Disclaimer : Vocaloid, isn't mine ne~. But, this fanfict is mine! So, enjoy reading it ^^

Warning : OOC, OOT, typo dan semi-typo, alurnya kecepetan, gak nyambung dan gak gak jelas, aneh, salah bahasa(?), dan semua kawan-kawan serta kerabatnya~ (?)

Rated : Teen

Genre : Romance, Humor (?)


Author : Aloha~ … Kembali pada Matteru chapter 6~. Maaf update lama, habis mudik ;w;

Gumiya : Thor … Anda … Amazing sekali … Sekali update 2 chapter OAO"

Author : Iya dong, siapa dulu, muahaha! *pasang kacamata hitam* *le feel like a boss* (?)

Gumiya : *facepalm* Hah … Dasar … Baiklah, se-

*Gumi tiba-tiba muncul*

Gumi & Gumiya : Selamat membaca minna~

Author : Huatchiing … ~


Luka's POV

Tanpa sadar, aku ketiduran karena capek menangis. Aku bangun dan melihat jam dinding di kamarku. Jam dinding itu menunjukkan pukul 04.00 sore.

'Oh bagus. Aku ketiduran 2 jam. Aku menyia-nyiakan waktu untuk mengerjakan komikku!' dengusku kesal.

Aku segera mengeluarkan belanjaanku dari plastik. Aku menarik kursi meja belajarku, dan siap-siap mengarsir halaman komik. Tapi tiba-tiba, aku merasa harus meminta saran dari editorku. Aku menyalakan handphone-ku. Aku melihat ada sebuah mail. Dari Gakupo.

'Apakah aku harus membukanya? Buka … Tidak … Buka … Tidak … Ah, sudahlah, buka saja!' pikirku. Aku langsung membuka dan membacanya. Setelah selesai membaca mail-nya, aku segera berlari ke bawah dan keluar rumah. Aku tidak mempedulikan bunyi perutku. Ya. Aku kan belum makan siang?

.

.

Aku memencet bel rumah Gakupo. Tampak seorang berpakaian maid keluar.

"Konbanwa. Mencari siapa, nona?"

"Konbanwa mo … E-Etto, namaku Luka. Aku mencari temanku, Gakupo. Apa dia ada di rumah?"

"Ah, ternyata Luka-sama. Ano … Gakupo-sama baru saja pergi mengantar Gakuko-sama ke stasiun. Soalnya ternyata Gakuko-sama tidak jadi menginap di sini. Tapi tadi saya sempat mendengar Gakuko-sama mengajak Gakupo-sama menginap di rumahnya … Entahlah, Gakupo-sama menerima tawaran itu atau tidak …"

"Ah, kalau boleh tau, rumah Gakuko di mana?"

"Di Kyoto, Luka-sama."

"Oke, arigato gozaimashu ne! Konbanwa!" kataku sambil melambaikan tanganku kepadanya dan segera berlari. Dia tersenyum dan membalas lambaian tanganku.


Aku akhirnya sampai di stasiun dengan nafas tersenggal-senggal. Aku segera menuju tempat informasi.

"Ano, konbawa, bolehkah saya bertanya? Ng, kereta dengan tujuan Kyoto berangkat jam berapa ya?" tanyaku dengan nada agak panik.

"Konbanwa mo. Kereta menuju Kyoto … Sebentar … Ada yang berangkat jam 3.50 sore tadi, nona. Ada juga yang berangkat nanti, 7.30." jawab orang di tempat informasi.

"Oh … Arigato …" jawabku.

Dia mengangguk. Aku berjalan keluar dari stasiun dengan langkah gontai. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di tengah kota.

'Oke, aku bodoh. Pertama, aku salah paham sama Gakupo. Kedua, aku membiarkan dia pergi sebelum aku sempat meminta maaf kepadanya. Aku benar-benar bodoh!' makiku dalam hati.

"Luka-chan?"

Aku merasa mengenal suara itu. Aku membalikkan badanku. Ah! Gakupo dan Gakuko!

