Title : Show Me The Meaning of Life and Love

Disclaimer : Super Junior itu milik SM Entertaiment, para member milik keluarga mereka dan Tuhan YME

Cast : Super Junior

Pairing : YeWook

Slight!KangTeuk, HanChul, EunHae, KyuMin

Genre : Angst/Romance

Rate : T

Warning: OOC, OC, AU, Yaoi

.

Happy reading, enjoy!

.


Chapter sebelumnya:

Tok tok!

"Ya, nuguya?" Nari membuka pintu depan panti asuhan miliknya dan melihat ada 2 orang, yang satu namja dan yang satunya lagi yeoja, sepertinya mereka suami istri.

"Annyeonghaseo, chonun Kim Soojae imnida" namja itu memperkenalkan dirinya dan membungkukan badannya.

"Dan saya istri-nya, Kim Yongri imnida" kali ini yeoja yang disebelah namja yang bernama 'Soojae' memperkenalkan dirinya juga. "Anda Jung Nari-sshi? Pemilik panti asuhan ini?"

"Ne. saya Jung Nari. Silahkan masuk." Nari mempersilahkan kedua tamu itu masuk kedalam ruangannya.

Kedua orang itu masuk dan duduk di kursi yang sudah ada dihadapan meja kerja Nari. Nari menyiapkan teh untuk tamu nya. Saat sudah selesai, ia memberikannya pada Soojae dan Yongri.

"Silahkan diminum teh-nya" ucap Nari.

"Kamsahamnida" Yongri meminum teh nya sedikit, dan meletakan cangkirnya lagi di meja.

Soojae menatap Nari, kemudian berkata, "Ehm. Jung Nari-sshi, saya ingin meng-adopsi namja berumur 17 tahun".


"Aku terus menunggu hari itu.

Hari dimana aku bisa merasakan kebahagiaan" - Kim Ryeowook

.

.

.

Nari tersenyum. Akhirnya ada juga yang mau mengadopsi namja berumur 17. Biasanya para tamu-nya meng-adopsi anak yang masih umur 10, jarang ada yang mau meng-adopsi anak berumur 17 tahun.

"Baiklah, Anda bisa melihat anak-anak itu dulu, sambil mencari namja yang ingin kalian adopsi".

Nari, Soojae, dan Yongrin beranjak dari ruang tengah, tempat dimana biasanya anak-anak berkumpul dan bermain bersama.

"Wah...banyak sekali ya" Yongrin melihat ke kumpulan namja yang sedang bermain PS3, sepertinya mereka bermain Tekken 6.

"Begitulah, jarang ada yang mau meng-adopsi remaja seperti mereka" kata Nari.

"Mereka sangat bersemangat dan lucu" kata Yongri, masih menatap mereka bermain PS3.

"Benarkah? Mereka sangat nakal lho" Nari tanpa sengaja membeberkan aib anak-anak itu

"Hahaha, namanya juga remaja, mereka cenderung banyak beraktivitas" Nari mengangguk setuju,

Mereka terdiam melihat anak-anak itu.

"Yongri, aku ke toilet bentar ya" kata Soojae, meminta-izin. "Toilet dimana ya?".

"Dari sini lurus, kemudian belok kanan"

Namja dewasa itu mengangguk mengerti dan segera beranjak dari ruang tengah.

.

.

.

Ryeowook sedang dalam perjalanan pulang. Hari sudah sore.

Ketika bel pulang, murid-murid kelas Ryeowook berteriak senang, sedangkan sang guru mencak-mencak kelas lantaran pelajarannya belum selesai, tapi bel pulang sudah berdering. Dengan berat hati, sang guru memperbolehkan murid-muridnya pulang.

"Jam 4.15...apa lebih baik aku jalan-jalan dulu?" Ryeowook bertanya-tanya.

"Kalau pulang ke panti asuhan, mereka akan mengerjaiku lagi".

Begitu selesai 'berdebat' dengan pikirannya, akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Ia ingin mendapat waktu tersendiri, tanpa gangguan para tukang bully itu. Tapi meskipun ia ingin jalan-jalan, ia tidak tau harus kemana. Karena kakinya terus bergerak, maka ia hanya mengikuti arah si kaki berjalan.

'Tap'

Kakinya berhenti didepan sebuah cafe, 'Cafe Roussian' namanya. Ia masuk kedalam cafe itu, aroma harum cafe tersebut langsung tercium oleh Ryeowook. Ryeowook mengambil tempat duduk didekat jendela.

