Maaf kalau updatenya lama -.- tapi yah, ini dia… chapter 2!
Disclaimer: Len, Rin dan Miku milik Crypton. Lagu dan garis besar cerita karya Hitoshizuku-P. starfingers hanya membuat interpretasinya :)
#2: Paradoks Berlapis
Malam yang berselimut angin
Menutupi dingin
Kota bersalju bening
Telapak tangan yang terangkat
Salju yang meleleh di antara jari-jari
Bagai serpihan jiwa
Len mendesah, membuat sebuah gumpalan kabut kecil terbentuk di hadapannya. Udara musim salju kali ini begitu dingin, membekukan segala sesuatu dalam pandangannya. Serpihan salju turun tanpa henti dari langit kelabu. Es terbentuk dimanapun hawa beku dapat menemukan air.
Jejak kaki di belakang Len, yang sekarang mulai tertutup oleh kapas-kapas putih, menunjukkan bahwa ia baru saja keluar dari gedung pertunjukan Diva. Fakta bahwa Len telah kehilangan teman panggungnya tidak menghalanginya untuk tetap menyanyi untuk mendapat penghasilan. Ia telah menempuh jalan kembali tanpa Rin selama 2 setengah tahun terakhir. Tapi tetap saja tak pernah terlintas dalam kepalanya rasanya akan sesepi ini berjalan pulang sendiri.
Salju masih terus turun, menyapu ujung hidung Len. Pemuda itu menarik nafas panjang dan menghirup cepat hawa dingin yang pedas dari sekelilingnya. Angin yang melintas pelan menyapu rambutnya, mendesis pelan di telinganya. Suasana yang menenangkan bila dirasakan dengan pikiran jernih.
Sayang, butiran segi enam dari awan tidak mampu mendinginkan hati Len. Kepalanya panas bila memikirkan kembali percakapan setelah pertunjukan. Obrolan yang bermakna, sesungguhnya. Tapi bukan di saat yang tepat. Topik yang menohok hatinya tiap kali terlintas kembali.
Tidakkah kau sedikit berlebihan?
Miku yang sering berkata tanpa berpikir terlebih dahulu. Miku dengan otak yang tangkas dan cepat. Miku yang menjadi teman terdekatnya sesudah Rin.
Kadang, apa yang dikatakan gadis berambut biru kehiijauan itu benar, kritis, dan jujur…
Kau yakin yang kau lakukan selama ini sudah tepat, Len?
…tapi kadang, Len hanya ingin dia menutup mulutnya.
Len, aku juga sayang padanya, tapi…
Tapi apa? Apa yang Len lakukan selama ini tidak cukup untuk Rin?
…aku takut dia tersinggung tentang apa yang kau telah lakukan padanya.
Tersinggung? Bagaimana caranya? Len tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Yang dikatakan Miku bagai sebuah paradoks bagi kenyataan. Dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk Rin. Termasuk membiarkannya tetap bekerja ringan di rumah dengan cara menulis lagu untuk para Diva.
Itu dia masalahnya, Len. Kau menganggap itu yang terbaik – walaupun aku juga tak membantah hal itu – tapi caramu mengutarakannya terdengar seperti kau keberatan!
Keberatan… tidak juga. Walaupun sebenarnya Len lebih suka Rin tidak mengerjakan apa-apa di rumah dan beristirahat.
Rin itu keras kepala dan mandiri, Len, baik kau dan aku tahu hal itu. Dia sudah hidup sendiri selama lebih dari, berapa? Empat atau lima tahun? Yah, tapi intinya, aku tak yakin dia ingin kau terlalu memperhatikannya seperti sekarang.
Apa alasannya ia tak ingin? Miku membuatnya frustasi. Saat gadis itu mengeluarkan kalimat terakhir, ia terdiam, mengernyitkan alisnya. Ia merasa ada sesuatu dalam kepalanya yang mulai terbakar.
