Tiga Cinta

Harry Potter © J. K. Rowling

Tiga Cinta © aniranzracz

Chapter 4

Note: Yang di-italic itu flashback, ya...

.

.

"Jangan bercanda," ujar Astoria sambil tertawa sementara ia menyeduh kopi untuk dirinya dan Draco.

Draco—saat pulang kerja dan menunggu Scorpius sudah tidur—memanggil Astoria untuk memberitahu istrinya tersebut tentang... kepindahan sementaranya ke Bulgaria, minimal 1 tahun. Pokoknya sampai sisa-sisa Death Eaters yang melarikan diri ke Bulgaria itu tertangkap, entah kapan.

"Aku serius," kata Draco, suaranya sedikit bergetar. "Sekarang bukan waktunya bercanda, dan masalah ini—bagiku—tidak bagus jika dijadikan bahan bercanda."

Astoria hanya diam dan menaruh dua cangkir kopi itu di meja, lalu ikut duduk bersama Draco. Lalu Astoria menggenggam tangan Draco. "Apakah tidak ada jalan lain?"

"Maksudnya?"

"Kenapa kau tidak meminta Dawlish menggantikanmu dengan yang lain?"

"Sudah kupaksa. Dia tidak mau," kata Draco. "Yah, lagipula dia memang bosku. Dan aku harusnya menurutinya."

Astoria mengelus tangan Draco lembut, merasakan lembut kulit pucatnya, merasakan kokohnya tulang di balik kulitnya. "Tidak apa-apa. Pergi saja."

Draco menatap Astoria. "Apakah kau akan ikut denganku?"

Astoria berpikir sejenak. "Mungkin... tidak. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini, Draco. Mereka, London, membutuhkanku."

"Dan aku ingin satu hal," kata Draco, ia melepaskan tangannya dari sentuhan lembut tangan Astoria. "Aku ingin Scorpius ikut denganku," lanjutnya takut-takut.

Kening Astoria berkerut, tidak menyangka kalau Draco menginginkan anak semata wayangnya—Scorpius—ikut dengannya ke Bulgaria. "Kenapa kau menginginkan Scorpius ikut denganmu? Apakah kau tega meninggalkanku sendirian di sini?"

"Bukan begitu," sahut Draco cepat. "Tapi Scorpius anakku, dan aku berhak mengasuhnya, Honey. Aku sangat sayang padanya."

"Dia juga anakku. Dan rasa sayangku terhadapnya juga sama dengan rasa sayangmu padanya."

"Jadi kau tidak setuju?"

"Tentu tidak," ujar Astoria cepat. Sifat Slytherin-nya yang biasanya bersembunyi, kini keluar tanpa bisa ia tahan-tahan. "Aku tidak akan membiarkan anakku meninggalkanku sendirian."

Draco mengambil napas panjang. "Bulgaria terlalu jauh. Berkilo-kilo meter dari sini. Dan semua orang pun tahu kalau senyaman-nyamannya rumah orang, tetap lebih nyaman rumah sendiri."

"Tidak apa-apa," kata Astoria cepat. "Ini demi keluargamu."

Draco mengernyit, ia menangkap maksud lain dari ucapan Astoria tersebut. "Maksudnya?"

"Apakah kau menginginkan keluargamu, aku dan Scorpius, bahagia?" tanya Astoria.

"Jadi maksudmu adalah... dengan aku sebagai suamimu dan ayah dari anakmu pergi jauh dari kalian berdua, kalian menjadi bahagia?" tanya Draco sambil mencibir.

"Aku tidak mengatakan itu," ujar Astoria santai. "Ketika kau pergi jauh untuk mencari kerja, sesuap nasi untuk aku dan anakmu, kami akan merasa bahagia karena kau begitu memperhatikan kami. Kami yang kumaksud itu aku dan Scorpius."

"Dan kau sama sekali tidak merasa kesepian, kasihan, atau peduli denganku yang harus pergi jauh?" tanya Draco. "Terpisah paling sebentar satu tahun dengan orang-orang yang paling kusayangi?"

