Tiga Cinta
Harry Potter © J. K. Rowling
Tiga Cinta © aniranzracz
I don't own Si Kecil Kerudung Merah
Chapter 2
P.S: Baca ulang chapter satu, ya, itu dirombak eh -_- Saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Ting tong...
Bel The Burrow tersebut berbunyi tepat ketika jam berdentang sembilan kali. Dan karena matahari sudah bersinar cerah, berarti sekarang sudah tepat jam 9 pagi.
Pagi ini merupakan pagi yang cerah, indah, sekaligus ramai untuk para penghuni The Burrow. Cerah, karena memang mentari sedang memancarkan sinarnya kuat-kuat saat ini, indah karena nyaris semua orang di The Burrow tersenyum, serta ramai karena James, Fred dan Al sedang mengganggu Hugo—yang masih tidur dan akhirnya menangis keras karena diganggu.
The Burrow, yang biasanya hanya diisi oleh Molly dan Arthur, sekarang ramai. Al, James, Lily, Fred Jr, Hugo, Roxanne dan Rose ada di sini, menginap. Ginny juga ada di sini. Tapi tidak dengan Hermione, Harry, dan Ron yang tetap harus bekerja karena hari ini bukan hari libur.
"James yang buka pintu!" seru James sambil berlari ke pintu begitu mendengar bel berdentang. Al, Fred, dan Lily ikut berlari. Mereka berempat—James, Al, Fred, dan Lily memang sedang senang-senangnya menerima tamu dan mereka selalu berlomba jika bel berdentang. Mereka selalu ingin menjadi yang membuka pintu, entah karena apa. Apakah itu menyenangkan?
Ternyata, walaupun James yang pertama kali berlari, Al yang pertama kali membuka pintu. Well, lari Al memang cepat dan gesit, ditambah dengan badan Al yang lebih kurus dari James sehingga lebih enak ketika dibawa berlari.
Tinggal Rose yang memberi dukungan pada Al—sepupu yang paling ia suka—dan Ginny yang setengah mati mengingatkan mereka berempat agar tidak berlari-lari. "Hei, jangan berlari-lari! Nanti kalian jatuh!"
Ngomong-ngomong, sekuat apapun Ginny melarang mereka berempat, satupun tetap tidak ada yang mendengarkan dan tetap terus berlari.
"Hore Al yang buka!" seru Al sambil cepat-cepat membuka pintu sebelum didahului oleh James yang nyaris sampai di depan pintu.
Begitu pintu terbuka, suara Scorpius terdengar, "Hai." Scorpius datang bersama Sprinkle.
Mulut Al membuka. Tiba-tiba Lily datang dan menyeruak ke depan. "Eh, Scorpie udah dateng! Ayo masuk dulu."
Begitu mendengar nama Scorpius disebut, Rose meninggalkan buku ceritanya yang tebal di sofa cokelat The Burrow dan ikut berlari ke depan. Lalu ia menyeruak ke depan juga, menembus Fred, James, dan Al yang kelihatan tidak senang karena Scorpius berkunjung.
"Ayo kita belajar membaca!" ajak Rose semangat, tangan kanannya meraih tangan Scorpius dan menariknya ke dalam The Burrow.
"Hai, Scorpius," sapa Ginny ramah.
Molly keluar dari dapur. "Scorpius Malfoy? Putra Draco Malfoy? Di mana dia?"
"Scorpie di sini, Mrs. Weasley," ujar Scorpius sedikit takut.
Molly tersenyum, lalu ia berjalan keluar—masih dengan celemek—dan mengecup kedua pipi Scorpius. "Sopan sekali, Scorpie! Dan kau tampan sekali! Ngomong-ngomong, jangan panggil aku Mrs. Weasley, panggil saja Grandma seperti teman-temanmu!"
"Ya, Grandma," ujar Scorpie senang.
Molly tersenyum. "Ya, silakan bermain. Grandma memasak dulu."
Scorpius mengangguk. Molly—masih dengan senyumnya—kembali ke dapur dan melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda.
