Shikamaru juga Temari tersentak kaget saat didapatinya kekasih tersayang Shikamaru tengah menatapnya tanpa emosi dan dengan baju yang basah kuyup.

'Aku kecewa Shika,' batin Ino lalu berlari menerobos rintik-rintik hujan. Air mata kekecewaannya pun perlahan menetes di pipinya, yang kini bercampur dengan butir-butir air hujan.

'Sejak kapan dia ada di sini?' batin Shikamaru tak percaya. Karena setahunya, Ino sudah pulang saat bel berbunyi tadi, sebab gadis beriris aquamarine itu bukanlah anggota OSIS.

"Ino!" teriaknya, kemudian mengejar Ino dan menerobos rintik-rintik hujan.

"Shika, sudah biarkanlah saja!" cegah Temari seraya menggenggam lengan pemuda nanas itu.

"Cukup Temari, ini sudah keterlaluan. Ino yang jadi korban! Maaf, aku tak bisa menolongmu lagi," kata Shikamaru tegas kemudian kembali meneruskan langkahnya mengejar Ino.

.

.

.

Summary :

Cinta, pacaran, perselingkuhan. Tiga kata ini memang sangat berkaitan dan tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana Jadinya jika Shikamaru dan Ino yang baru saja berpacaran, mengalami cobaan yang berat. Dimana sang kekasih, Shikamaru harus menolong orang lain tanpa sepengetahuan Ino. Yang membuat Ino sakit hati dan salah paham.

Lalu, siapakah yang ditolong Shikamaru?

Apakah Ino mau mengerti?

Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

.

Friendship In Love

.

Chapter 2 : A Lie

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, Typo's, other. Don't Like Don't Read!

.

.

BRAAAKKK

Gadis beriris biru aquamarine itu membantingkan kasar tubuhnya ke atas kasur. Ia tak peduli bahwa tubuhnya saat ini basah kuyup. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu. Kekasihnya; Shikamaru.

Matanya terpejam rapat-rapat. Membiarkan sensasi dingin terus menusuk susunan urat sarafnya. Untung saja Kaasannya tiba-tiba saja pergi—menurut pesan yang diterimanya beberapa menit sebelum ia tiba di rumahnya.

"Hiks…" isaknya di tengah guyuran hujan yang deras menimpa Konoha hari ini. Cuaca akhir-akhir ini memang sedang tidak bersahabat.

Drrrt… drrrt…

Ponselnya berbunyi. Terlihat satu pesan masuk di layar ponsel tersebut. Dari Shikamaru.

.

From : Shika-kun

Ino, maafkan aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Temari-senpai. Tolong maafkan aku…

.

Gadis itu tidak peduli dengan isi pesan dari kekasihnya. Dengan kasar ia membantingkan ponselnya ke atas meja belajar.

Drrrt… drrrt…

Lima pesan lagi datang berturut-turut. Pesan yang sama dengan yang sebelumnya.

"Aku benci kau, Shika!" teriak Ino frustasi seraya mematikan ponselnya. Ia pun kembali memejamkan matanya rapat-rapat. "Bodoh…"

.

.

.

"Shika, ma-maafkan aku…" isak Temari dengan wajah yang ditutupi kedua tangannya. Ia mengikuti Shikamaru mengejar Ino menembus rintik hujan. Dan saat mereka keluar dari gerbang, ternyata Ino sudah menghilang.

"Merepotkan," Shikamaru membalikkan badannya, dan mendapati Temari sedang terisak. Ia kemudian mendekat lalu memegang kedua telapak tangannya yang pucat. "Temari, sudah jangan menangis. Ini bukan salahmu. Tapi tolong, hargai kekasihku…"

Temari mendongakkan kepalanya. Air matanya tidak terlihat karena sudah bercampur dengan air hujan. "Arigatou sudah membantuku. Aku ingin segera mengakhiri ini, tapi sepertinya sulit…"

"Pikirkan cara yang terbaik untuk kita berdua. Sekarang pulanglah. Aku lelah…"

"Ha'i…"

Mereka pun kemudian meninggalkan area sekolah yang sudah sepi itu. Temari pulang dengan jemputannya yang sduah menunggu sedari tadi. Sedangkan Shikamaru memilih untuk berjalan kaki meskipun hujan masih dengan deras mengguyur Konoha siang itu.