"Aku peduli," kata Astoria, hatinya mulai tersulut api emosi. "Tapi bukan hanya kau yang membutuhkanku. Pekerjaanku, karierku, membutuhkanku."

"Aku sendirian di sana," kata Draco. "Mum dan Dad, tidak akan ikut menemaniku di sana. Mereka sekarang asyik di dunia mereka sendiri. Dan apa kata Dawlish? Disaat teman-temanku pergi bersama istri dan anaknya, aku malah pergi bersama orangtuaku yang sudah uzur? As, paling tidak, biarkanlah Scorpius pergi bersamaku hanya untuk satu tahun."

"Minimal satu tahun," ralat Astoria. "Dan jika begitu, aku yang akan sendirian di sini."

"Tidak," kata Draco. "Di sini masih ada keluargamu. Grengrass dan Malfoys. Kau masih bisa bermain bersama Daphne atau Pansy."

"Kau tidak mengerti perasaanku," ujar Astoria.

"Aku mengerti."

"Kau tidak mengerti perasaanku sebagai seorang wanita," kata Astoria dingin. "Lagipula kenapa jika kau pergi, kau harus menyusahkanku dan Scorpius?"

"Aku? Menyusahkanmu?" sindir Draco kesal, hatinya mulai terbakar emosi. "Aku suamimu, Astoria! Tentu saja aku harus selalu membawamu ke urusanku yang penting! Seperti kepindahan ke Bulgaria! Aku tak akan mengajakmu atau—menurutmu—menyusahkanmu kalau aku tidak sayang pada keluargaku!"

"Kalau kau sayang padaku dan Scorpius, kau akan membiarkan kami menjalani hidup sendiri dan membiarkanmu pergi sendiri untuk kami!"

"Kau yang tidak sayang padaku!" seru Draco. "Kau... egois! Kau selalu ingin dimengerti, tetapi kau tidak pernah mengerti keadaanku!"

"Terserah kau!" jerit Astoria. "Yang jelasnya, Scorpius akan selalu bersamaku!"

"Tidak!" kata Draco. "Aku yang akan bersama Scorpius!"

"Aku!"

"Aku!"

"Aku!"

"Aku!"

Perdebatan terus berlangsung dan semakin sengit. Mereka berdua—Draco dan Astoria—sama-sama tidak mau mengalah dan terus-menerus mengatakan lawan berdebatnya adalah pihak yang salah dan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti. Sampai akhirnya...

Astoria membanting meja, membuat gelas berisi kopi yang ia buat dan tidak ia sentuh sedari tadi jatuh dan pecah. "Kau seharusnya sadar diri! Kau itu bukan siapa-siapa! Inilah sisi negatif yang tumbuh kalau kau adalah seorang Malfoy! Selalu merasa dirinya adalah yang terpenting dan selalu ingin diutamakan!"

Scorpius, yang mendengar keributan di bawah rumahnya, bergegas turun. Ia ingin memeriksa keributan sekaligus ingin meminta susu cokelat. Ia turun sambil membawa guling kecil hijaunya.

Begitu sampai, Scorpius baru saja ingin membuka mulut, menanyakan keributan apa yang terjadi, ketika...

Plak!

Draco menampar Astoria tanpa dapat ia kendalikan. Rasanya tak mungkin Draco berani menyakiti orang yang sangat ia sayang, apalagi Astoria. Tetapi ada satu hal yang memaksanya melakukan hal itu, dan membuat rasa sayangnya untuk Astoria menghilang tanpa bekas. Mungkin hanya untuk sementara. "Kau juga seorang Malfoy! Scorpius juga seorang Malfoy!"

Astoria meraba pipinya yang memerah. Lalu ia menangis.

Ia berlari keluar dari Malfoy Manor, lalu ber-Dissapparate.

Scorpius, yang sadar apa yang terjadi, langsung berjingkat-jingkat menaiki tangga menuju kamarnya dengan cepat, sebelum kehadirannya diketahui oleh Draco. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menaiki tempat tidurnya, memakai selimut sampai menutupi leher kecilnya, lalu menutup mata, pura-pura tertidur.

