Fandom : durarara !
Disclamer : Narita Ryohgo, the story is mine XD
Summary : Shizuo memutuskan tali perselisihannya dengan Izaya dan menggantinya dengan ikatan resmi yang terucap pada janji disebuah altar pernikahan.
Author : yeeeyyy kembali lagi XD *gandeng sepasang pengantin*, semoga cerita ini menghibur para reader's semua~
Warning : ooc, yaoi, maybe no sense of humor, dan lain-lain
Enjoy reading~
Don't like, don't read
"Aku ingin cepat-cepat mempersiapkan acara pernikahan kita." Gumam Shizuo sembari mengelus puncak kepala Izaya.
"Lakukan dengan cepat sebelum aku berubah pikiran, protozoan." Kekeh Izaya yang beberapa detik tadi telah melupakan tangisnya.
At Izaya's apartement
Izaya meringkuk dikamarnya. Suasana disana gelap, nyaris tak ada cahaya. Namun, tetap saja cahaya bulan yang menembus tirai jendelanya tak mampu membuat ruangan itu menjauh dari kata gelap.
Perasaan bimbang itu merasuki pikiran Izaya untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau yakin akan menikah dengannya? Apa kau yakin bisa membahagiakannya? Kau seharusnya sadar diri, kau tak pantas bersanding dengannya, kau bukanlah seorang wanita yang mampu mewariskan keturunan untuknya, setiap eerr istri harus bisa membahagiakan suaminya. Bagaimana denganmu? Lihat tubuhmu, tak kan menimbulkan nafsu bagi suamimu nanti, jangan egois, pikirkan perasaannya juga."
Izaya menangis. Dia tak berfikir akan kebahagiaan Shizuo. Bagamana kalau nanti dia tak bahagia? Dia juga tak bisa memberinya keturunan. Bagaimana kalau setelah menikah Shizuo akan memadunya. Apa dia harus jadi wanita dulu agar bisa layak bersanding dengan orang yang sangat ia cintai itu?. Pikiran Izaya penuh. Dia merasa pening. Akankah dia harus membatalkan pernikahannya dengan Shizuo?. Izaya mengacak-ngacak rambutnya. Tumben sekali dia terlihat frustasi dan tidak tenang seperti ini.
At Shizuo's apartement
"Hei Shizuo! Apa kau benar-benar ingin menikah dengan rival SMA-mu itu?" tanya laki-laki berambut coklat disampingnya.
"Tentu saja!" jawab Shizuo bersemangat (?).
"Bagaimana dengan keturunanmu?" tanya laki-laki yang akrab dipanggil Kadota atau Dotachin itu.
"Soal itu semua kuserahkan pada Shinra, benarkah Shinra?" dokter ilegal itu tersenyum sumringah.
"Siipp aku kan membantumu hahaha."
"Kau dengar sendiri kan, Kadota, semua masalah terselesaikan, sekarang bantu aku mencarikan tempat yang bagus untuk pernikahanku." Kata Shizuo sambil men-search tempat-tempat yang akan dijadikan tempat pesta pernikahannya.
"Bagaimana dengan taman bunga di Yokohama?" usul Shinra.
"Terlalu jauh." Shizuo kembali terfokus dengan perangkat keras dihadapannya.
"Aha aku tau tempatnya!" seri Shizuo sembari menjentikkan jarinya.
"Dimana-dimana?"
"Tempat kebanggaan kami dulu." Shizuo nyengir kuda, yang membuat teman-temannya begidik ngeri.
At Ikebukuro's park 23.30
Dua orang laki-laki sambil permandangan. Hening. Sangat. Karena memang sudah tak ada orang lagi disana. Hanya mereka berdua.
"Ada yang ingin kau katakan, Izaya?" tanya Shizuo.
"Shizu-chan…lebih…baik…kau…" Izaya berbicara terbata-bata membuat Shizuo tak mengerti.
"Kalau bilang itu yang jelas Izaya."
"Shizu-chan lebih baik kau menikah seperti pasangan normal layaknya suami-istri." Izaya memalingkan wajahnya. Takut kalau Shizuo melihat raut wajahnya yang menahan air mata.
"Maksudmu?"
"Menikahlah dengan orang lain!" Izaya memuncak.
"Ka…kau serius?" Shizuo nampak tak percaya."Tapi kenapa kau berubah pikiran, Izaya?"
"Aku takut kalau aku menikah denganmu, aku takkan bahagia." Dusta Izaya Shizuo terdiam. Saat Izaya hendak melangkah pergi Shizuo menarik tangan Izaya. Lalu mendekapnya kepelukan hangatnya.
"Katakan dengan jujur Izaya, ada apa denganmu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Shizuo yang tengah sibuk mendekap Izaya. Izaya terdiam. "Katakan sejujurnya Izaya, katakan padaku." Shizuo terus mendesak Izaya. namun bukan jawaban yang Ia dapat melainkan isakan dari orang yang tengah ia dekap.
"Izaya kau menangis? Ada apa? Apa aku salah bicara? Izaya kumohon jawablah!" pinta Shizuo sambil mempererat pelukannya.
"Shi-shizu-chan…" suara Izaya bergetar."kalau…kita menikah aku takkan bisa memberimu keturunan, dan aku takut takkan membuatmu bahagia." Kata Izaya dengan suara teramat sangat pelan. Namun, karena Shizuo berada didekat Izaya, Shizuo mampu mendengar suara Izaya yang bergetar.
"Kau tak perlu memikirkan itu, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari tenanglah, kau mencintaimu apa adanya Izaya, soal keturunan serahkan pada Shinra." Shizuo mengecup kening Izaya dan mengelus punya kepalanya.
"Benarkah itu?" tanya Izaya ragu.
"Tentu saja." Wajah Shizuo berseri-seri.
Bersambung XD
Update kilaaattt XD
Mau lanjut nggak? Kalo mau review yaa XDD
Review
V
V
V
V
V