Roxanne—yang seumuran dengan Scorpius, Lily, dan Rose—tiba-tiba muncul. "Hai, Malfoy. Boleh aku memanggilmu Scorpius? Aku Roxanne Weasley, panggil aku Roxanne."
"Boleh," kata Scorpius. Ia merasa senang karena mendapat teman baru lagi—ia biasanya sendirian. "Roxanne boleh panggil Scorpie 'Scorpius'."
"Ayo belajar membaca!" ajak Rose, ia menarik tangan Scorpius lagi. Ia hendak mengajak Scorpius melihat koleksi buku-bukunya yang sengaja ia bawa sebelum seseorang menghalangi niatnya itu. "Rose bawa banyak buku, lho!"
Tiba-tiba Lily menarik tangan Scorpius yang satunya. "Eit, tunggu dulu. Scorpie gak cuma punya janji sama Rose aja, Scorpie juga janji mau main Quidditch bareng Lily, Al, James, dan Fred!"
"Kenapa Lily ajak Scorpiu—s," protes James, tapi tidak jadi karena Lily menyikut perutnya.
"Tapi, kemarin Rose udah bilang, Scorpie belajar membaca aja dulu, habis itu, baru Scorpie ikut main Quidditch sama Lily!" seru Rose, wajahnya memerah karena merasa kesal pada Lily. "Jadi, dia duluan!"
"Ah!" seru Lily, tidak terima kalau Scorpie menepati janjinya bersama Rose terlebih dulu. "Sama Lily aja dulu!"
"Sama Rose aja!"
"Sama Lily!"
"Sama Rose aja!"
"Lily!"
"Gini aja," kata Rose yang memang tidak suka berdebat dan memperebutkan sesuatu—berbeda dengan Lily. "Gimana kalau... terserah Scorpius aja?"
Scorpius, yang dari tadi hanya diam menyimak perdebatan antarsepupu ini kaget ketika namanya disebut. "Ha? Terserah Scorpie? Kenapa terserah Scorpie?"
"Kan Scorpie yang punya janji, dan Lily sama Rose terserah Scorpie aja, mau yang mana duluan," kata Lily, mewakili Rose juga.
Scorpius bingung.
Ia sebenarnya lebih tertarik bermain Quidditch. Cita-citanya kan menjadi pemain Quidditch, tapi ia menyadari kalau ia tidak bisa membaca, langkahnya untuk menjadi pemain Quidditch juga terhalang. Lagipula, ia juga mau membaca sendiri buku-buku cerita di perpustakaan Malfoy Manor, bukan dibacakan oleh ibunya atau Sprinkle saja.
"Main Quidditch enak lho, Scorp," ujar Lily, memanas-manasi Scorpius agar memilih bermain Quidditch terlebih dulu daripada belajar membaca. "Apalagi sekarang ada lawannya, kan seru."
Rose, yang tidak suka karena Lily memanas-manasi Scorpius, ikut memanaskan suasana juga. "Tapi, main Quidditch bikin capek. Jadi, sebelum capek, gimana kalau Scorpius belajar membaca dulu? Habis itu, kan masih ada tenaga untuk main Quidditch. Kalau main Quidditch duluan, entar males belajar lagi."
Rose bener, pikir Scorpius.
Lily menyipitkan kedua matanya, tidak suka dengan Rose yang ikut memanas-manasi Scorpius. Lalu ia beralih ke Scorpius, "Jadi? Scorpius mau apa yang duluan? Main Quidditch atau... belajar membaca?"
"Mungkin... belajar membaca duluan," kata Scorpius. "Soalnya Rose bener, nanti Scorpius kalau main Quidditch duluan, nanti capek dan gak jadi belajar membaca."
Ginny, yang sedari tadi sebenarnya asyik menyimak, jadi tersenyum geli sendiri.
Lily cemberut dan melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan tangan Scorpius. "Ya udah, Scorpie belajar duluan sana. Lily, Al, James, dan Fred main Quidditch duluan aja juga."
