Tiga Cinta

Harry Potter © J. K. Rowling

Tiga Cinta © aniranzracz

Chapter 3

Chapter yang mulai ditulis pada 7 Juli 2012

Chapter yang di-publish pada 19 Juli 2012

.

.

Seminggu berjalan dengan indah setelah peristiwa Scorpius yang belajar membaca dengan Rose—walaupun akhirnya Scorpius tetap tidak bisa mengenal bahkan satu huruf saja—dan mendapatkan luka di sikunya ketika bermain Quidditch bersama Lily dan Weasleys.

Soal luka di siku Scorpius itu... memang membuat Astoria marah. Astoria sempat memarahi Scorpius—yang tidak bisa berhati-hati saat bermain Quidditch—dan juga Sprinkle yang malah ketiduran saat seharusnya dia mengawasi Scorpius. Tapi kemarahan Astoria sudah sirna ketika mereka berdua—Scorpius dan Sprinkle—meminta maaf.

Setiap dua hari sekali, Rose, Lily, dan Scorpius sudah saling mengunjungi. Biasanya Scorpius—yang ditemani Sprinkle—yang datang ke The Burrow, atau Rose, Lily, Al, James, dan sepupu-sepupu mereka yang lain yang datang ke Malfoy Manor.

Scorpius—walaupun masih sering diganggu oleh Al, James, dan Fred—sudah bisa bermain bersama Trio tersebut. Mereka berempat ditambah Lily, biasa bermain Quidditch saat mereka saling mengunjungi.

Scorpius tidak hanya dekat dengan Lily, Fred, James, dan Al. Scorpius juga dekat dengan Rose. Rose—yang menganggap Scorpius sudah bisa membaca—sering membawa bermacam-macam buku cerita bergambar untuk dibaca bersama. Scorpius hanya melihat-lihat gambarnya dan sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengaku pada Rose kalau sebenarnya ia belum lancar membaca sama sekali.

Seminggu yang indah, kan?

Paling tidak seminggu itu berjalan dengan nyaman, sebelum Draco Lucius Malfoy, Ayah Scorpius, mendapatkan sepucuk surat.

.

.

Astoria melayangkan sebuah kecupan singkat di bibir Draco pada suatu pagi. "Ayo bangun, kau tidak ingin terlambat kerja kan, Sayang?"

Draco menggeliat begitu merasakan kecupan selamat pagi Astoria yang terasa hangat dan membangunkan dirinya begitu saja. Ia mengusap-usap matanya dan membiarkan Astoria merenggut selimut tebal yang menyelimuti dirinya.

Astoria sangat rajin. Walaupun ia tidak mendahului Peri-rumah—yang bangun pada jam 4 pagi—dalam masalah bangun tidur, ia selalu bangun lebih dulu dari Draco ataupun Scorpius yang sama-sama... bisa dibilang pemalas dan baru akan bangun ketika... anggaplah dunia kiamat.

Astoria tersenyum senang ketika suaminya tersebut beranjak dari kasur sambil mengusap-usap matanya.

"Jam berapa?" tanya Draco singkat. Kepala keluarga Malfoy ini memang merasa malas untuk berbicara ketika baru bangun.

Astoria melipat kembali selimut yang baru saja ia renggut dari Draco sambil melarang Alania yang ingin membantunya. "Sekarang? Hmm... jam enam pagi."

Draco melihat ke jendela yang sudah dibuka oleh Astoria sebelumnya, lalu pandangannya jatuh ke pemandangan di balik pintu balkon mewah yang terbuat dari kaca. "Di luar berkabut, dingin sekali," komentarnya. Lalu ia melihat rambut Astoria yang basah dan baju kantor yang Astoria kenakan. "Dan kau sudah mandi?"

"Sudah," ujar Astoria. "Sekarang giliran kau yang mandi."

Astoria mengambil handuk bersih yang hangat dari balik lemari dan menyampirkannya di bahu Draco. "Ayo mandi, yang bersih."

"Aku bukan anak kecil, As," tanggap Draco, sedikit tidak suka dengan nada bicara istrinya yang membuat ia, seorang laki-laki dewasa, kembali menjadi anak kecil seusia Scorpius. "Aku tahu kalau mandi itu harus bersih."

Astoria tertawa. "Iya, tapi aku heran dengan cara mandimu! Aku heran bagaimana bisa kau masuk ke kamar mandi, lalu keluar satu setengah menit kemudian? Apakah betul kau mandi? Atau hanya mencuci muka dan menyikat gigi?"

