Singkat aja: WB parah. Saya nggak suka bikin alasan begini (toh yang salah memang saya) tapi mood saya beberapa minggu ini bener-bener bete karena suatu alasan. Makanya update super lama.

Disclaimer: Vocaloid bukan milik saya. Lagu Soundless Voice bukan milik saya. Proof of Life juga bukan milik saya.


"Selepas senja, selalu,

cemara akan menggantikan jingga.

Sehabis fajar, selalu,

bunga matahari akan mengambil alih.

Namun ingat,

setelah kau menunda,

selalu,

takkan ada yang mau menyelesaikan hamburan lembaran kertas.

Setelah kau menyembunyikan yang tak seharusnya,

selalu, akan ada,

ia yang laksana obsidian, berkacak tangan di ambang,

tak menghiraukan arus dari jarum quartz…"*


#Chapter 5: Antologi Memoria


"Untuk menjawab pertanyaanmu… " Rin memejamkan mata. "Aku tak ingin merasakan apapun seperti itu, tapi kurasa ini tak bisa dihindari… Ya, tentu saja aku merasa kehilangan." Gumi hanya diam mendengarkan.

"Tapi… ada satu yang paling membuatku merasa kehilangan – ini pun kalau bisa kau sebut 'kehilangan'."

Gumi menggeleng. "Aku tak mengerti."

"Aku bisa saja menceritakan panjang lebar mengenai sulitnya menjadi seorang yang penyakitan, lumpuh atau-" Rin mengambil nafas berat, "-atau tak bisa melihat, tapi tidak. Aku tak ingin merepotkanmu… Lagipula, yang ini jauh lebih penting."

"Kakak tidak merepotkanku, kok." Gumi mengatakannya dengan lembut, tapi cepat, seakan takut Rin akan meninggalkannya. Tapi Rin lebih tahu. Kebutaannya membuat pendengarannya sedikit lebih sensitif, dan Rin dapat merasakan nada tulus dalam ucapannya. Ia tersenyum sepintas sebelum menanggapi.

"Aku tetap merasa tidak enak...Aku baru saja mengenalmu, dan jujur saja, aku masih ragu. Tapi aku suka caramu berbicara. Aku merasa kau dapat dipercaya, dan itu satu-satunya alasanku mau bercerita." Rin menghela nafas lagi. "Dan, sebelum itu… Bolehkah aku minta kau untuk tidak memberitahu Len?"

"Kenapa?" Gumi cukup kaget mendengarnya, mengingat Len adalah teman Rin sejak mereka baru bisa bernyanyi, dan juga satu-satunya yang bisa Rin percayai untuk mengurus dirinya. Alasan apa yang dimiliki gadis pirang pucat di hadapannya ini?

"Kedengarannya kau bingung, ya…?" tebak Rin. "Kau akan tahu setelah mendengarnya."

"…Baiklah." Jawab Gumi, sebelum menambahkan, " Aku takkan bilang apa-apa."

Hening menyambut suara bening Gumi. Entah kenapa mantan Diva itu kembali ragu. Kalimat-kalimat sebelumnya, yang ia katakan tanpa beban, kembali dengan berat. Aneh, padahal sebelumnya ia memberikan prolog yang terdengar ringan, seakan ia dapat begitu saja membebaskan pikiran yang merantai hatinya.

Tapi Rin masih terdiam. Gumi menunggu.

Setelah beberapa menit yang terasa bagai satu musim dingin bagi Rin, ia akhirnya mengesampingkan bimbangnya dan memulai,

"Begini... Aku sebenarnya masih ingin bekerja. Maksudku menyanyi."

"Tapi-"

"Aku tahu resikonya. Jadwal akan terganggu, karena aku penyakitan. Kondisiku takkan bisa selalu prima di panggung. Aku tahu, dan karena itu aku menyanggupi untuk hanya mengarang lagu pesanan di rumah." Gumi terdiam, karena dipotong Rin. Saat ini, ekspresi seniornya itu nyaris mendekati frustasi.

Rin memijat dahinya, menyandarkan sikunya di permukaan meja. "Namun… ada alasan lain, selain uang dan kecintaanku pada musik. Jawaban lain mengapa aku masih ingin bisa menyanyi."

