapal benar tentang aturan itu, namun, lihatlah. Ia terlalu santai."
Pria asal Jepang itu menatap Dino, yang masih terkapar di lantai dan mulai dikerubungi oleh anak buahnya, dengan tatapan meremehkan. "Lelaki seperti ini yang ingin mengklaim status sebagai pasangan hidup putraku? Jangan mimpi."
"Aku bisa memahami pendapatmu bahwa seorang bos harus selalu siaga, Mikado. Tapi," Fon melirik calon keponakannya, "kau berlebihan. Kau menyerangnya dengan niatan membunuhnya, bukan untuk mengetes insting dan refleksnya."
"Lalu? Percobaan pembunuhan itu makanan sehari-hari seorang bos organisasi kriminal, kau tahu."
Huangniao menggeretakkan giginya. Jika saja Fon melonggarkan pegangannya pada lengannya—ya, dia masih memegangi lengan adiknya itu sedaritadi—maka ia bisa menghajar mantan suaminya itu. Kesabarannya mulai habis. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa mentolerir perilaku Mikado yang seenaknya sendiri begini.
"Benar. Aku sudah terbiasa dengan hal ini."
Semua perhatian tertuju pada Dino, yang baru saja mengucapkan kalimat di atas dan telah bangkit ke posisi duduk. Dari gelagatnya, semua tahu bahwa tubuh Dino belum benar-benar melupakan rasa sakit akibat pukulan Mikado tadi, tapi demi menunjukkan bahwa ketahanan tubuhnya cukup kuat, ia berusaha tidak menunjukkan rasa sakitnya. Setidaknya tidak ditunjukkan pada ekspresi wajahnya.
"Memang salahku yang lengah, karena aku tidak menyadari bahwa tes untukku telah dimulai semenjak tujuanku datang ke sini dibeberkan. Tidak perlu menyalahkan Mikado-shi." Kata pria muda berambut pirang itu seraya berdiri. Begitu ia bisa menjaga keseimbangannya tanpa bantuan Romario, ia menatap lekat-lekat calon ayah mertuanya.
"Mikado-shi, apa kau hanya butuh jawaban atas pertanyaanmu tadi, atau kau juga perlu melihat kemampuanku bertarung?"
Ujung-ujung bibir Mikado tertarik ke atas, membentuk seringai lebar nan meremehkan. Tanpa perlu berbasa-basi lagi ia menarik keluar pedang pendek yang ia simpan di balik kinagashi-nya dan langsung mengincar leher Dino. Sayang usahanya untuk membunuh sang capofamiglia gagal karena Dino menahan gerakan pedang itu dengan ikatan cambuknya.
"Kau cukup cepat, Mikado-shi. Apa kau benar-benar seseorang yang lebih tua dariku?"
"Memang benar aku lebih tua darimu, bocah. Dan kekuatanku ini sudah dimakan umur, sehingga tidak sebesar dulu."
"Begitu? Pantas saja..."
Cahaya mulai menyelimuti cambuk milik Dino. Ia mulai mengaktifkan Sky Flame-nya.
"... jika dibandingkan dengan Kyouya, levelmu ada di bawahnya."
Dino menghentakkan tangannya dan cambuk itu sukses mematahkan pedang pendek Mikado. Tidak cukup sampai di situ, sang mafioso melecutkan cambuknya ke arah lawannya, namun Mikado berhasil mengelak dengan cara melompat mundur. Mikado tidak bodoh. Ia tahu bahwa akan berbahaya jika ia ngotot bertarung dalam jarak dekat setelah mengetahui musuhnya adalah pengguna cambuk.
"Romario, tolong arahkan yang lainnya untuk meninggalkan ruangan ini." Dino memberi titah tanpa sedikitpun melihat ke arah tangan kanannya itu. "Kurasa ruangan ini akan hancur karena pertarungan kami."
Romario tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk dan mulai mengarahkan semuanya, baik anak buah Mikado maupun anak buah Huangniao, untuk meninggalkan ruangan tersebut. Pria berkacamata itu juga memberi isyarat pada Fon untuk ikut pergi bersama Huangniao, tapi sang ahli bela diri menggeleng.
"Tidak akan ada masalah jika aku dan Huangniao tinggal. Selain itu, harus ada yang mengawasi dan menghentikan mereka jika mereka kelewat batas."
Dan sementara mereka yang kemampuan bertarungnya rendah dievakuasi, pertarungan antara dua bos organisasi itu terus berlangsung.
.
.
.
Prediksi Dino benar; ruangan itu hancur karena pertarungan mereka.