Seorang yeoja mendatangi-nya dengan sebuah buku menu,

"Selamat datang, tuan. Mau pesan apa?" yeoja itu meletakkan buku menu-nya didepan Ryeowook.

"Saya pesan Chiffon Cake dan Hot Milk satu".

Yeoja tersebut mencatat pesanan Ryeowook, "Baik. Mohon tunggu sebentar" dan yeoja itu pergi.

Ryeowook melihat ke seluruh cafe, cafe yang cukup ramai menurutnya. Ada pasangan yang sedang suap-suapan, ada kumpulan yeoja yang tampaknya menggosipi seseorang kemudian tertawa bersama, ada juga seorang ibu dengan anak kecil yang sedang makan.

Disaat itu pula, Ryeowook memikirkan ulang kejadian disekolah...

.

*Flashback*

Satu sekolah heboh. Ryeowook lagi-lagi tertangkap basah sedang melukai diri sendiri. Ternyata pada saat ia menyayat tangannya dan membersihkan lukanya, salah satu murid yang sedang mengambil bola melihatnya. Murid itu langsung memberitau ke seonsaengnim,

"Panggilan kepada Ryeowook-sshi dari kelas 2-A, Anda ditunggu di ruang BP. Sekali lagi kepada Ryeowook-sshi dari kelas 2-A, anda ditunggu di ruang BP"

Ryeowook yang mendengar panggilan itu langsung beranjak dari tempat ia duduk dan masuk ke dalam bangunan sekolah. 'Hhh, lagi-lagi ada yang melihat', pikirnya kesal. Lihat, tanpa diberitau kenapa ia dipanggil keruang BP, ia sudah tau alasannya. Yup. Ada yang melihatnya menyayat tangannya. Terkadang ia berpikir kenapa semua anak di sekolah ini 'mulut ember'.

Baginya, ia bebas melakukan apapun pada tubuhnya. Yang dilukai bukan tubuh mereka, tapi tubuhnya. Jadi menurutnya orang lain TIDAK berhak melarangnya. Semua mutlak hak-nya.

Ryeowook sudah berada didepan ruang BP. Baru saja namja itu mau masuk, tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara dari dalam...

"Lagi-lagi dia menyayat tangannya"

"Ryeowook-sshi, kah?"

"Ne, siapa lagi kalau bukan dia...aargh! Aku sudah capek menghadapinya"

"Kudengar dia agak 'tidak normal' ya?"

"Bukan 'agak tidak normal', tapi benar-benar tidak normal. Aku heran kenapa Yunho-seonsaengnim menerimanya disekolah ini"

Ryeowook mendekatkan kepalanya ke pintu, untuk bisa lebih jelas mendengar percakapan mereka, sepertinya ada dua yeoja didalamnya,

"Benar juga sih...aku juga pernah liat ia menyayat tangannya sendiri. Aku takut melihatnya, jadi langsung kabur"

"Jika anak itu terus-terusan berada disini, itu akan memberikan pengaruh buruk pada murid lainnya, katanya dia tidak ada orangtua dan tinggal di panti asuhan"

"Kalau saja dia anakku, sudah kubentak habis-habisan. Menyayat tangan, apakah anak itu mencari perhatian? Menyebalkan"

"Seandainya aku kepala sekolahnya, mungkin ia sudah kukeluarkan"

"Anak seperti dia masa depannya hancur"

"Benar"

Kini dua yeoja itu tertawa cekikikan. Ryeowook diam mematung mendengar percakapan seonsaengnim-nya.

"Apa-apaan itu? Yang mengobrol didalam seonsaengnim kan? Bukan murid yang hobinya menggosip kan?" pikir Ryeowook

Kalau benar begitu, buat apa mereka mengkhawatirkan keadaan Ryeowook?. Untuk apa mereka melontarkan kalimat, 'Oh, Ryeowook-sshi, kau tidak boleh begini...' atau 'Ryeowook-sshi, kau tidak boleh begitu...' atau kata-kata manis sebagainya. Mereka mengatakan itu didepan Ryeowook, tapi sekarang? Persetan!.

"Aku keluar dulu ya"

'Krieeet'

Yeoja itu terkejut melihat murid yang tadi digosipinya berada didepan mereka, sedangkan yeoja yang satunya lagi wajahnya sudah tampak pucat,

"Ry-Ryeowook-sshi? Se-sejak kapan kamu..." Yeoja itu berusaha berbicara, tapi dipotong Ryeowook,

"Aku sudah disini sejak seonsaengnim membicarakanku".

