Tes Tes Tes….
Gerimis hujan mulai membasahi kota Tokyo siang ini. Warna awan di langit takkan mampu berdusta kalau hujan akan turun dalam waktu yang lama. Beruntungnya para siswa yang membawa payung ke sekolah. Tidak seperti lelaki serba kecukupan satu ini, yang memiliki banyak payung di rumahnya tetapi tidak ada satu pun yang dibawa ke sekolah lantaran—
"Sasuke-kun! Kita jalan sama-sama, ya?" ajak seorang gadis cantik bersurai pink pucat pada kekasih yang satu kelas dengannya. Ia mulai mengeluarkan payung lipat dari dalam tas sekolahnya.
"Hn. Sini, aku yang pegang."
Setia adalah dia yang mampu menyimpan satu namamu saja di hatinya, meski dia tahu masih banyak orang yang lebih baik darimu saat ini.
Naruto © Masashi Kishimoto
Look at Me, Sasuke!
A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka
AU, Rated T
Chapter 2 : Public Affair
.
.
.
.
KARIN POV
Aah, hujan lagi. Ayolah, sudah tiga hari ini Tokyo terus diguyur liquid hasil evaporasi itu. Yang paling aku tidak suka adalah seperti saat ini, hujan di waktu pulang sekolah. Aku harus berjalan ke halte bus diiringi cipratan mobil yang lewat, dan rasanya menjengkelkan jika memang ada yang sengaja melakukannya sampai aku basah kuyup.
Kupandangi langit dari jendela kelasku, fyuhh ... pasti hujannya lama. Tidak bisa buang waktu lagi, aku harus sampai di tempat kerja tepat waktu. Malas-malasan kakiku mulai bergerak di koridor, pandanganku menangkap dua sosok yang baru saja keluar dari kelas sebelah. Itu ... Sasuke dan Sakura. Lihatlah, si pria menenteng payung pink, menggelikan. Sepertinya mereka akan jalan berdua sampai parkiran. Kenapa pula aku harus menyaksikannya dari belakang? Malang sekali nasibku ini.
Hey … apa ini?
Oh Tuhan, aku bisa merasakan pancaran aura mereka yang penuh cinta di bawah rintik hujan. Ini menyakitkan. Rasanya aku ingin sekali lari dari sini. Haruno Sakura, kau memang menyebalkan. Bisa-bisanya kau meladeni pacarmu yang nakal itu dengan perasaan hangat dan nyaman. Aku tahu, kau sering menangis di kamar mandi sekolah setelah melihat Sasuke berciuman dengan gadis lain di perpustakaan. Tapi kenapa? Kenapa kau masih menerima dirinya yang jelas-jelas menyakitimu? Aku tidak habis pikir di mana otakmu yang terkenal pintar itu. Sampai detik ini sikapmu itulah yang tidak akan pernah kusuka darimu, mengapa kau selalu bisa mencintai Sasuke apa adanya.
Sedangkan dia? Uchiha Sasuke yang terkenal dingin dan begitu tenang, ternyata menyimpan bakat Playboy yang tiada tara. Ah … lihatlah wajahnya itu, dari samping saja sudah keren sekali. Pancaran auranya terasa berbeda setiap kali dia bersama gadis ini, aku bisa merasakan emosi senang dan bahagia menguar dari tubuh Sasuke, walaupun wajahnya yang datar itu sangat tidak mencerminkan perasaannya sendiri.
Kesal. Itulah yang kurasakan. Mereka berdua seperti pasangan aneh. Sudah jelas cinta tapi masih berselingkuh, sudah jelas diselingkuhi tapi masih cinta. Aku tidak mengerti, apa yang ada di pikiran mereka sebenarnya? Kupercepat langkahku, kulewati mereka yang entah sedang membicarakan apa. Telingaku tidak tuli, aku mendengar si pinky menyapaku. Tapi biarlah, lebih baik aku pura-pura tuli daripada harus menoleh menatap mereka yang tampak bahagia. Karena itu akan jauh lebih menyakitkan.
END KARIN POV
.
.
.
.
