Dear reviewers, saya cinta kalian. Bolehkah saya mencium kalian satu per satu? Boleh, ya? Ya, ya, ya, ya- *dilempar dinamit*
.
.
.
Title: Restu
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Di luar dugaan, mencari tahu siapa orang tua Hibari Kyouya sama sulitnya dengan menerobos masuk penjagaan di Penjara Vendicare seorang diri, tanpa bantuan seorang ilusionis pun. D18.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, pornoaksi, male pregnancy di chapter-chapter berikutnya, FOC dan MOC, OC x OC, typo, foreign language galore.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
VII. Namimori
.
.
.
"Eh? Kyouya sedang pergi keluar?"
Kusakabe mengangguk mengiyakan. "Kyou-san pergi setelah mendapat telepon dari seseorang pagi tadi. Dia tidak mengganti pakaiannya dengan jas, jadi sepertinya bukan menemui Sawada-san atau koleganya yang lain."
Dino mengerutkan dahi. Siapa yang mungkin menelpon seorang Hibari Kyouya di pagi hari? Dan apakah kekasihnya itu pergi untuk menemui siapapun yang menelponnya? Sayang sekali kalau ia harus menunggu entah hingga beberapa jam untuk menyampaikan kabar gembira mengenai tantangannya yang telah ia selesaikan.
Ya, saat ini Dino berada di Namimori, tepatnya di kediaman Hibari. Setelah bermalam di markas organisasi yang diketuai oleh Mikado dan menyembuhkan luka-lukanya dengan Sky Turtle, ia langsung meluncur meninggalkan Kabukichou dan mendatangi kota kesayangan sang Awan Vongola ini. Namun, seperti yang dijelaskan di atas, sepertinya si tuan rumah sedang pergi ke suatu tempat tanpa menjelaskan pada Kusakabe ke mana tujuannya ataupun untuk menemui siapa.
"Aaah. Mungkin seharusnya tadi dia tidak kutelepon, ya?"
Memutar badannya, kini Dino bisa melihat Huangniao dan Mikado berdiri di belakangnya. Ya, pasangan mantan suami istri yang konyol itu ikut mendatangi Namimori dengan alasan 'sudah lama tidak mengunjungi Kyouya'.
"Anda menelponnya, Fūrén?"
Huangniao mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan dari Dino. "Berhenti memanggilku seperti itu, Don Cavallone! Kau itu akan menjadi menantuku, jadi biasakan memanggilku 'ibu mertua'!" Tukasnya. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu: ya, tadi pagi aku menelponnya. Aku bilang kalau kita akan datang siang ini dan menyuruhnya untuk menyambut kedatangan kita. Berani sekali dia tidak mendengarkan perintahku!"
"Mungkin sebenarnya dia tidak mau bertemu denganmu," Mikado menyeringai lebar seraya menatap sinis Dino, yang hanya tertawa kecil. "Tapi, sayang, ya. Padahal aku ingin langsung memeluk anak itu. Katanya dia jadi cantik?"
"Kau akan dihajarnya lagi kalau kau berani menyebutnya cantik, kau tahu?"
"Begitulah. Dia mirip sekali denganmu, Kougou."
Satu hentakan sikut mendarat di perutnya dan Mikado bungkam. Dino tersenyum melihat perilaku dua orang yang seharusnya lebih dewasa darinya itu. Ia merasa seseorang menyentuh bahunya, maka ia menoleh dan melihat Kusakabe berdiri di sampingnya, menatap pasangan di hadapannya dengan tatapan penuh tanya.
"Dino-san, siapa orang-orang yang kau bawa ini?"
"Kau benar-benar tidak tahu?" Sang capo crimini agak terkejut. Ia mengira Kusakabe hanya berpura-pura ketika ia mencoba mencari tahu keberadaan orang tua Kyouya minggu lalu. "Mereka orang tua Kyouya; Ametoku Mikado dan Hibari Kouchou."
Kusakabe menunjukkan reaksi standar seseorang jika pertama kali diperkenalkan kepada orang tua seorang Hibari Kyouya: membuka mulut lebar-lebar dengan ekspresi syok alias mangap. Dino maklum. Siapa juga yang mengira bahwa seorang anak berusia 25 tahun memiliki orang tua yang terlihat awet muda?
Suara kicau burung mengalihkan perhatian Dino dari Huangniao dan Mikado yang kini mulai berbicara dengan Kusakabe. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri begitu menapaki taman samping, mencari asal suara yang begitu familiar itu. Sebentar saja dan ia sudah menemukan burung yang berkicau itu: Hibird. Si kuning bulat menggemaskan itu bertengger di salah satu dahan pohon, sendirian. Tidak ada tanda-tanda bahwa majikannya berada di sana.
