Disclaimer : Vocaloid isn't mine. But this fanfict, is mine.

Warning : Gaje, alur kecepetan, OOT, typo, semi-typo(?), salah pengejaan, salah bahasa(?), terus- oke, stop. Kapan ceritanya mulai kalau begini terus?

Rated : Teen

Genre : Humor(?), Romance


Miku : Yuhu! Chapter 3 publish X3

Gumiya : Yeah! Si author kayaknya lagi seneng deh =v=. Soalnya tumben dia nge-publish agak cepet, dan kayaknya wordnya lebih banyak dari biasanya …

*Author muncul dengan background bunga-bunga*

Author : Hai, minna~ *sparkle eyes*

Luka : *sweatdrop* Yah, maklum, di RL si author kan lagi enchan-

Author : *bekep mulut Luka pake sandwich tuna* Yak!

Gumiya : Selamat membaca minna-san! ^^

Luka : … ==


Luka's POV

Aku terbangun di pagi yang masih gelap ini. Aku melirik jam wekerku.

'Uh, masih jam 5?' gerutuku. Aku merentangkan kedua tanganku.

Entah kenapa aku bangun sepagi ini. Apa karena aku tidak terlalu bekerja keras semalam? Entahlah. Daripada memikirkan alasanku bangun kepagian dan akhirnya malah kesiangan, aku segera mandi.

.

.

Setelah mandi, aku mengintip ke kamar tidur Gumiya yang terletak di sebelah kamarku. Terlihat, dia masih tertidur dengan buku catatan Sejarah di atas kepalanya.

'Hhh, dasar anak yang terlalu rajin ...' gumamku.

Aku menutup pintu kamar Gumiya perlahan. Aku menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Yah, sekali-kali tidak merepotkan Gumiya …


Setelah melihat bahan-bahan yang ada, aku memutuskan membuat salad dan cheese omelette dengan bacon untuk sarapan, dan dorayaki untuk bekal. Aku menaruh salad dan 2 piring omelette di meja makan. Setelah itu, memasukkan dorayaki ke kotak bekalku dan Gumiya.

"Hng … Ohayou nee-chan … Eh? Nee-chan sudah buat sarapan?" kata Gumiya yang masih menggunakan baju tidurnya.

"Ohayou mo. Yap, bekalnya juga sudah … Sana mandi dulu, sebelum sarapan! Baunya sampai sini lho …" candaku.

Gumiya hanya cemberut dan segera bergegas mandi. Aku hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan, dan membuat 2 gelas cappuccino hangat.

Setelah Gumiya selesai mandi, kami segera menghabiskan sarapan kami.

.

.

Setelah membereskan meja makan, aku dan Gumiya bersiap-siap berangkat sekolah. Saat aku keluar pagar, ada Gakupo yang sudah menungguku … Bersama Gumi.

"Ah, ohayou Luka-chan, Gumiya!" sapa Gakupo.

"Ohayou Gumiya-kun dan Luka-senpai!" ucap Gumi sambil tersenyum ramah.

Aku terdiam.

"Ah, ohayou Gakupo-senpai, Gumi-chan …" balas Gumiya.

"Ohayou mo. Ah, Gakupo, aku berangkat duluan ya! Aku lupa harus bantu Miki dengan proyek Sains … Duluan ya, dah!" kataku sambil menarik Gumiya.

"Eh?" seru Gakupo

"N-Nee-chan, chottoNaze?" kata Gumiya.

Aku sudah berlari menuju sekolah bersama Gumiya, meninggalkan Gakupo dan Gumi yang terbengong-bengong melihat kelakuanku.


Gumiya's POV

Aku ditarik oleh nee-chan berangkat ke sekolah, meninggalkan Gakupo-senpai dan Gumi-chan. Entahlah … Ada apa dengannya?

"Nee-chan, ada apa?" tanyaku pelan.

Dia melepaskan tarikannya dan menarik nafas pelan.

"Daijobu … Sekali-kali lari pagi sama Gumiya, muehehe." jawabnya sambil menjulurkan lidahnya keluar.

