BUAGH! BUG BUG BUGH!

"Teme, hentikan! Tidak ada gunanya kau terus seperti ini!"

"Aaaarrgghhh!" kedua bola mata onyx-nya menatap nanar tembok yang sudah berlumur darah dari tangannya. Sakitnya bukan main, ia membiarkan tubuh gontainya merosot ke lantai. Mencoba menyembunyikan kesedihan dalam tundukan kepalanya yang pening.

'Sasuke-kun...'


Saat kau tidak tahu harus bersedih atau senang akan suatu hal, bersyukurlah ... karena semua itu adalah takdir yang telah diciptakan Tuhan untukmu. Semua pasti terasa indah pada waktunya.


Naruto © Masashi Kishimoto

Look at Me, Sasuke!

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

AU, Rated T

Final Chapter : Destiny

.

.

.

.

Enam tahun sudah berlalu semenjak kelulusan Uchiha Sasuke dari Konoha High School. Enam tahun sudah, ia tidak kembali ke masa SMA nya. Bukan waktu yang singkat untuk meneruskan masa depannya. Saat ini Sasuke sudah menjadi pria dewasa berusia dua puluh empat tahun. Cukup matang untuk menjadi seorang Eksekutif muda di perusahaan Ayahnya, Uchiha Corporation.

Keseriusannya dalam bekerja mengubahnya menjadi sosok yang tidak mengenal kata main-main. Sangat berbeda dengan sifatnya sewaktu menjadi anak sekolah. Kalau mengingatnya, Sasuke hanya bisa tertawa kecil, membayangkan betapa labilnya ia sewaktu masih remaja.

Di ruang kerjanya saat ini ia sedang memainkan pulpen kesayangannya. Tidak ada kerjaan, ia mencoba menyalakan televisi dan mencari channel menarik. Hingga satu tontonan membuatnya berhenti bergerak. Ia memandangi sosok wanita dalam acara itu, seseorang yang dikenalnya di masa lalu. Didengarkannya seksama berita infotainment itu.

"Hah? Pacar? Hehehe aku belum punya. Aku sibuk dengan semua jadwal kegiatanku, tidak ada waktu untuk dekat dengan pria manapun."

"Lalu, apa kau punya seseorang yang kau sukai?"

"Hmm saat ini belum, tapi ... kalau seseorang yang pernah aku sukai, ada sih."

Mendengar kalimat itu entah kenapa membuat Sasuke mengangkat kedua sudut bibirnya. Ia memang sudah lama tidak bertemu wanita itu. Kalau boleh jujur, wanita itu menjadi jauh lebih cantik sekarang ini. Sedikit-sedikit menggugah hati Sasuke untuk bertemu dengannya sesekali. Tapi mengingat schedule pekerjaannya yang Senin sampai Sabtu itu, sepertinya akan sulit membuat janji dengan orang luar. Terlebih lagi wanita itu sekarang sudah menjelma menjadi seorang diva muda di Jepang, pastilah jadwalnya tak kalah sibuk dengan Sasuke.

Lepas dari televisi, pandangannya beralih pada sebuah kalender di meja. Ia jadi teringat akan suatu hal penting, "Aa, bulan depan ya..." gumamnya entah pada siapa.

.

.

#####

.

.

Di lain tempat, Karin sedang duduk manis di depan meja rias, menikmati polesan penata rias pada wajahnya. Rambut merah panjangnya pun terlihat semakin indah di tangan hairstylist favoritnya. "Ayame-san, jangan warna merah terang. Pakai yang lebih soft saja." Pintanya pada sang penata rias saat hendak memoles bibirnya dengan lipstick. Malam ini merupakan malam yang mendebarkan buatnya, padahal ini bukan pertama kali ia tampil di acara resmi. Tapi rasa tidak tenang itu seakan menghantuinya. 'Semoga aku tidak bertemu dengannya.' batinnya berharap.