"Halo, kawan kecil!" Pemilik tato kuda itu mengangkat tangannya, membiarkan Hibird terbang dan bertengger di jarinya. "Majikanmu mana?"
"Hibari?" Burung kecil itu menatap Dino dengan sepasang mata mungilnya. "Hibari pergi. Orang tua datang."
...
"Oh, ya. Seharusnya aku tahu." Dino menghela napas. Sudah jelas bahwa Kyouya pergi setelah Huangniao menelponnya. Ia pasti tidak suka dikunjungi orang tuanya dan memutuskan untuk kabur.
"Hm? Burung apa ini?"
Tiba-tiba saja Mikado sudah ada di belakangnya, menatap Hibird dengan penuh tanya.
"Er... burung kenari?" Sampai sekarang Dino juga tidak mengerti Hibird masuk spesies burung apa. Dan Kyouya juga tidak terlalu peduli, asalkan si bulat lucu itu berguna untuknya. Berguna dalam artian menyanyikan Mars Namimori kalau diminta atau mengumpulkan informasi. "Dia sudah bersama Kyouya sejak sepuluh tahun yang lalu. Anda tidak tahu?"
"Tidak. Terakhir kali aku bertemu dengan Kyouya itu 15 tahun yang lalu."
Sang bos mafia mengerjap. "Li... lima belas tahun yang lalu?"
"Begitulah," Mikado mengulurkan tangannya untuk mengelus perlahan kepala Hibird, "sejak anak itu mengalahkanku dalam duel dan memintaku meninggalkan serta melepaskan pengawasan atas Namimori. Katanya dia sendiri yang akan melindungi kota ini."
15 tahun yang lalu, berarti saat Kyouya masih di tingkat sekolah dasar dia sudah bisa mengalahkan ayahnya yang seorang oyabun? Wao sekali.
Tapi Dino jadi penasaran.
"Maaf, kalau boleh, bisa ceritakan kenapa hal itu bisa terjadi?"
Mikado mengerutkan dahinya. Awalnya ia tampak enggan menceritakan apa yang terjadi di antara dia dan puteranya di masa lalu, tapi toh ia membuka mulut dan bercerita juga.
"15 tahun yang lalu aku bercerai dengan Kougou." Keduanya melirik Huangniao yang masih asyik berbicara dengan Kusakabe, entah tentang apa. "Kami sudah sering bertengkar, mempermasalahkan banyak hal—dari yang kecil sampai yang besar. Kurasa dia tak tahan karena aku terlalu sering melanggar batas, makanya dia memaksa agar kami bercerai. Tapi ada sedikit masalah."
"Masalah?"
Pria Jepang dengan rambut keemasan itu menggaruk pipinya. "Kau sudah dengar bahwa Kougou lahir dan besar di Jepang, 'kan? Ia menyukai kota kelahirannya—Namimori. Ketika aku melamarnya dulu, Kougou menerima lamaranku karena aku setuju untuk membuat Namimori di bawah pengawasan kelompokku. Aku dan anak buahku yang mencegah agar kriminalitas di Namimori tidak berkembang."
"Ah, aku mengerti," Dino mengangguk. "Kalau kalian bercerai, maka kau tidak punya urusan lagi dengan Namimori. Tidak ada yang bisa dengan efisien mengatasi tindak kriminal seperti anggota geng bermotor dan semacamnya."
"Begitulah." Mikado mengeluarkan kiseru-nya dan mulai menyalakannya. "Kyouya mewarisi kecintaan Kougou akan Namimori. Sepertinya ia merasa bahwa melindungi ketenteraman Namimori sudah menjadi kewajibannya. Maka dari itu ia menantangku berduel, untuk membuktikan bahwa ia bisa menggantikanku untuk menjaga kedaiaman di kota ini. Tentu saja awalnya ia tidak berhasil menang dariku, namun tiap hari ia akan terus menantangku, dan perlahan-lahan menjadi semakin kuat hingga akhirnya bisa mengalahkanku."
Dino diam termangu. Ia tahu bahwa kekasihnya itu memiliki rasa cinta yang nyaris abnormal terhadap kota ini, namun tidak pernah mempertanyakannya. Kini ia tahu cerita dibalik kecintaan tersebut.
"Dino. Dino."
Lamunannya terganggu karena suara Hibird yang menyebut namanya. Ia hendak mengelus burung kuning nan cerdas itu ketika Hibird bersuara lagi.
"Dino. Hibari menunggu."
Mengerjap, ada jeda sejenak sementara otak Dino berusaha memproses maksud ucapan Hibird. Apa burung ini sengaja berada di sini untuk menyampaikan pesan bahwa Hibari menunggunya di suatu tempat? Atau dia memiliki niatan untuk mengantarkan sang capofamiglia ke tempat majikannya?