"Demo … Kenapa …"

Dia mempercepat langkahnya.

"Nee-chan! Chotto!" kataku dengan kesal sambil mengejarnya.

Dia menghentikan langkahnya.

"Ah ya. Jangan lupa nanti siang."

"Hhh … Iya … Kayaknya aku nggak ada latihan basket kok."

Kemudian dia mempercepat langkahnya lagi.

"Nee-chaaaan!" seruku kesal.


Luka's POV

Aku akhirnya sampai di sekolah. Gumiya yang ngomel-ngomel kepadaku, akhirnya berjalan menuju kelasnya. Aku pun berjalan masuk ke kelasku.

"Ohayou, Luka! Tumben nggak bareng Gaku-" sapa Miki yang langsung terdiam begitu melihat aku yang meliriknya sambil sweatdrop.

"Ohayou mo. Nggak ada apa-apa kok. Ayo sini, kita susun rancangan proyek Sains." jawabku.

Beberapa menit kemudian, Gakupo datang.

.

.

Gakupo's POV

Aku memasuki kelas. Aku melihat Luka duduk di bangkuku dan dia.

"Ohayou, Luka-chan!" sapaku.

" Eh, Gakupo? Ohayou mo. Eh, aku maju ya? Aku duduk sama Miki, soalnya hari ini Piko nggak masuk. Nggak apa-apa kan?"

"E-Etto … Nggak apa-apa sih … Ta- …"

"Oke! Arigato Gakupo!" senyumnya. Dia segera mengambil tasnya dan duduk di sebelah Miki. Aku hanya diam dan menghembuskan nafas pelan.

'Apa salahku? Apa aku membuatnya marah?' pikirku.

.

.

Dan seharian ini Luka menghindariku. Saat aku mau mengajaknya untuk bersama ke lab IPA, dia menolak dan langsung menggandeng Miki. Saat pelajaran Bahasa, kelas kami pergi ke perpustakaan. Saat aku mau mengambil buku di lorong yang sama dengannya, dia langsung pergi meninggalkanku. Saat istirahat, dia makan di bawah pohon di halaman sekolah bersama teman-temannya. Terlihat jelas bahwa dia menghindariku. Apa sebetulnya salahku?


Luka's POV

Akhirnya bel waktu pulang sekolah berbunyi. Aku segera bergegas menuju kelasnya Gumiya, dan menunggunya keluar dari kelasnya. 5 menit kemudian, dia keluar dari kelasnya.

"Nee-chan! Nunggu lama?" tanyanya.

"Etto, nggak terlalu kok. Ayo, kita ke tokonya." jawabku sambil bergegas melangkah keluar sekolah. Gumiya berjalan di sampingku.

.

.

Akhirnya kami sampai di sebuah toko …

"Ah! Irrashaimase! Silahkan pilih kue yang anda suka!" kata penjaga toko sambil tersenyum.

Aku dan Gumiya membalas senyuman si penjaga toko. Kami segera melihat kue-kue yang ada.

"Ah! Blueberry Cheesecake kayaknya enak! Tapi, Chocolate Cake with Mint Cream kayaknya juga enak … Duh, aku bingung harus pilih yang mana …" kataku.

"Duh, nee-chan … Pilih salah satu dong … Uang kita untuk bulan ini tinggal setengah gara-gara kita jalan-jalan kemarin …" kata Gumiya menasehati.

"Demo …"

*tiba-tiba Author muncul* (( Permisi ya, gak ada kerjaan nih #plak ))

( Author: Udah, Luka … Beli aja 2-2nya … Siapa peduli sih? D *bisikan setan* )

( Gumiya: Eh, siapa anda ya? Kita pernah kenal? )

( Author: #jleb *kemudian keluar dari toko kue dengan tampang suram* )

Aku kemudian berjalan melihat kue lain yang ada.

"Eh! Nee-chan! Ada kue keluaran baru nih! Bentuknya lucu dan kayaknya rasanya enak … Kata Rin, dia sama Len pernah beli kue ini dan rasanya enak! Namanya- … " kata Gumiya.

