Chapter 6! My birthdate :3
CHAPTER TERSUSAH YANG PERNAH SAYA TULIS. Hope you enjoy. Chap ini panjang, lho :3
Disclaimer: Yang saya punya hanya Animonster bercover Vocaloid, blog translyrics saya, dan fic ini.
Chapter 6: Kebimbangan Buram
Kagamine Len mungkin tak akan terkejut bila ia menemui gadis itu di tempat lain.
Len sedang memegang kotak kecil dari kayu hasil karya pengrajin di dalam toko. Di tangan kirinya ia membawa sekaleng pernis kayu di gagangnya, lengkap dengan kuas lama berukuran sedang. Pemuda itu berdiri di depan toko kayu tua di dekat jalan utama. Bukan sebuah toko yang istimewa, hanya saja sepupunya adalah pemilik bangunan itu. Salah satu alasan mengapa Len bisa dengan mudah diterima bekerja paruh waktu di sana.
Banyak orang berlalu lalang di luar, tanpa menaruh perhatian khusus pada bangunan klasik di pinggiran jalan. Toko tersebut persis kebanyakan gudang kayu biasa, mungkin karena itu. Aroma pinus dan terpentin yang tajam menguar dari beberapa hasil kerajinan yang sudah jadi seperti set meja dan kursi, lemari berukir, kotak-kotak kecil untuk perhiasan, dan beberapa kursi goyang. Dari keremangan di dalam, sekilas bisa terlihat gaduh perabotan berwarna cokelat yang digeser, suara segelintir orang yang menawar harga, dan satu-dua orang lagi yang sedang memoles meja besar hasil pesanan. Udara musim dingin kelihatannya mudah masuk dari ambang pintu gudang yang lebar itu, namun tempat itu hangat, dengan segala macam aktivitas di dalamnya.
Apa ini sebuah tempat yang normal untuk seorang Diva?
"Gumi?" Len terbata, karena Gumi adalah satu-satunya orang Diva selain Miku yang pernah melihatnya di sana. Dengan segera ia menaruh kembali kaleng pernis di lantai, dan menumpuk kotak polos dari tangan kanannya ke atas tutup kaleng. Kemudian ia bangkit, dan tersenyum pada gadis di hadapannya. Mennepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, ia melanjutkan bertanya, "Ada perlu apa?"
Gumi masih menyedekapkan tangannya. Ia mengenakan sebuah ekspresi datar yang nyaris terlihat prihatin. Rambutnya hari ini diikat, dan ia mengenakan mantel hijau panjang beraksen bordir aster kuning. Keceriaannya tak nampak hari ini. Alih-alih menjawab dengan langsung seperti biasanya, ia bertanya balik, "Kakak sendiri sedang apa?"
Len mengangkat satu alis, bingung dengan pertanyaannya. "Bukankah aku pernah menceritakannya padamu? Aku kadang magang di sini untuk mencari penghasilan tambahan… memang Miku tidak pernah bilang?"
Gumi mengerutkan matanya, mencoba untuk menatap Len tajam. Sebenarnya, ia merasa sangat tidak enak pada seniornya saat ini. Namun dia harus, dia harus!
Gadis itu ingat percakapannya dengan Rin kemarin malam. Kekagumannya atas rasa percaya di antara kedua sahabat itu. Ketertarikannya atas kepribadian Rin yang dewasa. Kekagetannya atas pernyataan Rin. Ia tahu, ia belum lama mengenal mereka berdua – lebih-lebih Rin yang baru ia kenal sehari. Namun ia tahu ia sayang pada Rin seperti mendapat kakak perempuan baru. Ia perlu mencari kejelasan demi Rin. Dengan bergetar, gadis berambut hijau itu menambahkan, "Tidak bilang pada kak Rin?"
Di luar dugaannya, air wajah Len mengeras. Pemuda di hadapannya menjawab dengan tegas, walaupun masih mempertahankan kelembutannya, "Gumi, Rin tidak perlu tahu."
"Tapi kena-"
"Kita lanjutkan nanti malam, setelah pertunjukan." potong Len tiba-tiba, sambil mengambil kembali kotak kayu dan kaleng pernisnya.
"Kak! Tunggu-!" jerit Gumi kaget. Len yang tadi ada di hadapannya sudah membalik badan, berjalan masuk ke dalam gudang, meninggalkan gadis tegap itu membeku di depan.
