Disclaimer : Vocaloid bukan dan tidak akan pernah menjadi milik saya …
Warning : Typo, semi-typo, OOC, OOT, alur kecepetan, gak nyambung, gak lucu(?), gak seru, terus … Udah ah. Capek nge-list nya.
Rated : Teen
Genre : Romance, Humor(?)
Author : Yosh … Chapter 5 publish … =w=
Luka : Oi, anda ini … Tumben cepet amat publish ceritanya …
Author : Lho, seharusnya malah bersyukur kan? Makin cepat makin baik~ *shuffle dance*
Gumiya : *sweatdrop* Hhh, tapi si author juga sibuk di fict sebelah …
Author : Yah, sudahlah~, sela-
Len, Gumiya, Gakupo, Kaito : SELAMAT MEMBACA MINNA~
Author : … *tabok semuanya yang nyela omongan Author* *inner: Kenapa … Selalu aja … =="*
Luka's POV
Tak terasa, sekarang sudah hari Senin lagi. Ulang tahunku sudah 2 hari yang lalu. Tapi, sekolahku libur selama 3 hari, karena anak-anak kelas I berdarmawisata bersama ke Hokkaido. Mereka berangkat kemarin, dan pulang 2 hari lagi. Jadinya, aku sendirian di rumah. Karena Gumiya pergi berdarmawisata …
.
.
Moshimo kimi ga inaku natte shimattara …
Handphone-ku berbunyi. Aku terbangun dan segera meraih handphone-ku yang ada di meja belajarku. Ternyata ada 2 mail dan 1 missed call. Aku melihat ada mail dari siapa saja. Ternyata dari Gumiya dan Gakupo.
To : Luka_04
From : 12_Gumiya
Subject : Nee-chan!
Nee-chan, mau oleh-oleh apa? Oh iya, jangan lupa bangun pagi ya! Jangan mentang-mentang libur terus nggak ada aku, terus jadinya nee-chan bangun siangan. Jaga dirimu ya! Jangan lembur terus! Jangan lupa makan juga! Aku kemarin baru saja berbelanja di Supermarket, jadi jika kau lapar masak saja!
Aku tersenyum kecil membaca mail dari Gumiya.
'Dia adik yang benar-benar perhatian ya …'gumamku.
Aku segera mengetik balasan untuknya.
To : 12_Gumiya
From : Luka _04
Subject : Re: Nee-chan!
Hhh … Iya, iya, aku sudah bangun tau ==". Hah? Oleh-oleh? Terserah deh kau mau ngasih aku oleh-oleh apa. Ya, kau juga jaga dirimu ya. Jangan sampai jadi 'anak hilang' di Hokkaido. Ahaha, kidding :P. Oke, arigato ne~!
Setelah selesai mengetik jawaban untuk mail Gumiya, aku segera mengetik tombol send. Kemudian, aku membuka mail dari Gakupo.
To : Luka_04
From : Gaku08
Subject : Luka-chan …
Luka-chan, sudah bangun? Begini, aku mau mengajakmu nonton film di bioskop … Kau mau? Balas ya, arigato ^^
Aku melihat dulu siapa yang tadi meneleponku di list missed call. Ternyata Gakupo. Aku pun meneleponnya.
"Halo, Gakupo?"
"Eh, Luka-chan …"
"Gomen ya, aku baru bangun. Ng, aku mau kok. Tapi aku mandi dulu ya. Kita berangkat jam 9an saja ya?"
"Oke. Film-nya dimulai jam 10 kok. Nanti kujemput ya."
"Oke. Jaa ne."
"Jaa …"
Aku segera menutup handphone-ku. Kemudian melirik jam dinding di kamarku.
'Masih jam 8 … Mandi dulu saja ah!' gumamku. Aku segera mengambil handukku dan mandi.
Setelah selesai mandi, aku memutuskan untuk memakai kemeja warna putih, cardigan warna ungu, rok pendek selutut warna hitam, dan boots warna putih krem. Aku mengepang kecil-kecil rambutku; 2 kepangan di sisi kanan dan 2 kepangan di sisi kiri, kemudian mengikat kepangannya dengan pita kecil warna ungu. Aku juga memakai kalung berbandul hati warna ungu serta jam tangan warna ungu. Aku membawa tas selempang kecil warna ungu. Setelah itu, aku pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Aku membuat hotdog dan jus jeruk untuk diriku sendiri. Setelah itu, aku membereskan bekas sarapan dan pergi keluar rumah.
.
.
Aku keluar dari rumah. Ternyata, Gakupo sudah menungguku.
