NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

First Boyfriend

By : Setshuko Mizuka

Rate : T mungkin

Genre : Drama, Romance

Pairing : SasuHina (first fanfic SasuHina)

Inspirated from "First Boyfriend" volume 4 © Miyoshi Tomori

Warning : Little Conflict and Just for entertain. Hope you like it, all.

Summary : Kisah perjalanan cinta antara Sasuke dan Hinata yang sudah dipertemukan sejak kecil. Namun ketika Sasuke berumur tujuh tahun, ia harus ditinggalkan Hinata yang pergi ke Perancis. Bisakah keduanya bertemu lagi? RnR (ya)!

# First Meeting #

Jepang, 27 Desember 1997

Tokyo Hospital merupakan sebuah rumah sakit bertaraf Internasional (Author #plak!) ini selalu ramai pasien maupun pengunjung. Banyak dokter-dokter ternama dan berbakat bekerja di Tokyo Hospital. Kita ambil contoh saja Kabuto-sensai. Begitulah orang-orang biasa memanggil dokter muda berkacamata bulat itu. Ia sudah berulang kali melakukan pembedahan organ dalam dan pembedahan lainnya. Tidak jarang lelaki itu mendapat beberapa penghargaan atas kerja kerasnya menolong para pasien dari Tokyo Hospital.

Baiklah, kita lupakan soal Kabuto dengan penghargaannya (Kabuto: Author sialan!).

"Bertahanlah Hikaru. Kau pasti bisa."

"Ugh, huft. Aaargh!"

"Bertahanlah Hikaru."

Seorang lelaki paruh baya yang diketahui bernama Hiashi Hyuuga tampak cemas melihat istrinya –Hikaru– tengah berusaha melahirkan anak keduanya. Ia terus menggenggam tangan sang istri, mencoba menyalurkan kekuatannya untuk wanita itu. Dokter yang menangani persalinan juga tampak berkeringat dingin. Beberapa suster ikut membantu sang dokter. Tak lama kemudian, sebuah suara tangisan bayi terdengar.

"OEEE! OEEE!"

"Yokatta," gumam seluruh orang yang ada di sana.

Hikaru tersenyum lemah melihat buah hatinya yang masih berlumur darah itu tengah menangis. Itu berarti anaknya normal. Mata Hikaru yang berwarna amethyst tampak hidup, ia pun menengok pada sang suami. "Anata..."

"Istirahatlah, Hikaru." Hiashi tersenyum simpul seraya mengecup kening Hikaru.

"Selamat, Hyuuga-san. Anak kedua Anda seorang perempuan," kata si Dokter.

Bayi mungil berambut indigo tersebut masih menangis saat ia digendong Hiashi. Sang Dokter tersenyum melihatnya. "Selamat, Nyonya," ujarnya pada Hikaru. Sementara Hikaru tampak tengah mengumpulkan kekuatannya sambil tersenyum lemah. "Terima kasih banyak, S-Sensai," kata Hikaru.

"Maaf, Tuan. Bisa kami bawa anak Anda sebentar," kata seorang suster yang tadi ikut dalam proses persalinan pada Hiashi.

"Silahkan."

Bayi mungil nan lucu itu berpindah tangan. Tangisannya yang sudah mereda kini terdengar kembali. Kelihatannya bayi itu belum mau lepas dari pelukan sang ayah. Suster yang menggendongnya terlihat kewalahan untuk menenangkannya. Hiashi menggeleng pelan melihat tingkah anak keduanya itu.

"Berhentilah menangis, Sayang."

Suara lembut Hikaru membuat anaknya berhenti menangis seketika.

Si pemilik suara tersenyum lagi.

Cklek. Suara pintu ruangan terbuka, terlihat seorang bocah laki-laki yang umurnya kira-kira masih satu tahunan. Wajahnya sembab, seperti habis menangis. Tanpa ancang-ancang, bocah itu berlari menghampiri Hiashi. Dengan senang hati, Hiashi menangkap lalu menggendongnya.

"Hueee! Tou-san jahat!" rengeknya sambil memeluk erat leher Hiashi.

"Tenanglah, Neji. Tou-san di sini." Hiashi mengusap kepala bocah tersebut.

Oh, rupanya bocah itu adalah anak pertama dari keluarga Hyuuga bernama Neji Hyuuga. Di umurnya yang masih berumur satu tahun lima bulan itu sudah menjadi seorang kakak.

"Neji," panggil Hikaru pelan.

Yang dipanggil menengok sambil mengusap air matanya.

"K-Kaa-san, Neji takut."

"Tenang, Kaa-san di sini. Nggak kemana-mana kok," ujar Hikaru mencoba menenangkan anak pertamanya itu. Selama persalinan memang Neji tidak ikut masuk ke dalam. Ia di luar bersama sahabatnya. Suster dan Dokter sudah sedari tadi keluar ruangan untuk memberikan waktu pada keluarga yang baru saja mendapatkan anak keduanya itu.

