Huaaa, UAS membendung jalan saya! Tapi itu sudah selesai, jadi… *eheherm* langsung saja, chapter tiga!
Disclaimer: karakter Len, Rin, Miku milik Crypton. Cerita memang tulisan starfingers, tapi terinspirasi dari lagu yang luar biasa menyentuh karya Hitoshizuku-P.
#Chapter 3: Ironi dalam Melodi
Rin belum pernah merasa seperti ini dalam hidupnya. Rasanya seperti semua jiwanya tertuang dalam sebuah sonata. Mungkin ia pernah membuat lagu tanpa penglihatan, dan mungkin dia pernah memainkan piano hanya dengan insting jarinya. Tapi belum pernah ia membuat lagu yang benar-benar merupakan curahan perasaannya saat ini.
Ia sedang duduk di kursi kayu di samping Len. Sahabatnya itu baru saja memperdengarkan hasil final improvisasinya atas lagu Rin. Gadis itu menggenggam ujung kursinya erat-erat karena mendengar suara angin badai di luar yang baru saja mencakar dan berderit di antara sela kayu. Tak berfungsinya indra penglihatan membuatnya cukup tidak tenang di saat-saat seperti ini, karena suara sehari-hari dapat diinterpretasikannya dengan berbeda. Ingin rasanya ia mendengar kolaborasi suara pianonya dan Len yang menyanyikan lagunya tadi untuk mengalihkan perhatiannya.
Lagu yang sendu, namun mengandung harapan tinggi. Bukan berarti dia tidak tahu harapannya ini sangat sulit; dia hanya ingin percaya. Percaya pada tubuhnya sendiri bahwa keadaannya tidak mungkin bisa lebih buruk lagi. Percaya bahwa ia tidak akan kehilangan bakat dan kehidupannya dalam bermusik. Percaya pada Len.
Lagu ini tentang kita, Len.
Bila dipikir lagi, tepatnya hanya tentang Rin. Bagian Len hanya satu bait dan satu refrain di akhir. Sahabatnya itu sudah membuatkan lirik untuk lagunya dan memperbaiki sedikit aransemennya, dan hasilnya lebih dari perkiraan Rin. Dengan Len memainkan pianonya, mereka mencoba menyanyikannya berdua, dan Rin mengalami kesulitan membendung air matanya. Dengan susah payah, ia dapat menjaga kestabilan suaranya, tapi tetap saja matanya memerih dan nafasnya tercekat. Lagu ini benar-benar…nyata, menerjang habis perasaannya. Merenggut khayalan masuk ke dalam fakta.
"Kau tahu, ini… bagus sekali."
Rin dapat merasa sedikit keraguan dalam nada bicara Len. Mengapa? Ia tahu Len juga sangat tertarik dengan lagunya, lalu kenapa kedengarannya seperti ia terusik atau terganggu?
"Jujur, aku kaget kau memintaku memasukkan bagian ini." Len melantunkan bagian yang ia maksud.
Keg'lapan menyelimutiku
Kebisingan meninggalkanku
Ku merasa takut dan sedih,
Ku m'rasa sepi…
"Kebisingan tidak meninggalkanmu," lanjut Len. "Mungkin kau… tak dapat melihat, namun kau tidak tuli." Rin menggerakan tangannya, mencoba mencari bahu Len. Jemarinya menyentuh lengannya, dan sepintas ia merasa Len… menggigil?
Len menyentuh punggung tangan Rin. "Boleh aku minta lirik itu diganti? Aku tidak suka membayangkannya, lebih-lebih menyanyikannya..."
Rin menggeleng. Memang benar, siapa yang akan senang mendengarnya? Secara tersurat, memang tidak cocok, dan tidak ada yang berharap ketuliannya akan menjadi nyata. Tapi setiap kata memiliki makna. Baik harfiah atau kiasan, baik menyenangkan maupun menyesakkan.
"Tentu saja itu ungkapan, Len."
"Tak bisakah diubah?"
"Kau tak ingin mendengar alasanku dulu?"