Aku tahu kau sayang padanya, Len, karena lagipula, kau memang pernah memberitahuku kalau kau memang su-
Len mempercepat langkahnya kesal. Pipinya seperti tersengat. Wajahnya memerah, tapi lalu ia menggeleng, mencoba melupakan satu kata di ujung bibir Miku. Itu bukan waktu yang tepat untuk membicarakan, atau mengingat, rasa terpendamnya selama setahun ini.
Sebaik apapun dia terhadap Len, Miku tidak punya hak untuk mengatur. Miku tidak punya hak untuk mencecarnya. Ha, kalau memang dia peduli, menengok Rin ke pondoknya saja jarang.
Aku sebenarnya ingin sekali bertemu lagi dengannya, Len, tapi kau tahu rumahku ada di arah yang berlawanan-
Padahal rumah Len lebih jauh lagi.
-tapi aku tetap ingin menolongnya sebagai sahabat, dengan cara memberimu saran.
Saran yang tidak membantu Len sama sekali. Miku menganggap Len overprotektif, tapi Len merasa tindakannya masih kurang.
Yang mana yang benar? Perasaan manusia begitu ambigu, begitu subjektif, dan karena itu nyaris tidak ada yang bisa memastikan pandangan dari masing-masing individu. Banyak perlakuan Len yang dianggap Miku tidak perlu, seperti mengambil beberapa pekerjaan sekaligus di banyak tempat, dan tidak membolehkan Rin untuk pergi kemana-mana dengan alasan tubuhnya terlalu lemah untuk itu.
Sementara, Len menganggap mengambil kerja tambahan sebagai penjaga toko kelontong sepupunya dan membantu pengrajin tukang kayu pada siang hari itu perlu untuk membantu menyambung hidup Rin. Kemudian, fakta bahwa Rin itu buta dan lumpuh membuatnya tak tenang saat membiarkannya keluar sendiri, walaupun rata-rata penduduk desa mengenalnya dan tak segan-segan untuk membantunya. Len tahu Rin tidak selemah itu, tapi dia juga sadar Rin tidak sekuat kelihatannya.
Saat Len mengatakan alasannya dengan menahan diri agar nada bicaranya tidak terlampau berubah keras pada Miku, gadis itu justru menjawab,
…Aku tidak bisa membantahmu, Len. Tapi pastikan hal yang satu ini: Saat Rin mengetahui alasanmu, apa Rin akan berbalik menyukaimu, atau malah akan tersinggung?
Len ingat saat dia pamit karena sudah lelah, mengatakan terima kasih pada Miku, dan membanting pintu keluar.
~o0o~
Salju semakin deras turun saat Len membuka pintu depan pondok Rin. Len menyibak tirai jendela dan menyadari awan gelap di kejauhan bergulung mendekat. Sepertinya malam ini akan ada badai, yang berarti dia tidak bisa berlama-lama kalau ingin bisa pulang tanpa membeku atau hilang ditelan salju.
Ia mengedarkan pandangannya ke isi rumah sahabatnya. Ruangan utamanya – yang termasuk kecil untuk ukuran sebuah rumah – tak mengandung banyak barang, membuatnya merasa leluasa untuk berjalan dan membereskan tasnya di atas meja makan. Bagian dalam pondok itu hangat, mengirimkan rasa nyaman ke sekujur tubuh Len setelah berjalan selama setengah jam di bawah salju. Kemudian, Len menyadari denting pelan piano yang menggema. Mungkin suara angin yang bersiul di celah pintu-lah mengapa ia tak segera sadar Rin sedang mengalirkan jarinya di alat musik itu.
Sahabat baiknya itu sedang mencoba memainkan pianonya di dekat perapian, dengan mengandalkan hanya kedua telinganya. Bola mata biru yang memandang ke ruang kosong sesekali mengernyit saat jemari tak menekan tuts yang benar. Len tak mengenal lagu yang sedang Rin coba mainkan. Nada-nadanya sedih, begitu dalam, dan entah kenapa…
Pemuda itu menggigil. Alunan irama tersebut serasa menerjang masuk ke lubuk hatinya. Warna musik tersebut kelabu, biru, bagai melukis suasana di balik dinding kayu. Rasa sedih yang menyesakkan menyeruak masuk ke dadanya. Sesaat kemudian hatinya tergetar lagi, karena Rin kini memainkan nada yang lebih terang. Tidak dimainkan dengan lancar, namun Len tahu bagian ini mengenai sebuah harapan.
