NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
First Boyfriend
By : Setshuko Mizuka
Rate : T mungkin
Genre : Drama, Romance
Pairing : SasuHina (first fanfic SasuHina)
Inspirated from "First Boyfriend" © Miyoshi Tomori
Warning : Little Conflict and Just for entertain. Hope you like it, all.
Summary : Aku... rindu Kaa-san. / Beberapa hari ke depan, kita akan pindah ke Jepang. / Janji yang sampai kapanpun takkan pernah ditepati. / Kurasa benar kata gosip yang beredar baru-baru ini. / Chap 2 update, ttebayo!
# Go Home #
Perancis, 25 Agustus 2013
Tok, tok, tok!
"Hinata-chan, apa kau masih tidur?"
Seorang gadis berambut indigo panjang tengah bermalas-malasan di atas kasur berukuran queen size-nya. Mata amethyst itu terbuka perlahan. Matanya terlihat sembab dengan rona merah di kedua pipi chubby-nya.
"Hinata-chan?"
Si gadis menjawab sambil mengambil posisi duduk. "Baru bangun, Neji-nii."
"Boleh aku masuk?" tanya Neji Hyuuga, si sulung.
"Boleh, tidak kukunci kok," ujar bungsu Hyuuga. Pintu pun terbuka dan terlihat sosok Neji tengah membawa sebuah nampan berisikan seporsi sandwich yang ditaruh di atas piring dan segelas susu rasa vanilla kesukaan si adik. Hinata menghela napas melihatnya. "Neji-nii, sudah kubilang berkali-kali untuk tidak membawakan sarapan ke kamarku. Kenapa dibawakan terus sih?" Bukannya ia bermaksud untuk menolak perhatian si kakak tercinta, hanya saja ia tak mau direpotkan dan dimanja terus-terusan.
"Hm, tak apa. Aku suka melakukannya." Neji tersenyum.
Hinata menggembungkan pipinya.
"Sudahlah. Tak perlu dipermasalahkan lagi," ujar Neji sambil mengacak rambut Hinata lembut, setelah menaruh nampan ke atas kasur Hinata. "Kau terlihat sangat berantakan, kau tahu?" Ia memilih duduk di ujung kasur tepat di samping Hinata. Melihat si adik hanya menatap isi nampan membuat Neji menghel napas berat.
"Aku... rindu Kaa-san."
Neji termenung sebentar lalu menatap Hinata.
"Aku rindu Kaa-san yang selalu tersenyum saat aku bangun tidur."
"Jangan ungkit-ungkit itu lagi, Imouto," desah Neji sambil mengelus rambut Hinata. Oh tidak, jangan lagi... Air mata mengalir dari kelopak matanya. Neji hanya bisa memalingkan wajah kemudian menunduk. "Bukan kau saja yang terpukul dengan kenyataan, aku pun juga sama sepertimu," lirih Neji.
"Hiks, Neji-nii... m-maaf."
"Tak perlu meminta maaf, Hinata-chan." Neji tersenyum pahit.
Hinata menghapus air matanya dan ikut tersenyum, walau senyum paksa.
"Setelah sarapan, Tou-san ingin berbicara pada kita di ruang kerja."
Neji pun keluar dari kamar yang keseluruhan berwarna lavender itu. Sempat melirik ke belakang sebelum menutup pintu kamar. Hinata menatap nampan kemudian berjalan pelan ke kamar mandi untuk melaksanakan mandi pagi.
Setelah menyelesaikan mandi pagi dan sarapan di kamar, ia pun keluar dengan berbalut dress biru laut selutut tanpa lengan. Rambutnya yang panjang ia ikat dua seperti model rambut nenek Tsunade. Kaki beralaskan sandal slop putih terus menapak menuruni tangga menuju ruang kerja sang ayah yang berada di lantai satu tepat di sebelah ruang makan rangkap dapur. Sesaat gadis itu menangkap siluit seorang wanita paruh baya berambut sama sepertinya tengah tersenyum sambil memasak.
Hinata mengedipkan sekali matanya dan siluit itu pun menghilang.
"Hanya fatamorgana saja, Hinata," gumamnya.