Wajah kedua yeoja itu makin pucat,

"Kamsahamnida karena sudah mengatakan hal sejujurnya. Seonsaengnim benar, seharusnya Yunho-seonsaengnim tidak menerimaku disini, aku murid yang akan memberikan pengaruh buruk pada murid lainnya...karena aku 'pembawa sial'...". Ryeowook menghela napas panjang, "Permisi."

Kemudian Ryeowook pergi meninggalkan ruang BP dan dua yeoja yang kini masih diam mematung dan kedua wajahnya pucat.

*End Flashback*

.

Seonsaengnim yang selama ini ia pikir bisa 'sedikit' dipercaya ternyata sama aja. Ryeowook sudah menduganya dari dulu, mana mungkin ada seorang pun yang mengkhawatirkannya, kalau yang mengejeknya banyak. 'You can't trust anyone in this world'. Yeah, kalimat itu ada benarnya juga. Tidak selamanya ia bisa mempercayai seseorang, suatu saat orang yang ia percayai bisa saja menusuknya dari belakang. Seperti tadi.

"Memang benar...tidak ada satupun yang bisa kupercaya" gumam Ryeowook

"Err-tuan?"

Suara seorang yeoja membuyarkan lamunannya, ia menengok ke samping, melihat pelayan yang tadi melayaninya sudah menaruh makanan yang dipesannya,

"I-ini pesanannya sudah jadi. Emm..selamat dinikmati" kata yeoja itu kemudian pergi

Ryeowook memandang makanannya, napsu makannya sedikit menghilang karena mengingat kejadian disekolah tadi. Tapi daripada buang-buang makanan... Akhirnya ia memilih memakan makanan itu, sayang kalau dibuang.

Setelah menghabiskan makanannya, ia ke kasir untuk membayar semuanya,

"Harganya 4000 won"

Ryeowook merogoh saku celana seragamnya. Tiba-tiba matanya terbelalak, ia merogoh sakunya lebih dalam, mencari-cari sesuatu,

"Akh! Dompetku hilang..." pikir Ryeowook panik. "Bagaimana ini? Bagaimana..."

"Ada apa, Tuan? Apa anda tidak bawa uang kesini?" selidik penjaga kasir itu, menatap tajam Ryeowook.

"Iy..."

"Apa perlu aku yang membayarnya?"

Sebuah suara merdu menginterupsi perkataan Ryeowook, namja mungil itu melihat ke belakang. Seorang namja berambut merah dengan seragam sekolah yang berbeda dari Ryeowook. Namja itu tersenyum lembut, ia mengeluarkan uang sebanyak 4000 won dari dompetnya dan menyerahkannya ke pelayan itu,

"Biar aku yang membayarnya" bisiknya lembut tepat ditelinga Ryeowook

"Go...gomawo.." balas Ryeowook

Ryeowook dan namja berambut merah itu keluar dari cafe bersama-sama, mereka tidak berbicara sama sekali,

"Umm..gomawo sudah membantuku" kata Ryeowook. "Aku akan mengganti uangmu"

"Ani. Gwaenchana, kau tidak perlu menggantinya" kilah namja itu

"...baiklah kalau begitu, a-aku pergi dulu. Gomawo atas bantuanmu" ujar Ryeowook cepat

Ryeowook membungkukan badannya dan pergi meninggalkan namja berambut merah itu yang kini cengok karena ditinggal Ryeowook. Ia melihat punggung Ryeowook yang perlahan-lahan mulai tidak terlihat oleh matanya, ia tersenyum kecil, tepatnya menyeringai. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan namja semanis itu, yeoja aja kalah imut dengan namja yang baru dikenalnya itu,

"Heee, namja yang menarik" kata namja berambut merah itu. "Kuharap kita bertemu lagi" ucapnya, seringaiannya makin lebar.

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

"Kami akan datang kesini lagi besok, mungkin besok kami akan menemukan namja yang ingin kami adopsi" kata Yongri

"Baiklah, saya akan selalu menerima kedatangan anda" kata Nari sopan

"Sampai besok" Soojae keluar dari panti asuhan itu.

"Sampai besok, Nari-sshi"

"Iya, sampai besok".

Yongri juga beranjak pergi, tapi...

'BRAK'

Yongri jatuh terduduk, begitu pula yang menabraknya, jatuh terduduk juga didepannya.