NORMAL POV
Perjalanan mengantar Sakura pulang hanya diisi keheningan dalam mobil dan suara hujan yang semakin deras. Sasuke tampak meningkatkan konsentrasi dan menurunkan kecepatan mobilnya. Perlahan telunjuknya memukuli stir mobil sembari menunggu lampu merah selesai. "Kenapa kau menyapanya?" ucapnya memecah kesunyian.
"Hm?" gadis di sampingnya terkesiap bingung mendapati kekasihnya tiba-tiba bertanya setelah lima belas menit membatu. "Menyapa siapa?"
"Karin," jawab Sasuke mantap, "kau sengaja melakukannya?" sambungnya lagi.
"Tidak, aku menyapanya karena dia 'kan sepupu Naruto. Kau pikir aku sengaja bagaimana? Tumben sekali kau peduli pada hal sepele." Sakura bertanya penuh keheranan.
Sasuke menjawabnya dalam diam, ia berbicara dengan otaknya sendiri. "Lupakan saja." ujarnya saat lampu hijau menyala, ia pun melajukan mobilnya lagi.
"Kau tahu? Aku ingin sesekali mengobrol dengannya, Sasuke-kun. Kurasa Karin orang yang baik meskipun dari luar terlihat angkuh. Sama seperti dirimu, Sasuke-kun."
"Benarkah?" Sasuke mengangkat kedua alisnya. "Paling-paling kalian hanya akan membicarakan aku nanti. Seperti kebiasaan gadis-gadis KHS lainnya." jawabnya percaya diri, sangat khas seorang Uchiha.
"Huuh, artis tingkat sekolahan saja bangga!" Sakura mencubit pipi lelaki di sampingnya yang disusul dengan tawa Sasuke dalam mobil.
"Aku mencintaimu, Sakura."
"Hm. Aku juga."
.
.
#####
.
.
Night Crimson Café tampak ramai malam ini. Satu per satu pelayannya mondar-mandir menanyakan dan mengantar pesanan pada customer-nya. Tidak terkecuali si cantik Karin, rambutnya sudah diikat rapi dengan seragam merah ketat yang matching dengan warna rambutnya. Ia sedang mengantarkan sebotol vodka pada satu pelanggan dan semua mata lelaki dalam café itu mengikuti arah geraknya. Tentu saja, gadis ini cantik dan punya bentuk tubuh proporsional. Membuat tangan pria-pria itu gatal ingin menyentuh kulit halusnya.
TING
"Karin! Meja nomor sebelas mau pesan." ucap manager café itu pada pegawainya. Dengan senyum ramah ia menghampiri meja itu dan matanya terpaku ketika melihat pelanggannya tak lain dan tak bukan adalah—
"Kau ... bekerja di sini?"
—Uchiha Sasuke. Tubuhnya serasa kaku melihat pangerannya menggenggam tangan manusia di hadapannya, Karin hanya diam dan memeluk buku menunya. Siapa yang menyangka? Setelah siang tadi pulang dengan Sakura, malam ini lelaki itu tengah berkencan dengan gadis lain. Uchiha ini mampu mengubah perilaku manisnya hanya dalam hitungan jam.
"Ini. Silakan." Akhirnya, Karin menyodorkan buku menu itu. Dengan sigap tangannya menuliskan makanan dan minuman pesanan mereka. Ia tersenyum simpul, setidaknya ia jadi lebih tahu apa makanan kesukaan pangerannya. Tak lama kemudian tubuhnya berbalik menuju dapur, tanpa sadar sepasang iris onyx itu terus menatapnya dalam.
"Sasuke-kun, jangan diam saja. Ini kan kencan pertama kita." ujar gadis pirang di depannya yang hanya ditanggapi ala kadarnya oleh Sasuke.
"Bagaimana tadi di sekolah?" Sasuke memulai pembicaraannya menanyakan keseharian pasangannya, walau sebenarnya ia tidak mendengarkan jawaban Ino sama sekali. Pikirannya melayang memikirkan pelayan tadi. Apakah pelayan tadi akan melaporkan kencan ini pada Sakura? Entahlah. Ia tidak terlalu ambil pusing soal itu.
"… dan akhirnya Sensei keluar karena tidak tahan mengajar di kelasku, ahahaha. Konyol sekali, bukan?" celoteh Ino riang. Sasuke memberikan senyum mautnya dan berhasil. Wajah gadis itu berubah merah padam dalam sekejab.