Tok, tok, tok!
"Masuk," perintah sang ayah dari dalam ruangan. Hinata menurut dan membuka pintu perlahan. Neji sudah terlihat duduk di sofa panjang dengan Hiashi yang juga duduk di sofa yang hanya cukup satu orang untuk mendudukinya. Dari ambang pintu Hinata bisa mencium bau yang menguar dari buku-buku yang tertata rapi di tiap lemari buku. Dengan langkah kecil, ia menghampiri kedua pria itu lalu duduk di samping si kakak yang entah kenapa terus menunduk.
"Apa yang ingin dibicarakan, Tou-san?" tanya Hinata.
Hiashi menghela napas. "Beberapa hari ke depan, kita akan pindah ke Jepang."
Hinata mau pun Neji saling berpandangan kemudian menengok pada Hiashi. "K-kenapa mendadak begini, Tou-san?" tanya Hinata. Neji hanya mengernyit heran begitu mendengar ucapan Hiashi tadi. Ini terlalu mendadak untuk mereka yang beberapa minggu lalu terguncang akibat kepergian Hikaru Hyuuga, sang ibu tercinta untuk selamanya.
"Aku tak ingin melihat kalian semakin terpuruk di sini."
"T-tapi bagaimana dengan barang-barang Kaa-san?" tanya Neji.
"Semua barang Kaa-san akan Tou-san tinggalkan di sini," ujar Hiashi tegas.
"K-kenapa tidak dibawa juga?" Kini Hinata kembali bertanya.
Melihat Hiashi menggelengkan kepala membuat kedua remaja Hyuuga itu menunduk. Bahkan mata si bungsu sudah kembali berkaca-kaca. "Percuma saja kalau begitu, kalian tetap terpuruk di Jepang. Tou-san melakukannya untuk mengembalikan wajah ceria kalian yang hilang setelah Hikaru meninggal." Ya, Hiashi sangat merindukan wajah kedua anaknya yang selalu tersenyum ceria seperti dulu-dulu. Ia juga rela melakukan apa pun itu untuk mengembalikannya termasuk pulang ke kampung halaman, Jepang dan meninggalkan cabang perusahaannya di Perancis yang kini sudah sangat maju begitu ia ambil alih kepemimpinannya.
"Tapi Tou-san, bagaimana dengan perusahaan Tou-san?
"Tak perlu memikirkan soal itu, yang terpenting kita semua kembali ke Jepang."
Seberkas cahaya muncul dari kalung berbentuk bintang yang terus bertengger di leher Hinata sejak ia menginjakkan kaki di Negara Perancis. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu, saat teman sepermainannya memberikan kalung itu sebelum pergi.
Aku juga akan menunggumu di sini.
Kata-kata itu terus terngiang di benak Hinata hingga saat ini.
"Kalian mau kan, kembali ke Jepang?"
Neji berpikir sebentar. "Aku tak bisa menolak perintah, Tou-san."
"Bagaimana denganmu, Hinata?" tanya Hiashi.
"Asal Tou-san juga ikut, Hinata akan ikut." Hinata tersenyum sambil menghapus cepat genangan air di kedua sudut matanya. Gadis itu berusaha meyakinkan sang ayah juga dirinya kalau mungkin dengan kembali ke Jepang bisa membuat perasaannya jadi lebih baik.
"Tentu saja Tou-san ikut. Mulai hari ini, bersiap-siaplah."
Neji dan Hinata mengangguk.
;; First Boyfriend ;;
Bandara Internasional Perancis, 2 September 2013
"KYAAA! ITU AKATSUKI!"
"WAH, TAMPAN-TAMPAN!"
"MINTA FOTONYA DONG!"
Suara teriakan-teriakan merdu terdengar jelas di sekitar pintu masuk khusus bandara. Ada tujuh orang laki-laki tampan dan keren yang –ehem– cukup berumur berjalan masuk dengan penjagaan ketat dari kepolisian Perancis.