** F.I.L **

"Sakura, Ino mana?" sahut Shikamaru dari arah pintu kelas gadis bersurai pink itu.

"Ada apa lagi?"

"Aku ingin berbicara padanya."

Sakura terkekeh geli. "Tapi sayang sekali Tuan Shikamaru, Ino-chan sekarang tidak masuk. Dia sakit."

Shikamaru tersentak kaget. Sakit?

"Kau serius? Dia sakit apa?"

Sakura mengedikkan bahunya pelan. "Setahuku sih begitu. Katanya demam," jawabnya cuek.

Dan tanpa mengucapkan terima kasih apalagi permisi, Shikamaru pun segera berjalan menuju kelasnya yang berada dua kelas di depan kelas Ino.

"Kau kenapa?" tanya Kiba, siswa kelas XI IPA 2 saat Shikamaru melewati kelasnya dengan wajah yang kusut. "Ada masalah dengan kelas IPA 3?"

Pemuda berambut nanas itu tersenyum miris. "Tidak." Ia pun kembali melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan tatapan aneh dari teman-temannya.

Semenjak kejadian kemarin itu, Shikamaru menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia frustasi karena tidak bisa menghubungi Ino, dan ketika menghampiri kelasnya, gadis itu malah tidak masuk.

Ia tahu ia salah. Ia tidak seharusnya melakukan itu semua, apalagi tanpa sepengetahuan kekasihnya sendiri. Jelas jika Ino marah. Shikamaru memang pantas mendapatkannya.

Bel berbunyi, dan dua mata pelajaran pun berlalu di kelas Shikamaru. Namun, tidak ada satupun dari keduanya yang masuk ke otaknya. Dan ketika ia berusaha untuk tertidur, tetap tidak bisa. Kedua kelopak matanya sangat sulit untuk dikatupkan. Alhasil, ia melewatinya hanya dengan melamun melihat keluar jendela.

** F.I.L **

Keesokan harinya, pemuda beriris onyx itu kembali mendatangi kelas Ino. Kali ini, gadisnya itu bukan tidak ada karena sakit, tapi karena sedang berada di perpustakaan.

Berkali-kali Shikamaru mencoba menghubungi ponsel Ino, tapi masih tetap tidak aktif. Ketika dicobanya menghampiri kelasnya pun, gadis itu selalu tidak ada. Kesimpulannya: Ino berusaha menghindar dari Shikamaru.

Bukan tidak tahu pemuda itu jika gadisnya menghindar, tapi ia pun tetap tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan kembali hati Ino. Ini salah paham, dan ia harus segera menjelaskannya.

.

.

Bel tanda pulang berbunyi, siswa dan siswi sma favorit itu berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Ino yang nampak terburu-buru membereskan peralatan sekolahnya.

"Sakura-chan, aku duluan ya!" kata Ino kemudian berjalan keluar kelas seraya melambaikan tangannya pada Sakura.

"Hati-hati, ya!" Hanya kalimat itulah yang dapat diucapkannya. Menurutnya, tingkah Ino semakin aneh dari hari ke hari pasca ditemuinya Shikamaru yang sedang berduaan dengan senpainya, Temari.

"Sakura-chan, kau yakin Ino-chan baik-baik saja?" kata Naruto sambil menyenderkan dagunya di meja Sakura—menunggu gadis pink itu selesai membereskan peralatan sekolahnya.

"Entahlah. Eh, Naruto-kun, sejak kapan kau ada di sini?" kata Sakura kaget sekaligus heran.

Pemuda berambut jabrik pirang itu menghela napas berat. "Sejak tadi. Sepertinya kau terlalu serius, Sakura-chan, sehingga tidak menyadari kehadiranku," cibirnya.

"Aa, gomenasai. Ayo pulang, hari ini tidak ada kegiatan OSIS."