Scorpius tersenyum bersalah. "Nanti Scorpius main Quidditch sama Lily, Al, James dan Fred juga, kok!"
Lily mengangguk dan berbalik ke sepupu laki-lakinya. "Ayo semuanya ambil sapu dan main Quidditch!"
"Ayoooo!" seru Fred, James, dan Al semangat. Mereka bertiga berlari ke belakang untuk mengambil sapu dan bermain Quidditch mainan di halaman. Peralatan Quidditch—bola-bolanya—sudah disihir oleh George agar tidak meninggalkan lokasi The Burrow.
Lily berjalan gontai sendirian, ditinggalkan oleh Fred, James, dan Al.
Rose mencibir. "Payah. Main Quidditch terus! Gak pernah pikir kapan belajar!" katanya. "Ayo, Scorpius! Kita belajar membaca! Belajarnya asyik, kok! Rose suka banget waktu Mum ngajarin Rose membaca!"
Scorpius mengangguk pasrah dan membiarkan tangannya ditarik oleh Rose ke tempat Rose menyimpan buku-bukunya.
Rose mungkin bisa menjadi penjual buku, pikir Scorpius.
Yeah, buku Rose banyak sekali. Sebagian besar buku Rose memang diberikan oleh Hermione. Karena Hermione sangat suka membaca buku dan bukunya bertumpuk-tumpuk, Rose mempunyai buku yang bertumpuk-tumpuk juga. Apalagi Rose juga sering membeli buku lagi bersama Hermione jika hari libur tiba.
"Banyak, kan?" tanya Rose bangga. "Rose punya banyak buku. Buku cerita Muggle, Rose punya. Buku cerita sihir, Rose juga punya."
Scorpius mengangguk takjub. "Iya, buku Rose banyak."
"Jadi? Scorpius mau belajar membaca pakai buku apa dulu?" tanya Rose.
"Boleh buku Muggle?" tanya Scorpius balik.
Yeah, mungkin pengaruh Muggle sudah masuk ke keluarga Malfoy sekarang, tapi tetap saja Muggle asing bagi keluarga Malfoy. Dulu, keluarga Malfoy—keluarga Draco, ayah Scorpius—dan keluarga Greengrass—keluarga Astoria, ibu Scorpius—kan... bisa dibilang Pure-blood dan tidak ingin dekat-dekat dengan Muggle.
Rose mengangguk. "Tentu saja boleh!" serunya. "Lagipula, menurutku, buku Muggle lebih menarik daripada buku sihir, walaupun buku sihir juga menarik."
Setelah itu, Rose mengambil satu buku berjudul 'Si Kecil Kerudung Merah'.
"Buku ini judulnya... Si Kecil Kerudung Merah, ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang dikasih kerudung merah sama ibunya, karena itu dia dipanggil si Kecil Kerudung Merah."
"Terus, terus?" tanya Scorpius penasaran.
Rose tersenyum. "Gak seru dong, kalau diceritain. Ayo, kita baca sama-sama aja."
Scorpius mengangguk.
"Sebentar ya," kata Rose. "Kata Mum, kalau siang, lampunya gak bagus kalau dinyalain, lebih baik buka jendela aja."
Rose pun membuka tirai jendela yang sebelumnya tertutup—setelah mengambil kursi terlebih dulu karena tingginya belum mencukupi untuk bisa membuka tirai jendela. Dan sekarang, pemandangan Lily, Al, James dan Fred yang sedang berlatih Quidditch terkespos jelas.
Rasanya Scorpius ingin berlari keluar saja dan bermain Quidditch, tiba-tiba ia kehilangan mood untuk belajar membaca.
Tapi ia merasa tidak enak pada Rose yang sudah sangat bersemangat, jadi ia... belajar saja dulu.
Toh nanti ia akan tetap bermain Quidditch.