"Ryeowook, hati-hati. Dia itu tamu seonsaengnim" tegur Nari

"Mianhae..." ucap namja mungil itu dan langsung lari kekamarnya.

Nari membantu Yongri berdiri,

"Mianhamnida, anak tadi salah satu anak panti asuhan juga" kata Nari

"Ani, gwaenchana. Ngomong-ngomong namja itu siapa? saya tidak begitu dengar saat anda menyebut namanya" Yongri menanyakan nama anak yang tadi menabraknya.

"Namanya Ryeowook" jawab Nari

"Umur berapa dia?" tanya Yongri

"17 tahun...".

"Dia manis sekali" Yongri tersenyum, meningat wajah Ryeowook yang baru pertama kali ia lihat.

"Dia emang manis sekali, hanya saja..." kata-kata Nari terhenti.

"Hanya saja?"

.

.

.

"Anak itu sedikit mengalami gangguan mental".

'DEG'

Yongri terkejut. Anak semanis itu mengalami gangguan mental?

"Ga-gangguan mental? Se-seperti apa?".

"Masochist. Ia senang menyakiti dirinya sendiri. Aku tau dia anak yang manis, tapi karena ia sedikit 'mengalami gangguan mental', anak-anak lain tidak ada yang mau mendekatinya. Orangtua nya yang dulu juga sering menyiksanya dan menghardiknya. Orang-orang yang tinggal di daerah perumahannya yang dulu juga sama saja. Aku...aku merasa sangat kasian padanya. Sebenarnya dia anak yang baik, tapi perbuatan anak-anak lain terhadapnya membuat ia anti-social dan makin senang menyayat tangannya"

Yongri terdiam tidak percaya

"Aku tidak mengerti kenapa anak itu tidak pernah mengeluh sakit, padahal sudah beberapa kali kulihat lukanya itu tidak normal, melainkan luka yang cukup lebar dan tidak pernah ia obati. Aku sudah berkali-kali melarangnya untuk melakukan hal yang lebih, tapi sepertinya ia tidak mendengarkanku" Nari menundukkan kepalanya, ia terlihat begitu sedih.

"Anak itu...pasti ia sakit. Hatinya pasti sakit! Mana mungkin ia bisa bertahan jika orang-orang jahat padanya! Kalau begini terus suatu saat anak itu bisa saja bunuh diri. Maksudku...hh, dia tidak akan kuat, itu terlalu berat untuk dipendamnya sendirian" Yongri menatap ke Nari dengan tatapan sedih juga.

Walaupun Ryeowook bukan anaknya, tapi ia tau kalau Ryeowook pasti sangat sakit, sakit hatinya.

"Nari-sshi, sepertinya saya sudah memutuskan..." Yongri diam sesaat, Nari menatap tamunya itu

"Saya akan mengadopsinya"

.

.

.

"HOEK"

Suatu cairan keluar dari mulut Ryeowook. Cairan berwarna aneh.

"HOEEK...uhuk uhuk"

Lagi-lagi keluar cairan. Tapi kali ini ada yang berbeda, sesuatu berwarna merah bercampur dengan cairan yang tadi dikeluarkannya,

Darah.

Muntah darah. Hal ini terjadi jika Ryeowook terlalu memikirkan hal-hal yang menyakitkan atau berat. Dan akhir-akhir ini dia juga sering muntah darah.

"Uhuk...uhuk...hoeek...hhk..."

Seluruh isi perutnya sepertinya sudah keluar. Kamarnya sudah bau dengan muntahannya, tapi ia tidak berkepikiran untuk membersihkannya, hanya membiarkannya begitu saja.

"Anak seperti dia masa depannya hancur"

.

"Anak pembawa sial!"

.

"Anak sialan! Seharusnya anak seperti kau tidak pernah lahir di dunia ini! Seharusnya aku membunuhmu saja sebelum kau lahir dari kandunganku!"

.

"Aku heran. Kenapa ya Yunho-seonsaengnim mau menerima anak itu disekolah ini?"

.

"Dasar gila!"

.

"Katanya dia gila, jangan dekati dia yuk"

.

"Dia suka menyayat tangannya, aneh sekali ya"

.

"Jangan dekati aku, anak pembawa sial!"

.

"AAAAAAAARGH! DIAM DIAM DIAM DIAM!" Jerit Ryeowook, kedua tangannya mencengkram kepalanya erat.

