Disclaimer : Vocaloid isn't mine. It's Yamaha's and others company's. So, that's all (?) #keminggris
Warning : Seperti biasa, saya list ya. OOC, OOT, typo dan si twin-nya, semi-typo, alur gajelas, gak nyambung, dan kawan serta sohib mereka semua yang lain (?) #shot
Rated : Teen
Genre : Romance, Humor (?)
Author : Yosha … Akhirnya chapter 7~ XD
Gumiya : Author lumayan cepet juga ya … ==)/
Author : Iyalah, kan author kece B) #shot
Kaito : *tiba-tiba muncul* Kecean juga saya :9
Author : Pus … Nurut yak sama Author~ *lempar aisu kim(?) ke arahnya*
Kaito : *kitten eyes* Nyan! Nyan! *nurut dan makan es krimnya*
*Kaito langsung berubah jadi neko(?)* *Author bangga dan nepuk-nepuk kepalanya*
Gumiya : *fespalem(?)* Baiklah … Selamat membaca ya minna …
Luka's POV
Hari ini, aku dan anak-anak kelas II lainnya berangkat ke Hiroshima. Semua barang yang sudah kusiapkan kubawa semua, termasuk coklat untuk Gakupo untuk tanggal 14 nanti. Aku sudah memantapkan hati. Ya, aku akan menyatakan perasaanku kepadanya.
Aku memakai ranselku dan menggeret koper kecilku. Di luar, sudah ada Gakupo yang menungguku. Kami lalu berangkat berdua menuju stasiun.
.
.
Akhirnya kami sampai di stasiun. Beberapa hari sebelumnya, pihak sekolah sudah memesankan tiket kereta pulang-pergi untuk para anak kelas II yang mengikuti darmawisata ini. Jadi, kami tinggal berjalan saja menuju bagian kereta yang ke Hiroshima. Aku dan Gakupo memasuki keretanya. Di sana, sudah ada lumayan banyak murid kelas II. Tempat duduk keretanya dibagi menjadi 4 murid, dan itu berhadapan (jadi 2 kursi yang berhadapan dengan 2 kursi lagi). Aku melihat tempat duduk yang ditempati Miki dan Piko masih kosong. Aku mengajak Gakupo duduk di sana.
"Hai Miki, Piko! Aku dan Gakupo boleh duduk sini kan?"
"Eh, Luka! Tentu saja! Aku dan Piko menunggumu sejak tadi. Ayo sini!"
Aku segera duduk di samping Miki dan Gakupo duduk di samping Piko. Kami lalu berbincang-bincang. 30 menit kemudian, kereta yang kami tumpangi berangkat menuju Hiroshima.
Setelah beberapa jam perjalanan, kami sampai juga di Hiroshima. Aku dan semua anak kelas II lainnya membawa barang bawaan kami keluar dari kereta. Kiyo-sensei, Leon-sensei, Ann-sensei, dan Kaiko-sensei memandu semua anak kelas II menuju hotel. Kami naik bus setelah keluar dari stasiun. Setelah 10 menit perjalanan, kami sampai juga di hotel.
.
.
Aku dan teman-teman sekamarku mencari kamar nomor 11. Di sini, aku sekamar dengan Miki, Meiko, dan Miku. Setelah menemukannya, kami berempat memasuki kamar itu. Kami memasukkan baju kami di lemari yang disediakan dan kami berunding. Aku akan tidur dengan Miki, sementara Miku dengan Meiko. Kami sepakat dengan keputusan itu.
Tok tok …
Tiba-tiba pintu kamar kami diketuk oleh seseorang. Miku membuka pintunya. Ternyata Kaiko-sensei, guru kelas II-A.
"Anak-anak, waktunya makan siang. Setelah itu, kita akan mengunjungi monumen sejarah Hiroshima. Segera turun ke ruang makan ya." ujar Kaiko-sensei.