Aku segera menghampirinya. Kemudian membaca label kue itu.

"Berry Cream Cake." aku dan Gumiya mengucapkannya bersamaan.

"Hng … Oke. Kita beli kue ini aja ya! Sekalian lilin angka 1 dan 7!" kataku antusias. Gumiya menganggukkan kepalanya. Kemudian aku membayar kue ini ke penjaga toko.


Setelah membayar kue yang kami pilih tadi, aku dan Gumiya keluar dari toko kue tersebut. Saat baru berjalan menuju rumah, tiba-tiba ponsel Gumiya berbunyi. Dia segera mengangkatnya.

"Moshi moshi. Eh, Len. Ada apa? Ah. Kenapa mendadak? Oke. Oke, aku akan menuju ke sana. Tunggu aku ya." kata Gumiya. Kemudian dia menutup ponselnya. Wajahnya tampak agak kecewa.

"Eh? Ada apa Gumiya?" tanyaku.

"Nee-chan … Gomen ne, hontou gomenasai, kata Len, hari ini ternyata ada latihan basket. Jadi … Nee-chan pulang duluan ya? Nanti aku akan bantu menghias rumah saat aku sudah pulang …"

Aku menarik nafas pelan. Kemudian aku tersenyum.

"Daijobu desu ne! Tenang saja, aku bisa sendiri kok!"

"Oke, kalau begitu nee-chan pulang duluan saja ya! Aku mau ke sekolah. Kalau bisa, nanti pasti kucari seseorang yang dapat membantumu. Jaa nee!"

"Jaa nee!"

Kemudian, aku dan Gumiya berjalan menuju arah yang berbeda.


Akhirnya aku sampai di rumah. Aku memasukkan kue yang kubeli tadi ke dalam kulkas. Aku mandi, dan mengganti bajuku dengan baju warna pink bergaris-garis ungu, dan rok renda warna pink tua selutut. Aku mengikat rambut pink panjangku. Kemudian, aku menyalakan AC ruang tamu dan mulai menghiasi ruang tamu.

'Kira-kira, siapa ya orang yang dimaksud Gumiya? "Orang yang pasti dapat membantumu"?' kataku dalam hati.

Beberapa saat kemudian, bel rumahku berbunyi. Aku segera membuka pintu rumahku.

.

.

Aku membuka pintu rumahku. Ternyata … Gumi …

"K-Konbanwa, Luka-senpai! Aku tadi ditelpon oleh Gumiya-kun, untuk membantu Luka-senpai untuk pesta ulang tahun Luka-senpai besok, karena ada waktu luang, jadi aku dapat membantu Luka-senpai …" katanya perlahan.

"Oh, konbanwa mo! Ah, ayo silahkan masuk! Maaf merepotkanmu ya!" senyumku. Aku mempersilahkan dia masuk. Dia kemudian sibuk membuat hiasan-hiasan yang lucu. Aku menuju ke dapur untuk membuat cemilan untukku dan Gumi.

Aku membawa baki berisi sepiring cemilan dan 2 gelas cemilan. Kulihat hiasan yang dibuat Gumi.

'Ah … Terampilnya dia …' lamunku.

"A-Ano, Luka-senpai? Ada yang salahkah?" tanya Gumi sambil melihatku.

Aku kaget dan tersadar dari lamunanku.

"I-Iie, nandemonai … Ah, Gumi-chan, ini ada bakpao isi wortel dan sirup raspberry, silahkan dinikmati ya!" kataku.

"Ah! Wortel! Aku sangat menyukai wortel … Arigato, Luka-senpai!"

"Doumo!" senyumku.

Kemudian aku melihat Gumi yang menikmati bakpao-nya dengan nikmat.

'Anak yang damai dan lucu …' pikirku. Kemudian, aku merasa harus menanyakan sesuatu …

"Ah ya, Gumi-chan …"

"Eh? Nande, Luka-senpai?"

"Hng … Sebetulnya … Gumi-chan dan Gakupo ada hubungan apa?"