"Kau tahu? Kau cantik melebihi saudari kembarmu." rayunya tanpa ba bi bu.
"A-Ah ... mmmaksudmu Shion? Itu tidak mungkin ... wajah kami 'kan sama, Sasuke-kun." kilahnya tersipu.
"Tidak, di mataku kalian berbeda." Sasuke melancarkan jurus wink nya dan, well, gadis itu rasanya ingin pingsan. Tak kuasa melihat seringai Sasuke yang menawan hatinya.
"Ini pesanan kalian." Karin kembali dengan membawa makanan dan minuman mereka. Sasuke langsung bangkit membantu Karin menaruh piring-piring steak dan sup tomat itu hingga tak sengaja jari mereka bersentuhan.
Deg!
.
.
#####
.
.
Keesokan paginya, semua kembali seperti semula. Karin dengan anggota Sasuke Fans Club-nya berbaris menunggu kedatangan Sasuke di sekolah. Sasuke melewati gerombolan SFC itu dan matanya melihat Karin di ujung barisan, mendadak langkahnya terhenti. Ia menatap Karin saksama.
"Kau kurang tidur." ucapnya sebelum pergi meninggalkan keramaian SFC di belakangnya. Sedangkan Karin? Jangan ditanya, wajahnya sudah ber-blushing ria. Mungkinkah pangerannya itu tahu kalau dia bekerja sampai pukul 11 malam dan setiba di rumah langsung mengerjakan semua PR hingga pukul 2 pagi? Tidak mungkin. Pasti Sasuke tahu itu dari lingkaran hitam bawah mata Karin di balik kacamatanya.
Seharian ini Karin tidak bisa konsentrasi belajar. Ia terus terngiang-ngiang ucapan Sasuke yang seolah mengkhawatirkannya. Ia ingat saat Sasuke mengatakan hal itu, auranya terasa menghangat dan murni—alias sedang jujur. Buku pelajaran tak berdosa pun terus-terusan menjadi bahan remasan tangan Karin karena senang. Hari ini juga cuaca cerah, ia bisa pulang dan langsung meluncur ke Night Crimson Café tanpa hambatan. 'What a beautiful day', batin Karin dalam hati.
.
.
#####
.
.
"Karin! Meja nomor sebelas mau pesan." titah manajer café itu pada salah satu pegawainya. Dengan senyum ramah Karin menghampiri meja itu dan matanya membelalak mendapati Uchiha Sasuke bertengger lagi di kursi yang sama dengan kemarin. Namun kali ini ia sendirian, tidak didampingi siapapun. Karin mencatat semua pesanan Sasuke dan 'ini sungguh konyol' batinnya. Sasuke memesan banyak makanan seolah meja itu muat untuk lima orang.
"Kutunggu sepuluh menit dari sekarang atau ... aku akan memanggil manajermu." ucapnya dengan seringai mematikannya.
Karin bergegas menyuruh para chef untuk cepat memasak, kebetulan café juga tidak sedang ramai malam ini. Hanya Sasuke yang memesan makanan berat sebanyak itu sendirian. Sepuluh menit berlalu, Karin kembali ke meja nomor sebelas dalam waktu dua puluh menit. Membuat Sasuke menatapnya penuh kemenangan.
"Aku ingin bicara dengan manajermu, Nona." Sasuke bicara dengan penekanan di setiap katanya. Manajer café itu datang dan meminta maaf berkali-kali atas keleletan kinerja dapurnya. Ia menawarkan beberapa pilihan untuk menghibur pelanggan tampan yang sebenarnya sedang tertawa dalam hati menyaksikan semua ini. Karin bisa merasakan dari aura tubuh Sasuke, lelaki ini memang jelas sengaja mempermainkannya!
"Aku ingin makan dengan pelayanmu ini, bisa?" tanya Sasuke dengan senyum meremehkannya.
.
.
To be Continue
.
.
Urryyaaa~ ternyata peminat fic SasuKarin belum banyak ya T.T yasudahlah takapa, semoga kalian suka membacanya. Untuk para silent readers, reviewnya atuh diminta :* makasi banyak untuk saran dan masukan dari kalian semua. See ya on next chap!