"Yah..." Entah mengapa ada nada segan dalam suara Len. Andai Rin dapat melihat ekspresinya, ia dapat menebak perasaan Len dari air mukanya. Paling tidak, itu dulu…
"Maksudku adalah kebisingan di luar, Len. Aku sekarang tidak pernah mendengar keributan desa lagi… tepuk tangan dari para penonton… suara teman-teman kita para Diva…" Rin membayangkan alur jalanan pasar, ruang belakang panggung, dan wajah Miku. Setelah kegelapan selama dua tahun, memori visualnya semakin berkabut. Tapi gaung suara-suara umum itu tak bisa hilang dari pikirannya. Mereka lebih mudah untuk diingat bagi Rin, membuatnya semakin rindu.
"Bayangkan semuanya. Berapa lama aku tak mendengarnya? Sudah dua musim salju sejak saat itu… Kau mungkin tak bisa membayangkan betapa aku ingin ada di tengah-tengah 'kebisingan' lagi. Selama ini aku hanya mengandalkan ingatan. Tapi itu takkan pernah cukup…"
Suara ribut angin badai menelan suara Rin yang semakin lirih. Rin menengadah, walau pandangannya saat menunduk dan mendongak tak ada bedanya. Rin menggambar imej semua hal yang tak pernah ia lihat, rasa, dan dengar lagi dalam kepalanya. Emosi, keriuhan, cahaya, semua yang bisa ia panggil kembali terpampang dalam ingatannya.
"Aku ingin bisa keluar. Tapi yah, keadaan tidak membantuku, bukan?"
Memaksakan sebuah senyum, Rin menoleh ke arah yang ia rasa adalah tempat pandangan Len jatuh padanya.
"Tak sepenuhnya tersurat… tapi tak juga tersirat. Kau tahu gaya laguku." tambah Rin. "Karena alasan itu juga, aku ingin mempertahankan bait ini."
~o0o~
Seuai perkiraan Len, badai datang. Malahan, salju deras itu turun lebih cepat dari sangkanya, membuatnya tertahan di pondok Rin. Awalnya, ia ingin nekat menerjang badai, tapi akal sehat menyuruhnya untuk tinggal. Dia lelah, dan kegelapan, kecepatan angin, serta hawa dingin menggigit hanya akan membuatnya terombang-ambing dalam keburaman salju. Tak ada gunanya. Lebih baik ia diam beristirahat di rumah Rin dan menolong mengatur kayu bakar – walaupun tak bisa lelap karena tak ada kasur tambahan. Jauh lebih baik daripada tidur abadi di bawah lapisan putih salju.
Rin memintanya untuk membantu membuat lirik dan menuliskannya. Sesudah didiktekan garis besarnya, Len mengubah beberapa bait dan kordnya. Lagu itu selesai dengan cepat di tangan dua orang yang sudah berpengalaman itu. Tetapi…
Menghela nafas, Len membaca ulang catatannya. Kenapa rasanya sesak hanya dengan memfokuskan pandangannya di tulisan tangannya? Saat memainkan dan menyanyikannya, emosi yang berat juga merambat nyaris hingga batas, dan Len juga merasakan aura yang sama dari Rin. Keduanya terbawa jauh dalam lagu itu, yang bahkan belum rampung ataupun diberi judul.
Pada awalnya Len memang merinding saat mendengar nadanya. Bukan karena menyeramkan, justru karena begitu realistis. Setelah melihat liriknya, seharusnya Len bisa lebih tenang karena tidak merasa masuk dalam teka-teki lagi. Tapi beberapa bagian justru membuat perasaannya campur aduk.
Di satu bagian, ia senang. Ia merasakan harapan Rin, baik untuk masa depan dan kehidupannya dan untuk Len. Len juga benar-benar berharap perasaan Rin sama dengannya… Kadang pemuda itu merutuk dirinya sendiri karena belum bisa menyampaikannya pada Rin.
Di bagian lain… pemuda berambut pirang itu merasa tidak nyaman. Kebisingan meninggalkanku? Entah kenapa Len baru menyadari bagian itu saat memainkan pianonya. Mengapa Rin harus memasukkan pernyataan seperti itu?
Ia bertanya.
…Dan sayangnya jawaban Rin justru bagai menohok ulu hatinya.
Len merasa tersindir, karena Rin mengatakan secara tidak langsung betapa tinggal di dalam rumah membuatnya merasa terpenjara, sedangkan tanggung jawab untuk 'menahan' Rin ada pada dirinya. Ditambah lagi, ucapan Rin mengingatkan Len pada kritikan Miku sebelumnya.
