Fandom : durarara !

Disclamer : Narita Ryohgo, the story is mine XD

Summary : Shizuo memutuskan tali perselisihannya dengan Izaya dan menggantinya dengan ikatan resmi yang terucap pada janji disebuah altar pernikahan.

Author : yeeeyyy kembali lagi XD *gandeng sepasang pengantin*, semoga cerita ini menghibur para reader's semua~

Warning : ooc, yaoi, maybe no sense of humor, dan lain-lain

Enjoy reading~

Don't like, don't read

"Kita mau kemana Shizu-chan?"

"Mau foto pre-wedding!" ucap Shizuo semangat sambil menggendong Izaya ala bridal style dan berlari keluar apartemen Izaya.

At Ikebukuro's Park

Rupanya pengambilan foto pre-wedding Izaya dan Shizuo berada ditaman Ikebukuro. Dengan latar belakang air mancur ditaman itu. Dan tak lupa, background matahari tenggelam yang terkesan eksotis. Kedua calon pengantin itu berpose-pose romantis. Namun, agak disayangkan sang bartender tampan kita terkesan kaku, kalau harus pose romantis didepan kamera. Hingga teguran dari sang photografer berkali-kali memenuhi telinganya. 'Senyumnya kaku lah', 'gayanya mirip robot lah', kurang ini lah kurang itulah. Sampai batas kesabaran Shizuo berada dipuncak akhir.

"Haaah! Urusai!" Shizuo mencabut streetsign dan bersiap melemparkan kearah sang photografer, sebelum suara lembut Izaya menyadarkannya kembali."Aku tidak mau berpose romantis!"

"Shizu-chan, kau saja yang belum menjiwai-nya." Ejek Izaya sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka Shizuo.

"Urusai! Aku mau ganti pose!" kata Shizuo sambil mengarakan ujung streetsign kearah photografer. Sang photografer begidik ngeri. Keringat dingin mengucur menembus pori-pori kulitnya. Dia hanya mengangguk menyetujui semua permintaan client-nya yang brutal ini. Izaya menghela nafas pasrah.

Jepret 1 : Streetsign berada tepat didepan wajah Izaya, sementara Izaya menodongkan pisau lipatnya kearah Shizuo yang tengah tersenyum nakal kearah Izaya.

Jepret 2 : posisi kedua Shizuo berada dipelukan tangan ramping Izaya. Dengan pisau lipat mengalung dileher jenjangnya.

Jepret 3 : Posisi berbalik, Izaya berada dililitan street sign sementara Shizuo memeluk nakal dibelakangnya sambil mencium pipi Izaya.

Disisi lain dari taman Ikebukuro. Empat orang rupanya tengah memperhatikan acara pre-wedding Shizuo dan Izaya. Mereka semua tercengang dengan pose-pose pre-wedding yang tidak wajar.

"Itu posisi pre-wedding yang paling aneh!" komentar Togusa yang sedang berada didepan mobil kesayangannya.

"Itu terkesan natural bagi mereka, kalau mereka memakai pose romantis seperti pre-wedding pada umumnya malah terkesan aneh untuk mereka." Kadota ikut mengomentari.

"Yumachi kau lihat itu, mereka sangat romantis!" seru Erika bersemangat dengan raut wajah khas fujoshi.

"Dua pasang sejoli yang sangat cocok." Yumasaki menambah-nambahi dengan blink-blink dimatanya.

Kembali ke Shizuo dan Izaya.

Sang photografer telah menyelesaikan tugasnya. Dan kini hanya ada Shizuo dan Izaya disana. Shizuo memandang Izaya. wajah manis, dan tubuh bermandikan cahaya mentari sore, Izaya bagaikan bidadari yang turun dari khayangan. Shizuo terpesona beberapa saat. Izaya yang merasa diawasi berbalik memandang Shizuo. Wajahnya memerah saat mendapati wajah tampan Shizuo yang tersenyum kearahnya. Lama mereka saling berpandangan. Tiba-tiba Shizuo membuka pembicaraan.

"Besok kita ke butik lagi, jangan menolak, kutu!"