Len menarik sebuah kursi dari meja makan ke samping kursi piano Rin. Setelah melepas sarung tangannya, ia menyentuh halus dahi Rin, merasakan suhunya. "Sudah sembuh?"
Merasakan telapak tangan Len di atas alisnya, Rin berhenti bermain. Meraihnya, ia menggenggam tangan Len dan menariknya turun dengan pelan. "Tanganmu dingin."
"Agak berangin di luar."
"Salju turun lagi?"
"Ya."
Rin melepas genggamannya. "Kau mendengar lagu tadi?"
Suaranya masih jernih, bening seperti air yang mengalir. Kesempatan masih ada sebenarnya untuk suara itu bisa tampil kembali di panggung megah para Diva, walaupun dengan jam kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Tapi Rin menolak tawaran itu dengan dukungan penuh dari Len. Gadis itu merasa kurang suka bekerja setengah-setengah, dan memilih untuk menulis permintaan lagu di rumah.
"…Aku tidak ingat mereka meminta lagu bernuansa sedih."
"Memang tidak." Alisnya turun dengan murung, tapi Rin tersenyum misterius. Sulit untuk membaca perasaannya tanpa melihat ekspresi mata. Pandangan hampa itu sekarang mengarah ke pedal piano, berkedip seperti tanpa arti.
"Kau tahu, tadi Miku menitip salam untukmu," jawab Len, mengganti topik. Membicarakan improvisasi piano Rin tadi membuat Len merasa tidak nyaman. Rin terlihat agak tertekan memainkannya, tapi pada saat yang sama ia juga terlihat meresapi emosinya. Emosi yang tidak diketahui Len, yang anehnya terasa sangat...dekat dengannya.
Di satu sisi, Len memuji Rin akan bakatnya menciptakan alunan nada dengan emosi yang dalam, pekat, membingungkan, tapi masih memiliki makna – paling tidak sepertinya. Tapi di sisi lain, ia merinding. Rasanya seperti Rin membagi, tapi juga sekaligus menyembunyikan perasaannya. Terlalu sulit baginya menafsirkan maksud lagu tersebut.
"Hmm. Miku jarang datang akhir-akhir ini."
"Oh, mungkin karena rumahnya jauh," tanggap Len, teringat percakapan mereka berdua sebelumnya. Tanpa sengaja Len menekankan bagian terakhir, dan Rin mendengarnya.
"Miku tidak seburuk itu, Len," jawab Rin, menebak pikiran Len. "Dia hanya terbiasa bicara tanpa basa-basi."
"Apa hubungannya dengan letak rumahnya?"
"Entahlah. Tapi, yah, kau bermaksud menyindirnya, bukan?"
"…Ya. Tapi yang barusan itu tidak berhubungan." Len menarik napas panjang. "Ada yang bisa kubantu sebelum aku pulang? Kelihatannya sebentar lagi akan ada badai."
Hening lama menyertai ucapan Len. Khawatir terlihat di wajah Rin, ragu menyelimuti dada Len. Apa sebaiknya dia tidak bertanya? Rin kelihatannya ingin dia tinggal lebih lama, dan bukannya Len menolak. Hanya saja cuaca tidak mendukungnya.
Len baru saja ingin membatalkan ucapannya ketika Rin beranjak bicara.
"Len?"
"Ng?"
"Bantu aku menulis lirik untuk lagu tadi. Kau masih bisa pulang cepat dengan begitu."
Len menggelengkan kepalanya. "Mengarang lagu makan waktu cukup lama."