Perabotan terbelah, beberapa dinding dan lantai retak dan bahkan bolong. Beruntung langit-langit ruangan itu cukup tinggi sehingga efek serangan mereka tidak merusakan langit-langit. Bisa berbahaya kalau dampak pertarungan mereka mencapai permukaan.
Dua jam berlalu namun pemenangnya belum juga ketahuan. Dua orang petarung itu masih berdiri, waspada akan gerakan satu sama lain. Tubuh mereka terluka di sana-sini dan peluh keringat membanjir, bercampur dengan darah dan mengotori pakaian mereka. Mereka pasti lelah dan sudah tidak kuat untuk bergerak, namun ego memaksa mereka untuk tidak menyerah, karena mereka bertekad untuk meraih kemenangan dan mencapai tujuan masing-masing.
Dino ingin menang dan membuat Mikado mengakuinya sebagai suami Kyouya.
Mikado ingin menang dan membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang pantas bersanding dengan puteranya.
Fon dan Huangniao menguap bersamaan. Sungguh, mereka merasa bosan menonton pertarungan yang tidak kunjung selesai ini. Ada niat untuk menginterupsi di benak dua bersaudara itu, namun mereka tahu cara menghormati sebuah duel.
"Mikado-shi..." Dino menghela napas, mengusap peluh di dahinya. "Kyouya mendapatkan sifat keras kepalanya darimu."
"Begitulah," Mikado tersenyum tipis. Ia tidak mau membuang-buang tenaga untuk membalas komentar itu.
Keduanya tidak bergerak dari posisi masing-masing selama beberapa saat. Mikado mengambil inisiatif untuk menerjang ke arah Dino, namun apa daya staminanya tidak cukup dan ia terjatuh. Beruntung Dino berada di depannya dan secara refleks menangkapnya sebelum jatuh ke lantai dengan wajah terlebih dahulu.
"Aha!" Huangniao menyeringai lebar dan mulai berjalan mendekati kedua bos. "Kau kalah, lolicon!"
"Berhentilah memanggilku lolicon, Kougou... luka-lukaku sudah cukup sakit, tidak perlu kau tusuk juga perasaanku," Mikado memprotes pelan. Ia tak bisa bergerak dan terpaksa tetap diam di dalam pelukan Dino.
"Sekarang kau sudah melihat kekuatan Don Cavallone, 'kan, Mikado?" Fon berlutut di dekat sang oyabun begitu ia dan adiknya tiba di dekat Dino dan Mikado. "Sebagai info tambahan, dia sudah sering melayani tantangan bertarung dari Kyou, lho. Dan setahuku tidak pernah kalah. Cukup pantas untuk masuk dalam keluarga besar kita, 'kan?"
Mikado tidak membalas apa-apa. Ia terus diam sementara kini Fon dan Huangniao memeriksa luka-lukanya. Ia merasa agak kesal sekaligus senang, karena sudah lama tidak ada orang lebih muda darinya namun dapat imbang bertarung dengannya—tentu saja Kougou tidak termasuk hitungan.
"Mikado-shi."
Pria Jepang itu melirik ke arah Dino. Hanya melirik.
Merasa gugup karena masih diperlakukan dengan dingin, Dino menggaruk belakang lehernya. "Soal pertanyaanmu tadi... aku tidak merasa pantas untuk Kyouya."
Huangniao, yang sedang mengikat lengan atas Mikado karena darah di bagian itu tidak kunjung berhenti, mendongak dan mengernyit menatap Dino. Fon juga melempar tatapan aneh ke arah sang bos mafia. Tapi keduanya tidak mengatakan apa-apa dan memutuskan untuk menunggu penjelasan dari Dino.
Sadar bahwa kini ia mendapat perhatian dari semua orang yang ada di ruangan itu, Dino makin merasa gugup. Ia sadar bahwa ucapannya tadi terdengar salah, karena itu ia buru-buru menambahkan, "Maksudku begini... memang aku ingin terus bersama Kyouya, bersanding dengannya... tapi kalau merasa pantas... kurasa ada beberapa orang yang lebih pantas untuk bersamanya, karena aku tahu mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa kulakukan dan membuat Kyouya bahagia dengan cara mereka masing-masing. Namun aku nekad melamar Kyouya. Karena aku tidak ingin Kyouya bersama orang lain. Aku egois karena ingin mengekang Kyouya. Jadi..."
"Tutup mulutmu, bocah."
Mendengar interupsi Mikado, Dino spontan berhenti berbicara. Tatapan dingin nan datar yang diberikan ayah dari sang Awan Vongola itu terasa lumayan menusuk.
