I'll Wait For You
.
.
.
Naruto and all characters are Masashi Kishimoto's. I don't profit anything from this fic.
I'll Wait For You is mine. Hope you'll enjoy my first fic.
.
.
.
Sebagai seorang kapten divisi Konoha, ia merasa harus waspada pada penyerangan yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa titik di kota ini. Bahkan ia mendengar dari laporan bahwa perbatasan negara juga diserang oleh sekelompok orang misterius. Penyerangan ini terjadi secara berkontinyu, dan di tempat-tempat yang tidak terduga. Ia sudah mengerahkan semua pasukan untuk menjaga daerah-daerah rawan. Namun ia masih tetap khawatir.
Sasuke lalu memijat keningnya sendiri. Sekarang ia ada di dalam kamarnya, menulis surat untuk ketua penjaga di perbatasan timur Konoha, tempat yang rawan diserang, untuk memperketat penjagaan. Ia akan mengirim orang ke sana agar membantu mereka. Lilin yang ia taruh di tempat lilin yang tinggi bergoyang-goyang terkena angin dari pintu yang tidak terlalu rapat ditutup. Perlahan-lahan ia menggoreskan tintanya di atas selembar kertas itu.
Setelah selesai, ia membiarkan kertas itu terbuka untuk mengeringkan tintanya kemudian beranjak untuk mematikan lilinnya. Hari masih pagi, namun cuaca mendung karena salju turun dengan perlahan di kota ini.
Ia jadi teringat akan Sakura. Sedang apa dia bersama Hinata? Tidak mungkin ia sering-sering datang ke kediaman Naruto. Ia adalah putra mahkota yang sibuk. Ia benar-benar ingin ini semua untuk segera selesai, lalu ia bisa meyakinkan ayahnya agar ia bisa menikahi Sakura. Walaupun itu bagaikan menegakkan benang basah, tapi ia harus mencobanya. Mungkin ia bisa mengiriminya surat sewaktu-waktu.
Lalu seseorang datang kepadanya, mengatakan jika ia dipanggil oleh raja. Sasuke mengangguk lalu mengikuti orang itu untuk menemui ayahnya itu.
Ruang kerja ayahnya terlihat terang dari luar. Tampak siluet ayahnya dan benda-benda lain yang ada di ruangan itu seperti guci dari China atau yang lain bergoyang-goyang karena cahaya lilin yang tidak bisa diam. Sasuke memberi salam terlebih dahulu untuk masuk, lalu melewati para penjaga yang dengan setia menjaga sang raja.
"Ada apa Baginda memanggil saya?" tanya Sasuke dengan sopan sambil membungkuk ke arah ayahnya.
"Duduklah," perintah Fugaku Uchiha, sang raja yang kini bertahta.
Sasuke menurut. Ia lalu diam menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya.
"Kau sudah tidak muda lagi. Secara umur, kau sudah matang. Kau sudah melewati ritual kedewasaan empat tahun yang lalu."
Entah mengapa, dari pembukaannya, ia tahu kemana pembicaraan ini mengarah. Namun Sasuke memilih untuk diam saja.
"Sudah saatnya kau mewarisi tahta ini. Tapi itu tidak akan terjadi sebelum kau menikah."
Sasuke masih diam.
"Dan aku menjodohkanmu dengan putri dari Suna yang bernama Temari. Ia cocok untukmu."
Sasuke tidak terlalu terkejut. Dan walaupun seandainya ia benar-benar terkejut, ia pasti bisa menyembunyikannya dengan baik.
"Maaf, Baginda. Saya tidak bisa menuruti tihta baginda untuk kali ini."
Fugaku Uchiha mengernyitkan alisnya. "Kenapa?"
"Saya tidak merasa ini akan berjalan dengan baik. Saya mengenal Temari-nee-sama. Ia mengaku kepada saya bahwa ia telah memiliki pujaan hatinya sendiri. Ia tidak mencintai saya, dan begitu pula saya."
Fugaku menghela napas. Ia sudah menduga, jika Sasuke menolak, maka alasannya akan seperti ini.
"Kau tahu, Sasuke-kun. Di dalam lingkungan seperti ini, pernikahan tanpa cinta tidak terlalu diperlukan. Aku dan ibumu menikah tanpa cinta. Dan buktinya bisa lahir kakakmu dan kau."
Sasuke menyeringai tipis, menahan gejolak amarah. Ya, dan akhirnya sekarang Itachi mengembara entah kemana karena sakit hati ibu meninggal dengan menderita!
"Saya ingin mengadakan perubahan."
Fugaku mendengus. "Kau tidak usah banyak membantah. Aku akan mengatur pernikahan kalian. Kau, akan melaksanakannya!"