"Eh? Untuk apa?" tanya Izaya bingung.

"Ya beli baju lagi lah, baju ini hanya untuk pre-wedding saja, ayo kita pulang, kutu sayang." Kekeh Shizuo sambil menggandeng tangan Izaya. wajah Izaya merona.

at Butique

"Aku tidak mau Shizu-chan! Kau pakai sendiri saja gaun laknat itu!" Izaya berteriak-teriak sembari menunjuk-nunjuk gaun yang kini Shizuo pegang.

"Geezz…kalau kau sama-sama memakai jas sepertiku akan terkesan aneh, lagi pula tak akan ada yang sadar kalau kamu cowok, kutu!"

JLEB

Mendengar kata-kata itu muncullah aura-aura pundung disekeliling Izaya dengan background ruangan gelap dengan satu bolam lampu (?).

"Fle-flea?" Shizuo gugup.

"Shizu-chan…kau tega sekali! Kata-katamu pedas!"

"Habis kau nggak mau nurut sech!" sanggah Shizuo.

"Tapi kan aku nggak mau pake gaun lagi Shizu-chan." Ucap Izaya dengan raut memelas.

"Jangan membantah, lagi pula kau manis memakai gaun, kutu." Goda Shizuo. Wajah Izaya memerah.

"Gaun ini ya!" paksa Shizuo lagi.

"Tidak mau! Ganti!"

"Kalau begitu yang ini!" Shizuo mengambil gaun putih mewah dengan aksen mawar putih disetiap lekukan gaunnya. Dan tak lupa taburan serbuk kilau diseluruh gaun. Izaya mengangguk, sedikit ada rona merah dipipinya.

"Kau mau mencobanya?" tanya Shizuo, Izaya menggeleng."Aku tak mau tau jika baju ini terlalu kecil atau malah terlalu besar untukmu." Jelas Shizuo.

"Iya-iya cerewet!" pipi Izaya masih merona, membayangkan dirinya memakai gaun tersebut dipesta pernikahannya besok.

Cup

Shizuo mencium pipi Izaya."Ayo pulang." Ucap Shizuo lembut sembari menggandeng tangan Izaya. wajah Izaya semakin memerah bak kepiting rebus. Orang-orang disekeliling mereka menatap ngeri, melihat dua monster Shinjuku dan Ikebukuro mengumbar keromantisan.

Next day, wedding ceremony

"Cel-celty, a-a-ku gu-gup." Izaya terbata-bata, keringat dingin terus mengucur menembus pori-porinya. Izaya masih berputar-putar guna menghilangkan kegugupannya.

[tenanglah Izaya, semua akan berjalan lancar.] ketik Celty di PDA-nya.

"Bagaimana kalau nanti aku lupa mengucapkan janji sucinya, bagaimana kalau nanti aku gugup saat memasangkan cincin ke jari Shizu-chan, bagaimana malam pertamaku nanti!" Izaya berteriak frustasi, Izaya diam seketika. Saat sepasang tangan melingkar diperutnya. Nafas hangat si pemilik tangan menerpa leher Izaya.

Blush. Rona merah pipi Izaya berdesak-desakkan keluar, untuk menghias pipi susu Izaya.

"Tenanglah sedikit, relax…" Shizuo menjilat belakang telinga Izaya.

"Shi-shi-zu-chan...ada Celty." Muka Izaya masih memerah tomat.

"Kau tidak keberatan kan Celty?" Celty menggeleng. Jika kalau dia mempunyai wajah, dia mungkin tak kalah meronanya dibanding Izaya.

Upacara pernikahan pun dimulai. Shizuo berdiri dialtar dengan senyum cerah. Sementara Izaya dengan balutan baju pengantinnya berjalan anggun dengan Kasuka sebagai walinya. Senyum Izaya tak kalah cerah dari senyum Shizuo.

Izaya dengan balutan gaun berwarna putih yang mewah. Bibir plum-nya kini berselimut warna pink muda. Pipinya merah merona bukan karena make-up tapi karena dia terpesona melihat sosok yang akan menjadi pasangan hidupnya.