'DUAK'

Sesaat setelah ia menjerit, ia mulai membenturkan kepalanya sendiri ke tembok berkali-kali,

"DIAM! DIAM! DIAM! DIAM!" Jeritnya lagi, seolah suara-suara itu masih menghantui pikirannya.

Semakin lama benturannya semakin kuat, darah mulai mengalir dari kepalanya. Rasa sakit mulai menggerogoti kepalanya, tapi ia tidak peduli, seolah tidak merasakan sakit yang luar biasa. Tidak hanya itu, ia juga mulai mencakar tembok kamarnya. Setiap goresan yang terbuat di tembok, keluar darah dari kukunya yang sudah patah.

Untuk orang biasa, mungkin sudah menjerit kesakitan. Tapi anak ini beda, ia seperti tidak merasakan rasa sakit apapun.

MATI.

Tulisan itu sudah terukir jelas di temboknya, dengan darah yang juga ada pada tulisan itu. Ryeowook jatuh lemas. Kepalanya yang berdarah menyender di tembok. Pandangannya perlahan mulai memburam,

"RYEOWOOK!"

...Dan selebihnya gelap...

.

.

.

*Ryeowook POV*

Gelap...

Tubuhku juga terasa berat. Bergerak sedikit saja tidak bisa.

Aku mencoba membuka kedua mataku. Begitu terbuka, pemandangan yang terlihat adalah...kamarku. Apa yang terjadi padaku?.

Oh iya, aku ingat!. Aku membenturkan kepalaku dan mencakar tembok. Banyak darah yang keluar ketika aku melakukan itu. Aku sudah cukup sering membenturkan kepalaku ke tembok, tapi baru kali ini aku bisa sampai pingsan.

"Ryeowook, kamu sudah bangun!"

Itu suara Nari-seonsaengnim. Wajahnya tampak senang ketika mengetahui bahwa aku sudah bangun.

"Kamu sudah enakan?" Tanyanya dengan nada khawatir.

Aku hanya memberi respon berupa anggukan.

"Tadi saat seonsaengnim masuk ke kamarmu, kamu sudah tergeletak di lantai, dan banyak darah yang keluar dari kepalamu. Kukumu juga berdarah. Apa kamu melukai dirimu sendiri lagi, Ryeowook?".

Kali ini aku tidak menjawab apapun. Nari-seonsaengnim pasti sudah mengetahui jawabannya. Kurasakan tangan lembut Nari-seonsaengnim meraih kepalaku yang -sepertinya- dibalut perban, mengusapnya pelan.

"Ryeowook-ah, kumohon, hentikanlah semua ini. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri" lirih Nari-seonsaengnim.

Aku terdiam.

"Sudah banyak luka sayatan memenuhi tubuhmu, seonsaengnim tidak ingin ada luka lagi ditubuhmu. Cukup sudah, Ryeowook".

"Kalau begitu apa yang bisa seonsaengnim lakukan agar membuat anak-anak lainnya berhenti menggangguku? Aku menyakiti diriku sendiri karena aku tidak tahan lagi, seonsaengnim! Kau pikir aku tahan?"

Emosi-ku memuncak. Emosi yang selama ini terpendam dalam diriku, biarah aku menumpahkan emosiku kali ini.

"Aku sudah lelah menghadapi tingkah mereka yang seenaknya! Karena itu aku melampiaskannya dengan menyayat tubuhku!"

Aku kesal dengan semua yang mereka lakukan padaku. Mereka yang baik didepanku, ternyata menusukku dibelakang. Sama saja dengan orang-orang yang memandangku dengan pandangan busuk.

"Mianhae, Ryeowook-ah...mi-mianhae" Seonsaengnim menatapku, matanya terlihat sendu,

"Mianhae, mianhae...mi-mianhae. Mianhae, Ryeowook. Mianhae karena seonsaengnim tidak bisa melindungimu. Aku sudah berusaha, tapi ternyata tetap tidak bisa".

Hening.

Tidak ada satupun dari kami yang berbicara, aku tetap menunduk, menatap tanganku yang dibalut perban.

"Ryeowook, mianhae..."

Itulah yang terakhir dikatakannya, dan dia pergi dari kamarku.

*End Ryeowook POV*

.

Setelah Nari pergi dari kamarnya, Ryeowook masih diam mematung. Perasaan bersalah meliputinya. Ia merasa bersalah karena telah membentak Nari yang selalu berusaha melindunginya. Ia tidak menyangka keadaannya menjadi seperti ini.

"UHUK!"