"Baik sensei!" jawab kami berempat serempak.
.
.
Setelah makan dengan kare, anak-anak kelas II memasuki bus pesanan sekolah yang telah tersedia di halaman hotel yang luas. Ada 4 bus. Masing-masing bus untuk kelas yang berbeda. Aku dan keempat sahabatku segera masuk ke bus berlabel 'II-B'. Aku duduk di samping Miki. Tak beberapa lama, bus mulai melaju menuju monumen kenangan bom atom Hiroshima.
Setelah sampai, kami semua turun dari bus. Para guru memandu kami dan menjelaskan sejarah bom atom Hiroshima. Kami berkeliling di monumen kenangan ini. Setelah beberapa menit, para guru membagikan kertas lipat kepada para ketua kelas. Kami disuruh membuat origami untuk mendoakan para korban bom atom Hiroshima tersebut. Aku dan teman-teman segera mencari tempat yang teduh.
"Luka, ayo pilih salah satu kertas lipatnya." kata Merli sambil memegang berbagai macam kertas lipat yang dibagikan oleh Kiyo-sensei. Ya, dia adalah kakak Aoki (teman sekelas Gumiya), yang merupakan ketua kelas II-B.
"Ng … Ini saja." kataku sambil memilih kertas lipat warna ungu dengan motif terong yang kecil-kecil. Aku memilih kertas lipat ini karena kertas ini ... kesannya 'Gakupo sekali' …
Aku segera bergabung bersama teman-temanku di bawah pohon. Setelah selesai membuat origami, kami menaruhnya di bawah sebuah patung di monumen ini. Setelah itu, para guru memberi kami waktu bebas untuk berjalan-jalan, dan bus akan menjemput kami pukul 4 sore. Aku, Miki, Miku, dan Meiko pun berjalan-jalan.
Akhirnya, malam pun tiba. Aku dan keempat temanku sudah bergantian mandi setelah makan malam. Kami berempat duduk melingkar di karpet. Kami memutuskan bermain Truth or Dare.
Meiko memutar bolpoint yang digunakan untuk menentukan giliran menjawab. Bolpoint itu berhenti ke arah Miki.
"Miki-chan~ … Truth or dare?" tanya Meiko dengan nada menggoda.
"Hngh … Truth."
"Baiklah. Apa saja yang kau dan Piko lakukan selama kalian pacaran?"
Muka Miki terlihat merah karena pertanyaan Meiko yang rada' 'ngawur' dan blak-blakan tersebut.
"Hng … Kami gandengan tangan seperti pasangan lain … Dan ... Yah … Begitulah."
Meiko tampak tak puas dengan jawaban Miki dan kemudian menggelitiki Miki. Aku dan Miku hanya bisa melihat mereka berdua dengan terbengong-bengong. Setelah meminta ampun kepada Meiko, Miki segera memutar bolpoint. Bolpoint itu mengarah Miku.
"Miku?"
"Dare!" kata Miku dengan wajah yang penuh keyakinan.
"Baiklah. Ayo kita ke kamar nomor 15 di lantai atas dan mencari Mikuo-kun."
"Eh? Untuk apa?"
"Kau harus mencium pipinya dan mengatakan bahwa kau menyayanginya."
Muka Miku terlihat merah. Dia hampir tidak mau keluar kamar, sehingga kami bertiga harus menyeretnya. Kami naik ke lantai atas dan Meiko mengetuk pintu kamar nomor 15. Itu adalah kamar Gakupo, Piko, Kaito, dan Mikuo.
Piko membukakan pintu kamarnya.
"Eh? Ada apa kalian berempat ke sini?" tanya Piko dengan wajah terheran-heran.
"Piko, panggilkan Mikuo-kun dong!" pinta Miki. Piko menurut dan memanggilkan Mikuo. Mikuo segera keluar dengan handuk di rambutnya. Sepertinya, dia baru selesai mandi.