"Sepuluh menit lagi. Semua bersiap." titah koordinator acara malam itu. Sontak Karin bersiap dengan mic dan merapikan kostumnya. Para dancer di belakangnya pun sudah siap. Penampilan malam ini harus spektakuler.

"Semangat, Karin-chan!" seru manajernya menyemangati.

Tepukan tangan mulai memenuhi ballroom hotel itu. Sebentar lagi, lampu panggung akan dinyalakan menunggu waktu yang tepat. Saat irama musik mulai terdengar, suara indahnya langsung menggema di ruangan itu membuat penonton bersorak ramai. Dentuman musik serentak menyalakan lampu panggung dan mengubah suasana menjadi lebih hidup. Karin tampak menikmati setiap beat lagu dan dance-nya. Dengan lincah ia menari dengan sepatu hak tinggi tanpa mengganggu kualitas suaranya. Benar-benar sudah terlatih, kebiasaan percaya dirinya sejak SMA menjadikannya artis yang anti dengan demam panggung.

Seseorang dari salah satu kursi meja bundar serta merta tersedak begitu melihat siapa artis yang mengisi acara ulang tahun perusahaannya malam ini, "Uhk uhuk huk ... d-dia di sini...?" ia memperjelas arah pandangnya dan benar saja, onyx itu menangkap bayangan sosok wanita yang dilihatnya di acara infotainment siang tadi di kantor.

"Karin...?"

Buru-buru ia beranjak dari situ meninggalkan keluarganya yang masih setia duduk di meja makan, "Mau kemana dia?" gumam Itachi penasaran.

Lima menit berlalu dengan hiburan spesial, para karyawan dan eksekutif dari keluarga Uchiha refleks bertepuk tangan meriah sebagai tanggapan atas perform Uzumaki Karin. Diva muda yang dikabarkan akan segera Go Internasional dalam karirnya.

"Terima kasih, semuanya~!" ia melambai ke arah penonton sambil mengamati setiap tamu yang hadir. 'Bagus. Dia tidak ada. Syukurlah...'

Detik selanjutnya ia kembali ke belakang panggung, membiarkan artis lain gantian mengisi acara. Sebenarnya ia ingin langsung hengkang dari tempat itu, tapi manajernya menyuruh untuk menikmati makan malam bersama para undangan di ballroom hotel. Berat hati ia berganti pakaian dan berjalan menuju tempat dimana ia bisa mengambil makanan dan minuman. Terlihat beberapa orang menyapanya ketika ia melangkahkan kaki di karpet beludru itu. Jantungnya berdegup kencang saat melewati meja keluarga Uchiha dan itu sukses membuat napsu makannya hilang.

"Hah ... kenapa aku seperti ini? Aku 'kan sudah melupakannya. Benar, tidak perlu takut. Sepertinya minuman segar bisa menyegarkan otakku." ucapnya pada diri sendiri.

"Hei. Lama tidak berjumpa, Karin."

Deg!

Suara itu ... Karin mengenalnya. Sensasi aura dingin pria itu juga belum berubah, masih bisa dirasakan Karin yang sedang membelakanginya saat ini. Sudah terjebak dalam situasi, terpaksa Karin menoleh ke belakang dengan senyum. 'Tuhan … kenapa aku harus bertemu dengannya lagi!'

Sepintas mereka bersalaman, Sasuke merasakan tangan Karin agak dingin seperti orang gugup. Ia tersenyum miring melihat wanita di hadapannya. "Kau belum berubah." tuturnya pelan.

"Apa kabar?" tanya Karin kaku. Akui saja, wajah Sasuke terlihat semakin macho di usianya sekarang. Mungkin Karin akan membuat SFC Part II setelah ini.

"Baik. Bagaimana denganmu? Sudah sukses menjadi artis rupanya." jawab Sasuke enteng.

"Yah, seperti yang kau lihat. Aku senang dengan hidup yang kujalani sekarang. Akhirnya suaraku tidak lagi digunakan untuk meneriakkan namamu di gerbang sekolah, hahaha." Mereka pun tertawa ringan mengenang masa SMA nya yang terbilang sedikit alay. Tapi di situlah seninya, masa-masa SMA tidak akan pernah terulang untuk kedua kali. Segala kekonyolan di sekolah merupakan kenangan terindah buatnya.