Firasatnya mengatakan kalau Draco—ayahnya—akan datang ke kamarnya sebentar lagi. Entah apa yang akan ia perbuat. Membangunkannya? Atau sekedar melihatnya? Atau sambil mengatakan sesuatu? Atau jangan-jangan... firasatnya itu salah?

Tetapi sebentar saja, mungkin hanya lima menit Scorpius pura-pura tertidur, firasatnya terbukti. Draco datang ke kamarnya.

Scorpius tetap memejamkan mata, pura-pura tertidur sambil mengubah posisi tidurnya agar membelakangi Draco dengan gerakan perlahan. Semua sepertinya baik-baik saja, berjalan normal. Tetapi Scorpius merasa ingin dan bisa meledak setiap saat.

Draco duduk di samping Scorpius. "Kepindahan ke Bulgaria mungkin hanya sementara," ujar Draco perlahan. "Tapi mungkin Dad akan meninggalkan Inggris Raya, menceraikan ibumu, dan tinggal di sana, Bulgaria, selamanya."

Scorpius, yang mendengar itu, berusaha sebisa mungkin tetap memejamkan mata walaupun ia terkejut setengah mati, apalagi mendengar perihal ayahnya akan berpisah dengan ibunya.

Draco menunduk, mencium kening Scorpius perlahan, lalu mengangkat kepalanya kembali. "Dan kau, Scorpius Hyperion Malfoy, akan ikut denganku. Ikut dengan Dad."

Scorpius tanpa sadar membuka matanya. Untung saja posisi tidurnya saat ini sedang membelakangi Draco.

Draco berjalan keluar, lalu ia bergumam pelan, "Selamat malam."

.

.

Astoria muncul di depan sebuah rumah sederhana yang anggun. Rumah itu dipenuhi warna cokelat. Menimbulkan kesan bahwa orang yang menempati rumah itu adalah orang yang hangat, terbuka, dan terpelajar.

Sebenarnya bukan hanya kesan saja. Yang bersemayam di rumah itu memang orang yang hangat dan terpelajar. Ron Weasley bersama Hermione Weasley dan ketiga anaknya.

Astoria mengusap air mata yang masih mengalir perlahan di wajah cantiknya. Ia menghirup napas panjang, berusaha merasakan dinginnya udara malam yang mungkin mampu mendinginkan hatinya yang sedang panas. Lalu ia berjalan dan memencet bel.

"Ting tong..."

"Sebentar." Terdengar sahutan yang menimpali bunyi bel tersebut. Tak lama kemudian, seorang Hermione Granger membuka pintu.

Mata Hermione membelalak melihat Astoria yang walaupun tersenyum, tetap tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia baru saja menangis. Wajah—terutama pipi bagian kanannya—memerah dan matanya sedikit sipit, tanda ia habis menangis.

"Selamat malam, Hermione," ujar Astoria. "Bolehkah aku... menginap di sini sebentar saja?"

"Astaga... untung aku dan Ron sudah pulang dari The Burrow tadi sore! Kalau tidak, rumah ini pasti kosong! Ceritakan aku apa masalahmu," kata Hermione. "Ayo masuk dulu. Biar kita mengobrol dengan tenang. Akan kubuatkan secangkir cokelat panas untuk kita masing-masing."

.

.

"Ada apa?" tanya Hermione. Ia menyuguhkan dua cangkir cokelat panas di meja ruang tamu. "Kau punya masalah dengan Draco?"

"Dia ingin pindah ke Bulgaria," ujar Astoria cepat, tanpa basa-basi. Lalu ia mengambil secangkir cokelat panas walaupun sebenarnya ia sedang tidak ingin meminum sesuatu saat ini. "Dia meminta aku dan Scorpius ikut, tapi aku tidak bisa. Kau tahulah, kalau aku juga bekerja di sini, di London. Terus dia menuduhku yang tidak-tidak, katanya aku ingin dia pergi jauh, dan lainnya."

"Draco?" tanya Hermione memastikan. "Untuk apa ia ke Bulgaria?"