Kau yakin…sudah tepat…?
Mengapa kebanyakan orang mempertanyakan keputusannya? Mereka tidak pernah sadar. Yang mereka tahu, Rin itu 'hanya' buta dan lumpuh, dan dalam kondisi itu, bukan berarti Rin tidak bisa melakukan apa-apa. Sedangkan Len, yang mengenal Rin sejelas melihat dirinya sendiri di cermin, tahu kondisi fisik Rin tidak memungkinkannya untuk bisa melakukan aktivitas lain seperti biasa. Pernahkah mereka memperhatikan dengan jelas cara Rin berjalan? Pernahkah mereka melihat tangannya yang kadang bergetar saat memainkan piano? Pernahkah mereka mendengar dengan seksama suaranya yang, walaupun tidak kentara, sedikit lebih serak dari dulu? Hal-hal kecil, ya, mungkin. Tapi tragedi besar datang dari apa yang tak terlihat.
Len merasakan frustasinya menggelegak. Haruskah datang satu lagi beban bagi logikanya? Masalahnya, paradoks ini memiliki banyak kebenaran di satu sisi. Ia tahu, Rin masih bisa beraktivitas seperti biasa asal tidak terlalu berat sehingga memicu tubuhnya untuk sakit. Ia tahu, walaupun Rin penyakitan, tapi ia tak selemah itu. Tapi kenapa mereka melihatnya seperti Len mengurung Rin? Bukankah tidak ada yang salah dengan mencoba melindungi orang yang kita sayangi. Atau…?
Remaja itu menghela nafas. Memikirkannya hanya akan membuat kepalanya panas lagi, dan karena itu ia mencoba untuk berhenti mengulang-ulangnya dalam hati. Berhenti mengambil pusing. Menghindar dari masalah, seperti pengecut.
…Lebih baik daripada membahayakan nyawa sahabat sendiri.
~o0o~
Kepala Rin menunduk letih di meja makan. Menepuk bahunya yang bersandar di punggung kursi, Len bertanya, "Sudah larut, Rin. Yakin belum mau tidur?"
"Hah?" Rin menyentakkan kepalanya kembali ke atas. Sesaat itu, ekspresinya seperti terkejut. Kemudian wajahnya kembali melemas, sebelum ia mengucek matanya. Ternyata tadi dia memang sudah terlelap. "Ah… Maaf… "
Len tersenyum. Selalu, sekacau apapun suasana hatinya saat itu, wajah Rin dapat membuatnya lupa mengindahkan badai di dadanya.
Tangan Rin meraba udara, mencoba mencari tongkatnya agar ia bisa berjalan untuk kembali ke tempat tidur. Namun Len meraih lengannya lembut dan mengembalikannya ke pangkuan Rin. Masih menunduk, gadis itu terlihat bingung, sebelum ia menyadari Len sedang berusaha mengangkat tubuhnya.
"Len-"
"Shhh." Rin bisa merasakan detak jantung Len persis di sebelah kanan atas kepalanya. Satu tangan Len meraih bagian bawah lututnya, dan satu lagi menopang punggung Rin. Otot lengan Len menegang saat mengangkat gadis di depannya, dan tak lama kemudian, Rin merasakan kakinya tak lagi menyentuh lantai.
Tanpa suara, Len menggendong Rin ke tempat tidurnya. Caranya berjalan bagaikan tak menginjak kayu di telapak kakinya. Seiring ia melangkah, tangannya berayun dalam sebuah gerakan konstan. Jujur saja, ia tak tahu apa yang terbersit dalam pikirannya sehingga ia melakukan ini. Ketika dipikir ulang, wajah Len sulit untuk tidak memerah. Waktu bagai berhenti mengalir saat semua rasa itu akhirnya dapat dicerna oleh otak, sensasi menggelitik turun di perutnya. Rembetan panas tertahan di pipinya saat rambut pendek Rin mengelus bagian dari tangannya. Len dapat merasakan suara darah yang terpompa di nadi masing-masing menggema seirama…
Rin menggenggam sweternya, membuat jantung Len bekerja dua kali lipat. Len tidak tahu apa pendapat Rin nanti, tapi tarikan di bajunya itu memastikan bahwa, yah, setidaknya Rin tak menolak.