"Hei, sudah menunggu lama?" sapaku padanya. Dia menoleh ke arahku, lalu diam saja memandangku …
" ….. "
"Oi, baka? Jawab pertanyaanku …" kataku sambil menggelitiki dia pelan. Dia akhirnya tersadar.
" … Eh! G-Gomen! E-Enggak kok!" jawabnya dengan agak panik.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan diriku? Penampilanku aneh ya?" tanyaku jujur. Gakupo menggeleng. Mukanya merah.
"Ng … Nggak kok. J-Justru … Malah manis …"
Mukaku memerah. Aku melihat ke arah lain. Kemudian, suasana hening beberapa saat.
"B-Baka … Ayo! Nanti terlambat!" ajakku padanya.
"Eh … I-Iya …"
Kami akhirnya sampai di bioskop. Karena kami sudah punya tiketnya, kami tidak perlu mengantri. Kami segera memasuki ruang 10, sesuai dengan yang tertera di tiket bioskopnya. Kami segera mengambil bangku tengah.
"Ano … Gakupo … Ini filmnya tentang apa?" tanyaku.
"Action, kalau tidak salah ..." jawabnya.
Tak lama kemudian, orang-orang lain berdatangan. Sebentar lagi, filmnya dimulai. Aku melirik ke arah Gakupo. Dia tampak berkeringat dingin. Sepertinya … Ada sesuatu yang salah?
"Gakupo? Ada apa?" tanyaku sambil menyenggolnya. Dia menoleh, dan dia tampak takut memandangku …
"Doushita? Kenapa? Ada masalah?" tanyaku lagi. Dia mengangguk.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanyaku ulang.
" … Ano …"
"Bilang saja, gapapa kok."
" … Serius?"
"Iya, serius."
" … Sebetulnya … Sepertinya aku salah memesan tiket. Yang kita lihat bukanlah film action. Tapi …"
Aku menunggu kelanjutan kata-kata Gakupo.
" … Film horror."
Aku langsung melongo. Baru saja mau berteriak 'APA?!', namun tiba-tiba lampu di ruangan ini sudah dimatikan. Aku mengurungkan niatku dan hanya bisa diam …
Awalnya sih, semua baik-baik saja. Jika hantunya muncul, aku akan menutupi mukaku dengan tanganku atau tasku. Tapi … tiba-tiba … Hantunya muncul secara tiba-tiba dan mengagetkan semua penonton! Refleks, aku segera memeluk Gakupo dengan tak sadar.
"Luka-chan? D-Daijobu?" katanya dengan kaget.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menutup mataku. Gakupo membelai rambutku perlahan dan menepuk-nepuk punggungku … Mukaku memerah. Jantungku berdegup kencang. Entah karena hantunya … Atau malah karena Gakupo?
"Ne, Luka-chan, hantunya sudah pergi lho?" ucap Gakupo sambil menunjuk layar bioskopnya. Aku menoleh ke arah sana.
Benar. Hantunya sudah hilang. Aku langsung melepaskan pelukanku padanya.
"G-Gomen. I-Itu tadi, a-aku kaget." kataku dengan muka bersemu merah.
"Daijobu ne!" katanya sambil tersenyum.
Akhirnya filmnya selesai. Aku dan Gakupo segera keluar dari ruangan bioskop itu. Kami melangkah keluar gedung bioskop itu. Gakupo melangkah ke … Lho? Kok bukan jalan pulang?
"Gakupo? Kok kita nggak pulang?" tanyaku. Dia menoleh ke arahku.
"Ng … Aku ingin meminta maaf karena hal tadi …"
"Eh? Tak usah repot-repot!"
"Ayolah …"
"Sudahlah … Lupakan saja tadi …"
"Kumohon …"
Aku terdiam. Rasanya nggak enak juga menolak tawarannya …
"Hhh, baiklah …"
Gakupo tersenyum senang mendengar jawabanku. Kemudian kami melangkah lagi.
"Nah, kita sampai. Ayo masuk!" ajak Gakupo. Aku melihat papan nama tokonya. Celly's Cake Shop.
Kami masuk ke dalam toko itu. Gakupo mengajakku duduk di sebuah meja. Seorang pelayan datang dan memberikan daftar menu.
"Aku pesan cherry-choco cake satu, dan cappuccino hangat satu ya." kata Gakupo. Sang pelayan segera mencatat pesanan Gakupo. Sementara aku, bengong harus apa …
"Luka-chan? Pesan saja. Aku yang traktir kok." kata Gakupo padaku sambil tersenyum.
"Eh? Aku bawa uang kok! Aku bayar sendiri saja …"
"Ayolah …"
"Apa aku nggak merepotkanmu?"