"Entahlah," ujar Astoria. "Tanya saja Draco sendiri."

"Kau mengatakan itu seakan dia bukan apa-apa di hidupmu," kata Hermione. "Dia itu suamimu. Dia mengajakmu ke Bulgaria, karena dia pasti tidak ingin pisah denganmu."

Astoria mengernyit. "Perkataanmu persis dengan apa yang ia katakan ketika aku berdebat tadi."

Hermione tersipu. "Ah, bukan apa-apa. Dia kan sahabatku."

"Tidak nyambung, Herm," ujar Astoria. "Aku mengatakan ucapanmu hanya persis dengannya, bukan mengatakan kalau kau ada apa-apa dengannya."

Wajah Hermione tambah memerah. "Ya, terserahlah," timpalnya. Lalu ia mengalihkan topik, "Lalu? Kapan kau maukembali ke Malfoy Manor?"

Astoria mendesah. "Bisakah aku tinggal di sini? Hanya untuk waktu singkat?" pintanya. "Aku ingin kembali ke Grengrass Manor, tapi aku tidak ingin orangtuaku dan Daphne mengira aku ada apa-apa dengan Draco."

Hermione mengangguk. "Tentu saja boleh. Kau boleh tinggal di sini semaumu. Kau kan sahabatku," kata Hermione. "Masalahnya, bagaimana jika Draco mencarimu?"

"Tidak," kata Astoria. "Dia tidak mungkin mencariku."

"Lebih baik kau kembali saja ke Malfoy Manor. Di sana pasti Scorpius dan lainnya juga mencarimu," ujar Hermione lagi.

"Biarkan aku di sini," kata Astoria keras kepala. "Please, Hermione? Kita sama-sama wanita, kau pasti tahu dan mengerti perasaanku."

Hermione berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk. "Baiklah. Silakan tidur dulu, Astoria. Kau bisa tidur di kamar tamu lantai dua rumah kami. Selamat datang."

.

.

Hermione berjingkat keluar kamarnya, berusaha tidak membangunkan Ron.

Ia berjalan ke ruang tamu yang ditempati tidur Astoria. Ia membuka pintunya pelan, lalu mendapati bahwa kamar sudah gelap dan Astoria tentunya sudah tertidur lelap. Seseorang yang baru saja menangis memang menjadi mudah tertidur lelap.

Hermione turun ke ruang tamu—agar tidak menganggu siapapun yang tidur di lantai dua—dan menghubungi Draco melalui telepon genggamnya. Draco memang sudah memakai telepon genggam Muggle yang sekarang dianjurkan Kementrian.

"Halo?" kata Draco di seberang. "Ada apa? Tumben kau meneleponku?"

Hermione mengambil napas panjang. "Kau punya masalah dengan Astoria? Kenapa kau tidak berusaha menyelesaikannya malam ini juga? Kudengar kau akan pindah ke Bulgaria?"

"Di mana Astoria?" tanya Draco.

"Di rumahku."

"Ya sudah, aku ke rumahmu. Sekarang."

Sambungan telepon pun terputus. Diputuskan oleh Draco.

.

.

Begitu mendengar ketukan pintu yang sedikit keras dari luar rumahnya, Hermione memakai jubah tidur beludru merahnya, lalu membuka pintu.

Draco.

"Mana Astoria?" tanya Draco tanpa basa-basi.

"Dia sedang tertidur," ujar Hermione. "Sebenarnya kau mau apa ke rumahku?"

"Entahlah," kata Draco. Lalu ia masuk begitu saja ke dalam rumah Hermione tanpa menunggu disuruh masuk dulu oleh Hermione. "Aku pintar, ya? Aku sudah mengira kalau Ron sudah tidur dan akhirnya aku tidak memencet bel karena ribut. Aku ketuk saja."

Hermione menutup pintu. "Kau sama sekali tidak berubah."

Draco sudah duduk di sofa, lagi-lagi tanpa menunggu Hermione menyuruhnya duduk. "Berubah apa?"

