Hai, maaf lama… terbawa suasana liburan…
Tolong diingat kalau di sini Gumi itu usianya 17 tahun dan Len usianya sudah 18-19 tahun, karena itu Gumi memanggil Len dengan 'kakak'. Lagipula, Len itu kan seniornya di gedung Diva. Awkward sih, tapi ya sudahlah -_- sudah dijelaskan sebenarnya di chapter pertama. Baik, ini dia, chapter empat...
Disclaimer: Saya tidak memiliki Vocaloid manapun atau Crypton (?) atau lagu Soundless Voice atau lagu Proof of life dan semua hak cipta jatuh pada yang memang berhak.
#Chapter 4: Antara.
"Kak Len?"
Mata Len membelalak ketika Gumi menjentikkan jarinya dua kali di depan hidungnya. Mengerjap, pemuda pirang itu melihat ke sekelilingnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali.
Len sedang duduk di belakang panggung Diva, dengan orang-orang masih berseliweran dan bersiap-siap untuk pertunjukan berikutnya. Di depannya berdiri Gumi, kepalanya menunduk untuk bisa melihat wajah Len lebih jelas. Rambut hijaunya yang dibando dengan kain beraksen mawar sutra oranye menjuntai hingga ke pipinya. Tangannya masih berada di hadapan Len. Diva muda itu masih menatap Len, ekspresinya antara khawatir dan panik.
"Tidak apa-apa? Kakak harus tampil lima menit lagi, sebaiknya cepat ke samping panggung!"
"Ah… Iya. Terima kasih, Gumi." Len bangkit dari kursinya, menghela nafas. Gumi menyibak gaun panjangnya saat melangkah mundur, masih memandangi Len.
"Sedang ada masalah, ya?" tanya Gumi.
"Hmm?" Len menoleh. "Tidak."
Gumi jelas tidak percaya, karena wajah Len masih menunjukkan letih. Tapi gadis itu tidak ingin menambah tekanan bagi Len. Alih-alih, ia hanya mendorong punggung Len, "…Terserahlah. Yang penting, ke panggung dulu!"
Len pun bergegas ke samping panggung. Perasaannya mengatakan Gumi masih memandanginya di belakang, tapi itu tak menghambat langkahnya. Yang menjadi masalah baginya adalah ia tak bisa berhenti memikirkan lagu dan perkataan Rin kemarin, ditambah celetukan-celetukan Miku yang ia tidak ingin ingat kembali.
Aku punya alasan untuk semua perlakuanku… tapi benarkah?
Ia memejamkan matanya sejenak. Ia harus tampil. Ia tak boleh membiarkan ini mempengaruhi penampilannya di depan. Menarik nafas panjang, ia menaiki tangga ke depan penonton. Orkestra mulai memainkan musik, menandakan mulainya pertunjukan.
Sementara itu, Gumi mengernyit, mengangkat satu alis di balik layar.
~o0o~
Senja itu, langit cerah, nyaris tanpa awan. Salju tidak turun.
Sinar matahari menyinari kuat batang-batang pepohonan, membuat bayangan-bayangan panjang. Semburat cahaya jingga terpantulkan di danau beku dan menghias panorama yang biasanya hanya bernuansa putih kelabu. Riuh terdengar dari sekelompok anak yang bermain tanpa menghiraukan orangtuanya yang memanggil pulang karena hari akan segera berakhir. Bintang-bintang beserta warna gelap mulai terlihat di ujung lain cakrawala.
Belakangan, cuaca begitu buruk, selalu ada badai dengan selang maksimal tiga hari. Karena itu, hari ini banyak penduduk yang keluar rumah hanya untuk menikmati nuansa merah-ungu di langit dan menghirup udara dingin yang pedas. Kebanyakan berkumpul di jalan utama yang lebar, tempat persimpangan tengah desa dan bangunan elit para Diva. Di ujung jalan, berbaur dengan segelintir pejalan kaki yang lain, berjalan seorang pemuda dengan rambut pirang berkuncir diikuti seorang gadis bermantel senada dengan matahari sore.
Len menapakkan kakinya di salju yang lembut, membuat jejak-jejak di belakangnya. Gumi mengekor di belakangnya dengan wajah merona ceria. Len tidak pernah keberatan berteman dengan Gumi – gadis itu mudah berbaur dan pembawaannya santai, sehingga selalu bisa membuat orang di sekitarnya tersenyum. Sepertinya, ia juga memiliki bakat untuk menghibur orang yang sedang murung.