"Akhirnya, persalinannya berjalan lancar."

Hiashi dan Hikaru tersenyum karena kedatangan seorang wanita yang seumuran dengan Hikaru. Di gendongannya ada seorang bayi laki-laki tengah tertidur pulas. Ialah Mikoto Uchiha. Sahabat dekat Hikaru sejak kuliah. Wanita itu bejalan mendekati kasur Hikaru.

"Seharusnya kau tak membawa Sasuke ke sini, Mikoto," nasihat Hiashi.

"Hahaha, tak apa. Sasuke tak mau lepas dariku, makanya kubawa," ujar Mikoto sambil menyingkirkan sedikit rambut anaknya yang dinamai Sasuke Uchiha. "Bagaimana keadaanmu, Hika-chan?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat. Terlalu payah untuk duduk dan berdiri, Miko-chan."

"Beristirahatlah sejenak," ujar Mikoto.

Lagi, Hikaru hanya mengangguk lalu tersenyum simpul.

"Sasuke tidur ya, Baa-san?" tanya Neji kecil sambil menatap Sasuke kecil. Tampaknya Neji ingin melihat lebih dekat wajah Sasuke saat tertidur. Tanpa diberitahu pun Hiashi langsung mendekati Mikoto agar Neji kecilnya bisa melihat Sasuke. "Sasuke lucu." Begitulah komentar bocah berambut coklat pendek itu ketika melihat wajah Sasuke kecil.

Mata onyx Sasuke terbuka perlahan.

"Wah, Sasuke bangun!" seru Neji panik. Ia mengira karena dirinyalah yang sudah membangunkan bayi yang masih berumur empat bulanan itu.

"Tenanglah, Neji."

Mikoto tersenyum melihat tingkah Neji yang begitu menggemaskan.

Suara pintu terbuka membuat semuanya menoleh. Suster yang membawa adik Neji datang dengan sang adik di gendongannya. Hiashi menuruni Neji supaya ia bisa menggendong anak keduanya tersebut.

"Maaf menunggu lama," ujar si Suster seraya menyerahkan bayi mungil itu ke tangan sang ayah. Setelah mengucapkan 'terima kasih', sang Suster keluar ruangan untuk meneruskan pekerjaannya. Hiashi merapikan sedikit rambut indigo bayinya itu dengan penuh kasih sayang.

"Tou-san, Neji ingin melihat," pinta Neji kecil.

Hiashi berjongkok secara perlahan.

Neji kecil sangat antusias melihat wajah adiknya itu. "Lebih lucu dari Sasuke."

Semuanya tertawa mendengarnya. Neji kecil sangat pintar berkomentar persis seperti sang ibu, bagaimana saat ia dewasa ya?

"Siapa namanya?" tanya Mikoto.

"Kurasa Hikaru sudah memikirkan namanya." Hiashi masih berjongkok di samping kasur Hikaru karena Neji masih betah memperhatikan wajah adiknya. Sesekali tangan mungil Neji menyentuh pipinya yang memerah.

Hikaru yang masih belum tidur berucap. "Hinata. Bagaimana dengan nama itu, Anata?" tanyanya meminta persetujuan Hiashi.

"Nama yang bagus," setuju Hiashi seraya tersenyum simpul.

"Lihat, Sasuke. Kau punya teman baru lagi, namanya Hinata," ujar Mikoto pada Sasuke kecil yang sibuk memegang mata kirinya. Sepertinya kemasukan debu atau karena ia baru saja bangun tidur.

Mata onyx-nya menatap Hinata kecil yang masih memejamkan matanya. Sasuke kecil tak henti-hentinya memperhatikan Hinata yang tengah digendong Hiashi. Mikoto mendekati Hiashi begitu melihat tingkah Sasuke. "Sepertinya anakku tertarik dengan anakmu, Hiashi," ujar Mikoto geli.

Hiashi dan Hikaru ikut tersenyum geli melihatnya.

Tangan mungil Sasuke sedikit bergerak untuk mendekati Hinata kecil.

Namun perjuangannya terlihat sia-sia karena tangannya itu terlalu pendek untuk bisa meraih Hinata. Senyum ceria terlihat di wajah Sasuke kecil. Rona merah juga terlihat di kedua belah pipinya yang chubby.

Andai Sasuke bisa berbicara saat itu juga, mungkin ia akan mengucapkan "selamat datang, Hinata."