"Hibari menunggu. Dino ikut Hibird?"
Nah, itu baru jelas.
"Mikado-shi," Dino mengalihkan perhatiannya pada Mikado, yang tampak terkejut bahwa Hibird bisa berbicara, "maaf, tapi aku harus pergi mencari Kyouya. Silahkan Anda dan mantan istri Anda bersantai di sini. Aku pasti akan membawa anak itu kembali untuk menemui Anda berdua."
Hibird mengepakkan sayapnya dan mulai terbang menuju ke suatu arah. Dino berjalan mengikuti arahan burung itu, namun belum jauh ia melangkah...
"Bocah!"
Dino berhenti dan menoleh. Mikado yang memanggilnya. Pria tua itu menghembuskan asap cerutunya, lalu berkata,
"Kau harus bisa melihat sesuatu yang hanya bisa kau lihat jika kau benar-benar mencintai Namimori. Kau harus bisa melihatnya, atau kau akan berakhir sepertiku."
Pria asal Apulia itu mengernyit heran. Ia tidak mengerti maksud calon ayah mertuanya itu, tapi toh ia mengangguk mantap dan kembali mengikuti Hibird. Mengerti atau tidak mengerti, sekarang ia harus menemui Kyouya dan berbicara dengannya. Lagipula, ia juga tidak memiliki niat untuk menjadi lelaki tua penyuka wanita muda seperti Mikado, 'kok.
.
.
.
Hibird membawanya ke sebuah taman di dekat SMP Namimori. Sekilas, tampaknya tidak ada siapapun di sana. Namun Dino melangkah mendekati salah satu pohon dan, voila! Hibari Kyouya ada di sana, sedang tidur dengan damai di bawah naungan rimbunnya dedaunan. Meskipun ada sesuatu yang ganjil, dan keganjilan itu membuat sang bos mafia mengerutkan dahinya.
Melihat kekasihnya tidur bukan hal yang tidak biasa bagi Dino. Yang tidak biasa adalah menemukan seorang gadis duduk di sebelah Awan Vongola yang tengah tertidur pulas itu.
Gadis itu tidak terlihat seperti gadis jaman sekarang. Ia tidak mengenakan make up sedikitpun, membiarkan kecantikannya terpancar secara alami. Rambutnya disanggul, membuatnya sedikit terlihat seperti ibu-ibu. Ia juga mengenakan komon dengan kanzashi berupa bunga wisteria, memberi kesan seperti wanita dari jaman Edo.
"Selamat siang."
Sapaan wanita tak dikenal itu membuat Dino berhenti mengamati penampilannya. Wajahnya sedikit memerah karena tidak sengaja menatap wanita itu terlalu lama. "Ah, selamat siang. Apa kau kenalan Kyouya?"
Dino mengira wanita itu akan menjawab pertanyaan dan memperkenalkan diri sebagai seseorang yang menyukai Kyouya atau apalah—ia tidak bisa memungkiri bahwa kekasihnya itu memiliki wajah yang dinilai banyak wanita sebagai wajah yang 'tampan'. Namun, bukannya segera menjawab, wanita itu malah menatapnya dengan sedikit terkejut dan... mata berbinar-binar.
"Apa kau yang bernama Dino?"
"Ya. Siapa nama—"
"Yang melamar Kyouya-dono?"
"Benar. Darimana kau—"
"Sou!" Wanita itu bertepuk tangan sekali. Dino tidak mengerti, tapi tampaknya ia begitu bahagia sekarang. "Aku dengar banyak hal tentangmu! Dan sekarang kau bisa melihatku dan aku bisa berbicara denganmu, jadi—"
"Ngh..."
Tampaknya perbincangan antara Dino dan si wanita yang tak dikenal itu—yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai perbincangan, karena wanita itu terlalu sering memotong ucapan Dino—membuat tidur Kyouya terganggu. Perlahan sang karnivora membuka matanya dan langsung menyadari bahwa mantan tutornya berada di sana. "Baru tiba? Lama sekali kau."
"Well, aku bisa datang lebih cepat kalau saja kau bilang pada Kusakabe kalau kau ada di sini!" tukas Dino sembari memijat pelipisnya. Rasa lelah karena harus berhadapan dengan beberapa orang egois mulai menyerangnya.
Kyouya tidak segera merespon. Ia masih setengah sadar, sebenarnya. Seruan "Hibari, Hibari!" dari Hibird membuatnya lebih cepat mengumpulkan nyawa, dan akhirnya ia memiliki cukup tenaga untuk bangkit ke posisi duduk. Ia menoleh, melihat bahwa wanita dengan pakaian tradisional itu masih duduk di sampingnya namun terlihat asyik mengamati Dino.