Dengan sekali lihat di belakang panggung, ia dapat menebak bahwa Len sedang ada masalah. Tadi, setelah pertunjukan sore, Gumi mengetuk pintu ruang ganti Len untuk menanyakan kondisinya. Len tidak menyangkal bahwa ia memang sedang memikirkan sesuatu, walaupun pertanyaan Gumi tidak langsung dijawabnya. Len menyukai sifat Gumi, namun ini adalah satu hal yang Len merasa keberatan untuk didiskusikan. Apalagi ia baru mengenal Gumi selama lima hari.
Tiba-tiba, gadis itu – dengan agak frontal – menebak penyebab lamunannya adalah Rin, membuat hati Len mencelos. Dari mana ia tahu?
"Umm… Kak Miku memberitahuku."
Ha, Miku lagi. Kadang Len tidak yakin apakah Miku dapat dipanggil sebagai 'sahabat' olehnya. Dasar mulut ember.
Len mencoba menyatakan pada Gumi sehalus mungkin bahwa ia tidak ingin membicarakannya. Sepertinya ekspresinya benar-benar berubah marah saat itu, melihat raut wajah Gumi yang juga berganti. Suasananya menjadi diam yang tak nyaman. Akhirnya, Gumi memecah keheningan dengan meminta maaf pelan, dan pamit untuk pulang.
Len merasa tidak enak karena Gumi benar-benar terlihat merasa bersalah, dan saat itulah sesuatu terlintas di kepalanya.
"Kau mau kupertemukan dengan Rin?"
Wajah Gumi perlahan menjadi cerah. Rin adalah salah satu idolanya, dan ditambah lagi, ia adalah legenda dalam sejarah Diva karena usianya yang masih sangat muda saat membuat debut. Tentu saja, gadis berambut hijau itu tak menolak.
Lagipula, Len merasa Rin pastinya akan senang bila bertemu dengan anak ini. Ia sangat supel dan ramah, lebih nyaman untuk diajak bicara dibanding Miku.
...
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pondok kecil dari kayu – pondok Rin. Gumi tertegun, mengamati seksama rumah yang hanya berjarak sepuluh menit dari gedung Diva itu. "Inikah rumah kak Rin?"
"Mmm-hmm." jawab Len singkat, memutar kunci di gerendel pintu. Sayup-sayup ia mendengar dentingan piano dari dalam.
Lagi-lagi lagu itu, pikir Len. Bukannya ia tidak menyukainya, tapi liriknya terlalu berat untuknya. Lucu, padahal ia ikut membuatnya… tapi tetap saja.
Len mendorong daun pintu. Benar saja, ia melihat Rin sedang memainkan lagunya di atas piano. Pemuda itu memandangi gadis lumpuh itu, antara kagum karena kemampuan telinga dan tangannya untuk memainkan piano bahkan pada kondisi buta, atau ingin menutup telinganya karena sedang tidak ingin memikirkan lagu itu lagi.
"Silakan masuk," katanya, memberi jalan pada Gumi.
Rin mendengarnya, dan mengarahkan kepalanya ke arah pintu, "Len? Ada siapa?"
Len meraih bahu Rin lembut, "Tidak apa-apa. Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang." Pemuda itu memberi gestur pada Gumi agar mendekat. "Kau ingat Diva baru yang aku bilang berumur 17 tahun?" Rin menengadah, mencoba mengingat. "…Ya, tapi aku tidak ingat namanya."
"Na-namaku Gumi! Salam kenal, kak Rin!" Gumi memegang tangan Rin, menjabatnya. Rin agak kaget, tetapi menguasai keadaannya dan menjabat balik Gumi. "Ahaha, salam kenal, Gumi," jawab Rin.
"Dia ingin bertemu denganmu, Rin, dan aku pikir juga dia akan cocok denganmu. Anaknya baik, nyanyiannya juga bagus," tambah Len.
Pipi Gumi memerah karena senang. "A-ah? Biasa saja kok, suaraku juga tak sebagus itu…"
Rin tersenyum. "Dia seperti apa, Len?"
'Seperti apa'? Gumi kelihatan bingung. Ia menengok ke arah Len, seperti meminta penjelasan. Len tertawa melihat ekspresi Gumi. "Maksudnya ciri fisikmu. Rambut hijau sedang, panjang di bagian depan bahunya, berponi pendek dan biasa memakai bando oranye, cantik, tinggi – hanya sedikit lebih pendek daripada aku – wajah agak bulat, mata besar berwarna hijau, bahu lebar, gaun panjang hijau muda dan mantel jingga tua… Kurasa itu cukup?"