"Tidak juga. Kau sudah mendengar kord dan nada-nadanya. Tinggal memasukkan kata."
"Lagipula, katamu itu bukan pesanan Diva."
"Memang bukan, Len, tapi ini penting bagiku. Kau lebih bagus dalam mencari ungkapan dan metafora. Bantulah, aku janji takkan lama."
Lebih bagus… Ini di luar kebiasaannya. Meninggalnya kedua orangtua Rin mengimbaskan sifat mandiri dalam dirinya, yang masih berlanjut sampai sekarang. Bukan hal yang sering bagi Rin untuk meminta bantuan orang lain dalam hal-hal yang sebenarnya sudah dia kuasai. Perubahan mendadak yang membuat Len penasaran. Kenapa Rin sampai memintanya membuatkan lirik, padahal dia sudah berpengalaman hingga beberapa tahun? Apa sebenarnya arti tersirat dari lagu tadi? Biarpun nada-nada lagu tadi membuatnya merinding, Len tetap ingin tahu, dan tanpa sebab yang jelas, ia punya perasaan bahwa ini takkan sia-sia.
"…Kalau kau memang ingin begitu, baiklah." Jawab Len pada akhirnya. Ia bangkit untuk meraih tasnya. Sambil mengeluarkan sehelai kertas dari dalam tas selempangnya, ia bertanya, "Tentang apa lagu ini?"
Rin yang sedari tadi menunduk ke arah tuts piano mengangkat kepalanya ke arah Len. Sepasang bola berwarna biru pucat itu kosong, namun entah kenapa bisa menatap dengan tepat sejajar dengan mata Len yang berwarna sama. Air mukanya berat, sisa kesedihan lagu tadi.
"Aku… aku ingin berbagi denganmu. Kita sudah bersama sejak kita baru bisa berjalan, dan kau juga sudah menemaniku sebagai Diva dan…sahabat sejak lama. Aku hanya merasa tidak enak, kau telah berbuat sangat banyak - "
"Kau tahu aku mengerjakannya tanpa pamrih. Semuanya hasil keinginanku sendiri." potong Len. Rin benar-benar menunjukkan wajah bersalah, dan Len tidak menginginkan itu. Yang ia inginkan adalah Rin selalu tertawa, selalu ada sebagai sahabatnya, dan malah kalau bisa sebagai…
Rin menimpali, "Ah…ya, aku hanya tidak tahu… Bagaimana mengatakannya, ya? Aku ingin bisa melakukan sesuatu berdua lagi, melakukan sesuatu bersama, agar kau tidak merasa harus selalu berkorban dan berbuat untukku."
"Rin, ini - "
" – Lagu tentang kita. Aku ingin membuat lagu tentang kita, Len."
*phew* Akhirnya rampung jugaa~!
Lagi dikejar UAS nih, PR dan ulangan juga entah kenapa ditumpuk di akhir semester… #curcol – ya, saya tahu ini out of topic :/
Anyway, itu alasan update lama. Maaf kalau klise, tapi memang bener kok. Untung nggak ditambah dengan hantu bernama writer's block, bisa tambah lama kalau begitu -_-
Kali ini lebih banyak percakapan dibanding yang sebelumnya. Kalau agak maksa tolong dimaafkan, saya rasanya lebih bagus membuat deskripsi, dan penokohan juga baru belajar, ahahaha :)
Apa yang akan terjadi sesudahnya? Kenapa tiba-tiba nggak nyambung dengan lagu aslinya? Harap bersabar, semua akan dijelaskan di chapter berikutnya (dan berikutnya lagi) karena sepertinya akan jadi lumayan panjang. Whoa, padahal lagunya masing-masing hanya 5 setengah menit, tapi yaps, saya sudah merencanakan sampai sejauh itu.
Thanks untuk semua yang udah me-review! Benar-benar memotivasi saya, kalau bisa tolong review yang ini juga ya ^^ chapter 3 akan sedikit lebih panjang dari ini, will be updated as soon as possible!
-Hoshi*