Shizuo nampak gagah dengan jas yang berwarna senada dengan gaun yang Izaya kenakan. Mereka sangat serasi.

Kini, masa jabatan sebagai rival telah digantikan dengan janji suci mereka berdua. Mereka akan selalu mencintai, menyayangi, menjaga, melindungi sampai ajal menjemput mereka nanti. Janji yang tulus dari hati. Perasaan yang dulu tertutup kabut keegoisan kini tlah sirna karena cerca sinar penuh cinta dari keduanya.

Sebuah cincin melingkar dimasing-masing jari jemari. Ciuman, kedua bibir saling bertaut. Jari-jemari saling mengisi kekosongan celah. Tak ingin lepas, tak ingin saling menjauh dan pergi. Tak ingin ditinggalkan maupun meninggalkan masing-masing perasaan. Semuanya satu. Satu bcinta. Satu pasangan. Dan satu perasaan yang sama.

Wedding Party

Pesta pernikahan mereka berlangsung dihalaman Raira Academy. Tempat kebangsaan mereka sewaktu SMA. Acaranya sangat meriah. Banyak pernak-pernik pesta yang tertata rapi disana. Bunga-bunga berbagai warna. Beraneka ragam makanan dan minuman.

"Iza-iza, Shizu-shizu selamat ya~" Erika berteriak semangat menyalami kedua mempelai yang sedang berbahagia.

"Kenapa kau memilih Raira Academy? Bukan kah banyak tempat yntuk melangsungkan resepsi?" tanya Tom Tanaka.

"Disini banyak kenangan, bukan begitu Izaya?" Shizuo merangkul Izaya yang masih terkagum-kagum dengan persiapan pesta yang Shizuo rancang entah sejak kapan. Merasa diabaikan Shizuo menyentil hidung Izaya. izaya sontak menoleh kearah Shizuo dengan tatapan kesal.

"Kenapa kau menyentil hidungku Shizu-chan, sakit sekali tau!" Izaya memanyunkan bibirnya.

"Salah sendiri kau tak memperhatikanku,"

"Oya Shinra dimana ya?" Shizuo celingukan mencari mantan teman sekelasnya itu. Dan ternyata Shinra sedang sibuk merayu Celty untuk melangsungkan pernikahannya hari ini juga. Tentu Celty menolak mentah-mentah penawaran Shinra.

"Ayolah Celty~" rayu Shinra yang sibuk bergelayutan dilengan Celty. Seperti anak kecil.

"Hoy Shinra!" Shizuo menghampiri Shinra, diikuti Izaya yang mengekor dibelakang Shizuo.

"Yo, pengantin baru, ada apa?" tanya Shinra innocent. Shizuo hanya memberi tatapan penuh pernyataan kearah Shinra, seolah matanya mengatakan sesuatu 'mana penemuanmu, agar kami bisa memiliki keturunan?'. Setidaknya seperti itulah yang Shinra tangkap dari tatapan Shizuo.

"Oh…aku lupa, kuantar besok yaaah, bersenang-senanglah dahulu~" Shinra tersenyum mencurigakan. "Oya, aku perlu beberapa helai rambut kalian."

"Eh, jangan santet kami!" teriak Izaya histeris. Shinra, Shizuo dan mungkin Celty jika mempunyai kepala akan sweatdrop seperti kedua pria tersebut minus Izaya.

"Siapa juga yang mau nyantet." Ucap Shizuo sinis."Untuk apa helaian rambut kami?" tanya Shizuo pada Shinra.

"Kau tau kan, gen itu bisa diperoleh dari rambut juga, jadi-" belum Shinra menyelesaikannya Shizuo buru-buru memotong kalimatnya.

"Bla-bla-bla, aku tau itu." Tangan Shizuo mulai membelai rambut lembut Izaya dengan maksud tertentu tentunya.

"Shi-shizu-chan." Muka Izaya merona. Rupanya Izaya tak memahami maksud Shizuo yang sebenarnya. Kasian.