Gumi semakin tersipu karena dideskripsikan sebagai 'cantik'. Rin mengangguk, memvisualisaikan gambaran gadis itu di dalam imajinasinya.
"…Rambut hijau? Seperti Miku?"
"Tidak, hijau yang tegas, bukan biru kehijauannya Miku."
"Oh."
Len memandang ke luar jendela. Lewat tirai yang sedikit tersibak, ia bisa melihat langit yang mulai meubah warnanya menjadi marun keunguan. Pemuda itu menyentuh pipi Rin lembut, sambil berkata, "Rin, aku ingin tetap di sini, tapi aku masih ada bagian untuk pertunjukan malam, dan Kaito juga memintaku untuk mengatur jadwal untuk bulan ini. Kurasa aku tidak akan kembali lagi setelah selesai, akan terlalu larut. Tapi ada Gumi, dan makanan juga masih ada, jadi kurasa kau takkan apa-apa…?"
Alis Rin sedikit turun. "…Mau bagaimana lagi? Tidak, aku tak apa-apa… Hati-hati di jalan."
Len mengangguk singkat, menatapi wajah Rin. "Maaf."
"Tidak apa-apa. Pergilah." jawab Rin, melambaikan tangannya ke bawah. Len masih tak bisa melepas pandangannya dari Rin sebelum akhirnya, mengambil tasnya dan menuju ke ambang pintu.
"'Malam. Gumi, tolong jaga Rin."
"Ya, kak! Tenang saja!"
Len tersenyum untuk terakhir kali, sebelum keluar dan mengunci pintunya. Rin mendengarkan baik-baik suara deritan pintu, langkah Len, dan hembusan angin di luar sesaat sebelum suara pintu yang ditutup dan ceklikan kunci. Wajahnya menunjukkan bagai ia tak rela ditinggal pergi, dan Gumi yang melihatnya tersenyum lembut.
"Ia baik, ya, kak?"
Rin tersentak. Untuk sesaat ia lupa ada tamu di rumahnya. "Oh? Ah… iya."
Gadis berambut hijau itu mengambil kursi ke samping bangku piano. Sambil memosisikan diri di atasnya, ia melanjutkan bertanya, "Jadi, sejak kapan kalian saling mengenal?"
Yang ditanya memiringkan kepalanya dan mengangkat tangan ke dagunya, mencoba mengingat-ingat, "Sudah lama… sejak kita berumur enam tahun, mungkin. Aku bertemu dengannya di taman. Aku masih ingat musim semi itu, ada kupu-kupu ungu di bahuku dan dia mencoba menangkapnya." Rin tertawa kecil. "Tapi alih-alih kupu-kupu, ia malah menabrakku. Dia meminta maaf dan yah, akhirnya kita berkenalan."
Gumi juga tertawa. "Cara berkenalan yang tak biasa! Kakak beruntung, lho, tapi, untuk bisa berkenalan dengan orang sebaik kak Len, apalagi menjadi sahabatnya." Gadis itu menggenggam tangan Rin, memastikan agar lawan bicaranya nyaman mengobrol dengannya.
"Aku sudah menggemari kak Len dari dulu. Ternyata, orang yang aslinya lebih hebat! Aku bisa melihat bagaimana dia membawaku kesini hanya karena merasa tidak enak sudah membuatku kecewa." Gumi tersenyum manis. "Dia juga sepertinya sayang sekali pada kakak. Tahu tidak, tadi dia memandangi kakak lumayan lama, lho, sebelum keluar!"
Wajah Rin sedikit memerah. Benarkah…? Tapi dari nadanya, ia tahu gadis di depannya ini tidak sedang berbohong. Tapi, di luar itu, suara Gumi saat mengatakannya riang dan tulus, dan Rin menyukainya. Anak di depannya bisa dibilang pengganti yang menyegarkan dibanding Miku yang lebih serius.
"Sepertinya benar kata Len. Kau enak diajak bicara."
"Oh… Benarkah? Terima kasih! Sebenarnya, aku tidak merasa begitu juga, sih… aku masih sering canggung kalau pertama kali berkenalan." Gumi mengangkat kedua bahunya. "Entah kenapa, banyak yang berkata begitu."
