Disclaimer : Vocaloid bukanlah milik saya. Kalau milik saya, kiamat nanti (?) . Tapi fanfict ini murni punya saya lho ._.v

Warning : Akan saya bacakan! Pertama, OOC dan OOT! Kedua, typo dan semi-typo. Ketiga, alur kecepetan dan gak jelas! Keempat, gak nyambung! Kelima, oke stop deh -_-v

Rated : Teen

Genre : Romance, Humor (?)


Author : Hola … Kembali di Matteru chapter 8 … Ini adalah chapter terakhir di sini … :')

All : NANI?! USOOOO!

Author : *sumpel kuping* Yah … Mau gimana lagi … Udah gini keputusannya … Kan masih ada fict lainnya yang menunggu Author … #lah #mendadakdramatis

All : … *suram semua* *jangkrik dan kacang numpang lewat*

Author : Yah … Pada ngambek sama gondok sama Author semua ==". Yaudah, minna, selamat membaca ya …


Luka's POV

Sudah lama sejak aku dan Gakupo, serta Gumi dan Gumiya, pacaran. Mungkin … Sudah 2 minggu lebih. Atau lebih tepatnya … 16 hari? Yah … Aku memang agak buruk dalam hal mengingat. Ah, sudahlah. Lebih baik aku bergegas mandi, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.00.

.

.

Setelah selesai mandi, aku segera menuju dapur, seperti biasa. Aku melihat Gumiya sedang menggoreng tempura sambil bersiul-siul. Sepertinya suasana hatinya sedang bagus?

"Ohayou. Hei, ada yang bisa kubantu?" kataku sambil menepuk punggungnya.

"Eh? Ohayou mo, nee-chan! Ah, tak usah. Kalau nee-chan mau, buat bekal saja!"

Aku menganggukkan kepalaku. Setelah melihat bahan yang ada, aku memutuskan untuk membuat sushi, dan terong goreng tepung sebagai snack … Yah, kalian tau kan, terongnya untuk siapa?

"Gumiya, kau mau sushi sebagai bekalmu?" tawarku.

Yang dipanggil pun menoleh.

"Ah … Tak usah, nee-chan! Gumi janji akan membawakan bekal buatannya untukku hari ini!" jawab Gumiya dengan riang.

Hhh … Dasar … Sejak jadian sama Gumi, Gumiya yang biasanya cool, banyak berubah. Memang sih, sifat cool-nya itu masih ada, tapi akhir-akhir ini dia banyak cengengesan dan suka senyum-senyum sendiri! Apalagi … Kalau sudah mendapat mail dari Gumi. Dia bisa loncat-loncat sendiri.

'Ah … Sudahlah … Asal dia bahagia dan nggak ada masalah dengan Gumi.' pikirku.

Aku memakai celemek, dan membuat sushi dan terong goreng tepung. Aku menaruh sushi di 2 kotak bekal. Di kotak bekal yang satunya, aku menaruh terong gorengnya. Aku kemudian menutup kotak bekal itu sambil tersenyum puas. Setelah itu, aku menikmati sarapan bersama Gumiya.


Aku akhirnya sampai di kelas. Di depan bangkuku, ada Miki yang sibuk mengajari Piko. Gakupo sudah datang, dan dia tampak sibuk membaca buku catatan matematika.

"Ohayou, kalian bertiga." sapaku sambil menaruh tasku di bangkuku dan Gakupo.

"Ah, ohayou mo!" sahut mereka bertiga.

Kemudian, mereka bertiga kembali tenggelam dalam kesibukan mereka dan melupakan keberadaanku. Wow. Aku dianggap invisible apa ya … ?

(Author : Misi, jebe yak #plak. I was invisible … Uwooowooo~ #ditendangLukahinggakeMars)

"Woi … Kalian sibuk ngapain sih?" dengusku. Aku agak kesal karena I-hate-kacang. #Inggrisgagal

"Ah … Ini, Piko minta dijelaskan ulang tentang rumus aljabar yang kemarin diterangkan Kiyo-sensei. Hari ini kan akan ada test kecil untuk pelajaran matematika." jawab Miki.

"Kalau aku sih, cuma mengulang baca saja. Kau sudah belajar, Luka?" tanya Gakupo.