"Oke," ujar Rose. "Ayo kita mulai. Tapi, sebelum itu, Scorpius harus tahu yang mana huruf a, b, c, dan lainnya. Jadi, kita kenal huruf-huruf dan susunan alfabet-nya dulu, ya."
Scorpius menggangguk.
"Jadi... ini huruf a kecil," kata Rose sambil menunjuk satu huruf. "Ini huruf a besar."
Scorpius mengangguk lagi.
Rose tersenyum senang karena Scorpius akhirnya mengerti ajarannya. "Ini huruf b, kecil dan besar."
Scorpius mengangguk.
"Ini huruf c."
"Eh, tunggu dulu. Scorpie lupa yang mana huruf a!" seru Scorpius, kali ini ia tidak mengangguk. "Yang mana, Rose? Huruf a?"
"Lho? Tadi katanya Scorpius ngerti?"
"Lupa."
"Pokoknya gak bisa diulang. Scorpius udah tahu, kok," ujar Rose, tidak peduli bahwa murid satu-satunya itu lupa.
Scorpius hanya bisa mengangguk lagi. Ia bingung dengan cara mengajar Rose.
Tiba-tiba, ada ketukan dari arah jendela, membuat Scorpius teringat akan permainan Quidditch lagi setelah sebelumnya ia lupa akan hal itu. James yang mengetuk jendela.
Scorpius betul-betul tergoda ingin bermain Quidditch begitu melihat James memakai jubah Quidditch dan terbang bebas menggunakan sapu kecil yang terbang cepat.
"Ayo main!" seru James dari luar.
Rose marah. "Siapa? Scorpius?"
James mengangguk.
"Ah! Scorpius mau belajar dulu!" seru Rose.
James mencibir, lalu terbang lagi dan mulai bermain, berebut Quaffle dengan Lily karena mereka berdua adalah Chaser. Fred asyik melempar-lemparkan Bludger menggunakan pemukulnya, dan Al sedang terbang mencari Snitch. Umur mereka berempat masih di bawah tujuh tahun, tapi mereka terbang seperti anak-anak tim Quidditch Hogwarts.
Scorpius merasa tertantang ingin berebut mencari Snitch dengan Al, ingin tahu seberapa jauh kemampuannya dibandingkan dengan orang lain. Ia ingin mencari pengalaman.
Tapi itu betul-betul tidak mungkin dilakukan sebelum ia selesai belajar dengan Rose.
Hanya Tuhan yang tahu, apakah cara mengajar Rose yang tidak peduli bahwa Scorpius masih belum mengerti dengan satu pelajaran, lalu pindah ke pelajaran lain itu adalah berkah atau kesialan untuk Scorpius.
Itu mungkin berkah. Karena jika Rose nekat mengajarkan semuanya pada Scorpius dengan peduli, mereka baru akan selesai belajar beberapa minggu lagi. Jadi, Scorpius bisa cepat bermain Quidditch begitu Rose—dengan senyum bangganya—memvonis Scorpius telah bisa membaca.
Atau mungkin kesialan? Karena rasa bosan Scorpius serta keinginannya untuk bertahan tetap belajar dan tidak tergoda main Quidditch selama dua jam hanya sia-sia? Kan ia akhirnya tetap tidak bisa membaca satu huruf saja?
Terserahlah. Yang jelasnya, Scorpius tidak peduli dan ia sudah mengambil salah satu sapu di gudang untuk bermain.
Mereka berlima—Lily, James, Al, Fred, dan Scorpius—sekarang sudah melayang di udara memakai sapu.
"Oke, jadi kita bentuk tim!" James memberi pengumuman, seolah dia adalah Kapten dari semua Kapten. "Satu tim terdiri dari satu Chaser, satu Seeker, dan satu Beater. Keeper tidak usah, biar saja gawang tidak ada yang jaga."
"Ngomong-ngomong, tidak cukup, dong!" protes Lily. "Kan hanya lima! Harusnya enam!"
"Tunggu! Fred ajak Roxanne!" seru Fred, lalu ia melesat masuk ke The Burrow memakai sapu terbangnya, hendak mengajak Roxanne untuk ikut bermain.