"Nggak kok. Pesan saja."
Aku segera membuka buku menu.
"Ng … Aku pesan orange cheesecake dan melon float saja." kataku. Si pelayan langsung mencatat pesananku dan pergi ke dapur.
Aku melihat keadaan sekeliling. Toko kue ini lumayan ramai. Kesannya … Mewah lagi … Aku jadi merasa merepotkan Gakupo.
Beberapa menit kemudian, pesananku dan pesanan Gakupo datang. Aku segera menyendok cheesecake-ku.
"O-Oishiii!" kataku. Semua orang melihat ke arahku. Mukaku merah padam. Aku jadi lupa diri saking enaknya cake yang kumakan. Gakupo hanya tertawa kecil memandangku.
Beberapa menit kemudian, cake kami sudah habis.
"Luka-chan, mau pesan lagi? Nggak merepotkan kok."
"Eh? B-Baiklah …"
Akhirnya, kami pulang. Kami melangkah pulang sambil berbincang-bincang. Akhirnya, sampai juga di depan rumahku …
"Ne, Gakupo, arigato ya untuk hari ini! Orange cheesecake dan berry-choco marshmellow cake-nya enak sekali. Dan terima kasih juga untuk kiwi cream cake ini!" kataku sambil mengangkat bungkusan kecil. Yup, bahkan Gakupo membungkuskanku cake lagi …
"Doumo! Untunglah kau menyukai cake-nya … Ah, aku pulang dulu ya!"
"Eh, tunggu sebentar. Besok bisa tidak menemaniku ke toko buku? Aku mau mencari bahan-bahan …"
"Hng, oke! Kukabari lewat mail ya! Jaa ne, Luka-chan!" kata Gakupo sambil melambaikan tangannya.
"Jaa!" ucapku sambil membalas lambaian tangannya.
Ah … Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan untukku …
Keesokan harinya, aku terbangun jam 7 pagi. Itu karena tadi malam aku sudah memasang alarm pada jam bekerku. Aku segera mandi. Setelah selesai mandi, aku memakai atasan warna oranye, rompi warna kuning, celana pendek selutut warna coklat, sepatu kets warna kuning, dan jam tangan warna oranye. Aku mengurai rambutku dan memberinya topi jerami. Setelah itu, aku memasak ramen untuk sarapan.
.
.
Saat sedang menyeruput kuah ramen, tiba-tiba ada sebuah mail masuk. Aku segera membuka handphone-ku. Ternyata, mail dari Gakupo …
To : Luka_04
From : Gaku08
Subject : Gomen ne …
Luka-chan, gomenne, aku tidak bisa mengantarmu ke toko buku hari ini. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak yang penting. Kau bisa ke toko buku sendiri? Atau mungkin lain hari? Gomenne, hontougomenasai …
Aku agak kecewa saat membaca mail dari Gakupo. Tapi, aku segera mengetik balasan untuknya.
To : Gaku08
From : Luka_04
Subject : Re : Gomenne …
Hng, nggak apa-apa kok! Daijobu! Tak usah merasa bersalah begitu … Hari ini saja, aku akan sendirian ke sana. Soalnya aku butuh bahannya hari ini. Daijobu, aku akan berhati-hati. Jaa~
Aku segera mengirimkan mail-ku kepada Gakupo, lalu menutup handphone-ku. Aku membereskan mangkuk ramen-ku, kemudian menggait tas warna coklat-ku dan berjalan keluar rumah.
.
.
Saat sampai di toko buku, aku segera mencari buku referensi untuk komikku. Aku juga membeli tinta, pen, ujung pena, tone, dan buku komik. Setelah membayar, aku ingin membeli CD baru. Aku pun masuk ke dalam toko CD, yang berada di sebelah toko buku.
.
.
Aku melihat-lihat CD yang ada.
'Wah … CD Jazz atau Ballad ya?' tanyaku dalam hati. Aku masih mencari CD lain yang bagus. Saat hampir memutuskan ingin membeli CD yang mana, aku melihat 2 orang masuk ke toko. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Aku mengenal siapa anak laki-laki itu. Gakupo.
Dia sedang bersama seorang anak perempuan berambut pink, tapi lebih panjang dariku. Anak itu tampak menenteng beberapa plastik. Sepertinya mereka habis berbelanja. Gakupo tampak kelihatan senang bersama anak itu …
Gakupo menyadari keberadaanku. Dia melambai kepadaku. Gakupo dan anak itu datang menghampiriku.
"Eh … Luka-chan … Hai!" sapa Gakupo sambil tersenyum lebar.