"Ha'i."

Mereka pun berjalan keluar kelas dan pulang bersama lagi karena memang rumah mereka searah. Dan ketika akan keluar dari kelas, tiba-tiba saja Shikamaru datang dengan wajah yang lebih kusut dari kemarin.

"Hei Shika, kau kenapa?" kata Naruto sedikit terkekeh melihat penampilan Shikamaru yang sudah seperti orang depresi saja.

"Ck, Ino sudah pulang?" katanya dengan nada yang datar dan terlihat kosong.

Sakura mengangguk sambil sedikit tersenyum prihatin. Seberapa besar sih pengaruh Ino sehingga pemuda terjenius di sekolah ini menjadi berkepribadian yang bertolak belakang dengannya yang dulu?

"Nah Shika, kami pulang dulu ya! Sudahlah, sepertinya kau butuh banyak istirahat," ucap Naruto sambil sedikit terkekeh kemudian menggandeng tangan Sakura dan membawanya menjauh dari hadapan Shikamaru.

"E-eh… Naruto, lepaskan!" protes Sakura dengan semburat merah tipis menghiasi wajahnya. Kemudian ia pun melambaikan tangannya pada Shikamaru yang berdiri mematung. "Jaa~ Shika! Kami duluan, ya!"

Tak ada sahutan apapun dari pemuda nanas itu. Pandangannya begitu dingin. Dan tanpa diperintahkan, Shikamaru pun segera melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kelas dua belas, tepatnya kelas XII IPS 1—kelasnya Temari.

** F.I.L **

Ino yang tadi terburu-buru untuk pulang itu kini sedang duduk di pinggir danau perbatasan kota Konoha dengan Oto. Ia hanya berdiam diri menikmati angin musim semi sambil menyender pada batang pohon di belakangnya.

Gadis itu tak akan mengelak jika ia dituduh menghindar, karena memang benar adanya seperti itu. Ia masih belum menerima kejadian waktu itu. Ia butuh waktu untuk sendiri, dan danau inilah tempat pelampiasan perasaannya.

"Shika bodoh…" rutuk Ino seraya melemparkan batu ke arah danau yang tenang itu dan menimbulkan suara gemericik dan gelombang air yang begitu teratur.

"Kau pembohong! Aku benci kau, Shika!" lanjutnya setengah berteriak. Air mata perlahan mengalir dari pelupuk aquamarine-nya yang redup.

Tak beda dengan Shikamaru, Ino pun merasakan sakit hati. Dan jelas sekali bahwa Inolah yang paling tersakiti di sini. Ia merasa telah dikhianati. Tidak. Bahkan lebih dari kata dikhianati.

Dengan air mata yang masih mengalir, Ino memejamkan keduanya matanya. Membiarkan angin menyentuh seluruh permukaan kulit lembutnya, berharap semua masalah yang menimpanya akan segera berakhir.

"Ino…"

Sayup-sayup didengarnya suara baritone yang begitu familiar di telinganya. Meskipun sempat terperangah sesaat, tetapi Ino sama sekali tidak berniat untuk membuka kedua kelopak matanya. Ia masih tetap pada posisinya yang semula.

"Ino…"

Tidak. Suara ini lebih halus, seperti suara seorang gadis. Dan Ino tidak terlalu begitu hafal siapa pemilik suara bening itu.

Merasa ada yang mengusik ketenangannya, Ino pun membuka kedua kelopak matanya. Untuk yang kedua kalinya ia sempat terperangah, tapi sedetik kemudian ia kembali memasang wajah datarnya setelah menghapus sisa air mata di pipinya.

Ya, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang lain. Apalagi di depan orang yang telah membuat hatinya sakit.

"Hm?" gumam Ino sambil sedikti menaikkan alisnya heran kala melihat sepasang manusia yang beberapa waktu lalu baru saja dipergokinya, kini tengah berdiri di depannya.

"Kami ingin bicara padamu," kata Temari lalu berjongkok di depan gadis pirang itu. "Kau salah paham."