"G-Gakupo? G-Gakuko-san? B-Bukankah kalian …"

"Gakuko mengambil kereta yang jam setengah 8 kok, nee-chan! Dan jangan panggil aku dengan 'san'! Panggil saja Gakuko!" ujar Gakuko sambil tersenyum riang. Aku menganggukkan kepalaku.

"A-Ano, Gakupo, Gakuko, gomen ya, tadi aku salah paham … Maafkan kesalah pahamanku ya! Aku benar-benar tidak sopan dan tidak berpikiran panjang tadi!" jawabku sambil menunduk.

"Nee-chan, daijobu! Kami tidak marah kok!"

"Iya benar, Luka-chan. Kami tidak marah ataupun merasa terganggu … Justru akulah yang harus minta maaf."

Aku menggelengkan kepalaku. Tiba-tiba, perutku berbunyi lagi … Mukaku langsung memerah. Gakupo dan Gakuko tertawa kecil mendengarnya.

"Kebetulan, aku juga lapar nih nee-chan! Bagaimana kalau aku kita bertiga makan-makan? Aku yang traktir! Bagaimana? Sekalian merayakan kedatanganku, ayolah~" ajak Gakuko. Aku dan Gakupo hanya bisa menganggukan kepala. Gakuko lalu menggait lengan kami berdua.


"Aku pesan beef spaghetti, french fries, cream soup, salad, dan large cola float ya!" ucap Gakuko pada si pelayan yang mencatat pesanan kami. Kami memang makan di restoran American Food.

Aku hanya bisa bengong melihat apa saja menu yang dipesan Gakuko. Badannya kecil, mungkin agak lebih kecil dari Gumi. Tapi … Nafsu makannya hebat!

"Aku pesan chicken steak dan cappuccino hangat saja." ujar Gakupo.

"Nee-chan, pesan yang banyak saja! Kan nee-chan lapar?" kata Gakuko kepadaku. Aku menganggukan kepalaku.

"Hng … Aku … Fish burger, onion ring, dan cola milkshake." pesanku. Si pelayan mencatat semua pesanan kami, lalu beberapa menit kemudian dia kembali membawa baki berisi pesanan kami bertiga. Kami segera menikmati makanan yang kami pesan.


Setelah Gakuko membayar semua makanan kami, kami bertiga keluar dari restoran itu.

"Ah … Akhirnya kenyang … Eh, nee-chan, kata Gakkun, nee-chan seorang komikus ya? Aku sangat mengagumi seorang komikus! Aku jadi ingat, sebelum menjadi model, cita-citaku adalah men- AH! K-Keceplosan!"

Orang-orang di sekitar kami tiba-tiba menoleh setelah mendengar kata 'model'.

"Tunggu, bukankah itu Gacchan? Gakuko Kanai kan? Si model terkenal dari Kyoto itu?!"

"Ah, benar! Kenapa dia ke Tokyo?"

"Kyaa~! Dia lebih mungil daripada di majalah ini! Di majalah ini dia tampak dewasa!"

"Gawat … Ketahuan kan …" kata Gakupo lirih. Dia menarik tanganku dan tangan Gakuko, lalu bersembunyi dari kejaran para fans Gakuko.

"Hhh … Sepertinya keadaan sudah aman … Bagaimana kalau kalian ke rumahku? Gakuko mau melihat dan membantu pekerjaanku?" tawarku. Gakuko mengangguk-anggukan kepalanya dengan bersemangat. Kami kemudian melangkah dengan cepat menuju rumahku.


"Wah, rumah nee-chan rapi dan luas ya …" ucap Gakuko setelah kami bertiga masuk ke rumahku.

"Selamat datang ya, anggap saja rumah sendiri! Ah, tunggu sebentar ya! Aku akan mengambil peralatan membuat komikku dan membuatkan cemilan untuk kita bertiga. Tunggu ya!" ucapku. Gakuko dan Gakupo mengangguk dan mereka duduk di sofa ruang tamu. Aku segera mengambil peralatan membuat komikku di kamar, dan membawanya turun. Kemudian aku menuju ke dapur untuk membuat camilan.

.

.

Gakuko's POV

"Gakkun. Luka-nee benar-benar manis ya?" godaku pada Gakupo. Mukanya memerah mendengar ucapanku.