Akatsuki. Begitulah orang-orang menyebut mereka bertujuh. Vocal grup yang beranggotakan Yahiko sebagai Ketua, Nagato, Hidan, Kakuzu, Zetsu, Kisame dan Itachi ini merupakan vocal grup yang sangat terkenal di belahan benua Asia, Eropa, dan bahkan suara mereka pun sudah masuk ke pasar perindustrian musik di benua Amerika. Jarang-jarang ada vocal grup Asia yang bisa menembus pasar benua Amerika saking ketatnya persaingan. Namun Dewi Fortuna tengah berada di genggaman Akatsuki.
Baru saja Akatsuki menyelesaikan tour-nya keliling Eropa untuk mempromosikan album terbarunya yang berjudul Fly High dengan Perancis sebagai Negara terakhir tour mereka. Belum lagi ketujuh Akatsuki yang semuanya masih berstatus mahasiswa itu harus menghadiri jadwal manggung di sebuah stasiun TV swasta di Tokyo esok hari.
Itachi Uchiha atau biasa dipanggil 'Tua' oleh anggota Akatsuki lainnya (salahkan keriput diwajahnya yang membuatnya terlihat tua dibanding umurnya #plak!) tersebut tengah sibuk mengotak-atik ponselnya sambil menarik koper.
"Cepat, Tua! Jangan terlalu lambat berjalan!" protes Hidan yang ada di belakang Itachi.
"Ck, dasar penganut ajaran sesat!" umpatnya.
Itachi membiarkan Hidan berjalan duluan.
Konan –manajer Akatsuki– hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka berdua dan anggota lainnya yang tampak terlihat tengah ribut-ribut kecil di sepanjang perjalanan masuk pintu khusus. Bolehlah mereka kelihatan akur dan kompak di atas panggung, tapi tidak jika di belakang panggung.
"Oi, Konan! Tiketnya ada di tanganmu, bukan?"
"Ya!" seru Konan menanggapi Yahiko yang sudah melewati pintu penukaran.
"Ayo, Itachi! Jangan melamun!"
Melihat anggota termuda di Akatsuki itu tidak bergeming sama sekali dari tempatnya semula, membuat Konan menghampirinya. "Hei, Itachi. Apa yang kau lihat? Sebentar lagi pesawat akan take off," ujar Konan sambil menarik lengan Itachi secara paksa.
"E-eh? Maaf."
Mata onyx Itachi terus menatap pintu masuk nomor 5 sambil melangkahkan kaki.
Apa mungkin itu dia ya? tanya Itachi dalam hati.
;; First Boyfriend ;;
Tokyo, Jepang
"Oi, Teme! Kudengar kakakmu akan kembali ke Jepang setelah tour-nya keliling Eropa. Kenapa kau tak menjemputnya?" tanya laki-laki berambut blonde jabrik dan berkulit tan. Mata sapphire-nya melirik ke samping sambil mengendurkan dasi merah yang sedikit mencekik lehernya. Laki-laki yang masih keturunan bule itu bernama lengkap Naruto Namikaze, si bungsu dari keluarga pemilik Namikaze Corp. Saat ini ia bersama dua sahabatnya tengah menghabiskan waktu istirahat di tempat langganan mereka yaitu atap sekolah Tohka Gakuen.
"Oi, aku sedang bicara denganmu, Teme," gerutu Naruto.
"Hn."
"Lagi-lagi hanya konsonan dua huruf itu yang keluar."
"Naruto-kun, kau bawa bento apa hari ini?" tanya seorang gadis berambut pink cerah yang duduk di tengah-tengah kedua pemuda tampan dan terkenal di sekolahnya. Bukan hanya mereka saja yang terkenal namun ia pun juga sangat terkenal di kalangan siswa-siswi Tohka Gakuen. Gadis bernama lengkap Sakura Haruno sudah menjadi sahabat mereka sejak JHS. Sakura juga merupakan anak tunggal dari pemilik Tokyo Hospital.
"Seperti biasa; hanya dadar gulung, tumis jamur, selada dan nasi."
"Kalau kau, Sasuke-kun?"
"Hn."
Mendengar jawaban dari laki-laki yang dipanggilnya 'Sasuke-kun' itu membuat dahi –ehem– lebar (dihajar Sakura FC) Sakura berkedut. "Tak bisakah kau mengganti trademark-mu itu dengan kata lainnya seperti ya atau tidak, Sasuke Uchiha?"