Gumi terdiam. Kemudian, dia mulai menceritakan masa lalunya …


-Flashback-

Normal POV

"Dok, anak ini selamat, tapi kedua orang tuanya tidak selamat …" kata seorang perawat.

Sang dokter menghembuskan nafas yang panjang. Dia kelihatan sangat terpukul.

"Apakah ada kerabat dari anak ini? Dari handphone atau kartu identitas orang tuanya mungkin?" kata sang dokter sambil memandang seorang anak berambut hijau pendek; yang masih belum tersadar. Kepalanya diperban. Syukurlah, tangan dan kakinya masih baik-baik saja. Hanya kepalanya saja yang terluka.

"Handphone dan barang-barang lain milik kedua orang tua anak ini rusak parah. Sementara dompetnya tidak ditemukan. Menurut polisi, anak itu masih hidup merupakan sebuah keajaiban- … Karena mobil yang ditumpanginya menabrak truk dan rusak parah …" cerita sang suster pelan.

Sang dokter menarik nafas pelan.

"Baiklah sus, anak ini akan kuasuh saja."

.

.

Gumi's POV

Aku membuka kedua mataku. Kemudian memegangi kepalaku yang nyeri.

'Uuukh … Di mana aku? Di mana … Kacchan dan Tocchan? Kenapa … Mereka tidak membangunkanku? Apa kita sudah sampai?' rintihku.

"Oh, kau sudah tersadar?"

Aku menoleh ke arah kiriku. Seorang dokter dan seorang anak laki-laki berambut ungu, yang sepertinya sebaya denganku …

"Eh? Aku di mana? Di mana ayah dan ibuku?" tanyaku.

Si dokter itu menghela nafas. Sepertinya dia tampak merasa berat untuk menceritakan apa yang terjadi.

"S-Sebenarnya, kamu dibawa ke sini oleh polisi. Kamu sedang dalam perjalanan dengan orang tuamu … Tapi … Mobil yang kalian tumpangi menabrak truk. Kedua orang tuamu- …" kata-katanya terhenti.

"Tidak. Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Di mana mereka? Kacchan? Tocchan? Tidak! Jangan tinggalkan aku!" raungku.

Aku menangis keras-keras dan menutupi mukaku. Anak laki-laki berambut ungu itu berusaha menenangkanku dan memelukku.


Aku akhirnya diadopsi oleh keluarga dokter tersebut. Sekarang, aku menjadi anggota baru keluarga Kamui. Anak laki-laki berambut ungu itu menjadi kakak laki-lakiku. Namanya, Gakupo Kamui. Aku biasa memanggilnya dengan Gaku-nii. Aku sangat menyayangi keluarga baruku, meskipun merindukan ayah dan ibuku …

Hari ini, sepulang sekolah (aku kelas 3 SD dan Gaku-nii kelas 4 SD), aku mengajaknya bermain di taman bunga dekat rumah. Kami asyik bermain kejar-kejaran. Setelah lelah, kami beristirahat sebentar.

"Ne, Gaku-nii, aku punya sebuah pertanyaan."

"Eh? Apa itu, Gumi-chan?"

" … Apakah … Kacchan dan Tocchan tidak menyayangiku? Makanya mereka meninggalkanku sendirian di dunia ini … Padahal, aku sangat menyayangi mereka. Aku merindukan mereka …" ucapku lirih.

Gaku-nii terdiam mendengar pertanyaanku. Kemudian, dia mengelus pelan rambutku.

"Ne … Gumi-chan … Mereka meninggalkanmu bukan karena mereka tidak sayang kepadamu … Aku tau, pasti dari lubuk hati mereka yang terdalam, mereka berdua benar-benar menyayangimu. Dan … Belum waktumu untuk menyusul mereka berdua. Suatu saat, pasti. Lagipula kau kan nggak sendirian di dunia ini? Ada aku, tou-san, dan kaa-san. Iya kan?"

Aku terhenyak. Kemudian aku menangis keras-keras. Gaku-nii hanya tersenyum sambil memelukku.