"Ada apa mencariku?"
Kami bertiga terdiam dan melirik ke arah Miku. Muka Miku memerah dan dia mendekati Mikuo.
"Miku, kau kenapa? Kenapa mukamu memerah? Apa kau sakit?" tanya Mikuo.
"T-Tidak. M-Mikuo, ngng, a-aku … Menyayangimu." kata Miku sambil mencium pipi Mikuo. Miku langsung berlari ke kamar. Kami bertiga menyusulnya, meninggalkan Mikuo yang mukanya memerah dan Piko yang bengong menyaksikan kejadian barusan.
Miku; dengan wajahnya yang masih merah, memutar bolpoint dan itu mengarah ke Meiko.
"Aku... truth aja deh."
"Kenapa kau bisa jadian dengan BaKaito itu? Dia kan … Peramai kelas. Meskipun dia kapten klub volley yang selalu dapat juara setiap tahun sih…"
"Karena aku menyukainya sejak kami masih SD. Meskipun dia polos dan agak kekanakan, aku menyukai dia apa adanya. Dan lagipula, aku sudah berjanji untuk melindungi dia sewaktu kami masih kecil." jawab Meiko dengan polos.
Kami manggut-manggut mendengar jawaban Meiko. Bolpoint diputar oleh Meiko, dan berhenti … Ke arahku.
"Aha~ Luka~. Truth? Dare?"
"Truth aja deh …" kataku sambil menarik nafas panjang.
"Siapa yang kau sukai sekarang~? Ataukah tetap mencari seseorang yang cocok seperti dulu?"
Aku menelan ludah. Ini …
Aku menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ini. Yah … Aku harus jujur bukan?
"Hng … Ng … Aku menyukai teman sekelas kita berempat. Dia berambut ungu. Wakil kepten kendo. You-know-who." jawabku dengan muka memerah.
Miki, Meiko, dan Miku langsung berteriak menggodaku setelah mendengar jawabanku. Untungnya, Ann-sensei mengetuk pintu kamar kami dan memerintahkan kami untuk segera mematikan lampu kamar dan tidur. Hah … Untunglah!
Akhirnya, tanggal 14 tiba juga. Hari ini, kami semua akan pergi ke kuil dan mencari oleh-oleh, lalu pulang. Huft, ini hari penentuan bagiku.
'Bagaimana keadaan Gumi-chan ya?' gumamku sambil menggosok gigiku.
Gumiya's POV
Kemarin malam, aku mendapat mail dari Gumi. Mukaku langsung memerah saat membaca ini sekaligus lonjak-lonjak senang. Len; yang sedang bermain di rumahku, melihatku dengan tatapan bingung karena kelakuanku.
To : 12_Gumiya
From : Gumi36
Subject : Gumiya-kun!
Ne, Gumiya-kun, maaf mengganggumu. Besok, maukah kau pergi bersamaku ke taman hiburan Fantasia? Aku menunggu jawabanmu. Arigato …
Tentu saja aku menerima ajakannya! Aku tak akan menyia-nyiakan hal ini! Lagipula, hari ini Valentine Day bukan?
.
.
Aku telah menunggu di depan rumah Gumi. Aku mengenakan kemeja warna putih, rompi warna coklat, dan celana panjang warna hitam. Aku memencet bel rumahnya. Gumi pun keluar. Dia … tampak … sangat manis.
"Ohayou Gumiya-kun!"
"O-Ohayou G-Gumi-chan. Kau cocok memakai baju itu. Jadi tampak … manis."
Mukanya memerah dan dia mengucapkan terima kasih.
"Nah, kita berangkat sekarang?"
Dia menganggukkan kepalanya. Aku menggandeng tangannya. Dia kaget … Tapi dia diam saja dengan muka merah.
Kami akhirnya sampai di Fantasia. Setelah membayar tiket masuk, kami mencoba semua wahana yang ada. Roller coaster, rumah kaca, dan lain-lain.