Karena Fred masuk menggunakan sapu, Molly dan Ginny sudah meledak di dalam.
"Oke, supaya tidak membuang waktu, James akan langsung bagi kelompoknya," ujar James. "James sekelompok dengan Al dan Fred! Berarti... Lily sekelompok dengan Roxanne dan Scorpius!"
Lily mengangguk setuju.
Ketika Fred kembali bersama Roxanne—yang sudah melayang memakai sapu dan memegang pemukul Bludger. Roxanne langsung protes begitu melihat kumpulan pemain Quidditch. "Untuk apa sih, aku ikut?"
"Kita tidak cukup pemain, jadi Roxanne terpaksa ikut," jelas Al.
"Ayo kita mulai!" seru Fred sambil berjungkir balik di atas sapunya. Ia tidak takut jatuh karena ia sudah sering berjungkir balik seperti itu.
James mengambil Quaffle. "Oke, satu... dua... tiga!" seru James, lalu ia mengambil Quaffle dan melemparkannya.
Entahlah siapa yang memberi warisan pada James yaitu bakat untuk berbuat curang. Rasanya Harry maupun Ginny baik dan sama sekali menentang perbuatan curang ataupun jahat. Bahkan keduanya—Harry dan Ginny ikut berperan dalam menjatuhkan Voldemort—si Raja Jahat. Harry membunuh beberapa jiwa Voldemort—yang sudah terbagi ke dalam Horcrux—dan bahkan Voldemort sendiri. Ginny juga sudah biasa berperang melawan para Death Eaters.
Lalu kenapa James sangat pintar berbuat curang, bahkan ketika masih kecil seperti saat ini? Tidak tahu.
Curang yang dilakukan James sangatlah menjengkelkan, seperti saat ini misalnya.
Ia—yang mengawali permainan Quidditch dengan melempar Quaffle—melempar Quaffle tersebut serendah mungkin di atasnya sehingga ia bisa lebih mudah dan cepat mengambilnya daripada Lily.
Tentu saja ia—si James yang curang—yang memimpin Quaffle.
Lily geram dan ia menambah laju sapunya, lalu ia mulai berusaha menjatuhkan Quaffle dari pelukan erat James.
Sementara itu, Scorpius dan Al juga sedang sibuk mencari Snitch. Sesekali mereka mendapatkan Snitch itu dan mulai berlomba untuk mendapatkannya, tapi Snitch itu—walaupun terhitung lambat untuk Snitch yang biasa dipakai di pertandingan Hogwarts—tetaplah terlalu cepat bagi ukuran anak berusia lima tahun.
Fred dan Roxanne yang menjadi Beater juga asyik melempar-lemparkan dua Bludger yang tidak terlalu berat kepada lawan yang nyaris berhasil. Misalnya ketika Al nyaris mendapatkan Snitch, Roxanne melemparkan Bludger dan Al terpaksa terbang rendah supaya tidak terkena Bludger. Dan karena itu, tangan mungil Al terpaksa menunda keinginannya untuk menggenggam erat Snitch dan memenangkan pertandingan untuk kelompoknya.
Fred dan Roxanne memang sangat berbakat dalam hal Quidditch. Fred adalah seorang Beater sejati—menurun dari George. Fred bisa memukul dengan tepat seseorang menggunakan pemukul Bludger bahkan dari jauh sekitar dua puluh meter lebih.
Roxanne lain lagi. Roxanne menuruni bakat seorang Angelina Johnson—ibunya—yang merupakan Chaser andalan Hogwarts di jamannya. Roxanne bisa membidik Quaffle agar masuk ke salah satu dari tiga gawang dan mengelabui Keeper yang berjaga.
Tapi karena mereka berlima—semua yang bermain Quidditch selain dirinya—kekurangan Beater, Roxanne akhirnya menjadi Beater saja.
"Aw!" seru Lily kesakitan ketika Bludger yang merupakan pukulan dari Fred mengenai lengannya. "Lily perempuan, Fred!" serunya keras.
