It is © atacchan
.
Harry Potter © J. K. Rowling
.
Alpha, Herald, and OC © atacchan
.
Summary : Saat semua yang dianggap biasa menjadi hal yang tidak biasa. Saat itulah kau harus menyadari banyak yang berubah. AlRose slight ScorpRose.
.
Warning : OOC mungkin, gaje, jelek, absurd, OC, ide pasaran, typo atau miss typo(s), dan kesalahan lainnya.
.
Timeline : NextGen. Al, Rose, dan Scorpius di tahun kelima. Hugo dan Lily ditahun keempat. James dan Fred di tahun ketujuh.
.
Don't Like? Don't Read!
.
Third : Forbidden Forest
.
"Kau bercanda?" tanda suara itu namun dengan nada yang dinaikkan satu oktaf dari nada suaranya biasa.
Rose hanya mengigit bibir bawahnya –hal yang dilakukannya kalau putus asa atu bingung- dan menunjukkan ekspresi bersungguh-sungguh.
"Kenapa?" tanya suara lain yang masih dalam nada datar, sedikit tersirat nada tidak percaya.
"Oh ayolah, ini menyangkut harga diri." bela Rose.
"Apa yang ditawarkannya?" tanya suara itu lagi.
"Dia berjanji –sumpah penyihir- bahwa dia tidak akan mengungkapkan rahasia tentang diriku kepada siapapun dan mengizinkanku untuk menghapusnya." terang Rose.
"Kau percaya?" tanda suara pertama yang sepertinya sudah tenang.
"Yeah," Rose menjawab sekilas.
"Well, apa tepatnya rahasiamu itu?"
Wajahnya Rose Weasley mendadak tidak bisa diterjemahkan, terlihat kilatan khawatir dan malu di matanya yang dapat ditangkap si penanya dengan baik.
"Eng- soal itu, bisakah tidak ku beritahu?" tanya Rose yang sedikit banyak sudah menduga jawabannya.
"Kami harus tahu Rose,"
"Al, aku rasa rahasia Rose benar-benar rahasia, karena dia rela mengumpankan nyawanya demi rahasianya." jelas suara lain.
Rose memandang Scorpius dengan pandangan 'Syukurlah-kau-mengerti'.
Al menatap Rose dan mendapatkan pandangan persetujuan yang artinya kata-kata Scorpius benar.
"Well, jadi bisa kau jelaskan apa yang dimintanya?" tanya Al yang sudah agak tenang.
"Dia meminta bunga Hawthorn putih."
"Dia menyebutkan tempatnya?" tanya Scorpius yang langsung mencerna perkataan Rose.
"Yeah,"
"Dimana?" tanya Al tidak sabar.
"Hutan terlarang," katanya pelan namun cukup untuk di dengar oleh kedua tersebut.
"Tidak terlalu sulit. Tapi, kenapa dia tidak mengambilnya sendiri?" tanya Al yang menyadari ada yang ganjil disini.
Kalau hanya mengambil, kenapa harus menggunakan orang lain? Kenapa bukan dia langsung.
"Err- itu, begini, bunga itu sebenarnya agak terlindung dan hanya bisa ditemukan dimalam hari. Bunga itu agak berbeda, kalau dari buku mengenai bunga sihir yang ku baca, bunga itu hanya keluar di waktu malam."
"Tumbuh dimana?"
Rose mengernyit tidak suka. Jelas-jelas dia belum selesai menjelaskan. Tetapi dia tetap menjawab pertanyaan Scorpius dengan nada biasa miliknya.
"Semak-semak yang berada dibawah pohon pinus. Bukan semak-semak biasa, semak-semaknya agak berbentuk seperti daun er- daun mistletoe."
"Jika hanya terlindung dan bisa dilihat malam hari kenapa dia tidak mengambilnya sendiri?" tanya Al yang masih bingung. Wajahnya terlihat berkedut karena berpikir.
"Entahlah, dia tidak mengatakannya padaku. Melanggar jam malam mungkin, lagipula jajaran pohon pinus tidak ada di tepi hutan kan? Mungkin agak ke dalam, kau tahu apa yang ada di dalam hutan terlarang di malam hari." jelas Rose.