"Canggung? Kau mudah berbaur, kok. Nada bicaramu menyenangkan."
Gumi tersenyum lebar."Terima kasih, kak." Ia melihat batu bara di perapian yang mulai berkurang nyalanya, dan berkata, "Boleh aku menambah batu bara? Sepertinya sudah mau habis. Dan mungkin sekalian menghangatkan makanan?"
Rin mengangguk. "Tentu saja."
"Sini, biar kubantu kakak ke meja makan!"
Rin tersenyum lagi, dan membiarkan dirinya dipapah Gumi sambil memakai tongkatnya. Pegangannya memang tak sekuat dan sekokoh Len yang seorang laki-laki, tapi lebih lembut dan menenangkan. Rin memegang erat tangan Gumi, pikirannya merasa lebih ringan. Mungkin, ia memang memerlukan teman baru.
~o0o~
Mereka duduk berdua, melumat habis bubur gandum yang sudah dipanaskan Gumi. Selama makan, Gumi banyak bertanya mengenai Rin. Bagaimana dulu ia bisa masuk dalam jejeran elit Diva? Kenapa ia berhenti, padahal masih bisa bernyanyi? Semua dijawab Rin dengan sabar. Ia makin menyukai anak ini sebagai teman, walaupun kadang Gumi bisa menjadi terlalu bersemangat.
Gumi juga menceritakan tentang dirinya sendiri. Ia datang dari kota, dan sepertinya yang dikatakan Len benar – ia datang hanya karena tertarik dengan konsep Diva.
"Di kota, tak semua penyanyi suaranya bagus, kak. Banyak juga yang tidak serius dalam menyanyi, beberapa itu hanya menginginkan uang dan ketenaran."
Rin baru tahu. Seleksi Diva yang ketat telah membuatnya jatuh cinta sedemikian dalam pada seni musik, dan ia tidak bisa membayangkan seseorang yang berdiri di atas panggung tanpa ada niat menyanyi.
Keduanya melanjutkan obrolan mereka, tanpa menghiraukan malam yang semakin menjelang dan udara dingin yang merayap masuk. Mereka tertawa, berbagi kisah, dan saat itu, semuanya terlihat baik-baik saja. Untuk sejenak, Rin melupakan semua kesulitannya. Ia lupa akan semua cacatnya, ia lupa kerinduannya akan bisa berjalan, ia lupa keinginannya untuk bisa keluar lagi. Len telah memilihkan teman yang tepat. Menit-menit berjalan, dan semua yang dipikirkan Rin hanya suara lembut Gumi yang dengan ceria menimpali ucapan Rin.
Namun semua itu teringat lagi ketika Gumi, tanpa berfikir dua kali, bertanya.
"Apa kakak tidak pernah merasa kehilangan? Maksudku, setelah tinggal di rumah selama dua tahun, adakah yang kakak ingin lakukan lagi seperti dulu?"
Rin terdiam. Suara gemeretak bara di perapian mengisi udara saat atmosfernya turun, menimbulkan sebuah keheningan yang berat. Wajahnya kembali kelam. Ia menunduk, menggenggam roknya di pangkuan. Kenapa semua perasaan itu tiba-tiba kembali? Semua sedih, kesal, dan keinginannya yang ia tahu takkan bisa terwujud…
Ia tak ingin merasa seperti itu, tapi tak ada yang bisa mencegahnya. Bimbang menyeruak kembali, merangsek masuk. Rin tak mau, ia tak mau, ini belum pernah terjadi padanya. Ia tak mau mengetahui bahwa di dalam diri sendiri, sebenarnya tersimpan iri yang kuat terhadap semuanya, semua yang masih bisa bebas di luar sana. Rin menyesal suara lembut di hadapannya telah bertanya.
Gumi, menyadari bahwa ia telah menanyakan sesuatu yang sensitif, dengan cepat menambahkan, "A-ah! Maaf, maksudku, eh, eermm—Tahu tidak, dulu aku pernah-"
"Tidak apa-apa."
Gumi memandang mata Rin yang memandang udara kosong. "Kak?"
Rin tidak menjawab.
"…Maaf. Aku tidak seharusnya bertanya, ya kan? Eng…" Gadis berambut hijau itu mengalihkan pandangannya. Ia menoleh ke kanan bawah, merasa tidak enak. Matanya melihat ke sudut, menandakan bahwa ia sedang mencari alasan. Tapi ia tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan, apa Rin tersinggung? Kemungkinan besar. Apa Rin marah? Semoga tidak. Apa—
"Bolehkah aku menceritakan ini padamu?"