Mulai merasa panik, Gumi mencoba menyusul. Ia melangkah masuk, semakin lama semakin buru-buru. Beberapa kali nyaris ia tersandung karena banyaknya barang dan pekerja di dalam gudang tersebut.
Len berjalan dengan cepat di depannya dan berbelok cepat, menaiki sebuah tangga di pojok ruangan. Gumi tertatih-tatih mengejarnya. Ada bimbang dan bingung dalam setiap langkahnya. Ia tidak puas karena tidak dihiraukan oleh Len, namun takut bila ia sudah membuat seniornya itu marah. Ia mengikutinya ke lantai dua. Gumi mengikuti Len masuk ke sebuah lorong panjang yang remang-remang. Baru saja pandangannya menangkap sekelebat sosok Len, ia mendengar suara ceklikan di pintu paling ujung sebelah kanan. Jelas Len masuk ke dalam sana, namun saat Gumi melangkah ke depannya, terpampang papan yang ditempel di daun pintu: DILARANG MASUK KECUALI KARYAWAN.
Kecewa, Gumi tahu tak ada gunanya mengetuk atau memanggil. Ia terdiam. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk, namun hatinya urung.
Ia… ia tahu ini salah. Ia tahu, ia tak seharusnya berada di tempat itu.
Urusan siapa sebenarnya ini? Di mana masalah sebenarnya? Mengapa rasanya begitu… frustasi?
Gadis itu masih memandangi bayangannya sendiri di lantai kayu. Urusan… ini urusan Len. Mengenai masalah, ia tahu ini sepele. Hanya mengenai Len tidak memberitahu Rin bahwa ia tak bekerja melebihi kemampuannya sendiri.
Apa Len tidak ingin Rin tahu? Bila ya, mengapa ia mati-matian menyembunyikannya?
Gumi menghela nafas saat ia akhirnya turun ke bawah dan keluar dari gudang toko itu, tak mengindahkan pandangan aneh para pekerja.
Mungkin yang perlu ia lakukan adalah menunggu.
Len mengunci pintu di belakangnya, keringat dingin bermunculan di dahinya.
Rasa dingin merayap dalam ruangan gelap tersebut. Len sedang berdiri dalam ruangan tempat mereka biasa bertemu dengan tamu-tamu penting. Sangat jarang, sebenarnya, dan tidak terlalu berguna – 'tamu penting' mereka yang terbaik waktu itu hanyalah seorang kepala stasiun. Cahaya matahari masuk remang-remang dari tirai yang setengah terbuka, menyinari sepasang kursi bulukan yang mengapit meja kopi kusam.
Debu hasil akumulasi bulan yang berganti itu mulai menggelitik hidung Len, namun ia tak peduli. Pikirannya berkecamuk. Ia jatuh terduduk di lantai yang kotor, tepat di belakang pintu. Bersandar, pemuda itu membiarkan rambutnya yang diikat menggesek pintu kayu. Tangan kirinya bergerak naik, menyapu butiran air di keningnya.
Hatinya merasa ingin berteriak. Ia tak mau Rin tahu. Rin sudah punya terlalu banyak beban saat ini – dan mengapa orang-orang tak mau membiarkannya melakukan semua ini sendirian? Mengapa mereka selalu bertanya? Terakhir kali ada yang berani bertanya pada Len, ia berakhir tak dapat mengontrol emosinya. Sekarang, ketika ia pikir tak ada lagi yang akan menyinggung topik ini, ada anak baru itu…
Gumi. Ia suka anak itu, ya. Ia percaya padanya, ya. Namun dengan kepribadian seperti itu, Len tak menyangka ia akan bisa membawa masalah ini kembali.
Len bisa saja menjawab langsung pada Gumi, dan mengenal pribadi Gumi, anak itu takkan bertanya terlalu jauh. Ia akan memaklumi. Ia bukan Miku yang akan terus-menerus membombardir Len hingga puas akan jawabannya.
Jujur saja, ia marah pada dirinya sendiri. Mengapa ia tak dapat memberitahu Gumi secara gamblang?
Len menunduk, membenamkan wajah dalam telapak tangannya. Alisnya mengernyit dalam dan tangannya mengepal keras. Semua karena ini adalah satu-satunya topik dimana ia akan menjadi sangat emosional. Satu-satunya bagian dalam hidupnya yang begitu sensitif. Suatu paradoks, dihubungkan dengan dirinya yang biasa penyabar.