"A-Apaan sih!"

"Ahaha~ … Kau menyukainya kan~?"

"T-Tidak usah menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh!"

"Jawablah. Atau kripik terong oleh-olehku tidak jadi kuberi- …"

"Oke. Aku mengaku. Iya. Sudaah, berhentilah menggodaku, Gakuko!"

Aku terdiam mendengar jawaban sepupuku itu. Aku kemudian tersenyum.

"Ah … Aku akan membantu Luka-nee membawakan bawaannya dulu ya!" kataku sambil melesat ke dapur rumah Luka-nee. Aku … tidak tahan lagi …

.

.

"Luka-nee, boleh aku membantu- ah! Itu apa?" tanyaku sambil menunjuk makanan yang dibuat oleh Luka-nee.

"Eh, ini … Pizza mini, dan kiwi float …" jawabnya sambil menaruh cemilan buatannya ke baki.

"Boleh aku membantumu membawakan barang? Bagaimana jika baki itu saja?"

"Ah? Benarkah? Arigato! Kalau begitu aku yang membawa alat-alat komiknya ya!"

Aku mengangguk dan menerima baki itu, dan membawanya ke ruangan tadi. Sementara Luka-nee, dia mengikutiku dengan membawa peralatan komiknya.


Luka's POV

Sekarang, aku sedang sibuk menempelkan tone. Gakuko mengarsir, dan Gakupo menghapus bekas-bekas pensil. Aku menengok pekerjaan mereka.

"Wah! Arsiranmu bagus sekali, Gakuko! Hapusanmu juga rapi, Gakupo!" pujiku pada mereka berdua. Mereka hanya cengengesan.

"Yah, kami berdua memang menyukai komik ne~! Dulu, cita-cita kami berdua adalah menjadi komikus!"

Tiba-tiba, aku melihat Gakupo tertunduk mendengar kata-kata Gakuko. Raut mukanya kelihatan agak … Sedih? Ah, mungkin hanya pikiranku saja …

"Kita istirahat dulu yuk!" kataku sambil mengambil kiwi float milikku dan meneguknya. Gakuko mengangguk, lalu menggigit mini pizza buatanku. Gakupo juga melakukan hal yang sama seperti Gakuko.

"O-Oishi! Enak sekali! Kau berpendapat demikian juga, Gakkun?"

Gakupo menoleh. Dia menganggukan kepalanya.

"Huft … Yokatta … Soalnya masakanku kalah enak dengan masakan Gumiya …"

"Eh? Gumiya? Siapa dia, nee-chan?"

"Dia adik laki-lakiku."

"Eh? Kok dia nggak kelihatan? Pergi ya?"

"Iya. Dia dan murid-murid kelas I lainnya pergi berdarmawisata ke Hokkaido sejak kemarin. Mereka akan pulang besok."

"Ah … Makanya Gumi-chan nggak ada …"

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kami melanjutkan pembicaraan kami.

.

.

Aku melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul 7 malam.

"Sudah jam 7 malam ya? Berarti sudah waktunya aku harus ke stasiun jika tidak ingin ketinggalan kereta …" ucap Gakuko lirih. Dia sepertinya masih ingin berada di sini …

"Ah, bolehkah aku ikut mengantarkanmu?" tawarku.

"Tentu saja boleh! Aku akan sangat senang!"

Akhirnya kami membereskan ruang tamu, dan pergi ke stasiun.


Akhirnya kami sampai di stasiun. Kereta tujuan Kyoto sudah ada di jalurnya.

"Ne, Gakkun, Luka-nee, aku berterima kasih atas hari ini ya! Hari ini sangat menyenangkan! Aku sangat menikmati hari ini! Arigato ya!" ucap Gakuko sambil tersenyum riang.

"Ah … Doumo …" sahutku.

"Kereta dengan tujuan Kyoto pukul 07.30 akan segera berangkat. Para penumpang yang akan menaiki kereta ini, mohon segera masuk ke dalam kereta. Terima kasih."