"Ah ... aku masih ingat caramu berteriak 'I Love You, Sasukeee!' ckckck, lucu sekali, sekarang apa kau bisa mengulangi kalimat itu?" godanya sukses membuat Karin malu. Ternyata sifat menyebalkannya itu belum sepenuhnya luntur dimakan waktu. Karin pun menyipitkan mata.

"Enak saja, sekarang aku juga punya fans club sendiri. Aku bukan artis level sekolahan sepertimu, weeks!"

Canda tawa terus mengiringi pembicaraan mereka berdua. Sasuke juga tak ragu mengajaknya makan bersama, membuat beberapa pasang mata menuju ke arah mereka.

"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Sasuke di tengah makannya.

"Hmm ... sebenarnya jadwalku minggu ini hanya latihan vokal saja setiap pagi di studio. Siang sampai malamnya aku berencana menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan berbelanja seperti orang biasa."

"Mau kutemani? Aku punya waktu luang setelah selesai bekerja." tawar Sasuke kontan. Beberapa detik Karin mengerjapkan iris rubinya. Apa ia tidak salah dengar? Sasuke ingin menemaninya seminggu ini? Yang benar saja!

"Emm ... terserah kau saja. Kalau kau lelah ya tidak usah. Kau bisa hubungi aku jika ingin bertemu." Malu-malu ia menyetujui tawaran itu dan memberikan selembar kartu namanya pada Sasuke.

"Baik, akan kuhubungi kau nanti."

Selepas acara itu, Karin terus tidak bisa menahan senyum. Rasanya tidak begitu buruk bisa kembali bertemu dengan pujaan hatinya dulu. Terlebih lagi Karin juga merasakan aura Sasuke yang sungguh-sungguh berharap padanya. Semua ini benar-benar seperti kejutan tak terduga.

.

.

#####

.

.

Hari ke hari dilewati Karin dengan latihan vokal di studio. Sesudahnya ia habiskan dengan berkunjung ke rumah orang tua dan sahabat-sahabatnya. Seharian Sasuke selalu menyempatkan diri untuk menghubungi atau sekadar mengirim pesan. Membuatnya sedikit curiga, apa mungkin Sasuke sedang mencoba mendekatinya? 'Oh no, si Playboy itu tidak akan bisa menjeratku!' begitulah pikirnya mengingat tabiat Sasuke sewaktu SMA.

Namun seperti termakan omongan sendiri, ia justru terjerat dalam setiap kharisma dan pesona Sasuke yang semakin dewasa. Lelaki itu jadi sedikit lebih bertanggung jawab, ia selalu mengantarkan Karin pulang setelah pergi makan malam. Banyak hal yang berubah darinya. Karin menyadari itu.

Tidak terasa berminggu-minggu mereka berinteraksi melewati hari bersama. Makin hari, kata-kata Sasuke seakan makin serius padanya. Tidak jarang pria itu menunjukkan perhatian lewat kata-kata dan sentuhan.

Hingga pada suatu sore, saat mereka sedang menikmati sunset di pantai, tiba-tiba Sasuke memeluk dirinya dari belakang. Entah maksudnya apa, mereka hanya berdiam menatap matahari senja saat itu. Menikmati hembusan angin yang membawa deburan ombak menghinggapi kakinya.

"Sepertinya besok kita tidak bisa bertemu. Aku ada acara siangnya." ujar Karin masih dalam dekapannya.

"Hn. Aku juga ada acara penting besok."

"Begitu, ya. Hmm … Sasuke? Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Apa?"

"Apa kau ... merasa senang dengan kehadiranku?" sebenarnya tanpa bertanya pun Karin sudah tahu jawabannya. Aura bahagia Sasuke selalu menguar jelas tiap kali bersamanya. Namun untuk sekali saja, ia ingin mendengar pengakuan langsung dari pria itu. Berbohong pun tak apa, karena itu justru berarti Sasuke sedang berusaha menjaga image-nya.