Ia mencoba menarik nafas perlahan. Bau karpet apak yang lama tercium, tapi ia tak peduli. Ia perlu menenangkan diri. Tangannya masih mengepal keras, namun ia mencoba menjernihkan pikirannya. Membuang udara dalam paru-parunya kembali, ia mengosongkan pikirannya. Tenang…
Tak ada yang perlu dipikirkan.
Ia melakukannya beberapa kali, berkonsentrasi hingga merasa sudah lebih tenang. Setelah duduk lama dalam ruangan dingin tersebut, Len bangkit perlahan. Mengambil lagi kaleng dan kotak yang sebelumnya ia letakkan dengan kasar di sampingnya, pemuda itu membuka kunci pintu. Mungkin bekerja juga akan meringankan pikirannya…
Mungkin.
"Bila jujur yang benar, bimbang kurasakan,
Takut kar'na waktu takkan mengulang
Montblanc lembut dan manis,
Menyerahkan diri, ingin ku tenggelam dalam emosi…"
Tepukan penonton terdengar lagi saat Gumi selesai menyanyikan reff kedua lagu tersebut. Orkestra dengan megah mengisi jarak kosong di antara bait, menggema indah dalam gedung pertunjukan. Gumi bergerak ragu di atas panggung, menghayati makna lirik yang tertutup tersebut. Gadis berambut hijau itu tersenyum lemah saat membawakan lanjutan lagu, mengalun penuh perasaan.
"Gumi hebat, ya, Len."
"Ah? Iya."
Miku dan Len duduk di belakang panggung, keduanya memegang kertas lagu masing-masing. Miku menyilangkan kakinya di bawah gaun panjangnya dengan anggun, menambahkan, "Aku tidak ingat sambutan seperti itu saat debutku."
"Mmm," jawab Len. Matanya terpaku pada kertasnya, namun pikirannya entah kenapa ada di kata-kata yang baru saja dinyanyikan Gumi. Bila jujur yang benar, bimbang kurasakan…
"Aku dengar Gumi membuat liriknya sendiri. Dan baru saja selesai tadi pagi. Anak itu ajaib, Len, entah bagaimana ia dapat meyakinkan Kaito agar lagu itu bisa langsung keluar di panggung – maksudku, lirikku saja biasanya baru diterima makhluk biru itu setelah dua minggu!"
Len tertawa pahit, sebagian karena Miku baru menyebut senior mereka 'makhluk biru', dan sebagian karena masih memikirkan lagu Gumi. Dalam sekilas, mungkin terdengar seperti sebuah lagu dimana Gumi menyukai seseorang dan sedang mengumpulkan keberanian untuk menyatakannya. Namun, bila dihubungkan dengan fakta bahwa anak itu baru membuatnya setelah bicara dengan Len… jelas ada beberapa bagian yang ia maksudkan untuk dihubungkan dengan Len.
Anak itu masih belum bertanya lebih lanjut. Baguslah.
Mereka berdua dapat mendengar tepukan tangan yang terakhir saat Gumi berjalan turun dari panggung. Len dapat melihat Gumi dengan jelas sekarang. Gadis itu mengenakan gaun hitam dengan aksen hijau dan putih. Rambut hijaunya dihiasi bando kecil berwarna senada. Wajahnya sedikit berkeringat, dan ia tersenyum lebar.
Kadang Len heran, dari mana Gumi mendapat suntikan keceriaan sebanyak itu selama hidupnya.
"Gumi, tadi Kaito memberikan ini… katanya kita akan berduet lagi," kata Miku, berdiri menyambut Gumi. Gadis berkuncir dua itu memberikan selembar kertas berisi notasi pada juniornya. "Lagu baru, mungkin lusa baru bisa kita bawakan. Aku sudah membaca liriknya – oh, judulnya Wine Berry – dan ini kurasa memang akan sangat bagus dibawakan berdua, jadi kita…"
Len mendengarkan mereka berdiskusi dengan setengah hati. Ia harus bersiap-siap, karena setelah lagu ini, ia akan maju ke depan. Penata panggung sudah mulai memanggilnya.
Setelah melihat kertas miliknya untuk yang terakhir kali, Len bangkit, menaruh lirik tersebut di kursi. Satu lagu lagi, dan pertunjukan hari ini akan selesai. Ia menghela nafas. Ingin rasanya memutar balik waktu, ke saat dimana hidup rasanya lebi muda. Ia lelah akan rutinitasnya.
Baru saja ia berjalan melewati Gumi saat anak itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari Miku ke Len.
"…Kak? Boleh bicara setelah ini?"