"Tidak bisa!" Amarah Sasuke mulai tersulut. "Baginda tidak bisa melakukan hal itu. Tolong hargai saya sebagai manusia yang mempunyai perasaan."
"Kau mulai tidak sopan. Pokoknya jangan membantah!"
"Ayah…" Sasuke mulai memohon kali ini. "Tolong jangan lakukan itu. Aku telah memiliki tambatan hati sendiri."
Mata Fugaku menatap langsung ke bola mata kelamnya.
.
.
.
Kediaman Naruto sangat nyaman. Setidaknya, saat malam, ini jauh dari ingar-bingar cahaya seperti yang ia biasa lihat di Sumiya. Juga tidak ada lagi suara orang mabuk yang tertawa-tawa keras dan wanita yang berbicara dengan nada manja.
Sakura justru sangat senang melihat kemesraan Naruto dan Hinata yang jarang terjadi itu, mengingat Naruto memang biasa menginap di markas, ataupun harus patroli keliling kota. Terkadang Sakura bisa merasakan betapa beratnya Hinata jika ditinggalkan Naruto bertugas di situasi negara yang sedang bahaya ini. Apalagi Hinata sedang hamil, pasti kekhawatirannya tidak baik bagi bayinya dan dirinya sendiri.
Maka dari itu Sakura berusaha sebisa mungkin agar ia bisa berguna di sini.
Hinata sangat senang memasak.
Sekarang mereka sedang ada di dapur. Sebenarnya banyak pelayan yang melarang Hinata untuk memasak, namun Hinata menolak kebaikan hati mereka dengan senyuman tulus, meyakinkan mereka bahwa ia tidak akan membakar dapur.
"Aku suka sekali memasak. Setidaknya, ini bisa membunuh waktu senggangku," kata Hinata mulai memasak sushi. Sakura membantunya menyiapkan bahan-bahannya.
Sakura tersenyum. "Tapi jika anak nee-chan lahir, nee-chan tidak sempat memasak lagi…"
"Oh, aku akan sangat sibuk saat itu," Hinata tersenyum membayangkan jika anaknya lahir nanti. Ia lalu mencampurkan cuka, gula, dan garam ke nasi kemudian mengaduknya.
"Bahkan sebelum melahirkanpun, aku yakin, Naruto-san tidak akan membiarkan nee-chan untuk memasak lagi. Menurutku Naruto-san sangat protektif terhadap nee-chan."
"Sou ka? Benarkah?" Hinata tersenyum malu. Ia melihat Sakura sudah selesai mendadar telur ayam. "Kau pintar memasak, Sakura-chan. Aku yakin, kau akan menjadi istri yang baik."
Mendengar kata istri membuat Sakura membayangkan Sasuke Uchiha. Entah mengapa ia merasa pipinya panas. "Ah, kuharap begitu."
Setelah semuanya dirasa sudah siap, mereka lalu menyajikannya di ruang makan. Sakura memang sedikit kesulitan saat menggulungnya. Namun dengan telaten Hinata membantunya. Dan saat sedang asyiknya membuat sushi, tiba-tiba Naruto datang dengan wajah yang lelah. Sakura memandang langit saat Naruto membuka pintunya. Udara pagi datang menghembus.
"Tadaima! Aku pulang!"
"Okaeri, Anata. Selamat datang, Sayang."
Dan Sakura bisa melihat pasangan suami istri itu saling berpelukan. Sakura mungkin akan melihat Naruto mencium bibir Hinata kalau seandainya Hinata tidak mencegahnya. Wanita itu sadar jika masih ada Sakura di sana.
"Sumimasen. Maaf, sebaiknya saya pergi…" pamit Sakura sebelum Naruto akhirnya memanggilnya. Ia menoleh ke arahnya dan mendapati lelaki itu sedang tersenyum ke arahnya sambil menyerahkan sesuatu.
"Nani desu ka? Apa ini?" tanya Sakura penasaran sambil menerima gulungan kertas yang diberikan Naruto.
"Dari Sasuke. Bacalah. Aku tidak membukanya."
"Hai! Arigatou gozaimasu. Terimakasih banyak," Sakura lalu menerimanya dan segera pamit mengundurkan diri. Sakura masih bisa mendengar Hinata menawarkan sushi yang tadi mereka buat kepada Naruto saat di ujung koridor. Entah mengapa langkah kakinya membawanya ke bawah pohon sakura yang sangat besar itu. Walaupun salju mulai mendinginkan tubuhnya, tapi ia tetap nekat. Ia merasa Sasuke ada di sana.