"Yeah, kabar baiknya kau memiliki teman kesana dan kabar buruknya kita belum tahu akan selamat atau tidak." komentar Scorpius datar.
"Well, khusus untukmu," tekan Rose pada setiap katanya. "Kalau kau tidak mau ikut, tidak apa-apa. Secara teknis hanya dengan Al aku juga berani."
"Aku bisa bayangkan kau yang ceroboh dan Al yang selalu terburu-buru. Kalian ingin berada di halaman depan Daily Prophet huh?" tanya Scorpius.
Rose mengigit bibir bawahnya lagi. Scorpius ada benarnya, meski sebenarnya dia tidak suka mengakui ini.
"Baik Score, kau ikut." tegas Al yang mengerling sekilas ke Rose yang hanya mengangguk.
OoO
Rose memasuki Aula Besar untuk makan siang. Tadi malam setelah bertemu dengan Al dan Scorpius yang menjemputnya di Menara Astronomi dan mereka langsung ke Asrama Gryffindor, Rose menjelaskan duduk perkaranya dan keduanya mau membantu.
Tadi pagi mereka tidak bertemu karena Rose memang tidak sarapan di Aula Besar. Dia bangun terlambat dan sudah sangat bersyukur tidak terlambat masuk kelas.
Pagi tadi Rose juga tidak begitu mengamati sekeliling kelas karena sibuk mencatat dan mengangkat tangan –tipikal Rose- sehingga murni baru siang inilah mereka benar-benar berdiskusi kembali.
Rose makan di meja Slytherin –sebenarnya dia tidak begitu suka- karena Al dan Scorpius memang dari meja Slytherin. Lagipula, mereka sudah sepakat tidak melibatkan siapapun lagi.
"Ini hanya bunga Hawthorn demi janggut Merlin!" kata Rose ketika Al hanya bertanya mengenai perlu atau tidaknya mereka menceritakan hal ini kepada saudara-saudari mereka.
Rose duduk disebelah Al dan Scorpius duduk di depan mereka. Mereka duduk agak keujung meja, mecoba mencari privasi.
Rose sudah mengumamkan "Mufflianto" sejak duduk disana. Rose hanya berdalih berjaga-jaga saat ditatap oleh Scorpius dengan pandangan bertanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong semakin cepat kita mengambil bunga itu semakin baikkan? Jadi kapan?" tanya Al membuka pembicaraan diantara mereka.
"Jika aku sarankan, malam ini saja. Malam ini bulan purnama separuh. Tidak akan ada manusia serigala disaat-saat itu dan hutan juga tidak terlalu gelap." kata Rose menyampaikan pendapatnya.
Scorpius mengangguk menyetujui. Al juga mengangguk.
Rose menghabisakan lasagnanya dan Al serta Scorpius meneguk jus labu mereka untuk menutup sesi makan siang.
OoO
"Kalau hanya belajar aku ikut ya?" pinta Lily.
"Um, Lils," kata Rose ragu-ragu.
"Ya?"
"Pelajaran kita berbeda kan? Bukan maksudku tidak mau, hanya saja lebih baik jika kau belajar dengan teman seangkatanmu. Dengan Hugo mungkin,"
"Memangnya kalian mau belajar apa sih?"
"Yeah, mengerjakan beberapa esai Transfigurasi dan tugas mantra. Kami juga ingin mencoba mantra pertahanan dan juga mengenai Herbology kami-"
"Oke cukup! Baik, silahkan belajar sana. Aku titip salam untuk Score ya," kata Lily menyerah.
"Tentu saja."
OoO
"Lama sekali," komentar Scorpius datar.
"Lily mengangguku sebentar. Ah ya, dia titip salam untukmu,"
Jika ada seseorang yang melihat hal ini bisa dipastikan dia akan membelalak kaget. Bagaimana tidak, sebuah kepala berambut merah diikat satu menyembul dari udara kosong. Tidak lama kemudian, tubuh Rose -si rambut merah- mulai kelihatan. Dia terlihat melipat sesuatu yang tidak kelihatan.
"Al dimana?" tanya Rose.
"Dia kembali sebentar, tadi dia melihat jejak kaki Herald di peta perampok. Dia hanya tidak mau Herald histeris dan langsung melapor ke Profesor McGonagall bahwa aku dan Al menghilang."