"Aku melakukan semuanya," ujar Draco. "Keramas, menggosok badan, menyikat gigi, dan lain-lainnya."

Astoria menggelengkan kepalanya heran sambil tersenyum. "Terserahlah. Yang jelasnya ayo cepat pergi mandi. Sekarang sudah jam enam."

Draco mengangguk. Dan sebelum Astoria mendorongnya ke kamar mandi, ia sudah berjalan sambil menggerutu kenapa ia harus menikah dengan seseorang yang terlalu rajin untuknya.

.

.

Scorpius—yang sudah menyikat gigi dan mencuci muka walaupun belum mandi dan masih memakai piyama tidur hijau kesayangannya—sudah turun dan memakan sandwich serta makanan berlimpah lainnya yang disediakan para Peri-rumah bersama Astoria ketika Draco turun dan sudah memakai kemeja putih serta jas kerjanya.

"Mum belum menyihir luka di siku Scorpie supaya hilang," ujar Scorpius, belum menyadari kalau Draco sudah ada di ruang makan tersebut.

"Oh iya," ujar Astoria. "Mum lupa. Nanti Mum suruh Alania mengobati Scorpius."

"Morning, Scorpius, Honey," sapa Draco sambil mengusap-usap rambut pirang Scorpius.

"Morning, Dad," balas Scorpius dengan mulut penuh sandwich tuna yang dimasakkan Alania.

"Morning, Honey," balas Astoria. "Ayo makan. Mau makan apa? Mau kuambilkan?"

Draco duduk di kursi paling ujung, lalu menggeleng. "Tidak usah, aku akan ambil sendiri. Kau lanjutkan saja sarapanmu."

"Scorpie gak mau ke The Burrow lagi hari ini," kata Scorpius. "Tapi Lily, Rose, Al, James, dan lainnya mau ke rumah Scorpie. Boleh gak, Mum? Dad?"

"Boleh," ujar Draco dan Astoria bersamaan. Setelah itu Astoria melanjutkan, "Nanti Mum suruh Alania untuk siapkan makanan, snack, dan minuman untuk kalian semua."

Scorpius mengangguk. Lalu melanjutkan makan sandwich.

Ketika Malfoys sedang asyik memakan sarapan masing-masing sambil sesekali berbincang, tiba-tiba Sprinkle masuk ke ruang makan sambil membawa sepucuk surat. Ia membungkuk hormat, lalu mulai berbicara, "Permisi, Master Draco, Sprinkle membawa surat untuk Master Draco."

Draco mengangkat alis. "Siapa yang mengirimiku surat pagi-pagi buta begini? Coba, Sprinkle, kemarikan suratnya."

Sprinkle maju dan memberikan surat itu pada Draco.

Surat itu dibungkus amplop khas kantor Auror, amplop itu sepertinya ditulis baru-baru saja karena tinta yang menuliskan alamat-alamat serta nama-nama itu masih basah. Surat itu dikirim oleh Dawlish, atas nama kantor Auror, dan ditujukan pada Draco di Malfoy Manor.

Draco membuka amplop surat itu dengan heran, lalu ia membacanya di bawah tatapan bingung istri dan anak tunggalnya.

.

.

Alis Draco mengernyit ketika membaca satu bagian dari surat itu. Dan setelah selesai membaca, surat itu ia masukkan lagi ke amplopnya.

"Kenapa, Dad?" tanya Scorpius. "Surat itu bilang apa?"

Draco mengangkat bahu sambil memasang wajah tidak tahu-menahu tentang hal apapun yang bersangkutan dengan surat itu. Walaupun wajahnya mampu menipu Scorpius, tapi tetap saja itu tidak berlaku pada Astoria.

Ketika Scorpius—dengan asyik—melanjutkan mengunyah sandwich-nya entah untuk keberapa kali, Astoria berbisik pada Draco dari kejauhan, "Ada apa?"

Draco menggeleng. "Tidak ada apa-apa," katanya tanpa berbisik. "Ngomong-ngomong, aku pergi dulu, Honey. Scorp, Dad pergi kerja dulu."

Scorpius mengangguk.

Draco mengecup kening Scorpius, lalu mencium Astoria sekilas, lalu ia beranjak pergi sebelum Astoria sempat menanyakan sesuatu atau berpesan seperti 'hati-hati di jalan' seperti apa yang biasa Astoria lakukan.

Yeah, ada yang perlu Draco urusi secepat mungkin di kantornya. Sesuatu yang menyangkut masa depan keluarganya, mungkin.