Mengangkat kepala, Rin menerawang, pandangan kosongnya mengarah ke langit-langit. Pikiran manusia dapat diibaratkan seperti antologi – sebuah akumulasi ingatan yang campur aduk, hanya bisa diurutkan oleh waktu. Dari air wajahnya, yang bisa Gumi lihat adalah Rin yang seakan berusaha membaca sebuah halaman yang buram, basah, dan rapuh dalam memorinya: ingatan yang nyaris hilang.

"Aku ingin bisa keluar rumah."

"…Kak?"

"Kau mungkin belum tahu, karena kau baru… Len tidak pernah membolehkanku keluar rumah selama 2 tahun ini. Tepatnya, beberapa hari setelah dokter mengatakan aku menderita penyakit turunan yang parah dari ayahku. Hari aku membuat keputusanku untuk keluar, dengan anjuran penuh dari dokter."

Gumi terkesiap. Menyuruh istirahat hingga kondisi membaik memang wajar, tapi… Dua tahun? "Ti-tidakkah itu sedikit berlebihan, kak? Aku saja tidak bisa membayangkan tinggal di rumah selama dua bulan, sendirian pula!" Rin hanya bisa diam.

Gumi terus membombardir, "Bagaimana dengan teman-teman kakak yang lain? Tidak adakah yang ingin membantu?"

Rin memperbaiki posisi kepalanya yang sedari tadi masih menengadah, dan menaruh pandangannya tepat di mata Gumi. Gadis itu agak tersentak, karena walaupun ia tahu Rin bisa saja hanya menebak-nebak di mana letak wajah Gumi, matanya mengunci Gumi dengan lembut. Bagai penuh dengan emosi yang ia sembunyikan sejak dua tahun yang lalu.

"Sebelumnya memang Miku dan Luka sempat bertanya pada Len. Ya, Miku. Mungkin dia menyebalkan, tapi di saat-saat tertentu, dia bisa kusebut sebagai teman baikku… Intinya, pada saat itu, sudah nyaris empat bulan aku tidak keluar rumah. Mereka mendebat bahwa, walaupun aku memang setuju untuk tidak menyanyi lagi, bukan berarti tidak membolehkan aku untuk keluar rumah.

"Saat itu, mereka berdebat di sini, di dalam rumah. Sayangnya, aku sedang demam saat itu, dan hanya sepotong-sepotong mendengar ucapan mereka. Semuanya terdengar samar-samar… Len pada awalnya mencoba menjelaskan sesuatu dengan nada lembut, namun sepertinya nada bicaranya semakin meninggi karena Miku dan Luka terus mencecarnya. Hal itu kelihatannya berlanjut cukup lama. Lalu aku tertidur, dan aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya. Len tidak menceritakan apa-apa padaku. Mungkin ia hanya tak ingin membicarakannya… Aku tak tahu. Yang pasti, sejak saat itu, tak ada lagi yang pernah menanyakan kenapa aku tak dibolehkan pergi keluar."

Gumi menggenggam tangan Rin lebih erat. "Apa bukan karena Kak Len ingin menyembunyikan sesuatu dari kakak?"

"…Aku tak ingin berprasangka. Apapun itu, Len bukan tipe yang akan melakukan sesuatu tanpa berpikir dua kali. Aku yakin, ia punya alasan."

Mata Gumi yang besar semakin melebar. Rasanya bagaikan ada mozaik, terdiri atas kumpulan emosi. Antara ia kagum dengan Rin yang memiliki rasa percaya pada Len melebihi siapapun, atau ketakpercayaannya dengan senior yang ia idolakan untuk melakukan hal yang bagai tanpa alasan kuat. Ia tahu, bahwa Len bukanlah tipe yang akan melakukan apapun tanpa cerita di baliknya. Masalahnya, kadang ego Len terlalu tinggi untuk bisa dipertanyakan alasannya.

Lalu perasaan aneh – bukan, berbeda – sesaat sebelum Rin menceritakan kunjungan Miku. Apa yang Rin sebenarnya rasakan? Kenapa saat itu, air mukanya tidak lembut seperti Rin yang biasanya? Apa masih ada yang ia sembunyikan?

Memikirkan pertanyaan hingga sebanyak itu membuat Gumi menggeleng. Siapa dia, ingin tahu sebanyak itu sementara belum sehari ia mengenal Rin?

Tiba-tiba, Rin berkata,"Aku kesepian."

"Eh?"

"Tak pernah terbayang olehku sebelumnya akan berakhir seperti ini." Rin menggumam pelan. "Len bekerja terlalu keras."