Sedikit tarikan beberapa helai rambut Izaya meninggalkan si empunya rambut. "Aww…Shizu-chan!" Izaya geram plus malu karena salah presepsi. Tangannya rampingnya sibuk mengusap puncak kepalanya.

"Eheehehe ma'af, oi Izaya kenapa wajahmu memerah, hm?" goda Shizuo sambil menarik beberapa helai rambut pirangnya.

"Ini Shinra." Katanya sembari memberikan helaian rambutnya dan Izaya.

"Ok, silahkan bersenang-senang, jaa~" Shinra pergi diikuti Celty.

Malam makin larut. Banyak tamu yang telah meninggalkan tempat resepsi menuju tempat tinggal mereka. Disana hanya tinggal Izaya dan Shizuo.

Mereka menghabiskan waktu dengan bersandar dipohon sakura. Memori-memori sewaktu SMA berputar kembali. Saat mereka saling berkejar-kejaran. Saat Shizuo melemparkan meja, bangku, dan alat-alat berat yang sekolah mereka sediakan.

Izaya tersenyum geli, mendapati mereka telah berstatus sebagai sepasang mempelai beberapa jam yang lalu.

"Shizu-chan, ternyata kalau dipikir-pikir, kita seperti orang bodoh ya dulu."

"Maksudmu, kutu?"

"Ya, kau tau berkejar-kejaran dimana kau seperti orang gila yang mengamuk dan bersumpah akan membunuhku, tapi lihat kita sekarang, cincin, baju pengantin hahaha." Jelas Izaya panjang lebar setelah itu dia tertawa lepas. Shizuo rupanya juga tertawa lepas sambil mengacak-ngacak rambut raven Izaya.

"Mau mengulanginya sekali lagi?" tanya Shizuo dengan nada seduktif.

"Me-mengulaingi…apa?" Izaya nampak gugup karena, nafas panas Shizuo menerpa lehernya.

"Ya!" tanpa aba-aba ShIzuo langsung berdiri. Dia mengangkat tong sampah terdekat.

"E-eh Shi-shizu-chan, kau mau apa!" Izaya mematung ditempat. Keringat dingin mulai bercucuran, karena apa? Karena Izaya tak menduga Shizuo akan mengajaknya bernostalgia lagi. Bagaimana dia lari? Dia sedang memakai gaun? Bagaimana nanti kalau pernikahan ini hanya siasat Shizuo untuk membunuhnya dengan Cuma-Cuma (?). pikiran Izaya terbang melayang.

"Ayo kutu sayang cepat lari!" tampang Shizuo berubah menjadi garang.

"He-hei protozoan! Apa yang akan kau lakukan!" Izaya nampak sedikit ketakutan. Tentu, karena dia dalam kedaan benar-benar-tidak-siap. Tanpa pisau lipatnya, Shizuo akan benar-benar menremukkan tubuhnya. Apalagi gaun laknat yang sekarang dia pakai agak kebesaran, salah dia sendiri memang karena tak mau mencobanya dulu. Tapi bukan iyu masalahnya, sekarang bagaimana dia bisa meloloskan diri. Jurus parkour tak berguna saat ini. Satu-satunya jalan adalah lari. Ya lari.

Izaya beranjak dari duduknya dan segera mengambil langkah seribu. Disusul Shizuo. Yang tentu saja kita bisa menebak permainan akan dimenangkan oleh Shizuo. Dia mampu berlari dengan cepat, sementara Izaya bersusah payah dengan gaun yang sekarang ia kenakan.

"Cih! Gaun sialan!" umpat Izaya. Izaya berbelok kerah gang terdekat berdoa kepada dewa agar sang-suami kehilangan jejaknya.

"Kutu sayang, dimana kau!" suara Shizuo menggema ditengah kesunyian. Suara Shizuo semakin dekat dengan tempat Izaya berada. Dap dap dap. Semakin dekat.

Izaya membungkam rapat-rapat mulutnya agar tak dapat menghasilkan suara apapun. Tiba-tiba saja. Plak. Sesuatu menjatuhi kepala Izaya.

Izaya mengambil benda basah yang menjatuhi kepalanya. Berbau amis dan buruknya dia melotot. Buru-buru Izaya berteriak dan membuang benda yang paling ia benci.