-End of Flashback-


Luka's POV

"Jadi, Gumi-chan … Diadopsi oleh keluarga Gakupo?" tanyaku.

"Yap. Yah, tak terasa sudah 4 tahun aku tinggal bersama mereka …" senyumnya.

"SoukaGomen ne, kamu jadi harus menceritakan pengalaman yang tak menyenangkan …" ucapku lirih.

"Ah? Daijobu … Nggak masalah kok, buatku!" jawabnya riang.

Kemudian dia berdiri dan memasang pita di langit-langit ruang tamu. Aku meneguk sirup raspberry milikku.

"Ne, Gumi-chan, bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi? Terserah kau mau jawab atau tidak …" kataku.

Dia menoleh. Kemudian turun dari tangga yang dinaikinya. Kemudian, dia duduk di sampingku.

"Tentu saja aku tidak keberatan, Luka-senpai. Apa pertanyannya?" ucapnya.

"Apakah kau menyukai Gakupo?" tanyaku spontan.

"Eh? Etto … Tentu saja tidak. Dia kan kakakku …" jawabnya sambil tersenyum.

Entah kenapa aku merasa lega mendengarkan jawaban darinya.

'Eh? T-Tunggu dulu. K-Kau kenapa Luka?!' jeritku dalam hati.

"Lalu … Siapa yang kau sukai, Gumi-chan?"

.

.

Gumi's POV

"Lalu … Siapa yang kau sukai, Gumi-chan?"

Aku kaget mendengar pertanyaan dari Luka-senpai. Spontan, aku langsung menutupi mukaku yang memerah dengan bantal di sofa.

"E-Etto, L-Luka s-s-senpai… K-Kumohon jangan k-kaget saat m-mendengar jawabanku…" kataku terbata-bata.

"Eh? O-Oke."

"A-Aku menyukai…"

"?"

"Hng … G-G-Gumiya k-k-kun."

.

.

Luka's POV

"Hng … G-G-Gumiya k-k-kun."

Aku langsung kaget setengah mati mendengar siapa yang disukai Gumi-chan.

"NANI?! O-Otoutoku?!" kataku.

Gumi hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia berdiri dan melanjutkan memasang pita di langit-langit. Kulihat, mukanya blushing berat.


Aku melirik jam dinding di ruang tamu. Sudah jam 5 sore. Aku merentangkan tanganku. Hasil menghias ruang tamu ini bagus sekali!

"Ne, Gumi-chan, ariga- …"

Aku terdiam. Ternyata … Gumi-chan tertidur. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu rumah.

"Tadaimaa … Eh? Sudah selesai? K-KE-" kata-kata Gumiya terhenti olehku.

"Psssst …" aku menunjuk Gumi yang tertidur. Gumiya langsung terdiam.

" … Dia kelelahan ya … Nee-chan, kugendong dia ke kamar tidur tamu ya? Biar dia bisa istirahat …"

Aku mengangguk. Gumiya menggendong Gumi ke kamar tidur tamu.


Gumiya's POV

Aku menidurkan Gumi-chan di kamar tidur tamu, kemudian menyelimutinya dengan selimut. Saat aku mau keluar kamar, tiba-tiba …

"G-Gumiya-kun …"

Aku menoleh. Ternyata Gumi mengingau. Entah kenapa … Mukaku memerah. Aku melepas kacamataku dan menaruhnya di meja. Kemudian aku duduk di kursi di samping tempat tidur. Aku mengelus pelan rambutnya, dan menyibak rambutnya yang menutupi mukanya.

"Gumi-chan … Seandainya kau tau aku menyukaimu …"


Author : Yosha! Akhirnya selesai! o/

Luka : Dan di chapter ini ada 2 pengakuan …

*Gumi sama Gumiya blushing*

Gumi : L-Luka-senpai!

Gumiya : Nee-chan! A-Apaan sih!

Author : Sudah … Sabar anak muda … Saya sih gak sabar chapter selanjutnya … Si tuna tsundere ini ulang tahun … *smirk*

Luka : *nelen ludah* Baiklah, minna, mind to review? Arigato gozaimashu ^^"