"Siapa dia?" tanya anak itu kepada Gakupo.
"Ng … Namanya Luka. Dia … sahabatku." jawab Gakupo dengan senyuman lebarnya lagi.
Aku terdiam. Aku menaruh kembali CD yang tadi kupegang ke tempatnya.
"Ah, Luka-chan, perkenalkan, dia ini- …"
"Wah. Kau tampak senang sama pacarmu eh? Barusan kencan ya? Maaf aku mengganggu kalian berdua. Aku harus pergi dulu. Jaa." kataku cepat sambil berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Aku segera berlari cepat menuju rumah, tidak mempedulikan Gakupo yang memanggil namaku berkali-kali.
Sampai di rumah, aku segera menaiki tangga menuju kamarku. Aku menaruh barang belanjaanku di atas tempat tidur. Aku menghempaskan diriku, dan aku … menangis. Aku tidak tahan melihat Gakupo bersama perempuan lain. Apalagi dia tampak bahagia dengan anak itu. Sebetulnya aku tidak ingin mengucapkan kata-kata itu. Aku hanya tidak dapat menahan ego-ku. Yap. Semuanya jelas. Karena aku … menyukai Gakupo.
Aku tidak mengetahui apa alasan Gakupo untuk tidak mengenalkan anak itu langsung kepadaku. Jika dia ada urusan, mengapa tidak mengenalkan anak itu kepadaku terlebih dahulu? Barangkali, aku tidak akan merasa kecewa seperti ini. Tiba-tiba, berbagai pikiran terlintas di kepalaku.
Karena aku hanyalah sahabat Gakupo, tidak lebih?
Mungkin aku menyukainya, tapi… bagaimana dengan dia?
Barangkali … dia sama sekali tidak memiliki perasaan suka kepadaku?
Apakah hanya aku yang menganggap hubungan kami dekat dan lebih dari 'sahabat'?
Aku menangis makin keras sambil memeluk boneka teddy bear pemberiannya dulu.
Gakupo's POV
"Gakuko, gomen, aku …"
"Daijobu. Susul saja dia."
Aku segera berlari menuju rumahku terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba, aku berhenti.
'Tunggu. Mungkin cara ini akan berhasil …' gumamku. Aku segera menelepon Luka-chan.
.
.
Luka's POV
Moshimo kimi ga inaku natte shimattara …
Tatoeba neko ya imomushi ni natte shimattara …
Handphone-ku berbunyi. Aku melihat siapa yang meneleponku. Gakupo. Aku tidak mengangkatnya. Setelah itu, aku segera mematikan handphone-ku. Aku sedang tidak ingin diganggu … oleh siapapun.
.
.
Gakupo's POV
Luka-chan tidak menjawab panggilan teleponku. Aku mencoba menghubunginya lagi. Kali ini handphone-nya tidak aktif. Aku menghembuskan nafas panjang, dan segera mengetik mail untuknya.
To : Luka_04
From : Gaku08
Subject : Gomenasai. Hontou gomenasai.
Luka-chan, gomen ne, mungkin memang aku yang salah. Aku tidak mengenalkan dia terlebih dahulu kepadamu, dan aku tiba-tiba membatalkan urusan kita. Aku benar-benar minta maaf.
Dia itu Gakuko. Dia sama sekali bukan pacarku. Dia saudara sepupuku. Tadi pagi-pagi sekali, dia tiba-tiba datang di rumahku dan menginap selama sehari, karena orang tuanya ada urusan. Dan kaa-sanku meneleponku agar aku menemani dia hari ini. Gomen ne, aku tidak mengenalkan dia sebelumnya kepadamu. Aku benar-benar menyesal …
Aku segera mengirim mail itu. Lalu menjemput Gakuko kembali ke toko CD tadi.
Author : Fyuh … Chapter 5 selesai juga … Tapi bagi para readers yang mungkin agak keberatan dengan bagian 'mail' yang buanyaak sekali, saya minta maaf ya *bows*
Gumiya : Yah … Karena 2 tokoh utama sedang tidak bisa diganggu, saya akan menggantikan mere-
Kaito : *nebeng* Hai minna~! Saya akan menggantikan Gakupo~! Lama tak berjumpa ya~
*Gumiya menjitak Kaito berkali-kali* *Gumi nyorak2in Gumiya* *Meiko nyorak2in Kaito* *Author lewat sambil jualan kacang goreng(?)*
Piko : Hhh … Rusuh kan … ^^". Ya sudahlah. Saya saja. Minna-san, mohon review-nya ya! *bows*