Ia lalu duduk bersandar di sana. Membuka gulungan kertas itu dengan hati-hati, seakan itu adalah benda yang sangat rapuh. Ia lalu mulai membacanya.
Sakura, apa kabarmu di sana?
Aku tidak akan menulis banyak. Aku tidak akan sering-sering mengunjungimu. Berlatihlah menjadi putri yang baik. Cepatlah dewasa. Aku akan menunggumu.
Benar-benar singkat, namun mampu membuat wajah Sakura memerah dengan sempurna. Ia menjadi teringat akan pelukan yang mereka lakukan terakhir kali di pohon ini. Memang tidak ada bunga sakura yang sedang bermekaran sekarang, tetapi ia merasa bunga-bunga di sini sedang mekar dengan indahnya.
Ia merasa Sasuke dekat dengannya. Sangat dekat.
.
.
.
Fugaku menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir akan apa yang dipikirkan putra bungsunya itu. Ia lalu menatap kedua mata anaknya tajam, dan dibalas dengan tidak kalah tajam.
"Kau tahu apa konsekuensinya?" tanya Fugaku untuk ketiga kalinya. Biasanya dia tidak senang berbicara panjang lebar, namun ini masalah yang sangat serius, menyangkut kewibawaan kerajaan. Dan ini benar-benar sesuatu yang tidak boleh dianggap enteng.
"Saya tahu, Baginda," jawab Sasuke dengan yakin.
"Heh!" Fugaku mendengus. Lelaki yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda itu kini mulai marah. "Apa kau mencoba bercanda? Apa yang kau pikirkan? Tidak ada di dunia ini, seorang pangeran menikah dengan rakyat jelata!"
Tapi tampaknya Sasuke tidak peduli akan anggapan dunia tentangnya. Dan itu membuat Fugaku semakin kesal. "Senang menjadi orang yang mengubah sejarah, Ayah."
Rahang Fugaku mengeras, tanda ia sedang menahan kata-kata amarah yang akan keluar dari tenggorokannya. Namun raut wajahnya yang sedang marah itu dapat ia sembunyikan dengan sangat baik.
"Kau. Tidak. Bisa. Melakukannya!"
"Tentu saja saya bisa." Sasuke jelas-jelas menggunakan nada kalimat yang menantang. "Saya tidak bermaksud untuk menjadi anak yang penentang, tapi…" Ada jeda sedikit di antara kalimat itu sebelum Sasuke melanjutkan kembali "…mungkin saya akan pergi juga seperti Itachi-nii-san! Saya permisi, Baginda."
Lelaki lima puluh tahunan itu tampak menahan perasaan. "Tunggu, pembicaraan kita belum selesai!"
"Maaf, Baginda. Saya harus pergi." Dan Sasukepun beranjak keluar melewati para penjaga yang masih berdiri tanpa ekspresi di samping kanan dan kiri pintu. Pengawal-pengawalnya juga ikut mengiringi langkahnya.
Ia sudah sering menuruti perintah ayahnya, dan sekarang saatnya ia menuntut hak seorang anak. Sial. Terkadang ia menyesal dilahirkan sebagai anak raja.
.
.
.
Siang dengan sinar mataharinya yang tidak mampu mengalahkan rasa dingin ini masih memayungi kota. Sakura sedang memandang halaman rumah yang dipenuhi salju putih, seperti hamparan kapas yang empuk. Ia tersenyum, memikirkan bagaimana rasanya bermain lempar salju di sana. Selama ini ia tidak memiliki waktu untuk bermain salju. Masa kecilnya memang terenggut untuk bekerja. Tapi, dia memang masih kecil sekarang.
Sampai tiba-tiba ia mendengar suara berisik di gerbang. Sakura segera bangkit berdiri dan mendongakkan kepalanya. Lalu penjaga yang menjaga di gerbangpun terlihat sedang mempersilakan seorang gadis berambut pirang panjang dan seorang pengawal wanitanya yang berambut hitam kebiruan untuk memasuki rumah ini. Wajah gadis itu terlihat sangat ceria, seperti wajah yang tidak sabar ingin melihat sesuatu.
Bergegas Sakura segera menemui orang itu.
"Maaf. Anda mencari siapa?" tanya Sakura sopan sambil membungkuk. Gadis di hadapannya ini, yang wajahnya sangat cantik ini, memandangnya dengan raut wajah penasaran dan mengingat-ingat. Jarinya ia ketukkan di dagu.
"Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini…" gumam gadis itu seperti pada dirinya sendiri.
"Ah, saya memang orang baru di sini."
"Begitu, ya?" Lalu ia mengangguk-angguk, kemudian ia tersenyum ceria. "Aku Yamanaka Ino, dan ini pengasuhku, Mitarashi Anko. Kau siapa?"