"Ah … Keretanya sudah mau berangkat … Gakkun, Luka-nee, jaga diri kalian ya! Aku akan merindukan kalian! Kapan-kapan, mampir ke Kyoto ya! Aku akan menunggu kalian! Gakkun, titip Luka-nee ya~" goda Gakuko.

"A-Apaan sih!" seru Gakupo. Mukanya tampak memerah.

"Oke, aku masuk dulu ya. Jaa ne …" ucap Gakuko dengan lirih sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Aku membalas lambaian tangannya. Entahlah, senyumannya barusan itu … Seperti agak terpaksa? Atau hanya perasaanku saja?

Kereta yang dinaiki Gakuko pun mulai berjalan. Gakupo kemudian mengajakku pulang.


Gakuko's POV

Kereta yang kutumpangi mulai berjalan. Aku segera duduk di bangkuku. Aku kemudian mengeluarkan sebuah foto. Foto diriku dan Gakupo. Foto ini kami buat di foto stiker, saat tadi aku berjalan-jalan dengannya.

Sebetulnya, alasanku ke sini, hanyalah untuk melihatnya … Tiba-tiba, air mata menetes dari pelupuk mataku dan membasahi foto itu.

"Sayonara, Gakkun. Cinta pertamaku ... Semoga kau bahagia …"


Luka's POV

Tidak terasa, sudah 10 hari sejak kedatangan Gakuko ke sini. Aku sudah masuk seperti biasa. Besok, seluruh murid kelas II akan berdarmawisata ke Hiroshima. Aku sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin. Hari ini, aku pulang sendirian, karena Gakupo ada latihan kendo, dan Gumiya juga ada latihan basket. Aku berjalan pelan menuju pagar sekolah. Ada seseorang yang sudah menungguku di sana. Gumi?

"Hai, Luka-senpai!" sapanya kepadaku.

"Ah, Gumi-chan! Lama tidak bertemu ya … Mau pulang bareng aku?" tawarku.

Dia menganggukkan kepalanya dengan senang.

Saat hampir sampai di rumah kami …

"Ano, Gumi-chan, mau tidak main ke rumahku?" tanyaku.

"Wah, kebetulan, aku juga mau berkata begitu. Tapi aku ganti baju dulu di rumah ya, Luka-senpai."

"Oke. Kutunggu di rumahku ya, Gumi-chan!"

.

.

Aku masuk ke rumah dan segera mengganti seragamku. Aku mengganti seragamku dengan atasan warna merah dengan manik-manik perak membentuk hati, dan celana pendek berwarna coklat. Aku juga memakai gelang manik-manik warna merah di tangan kanan dan jepit berwarna coklat. Aku turun ke dapur dan membuat muffin dan jus untuk aku dan Gumi. Setelah selesai, aku membawa baki berisi makanan buatanku ke ruang tengah. Di saat yang bersamaan, bel rumah berbunyi. Aku bergegas membukanya, dan tentu saja yang datang Gumi. Ia sudah mengganti seragamnya. Aku mempersilahkan dia masuk dan mengajaknya ke ruang tengah.

Kami berbincang-bincang di ruang tengah. Aku menanyakan sebuah pertanyaan kepada Gumi.

"Gumi-chan, apakah orang tuamu selalu di rumah?"

"Ng … Tou-sanku seorang dokter kan? Dia sedang melanjutkan kuliah di Australia sekalian menjalankan perusahaan warisan orang tuanya di sana. Sementara kaa-san … Dia adalah pemain biola yang terkenal. Dia sering mengadakan konser di luar negeri. Sekarang, dia sedang di Paris …"

Aku menganggukkan kepalaku, lalu mengambil sebuah muffin coklat. Gumi meneguk jus wortelnya.

"Ne … Luka-senpai … Bolehkah aku bertanya?"

"Eh? Silahkan saja."

"Ng … bagaimana perasaanmu terhadap Gaku-nii?"

Aku kaget mendengar pertanyaan itu. Muffin coklat yang sedang kumakan, mendadak menyangkut di kerongkonganku. Aku segera mengambil jus strawberry-ku, dan meneguknya hingga tinggal setengah. Mukaku memerah.