" … Jadi kalian dari tadi sibuk melakukan hal ini? Aku … Sebelum mengerjakan komikku, aku pasti sudah mengulang pelajaran yang diajarkan pada hari itu." ucapku santai.

Mereka bertiga mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Beberapa detik kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Aku segera mengeluarkan buku dan alat tulisku. Tak lama, Kiyoteru-sensei memasuki kelas dan pelajaran pun dimulai.


Akhirnya, waktu istirahat pun tiba. Aku merentangkan tanganku. Uukh … Meskipun menurutku tidak sulit, tapi mengerjakan 50 soal test uraian matematika dari Kiyo-sensei tetap saja membuatku pegal, baik tubuh maupun pikiran.

Aku tiba-tiba merasa lapar. Aku mengeluarkan kotak bekalku. Lho kok … Ada 2?

.

.

.

Ah ya. Kan satunya lagi buat Gakupo. #krik #heningberkepanjangan

Aku segera memberikan kotak berwarna ungu tersebut kepada Gakupo.

"Eh? Bekal? Untukku?" katanya dengan wajah heran.

"Yap. Aku membuatnya untukmu."

Gakupo tampak senang menerima bekal dariku. Apalagi, setelah dia membuka bekalnya. Wajahnya tampang sangat senang.

"Luka-chaaan, arigato! Ah, terong … Aku benar-benar menyukainya! Arigato ya, Luka-chan!" ucapnya. Dia lalu … mencium tangan kananku …

"B-BAKA! A-Apaan sih!" kataku dengan muka memerah.

Aku mencubitnya pelan. Yang dicubit hanya cengengesan aja. Uuuuh …


Akhirnya, waktu pulang tiba. Aku sudah tiba di rumah dan sudah mengganti bajuku. Gakupo dan Gumiya … Ada kegiatan eskul seperti biasa. Gumi? Dia sepertinya sedang sibuk, akhir-akhir ini aku jarang melihatnya. Tenggat waktu komikku … Juga sudah kuselesaikan. Aku akhirnya menonton TV. Kemudian, aku menonton sebuah acara talkshow. Bintang tamunya … Rasanya … Aku kenal?

"Baiklah … Selamat datang di acara talkshow Girls! Bintang tamu kita hari ini adalah Gakuko Kanai; atau yang biasa kita sebut Gacchan, model terkenal dari Kyoto!"

Wah … Pantas. Ternyata Gakuko.

Gakuko kemudian diwawancarai tentang kehidupannya, kebiasaannya, dan lain-lainnya. Aku menonton sambil memakan crackers keju.

"Gakuko, apakah ada orang yang kau sukai?"

Aku menelan ludah. Orang yang disukai Gakuko kan …

"Yap, ada. Dia orang Kyoto, kelas II. Dia juga model sepertiku."

Eh? Sudah … Bukan Gakupo? Berarti … Gakuko sudah tau jika aku dan Gakupo …

'Siapa yang memberitahunya ya?' ucapku pelan dalam hati.

Aku terus menonton acara TV itu. Setelah habis, aku segera mandi sore.


Setelah selesai mandi, aku keluar dan mengeringkan rambutku dengan handuk, kemudian duduk di sofa setelah mengambil sebotol cola dari kulkas.

"Tadaima …"

Aku menoleh. Ternyata Gumiya. Ia tampak berkeringat dan masih memakai baju latihan basketnya. Dia tidak mengenakan kacamatanya.

"Okaerinasai … Kau haus? Nih." kataku sambil menyerahkan cola yang baru kuambil. Dia mengangguk, lalu meneguk cola yang kuberikan hingga habis.

"Wah … Beneran haus ternyata …"

"Iya. Habis aku latihan keras dan banyak teriak-teriak mengatur posisi. Habisnya, sebentar lagi ada pertandingan melawan SMP lain."

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

"Ya sudah, mandi sana, biar segar."

Gumiya mengangguk. Setelah menaruh tasnya di kamar, dia mengambil handuk dan mandi.

Aku kemudian mengambil cola lagi dari kulkas. Saat mau meneguknya, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ternyata ada mail dari Gakupo.


To : Luka_04

From : Gaku08

Subject : Luka-chan!