Ryeowook mulai batuk lagi. Tangan kanannya menutup mulutnya dan tangan kirinya meremas baju yang dipakainya, rasa sakit mulai kembali menggerogotinya, bahkan kali ini lebih sakit daripada pada saat ia membenturkan kepalanya.

Karena dadanya semakin sakit, Ryeowook berinisiatif meminum air putih yang ia pikir akan meredakan rasa sakitnya. Diambinya segelas air putih hangat yang sudah disediakan di meja kecil.

'Gluk'

'Gluk'

Air putih itu tertelan. Perlahan, napasnya mulai stabil dan tidak terdengar lagi suara batuk yang menyakitkan. Ryeowook menghela napas panjang.

Sesudah rasa sakit itu menghilang, pikirannya kembali ke Nari lagi. Ia tahu kalau Nari sangat menyayanginya. Tapi bisakah ia mempercayainya? Kejadian di sekolah membuatnya mulai kehilangan rasa percaya kepada seonsaengnim nya.

Ah, Nari bukan orang yang sama seperti dua seonsaengnim di sekolahnya. Nari dikenal sebagai orang yang baik hati, mana mungkin ia juga 'berbohong' pada Ryeowook. Tapi namanya juga manusia, belum tentu Nari ikhlas melindunginya. Apakah Nari melindunginya karena merasa kasihan?. Ia melindunginya, tapi apa benar ada rasa sayang di dalam diri Nari?.

"Tidak ada yang bisa kupercaya didunia ini, siapapun orangnya"

Kepercayaan Ryeowook pada Nari mulai pudar.

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

Hari sudah pagi, hari ini Ryeowook tidak datang ke sekolah. Mengingat ada guru yang 'tidak menerima keberadaannya' di sekolah. Ryeowook yakin bukan hanya 2 seonsaengnim itu, tapi masih ada banyak guru yang sebenarnya tidak menerima keberadaannya. Maka dari itu dia memutuskan untuk 'keluar' dari sekolah itu.

Urusan kelanjutan pendidikan? Itu diurus nanti.

Ryeowook menyendiri dikamarnya, ia tidak berniat untuk keluar dari kamarnya. Ia berniat untuk tidak bertemu siapapun hari ini, termasuk Nari. Nari pun juga sama, ia ingin menghindar dari Ryeowook. Nari masih merawatnya, tapi tidak berpandangan mata. Ia hanya datang ke kamar Ryeowook untuk mengantarkan makanan, minuman, atau obat.

Tidak ada pembicaraan diantara mereka, sehingga ruangan itu terkesan 'awkward' jika dua orang itu sedang 'bersama'.

.

.

.

'Kriiiing'

"Yeoboseyo?"

"Nari-sshi, ini aku, Yongri!" seru suara dari seberang sana

"Yongri-sshi, ada apa?" tanya Nari.

"Hmm, saya hari ini ingin datang ke panti asuhan" kata Yongri menjelaskan tujuan nya untuk menelpon Nari.

"Baiklah, mau jam berapa?"

"Jam 4 sore. Oh iya, Nari-sshi, saya ada permintaan".

Nari menyeritkan dahi-nya, "Apa?"

"Saya ingin berbicara dengan Ryeowook-sshi".

"Eh? Berbicara?. Sebenarnya, saat ini dia sedang sakit" Nari sedikit terkejut dengan permintaan Yongri.

"Saya hanya berbicara sebentar kok" nada memelas terdengar dari suara Yongri, ia memohon pada Nari.

"Hhh, baiklah, saya perbolehkan"

"Huaa, kamsahamnida, Nari-sshi!".

"Iya, sama-sama".

"Baiklah, sampai nanti~"

'Klik'

Nari menutup teleponnya. Ia cukup terkejut saat mendengar Yongri ingin berbicara dengan Ryeowook. Nari hanya bisa berharap Ryeowook mau mengobrol dengan Yongri.

.

.

.

Jam 4 sore tepat, Yongri datang ke panti asuhan seorang diri. Ternyata Soojae tidak bisa ikut datang karena urusan pekerjaan, padahal ia ingin melihat siapa 'Ryeowook' itu karena saat Yongri tidak sengaja bertemu Ryeowook, Soojae sudah berada di mobil. Tapi mau dikata apa, urusan pekerjaan menghambatnya untuk ikut melihat calon anaknya.

Nari mengantarkannya ke kamar Ryeowook, sesampainya disana, Nari meninggalkan Yongri dan Ryeowook seorang diri.

Yongri duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Ryeowook.