"Hng … Hhh … I-Itu …"

"Ayolah, Luka-senpai ... Bukankah aku sudah mengatakan padamu aku suka pada siapa, bukan?"

Aku menelan ludah. Duh …

"Hng, ngg, hhh … B-Baiklah. S-Sebetulnya, a-aku, m-menyukainya, G-Gumi-chan."

Dia tersenyum simpul mendengar jawabanku.

"Sudah kuduga … Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu kepadanya, Luka-senpai?"

Aku kaget mendengar ucapan Gumi barusan. Itu … Terdengar gila.

"T-Tentu saja aku t-tidak dapat melakukannya!" jawabku dengan muka yang memerah. Aku segera menutupi mukaku dengan bantal.

"Ayolah … Tak ada salahnya mencoba kan? Apa senpai tidak takut kehilangan nii-chanku? Dia banyak yang naksir kan? Gakuko saja suka dia."

Aku kaget mendengar pernyataan Gumi barusan. GAKUKO? MENYUKAI GAKUPO? (Luka: Njir, thor, gausah di-caps juga ==)

"A-Apa? Gakuko … menyukai Gakupo?"

Gumi menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia mulai bercerita kepadaku, bahwa Gakuko yang pernah mengatakan hal itu kepada Gumi. Tapi, Gumi tau, bahwa perasaan dan perhatian Gakupo kepada Gakuko hanya sebagai sebatas saudara. Tidak lebih. Makanya, Gumi hanya bisa menyemangati Gakuko dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia takut menyakiti Gakuko jika mengatakan hal yang sebenarnya kepada Gakuko.

"Nah … Makanya … Jika senpai menyukai nii-chan … Nyatakan perasaan senpai kepadanya sebelum terlambat."

Aku menghela nafas panjang. Perkataan Gumi ada benarnya juga …

"Ah, sebentar lagi kan tanggal 14 Februari? Hari Valentine kan? Dan pada saat itu, kalian juga akan pulang dari Hiroshima. Kenapa pada hari itu tidak menyatakan perasaanmu padanya? Aku juga bisa membantumu membuat coklat untuknya sekarang juga~!"

Aku kaget dan mukaku memerah mendengar kata-kata Gumi-chan. Tiba-tiba, aku mendapat sebuah ide.

"B-Boleh juga. Tapi, ada syaratnya. Pada hari itu … Kau harus mengajak Gumiya kencan dan menyatakan perasaanmu juga kepadanya. Bagaimana? Adil kan?" tantangku.

.

.

Gumi's POV

Aku benar-benar kaget mendengar tantangan Luka-senpai barusan. Menyatakan perasaanku … Kepada Gumiya-kun? Uuh … Mukaku pasti memerah sekarang. Tapi, jika aku menolak, ini tidak akan adil bagi Luka-senpai. Ya. Aku harus melakukannya ...

"Baiklah. Aku menerima tantanganmu, Luka-senpai." jawabku dengan muka yang mungkin sekarang sudah seperti kepiting rebus.

"Janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

"Janji." jawabku sambil mengaitkan jari kelingkingku.

Dia tersenyum senang mendengar ucapanku.

"Huft … Baiklah … Gumi-chan, ayo kita membuat coklat untuk Valentine Day nanti. Aku punya bahan-bahannya di dapur." ajaknya kepadaku.

Aku mengangguk dan mengikutinya menuju dapur.

'Kami-sama … Semoga Valentine Day nanti menjadi hari yang baik untukku dan untuk Luka-senpai …' ucapku dalam hati.


Author : Hah … Akhirnya selesai … Gak sabar nunggu chapter selanjutnya nih~ =v=

*Luka sama Gumi blushing dan diam saja* *Gakupo sama Gumiya memandang mereka dengan tatapan bingung* *Author hanya diam ngelihatin mereka berempat*

Miki : Hng … Pada sibuk semua ya ^^"

Piko : Iya nih, Miki-chan. Kita aja ya yang ngucapin kata penutupnya?

Miki : *nods* Oke!

Piko & Miki : Arigato telah membaca chapter 6~! Mind to review? ^^