Ne, Luka-chan, besok kau sibuk atau ada urusan tidak? Besok aku ingin mengajakmu kencan di festival Hinamatsuri di dekat sini. Balas ya ^^


'Ah ya … Besok kan tanggal 3 Maret … Hinamatsuri (hari anak perempuan) ya …' gumamku. Aku segera mengetik balasan untuk mail Gakupo.


To : Gaku08

From : Luka_04

Subject : Re : Luka-chan!

Yo! Eh? Besok … Aku nggak ada urusan kok! Hinamatsuri ya … Oke, dimulainya jam berapa?


Aku segera mengirim jawabannya. Semenit kemudian, handphone-ku berbunyi lagi.


To : Luka_04

From : Gaku08

Subject : Re : Luka-chan!

Hng … Dibukanya sih jam 9. Tapi … Bagaimana jika kita sore saja ke sana? Jam 4 gitu? Soalnya ada kembang api jam 6! Bagaimana?


Aku segera membalasnya.


To : Gaku08

From : Luka_04

Subject : Re : Luka-chan!

Oh, oke. Besok aku siap jam setengah 4 ya. Sampai ketemu besok~


Aku segera menutup handphone-ku dan tersenyum riang, menunggu hari esok. Padahal, aku tidak tahu, bahwa di balik hari esok … Ada sesuatu yang memisahkan aku dan Gakupo … Untuk jangka waktu yang lama …


Akhirnya, keesokan harinya tiba. Aku telah mengenakan yukata ungu bermotif bunga mawar. Rambutku kukuncir ke atas. Aku juga mengenakan geta.

"Hai, baka! Nunggu lama?" sapaku pada Gakupo. Dia tampak rapi dengan pakaian casual.

"T-Tidak kok. E-Eh? Y-Yukata?"

"Iya. Anehkah?"

"T-Tidak. Ma… Malah manis kok."

Pipiku memerah. Kemudian, Gakupo menggandengku menuju ke tempat festival tersebut.

Kami akhirnya sampai di festival Hinamatsuri. Di sana, banyak sekali orang. Kebanyakan anak perempuan. Tentu saja … Ini kan hari anak perempuan?

Aku dan Gakupo berkeliling festival ini. Kami bermain memancing ikan mas, bermain drum festival, bermain panah, dan lain-lain. Kemudian, kami ke sebuah stand tempat menjual kertas untuk membuat kapal.

Aku membeli selembar kertas dan membentuknya menjadi sebuah kapal kecil. Kemudian, aku menghanyutkan kapal itu di sebuah sungai dekat festival. (Pada Hinamatsuri, ada kepercayaaan menghanyutkan kapal kecil untuk harapan agar perempuan itu selalu sehat). Setelah menghanyutkan kapalnya, aku dan Gakupo membeli gulali.

"Ah, kembang apinya sudah mau dimulai!" kataku saat orang-orang mulai berkumpul. Beberapa menit kemudian, kembang api dengan berbagai warna ada di langit.

"KireiArigato, Gakupo! Aku dapat melihat ini bersamamu … Aku senang sekali!" ucapku sambil tersenyum.

"Ah, d-doumo." jawab Gakupo dengan muka memerah. Tiba-tiba, handphone Gakupo berbunyi. Gakupo segera izin kepadaku agar dia pergi tempat yang lebih sepi untuk menjawab panggilan itu.


Gakupo's POV

"Moshi moshi, Gakupo di sini."

"Gaku! Ini ayah!"

"Ah, ayah. Ada apa?"

" … Begini. Wakil ayah baru saja mengalami kecelakaan, dan ayah sedang sibuk-sibuknya dengan studi kuliah ayah. Ayah harap, besok kau ke Australia untuk menggantikan ayah memimpin perusahaan kita."

"A-Apa? Hingga berapa lama?!"

"Kalau bisa … Mungkin 2 sudah membicarakan tentangmu yang akan menggantikan ayah dalam memimpin perusahaan ini, bukan? Nenek juga sudah setuju bahwa kau adalah pewaris selanjutnya."

"Aku mengerti … Tapi kenapa mendadak?! Bukankah ayah bilang harus menunggu hingga aku lulus?! Bagaimana dengan Gumi?"