;; First Boyfriend ;;

Jepang, 23 Juli 2002

Hari ini tepat tanggal 23 Juli merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh bocah laki-laki berambut dark blue dengan model yang –ehem– seperti –ehem– chicken –ehem– butt (#Author digeplak karena kebanyakan berdehem). Pasalnya hari ini ia berulang tahun ke-lima tahun. Mansion bergaya Barat itu tampak ramai oleh beberapa orang yang menghadiri pesta ulang tahunnya.

Sebuah kue ulang tahun bertingkat tiga dengan lilin berangka lima tertancap di tengah-tengahnya. Sebuah kalimat mengitari kue tersebut. Happy birthday Sasuke Uchiha. Senyuman manis terlihat jelas di wajah tampannya.

"Selamat ulang tahun, Sasuke-kun," ujar sang Mama, Mikoto Uchiha.

Sasuke menengok lalu mengangguk cepat.

"Selamat ulang tahun, Anakku." Kini Fugaku Uchiha yang berucap.

"Terima kasih, Mama, Papa!" Sasuke memeluk keduanya dengan gembira. Untung saja saat itu kedua orang tuanya tengah berjongkok, jadi ia tak perlu susah payah untuk memeluk keduanya. Fugaku tersenyum kemudian mengelus pelan kepala si bungsu. Karena terlalu lelah berjinjit, Sasuke pun melepaskan pelukannya. Senyumnya masih terlihat di sana.

"Selamat ulang tahun, Otouto-ku sayang."

"Oniichan!"

Kini Sasuke berlari kecil menghampiri Itachi, sang kakak tercinta yang baru saja turun dari lantai dua. Di tangan Itachi terdapat sebuah kado dengan ukuran yang lumayan besar sampai harus memegangnya dengan dua tangan.

"A-apa itu?" heran Sasuke.

"Ini kado untukmu dari Oniichan." Itachi menyerahkan kado itu pada Sasuke.

"E-eh?"

Hampir saja Sasuke terjungkal ke belakang, kalau saja tak ada seseorang di belakangnya. Mata onyx-nya melirik dan tanpa aba-aba langsung berbalik. "Neji-nii!" serunya gembira begitu tahu kalau yang menahannya adalah Neji Hyuuga. Laki-laki berambut coklat sebahu itu sudah dianggap kakak kedua oleh Sasuke.

"Kau ini bagaimana sih, Itachi-nii! Jelas-jelas kadonya terlalu berat untuk Sasuke bawa sendiri," omelnya pada Itachi.

Itachi memasang wajah cemberut. "Salahkan kadonya yang terlalu keberatan."

"Tetap saja itu salahmu," ketus Neji.

"Huh, kau selalu menyalahkanku. Padahalkan aku yang jadi kakak Sasuke!"

"Tapi tetap saja-"

Sasuke menaruh kadonya di lantai perlahan lalu berdiri di tengah-tengah Neji dan Itachi yang masih ribut. "Sudahlah, Oniichan, Neji-nii. Bertengkar itu tidak baik," lerainya. Sasuke kecil hanya menghela napas saat melihat Neji dan Itachi memalingkan wajahnya satu sama lain. Seorang gadis kecil dengan dress ungu selutut yang berdiri di belakang Neji menarik perhatian si bungsu Uchiha.

"Hinata-chan? Kaukah itu?" tanya Sasuke sambil menghampiri.

Gadis itu tersenyum lebar lalu mengangguk dengan rona merah di pipinya.

"Sudah lama datang?"

"I-iya. Mm, ini u-untuk S-Sasuke-kun!" ujar Hinata kecil gugup bercampur malu. Kedua tangannya terulur untuk menyerahkan sebuah kado berbentuk kotak kecil dengan pita berwarna biru tua.

Sasuke menerima kado itu dengan gembira. "Arigatou, Hinata-chan!"

"Ehmm." Hinata mengangguk lagi.

"Apa ini darimu atau dengan Neji-nii?" tanya Sasuke penasaran.

Hinata kecil yang masih berumur empat tahunan itu memainkan jemarinya sambil menunduk. Rona merah tak pernah absen di wajahnya yang chubby. Kalau boleh Sasuke ingin sekali mencubit pipi gadis di depannya ini. Tapi diurungkan niatnya itu, mengingat sikap overprotective Neji pada Hinata.

"I-itu k-khusus dali (baca: dari) Hinata u-untuk Sasuke-kun," jawab Hinata.

Sasuke tersenyum sumringah. "Benarkah?"

Hinata mengangguk lagi.

"Kalau begitu, akan kujaga hadiah dari Hinata baik-baik!" seru Sasuke.

;; First Boyfriend ;;

Bandara Narita, 10 Oktober 2004

Keluarga Uchiha dan Hyuuga tengah berkumpul di depan pintu masuk penukaran tiket pesawat. Tinggal dua puluh menit lagi, pesawat Jepang-Perancis untuk take off. Pesawat yang membawa keluarga Hyuuga menuju Negara yang terkenal dengan suasana romantisnya itu. Entah untuk berapa lama mereka tinggal, mereka pun juga tak tahu. Jika bukan karena urusan pekerjaan yang Hiashi tanggung, mereka pasti tak akan pindah.