.

.

Ting tong...

"Pasti mereka datang!" seru Scorpius. Ia—yang sudah mandi—sedang asyik bermain puzzle bersama Sprinkle sambil menunggu Lily, Rose, Al, James, dan Fred yang berencana akan datang ke rumahnya. "Sprinkle tolong buka pintu! Scorpie bereskan puzzle!"

"Ya. Baik, Master."

Sprinkle pun beranjak pergi membuka pintu sementara Scorpius mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle yang tadi ia susun bersama Sprinkle tadi. Ketika Lily, Rose, Al, James, dan Fred masuk, Scorpius sudah membereskan seluruh keping puzzle dan memasukannya ke dalam boks.

"Halo, Scorpius," sapa Lily dan Rose bersamaan.

Scorpius tersenyum. "Hai. Kalian semua ke sini naik apa?"

"Mum mengantarkan kami," jawab Al. "Mum ber-apparate."

"Wow!" seru Scorpius kagum, ia memang belum pernah satu kali pun diajak ber-apparate oleh Astoria atau Draco. Ya, ia tidak bisa ber-apparate sendiri tentunya karena usianya belum mencapai 17 tahun atau ketika dianggap sudah dewasa oleh Kementrian Sihir. "Bagaimana rasanya ber-apparate?"

"Rasanya?" tanya James memastikan. "Percaya sama James, Scorpius pasti lebih memilih pergi naik sapu daripada ber-apparate. Ber-apparate itu bikin pusing."

Scorpius melihat bawaan masing-masing dari mereka. Lily, Al, James, dan Fred membawa sapu dan beberapa perlengkapan Quidditch, tapi Rose hanya membawa dua buku cerita yang bersampul tebal dan mengkilap.

"Ayo kita main Quidditch!" ajak James pertama kali, mewakili Fred, Al, dan Lily. "Scorp, kata Scorpius ada lapangan besar di sini, kan? Kita adu terbang, berlomba mencari Snitch dan lempar-lemparan Quaffle saja!"

Lily melirik Rose yang langsung duduk dan membuka salah satu bukunya, sementara buku lainnya ia letakkan di sampingnya. "Ayo, James! Scorpius? Gak mau main Quidditch?"

Scorpius mengangguk. "Mau," katanya. Lalu ujung matanya melirik kasihan pada Rose—yang wajahnya memerah entah karena apa—dan membaca dengan cepat. "Tapi, Rose masa sendirian di sini?"

"Rose kan gak mau dan gak suka main Quidditch," kata Lily cepat.

"Atau Rose mau membaca di bangku pinggir lapangan? Di sana banyak bangku, lho."

.

.

Taman keluarga Malfoy memang sangat luas, tidak kalah luas dengan Malfoy Manor yang kelihatan seperti... bisa dibilang lebih dari istana mewah. Taman itu mengapit seluruh bagian Malfoy Manor. Jadi, di bagian depan rumah ada taman, di samping kanan dan kiri ada, dan di belakang juga ada.

Di taman bagian depan, kanan, dan kiri Malfoy Manor, diperuntukkan untuk bunga-bunga yang memang menjadi favorit Narcissa Malfoy—ibu Draco, nenek Scorpius—dan Astoria. Di sana, terdapat banyak bunga, tapi mayoritas bunga-bunga yang umum ditemukan di dunia Muggle.

Untuk bagian belakang, ini yang paling membuat seluruh mulut melongo takjub. Di belakang, ada lapangan besar kosong yang terserah ingin digunakan untuk apa. Biasanya Scorpius dan Draco menggunakan lapangan itu untuk berlatih Quidditch, ditemani Astoria serta Sprinkle yang duduk-duduk mengawasi Scorpius di pinggir lapangan.

Dan lapangan itulah yang akan Scorpius, Lily, Al, Fred, dan James gunakan untuk berlatih Quidditch. Adu terbang, mencari Snitch—punya Draco yang sudah bisa dipastikan tidak akan keluar dari Malfoy Manor, dan melempar Quaffle—Quaffle normal. Kali ini Beater sedang tidak berfungsi karena Bludger—Bludger normal, Scorpius atau Draco tidak mempunyai Bludger yang disihir untuk tidak meninggalkan Malfoy Manor—mungkin akan terlalu berbahaya.

Scorpius, Lily, Al, Fred, dan James sudah terbang memakai sapu kecil masing-masing sekarang. Dan permainan adu terbang juga sudah dimulai dari tadi.

