"New York?" Sakura terkejut bukan main mendengar penuturan Ayahnya.

"Ya, dan kau akan bertunangan dengannya di sana setelah kelulusan sekolahmu."

Tangannya mengerat kesal, apa katanya tadi? Tunangan? Lelucon macam apa yang sedang terjadi? Dengan emosi Sakura pergi keluar rumah tanpa tujuan. Berharap bisa melepaskan bebannya malam ini.

"Maaf, Ayah, aku tidak bisa."


Cinta sejati adalah dia yang mampu membiarkanmu bahagia dengan orang lain, dan terus berharap yang terbaik untukmu nanti.


Naruto © Masashi Kishimoto

Look at Me, Sasuke!

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

AU, Rated T

Chapter 3 : Dear My Prince

.

.

.

.

Jari-jari lelaki itu saling menggenggam, digunakan untuk menopang dagunya di atas meja makan. Ia tampak menikmati tontonan konyol di hadapannya, gadis yang mengidolakannya sedang makan dengan wajah masam. Dia yakin manusia di depannya ini pasti sedang menggerutu dalam hati. Namun entah kenapa, walaupun menatapnya dalam diam, Sasuke merasa terhibur dengan hadirnya gadis itu malam ini.

"Jangan ikat rambutmu," ujarnya mendadak tapi tak dihiraukan oleh sang gadis.

"Pakailah lensa kontak," tambahnya lagi.

"…."

"Kemana senyum cantik a la SFC-mu itu?" tanyanya sedikit merunduk ingin melihat ekspresi gadis di depannya.

Karin mendeliknya kesal, ternyata idolanya ini tukang komentar. Seperti inikah rasanya makan malam dengan Sasuke? "Ck, aku tidak bicara saat makan." ucapnya ketus.

"Tapi kau barusan bicara." balas Sasuke cepat.

"Kenapa kau ke sini lagi? Ini bahkan sudah jam sepuluh lewat. Kau menyuruhku makan sebanyak ini sengaja ingin membuatku gendut? Kau senang?" omelnya tanpa ragu.

"Ahahahaha ... tidak kusangka ketua fans club bisa memarahi idolanya sendiri." Sasuke menyeringai, "Sudah kuduga, kau memang menarik."

"….."

"Kenapa aku ke sini? Jawabannya adalah karena Sakura." ucapnya sambil memainkan air dalam gelas.

"….."

"Aku menyuruhmu makan sebanyak itu? Jawabannya adalah karena kau terlihat kurusan belakangan ini." Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.

"….."

"Aku senang? Tidak juga, aku hanya sedang butuh support dari penggemarku." Tangannya melipat di dada.

Karin menghentikan makannya, ia sudah sangat kenyang. Memang benar yang dikatakan Sasuke kalau ia kurusan. Itu semua karena kurangnya istirahat dan seringnya lupa makan karena sibuk belajar untuk ujian akhir.

"Ada apa dengan pacarmu?" tanya Karin karena merasakan aura Sasuke seperti menahan sesuatu yang ingin diungkapkan. Sasuke bisa mati penasaran kalau memendam perasaannya terus-terusan begitu.

Hening. Sasuke menerawang piring kosong di hadapannya. "Dia marah. Aku ketahuan lagi." tuturnya datar.

"Semua wanita juga akan begitu kalau kekasihnya selingkuh." Karin menanggapi, dilanjutkan dengan Sasuke yang tertawa hambar, entah apa yang menurutnya lucu.

"Menampar di depan umum, menyiram minuman ke wajah, kejar-kejaran di jalan raya, menangis di bawah hujan, membuang cincin ke kolam, semua itu sudah dia lakukan padaku." Sasuke diam sejenak, "Anehnya dia masih terus memaafkanku, membuatku merasa dia berbeda dari gadis-gadis lainnya. Kalau kau ada di posisinya, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya polos.

Karin menghela nafasnya berat, ia tidak menjawab pertanyaan Sasuke, justru meneguk minumannya hingga tandas. "Hati wanita itu berbeda-beda. Sakura tipe yang lembut dan pengertian, kalau aku mungkin sudah menghajarmu habis-habisan." ejeknya pada Sasuke.