"Kau sendiri kenapa tidak ikut?"
"Dia memintaku menunggumu disini. Dia bilang hanya akan mengatakan kepada Herald kalau aku dan dia akan ke dapur." terang Scorpius.
"Oh begitu,"
Rose mengecek jam tangannya. Masih jam sebelas, kemungkinan jika mereka akan bertemu Ketua Murid dan Prefek yang mengecek jalan tidak banyak. Hal itu bagus karena jika tidak mereka akan menerima potongan poin dan detensi.
Cahaya tipis berwarna putih terlihat dari kegelapan di belakang Scorpius. Scorpius yang menyadari Rose menatap jauh ke belakang punggungnya jadi membalikkan badan.
"Sudah?" tanya Scorpius langsung.
"Yeah, Herald sempat tidak percaya kalau kita akan kelaparan di jam segini."
OoO
Mereka sudah menyusun rencana dengan baik setelah makan siang. Al memberikan jubah gaib pada Rose di perpustakaan tadi sore. Karena Al dan Scorpius berada diasrama yang sama, disepakati bahwa mereka akan bertemu di lorong rahasia –Al sudah menjelaskan arah lorongnya kepada Rose- yang menghubungkan ruang rekreasi Slytherin dengan ujung koridor ke Asrama Gryffindor.
Rose akan menggunakan jubah gaib ke lorong dan kemudian mereka akan keluar bersama dengan jubah gaib yang akan diberikan mantra perbesaran –sehingga memungkinkan untuk menutupi mereka bertiga-.
Scorpius sempat bertanya kepada Al dan Rose untuk apa menggunakan jubah gaib. Rose memandangnya mencela dan menjelaskan bahwa dengan begitu mereka tidak akan ketahuan.
Rose juga sudah menggumamkan 'Silenco' ke derap kaki mereka, jadi sekarang yang terdengar saar mereka melewati koridor untuk keluar dari Hogwarts hanyalah tarikan nafas mereka.
Al sempat tidak yakin untuk melewati pondok Hagrid dan mereka baru melewatinya setelah Rose memastikan bahwa Hagrid tidak ada di pondoknya.
Mereka berjalan memasuki hutan terlarang dengan derap langkah yang sama, seolah mereka sudah tahu harus melangkah kemana. Rose tadi mengumamkan mantra Mufflianto di antara mereka sebelum memasuki hutan terlarang jadi tidak masalah jika mereka mau berdiskusi.
Rose menggeratkan genggamannya ke tangan Al yang berjalan di sebelah kirinya saat mereka mulai memasuki tengah hutan.
'Kau Gryffindor Rose! Kau seharusnya berani,' bisiknya pada dirinya sendiri.
Akhirnya setelah perjalanan yang menegangkan –Mereka sempat melihat tarantula lewat- akhirnya mereka menemukan pohon pinus yang tumbuh berdekatan. Ada puluhan pohon. Mereka mendekat.
Rose menahan nafas saat menyadari ada kumpulan Centaurus disana. Mereka duduk dengan kaki kudanya dan sepertinya sedang bercerita satu sama lain.
Al dan Scorpius yang juga melihat ini juga menahan nafas sebentar.
"Jadi bagaimana?" bisik Al pelan. Al ingat bahwa mantra Mufflianto sudah dipasang tetapi dia tetap menggunakan suara pelan.
"Kita harus mendekat, sebaiknya ke pohon yang dikiri. Jarak mereka kesana tidak terlalu dekat." bisik Rose dengan nada yang sama pelannya.
Mereka kembali berjalan pelan-pelan, mereka seakan lupa kalau Rose sudah memantrai derap kaki mereka dengan Silenco.
Di depan pohon pinus itu terlihat dengan jelas, ada banyak bunga Hawthorn. Ada yang berwarna putih dan merah pekat. Rose mengeluarkan botol yang digunakan sebagai tempat untuk bahan ramuan.
Mereka kompak berjongkok pelan di depan kumpulan bunga Hawthorn. Rose mengulurkan tangannya dan memetik bunga itu pelan. Al yang melihat tangan Rose gemetaran tiba-tiba mengumamkan Silenco ke arah tangan Rose yang sedang memetik bunga Hawthorn.