Gumi mendongak lagi. "Ah?"
"Yah, sebenarnya, ada sesuatu… Aku tak tahu, tapi…"
Tiba-tiba Rin merasa tangannya digenggam lagi. "Ada yang ingin diceritakan, tapi kakak tak tahu harus bercerita ke siapa?" Rin hanya membalas dengan anggukan pelan.
"Tapi aku masih tak tahu apa aku bisa. Kau, juga Len – terutama Len…"
Rin bahkan tak menyelesaikan kalimatnya.
Sunyi lagi. Rin hanya bisa menatap kosong, menerawang, pikirannya bimbang.
Memberanikan diri, Gumi melihat langsung ke mata Rin, walaupun tahu sepenuhnya Rin takkan bisa balik melihat dirinya. Tapi bola biru di dalamnya terlalu tak bernyawa, bagai boneka porselen yang memandang ke udara hampa. Pelupuk mata itu terlihat bening, basah, seakan bisa tumpah kapan saja. "Kak…" Suara Gumi melemah.
"Aku mungkin bukan teman yang terbaik. Aku mungkin belum kenal kakak selama kak Miku. Tapi aku bisa melihat, pribadi kakak terlalu introspektif. Sangat mandiri. Tidak suka merepotkan orang. Kak, bercerita tidak akan memberi beban! Justru – yah, ini pengalamanku – setelahnya kakak akan merasa jauh lebih ringan." Mengambil jeda sejenak, Gumi melanjutkan lagi, "Aku bukan bermaksud memaksa agar kakak mau memberitahu, tapi… apa, ya? Tidak enak kalau situasinya begini, bukan? Aku hanya ingin membantu."
"Gumi…" Walaupun mata Rin tak bisa memancarkan ekspresi apapun, Gumi bisa tahu dari air muka keseluruhannya, bahwa Rin ragu.
"Tidak apa-apa." Ia berusaha meyakinkan.
Rin menghela nafas berat. Menutup kedua kelopak matanya, ia berpikir. Adakah ruginya bila ia berbagi perasaan yang satu ini, perasaan yang bahkan Len tidak tahu?
"Tidak apa-apakah?"
"Aku takkan menceritakannya." Gumi memastikan. "Benar."
Rin menegakkan sedikit tubuhnya, bersandar pada punggung kursinya. Ia tak tahu lagi. Mungkin saja ia bisa berbohong, mengatakan bahwa tak ada masalah, tapi itu bukan sifatnya.
"Baiklah."
Gadis pirang itu menghambuskan nafas panjang. "Ini tak terlalu penting, sebenarnya, tapi kalau kau ingin tahu…"
Oke… whoa, sepertinya chapter terpanjang yang pernah saya tulis untuk cerita ini.
Gumi sepertinya hormat sekali pada Len dan Rin, ya? Walaupun usianya tak jauh berbeda, itu wajar saja, karena dia sudah menjadi penggemar mereka berdua sejak dulu. Semoga alasannya cukup logis, soalnya kadang kelihatannya seperti mereka beda 10 tahun saking sopannya si Gumi-_-;
Maaf kalau mungkin garing di percakapannya, saya mencoba supaya bahasanya tidak terpaut jauh dengan deskripsi saya, dengan kata lain tidak terlalu informal.
Chapter ini auranya tidak segelap sebelumnya, tapi saya ingin menekankan bagian curhatnya Rin dengan Gumi, agar bisa sampai ke konflik utamanya nanti. Ya, ini baru prolog dari alur sebenarnya! Jadi untuk yang masih menunggu dan bingung, 'Kapan, sih, ceritanya balik sesuai lagunya?' sabar saja, saya janji akan ada titik dimana cerita akan mulai 'nyambung' lagi dengan lagu yang kita kenal.
Yak, sebelum author's note nya juga jadi lebih panjang, saya mau menambahkan, di chapter berikutnya akan saya masukkan link untuk Soundless Voice versi B. Indonesia! Tapi, hanya jika jumlah reviewnya lebih banyak dari chapter 3. Bila kurang, yahh… bolehlah diundur sampai chapter 6. Jadi ikuti terus dan mohon reviewnya agar saya semangat, terima kasih! Chapter 5 akan segera diupdate… secepat yang saya bisa. Hehehe.
~Hoshi*