"Mata ikan sialan! Jangan melototiku!" Izaya berteriak sehingga Shizuo dapat dengan mudah menemukannya.

"Disini kau ternyata!" ternyata Shizuo telah membuang tempat sampah raksasanya itu dan menggantinya dengan vending machine kesayangannya.

"Hai, Shi-shizu-chan." Izaya tersenyum miris.

BRAAKK

Sebuah vending machine mendarat beberapa inchi dari tempat Izaya berdiri. Izaya menghela nafas untung saja meleset. Atau memang sengaja tidak dilemparkan kepadanya. Masa bodoh yang penting dia masih hidup berdiri didepan sang-suami yang menatapnya nakal.

Shizuo mendekat kearah Izaya. dekat. Semakin dekat. Tak ada jarak. Cup. Sebuah ciuman mendarat dibibir Izaya. hanya beberapa detik ciuman itu bertahan.

"Ayo kita lanjutkan dirumah saja." Shizuo menyeringai. Tanpa babibu Shizuo mengangkat tubuh ramping Izaya menggendongnya secara bridalstyle.

At Izaya's apartement

Baju-baju berserakan meninggalkan jejak dari ruang tamu naik-naik dan berakhir didepan sebuah pintu. Terdengar erangan. Desahan. Bercampur menjadi satu. Deru nafas yang terengah menjadi melodi malam itu. Teriakan manja meminta lebih menggema seantero ruangan.

Ruangan besar dengan minimnya penerangan, terlihat dua onggok manusia yang sedang memadu kasih. Suara ranjang berdecit. Guncangan-guncangan kecil. Dan suara-suara erotis yang terdengar menggelitik digendang telinga.

Kulit bergesek kulit. Bibir bertaut bibir. Jari-jemari saling mengait. Peluh bercampur peluh. Pria blonde itu mengahkiri aksinya. Wajahnya memerah senyumnya terkembang. Mendapati sang orang tercinta dengan muka memerah padam memandanginya.

Bibir mereka kembali bertaut. Ciuman panas. Keinginan saling mendominasi dan memenangkan pertarungan lidah yang semakin sengit. Beberapa menit berlalu dengan lambat. Seakan waktu enggan untuk mempercepatnya. Ciuman panas itu berlalu. Meninggalkan deru nafas terengah dari kedua belah pihak.

Sang blonde menggulingkan tubuhnya kesamping pria raven.

"Bagaimana?" tanya Shizuo memeluk Izaya. dia membenamkan kepalanya ke rambut raven beraroma vanila itu.

"Menyenangkan." Komentar Izaya yang semakin merapatkan dirinya ke badan kekar Shizuo.

"Kalau begitu kita lakukan lagi!" ajak Shizuo bersemangat.

"Iie!" sanggah Izaya cepat."Aku mau tidur, aku lelah gara-gara kau kejar tanpa tujuan yang jelas tadi!" geram Izaya merapatkan selimut.

"Aku kan hanya ingin bernostalgia saja, siapa tau nanti kita tidak bisa kejar-kejaran lagi." Jelas Shizuo sedikit menyeringai.

Izaya memanyunkan bibirnya.

Sementara itu dikediaman Kishitani.

"Huahaha berhasil!" Sesosok putih dengan kacamata mengkilat keluar dari ruang kerjanya. Asap putih menyembul keluar saat pintu terbuka. Terlihat dibelakangnya beberapa bocah dengan berbagai ukuran (?).

"Celty! Celty!" seru Shinra. Yang merasa mempunyai nama segera menghampiri pemuda bernama Shinra itu.

[Ada apa Shinra!] Celty mengetik cepat sepertinya dia panik.

To Be Continue

Updatenya molor lama banget XDD

Penulisannya mungkin belepotan o,o
enggak ada lemon, karena saya amatir membut lemon, alurnya terlalu cepet mungkin XD
mau lanjutt?XD
review!

Terima kasih yang udah review, saya tunggu reviewny lagi :3

review

V

V

V

V

V

V