Matanya masih memancarkan aura ringan seperti biasa, namun Len dapat mendengar nada yang berbeda dalam suaranya.
Apa ia masih bisa lari dari ini?
Bagaimanapun, Len memaksakan sebuah senyum sedih. Ia tahu, mungkin ini memang saatnya…"Ya, tentu."
Menarik nafas panjang, ia naik ke panggung. Remang berganti menjadi cahaya yang lebih kuat dengan penerangan yang lebih baik di depan. Masih cukup gelap, namun lampu-lampu di gedung Diva adalah termasuk yang terbaik di masanya.
Len mengangguk ke arah orkestra. Konduktor menggerakkan lengannya. Lagu terakhir malam itu pun mengalir berat, lebih sendu dari yang seharusnya.
Suara rusuh yang tadi memenuhi ruangan pertunjukan Diva sudah menghilang. Panggung luas itu sekarang lengang. Ceruk di depan panggung yang tadinya penuh oleh instrumen musik dan para pemain orkestra juga kosong, semuanya sudah dimasukkan kembali ke kotaknya atau pulang ke rumah masing-masing. Di lantai yang rendah itu masih tersisa alat-alat musik yang terlalu besar bahkan untuk digeser, yang pada akhirnya ditutupi oleh sehelai kain.
Sebuah grand piano berwarna hitam mengkilap adalah satu-satunya benda yang tertinggal di panggung. Piano yang berdiri sendiri tanpa ada yang menemani. Piano yang menunggu seseorang untuk kembali membuka kain penutupnya dan bersinar kembali di atas panggung. Dalam keredupan cahaya malam, ia bagai ditinggal untuk melamun di bawah selimut beludru merah marunnya. Len entah kenapa merasakan sebuah kesamaan antara kehidupannya kini dengan alat musik anggun tersebut – sebuah metafora yang aneh.
Sepi yang sama perlahan mulai menghinggapi ruangan-ruangan di belakang panggung. Beberapa Diva yang tersisa masih membereskan barang-barangnya di ruang ganti masing-masing, kecuali Len. Ia berdiri di depan, mengamati dari bawah latar elit tempat ia biasa tampil. Cahaya remang yang tersisa menyinari kedua bola matanya, menyiratkan letih dan rasa enggan.
Len sengaja menunggu Gumi di sana. Tak sesuka apapun ia akan topik ini, ia menyanggupinya. Sebenarnya ia juga tak mengerti, mengapa sebuah hal sepele seperti ini dapat terasa begitu penting. Hanya saja, rasanya segalanya menjadi sensitif ketika berhubungan dengan Rin.
Ketukan lemah terdengar dari balik panggung. Bunyi sol sepatu yang beradu dengan kayu membuat kerdam asing di aula. Suara itu mendekat, kian lama semakin jelas, hingga Len dapat melihat pembuat bunyi itu.
Gumi… dan mengapa ia membawa Miku?
"Aku pikir kau akan datang sendiri."
"Hm? Aku pikir tak adil kalau kak Miku yang sudah lebih lama jadi teman kakak tidak tahu."
Gumi menyibak sedikit rambut di bahunya. Ia menumpukan berat badannya di kaki kiri, sebelum memindahkannya lagi ke kaki kanan. Tangannya saling mengunci di depan gaun, jemarinya sibuk memainkan satu sama lain. Bagi Len, jelas terlihat bahwa ia sedang gugup.
"Kapan kalian berdua akan memberitahuku kenapa kita tidak pulang?" tanya Miku, mengangkat sebelah alisnya.
Len mengeluh dalam hati. Ia tidak ingin ada Miku di sini. Jelas terbayang dalam hatinya ucapan dan kritik yang bertubi-tubi dari gadis itu.
Namun, janji adalah janji.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" angguknya pada Gumi. Sebuah pertanyaan yang tak perlu, sebenarnya.
Namun Gumi tetap menjawab, dengan bertanya balik,"…Apa kak Rin tidak tahu bahwa kakak sekarang bekerja nyaris serabutan?"
Suaranya pelan dan tetap dengan nada ringannya yang biasa, tapi Len dapat mengenali nada lain dalam ucapannya. Gumi merasa tidak enak padanya. Dalam hati, Len bersyukur. Paling tidak, dengan tingginya rasa hormat Gumi padanya, anak itu takkan bertanya terlalu banyak ataupun mendorong terlalu jauh.
Len nyaris lupa ada Miku di sana.