Rin menyandarkan kepalanya ke dada len. Hangat tubuh mereka menyatu, dari sweter Len ke pipi Rin. Dinginnya udara tak lagi menggigit. Dalam hampa penglihatannya, Rin menjadi lebih peka terhadap situasi sekelilingnya, dan karena itu, segala perhatian Len padanya menjadi lebih terasa. Mulai dari tangan Len yang menahan punggung bagian atas, irama paru-parunya yang naik dan turun saat ia bernapas, dan ayunan yang dihasilkan saat Len berjalan. Membuat Rin terbuai lagi dalam kantuk…
Mantan Diva itu sudah setengah tertidur saat Len mulai menurunkan tubuhnya. Tangan Len melepaskan bebannya dengan berat hati, suhu Rin masih membekas di lengannya. Sambil menutupi leher gadis itu, Len memandangi wajah tenang di hadapannya. Ia dapat merasakan wajahnya yang memerah lagi sebelum tersenyum tulus, takjub betapa hanya dalam beberapa langkah menyeberangi ruangan dapat membuatnya merasa lebih baik.
Badai salju masih berlanjut di luar rumah. Ribut desingan angin saling bertumpukan, menenggelamkan keretak bara di perapian. Pemuda itu menambah lagi batu bara, dan setelah merasa cukup, ia berjalan menuju lemari kayu di pojok ruangan. Len mengambil sebuah selimut ekstra, dan membungkus tubuhnya di bawah kain tebal tersebut, ia duduk di kursi. Setelah menemukan posisi yang nyaman untuk menidurkan kepalanya di meja makan, ia mengerling satu kali lagi pada gadis yang tidur di seberang ruangan.
"Selamat malam… Rin." Len pun memasuki dunia mimpi, melupakan sementara semua emosi negatifnya, menunda untuk menyelesaikan masalahnya, tanpa ingat bahwa esok hari sebuah klimaks bisa saja terjadi…
Bukankah takdir adalah sesuatu yang tak bisa ditebak?
Rin, you're so darn lucky. I hate you :))
Ahem. Tentang cerita…
Tolong dimaklumi (atau dimaafkan?) kalau penokohannya Rin agak berbeda dengan chapter 1. Di chap 1 dia rendah diri (terutama terhadap Len) dan introspektif, sedangkan di chap 3 ini Rin seperti lebih memiliki harapan dan berkeinginan kuat. Itu karena di chapter 1 dia kondisinya sedang demam, sedang di chapter ini dia sudah membaik, dan moodnya memang sudah lebih bagus. Bisa begitu, atau memang karena authornya labil -_- tolong dikasih tau di review supaya saya bisa memperbaiki di chapter berikutnya!
Len menurut saya tidak ada masalah, dia masih seseorang yang berpendirian teguh, tidak suka dikritik, dan juga... penyayang dan gentle. Walaupun sepertinya hanya terhadap Rin, sama Miku dia memang tetap penyabar tapi lebih cepat naik darah.
Ada yang sudah tahu melarang songfic? Saya baru tahu lho, ahaha… Tapi saya akan tetap memasukkan lirik lagu karena plotnya memang 'mengharuskan' saya menyelipkan lirik. Lagipula saya memasukkannya karena memang bagian dari cerita dan bukan diselipkan karena kondisi liriknya yang 'kebetulan nyambung dan pas dengan mood fic'- itu definisi 'songfic' menurut saya. Habis kalau nggak ada, ceritanya juga nggak bakal jalan…
Untuk yang mau membaca lirik Proof of Life versi saya, silakan ke Deviantart saya dengan nama greenfoliage. Awalnya saya mau memasukkan link-nya, tapi yang muncul selalu ini - .com/#/d3i9hze jadi maaf sekali, tolong cari dengan cara manual. Versi Indonesianya Soundless Voice tapi belum kelar, jadi harap bersabar. Soundless Voice, jujur saja, lebih sulit diterjemahkan daripada Proof Of Life. Kalau ada yang mau nyanyiin di youtube (?) juga boleh asal kasih credit ke saya, ohohoho~ (._.)v
UPDATE: Bisa juga dilihat di wordpress saya (tanpa spasi): greenfoliage . wordpress . com
Chapter 4 will be updated as soon as possible, and in the meanwhile, please RnR! :)
~Hoshi*