"Ah, tidak penting," potong Ino cepat seraya menyunggingkan senyum terbaiknya, yang malah kelihatan seperti senyuman mengejek.

Shikamaru menghela napas sejenak, ia pun kemudian duduk di samping Ino. Sifat keras kepala dan kekanakkannya Ino pasti muncul lagi. Dan itu sungguh merepotkan baginya.

"Ino—"

"—ah, tidak perlu dijelaskan, Senpai. Aku mengerti, sepertinya Shikamaru-kun memang pantas dengan Senpai," sahut Ino, lagi-lagi memotong perkataan Temari.

Gadis berkuncir empat itu menyabarkan hatinya, kemudian dilanjutkannya perkataan yang tadi sempat terpotong itu.

"Aku minta maaf—"

"—Senpai tidak salah."

"Ino!" geram Shikamaru. Ini keterlaluan, apakah Ino tidak serius dengannya? Sehingga ia menolak mendengarkan penjelasan dari Temari.

"Bisakah Temari bicara sampai selesai?"

Ino tersenyum sinis, "Jadi Shika-kun sudah memutuskan, ya?"

"DENGARKAN DULU!" teriak Shikamaru pada akhirnya. Kedua gadis di depannya sontak langsung diam. Terlebih lagi Ino, sudah lama ia tidak melihat Shikamaru semarah ini. "Merepotkan. Lanjutkan Temari!"

"Baiklah Ino, dengarkan aku. Shikamaru dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman."

"Lalu? Apa peduliku?"

"INO!"

"Baiklah, baiklah. Akan kudengarkan penjelasan Senpai."

Temari menghela napas berat, ternyata untuk berbicara pada Ino susah sekali. Gadis Yamanaka ini ternyata sangat keras kepala.

.

Flashback

.

Angin bertiup kencang, menerbangkan partikel-partikel debu pasir yang menyusuri setiap sudut kota Suna. Musim panas kali ini benar-benar membuat sebagian orang kewalahan membersihkan rumah mereka yang selalu kotor.

"Hah! Baachan ingin membuatku gila! Mana mungkin aku menikah di usia dini? Apalagi dengan orang yang tidak kukenal," gerutu Temari kesal. Ralat, sangat kesal.

Kankurou tertawa pelan, "Memang sudah nasibmu seperti itu, Temari. Terima saja, Baachan sepertinya berharap banyak padamu."

Gadis pirang berkuncir empat itu mendelik tajam pada Kankurou—adiknya. Ia kemudian menggelembungkan pipinya kesal.

"Haha… kau lucu sekali."

BRUK

Satu lemparan bantal berhasil membuat pemuda bertato itu terjungkal dari kursi yang didudukinya.

"Kankurou… KELUAR DARI KAMARKU!" teriak Temari sambil melemparkan bantal-bantal lainnya yang sekiranya dapat mengenai makhluk menyebalkan di hadapannya itu. "Kau tidak membuatku lebih baik!"

Dengan keadaan masih tertawa dan sedikit ringisan, Kankurou pun keluar dari kamar Temari, dan menyisakan aura gelap dalam kamar itu.

Setelah adiknya keluar, Temari pun membaringkan tubuhnya untuk sejenak mengistirahatkan kepalanya yang begitu terasa berat.

"Aku harus mencari cara agar pertunanganku dengan laki-laki sialan itu dibatalkan," gumamnya seraya memeluk boneka panda besarnya. "Aku harus mencari seseorang yang bisa diandalkan untuk berpura-pura."

Hening.

"TAPI SIAPA?" teriaknya lagi. Kali ini sepertinya ia benar-benar frustasi. "Tidak anak lelaki yang begitu akrab denganku…"

"Ah, bagaimana dengan Shika-kun?" gumamnya kemudian meraih ponselnya yang tergeletak bebas di atas meja belajar. "Tapi kan… ah, mana mau dia," lirihnya.

"Tapi tidak terlalu buruk, mungkin…"

Setelah beradu argumen dengan dirinya sendiri, akhirnya Temari pun memutuskan untuk meminta bantuan saja. Setidaknya, ia telah berusaha.