Laki-laki bermata onyx dan sahabat Sakura juga Naruto tersebut hanya melirik sebentar lalu kembali ke dunianya sendiri. Di tangan kirinya ada MP3 Player berwarna putih yang terhubung langsung dengan headset berwarna sama di kedua telinganya. Headset putih itu selalu tersemat di telinga bungsu keluarga Uchiha yang bernama lengkap Sasuke Uchiha. Jika saat jam pelajaran berlangsung, ia hanya mengalungkannya di leher tanpa sedikit pun keinginan untuk memasukannya ke dalam tas.
"Kau mau bento-ku?" tawar Sakura.
"Tidak."
Sakura menggembungkan pipinya. "Padahal aku sudah membuat banyak."
"Kalau begitu buatku saja!" seru Naruto sambil nyengir lebar. Belum sempat Naruto mengambil lauk yang ada di kotak bento Sakura, gadis itu sudah menjitaknya duluan. "Auuch! Ittai," ringis Naruto.
"Rasakan itu!"
Sasuke melirik sebentar kemudian kembali memandang langit.
Bagaimana kabarmu di sana, Hinata?
Tiba-tiba sebuah pesawat terbang di atas langit yang Sasuke pandangi. Sebersit harapan bahwa pesawat itu membawa gadis berambut indigo dan bermata amethyst yang selalu ia tunggu ke Jepang untuk kembali padanya muncul. Hanya harapan, tidak lebih karena percuma saja berharap yang tak pasti. Sasuke memilih untuk menyender pada pagar besi sambil melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Mata onyx-nya tetap setia menatap langit cerah berselimut awan putih.
"Hei, Sasuke. Apa kau percaya jika dia kembali ke sini?"
Sasuke melirik sahabat Dobe-nya itu.
"Dia, teman SD kita dulu," jelas Naruto sambil memakan bento-nya.
"Hn."
Sakura yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap keduanya bergantian karena ia bertemu Sasuke dan Naruto saat mereka duduk di bangku Junior High School. Tapi sekarang Sakura ingat soal apa yang dimaksud Naruto tadi. Laki-laki itu pernah cerita mengenai seorang temannya saat mereka kelas 1 SD dan orang itu selalu ditunggu Sasuke sampai sekarang. Sudah pasti yang ditunggunya adalah seorang gadis karena alasan menunggu itulah yang membuat si Pangeran Uchiha tidak pernah berkencan dengan gadis lain, termasuk dirinya.
Memikirkan apa yang dikatakan Naruto terjadi saja sudah membuat nafsu makannya hilang seketika.
"Mungkin tak akan kembali," komen Sasuke.
"Jangan bercanda, dia kan sudah berjanji padamu," balas Naruto.
"Janji yang sampai kapanpun takkan pernah ditepati."
Bento Naruto sudah habis tak bersisa, ia pun memilih untuk ikut bersandar di pagar seperti yang Sasuke lakukan. "Kau sudah capek menunggunya selama bertahun-tahun, Teme? Atau kau sudah berpaling ke yang lain?" tanya Naruto sambil memandang langit. Ia tahu selama ini Sasuke memang menyimpan rasa pada teman SD mereka itu yang bahkan sampai sekarang pun tak terlihat batang hidungnya.
Tak ada balasan dari Sasuke dan membuat suasana hening seketika.
"Oh iya, aku lupa ada janji dengan Karin!"
Sakura merapikan kotak bento miliknya lalu berdiri. "Aku duluan ya!" Gadis itu pun pergi dengan tergesa-gesa. Begitu memastikan Sakura benar-benar pergi dari jangkauan aman mereka, Naruto kembali menengok pada Sasuke.
"Kurasa benar kata gosip yang beredar baru-baru ini."
"Hn."
"Sakura-chan menyukaimu," ujar Naruto.
"Lalu?"
Naruto mengangkat bahu. "Aku hanya kasihan saja padanya."
"Kenapa tidak kau kencani saja Sakura dan menggantikanku?" tanya Sasuke datar.