"Kau satu-satunya orang yang mendapatkan restu dari kedua orang tua Hibari Kyouya. Hargai dirimu sendiri."
Nasihat itu diucapkan dengan nada seperti orang yang menggerutu. Namun makna dibaliknya adalah sebuah pujian. Pujian sekaligus tanda absolut bahwa ia telah berhasil membuat Mikado mengakuinya sebagai seseorang yang pantas untuk menjadi pendamping hidup Kyouya.
"Kau ini sebenarnya hanya ingin melihat apakah Don Cavallone mau mengakui kejelekannya, 'kan? Coba kalian bicara baik-baik berdua, pasti tidak perlu menghancurkan tempat dan badan seperti ini," keluh Huangniao.
"Tidak masalah. Lagipula aku ingin melihat sekuat apa seorang bos mafia itu, dan..." Mikado mengelus paha mantan istrinya dengan sengaja, "... aku jadi bisa melihat tubuh seksimu dalam jarak dekat lagi, Kougou."
BLETAK.
"Sakiiiiit, Kougou!"
"Mati saja kau, lolicon!"
Fon terkekeh pelan melihat perdebatan sepasang mantan suami istri itu sebelum mengalihkan perhatiannya pada Dino. "Selamat, Don Cavallone. Sekarang kau bisa menemui Kyou dan segera melangsungkan pernikahan, ya?"
Dino mengangguk dan tersenyum senang. Akhirnya setelah melakukan berbagai macam hal, ia berhasil menuntaskan tantangan yang diajukan kekasihnya itu. Kini yang tersisa hanyalah mendatangi Kyouya dan melaporkan kesuksesannya, lalu semuanya akan bergulir ke arah akhir yang bahagia.
Mungkin.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
Oyabun : pimpinan kelompok yakuza.
Kiseru : pipa rokok yang digunakan orang Jepang.
-shi : akhiran yang sama seperti '-san', hanya saja digunakan untuk menyapa orang yang tingkat / pangkatnya lebih tinggi, supaya terdengar lebih sopan / menghormati.
[1] Kau satu-satunya Ratu untukku: kalau ditulis dalam bahasa Indonesia memang terlihat makna lain, tapi jika ini adalah sebuah manga, maka akan terlihat bahwa untukku ditulis dengan kanji yang menyusun kata 'Mikado' yang berarti 'Kaisar Jepang' dan sekaligus nama Mikado sendiri, namun ada furigana yang mendampingi huruf kanji itu dan bertuliskan 'aku'. Bingung? Tidak usah terlalu dipikirkan.
.
.
.
Huangniao dan Kouchou bisa ditulis dengan kanji yang sama yaitu 黄鳥. Kouchou memiliki arti burung bulbul, yang merupakan asal julukan Dowager Nightingale (Janda Bulbul), sementara Huangniao berarti burung kepodang. Mikado senang memplesetkan Kouchou menjadi Kougou, karena (baginya) kedua kata itu terdengar mirip dan Kougou memiliki arti Permaisuri, sehingga serasi dengan namanya sendiri yang berarti Kaisar.
Dan, I forgot to mention: kalau mau membayangkan wajah Huangniao, silahkan cari 'Kanno Fumi', sementara Mikado adalah 'Jack Vessalius'. Tapi penampilan mereka lebih tua dari itu, 'sih. Crack? Memang.
Semoga kalian belum bosan karena masih ada 1-2 chapter lagi.
C&C?
.
.
.
Omake!
Dino: Ngomong-ngomong, Ayah Mertua—
Mikado: Berani memanggilku seperti itu lagi dan kejantananmu akan kupotong habis.
Dino: —Mikado-shi, kenapa rambutmu pirang? Kau orang Jepang, 'kan?
Huangniao: Itu rambut palsu. Si lolicon itu sebenarnya botak.
Dino: ...
Huangniao: :grin: Bohong, 'kok. Lolicon bodoh itu rambutnya hitam seperti orang Jepang kebanyakan. Dianya saja sok gaya dan mengecat rambutnya jadi pirang gara-gara salah seorang haremnya pernah mengatakan bahwa wajahnya mirip orang Barat.
Dino: O-oh. Anda tahu banyak, ya.
Mikado: Tentunya. Kougou hapal semua hal yang terjadi padaku. Itu tandanya dia masih cinta padaku. :heart:
Huangniao: B-bodoh! Jangan terlalu pede, ya! Aku hanya mengingat hal-hal konyol yang kau lakukan supaya aku bisa memperolokmu!
Dino: *dalam hati berpikir:* ... ternyata ibunya Kyouya juga tsundere. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya ya...