Rose berbisik pelan "Terima kasih,"
Setelah memenuhi botol itu dengan bunga Hawthorn putih dan menyimpan botolnya di sakunya, Rose mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.
Mereka berjalan pelan. Mereka melirik kearah Centaurus berulang kali hanya untuk memastikan bahwa mereka tidak menyadari adanya penganggu.
Mereka berhenti bergerak saat mereka melihat sebuah sosok berjubah merah melangkah ke dekat kerumunan Centaurus. Rose mengenggam tangan Al dan –tanpa sadar- tangan Scorpius dengan kuat.
Sosok itu terlihat berbicara dengan para Centaurus dan para Centaurus itu mengeluarkan suara bernada tidak yakin. Beberapa Centaurus kelihatan gelisah. Salah satu dari mereka –yang mungkin adalah pemimpinnya- maju mendekati si jubah merah.
Mereka terlihat berbisik. Trio penyusup itu menahan nafas.
Centaurus yang kelihatan seperti pemimpin tadi mengangguk dan tidak lama bergerak memasuki hutan bersama dengan kerumunan Centaurus lainnya. Si jubah merah berbalik, wajahnya tidak begitu kelihatan tetapi Rose yakin dia melihat rambut panjang si jubah merah yang berwarna merah pekat.
Setelah yakin tidak ada yang menyadari keberadaan mereka, mereka langsung berjalan cepat kearah kastil.
OoO
"Sebenarnya untuk apa?"
"Kenapa kau harus tau?"
"Aku hanya ingin memastikan ini bukan untuk perbuatan jahat." kata Rose dengan nada sinis.
Lawan bicaranya tertawa.
"Tentu tidak Rose, aku hanya akan membuat ramuan penghilang mimpi buruk. Aku sering mimpi buruk dan Madam Pomfrey selama ini memberikanku ramuan tanpa mimpi."
Rose hanya memperhatikan Alpha yang berbicara.
"Awalnya manjur, tetapi lama kelamaan aku sepertinya kebal terhadap ramuan itu. Madam Pomfrey mengatakan bahwa andai saja dia bisa membuat ramuan penghilang mimpi buruk. Kemudian aku menanyakan kenapa dia tidak bisa dan dia menjelaskan bahwa dia tidak memiliki bunga Hawthorn untuk ramuannya. Aku mengatakan bahwa aku akan membelikannya untuk itu tapi Madam Pomfrey berkata bahwa bunga Hawthorn tidak diperjual-belikan karena jarang ada yang menggunakannya. Bunga itu hanya bisa dicari di Knockturn Alley atau di Hutan Pinus." jelas Alpha.
Rose menghela nafas. "Baiklah, aku tidak akan menghilangkan ingatanmu karena aku mempercayaimu. Lagipula kita sudah berjanji."
"Terima kasih Rose," kata Alpha sambil mengacungkan botol berisi bunga Hawthorn.
"Yeah, satu hal lagi,"
"Apa?" tanya Alpha, alisnya naik sedikit.
"Jangan mengancam orang lagi,"
"Tentu saja." kata Alpha sambil terkekeh.
OoO
"Sudah?" tanya Al.
"Ya,"
"Aku kira awalnya Alpha akan mengajakmu berkencan ke Hogsmeade akhir pekan ini," komentar Scorpius.
Rose hanya memandangnya sekilas.
"Ternyata matanya masih bagus," tambah Scorpius lagi.
Alis mata Rose naik dan memandang Scorpius dengan pandangan maut miliknya.
"Hei sudahlah," lerai Al.
Rose kembali ke makanannya.
"Aku mulai berpikir kau baik sejak semalam, tetapi ternyata kau tetap meyebalkan bagaimanapun juga," keluh Rose.
Scorpius tidak membalas perkataan Rose.
"Ngomong-ngomong soal semalam, siapa wanita berjubah merah itu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Menurutmu Rose?" tanya Al kepada Rose.
Rose berhenti makan dan meneguk jus labunya. Rose menggeleng.
"Aku tidak tahu, tetapi··"
"Apa?" tanya Al mewakili perasaan penasarannya dan Scorpius.
Rose masuk ke dalam mode mengingat-ingat. "Aku sempat melihat rambutnya sepintas, berwarna merah pekat."
OoO