"Saya Haruno Sakura. Yoroshiku onegai shimazu. Senang bertemu dengan Anda, Nona Yamanaka." Entah mengapa Sakura jatuh suka pada gadis ini. Pembawaannya begitu ceria, terbuka, dan ramah. Dan dilihat dari fisik, ia rasa umur gadis ini masih sepantaran dengannya, atau lebih tua sedikit.
"Panggil saja aku Ino-chan. Ingat, ya, harus ditambahi chan. Kau tahu kan Ino artinya apa?" Gadis itu terlihat bersedekap. Ia lalu mengangkat alisnya, seperti teringat akan sesuatu. "Di mana Hinata-nee-chan?"
"Oh, beliau sedang beristirahat. Tadi sedikit tidak enak badan saat sedang mencium bau ikan," jawab Sakura jujur. Naruto-san saja sampai sangat cemas. Sekarang Naruto-san sendiri yang menjaga Hinata, bahkan.
Ino terlihat kecewa. Namun sepertinya ia maklum karena ia mengatakannya sendiri. "Sebaiknya nee-chan memang istirahat saja. Ah, aku tidak sabar untuk melihat anak nee-chan. Semoga, jika perempuan, akan cantik dan anggun seperti nee-chan. Jangan sampai mirip Naruto -nii! Aku tidak rela!"
Sakura tertawa, berpikir jika ucapan Ino lucu. Dan itu menarik perhatian Ino.
"Anko-san, boleh aku bermain dengan Sakura-chan?" tanyanya penuh harap pada wanita berambut pendek itu. Anko terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk.
"Jangan jauh-jauh."
"Terima kasih!" serunya sambil menyeret Sakura yang masih terkejut. Seorang putri seperti Ino mau bermain dengannya? Ini mungkin hal biasa bagi orang lain. Namun bagi Sakura, ini hal yang sangat luar biasa.
Sejak kecil, entah sejak umur berapa tepatnya, ia terbiasa hidup di lingkungan yang penuh dengan lelaki hidung belang dan wanita-wanita yang bersuara manja. Ia selalu bekerja keras membersihkan rumah, membuat makanan. Biasa dikatakan, masa kecilnya memang tidak terlalu bahagia. Ia tidak memiliki banyak teman perempuan, karena wanita-wanita yang ada di rumah geiko itu memang biasa beristirahat di siang hari karena malamnya mereka baru bekerja.
Dan tampaknya ide Uchiha Sasuke membawanya kemari bukanlah ide yang terlalu buruk. Seharusnya dari awal ia bersyukur karena ia tidak harus melayani pria-pria berbeda tiap malam, dan sekarang ia memiliki banyak orang yang sepertinya menerima kehadirannya dengan baik. Sorot matahari yang tidak mampu mengalahkan hawa dingin saat ini menerpa kulit wajahnya yang putih.
Jadilah Sakura dan Ino bermain-main dengan salju di halaman.
.
.
.
Tidak terasa mereka sudah bermain lebih dari dua jam. Sekarang mereka sedang duduk-duduk di halaman belakang rumah. Wajah mereka kelelahan walaupun begitu mereka tidak berkeringat. Begitu Sakura melihat pohon sakura tempat ia bertemu dengan Sasuke, ia segera berlari ke sana. Berdiri di sana, memandanginya. Tentu saja itu memunculkan rasa heran di benak Ino.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Ino heran mendapati gadis itu berdiri menengadah memandang pohon sakura yang kering kerontang, dahan-dahannya tertimpa salju yang putih bersih.
Sakura menoleh sebentar ke arah Ino, tersenyum malu. "Tidak. Hanya saja saya teringat akan seseorang."
Senyum menggoda langsung terpatri di bibir Ino. Ia lalu menyenggol bahu Sakura, menggodanya. "Siapa? Apa dia orang yang istimewa bagimu?"
"Ya. Sangat istimewa," jawabnya sambil mengangguk, lalu menghela napas. "Mungkin kau tidak akan percaya. Tapi orang istimewa itu adalah Sasuke-sama."
Mata Ino membelalak. "Uso! Bohong! Bagaimana mungkin?"
Sakura hanya membalasnya dengan senyuman misterius. "Segalanya bisa terjadi."
Gantian Ino yang menghela napas, panjang sekali. Ia menengadah memandang langit yang mulai menjingga. "Aku jadi iri kepadamu."
Kepala Sakura miring ke arah Ino mendengarnya. Apanya yang ada di dirinya yang bisa membuat gadis pirang ini iri? Semua orang juga tahu bahwa Ino bisa membuat siapapun iri karena kebaikan, kecantikan, dan kerendahhatiannya. Lalu karena Sakura tidak membalas apa-apa, Ino melanjutkan ceritanya.