"Halo?"

"Emm, Shikamaru? Apa kau sedang sibuk?" kata Temari sedikit ragu.

Orang yang di seberang telepon—Shikamaru—menguap lebar, "Hoammm… aku sedang tidur. Ck, merepotkan. Ada apa?"

Menghela napsa sejenak, Temari kembali menimang keputusannya. Setelah mantap, ia pun kembali pada percakapannya dengan Shikamaru. "Ano… bolehkah aku minta tolong?"

"Hm?"

"A-anu… Shika, maukah kau jadi—err… kekasih pura-puraku? Aku mohon…"

Hening beberapa saat.

"Kenapa aku? Terus, memangnya ada apa?"

"A-aku akan dijodohkan, tapi aku tidak mau. Aku janji Shika, jika nanti aku sudah mendapat pasangan yang cocok untukku, aku tidak akan merepotkanmu lagi," kata Temari memohon. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Merepotkan."

"Bagaimana Shika? Aku jamin Ino tidak akan tahu. Ini rahasia."

"Hm?" Shikamaru mulai berpikir tentang resikonya dan bagaimana akibatnya pula pada Temari nantinya.

"Kumohon…"

Pemuda berambut nanas itu tidak tega mendengar suara Temari yang terdengar begitu putus asa. Bagaimanapun, ia tidak sanggup jika harus menyakiti seorang perempuan.

"Baiklah. Tapi janji, jangan terlalu lama."

"Benarkah?"

"Hn."

"Arigatou, Shikamaru-kun. Sampai jumpa dan maaf mengganggu," kata gadis berkuncir empat itu dengan mata yang berbinar.

Dengan gerakan secepat angin, Temari pun segera melesat menuju ruang keluarga, tempat keluarganya saat ini sedang berkumpul.

"Halo Temari, sepertinya kau berubah pikiran, hm?" ledek Kankurou saat melihat Temari menghampiri mereka dengan raut wajah yang begitu ceria.

Gadis pirang itu tidak menghiraukan celetukan Kankurou, ia malah melewatinya kemudian duduk di sebelah nenek Chiyo—orang yang telah mengasuh Temari dan kedua adiknya setelah kepergian orangtua mereka beberapa tahun silam.

"Ada apa, Temari?"

"Baachan, pokoknya aku tidak mau dijodohkan!"

Nenek Chiyo menghela napas berat, "Adakah alasan untuk itu?"

Gadis itu menyeringai penuh kemenangan. "Aku sudah mempunyai kekasih, Baachan. Aku tidak mungkin mengkhianatinya. Tadi kan sudah kubilang, aku akan membicarakannya dengan kekasihku!"

Kankurou sedikit tersedak ketika mendengar penuturan kakaknya itu. "Kau? Lelaki mana yang mau dengan gadis kasar sepertimu?"

"Diam kau!"

"Apa kau yakin dia orang baik-baik?"

Temari tersenyum lega, "Tentu saja. Dia adik kelasku di sekolah."

"Adik kelas?" Gaara—anak bungsu keluarga Sabaku—ikut menyela pembicaraan membosankan kakak perempuannya itu.

"Kau yakin?" Nenek Chiyo membelai dengan lembut surai pirang Temari. Seulas senyum tipis terlihat di bibir tuanya. "Baiklah. Kalau ada waktu luang, perkenalkanlah padaku."

"Ha'i. Arigatou, Baachan!" seru Temari girang kemudian mengecup singkat pipi neneknya itu. "Aku ke kamar dulu. Jaa!"

"Aku tidak percaya," ujar Kankurou pelan sambil melihat kepergian Temari menuju kamarnya di lantai dua.

"Hn. Aku juga. Tapi masa bodo dia mau pacaran atau tidak," timpal Gaara yang masih terfokus pada majalah di tangannya.

"Sudah," Nenek Chiyo menengahi. "Biarkan saja dia melakukan apapun sesuka hatinya."

.

End of flashback

.

"Dan tanpa sepengetahuanku?" cibir Ino seraya menyipitkan kedua matanya tak suka.