"Gumi akan tetap tinggal di Jepang. Maafkan ayah, Gakupo. Tapi memang sudah itu keputusannya. Ayah juga akan menjadi dokter utama di sebuah rumah sakit di sini. Ayah menunggumu. Jaa."

" …. Jaa."

Aku menutup handphone-ku dengan lesu.

2 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar.

Bagaimana dengan hubunganku dengan Luka?

Apakah dia bersedia menungguku?

Bagaimanakah perasaannya kepadaku 2 tahun nanti?

Apakah akan … tetap sama seperti sekarang?


Luka's POV

Gakupo kembali dengan wajah lesu.

"Doushita? Ada masalah?" tanyaku.

Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Daijobu. Eh Luka-chan, kita keliling dulu lalu pulang yuk? Aku ada urusan …"

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kami berjalan mengelilingi festival.

.

.

Akhirnya aku sampai di depan rumahku.

"Luka-chan … Besok jam 9 pagi kutunggu di taman dekat sini ya, yang ada sungainya itu. Ada hal penting … yang harus kusampaikan." kata Gakupo pelan.

"Ah, oke. Aku akan ke sana! Oke … Sudah jam setengah 8 malam ya? Aku masuk dulu ya! Oyasumi, Gakupo!" kataku lalu mencium pipi kanan Gakupo. Aku masuk dan langsung berlari ke dalam kamar. Gakupo hanya memandangku dengan muka merah. Dia kemudian berjalan pelan ke rumahnya.

Aku mengganti yukata-ku dengan baju biasa. Setelah itu, aku memasang headphone untuk mendengarkan lagu, lalu duduk bersandar di bantal di tempat tidur sambil memeluk boneka ikan pemberian Gakupo dulu. Tiba-tiba, sebuah lagu terputar. Lagu … tentang perpisahan.

If your distance and my distance are so far,

I don't care.

I'll always wait you.

Yeah, I'm here. I'll always here for you.

No matter it's sunny or rainy,

No matter you're happy and I'm sad,

No matter how far,

And no matter how long,

I'll be waiting for you …

Entah kenapa, aku merasa tersentuh dan merasa lagu ini mengena di hatiku …


Keesokan harinya, aku terbangun pukul 8 pagi, dan langsung mandi. Aku mengenakan kemeja warna putih, dan celana pendek selutut warna hitam dan abu-abu kotak-kotak. Aku memakai topi kupluk yang lebar, dan sepatu kets warna abu-abu tua. Setelah sarapan bersama Gumiya, aku segera berlari menuju taman.

.

.

Di sana, sudah ada Gakupo yang menungguku. Dia tampak sedang bersandar pada sebuah pohon besar. Wajahnya … tampak lesu?

"Hai Gakupo! Sudah lama nunggu?" tanyaku kepadanya.

Dia menoleh.

"Ah … Halo, Luka-chan. Nggak kok …"

"Ada apa sebenarnya, Gakupo?"

Dia memandangku, lalu menarik nafas panjang …

"Sudahlah, ayo, katakan saja." kataku dengan tenang. Padahal, ada berbagai kecemasan di dalam hatiku.

" … Begini … Sebenarnya … Hari ini aku harus pergi ke Australia, dan aku akan kembali 2 tahun lagi. Aku harus menjalankan perusahaan keluargaku yang ada di sana. Dari dulu, semenjak aku kecil, sudah diputuskan seperti itu. Aku tidak bisa menolak ..."

Rasanya, saat Gakupo mengatakan itu, ada 1000 tombak yang menghujamku. A … pa? Gakupo akan meninggalkanku?

"Kau … Kapan berangkat ke Australia? Apakah Gumi juga ikut?" tanyaku dengan lirih.

" … Pesawatku akan berangkat nanti, jam 2 siang. Tidak. Gumi akan tetap tinggal di sini, di Jepang."

Aku merasa dadaku sesak. Ingin rasanya aku menangis. Tapi aku menahannya.

Tidak … Aku harus terlihat kuat.

"Matteru (Aku menunggumu). Tak peduli kau berapa lama kau di sana, dan sejauh apapun jarak kita, aku akan selalu menunggumu." ucapku sambil tersenyum kecil.

Gakupo terpaku mendengar kata-kataku. Dia langsung memelukku erat.