Sementara itu, Rose tetap membaca bukunya—ditemani Sprinkle.

Membaca? Atau hanya melihat sekilas huruf-huruf yang tertera di halaman bukunya dan sama sekali tidak memerhatikan jalan ceritanya?

Yah, mungkin pilihan kedua yang benar.

Rose sama sekali tidak memerhatikan cerita yang ia baca, ia hanya melihat-lihat gambarnya dan kata-kata yang tersusun di dalamnya saja. Ia merasa kesal kenapa ia tidak suka bermain Quidditch—seperti Lily—dan kenapa Scorpius tidak membaca bersamanya.

Rose sesekali membuka halaman berikutnya dengan cepat sehingga membuat Sprinkle menoleh heran ke arahnya. Well, Rose tidak peduli sekalipun Sprinkle tidak hanya melihat ke arahnya dengan heran, tetapi malah menghujaninya dengan bom. Terserah. Whatever.

Rose juga sesekali melihat adu balap yang dilakukan oleh Lily, James, Fred, Al, dan Scorpius dengan kesal.

Perasaan Rose—yang sedang kesal—betul-betul terbalik dengan perasaan Lily yang gembira karena ia sedang asyik—iseng—ikut mencari Snitch bersama Al dan Scorpius. Lily ingin mencari apakah bakat Harry menular padanya atau tidak.

Mereka bertiga—Lily, Scorpius, dan Al—terbang berdempetan dengan posisi Lily di tengah. Mereka berposisi seperti itu karena tidak ingin lawan mereka masing-masing mendapatkan Snitch terlebih dulu. Jadi, jika satu melihat Snitch, semua ikut melihatnya. Jika satu terbang mendekati Snitch, semua akan ikut terbang.

Satu untuk semua, dan semua untuk satu.

Seperti kali ini, entah siapa yang pertama melihat Snitch dan menambah laju sapu untuk meraih Snitch, mereka bertiga sedang berlomba dengan sengit untuk meraih Snitch yang ada di ujung lapangan.

Tangan—entah tangan milik siapa, susah untuk mengetahui satu tangan di antara tiga tangan yang saling berdekatan—meraih Snitchnya, dan...

"Hore! Lily dapat Snitch-nya!" seru Lily senang sambil tetap melesat dengan sapunya.

"Wow! Lily hebat!" puji Scorpius, ikut senang karena Lily yang memenangkan adu mencari Snitch antara dirinya sendiri, Lily, dan Al.

"Lily curang! Lily curang!" seru Al, tidak terima kalau dia—yang bahkan pernah mengalahkan Harry—kalah dengan seorang perempuan yang merupakan adiknya sendiri. "Seharusnya Lily tidak ikut, karena Lily mau jadi Chaser! Bukan Seeker!"

Lily mencibir kesal. "Bilang aja Al gak bisa terima kalau Al kalah! Bilang aja kalau Al malu karena Lily lebih hebat dari Al!"

"Tidak!" bantah Al. "Pokoknya Lily curang!"

Dan pertengkaran mulut antara Lily dan Al itu pun berlangsung sengit, menyisakan Scorpius yang hanya bisa menyimak dengan bingung.

Entah kenapa, tiba-tiba Scorpius teringat dengan Rose yang masih menunggu. Lalu ia turun—membiarkan Lily dan Al yang masih berdebat—dan duduk di sebelah Rose yang... pura-pura asyik dengan bacaannya.

"Rose gak bosen nunggu sendirian?" tanya Scorpius, lalu ia melirik Sprinkle yang ternyata masih ada di sana. "Sama Sprinkle?"

Rose hanya diam.

"Rose marah?" tanya Scorpius. "Karena Scorpie gak ikut membaca sama Rose dan malah main Quidditch?"

Rose diam lagi.

"Rose jangan marah, dong."

Rose, masih diam.

Scorpius diam juga, mencari akal bagaimana caranya agar Rose tidak marah lagi padanya. "Atau sekarang Rose sama Scorpie membaca, yuk?"

Rose, masih terdiam.

Scorpius menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Lalu, akhirnya ia mendapat akal. Ia menaiki sapunya dan terbang, entah kemana.

.

.

Scorpius kembali.

"Rose masih marah?" tanya Scorpius.

Rose lagi-lagi diam.

Scorpius menyodorkan sebuah bunga mawar dari kantong celananya. Bunga mawar segar yang baru dipetik di taman Malfoy Manor, membuat Rose terpana.

"Untuk Rose. Supaya Rose gak marah lagi," ujar Scorpius.