"Aku menyukai seseorang. Dia juga seumuran dengan Sasuke-sama. Dia begitu baik padaku. Walaupun begitu, dia itu sangat pemalas dan sangat membenci dengan hal-hal yang merepotkan. Aku sudah jujur padanya bahwa aku menyukainya, tapi ia selalu menganggapku sebagai anak kecil saja."
Sakura mengerti. Cinta beda umur memang terkadang menimbulkan masalah.
"Dan malah sekarang kudengar ia sedang menyukai orang lain…" Ino menggamit tangan Sakura, menuntunnya untuk pergi dari situ. "Di sini mulai dingin. Aku tidak boleh lama-lama di sini. Berikan salamku untuk Hinata-nee-chan, ne?"
"Wakarimashita. Saya mengerti." Sakura mengangguk lalu mengantarkan Ino ke tempat Anko-san sedang duduk berbincang dengan seorang pengawal dan kemudian mengantarnya ke depan gerbang. Gadis pirang itu melambaikan tangannya, berkata ia akan datang kembali lain kali, dan Sakura hanya membalasnya dengan senyum sambil mengangguk.
.
.
.
Fugaku Uchiha sedang sangat pusing sekarang. Walaupun semua orang mengira ia adalah seorang raja yang sangat dingin, namun sebenarnya ia adalah raja yang mementingkan rakyatnya melebihi apapun, bahkan keluarganya sendiri. Ia tahu sedang ada yang tidak beres di kerajaan ini. Ia bisa merasakannya dengan berbagai permasalahan yang sedang terjadi akhir-akhir ini. Ekonomi yang merosot karena gagal panen dan penimbunan oleh para pedagang besar. Ia bukan raja yang bodoh. Ia telah menyuruh orang untuk mengamati apa yang sedang terjadi, dan ternyata gagal panen disebabkan karena banyaknya serangga dan hama yang sengaja disebarkan. Lalu sepertinya, menurut survey secara paksa, para pedangan itu memang disuruh untuk menimbun barang dagangan.
Dan bukan itu saja. Dari segi keamanan, akhir-akhir ini juga sering ada serangan misterius di beberapa titik. Kerajaan ini memang terkesan masih menutupi kasus ini, tapi sebenarnya ia sedang sangat khawatir.
Dan sekarang, anaknya yang masih tersisa, menolak untuk menikah ataupun dijodohkan. Padahal ini adalah pernikahan yang sangat penting. Ia sudah cukup tua untuk tetap mengurusi kerajaan, saatnya ia melengserkan tahta ini untuk Sasuke. Namun sayangnya, sifat keras kepala Sasuke, yang ia sadari menurun dari dirinya, menolak untuk dijodohkan.
Fugaku Uchiha menghela napas. Andaikan saja Itachi, anak sulungnya yang lebih bersifat dewasa, ada di sini, mungkin ini tidak akan sesulit ini. Itachi adalah anak yang sangat cerdas. Ia cepat belajar. Ia anak kebanggaannya. Buah hatinya dari wanita yang awalnya tidak pernah ia cintai.
Mikoto Uchiha adalah permaisyurinya. Ia tidak mengenal apalagi mencintai wanita ini, setidaknya pada awalnya. Ia telah meninggal sekarang, dan meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi Itachi dan juga dirinya. Bisa dibilang, meninggalnya Mikoto Uchiha, wanita kalem dengan kasih sayang yang besar itu, karena kesalahannya.
Ia terlalu sibuk mengurusi kerajaan. Dan ia juga sibuk dengan selir-selirnya. Ia juga terlalu menuntut akan kesempurnaan anaknya. Mikoto Uchiha meninggal dalam kesepian. Dan semenjak itu Itachi menolak untuk menjadi putra mahkota. Ia tidak ingin mengikuti jejak ayahnya. Ia tidak ingin menjadi raja. Ia tidak ingin mengabaikan keluarganya kelak. Selain itu, ia sudah muak akan tuntutan ayahnya agar ia sempurna. Ia lelah akan berbagai hukuman yang ia terima jika ia melakukan sedikit saja kesalahan. Ia tidak tega akan raut kesedihan ibunya kala membelanya yang sedang dimarahi Fugaku. Ia muak akan itu semua.
Tapi selamanya penyesalan selalu datang terlambat. Dan harapannya satu-satunya, Sasuke, malah seperti ini. Tidak. Dia tidak akan membiarkan Sasuke mengikuti jejak Itachi. Siapa yang akan menggantikan dirinya jika Sasuke juga memutuskan untuk pergi? Apalagi ini hanya karena masalah wanita. Ia tahu ia harus melonggarkan dirinya sendiri untuk anaknya.