"Apa maksud kakak?"

"Maksudku Len… Dulu, rasanya kita selalu bisa berdua. Melakukan semuanya bersama. Tapi sekarang, hanya demi aku…" Rin tersenyum sedih. "Payah."

Alis Gumi kembali mengerut. "Aku yakin ada alasannya."

"Kau sudah mengatakannya barusan."

"Ya."

Rin tertawa tertahan. "Walaupun, aku tak pernah tahu Kaito akan memberinya cukup uang untuk kita berdua. Bahkan dengan jadwal Len yang ditambah dan menjadi lebih lama per harinya." Rin menopang dagunya di atas meja dengan tangan kanan. "Menurutmu, sudah seberat apa ia bekerja? Yang aku tahu hanya baru-baru ini ia ikut ke bagian administrasi agar mendapat penghasilan tambahan."

Sekali lagi, Gumi tersentak. Tunggu…

"Pasti ia menjadi lebih serius lagi dalam menyanyi, ya? Aku kadang merasa tidak enak, hanya bisa membantu dengan mengarang lagu…"

Ia tidak tahu…? Apa kak Len… Yang benar saja! Kali ini, aku tak melihat sama sekali alasan untuk tidak memberitahu kak Rin-

"Gumi?"

Gumi melompat keluar dari lamunannya. "A-ah! Iya?"

"Kau… tidur? Sudah terlalu malam, ya?"

"Eeh… ya, sepertinya…?" Hanya pada saat ini, Gumi lega Rin tak bisa melihatnya. Itu memudahkannya untuk mencari alasan, mengikuti irama Rin. "Sudah jam setengah sepuluh... Dan aku sudah dari pagi di gedung Diva." katanya, memalsukan suaranya menjadi suara mengantuk.

Rin terlihat agak kecewa, tapi berkata,"Setengah sepuluh? Sebaiknya kau pulang... Hati-hati."

Gumi mengangguk, dan memundurkan kursinya. Kemudian ia melihat mangkuk bekas mereka, masih menumpuk di pinggir meja. "Kak, mangkuknya-"

"Biar aku yang bereskan. Aku bisa mencuci sendiri… walaupun tak selalu bersih," senyum Rin. "Kamu istirahatlah."

Gadis berambut hijau itu tertegun. "Baiklah." Ia mengambil tasnya dari meja, memakai mantelnya, dan meraih gagang pintu.

"…Gumi?"

Ia menengok. "Ya?"

Rin juga sudah berdiri, memegang kunci di tangan kanannya. Wajahnya memang kosong, tapi ia tersenyum. "Terima kasih."

Membiarkan Rin membukakan kunci pintu, Gumi ikut tersenyum. Terdengar bunyi klik saat mekanisme di dalamnya membebaskan pintu itu. Rin mendorongnya, dan minggir untuk memberi jalan.

Gumi menapakkan kakinya ke beranda, dan sudah meraih tangga saat ia menoleh dan menjawab, "Sama-sama. Mungkin aku besok akan datang lagi!"

Rin melambaikan tangannya. Gumi membalas lambaiannya, walaupun ia tahu seniornya tak dapat melihat telapaknya menyambut udara dingin. Wajahnya sudah ceria lagi saat menghembuskan kabut putih dan melihat pintu kembali tertutup.

Ia kini berjalan sendiri, hanya ditemani lentera sepanjang jalan yang sudah nyaris redup. Rambut hijaunya mengambang diterpa angin, dan ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Senyumnya mulai menghilang.

Besok, ia punya banyak pertanyaan untuk Len, semuanya mengenai Rin.


Writer's block… Aaargh!

Tapi janji sudah dibuat. Review chapter 4 cukup banyak. Pembaca telah menunggu. Baiklah… ini dia, link ke lirik Soundless Voice versi Indonesia: (versi starfingers)

Di WordPress saya: greenfoliage . wordpress . com / 2011/07/25/soundless-voice-indonesian-version / (tanpa spasi)

*Untuk puisi di atas, mau denger pendapat boleh? ^^

Satu lagi, saya dan Hihazuki sudah membuat fandub Proof of Life bahasa Indonesia, tolong lihat di Youtube yaa: /watch?v=rPlinIlIF_0

Terima kasih sudah membaca, review please… Chapter 6 will be updated maybe next week.

~Hoshi*

EDIT: GAH! TYPO. Gedung ditulis geedung, wth? Sudah diperbaiki.