Rose ragu. Ia ada di antara ingin mengambil bunga itu atau tidak.

"Ambil aja," ujar Lily—yang ternyata sudah turun dan menyaksikan semua dari atas tadi. "Rose suka bunga mawar, kan?"

Rose mengangguk dan tersenyum. Ia meraih bunga mawar yang disodorkan Scorpius dan menghirup aromanya. Harum, dan menyejukkan.

"Rose udah gak marah, kan?" tanya Scorpius seraya tersenyum.

Rose menggeleng. "Enggak."

"Kan Rose udah gak marah," kata Lily sambil menarik tangan Scorpius agar menjauh dari Rose. "Ayo Scorp, kita main lagi!"

Scorpius melambaikan tangan pada Rose. Dan Rose tersenyum.

.

.

Draco masuk ke kantornya dengan langkah cepat. Ia begitu terburu-buru dan tidak memerhatikan apa-apa, bahkan sampai tidak membalas sapaan dari Harry dan Ron. Ia segera berjalan menuju ruangan Dawlish, Ketua Auror.

Tok tok tok...

Draco mengetuk pintu ruangan Ketua Auror. Begitu mendengar perintah untuk masuk, ia memutar kusen pintu dan masuk, lalu duduk—tanpa menunggu dipersilahkan duduk.

"Ada apa, Malfoy?"

"Dawlish, kenapa surat ini mengatakan aku harus dipindah ke Bulgaria?" tanya Draco tanpa basa-basi. "Dan untuk satu tahun?"

"Minimal satu tahun," ujar Dawlish santai, tanpa peduli bahwa seorang Malfoy ingin meledak di hadapannya. "Pokoknya sampai Death Eaters yang melarikan diri ke Bulgaria itu tertangkap, lalu kau bebas ingin bekerja dimanapun. Bisa kembali ke Inggris, atau menetap di Bulgaria."

Draco menggaruk kepalanya. "Tapi masalahnya, aku mempunyai anak yang masih kecil, dan aku sudah berjanji pada Astoria—istriku—kalau aku akan menemaninya."

"Oh, romantis sekali, Malfoy," ujar Dawlish sambil menghirup kopinya. "Kau mau kopi?"

"Aku serius, Dawlish," kata Draco. "Sekarang—mungkin bagiku—bukan waktunya minum kopi. Aku betul-betul ingin tahu apakah aku bisa digantikan oleh orang lain. Bisakah?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena itu sudah ditentukan, dan aku sudah pusing memikirkan selama satu minggu, siapa yang akan pergi dan dipindahtugaskan ke Bulgaria."

"Tolong, Dawlish," pinta Draco.

"Maaf, Malfoy, tapi tidak bisa."

"Tolonglah."

"Tidak bisa."

"Tolong..."

"Aku bos di sini," ujar Dawlish tegas. "Dan maaf, kau wajib mengikuti perintah bos-mu, Malfoy. Walaupun jika kau adalah The Choosen One sendiri, kau harus tetap mengikutiku karena aku bos-mu di sini."

"Baiklah," ujar Draco pasrah.

Draco beranjak dari kursinya dan berjalan keluar. Tapi ia berbalik lagi, "Tidak bisakah, Dawlish?"

"Sekali tidak tetap tidak."

"Kapan aku harus pergi ke Bulgaria?"

"Tiga hari lagi. Sebenarnya surat itu sudah kusampaikan sejak beberapa hari yang lalu, tapi, entah siapa yang salah, surat itu baru kau proteskan kepadaku sekarang."

TBC

Uh sorry, saya tidak bisa membalas semua review -_- yang jelasnya terima kasih pada semua yang sudah memberikan review dan mendukung saya. Kebanyakan, isi review meminta saya mengganti pairing atau meniadakan pairing lain.

Tapi, maaf, plot cerita ini sudah menentukan seperti itu, dan saya berhak memakai pairing apapun untuk cerita saya (pairing tetap milik J. K. Rowling, saya hanya meminjam, sebenarnya XD).

Hmm... bagaimana chapter ini? Bagus atau jelek? Sudikah Anda memberi komentar tentang chapter ini dengan menuliskan satu review?

Rencananya... saya akan mem-publish chapter 4 pada tanggal 26 Juli 2012 XD tapi akan lebih cepat (insya Allah) kalau review mencapai target.

Terima kasih untuk yang sudah membaca... dan terima kasihnya dobel untuk yang sudah memberi review.

-aniranzracz