.
.
.
Jenuh adalah hal buruk yang biasa melanda seseorang. Dan sekarang rasa itu sedang melanda Uchiha Sasuke. Ia hanya duduk-duduk di luar kamarnya, memandang bintang yang tidak banyak menampakkan dirinya. Mengingat perkataannya tadi pagi menyadarkan dirinya jika sepertinya ia lumayan keterlaluan. Ia tahu bahwa topik Itachi adalah topik yang tabu untuk dibicarakan dengan ayahnya. Bahkan seluruh negeripun mengira jika Itachi pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu, bukan kabur. Tapi Sasuke sadar bahwa ada kalanya ayahnya harus diberi sedikit pelajaran.
Terima kasih untuk Sakura yang secara tidak langsung memberinya keberanian untuk mengatakan hal tersebut pada ayahnya. Ah, ia jadi merindukan gadis itu. Ia ingin melihat caranya meremas kimononya dan caranya berbicara serta ingin memandang matanya yang hijau menakjubkan. Selama ini ia tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada seorang wanita. Ia tidak pernah membayangkan wanita sampai ke kamarnya. Tapi gadis ini, gadis yang baru ia kenal selama beberapa hari, sudah mampu menyita perhatiannya. Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia lihat dari gadis itu. Padahal, yang terburuk, gadis itu tidak jelas asal-usulnya dan ia adalah seorang geiko.
Pemikiran ini cukup membuat Sasuke penasaran untuk menemui gadis itu esok hari.
Maka dari itu saat pagi datang menjelang, ia bergegas bersama para pengawalnya dan pedang di tangan menemui Sakura yang ada di kediaman Naruto. Kebetulan pagi itu dia belum terlalu dijejali bermacam-macam kegiatan. Karena kebetulan kediaman Naruto hanya berjarak kira-kira tiga puluh menit jalan kaki, ia memilih untuk menaiki kuda saja. Dan ia juga tidak berniat untuk menaikinya dengan kecepatan penuh.
Namun secara samar ia mendengar seseorang, dua atau tiga orang mungkin, sedang berbicara dengan gaya yang santai. Mungkin untuk membunuh waktu karena dari semalaman telah terjaga. Sasuke melambatkan jalannya, sedikit menyembunyikan dirinya ke pinggir jalan yang tak terlihat pintu gerbang karena ia tertarik akan pembicaraan para penjaga itu yang sekilas menyebutkan pemberontakan dan Klan Hyuuga. Ia tahu jika Sasuke menampakkan dirinya, para penjaga itu akan sungkan untuk melanjutkan percakapannya. Kemudian Sasuke sedikit berhenti dan menyuruh penjaganya yang masih ada jauh di belakang untuk berhenti.
"Aku tidak terlalu mendengarnya dengan jelas, tapi mereka bilang, Klan Hyuuga akan mengadakan kudeta!"
"!"
"Kau jangan asal bicara. Mana mungkin begitu? Klan Hyuuga adalah klan yang sangat terhormat!"
"Lalu apa pengaruhnya?"
Cukup. Sasuke memutuskan untuk menggerakkan tangannya, menyuruh pengawalnya untuk menjalankan kudanya, lalu penjaga gerbang otomatis bungkam saat Sasuke lewat di hadapan mereka dengan wajah tanpa ekspresi, malah terkesan menahan sesuatu. Penjaga itu hanya mampu untuk mengucapkan selamat pagi, tidak berani menerka apakah Sasuke mendengar percakapan mereka tadi atau tidak. Walaupun mereka yakin jika suatu saat, Putra Mahkota mereka, cepat atau lambat, akan mendengarnya sendiri.
Sepanjang jalan tentu saja Sasuke memikirkan perkataan para penjaga gerbang istana tersebut. Berpikir apakah itu benar atau tidak. Selama ini, Neji ataupun Hinata tidak pernah berbicara akan hal semacam itu. Apakah mungkin diam-diam di belakangnya, Neji berkhianat padanya? Melakukan kudeta? Yang benar saja? Apa alasan Klan Hyuuga, klan dengan jumlahnya yang banyak, melakukan kudeta? Menurutnya, setidaknya sejauh ia melihat, tidak ada yang salah dengan klan Hyuuga dan begitupula Klan Uchiha sehingga mereka ingin melakukan kudeta.