"Semakin hari, kau semakin dewasa," kata Hermione. "Tapi sikapmu bahkan tidak pernah berubah sejak kita masuk Hogwarts sampai sekarang. Kau masih saja kekanakan dan agak jahil. Sedikit nakal."

"Aku berubah," bela Draco santai. "Kalau aku tidak berubah, aku masih ada di Malfoy Manor sekarang. Aku tidak mungkin ada di sini denganmu yang notabene adalah seorang Muggle-born."

"Terserahlah."

Hening. Hermione tetap duduk, dan Draco juga. Mereka berusaha tidak saling menatap, walaupun kadang-kadang mereka masing-masing saling mencuri pandang.

Tiba-tiba suasana menjadi canggung.

"A—aku ambil minum dulu," kata Hermione berusaha mencairkan keheningan. Wajahnya memerah.

Draco mengangguk, lalu ia berjalan-jalan, melihat foto-foto keluarga Weasley yang banyak dipajang di meja-meja yang terdapat di sudut dinding. Ada banyak foto di sana. Foto Ron, Harry, dan Hermione saat mereka bertiga di Hogwarts. Ada juga foto pernikahan Ron dan Hermione. Foto Rose yang memeluk boneka. Foto Hugo yang baru lahir.

Draco menatap foto pernikahan Ron dengan Hermione. Hermione tampak sangat cantik di sana. Dengan gaun putih satin sederhana yang memancarkan kecantikan alami Hermione.

Draco, yang entah kenapa tidak ingin menatap foto itu lebih lama lagi, berjalan ke dapur. Dapur ada di belakang ruang keluarga Hermione.

Hermione sedang kesusahan memotong cokelat-cokelat beku. Ia ingin membuat dua cangkir cokelat panas untuk dirinya sendiri dan Draco.

"Tidak usah repot-repot membuat cokelat panas, sementara minuman lain yang lebih praktis masih banyak," kata Draco tiba-tiba, membuat Hermione kaget dan tanpa sadar, pisau yang ia gunakan melukai tangannya sendiri.

"Au!" rintih Hermione kesakitan, luka keluar dari jari telunjuknya.

Draco membelalak, sedikit panik. "Kau tidak apa-apa?"

Ia menghampiri Hermione dan memeriksa lukanya. "Kenapa kau tidak berhati-hati? Dengan luka seperti ini, sepertinya tadi kau bisa memotong jarimu sendiri kalau kau tidak lebih dulu menyadari!"

Hermione hanya merintih kesakitan. Lukanya terasa perih.

Tak diduga, tiba-tiba Draco menghisap luka di telunjuk Hermione.

Hermione berhenti merintih, kaget dengan perbuatan Draco.

Draco, yang menyadari kalau Hermione sudah berhenti merintih karena apa yang ia lakukan, kemudian melepaskan telunjuk Hermione. "Maaf."

.

"Mau jadi pacarku?" tanya Draco. Mereka berdua—Draco dan Hermione—adalah sepasang Ketua Murid Hogwarts saat itu. Sekarang mereka ada di asrama Ketua Murid, dan entah apa yang muncul di pikiran Draco , ia malah mengucapkan kata-kata yang lucu itu setelah sebelumnya ia bertengkar dengan Hermione. Bertengkar di tengah malam memang menjadi rutinitas mereka berdua.

"Percaya padaku," kata Draco. "Aku mencintaimu."

Hermione mengambil napas panjang, lalu berteriak, "Kau mungkin baru saja ingin menyerangku dengan Avada Kedavra, dan yang kaukatakan adalah 'mau jadi pacarku'? Kau tidak meminta maaf?"

Untung saja para penghuni Hogwarts lainnya tidak mendengar perkataan Hermione. Kalau tidak, satu Hogwarts akan geger mendengar pengakuan Draco, dan fans-fans Draco serta Hermione mungkin akan bersahabat dengan Myrtle Merana.

Draco, yang sedang dimarahi oleh Putri Gryffindor, Hermione Granger, hanya nyengir. "Aku tahu kau mencintaiku juga. Tak usah berpura-pura jual mahal, Hermione Malfoy."