"Gumi-chan, kita ke rumah hantu yuk?"
"E-Eh?"
"Ayo!" kataku sambil menarik tangan Gumi.
.
.
Gumi's POV
Gumiya-kun mengajakku ke rumah hantu. Sekarang, giliran kami masuk. Duh … Aku tak mungkin bilang padanya … Bahwa aku sangat takut kepada hantu, bukan? Setiap aku ke sini bersama Ring, Rin, Gakuko, maupun Gaku-nii, aku selalu menolak bila diajak ke rumah hantu. Duh …
Kami masuk ke dalam rumah hantu. Di sini gelap, bau, dan pengap. Aku hanya menggandeng tangan Gumiya-kun dengan takut.
Aku selalu terkejut dengan hantu yang muncul tiba-tiba. Ingin rasanya aku menangis. Duh … Aku benar-benar payah dan cengeng ya? Apakah Gumiya-kun akan menyukai orang sepertiku?
Tiba-tiba, hantu dengan rambut panjang, baju warna putih dengan bercak darah (yang pasti buatan), dan wajah menyeringai muncul mengagetkanku. Sontak, aku berteriak kaget dan menangis.
"G-Gumi-chan?" ucap Gumiya-kun panik.
Uh ... Sial ... Kenapa, aku harus tampak selemah ini di hadapannya?
Dia kemudian menggandeng tanganku erat dan kami berlari menuju pintu keluar. Dia mengajakku duduk di sebuah bangku, dan kemudian … Dia memelukku ... erat.
"Gumi-chan. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu bahwa kau ternyata kau takut hantu. Aku menyesal mengajakmu ke sana. Maafkan aku."
Aku menganggukan kepalaku. Dia menghapus air mataku. Setelah aku tenang, dia mengajakku makan di cafe.
Kami sudah selesai makan.
"Gumiya-kun, kita naik itu yuk." kataku sambil menunjuk bianglala. Gumiya-kun menanggukan kepalanya. Kami kemudian mengantri, dan beberapa menit kemudian, giliran kami tiba. Gumiya-kun duduk dan aku duduk di sampingnya. Bianglala-nya mulai berjalan.
Gumiya-kun bertopang dagu dengan pandangan mengarah ke jendela bianglala. Sepertinya dia melihat pemandangan Fantasia. Aku mengeluarkan bungkusan berpita oranye. Itu adalah coklat berisi kacang yang kubuat beberapa hari yang lalu bersama Luka-senpai.
"G-Gumiya-kun!" panggilku.
Dia menoleh. Aku menyerahkan bungkusan itu kepadanya.
"A-Arigato … Coklat Valentine?"
"I-Iya. Aku membuatnya untukmu."
" … "
"N-Ne, G-Gumiya-kun, a-aku menyukaimu. M-Maukah kau m-menjadi p-pacarku?"
Dia diam, kemudian dia tertawa kecil.
"Yare … yare … Gumi-chan … Bukankah seharusnya cowok yang mengatakan itu?"
Mukaku memerah. Dia kemudian mendekatiku. Kemudian … Dia mencium keningku …
"Kau sudah mengetahui jawabannya, kan?" katanya sambil tersenyum.
Mukaku makin memerah. Aku mengeluarkan air mata, kemudian memeluknya. Dia balas memelukku dan mengelus rambutku dengan sebuah senyuman di wajahnya.
'Kami-sama, ini … bukan mimpi kan? Arigato …' ucapku dalam hati.
Luka's POV
Kami sudah tiba di kuil. Kami semua mengenakan kimono. Aku mengenakan kimono pink bermotif bunga sakura. Kami berdoa di kuil. Setelah selesai, para guru mempersilahkan kami semua untuk berkeliling kuil dan membeli oleh-oleh di pasar tradisional.