"Annyeong, Ryeowook-sshi" sapa Yongri, tersenyum senang.

"..Nugu?" tanya Ryeowook, menatap orang yang asing baginya dari kepala ke ujung kaki. Tiba-tiba ia teringat sesuatu,

"Ah, kamu yang kemarin kutabrak..." gumam Ryeowook

"Kim Yongri imnida, salam kenal ya, Ryeowook-sshi" Yongri memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.

Ryeowook membalas uluran tangan Yongri dan berjabat tangan, "Salam kenal, Yongri-sshi",

"Kenapa anda ingin berbicara dengan saya?" tanyanya sopan, tapi dengan nada datar

"Begini, aku ingin mengadopsi-mu, jadi kupikir aku ingin dekat denganmu".

Ryeowook terpana. Mengadopsinya? Ia tidak salah dengar kan?.

"Mengadopsiku?" tanya Ryeowook

"Iya, mengadopsimu" Yongri mengusap kepala Ryeowook dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum melihat wajah Ryeowook, baginya tampang Ryeowook saat ini sangat menggemaskan.

Dengan pelan tangannya meraih lengan baju Ryeowook dan menyingkirkannya, memperlihatkan tangannya yang penuh luka sayatan. Yongri manatap sendu tangan itu. Ia tidak percaya anak semanis Ryeowook itu ternyata masochist. Ryeowook terpaku saat Yongri menatap lama luka-luka ditangannya. Entah kenapa ia tidak menarik kembali tangannya, membiarkan Yongri melihat luka-luka nya.

"Aku akan mengadopsimu, walaupun kamu seorang masochist!" ucapnya dengan nada kepastian.

Ia menatap Yongri dengan tatapan tidak percaya. Selama ini tidak ada seorang pun yang mau mengadopsinya saat tahu kalau ia masochist. Ryeowook merasa kalau Yongri benar-benar akan mengadopsinya,

"Jadi, Ryeowook-ah, datanglah ke keluargaku. Aku akan mengajarkanmu tentang kebahagiaan" bisiknya lembut seraya menarik namja manis itu ke pelukannya.

Namja manis itu masih membisu, sedari tadi tidak ada satupun kata yang keluar, ia masih belum terlepas dari keterkejutannya.

Ia bisa merasakan kehangatan yang disalurkan Yongri kepadanya.

"Kamu mau kan, Ryeowook-ah?".

Perlahan, didekapannya Yongri, kepalanya mengangguk kecil.

"Ne, aku mau..."

.

.

TBC


Heiii, akhirnya aku bisa nge-update chapter 2!

*ngeliat tanggal publish* *ngeliat tanggal update*

MWO? Sudah hampir 2 minggu tidak di publish! Mianhae chingu, soalnya aku lagi ke stuck idenya dan beberapa hari yang lalu aku baru dari Bali. Jadi pas liat sekarang tanggal berapa, langsung ngetik cepat, untungnya selama di Bali, aku juga nerusin ceritanya dari memo pad :D

Makanya sekarang author perpanjang ceritanya supaya chingudeul puas, kkk~

Saatnya balas REVIEW~

1. Run Maharani :

Suka.. Suka.. Suka~

kapan dia ktemu Ncung, Thor? Aku udah ga sabar pengen liat papanya Ddangko nih.. Hehe

yasud, apdet kilat ya thor..

-Rn-

Hehe, gomawo udah suka ceritanya! Nih sudah di update, maaf ya update nya ga bisa update kilat. Maklum, author rada lemot orangnya T.T #lah?. Insya allah chapter kedepan bisa lebih cepat.

.

2. Kyra :

Ih ksian skli wookie oppa.. Lanjutin donk critanya.. Q pngen tau crita slanjutnya.. Oke chingu..

Iya nih, kasian wookie oppa *nangis di pojokan* (readers: lho, kan author yang buat ceritanya-_-). Udah di udate kok ^^

.

3. Park Minnie :

kejam bgt thor! T.T

kasian Wookie-ku,

tapi ak penasaran dgn lanjutannya!

Pa mgkn yg diambil it Wookie?

Trus diluar ntar dy ktmu Yesung g?

Lanjut ya thor!

Hwaiting!

Huehehe, aku kejam ya?. Aku emang kejam~ #bangga. Wookie emang sengaja kubuat menderita, tapi lama-lama dia tidak menderita lagi. Tenang saja, sudah kulanjutkan, nih ceritanya *nunjuk ke atas*.

.