Saat sampai di kediaman Naruto, yang tentu saja disambut dengan hangat dan terhormat, Sasuke segera turun dari kudanya. Bertanya pada salah satu pelayan di mana keberadaan Hinata. Dan wanita itu datang dengan langkahnya yang pelan sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Sasuke-sama? Naruto-kun kebetulan masih tidur. Biar saya panggilkan sebentar—"
"Tidak. Bawa Sakura kemari!" perintahnya dengan nada yang sedikit naik. Bukan terdengar marah, tapi sedikit buru-buru.
"Oh, baiklah." Hinata tidak mengerti apa yang terjadi sehingga Sasuke terkesan buru-buru seperti itu. Tapi ia yang melihat Sakura ada di balik punggung Sasuke, sepertinya gadis merah jambu itu tidak menyadari keberadaan mereka karena ia sedang berjalan sambil menunduk dan membawa nampan kosong. Hinata tersenyum lalu melambaikan tangannya, menyuruh Sakura untuk mendekat. Isyarat tangannya menyuruhnya untuk meletakkan nampan kosong itu di sembarang tempat. Sasuke yang melihat gelagat Hinata otomatis menengok ke belakang. Dan segera ia melihat Sakura dengan kimono berwarna merah muda pekat datang mendekat ke arahnya. Rambutnya yang digerai sedikit bergoyang. Baru kali ini Sasuke melihatnya dengan rambut digerai.
Cantik sekali.
"Kau bisa meninggalkan kami berdua," kata Sasuke kepada Hinata sebelum Sakura benar-benar sampai di hadapan mereka. Hinata mengangguk mengerti lalu bangkit berdiri. Setelah Sasuke sampai di hadapannya, ia mengajak Sakura untuk masuk ke sebuah ruangan tak terpakai yang ada di samping mereka, mengingat mereka memang sedang duduk di samping ruangan yang memanjang berderet-deret.
Sakura sadar diri untuk menggeser pintu agar tertutup.
Sekarang mereka duduk berhadapan. Sasuke duduk bersila, bersedekap. Pedangnya ia letakkan di sampingnya. Matanya memejam sesaat sebelum berkata.
"Aku merasakan firasat buruk jika kau tetap di sini. Aku ingin kau pindah dari sini."
Sakura menatap Sasuke tidak mengerti.
"Ini masalah negara."
Sakura berpura untuk mengerti.
"Kau akan tinggal di… kediaman Yamanaka. Ada seorang gadis seumuranmu di sana. Kau akan menyukainya."
Mata Sakura segera berbinar. Ia tersenyum sambil menengadahkan wajahnya ke arah Sasuke. "Ah, sungguh suatu kebetulan. Kemarin Ino-chan datang ke sini untuk menemui Hinata-nee-chan. Namun karena Hinata-nee-chan sedang istirahat karena sempat mual-mual, akhirnya Ino-chan memutuskan untuk bermain-main dengan hamba. Kemarin kami bermain lempar salju dan membuat boneka salju. Hasilnya memang tidak terlalu bagus, tapi hamba sangat menikmati saat-saat bermain kami. Hamba akan senang sekali bisa tinggal dengannya, namun akan sedih sekali karena akan meninggalkan Hinata-nee-chan…" Lalu tiba-tiba Sakura menyadari akan dirinya yang mudah terbawa akan suasana sehingga mulutnya tidak berhenti bicara. Ia buru-buru menundukkan wajahnya, sedikit memiringkannya ke belakang, saat ia merasa ada elusan di kepalanya dan suara tawa tertahan.
"Kau memang benar-benar masih anak-anak." Kata Sasuke membuat Sakura mendongak sehingga ia bisa melihat wajah Pangeran itu sedikit memarah menahan tawa. "Bagus kau sudah berteman dengan Ino. Dan kau juga sudah berteman baik dengan Hinata. Mereka orang-orang yang baik."
Sakura mengangguk setuju. Senyum merekah di bibirnya. Dan entah mengapa Sakura bisa merasakan pemuda dewasa di hadapannya sedang tertegun sekarang.
Lalu dengan pelan, Sasuke memajukan tubuhnya di hadapan Sakura yang duduk tersimpuh. Setelah cukup dekat, ia mengangkat lutut kanannya dan tangan kananya menyingkirkan helaian rambut Sakura yang jatuh di wajahnya. Sakura seakan hendak berhenti bernapas. Bibir merah mudanya sampai tidak bisa menutup dengan sempurna karena saking terkejutnya. Wajah Sasuke-sama terlihat begitu dekat dengan wajahnya. Dan itu benar-benar membuatnya berdebar tidak karuan.
Oh, bahkan hembusan napas Sasuke terasa di wajahnya sekarang.