"Kau percaya? Dia belum pernah memakiku sekali pun. Biasanya dia akan menangis dan bilang aku jahat berkali-kali, setelah itu memelukku hingga tangisnya selesai. Dia juga tidak keberatan dengan kehadiran SFC di sekolah, bahkan dia ingin sesekali berbincang denganmu. Bukankah ini aneh?" Sasuke meracau panjang lebar.

"Kau tulus mencintainya?" hati Karin sakit menanyakan ini. Ia sudah tahu pasti jawabannya apa.

"Hn."

Benar saja.

"Kau sanggup kehilangan dirinya?"

"Tidak akan."

"Kau beruntung, punya orang yang selalu melihatmu. Kau tidak tahu rasanya menjadi orang yang tidak pernah dipandang sebagai apa pun. Mungkin ... hanya dianggap sekumpulan serangga pengganggu." Sasuke tahu, Karin tengah membicarakan dirinya sendiri. Ia juga tahu gadis itu menyukainya sejak kelas satu dan ia tidak pernah mempedulikannya kecuali sekarang.

"Tidak, klubmu itu menyadarkanku akan suatu hal—"

"—Mulai besok aku bukan lagi ketua SFC, aku akan menyerahkan jabatan itu pada adik kelas." Karin memotong ucapan Sasuke tiba-tiba. "Setelah kita lulus nanti, organisasi itu juga akan bubar. Aku sudah lelah menyukaimu, Sasuke. Lebih baik aku berkonsentrasi pada persiapan ujian akhir bulan depan."

"Karin—"

"Kau tidak perlu merasa bersalah," potongnya lagi begitu merasa aura Sasuke mulai berubah. "Aku rela kau bahagia dengan siapa pun. Aku hanya berharap yang terbaik untukmu. Sekarang dan seterusnya." Dengan senyum getir ia bicara menatap onyx kelam Sasuke.

Seketika mereka berdiam, hingga lampu ruangan itu semakin meredup menyisakan lilin-lilin yang sengaja dinyalakan. Alunan lagu untuk berdansa sedang diputar, beberapa pasangan tampak memanfaatkan kesempatan ini untuk memadu kasih.

Di suasana seromantis ini emosi mereka berdua justru tak menentu. Sasuke mencoba tidak ambil pusing, ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Karin. "Mau berdansa denganku?"

Karin tetap diam.

"Ayolah…" Sasuke melepas kacamata Karin yang menurutnya mengganggu itu. Ia pun menariknya ke lantai dansa.

"Aku tidak bisa melihat jelas kalau begini!" gerutu Karin di tengah gerakan halus dansanya bersama sang pangeran.Night Crimson Café mengiringi mereka dengan lagu 'A Thousand Years', yang liriknya sedikit menyindir perasaan Karin secara tidak sengaja. Sakit. Karin mengeratkan pegangan tangannya pada Sasuke, ia sadar momen ini takkan didapatkannya dua kali seumur hidup. Butiran air mata mulai bergumul di pelupuknya, entah kenapa ia justru ingin menangis bukannya gembira. Ia sangat sedih begitu menyatakan dirinya telah lelah menyukai sosok di hadapannya. Ia telah merelakan cintanya untuk orang lain, orang yang lebih baik darinya, yang bisa saling mengerti tanpa harus punya kemampuan aneh seperti dirinya.

Menyerah. Itulah kata yang paling menggambarkan perasaannya saat ini. Dan tidak ada hal yang lebih menyedihkan daripada menyerah di hadapan hadiahmu seperti ini.

Sasuke menghentikan gerakannya, ia mengusap air mata Karin dan tanpa aba-aba mengecup bibirnya lembut. "Terima kasih..." bisiknya pelan. Tidak tahan lagi, Karin meninggalkan Sasuke di lantai dansa. Ia berjalan dengan tangisnya yang menganak sungai dan hatinya sakit bukan main, sesekali tubuhnya menabrak orang-orang sekitar akibat pandangannya yang kabur tanpa kacamata.

'Selamat tinggal, Sasuke.' Ia sungguh berharap sekolahnya bisa cepat selesai dan tidak perlu melihat Sasuke lagi setelah itu.

.

.

#####

.

.