"Hn. Aku senang."

Ah … ternyata dia menjawab jujur.

Senyuman pun merekah lebar di wajah Karin. Puas, ia melepaskan pelukan Sasuke dan memungut sandalnya di atas pasir pantai. "Ayo kita pulang. Sebentar lagi malam."

.

.

#####

.

.

Di perjalanan pulang, Karin terus mengulum senyum. Bagaimana tidak? Ia sedang berada di samping Sasuke yang tengah serius mengemudi dengan lengan kemeja hitam yang digulung dan kerah berantakan yang entah sudah hilang kemana dasinya. Cukup keren untuk membuat mata Karin terus melirik. Diam-diam ia menikmati setiap pancaran aura lelaki itu. Hangat dan nyaman, begitulah rasanya.

Drrt Drrrt Drrrt

Ponsel Karin bergetar dan sigap ia langsung menerima panggilan itu, "Halo, Tayuya?"

"Karin, benar 'kan besok pagi kau ikut reuni Sasuke Fans Club di Night Crimson Café? Jam sepuluh harus sudah di sana! Kau wajib datang! Kalau tidak, kami akan menyeretmu ke acara itu!"

"Tentu saja aku akan datang. Kau datang sendirian apa bersama Kimimaro?" tanyanya lagi.

"Sendirian. Kimimaro tidak bisa mengantarku karena besok ia akan menghadiri pesta pernikahan Sakura dengan Sasuke."

DEG!

"…a-apa maksudmu?" tanyanya tidak percaya. Sasuke menikah? Pria di sampingnya ini, kenapa selama ini tidak memberitahukan apa-apa padanya?!

"Kau tidak tahu? Sakura sudah menyebarkan undangannya saat reuni KHS dua minggu lalu."

Diam.

Karin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sungguh tidak tahu menahu soal pernikahan itu. Datang ke reuni sekolah saja tidak, ia terlalu sibuk dengan kegiatan artisnya. Kecewa, untuk kedua kalinya Sasuke membuatnya kecewa. Apa maksudnya ini? Seminggu sebelum pernikahan ia justru menghabiskan waktunya dengan Karin. Benar-benar menyakitkan. Mau sampai kapan lelaki itu terus menyakiti Karin yang tulus padanya?

"Aku akan menghubungimu lagi." Ia memutuskan teleponnya sepihak. Susah payah ia menahan amarah, ingin rasanya ia menampar Sasuke saat ini juga. 'Kurang ajar. Dasar brengsek!'

"Kau kenapa? Jangan cemberut begitu, kau jadi terlihat jelek." Sasuke memecah keheningan diantara keduanya.

"Ya. Aku memang tidak secantik Sakura." tandasnya langsung membuat Sasuke bungkam. Selebihnya Karin hanya membuang muka dan langsung pergi begitu mobil Sasuke sampai di rumahnya. Sasuke terus memandangnya heran, tak lama ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Ini aku ... bagaimana persiapan hari esok?"

.

.

#####

.

.

Gaun putih indah sedang menjuntai dari tubuh mulus Haruno Sakura. Sebentar lagi, satu jam lagi ia akan berganti marga. Saat-saat yang diharapkannya sejak beberapa tahun lalu. Rambut pink-nya tertata rapi. Make up natural membuat pancaran inner beauty miliknya terlihat jelas. Ia sungguh gugup, semakin banyak orang berlalulalang di kamar riasnya mempersiapkan ini itu. Pesta pernikahannya digelar di sebuah Convention Hall mewah. Sudah pasti akan banyak tamu yang datang, dan itu membuatnya semakin gugup. Bagaimana kalau nanti ia terpeleset di altar? Bagaimana kalau ia pingsan di depan pendeta?

"Hei, Cantik." sapa seseorang dibelakangnya.