"Len! Kau tak memberitahunya?" sambar gadis berkuncir dua itu.
Pemuda itu mengedikkan kepalanya, membuat ekor kuda kecil di belakangnya terantuk sebal. Mengapa sahabatnya yang satu ini harus selalu berlebihan? Paling tidak, ada cara bertanya yang jauh lebih sopan daripada itu.
Menghindari lontaran pertanyaan yang ia tahu akan keluar bertubi-tubi setelah ini, Len dengan segera menjawab,"Ya, aku tak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari Diva—"
"Kau bisa saja mengambil jadwal tambahan! Dan Rin dibayar oleh Diva untuk menulis lagu! Seharusnya bisa mencukupi—"
Perlukah dia memotong? Len tahu bahwa Miku memang selalu seperti itu, namun mau tak mau cara gadis itu berbicara mulai membuatnya panas.
"Kalau kau lupa, Miku, ibuku di rumah juga menggantungkan biaya hidup padaku." Ia berusaha agar nada bicaranya tetap tenang, walaupun hatinya sudah sangat letih atas semua ini.
"Ya, tapi-!"
"Yang lebih penting, apakah ini sebesar itu sehingga bisa membuatmu kesal!" bentak Len.
Miku tertegun. Matanya masih memancarkan keinginan untuk mendebat, namun pemuda di hadapannya mengangkat tangan kanannya, menyuruhnya untuk diam.
"Jangan dijawab. Aku sudah mencoba sabar." Tambah Len, menoleh ke arah lain. Kedua alisnya nyaris bertemu dalam kernyitan frustasi.
Hening. Len diam, mencoba mengendalikan amarahnya, sebal karena sikap Miku yang berlebihan. Miku mengepal tangannya di samping tubuhnya.
"…Kak, bukankah kakak yang berlagak deperti ini begitu penting? Kakak bisa saja langsung menjawabku tadi pagi. Tapi kakak malah berlari, dan itu justru membuat kami penasaran, dan—„
Len mengangkat tangannya.
"Jangan lanjutkan. Kalau yang kau inginkan hanya jawaban, aku akan menjawab."
Ekspresinya melunak.
"Aku melakukan ini untuk Rin. Aku tak ingin membuatnya cemas dengan memberitahu aku bekerja nyaris melewati batasku."
"…Lalu kenapa?"
"Kenapa aku mengambil begitu banyak?" Len tertawa pahit. "Bila kau hitung jumlah uang yang kuperlukan untuk membeli obat dari Yuuma, ditambah kebutuhan tiga orang, menjadi Diva saja tidak akan pernah mencukupi. Kita terlalu tergantung pada jumlah penonton, dan—"
"Jadi kau pikir tukang kayu tidak menggantungkan diri pada jumlah pesanan?" tatap Miku tajam.
"...Paling tidak ada uang untuk berjaga-jaga."
"Kak, bagaimana dengan kak Rin?" tanya Gumi.
"Kenapa dengannya?"
"Bukan apa-apa, tapi..." Gumi menelan ludah, mengumpulkan keberaniannya. Sudah berapa lama sejak ia mencoba untuk menantang orang yang ia hormati? Rasanya seperti berdebat dengan orangtua sendiri. "Menurutku dia pantas untuk tahu."
Len menunduk. Alisnya turun dengan tajam ke depan, matanya nyaris menutup dalam membayangkan sahabatnya. "Dia akan kecewa," katanya, nada sesak di suaranya.
"Salah sendiri." Sindir Miku.
Hening lagi. Ini mengapa Len benci dipertanyakan mengenai keputusannya. Urusannya menjadi panjang, emosinya naik-turun, dan semua bagai tak bisa selesai.
"Begini," kata Miku akhirnya, "aku tahu kau akan menolak, tapi kau harus memberitahu Rin."
"Apa akan ada bedanya? Lagipula, dia pasti akan marah padaku-"
"Len." Miku memandang langsung ke mata Len, kali ini ekspresinya tergabung dengan letih. Letih... Len tahu dengan jelas rasa itu. Dan ada lagi...
Khawatirkah itu?
"Rin tak akan mau dibohongi terus-menerus."
"Aku tak membohonginya!"
"Len, Rin itu sifatnya mandiri. Menurutmu bagaimana perasaannya ketika tahu ia dibantu terlalu banyak?"
Miku menghela nafas keras-keras, dan mengambil tangan Len. Kaget, Len mencoba menariknya, namun Miku langsung meraihnya kembali. Pasrah, Len hanya bisa mengernyit dan bertanya, nadanya tinggi, "Kau mau apa?"