Hari demi hari, Karin terus menghindari Sasuke di sekolah. Menghindari keberadaannya, menghindari tatapannya, menghindari suaranya, bahkan menghindari pancaran auranya yang menguar dari kejauhan. Ia sedang membiasakan diri menjalani hari tanpa Sasuke, ia juga berhenti dari pekerjaannya karena café itu mengandung kenangannya bersama Sasuke. Semua hal yang berhubungan dengan lelaki itu akan ditinggalkannya, ia sudah bertekad untuk move on dari segala keterpurukan ini.

Hingga ujian akhir selesai, Karin tidak datang di acara Prom Night perpisahan siswa-siswi KHS. Bukan tidak memiliki pendamping, banyak anak laki-laki yang memintanya datang bersama tapi semuanya ditolak. Berdansa, baginya itu adalah momen tersendiri yang tak tergantikan. Ia tidak akan bisa melihat Sasuke berdansa dengan gadis lain, daripada rasa sakit itu harus kembali ia pun dengan senang hati menghindarinya.

Hari terakhirnya melihat Sasuke adalah saat upacara kelulusan. Sasuke menjadi lulusan terbaik tahun ini dan dia sempat memberi pidato kecil sebagai perwakilan seluruh siswa yang mengikuti ujian.

"Teme! Ayo foto bersama dulu, kenang-kenangan SMA, nih!" Naruto berseru mengajak sahabatnya berfoto di hari terakhir sekolah. Karin melihatnya dari kejauhan, untuk pertama kalinya ia merasa aura Sasuke sebahagia itu. Karin pun diajak berfoto bersama para anggota SFC yang sebentar lagi akan dibubarkan, beberapa anak laki-laki yang menyukainya juga nekad mengajak foto bersama. Kapan lagi? Ini kesempatan terakhir, bukan?

Sasuke sepintas melihat Karin sedang bersama puluhan gadis anggota SFC lengkap dengan spanduknya yang lebay. Salah satu anggotanya memberanikan diri mengajak Sasuke ikut dalam sesi foto bareng itu. Tentu saja, sebelum organisasi ini bubar, minimal mereka punya foto bersama pangerannya. Tidak menolak, Sasuke justru bersiap merapikan rambut raven dan seragamnya. Terdiri dari empat barisan, barisan belakang SFC mengangkat tinggi-tinggi spanduk merah bertuliskan 'WE LOVE YOU, PRINCE UCHIHA SASUKE !', membuat Karin merasa bangga atas antusiasme adik-adik kelasnya itu.

"Geser sedikit." suara Sasuke mengagetkan Karin bukan main, ia ditempatkan di barisan paling depan tepat di tengah-tengah bersama Karin—mantan ketua SFC yang kontroversial—sambil menggenggam buket bunga mawar merah.

"Sasuke-senpai, rangkul Karin-senpai. dong!" teriak salah satu anggota SFC lagi, demi apapun Karin ingin sekali menjitaknya keras-keras.

Sasuke merangkulnya tanpa ragu, "Tersenyumlah, Karin." ucapnya sebelum foto dimulai. Dengan ikhlas Karin tersenyum bahagia. Mulai saat ini juga, organisasi Sasuke Fans Club dinyatakan bubar. Inilah saat-saat terakhirnya di samping Sasuke, mendengar suara seksinya, menatap mata tajamnya, dan merasakan aura dinginnya. Karin berpose mendadahi kamera dengan tangan kirinya ditambah 'senyum cantik a la SFC' seperti request Sasuke padanya. Fotografer pun sudah siap memotret mereka semua.

"Siap, ya! Satu ... dua … tiiigaaa...!"

"BANZAAAAIIII~!"

.

.

Cklik!

.

.

To be Continue

.

.

Huweee aku sedih sendiri di chapter ini kasian Karin, huhuhuu *nangis di pelukan Sasu* terima kasih buat yang sudah review. Chapter berikutnya adalah yang terakhir, aku emang gak bermaksud bikin fic ini panjang sejak awal *karena iseng doang*. Yah begitulah, aku iseng-iseng membayangkan gimana rasanya jadi Karin setelah banyak baca fic SasuSaku yang menyatakan Karin sebagai ketua SFC dan Sakura yang jadi pacar Sasuke di sekolah. Jadi anggep aja ini sudut pandang lain dari fic-fic bertema gitu *hahaa* yosh, see ya on next chapt ^^v love you minna~