Tetapi tidak ada hal yang terjadi. Sasuke malah menundukkan wajahnya, seraya jempolnya terus mengelus pipi Sakura lembut.
"Aku berpikir apa sekarang kau mulai menyukaiku…" kata Sasuke lirih. Matanya menatap sekilas ke mata hijau Sakura, membuat gadis kecil itu gugup. "Jangan kau pikir aku merasa aman karena aku anak raja. Setidaknya, aku ingin kau menyukaiku juga. Aku tidak ingin hanya kau mau bersamaku karena aku calon raja di negeri ini."
Sakura terdiam, menikmati belaian Sasuke pada pipinya. "Entahlah, Yang Mulia. Hamba tidak terlalu mengerti akan hal itu. Akan tetapi, sering jika hamba sedang sendirian, atau jika hamba melihat pohon sakura yang ada di belakang rumah, hamba merasa Sasuke-sama begitu dekat dengan hamba. Dan itu membuat hamba merasa hangat, aman, dan nyaman. Apalagi saat hamba menerima surat dari Yang Mulia. Hamba gembira bukan kepalang. Ada pula saat-saat di mana hamba merasa sangat merindukan Yang Mulia…" Dan Sakura merasa usapan jari di pipinya berhenti.
Jujur, Sasuke sedikit terpana akan kata-kata Sakura yang mengalir bagaikan air. Gadis itu mengaku dengan sangat jelas dan gamblang. Tidak ada keraguan lagi. Gadis ini memang sudah jatuh cinta padanya. Dan ia bangga karena bisa membuat gadis ini merasakan hal yang sama pula dengannya.
Sebuah senyum yang sangat tipis, hingga malah terlihat seperti seringai, muncul di bibir Sasuke. Ia mengangkat kepalanya sehingga sekarang wajah mereka berhadapan sejajar. Semburat merah muda otomatis muncul di pipi tembem Sakura, dan itu terlihat menggemaskan sekali.
Sasuke menempelkan bibirnya di dahi Sakura yang cukup lebar dari ukuran rata-rata dahi milik orang lain. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan itu. Sensasinya sangat aneh, namun menyenangkan.
"Sekarang kau bersiap-siap. Seseorang akan menjemputmu untuk pergi ke kediaman Yamanaka. Kau adalah pelayan pribadi Ino. Mengerti?"
Gadis itu mengerti sepenuhnya, dan percaya sepenuhnya akan kata-kata Sasuke.
.
.
.
TBC
Uwaaah terima kasih banyak atas review dan concirt kalian. Oiya, kalau ada yang memperhatikan, di chap pertama, di disclaimer di tulis Soba Ni Iru. Haha #garuk-garuk kepala. Itu judul awal sebelum saya ganti jadi judul yang sekarang. Saya lupa ngedit, tapi malah udah kepublish. Berhubung saya newbie, saya gak tahu buat ngeditnya lagi gimana. #bantuin saya...
Sslove: Iya, itu yang the moon embraces the sun. tapi sekarang saya gak pernah ngikutin dramanya, nih. Biasa orang, sibuk. #ditoyor. Maaf, ya, gak bisa update kilat. Mau review lagikah?
Miyank: Uwooo, saya juga dengan lelaki dewasa, bukan Cuma versi Sasuke dewasa. Happy Ending? Kasih tau gak, ya? Kasih tau, gak ya? #eheheh. Makasih udah review. Mau review lagikah?
Mey Hanazaki: Iya, makasih ya pujiannya…#jadi malu. Mau review lagikah?
Y0uNii D3ViL: Iya, ini lanjut. Amin, amin. Mau review lagikah?
Lrynch Fruhling: Kyaaa, makasih senpai atas pujiannya. (^^)a. oiya. Terima kasih. Mau review lagikah?
Maya Kimnana: Uwaaa, ayo semangat bikin ficnya. Mari ramaikan FNI dengan fic yang bermutu! #moga-moga fic saya termasuk yang bermutu… Mau review lagikah?
elang-hitam: Makasih komennya. Jelas fic ini masih buanyak kekurangan. Mau review lagikah?
Quinza'TomatoCherry: Wah, makasih sudah dibookmarkin. Makasih udah muji fic saya. Moga kali ini feelnya juga dapet. Mau review lagikah?
Reader: Makasih. Ini udah lanjut. Mau review lagikah?
Neerval-Li: Iya, nih. Cuma ambil setting kerajaannya dan akhirnya juga beda juga. #gak pernah nonton lagi. Eheh…^^a Mau review lagikah?
hiruma hikari: Uwaah, kamu kritis sekali. Kasih tau gak, ya? Ehehe, ini udah lanjut. Mau review lagikah?
.
.
.
YOsh! Review, yak?