.

.

Akhirnya, sekarang jam 2 kurang. Aku, Gakupo, Gumi, Gumiya, dan anak-anak kelas II-B berada di bandara untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Gakupo. Bahkan, ada Gakuko bersama Luki, model yang disukainya. Gakupo tampak senang karena semua orang yang berharga baginya ada di sini. Berbeda denganku …

"Pesawat Taiya Air dengan nomor 016E tujuan Australia akan segera berangkat. Bagi para penumpang yang belum memasuki pesawat ini, harap segera masuk ke pesawat. Terima kasih."

"Ah … Pesawatku mau berangkat …" ucap Gakupo dengan lirih. Anak-anak langsung riuh. Mereka tidak ingin Gakupo pergi.

"Maaf, minna. Tapi aku … harus. Ah Luka-chan, sebelum aku pergi, kumohon kau menyimpan ini." kata Gakupo sambil memakaikan sebuah kalung berbandul hati kecil berwarna perak. Dia juga memberiku sebuah album foto.

"Nah minna, sayonara …" ucap Gakupo sambil menggeret kopernya. Dia segera memasuki pesawat yang akan dia tumpangi.

.

.

Aku telah sampai di rumah, dan aku mengurung diri di kamar. Aku memegang bandul dari kalung yang diberikan Gakupo tadi. Tiba-tiba, siku tangan kiriku menyenggol sebuah benda. Ah, album foto yang diberikan Gakupo tadi …

Aku mulai membukanya. Ada foto-foto kami. Saat pesta ulang tahunku, saat kami makan kue di toko kue, saat darmawisata, dan lain-lain. Aku melihat foto yang kemarin aku buat bersama Gakupo di festival Hinamatsuri. Gakupo merangkulku dan aku membentuk tanda 'V' dengan jariku.

Tiba-tiba, aku merasa pelupuk mataku basah. Tetesan-tetesan air mata keluar dari mataku. Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku menangis keras-keras sambil memeluk boneka ikan dan boneka teddy bear yang dulu diberi oleh Gakupo.

"H-Hiks … H-Hiks … A-Aishiteru b-baka …"


2 tahun kemudian …

Hai minna! Aku Luka! Aku telah lulus dari SMP Ishiyama dan sekarang bersekolah di SMU Keita. Teman-temanku masih tetap sama. Miki, Miku, Piko, Mikuo, Meiko, Kaito … dan lain-lain. Tentu saja tanpa Gakupo …

Aku sekarang telah menjadi komikus terkenal. Karya-karyaku banyak terbit dan bahkan aku punya club penggemar.

Keadaan berjalan seperti biasa … Gumi masih bersama Gumiya. Mereka juga satu SMU denganku. Begitu juga teman-temanku. Miki masih bersama Piko, Miku sama Mikuo, dan Meiko sama Kaito. Sekarang, temanku dulu yang menjadi ketua kelas; Merli, dia jadian dengan ketua OSIS SMU Keita, Meito. Meito adalah sepupu Kaito, dia dulu satu sekolah dengan kami juga, bedanya dia kelas … Mereka semua berbahagia ya …

Sekarang, aku sedang berada di taman … Tempat di mana aku dulu berjanji untuk menunggu Gakupo. Aku sedang menggambar di sebuah buku sketsa, yang dulu diberikan oleh Gakupo. Tiba-tiba, angin kencang menerbangkan topi jerami yang kupakai. Saat, aku mau mengejarnya, seorang anak laki-laki yang tinggi menangkap topiku.

"Ah! A-Ariga- ..." kata-kataku terputus saat melihat siapa sosok yang menangkap topiku.

"Eh? K-Kalung bandul hati itu … Luka-chan?"

Aku segera melempar buku sketsaku dan langsung memeluk anak laki-laki itu.

"Okaerinasai, Gakupo! Baka … Aku telah lama menunggumu!"


Author : Yo … Akhirnya tamat …

Gumiya : Ah … Meskipun aku sama Gumi nggak muncul … Gak apa-apa deh. Happy ending … *sambil ngerangkul Gumi*

Miki : Yap! Ah sudahlah, semua, kita ucapin bareng-bareng yuk?

All : Arigato for read the last chapter! Mind to review? ^^