"Sasuke-kun!" ia terkejut bukan main saat Sasuke masuk ke dalam kamar riasnya. Bagaikan obat penenang, kehadiran laki-laki itu mengikis perasaan gugupnya.

"Kau gugup?"

"Sangat. Aku tidak yakin semua akan berjalan lancar..." Sakura menggeleng lesu, tapi dua tangan Sasuke berhasil meyakinkan lewat tepukan di bahunya.

"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku." ujarnya penuh senyum.

"Hmm terima kasih, Tampan. Tapi ini masih terlalu awal, satu jam lagi menuju acara inti. Aku bisa mati gugup menunggu setiap menitnya!" gerutu Sakura.

"Ck, berlebihan sekali. Mana ada orang mati di hari pernikahan? Kau ini kebanyakan nonton film."

"Tapi, 'kan—"

"Sudah tenanglah. Kau akan bahagia setelah ini, ya?"

"Sasuke-kun…"

.

.

#####

.

.

Pukul 10.30 Night Crimson Café

KARIN POV

Aku melangkah masuk ke tempatku dulu bekerja. Dulu, café ini hanya tempat makan malam biasa, sekarang sudah berubah menjadi café mewah yang buka 24 jam. Aku masih ingat bagaimana penampilanku saat memakai seragam café ini, semua berawal dari sini. Dari kebiasaanku menyanyikan beberapa lagu di café ini, tanpa diduga seorang produser menawarkanku pekerjaan untuk menjadi seorang penyanyi.

Iris ruby-ku melirik meja pojok kiri dekat jendela, itu adalah meja nomor sebelas. Tempat biasa Sasuke memesan tempat, dulu.

Sial, kenapa aku harus mengingatnya? Malam terakhir aku bekerja di tempat ini aku menangis kecewa karena Sasuke. Sekarang pun saat aku kembali ke tempat ini, Sasuke membuatku kecewa untuk kedua kali. Keterlaluan.

"Kariiiiiiin, kau terlambat!" Tayuya berteriak dari depan sana. Hey, itu mereka. Sudah cantik-cantik rupanya adik-adik kelasku dulu para anggota Sasuke Fans Club. Mereka semua menyapaku. Ternyata reuni SFC ini berjalan lancar sejak tadi, dan tiba-tiba saja Tayuya maju ke depan seperti ingin mengucapkan sesuatu dengan microphone di café.

"Minna, sudah enam tahun lamanya kita tidak bertemu. Hari ini, di hari spesial ini, kita mengadakan acara reuni SFC. Aku sebagai ketua penyelenggara mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada semua pihak dan sponsor acara ini."

Sponsor? Hebat sekali pakai sponsor segala. Oh ya, aku lupa, café ini kan sekarang tempat mahal. Pantas saja mereka mencari penggalang dana!

"Hari ini kita kedatangan tamu spesial, mantan ketua SFC yang legendaris di Konoha High School, Uzumaki Karin!"

PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK

Oke, sepertinya ini cukup berlebihan.

"Karena sekarang dia sudah menjadi artis, apa salahnya jika dia menyumbangkan suara emasnya? Kalian setujuu?!"

What? Nyanyi?! Oh tidak, aku sedang tidak mood untuk menyanyikan lagu-laguku yang nge-beat itu. Apa kalian tahu kalau hatiku sedang hancur hari ini? Tapi tepukan tangan mereka seakan memaksaku untuk bernyanyi.

Baiklah, ini demi SFC yang sudah repot-repot membuat acara reuni, aku akan menyanyikan satu lagu. Satu lagu untuk pengeranku yang brengsek. Akupun membisikkan judul lagu itu pada pianis di café. Ia mengangguk dan bersiap menekan tutsnya.

"Ehm ... terima kasih semuanya sudah mengundangku ke acara ini. Aku sangat senang bisa hadir, walaupun sebenarnya suasana hatiku sedang kacau hari ini. Aku akan menyanyikan satu lagu untuknya. Seseorang yang kita cintai di waktu lampau, dan sempat mengembalikan rasa itu akhir-akhir ini ... Uchiha Sasuke. Kuucapkan selamat atas pernikahannya hari ini. Semoga pangeran kita itu bisa bahagia dengan orang yang dicintainya."