4. Yewook30 :

ceritanya terlalu menyiksa dan sadis huhu kasian wookie

Terlalu menyiksa dan sadis kah? Chapter sebelumnya belum seberapa lho chingu, di chapter ini lebih sadis *evil smirk*.

.

5. Ira Julian :

WOOOKIE .

ya ampun adikku~ *peluk wukie*

huhuhu noona sedih liat wukie kayak gini *plak*

wukie : stop gaje2an.a mending noona review aja sono!

pertm2 saya mau ngucapin "salam kenal ^o^"

crita.a menarik, krna jrng2 kan wukie bgini XDD

wukie masochist ya? saya teringat sepupu saya :(

ah, saya ga tau mo review apa lg

wookie mau review apa dek?

wookie: cm mau blng "Lanjutkan!"

pak esbeye: lagi2 kata2 gw di copas -.-

keren kok :D

update soon ya!

Salam kenal juga, chingu. Gomawo karena bilang ceritanya menarik, jarang-jarang kan ngeliat Wookie begini? Hehe. Iya, Wookie seorang masochist disini. Nih sudah di update!

.

6. valentina14 :

Akhirnya setelah berbagai macam paksaan dan penderitaan yang saya rasakan *halah, dapet jg gue story ini khekhekhe

Nih nih udah review kan? Wkwkw gak tulus amet yak-_- tenang tenang, hum.

...kasian. Ryeowook-nya kasiaan! Salah apakah dia sampe digituin? Eh, ini fic yang kata lo mau di-masochist-in ya? -_-

Chap depan banyakin angst ya~bikin Ryeowook menderita! *lah /geplak/ perasaan td dikasianin, sekarang disuruh menderita

Karena tidak tau mau ngomong apa, update! Yoo

dari temanmu yang sangat super duper baik dan rajin menabung~ HEHE

Argh, kau akhirnya datang juga -_-". Setelah dipaksa, akhirnya nyerah juga untuk ngasih tau link cerita ini, gara-gara bocah satu ini *nunjuk valentina14*. Sesuai permintaanmu, chapter kali ini dibuat lebih menderita *smirk*.

.

7. AliyyaNHS :

(y) yea sadis

Sadis ya? Gomawo sudah me-review cerita ini ^^

.

8. CacaAND :

Kasiaann ryeowook nyaa.. Malangnya nasib nya.. Sabar aja-_-V

Huhu, iya, kasian Ryeowook nya T_T.

.

9. Akira Mayumi :

Arr keren~

Eh ini wookie sadis bener maen sayat-sayatan xD

Yg mau di adopsi wookie kan?

Tp takut disiksa haha #sotoy

Update soon pls :D

Keren? Aiih, biasa saja kok :). Sekali-sekali bolehlah Wookie sadis, selama ini kan image nya sosok yang polos, makanya kubuat dia sadis. Tebakanmu benar, Wookie yang diadopsi, ortu angkatnya baik kok ^^. Sudah di update.

.

10. Luphie KieKha :

Masa wookie d'bkin sngat mndrita sihh?Author'y trlalu kejam.. #Duagh *dilempar lemari sama author*

D'part ne yesung'y blom mncul iia..Apa dy baru mncul d'part dpan?

Hehe, aku terlalu kejam ya? Kkk~ *nyengir tanpa dosa*. Kalau soal Yesung, itu masih misterius :p.

.

11. filippai :

Annyeong chingu^^

Pai imnida, bangapseumnida :D

huee chinguuuu ini sedih banget deh demi! Aish kenapa pada jahat sama wuki hyung ku ;A;

Pliiiiss lanjut chingu plisss Pai penasaran sama kelanjutannya! Happy Ending kan chingu? Huee nangis nih ;A; /plakk

Hehe next chap ditunggu loh chingu :)

Hwaiting!^w^/

Annyeong, salam kenal juga :D. Sedih banget yak? disini Wookie sengaja kubuat menderita, kan ga seru kalau dia ga menderita #plak. Cup cup, ntar happy ending, jadi jangan nangis dong. Sudah di update ^^.

.

*ngeliat review*

Banyak yang bilang aku author yang kejam, hiks T_T. Sedih aku! *meluk Wookie*

Bu the way, author minta pendapat kalian nih. Menurut kalian nanti Yesung jadi kakaknya Ryeowook atau teman kakaknya Ryeowook?. Kalau jadi teman kakaknya, berarti yang jadi kakak Ryeowook itu orang lain!. Tolong di vote ya!.

Mind to review?