Lagi. Pemuda bermata onyx itu untuk kesekian kalinya menghela napas berat. Di senderkannya punggungnya yang terasa berat itu pada batang pohon di belakangnya—batang pohon yang sama dengan Ino.

"Jadi, kau mengerti kan, Ino-chan? Aku bukannya tak mau meminta persetujuanmu. Hanya saja…"

"Tapi tetap caramu salah, Senpai," potong Ino dengan nada yang datar. Sepertinya, emosinya yang tadi sempat tak terbendung itu kini bisa ia kendalikan kembali.

"Aku tahu aku salah. Sekarang, bagaimana jika kita bekerja sama?" kata Shikamaru dengan mata yang terpejam merasakan desiran angin yang membelai kulitnya.

"Untuk?"

"Untuk menyembunyikan statusku dengan Shikamaru yang sebenarnya. Juga untuk menjaga hubungan kalian, dan…"

"… dan apa?"

"Mencarikanku seorang pemuda yang benar-benar kucintai."

Ino meringis pelan. Sebegitu buruknyakah kisah cinta senpainya ini?

"Hm, baiklah."

Shikamaru menghela napas lega. Akhirnya, hubungannya dengan Ino kembali seperti semula. Meskipun ia tahu, kalau nantinya masalah ini akan semakin rumit. Sangat rumit.

"Arigatou," ucap Temari kemudia memeluk badan Ino dengan sangat erat.

"Douita, Senpai…"

SRAKK

Angin kembali berdesau. Burung-burung nampak beterbangan di langit yang mulai beranjak senja. Waktu memang berlalu begitu cepat, membuat mereka tak menyadari bahwa mereka sudah lama berada di sini. Di pinggir danau yang sangat bersejarah bagi perjalanan Shikamaru dan Ino.

.

To Be Continued

.

Author's Note

#DUAAARRRRRR

Ada yang ingaaaaaaaaaaaaat? Engga? Yasudah. #pundung

Awawawawaw, udah hampir dua tahun aku engga update fic ini XD /dirajam bukannya gamau, sebenernya sih ficnya udah ada dulu, tapi kehapus karena kompinya diformat gegara banyak virusnya =w=

Dan, sekarang baru sempet ngetik lagi di lappie. Lanjutin endingnya yang dulu diketik ulang di kompie. Heeuu, itulah yang bikin aku males buat update. Dan sekarang, tadaaaaaaaa gaje cukaleee endingnya -_- /gigitbesi

Ada yang inget juga engga sama sayaaanya? Ini loh, aku ganti penname untuk yang—err… keempat kalinya. Kemarin sempet pake penname Ai Kireina Maharanii, tapi karena ada sesuatu, jadi ganti. Padahal itu nama bagus kaaan? /pedebanget

Huahaahaa… udah ah. Gomen ne kalo banyak typo, miss typo, de el el. Ini sungguh, bener-bener cerita yang dulu. Aku cuman edit doangs. Jadi wajar aja kalo engga nyambung *banget*

Dan last word, ada yang berkenan ngasih kritik dan sarannya? 8D

Oh ya, jangan lupa ya doakan aku juga supaya lulus dengan nilai yang memuaskan /dor terus diterima di SMA favorit, daaaaan bisa update dengan secepatnyaaaa xDD /ngek

.

.

.

Bersedia ngasih review lagiiiii? xP

.

A lot of thanks for :

NaRa 'UzWa, L-The-Mysterious, Minami22, edogawafirli, Zoul Devilsmirk, Kitsune Diaz isHizuka, Kataokafidy, Merai Alixya Kudo, Lizzkaru, Uchiha Sakura97, Amaryllisht, Masahiro 'Night' Seiran, Leory A2, Yamanaka Yana Nara Bieber, and Chika Chichi

.

Maaf yang kemarin review engga bisa dibalesin. Ini juga mepeeet banget. Maaf maaf maaf. Tapi bener loh aku baca semuanya daaaaa –v

Bye bye bye~

.

.

.

crystalssj