Dengan anggukan kepala aku memberikan isyarat pada pianis di sebelah untuk mulai memainkan lagu yang kuminta. Dentingan piano pun mulai terdengar, kupejamkan mataku. Mencoba mengingat semua hal tentang Sasuke yang selama ini kulupakan. Apa lirik yang kunyanyikan sangat bertolak belakang dengan apa yang kuucapkan dalam hatiku. Bagaimanapun, aku tidak bisa berdusta dengan hatiku sendiri.

.

Sasuke,

Untuk satu kali saja, pernahkah kau melihatku sungguh-sungguh?

Kenapa ... kau bisa menyembunyikan semua ini dariku? Apa yang salah dari diriku?

Bagiku semuanya belum berakhir, berapa kalipun kucoba melupakanmu, aku tetap tidak akan bisa.

Suatu saat nanti, apakah aku akan menemukan seseorang sepertimu? Aku akan selalu mengingatmu, dan kumohon jangan pernah lupakan aku.

Aku harap aku bisa menyesali perasaan ini, tapi siapa yang tahu? Kalau penyesalan itu takkan pernah datang. Aku sudah terlalu mencintaimu...

.

Tidak, aku tidak bisa melanjutkan nyanyianku. Perasaan dalam hatiku terlalu menyakitkan. Mata itu, suara itu, sentuhan itu, aku ingat semua yang kau lakukan. Tidak mungkin aku menyingkirkanmu dari pikiranku semudah itu. Semua usahaku selama ini sia-sia. Pada akhirnya hanya aku yang menderita sendirian karenamu. Sungguh cinta itu buta dan pahit.

Kutundukkan kepalaku menyembunyikan tangisanku. Aku seperti orang bodoh yang berdiri di depan umum. Ini sangat konyol. Tapi tiba-tiba saja seseorang menarikku menghadap belakang dan dia—

"Sasuke…?"

—kenapa dia ada disini? Tidak mungkin. Sosok yang menciumku kali ini ... Uchiha Sasuke?

END KARIN POV

.

.

.

NORMAL POV

Sasuke mendekap tubuh wanita itu hangat, memberikannya ciuman di hadapan puluhan pasang mata anggota fans club nya. Ia mencoba memeluk Karin yang terus menolaknya, sudah dipastikan Karin akan bingung sesuai rencana. Alunan suara piano masih mengiringi walaupun Karin sudah tidak kuat melanjutkan nyanyiannya karena isak tangis.

"Maaf ... selamat ulang tahun, Karin."

Karin membulatkan matanya. Ulang tahun? Ya Tuhan, ia benar-benar lupa hari ini adalah hari ulang tahunnya karena semalaman menangis mendengar kabar Sasuke akan menikah. Sandiwara Sasuke dan para eks member SFC sukses membuat Karin terjebak dalam leluconnya. Ia langsung memeluk Sasuke erat, berharap tulang pria itu remuk berkeping-keping dalam pelukannya.

"Hiks ... kau jahat, Sasuke! Ini sungguh-sungguh sangat tidak lucu! Kau pasti bersekongkol dengan mereka semua untuk membuat acara ini! Kalian menjebakku dengan berita pernikahan konyol itu! Aku benci kalian semua! Kalian tega sekali huhuhu…" Karin terus mengomel sedangkan Sasuke tertawa mendengarkan kekecewaan wanita itu.

"Hei..." ia mengusap air mata Karin, "aku ada disini, siapa yang menikah? Sekarang dengarkan aku..." Sasuke memasang posisinya berlutut di depan Karin, membuat para penggemarnya meleleh dalam sekejab. Termasuk Karin, ia tidak tahu apa lagi yang direncanakan Sasuke padanya.