"Terkadang terlihat seperti laki-laki," ujar Fred santai.
Lily mencibir, lalu kembali berkonsentrasi merebut Quaffle ketika menyadari kakaknya—James—sudah jauh di depannya.
Sementara itu, Scorpius dan Al masih mencari-cari Snitch.
"Al akan pepet Scorpie terus," ujar Al. Ia benar-benar terbang di sebelah Scorpius.
Scorpius hanya diam dan mengangkat bahu, lalu mencari Snitch.
Mereka berdua terus mencari Snitch sambil sesekali harus berkelit dari serangan Bludger lawan. Kadang-kadang juga mereka ikut bersorak ketika salah satu di antara Lily atau James memasukkan Quaffle ke gawang.
Setelah setengah jam lebih mencari, Scorpius akhirnya melihat Snitch. Di dekat gawang milik kelompoknya sendiri.
Tanpa membuang waktu dan mengacuhkan Al, Scorpius langsung memacu sapunya sekencang mungkin ke arah Snitchnya. Al, yang sadar bahwa Scorpius sudah menemukan Snitch yang mereka cari sedari tadi, langsung mengekor Scorpius sambil berusaha menyamai posisi mereka.
Snitch semakin dekat.
Scorpius berusaha meraih Snitch dengan satu tangannya. Lily dan Roxanne sibuk menyemangati dari belakang.
Tapi sial. Snitch itu menyadari kalau Scorpius ingin menangkapnya. Snitch itu—yang terletak pas di depan tiang gawang—menukik ke atas.
Al yang masih di belakang Scorpius, masih bisa mengelak dari tiang gawang, tapi Scorpius yang sudah pas di depan gawang tidak bisa menghindar lagi. Ia hanya bisa berbalik sebentar agar sapu, wajah dan badan bagian depannya tidak terbentur tiang gawang.
Yeah, badan bagian depan, sapu dan wajahnya saja. Tapi lengan dan badan bagian samping kanannya membentur tiang gawang yang kasar.
"Aaa!" teriak Scorpius kesakitan. Ia terpaksa menghentikan pertandingan dan tidak mencari Snitch lagi. Sikunya terluka karena membentur bagian tiang gawang yang tajam.
Rose menutup mulutnya kaget. Ia kesal pada Lily yang tidak memerhatikan Scorpius dan malah asyik bersorak ria karena Quaffle-nya masuk ke gawang. Kesal pada Roxanne yang ikut bersorak dengan Lily. Kesal pada Al—yang saking kagetnya—hanya bisa diam tak berkata-kata, speechless. Kesal pada Sprinkle yang tertidur dan tidak melakukan tugasnya. Kesal pada Fred dan James yang hanya menggerutu melihat Lily berhasil memasukkan Quaffle, dan tidak memerhatikan Scorpius.
Semuanya... tidak melihat Scorpius terluka dan mengaduh kesakitan.
Ya, Rose memerhatikan semua itu dari jendela kamarnya. Diam-diam, ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena ia tidak berani keluar untuk membantu Scorpius.
TBC
Author Note / Gimana chapter ini? Lebih hancur dari sebelumnya, ya? Yang jelasnya, chapter ini lebih pendek dari chapter sebelumnya, lho. Hehe *bangga gak jelas* *ngapain bangga, orang lebih pendek _*
Chapter berikutnya... mungkin di-update satu minggu lebih dua hari dari hari publish ini (06/07/12) :D berarti tanggal 16 Juli nanti. *Padahal enggak ada yang nunggu update-an*
Eh tanggal 15 aja deh, pas someone pulang ke sini :
Tapi insya Allah lebih cepet kalau review untuk chapter ini cukup memuaskan *menjadi spirit*
Yup, thanks for reading dan saya hanya bisa nunggu review dari kalian semua :D sudikah kalian menulis barang satu review YANG BERGUNA di kotak review? Saya akan senang sekali...
-aniranzracz