Hermione mendelik. "Hermione Granger! Bukan Hermione Malfoy!"

"Kau bahkan lebih cocok dengan kata Malfoy di belakang namamu," timpal Draco santai. "Kelihatan... lebih anggun dan berwibawa."

"Dan aku tidak jual mahal, Malfoy!"

"Wow! Kau bahkan tidak membantah apa yang kukatakan! Kalau kau lebih cocok dengan nama Hermione Malfoy daripada Hermione Granger! Berarti... kau mau kan, jadi Hermione Malfoy Ngaku saja, Herm."

"Apa-apaan sih, kau ini?" tanya Hermione. "Daripada seperti ini, lebih baik kita melanjutkan pertengkaran saja!"

Draco berhenti nyengir tidak jelas. Ia menghampiri Hermione dan berlutut di hadapannya. "Aku serius. Kau mau jadi pacarku atau tidak?"

Hermione membelalak. Ia kira Draco hanya bercanda saja.

"Yah, mungkin aku bukan tipe-tipe yang diinginkan oleh perempuan lain. Romantis, kekanakan, nakal, jahil, dan lainnya," kata Draco. "Aku juga tidak lebih baik dari Weasley, Potter, atau laki-laki manapun. Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu."

.

.

Ingatan ketika mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih—secara diam-diam dan tidak diketahui siapapun—terputar di benak Hermione dan Draco.

Semua memori indah tersebut tetap berputar seperti film walaupun rasa sayang mereka masing-masing bukan ditujukan untuk orang yang ada di hadapan mereka itu. Semua muncul, dan tidak dapat ditahan-tahan lagi. Semuanya membungkus diri Hermione dan Draco.

Hening.

"Tuhan, tolong jangan biarkan rasa itu kembali lagi," gumam Draco pelan. "Herm, aku menghabiskan seluruh waktuku untuk belajar mencintai Astoria, berusaha menyayanginya. Dan mungkin aku berhasil setelah beberapa tahun terlewati."

"Jangan kira hanya kau saja," ujar Hermione pelan, nyaris berbisik. "Aku juga menggunakan seluruh waktu yang tersisa untuk menyayangi Ron dan... dan melupakanmu. Aku juga berhasil. Waktu terlalu banyak untuk itu."

"Berhasil, dan keberhasilan itu berakhir sampai saat ini," ujar Draco. "Paling tidak itu yang terjadi padaku."

"Jadi..."

"Jadi aku mencintaimu lagi," ujar Draco. "Untuk kedua kalinya. Tidak perlu risau memikirkanku, aku tidak akan berusaha memisahkanmu dari Ron seperti yang akan aku lakukan kalau aku masih ada di Hogwarts saat ini."

"Tak apa-apa," ujar Hermione, entah kenapa setetes air mata mendesak keluar dari matanya. "Karena aku juga mencintaimu lagi."

Draco tersenyum lemah, lalu menepuk bahu Hermione pelan. "Lupakan. Lebih baik lupakan. Aku dan kau, sekarang, ada yang punya."

.

.

TBC

a/n: Oh uwooo ini apa maksudnya yah? #garuk-garuk kepala bingung.

Ayo ayo aku minta saran ini... gimana bagusnya, yah? Kan di chapter ini ada DraMione-nya walaupun dikit banget. Dan DraMione ini iseng kutambahin di plot tanpa sadar kalau aku nambahin DraMione, itu akan berpengaruh besar di chapter selanjutnya. Bagusnya... DraMione itu jadian (walaupun Hermione udah punya Ron) atau DraMione itu hanya sekedar suka-suka aja dan nerusin hidup mereka?

Dan ngomong-ngomong, ini masuk rate M, yak? #sebenernya dari nulis tentang DraMione-nya, ini yang nusuk-nusuk hati.

Er... chapter selanjutnya akan dipublish pada tanggal 3 Agustus, mungkin. Tapi akan lebih cepet sumpah kalau review banyak. Dan modemku tetap bagus, pastinya.

Thanks for reading!

-aniranzracz