"Karin ... kau telah mengajarkanku banyak hal tentang cinta. Terima kasih kau sudah mencintaiku hingga saat ini, mungkin balasanku ini terlambat. Tapi, kuharap kau mau menerimaku, kita mulai semuanya dari awal. Kau mau?" pintanya tulus nan tegang.

"WAAAAAHHH CEPAT TERIMA, KARIN-SENPAI!"

"Ini kesempatan emas! Sudah terima saja!"

Sorak sorai anggota SFC pun semakin membuat Karin malu. "Apa yang kau lakukan, bodoh? Cepat berdiri!" bisiknya sambil melotot pada Sasuke.

"Tidak sebelum kau menjawab permintaanku." jawabnya mantap. Karin hanya berdecak kesal, sepertinya sikap romantis memang tidak cocok padanya, malah justru membuatnya kesal dan merasa aneh.

"Iya-iya aku mau!" Pada akhirnya ia menjawab dengan muka yang memerah padam.

Refleks semua yang melihat pun bertepuk tangan, akhirnya, sembilan tahun mencintai pria ini tidak sia-sia. Segala pengalaman pahitnya sudah tergantikan dengan manisnya cinta Uchiha Sasuke. Ia bangun dan memeluk Karin lagi. Membisikkan suatu kata yang membuatnya penasaran.

"Karin, ikutlah denganku…"

.

.

THE END

.

.

Nyehehey akhirnya fic ini berakhir dengan Gaje. Terima kasih semua yang sudah mengikuti cerita ini dari awal. Maaf ya endingnya kubuat panjang sampe 3k+ words o.o padahal chapter sebelumnya gak nyampe 2k. fufufu.. yosh. Sampai jumpa lagi di fic-ku berikutnya ^^/

.

.

OMAKE

.

"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Karin begitu Sasuke memarkirkan mobilnya. Tanpa ba bi bu pria itu langsung menggandeng tangan kekasihnya dan berjalan memasuki ruangan mewah tempat berlangsungnya pesta pernikahan Sakura.

"Kau pernah mengajarkanku untuk merelakan cinta pada orang lain. Memang, awalnya terasa sangat menyakitkan, aku jadi tahu bagaimana perasaanmu saat aku mengecewakanmu dulu." Sasuke menjelaskan, "Sakura bukan menikah denganku. Dia sudah memiliki orang lain yang lebih pantas, yang tidak akan menyakitinya berulang-ulang sepertiku dulu. Aku yakin dia akan bahagia dengan pernikahannya ini." imbuhnya lagi dengan senyum simpul.

"Ja-jadi...? Sakura menikah dengan—"

Mata Karin membaca papan hiasan di depan pintu masuk,

"—Akasuna Sasori?"

"Hn. Kau tahu? Sejak aku melepaskan Sakura, aku terus memikirkanmu. Sakit yang kurasa pasti sama dengan yang kau rasa waktu itu, aku selalu berharap bisa menebus semua perbuatanku padamu. Hingga kita bertemu lagi, aku bersyukur kau masih mencintaiku. Sepertinya aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Orang yang tulus mencintaiku sampai kapan pun, seperti apa pun keadaanku."

Wajah Karin langsung bersemu merah, ucapan Sasuke seratus persen tepat sasaran, "Memangnya siapa yang masih mencintaimu? Sok tahu ... kau bisa membaca pikiran, eh?" Karin mencibirnya.

"Aku tahu sejak bersalaman denganmu di acara ulang tahun perusahaan. Tanganmu bergetar dan dingin, sama seperti waktu kita berdansa dulu. Aku tahu kau memang masih menyimpan perasaan padaku." jawabnya menahan senyum.

'Tidak mungkin ... jadi dia masih ingat momen saat kami berdansa? Ya Tuhan, kupikir ia tidak pernah mempedulikanku, ternyata ia mengingat semuanya. Terima kasih, Sasuke. Akhirnya, semua penantianku terbalas. Sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu. Selamanya.'

.

.

~FIN~

.

.


Look at Me, Sasuke! © Asakura Ayaka | September 2012