"Jaga diri kalian baik-baik ya," ujar Mikoto sambil terisak.

Hikaru ikut menangis. "Iya, jaga diri kalian juga ya."

Keduanya berpelukan untuk waktu yang lama. Sedangkan kedua suami mereka hanya saling menjabat tangan dan melempar senyum datar (?). Terlihat tiga laki-laki kecil dan seorang gadis kecil di samping keempat orang dewasa itu.

Si gadis menangis melihat ibunya menangis.

"Jangan menangis, Hinata-chan," ujar Neji, si kakak tercintanya.

"Hiks, Hinata pasti akan r-rindu dengan –hiks– semuanya yang a-ada di sini."

Laki-laki berambut hitam dan berumur tiga tahun lebih tua dari si gadis kecil itu menepuk pelan kepala si gadis. Senyum tulus terukir di wajahnya. "Kami juga pasti akan merindukanmu, Hinata-chan," ujar laki-laki itu yang ternyata bernama Itachi Uchiha. "Benarkan, Sasuke?"

Si adik hanya diam dan menunduk tak menjawab.

"Ne, Sasuke?"

"E-ehmm." Sasuke mengangguk tanpa sedikit pun mendongak.

Hinata kecil berjalan menghampiri Sasuke. "Hiks, Sasuke-kun?" panggilnya begitu sampai di hadapan bungsu Uchiha itu. Matanya masih setia mengeluarkan butiran-butiran air mata. "Sasuke-kun t-tidak –hiks– menangis kan?" tanya Hinata kecil yang masih berumur enam tahun.

"T-tidak! Aku t-tidak menangis!" seru Sasuke tiba-tiba.

Hinata kecil tersenyum tipis.

Sasuke mengedip-ngedipkan kelopak matanya agar air matanya tidak jatuh. "Aku kan laki-laki, mana mungkin menangis," ujarnya seraya menghapus air mata yang ada di sudut matanya dengan cepat. Senyum tipis ia berikan pada gadis kecil di depannya ini. "Hinata-chan, jangan nakal ya di sana. Jangan menangis terus," pesan Sasuke.

"Ehmm, Hinata akan jadi anak baik-baik di sana," janji Hinata.

"Janji?" Sasuke mengulurkan jari kelingkingnya.

"Janji!"

Keduanya pun tersenyum dan saling tatap untuk beberapa saat. Onyx bertemu dengan amethyst untuk terakhir kalinya karena akan butuh waktu lama bagi Sasuke maupun Hinata bisa melihat iris mata satu sama lain.

"Hinata-chan, ayo berangkat," ajak Neji begitu Hikaru menyuruhnya mendekat.

"Ehmm." Hinata tersenyum pada Sasuke. "Sampai ketemu lagi, Sasuke-kun."

Sasuke ikut tersenyum. "Sampai ketemu lagi, Hinata-chan."

Baru lima langkah Hinata berjalan bersama Neji, Sasuke menarik pergelangan si gadis berambut indigo itu. "Hinata-chan," panggilnya. Tanpa aba-aba, Sasuke kecil langsung memakaikan sebuah kalung hadiah dari sang ibu saat ia berulang tahun ketiga tahun yang ukuran talinya cukup panjang ke Hinata. Kalung perak dengan bandul berbentuk bintang kini sudah beralih ke leher Hinata.

"I-ini?"

"Jaga baik-baik kalung itu." Sasuke memalingkan wajahnya ke samping supaya Hinata tak bisa melihat wajahnya yang memerah.

"Akan H-Hinata jaga kalung ini u-untuk Sasuke-kun," janji Hinata.

"Aku juga akan menunggumu di sini," janji Sasuke sambil menatap lurus pada mata Hinata yang membuat wajah gadis itu memanas. "Berjanjilah untuk kembali ke Jepang dan menemuiku lagi, Hinata-chan."

"I-iya," janji Hinata.

To Be Continued (Dilanjutin nggak ya?)

LLOHA! (baca: hallo) Ini fanfic pertama Mizuka dengan pairing SasuHina jadi tolong dimaklumi ya kalau belum terasa suasana SasuHina-nya. Entah kenapa, Mizuka jadi menulis ini, rasanya tertantang aja nulisnya karena Mizuka sedikit tidak suka. Tapi melihat para senpai yang menulis pair SasuHina membuat Mizuka terinspirasi untuk membuatnya juga. Hehehe...

Untuk update-nya, Mizuka tunggu respon dari para pembaca juga para reviewers. Jika ada kritik, saran, maupun flame, bisa lewat Review...

Jaa Ne~!