"Hahahaha, mana mungkin aku melakukannya, Teme." Si bungsu Namikaze itu memukul pelan bahu Sasuke. Mata sapphire-nya menerawang jauh ke depan. "Lagipula, aku masih menunggu seseorang seperti yang kau lakukan saat ini," gumam Naruto.
Sasuke memejamkan mata sambil mendengarkan lagu.
Berjanjilah untuk kembali ke Jepang dan menemuiku lagi, Hinata-chan.
I-iya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu... Hinata?"
;; First Boyfriend ;;
Mansion Uchiha
Itachi tampak mondar-mandir di ruang keluarga seselesainya acara makan malam bersama keluarga tercinta. Sambil memasang pose berpikir ala detektif, ia pun duduk di sofa panjang tepat di samping Sasuke. Si bungsu yang tengah duduk manis sedari tadi di sofa hanya menatapnya heran bercampur kesal.
"Kau ini kenapa sih? Mengganggu saja," ketus Sasuke.
"Aku sedang berpikir, diamlah."
Alis Sasuke naik sebelah.
"Astaga... pasti hanya bayangan. Ya, pasti."
"Apa yang kau pikirkan, Tua?" tanya si bungsu datar.
Itachi memandang adiknya dengan tatapan horror begitu mendengar panggilan Sasuke padanya tadi. "Kau bilang apa tadi, Otouto?" Sasuke tidak menjawab dan langsung kembali fokus ke layar televisi berukuran 40 inchi di depannya. "Ck, aku benci dengan sebutan itu," decak Itachi lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Sesekali matanya melirik ke Sasuke.
"Jangan melirikku terus. Menjijikan," ketus Sasuke.
Itachi memutar bola matanya. "Tou-san lembur lagi ya?"
"Hn."
"Jawab yang jelas," kesal Itachi.
Sasuke tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu tanpa melirik.
"Padahal aku ingin bertanya langsung soal keluarga Hyuuga." Mendengar kata 'Hyuuga' membuat Sasuke menoleh seketika. Awalnya ia kaget lalu menutupinya dengan wajah datar seperti biasa. "Apa yang terjadi dengan mereka?"
Itachi tampak berpikir.
"Cepat katakan," ujar Sasuke tak sabaran.
"Kau tahu kan aku baru pulang dari Perancis."
"Hn."
"Di bandara... tadi aku seperti melihat Hinata tapi..."
"Tapi?"
Itachi menajamkan matanya. "Aku tidak terlalu yakin kalau itu benar-benar Hinata karena aku hanya melihatnya sekilas," ujar Itachi seraya mengangkat bahu. Tubuhnya ia senderkan ke sandaran sofa. "Sudah bertahun-tahun tak bertemu Hinata dan Neji. Lost contact pula."
"Hn."
Lagi-lagi sebuah harapan yang tak tahu pasti kedatangannya.
To Be Continued
Konnichi wa, minna-san! Setelah berpikir matang-matang dan membaca review, Mizuka akhirnya datang lagi untuk update chap 2! :D Hmm, mungkin fanfic pertama SasuHina ini akan bercerita panjaaang banget. Kalau bosan juga tak apa-apa, Mizuka maklumi. Tapi diusahain nggak terlalu panjang. Diusahain sampai chap belasan aja. maaf juga kalau banyak typo karena Mizuka nggak sempat mengeditnya. gomenasai!
Arigatou untuk sasuhina-caem (arigatou review-nya :) B-benarkah malah terasa feel NejiSasu? Mizuka shock! Tenang ini bukan Yaoi kok), Suzu Aizawa (arigatou untuk support-nya. Mizuka akan berusaha semaksimal mungkin. :D), NildhaRakay (arigatou review-nya. Mizuka bakal lanjutin fanfic ini :D), Mamoka (arigatou review-nya ya :D), Haiiro-Sora (arigatou untuk review-nya, Mizuka bakal lanjutin fanfic ini. Salam kenal juga. :)), Gyurin Kim (arigatou untuk review-nya. :) Mizuka masih ragu untuk partisipasi Naruto sebagai third person-nya, masih bingung), dan semua yang sudah mampir ke sini.
Masih berminat untuk me-review?