"Dino."
"Ya, Kyouya?"
"Kau bisa melihatnya?"
"Wanita yang ada di sampingmu? Tentu saja. Aku belum tahu namanya, 'sih..."
"Dia roh Namimori."
"Oh, roh Namimori. Akhirnya aku ta—" Kalimat Dino berhenti, menggantung, karena otaknya baru memproses maksud ucapan Kyouya. "ROH?"
Wanita yang diklaim sebagai roh Namimori itu terkekeh pelan. "Itu benar. Bisa dibilang aku adalah dewi pelindung kota ini. Normalnya, orang biasa tidak bisa melihatku. Hanya orang-orang tertentu yang bisa."
"Orang-orang terentu... anggota keluarga Kyouya?"
"Bukan. Orang-orang yang mencintai Namimori dengan sepenuh hati."
Dino tertegun. Ia akhirnya mengerti maksud ucapan Mikado tadi. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mencintai Namimori... adalah roh ini. Itu artinya Kyouya dan Huangniao bisa melihat wanita itu. Dan maksud dari 'berakhir seperti Mikado' adalah ancaman bahwa kehidupan rumah tangganya dengan Kyouya akan hancur jika Dino tidak memiliki kecintaan yang sama terhadap Namimori... atau seperti itulah dugaan Dino.
"Kau sudah bertemu orang tuaku?"
"Huh?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyouya begitu tiba-tiba sehingga butuh beberapa detik sebelum Dino bisa memberikan jawabannya. "Oh, ya. Fon membantuku menemui mereka."
Dino bisa melihat kekasihnya itu mengerutkan dahi. Sepertinya ia tidak begitu senang dengan paman dari keluarga ibunya itu. "Kalau begitu kau pasti mengerti kenapa aku menyuruhmu menemui mereka."
"Supaya kita tidak berakhir seperti mereka?"
Satu anggukan cukup untuk membuat Dino mengerti. Kyouya tidak membencinya. Kyouya ingin bersamanya, namun selain karena tidak suka diikat kontrak pernikahan, ia juga takut jika suatu saat apa yang terjadi pada orang tuanya juga terjadi pada hubungan mereka. Mencari restu dari Huangniao dan Mikado bukan hanya membantunya memastikan seberapa besar cintanya pada sang diktator asal Namimori itu, tetapi juga membantunya lebih mengerti tentang Kyouya dan keluarganya yang unik.
"Tenang saja."
Suara roh Namimori membuat sepasang kekasih itu menoleh. "Pria ini sudah menjawab semua tantanganmu. Ia memenuhi standar-standar kualifikasi yang kau pasang. Tidak akan ada masalah jika kau menerimanya sebagai pendamping hidupmu, Kyouya-dono."
Meski begitu, Kyouya tetap ragu. Dari mulutnya tak kunjung terucap kata-kata seperti "aku menerima lamaranmu" atau sejenisnya. Ia tetap bungkam, seperti tak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Kyouya."
Sang capofamiglia menggenggam kedua tangan dan menempelkan dahinya dengan dahi Awannya tersayang. Memejamkan mata, ia berkata, "Aku menyukaimu, segala sisi dirimu. Aku juga menyukai apa yang kau sukai. Meskipun aku tahu bahwa kau kuat, aku tetap ingin melindungimu dari segala macam bahaya. Aku tidak akan mengkhianatimu. Jika kau merasa aku melakukan sesuatu kesalahan, kau punya hak untuk mengatakannya padaku dan aku akan membenahiku. Aku tidak akan mengikatmu—kau bebas terbang ke mana pun yang kau mau, seperti yang selalu kau lakukan.
"Maka dari itu, menikahlah denganku."
Dino membuka matanya, dan apa yang ia lihat membuatnya merasa hangat.
Karena wajah Hibari Kyouya saat ini terlihat sangat manis. Pipinya merona dan matanya mengerling ke arah lain, berusaha menghindari tatapan Dino. Ia menggigit bibir bawahnya, seperti berusaha menghentikan dirinya untuk mengatakan sesuatu.
Butuh waktu lama hingga Kyouya menguasai diri dan membuang jauh-jauh rasa malu karena kata-kata manis Dino tadi. Ia memberikan jawabannya, diiringi dengan kecupan singkat di bibir.
"Baiklah."
Detik itu juga, Dino merasa bahwa ia adalah pria paling bahagia di dunia.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
Komon : kimono yang motifnya kecil namun memenuhi seluruh bagian kain.
Kanzashi : hiasan rambut, biasanya sering dipakai oleh geisha atau maiko.
.
.
.