Meiko pergi dengan Kaito. Miki diajak Piko. Miku? Tentu saja dengan Mikuo. Tinggalah aku sendirian …
"Luka-chan!"
Aku menoleh. Ternyata Gakupo.
"Mau berkeliling kuil bersamaku?" tawarnya.
Aku mengangguk. Kemudian, dia menggandeng tanganku.
Oh Kami-sama …
.
.
Kami berkeliling kuil. Menulis jimat, mencari oleh-oleh, dan lain-lain.
"Gakupo, kita ke stand ramalan di sana yuk?" kataku sambil menunjuk stand-nya. Dia mengangguk. Kami segera menuju ke sana. Aku menarik ramalan di sana.
Huft! Ramalanku beruntung, begitu juga dengan Gakupo.
Tiba-tiba, aku handphone-ku berbunyi. Aku mendapat sebuah mail. Ternyata … Dari Gumi …
To : Luka_04
From : Gumi36
Subject : Luka-senpai!
Luka-senpai … Aku diterima oleh Gumiya-kun! Bagaimana dengan keadaan senpai? Berjuang ya senpai!
Aku menelan ludah setelah mendapat mail dari Gumi.
'Duh … Enaknya Gumi-chan …' seruku dalam hati.
Ah … Aku tidak boleh kalah! Aku sudah berjanji pada Gumi-chan bahwa aku akan menyatakan perasaanku pada Gakupo, begitu pula sebaliknya. Gumi-chan sudah menepati janjinya, masa aku belum?
"Luka-chan, daijobu?" tanya Gakupo.
Aku menggelengkan kepalaku. Kemudian aku menggandengnya ke bawah pohon sakura. Bunga sakura pada pohon itu sedang mekar. Indah sekali. Beberapa kelopak bunganya tersebar tertiup angin.
Aku mengeluarkan coklat buatanku. Coklat putih dengan isi berbagai isi selai buah. Ada yang strawberry, blueberry, raspberry, dan lain-lain. Gumi yang memberikan ide untuk membuat coklat ini kepadaku.
Aku memberikan coklat itu kepada Gakupo.
"I-Ini?"
"Coklat, baka. Aku membuatnya untukmu."
Mukaku memerah. Aku kemudian menundukkan kepalaku.
"B-Baka … A-Aku mau berkata sesuatu."
"A-Apa?"
" … "
" …? "
"A-Aku menyukaimu."
Gakupo tampak kaget mendengar kata-kataku barusan. Dia lalu memelukku erat, dan mengelus rambutku.
"Aku menerima dan membalas perasaanmu, Luka-chan."
Mukaku memerah mendengarnya. Ini … bukan mimpi? Gakupo … juga menyukaiku?
Akhirnya kami kembali ke Tokyo. Kali ini, kami duduk bersama dengan Kaito dan Meiko, karena Miki dan Piko duduk bersama Miku dan Mikuo. Aku duduk di sebelah Gakupo dan Meiko duduk di sebelah Kaito. Aku menggenggam tangan Gakupo. Tanpa aku sadari, aku dan Gakupo tertidur. Aku bersandar pada bahu Gakupo. Meiko dan Kaito yang melihatnya, langsung memfoto kami berdua dengan kamera milik Meiko …
Author : Holaa~ Chapter 7 selesai~
Kaito : *sudah balik jadi normal, tapi masih pakai kuping neko sama ekor neko* Wah … Ada 2 pasangan baru ya =w=
*Luka, Gumi, Gakupo, sama Gumiya blushing* *lalu mereka ngacir berempat*
Author : Wah wah … Padahal saya mau nagih pajak jadian nih … *elus dagu (?)*
*tiba-tiba Meiko muncul dengan kuping inu dan ekornya (?)*
Meiko : Kai … ? K-Kau …
Kaito : Mei … Kau juga …? Ah sudahlah, ayo kita ucapkan kata penutup!
Meiko & Kaito : Minna-tan~ please review ne~ ^w^