"Aku kaget dia tak menyadari tanganmu yang semakin kasar... lalu emosimu yang semakin labil."
"Miku-"
"Begini. Kau mau tahu maksudku? Kau sudah di ambang batasmu, Len. Kau menghindari masalah, mudah marah, tak lagi ramah – padahal Len yang dulu kuketahui penyabar, dan bisa diandalkan."
"Aku tidak-"
"Kau tahu itu benar!" sambar Miku, menyentakkan kembali tangan Len. "Aku tak tahan lagi! Dengar, aku mau pulang, tapi besok sore aku akan datang ke rumah Rin, dan bila kau belum memberitahukannya, aku yang akan bilang! Jangan mengelak lagi – ini tidak sepertimu!"
Miku berjalan melewati Len dan Gumi dengan kasar, lalu berjalan menyeberangi aula sambil menghentakkan kaki. Rambut biru kehijauannya berayun bersama salju yang menyeruak saat tangannya menarik gerendel pintu. Dengan satu hentakan kuat, gadis itu membanting pintu hingga bergema.
Len menggelen-gelengkan kepala, wajahnya masih masam. "Sampai kapanpun aku heran yang seperti itu bisa sangat dekat dengan Rin."
Gumi hanya bisa mengangguk sangat pelan, dan kemudian tersenyum lembut pada Len. "...Ia khawatir, lho, sebenarnya, pada kakak."
"Hm?" Satu alis Len terangkat. Ia belum pernah mendengarnya sebelumnya. Sulit dipercaya, apalagi saat Miku berperilaku seperti itu.
"Jangan salah. Aku bisa melihatnya." Gumi menghela nafas. "Hanya saja ia terbiasa bicara secara sarkastis."
Len hanya memandangi gadis di depannya dengan tatapan setengah percaya, sebelum bertanya, "Jadi?"
Gumi terlihat agak bingung. "Jadi... apa?"
"Ada lagi yang ingin kaubicarakan?"
"Tidak. Tapi..." Gumi tersenyum lagi pada Len. Wajahnya terlihat polos saat berkata, "Aku bersyukur sudah mengajak kak Miku."
"Terserahlah." Len menghela nafas, dan mengambil tasnya yang sejak tadi digeletakkan di lantai. Kemudian, mereka berdua berjalan ke luar. Mengambil kunci aula yang tadi Kaito titipkan padanya, Len mengunci bangunan yang sekarang benar-benar kosong.
Mereka berdua berjalan hingga persimpangan, dimana Len melempar satu pandangan terakhir pada Gumi sebelum pulang. "'Malam."
Gadis berambut hijau itu terlihat ragu. "Kak?"
"...Ya?"
"Aku benar-benar menyarankan agar kakak... jujur pada kak Rin." Pandangannya jatuh lagi ke kakinya. "Maksudku... aku juga ingin yang terbaik... dan juga-"
"Besok saja, Gumi. Aku lelah." Len sudah lebih dulu berbalik badan dan berjalan. Meninggalkan Gumi dengan salju yang turun dan kalimat terputus.
Gumi menutup matanya, antara lega atau menyesal ucapannya dipotong Len. Yang akan ia katakan; sudah dari pertama ia tahu, dan ia yakin semua orang juga sudah sadar. Mereka tak sadar, keduanya tenggelam dalam sedih dan putus asa hingga merasa sudah terbiasa. Semua yang sudah saling dilakukan hanya memperjelas pernyataan ini.
Kalian berdua saling menyukai, bukan...?
Ada yang sadar saya memasukkan nama VY2?
Maaf telat update -_- saya ngaku, saya ini PEMALAS, puas? Jadi daripada kecewa, mending saya kembali menjadi seorang irregular updater.
Lirik di atas? Ya, Yowamushi Montblanc versi Indonesia. Silakan lihat di blog saya ;) tanpa spasi: greenfoliage . wordpress . com / 2011/07/23/yowamushi-montblanc-indonesian-version/
Tolong bilang ya, kalau ada yang merasa gaya bahasa/plot mengalami penurunan, agar bisa saya perbaiki di chapter berikutnya. Saya takut jadi bertele-tele, dan saya merasa kepribadian Len makin lama makin mirip dengan saya…
Selamat Hari Raya Lebaran bagi yang merayakan. Dan selamat mendapat angpau :3
~Hoshi*
