Title: Kehidupan Kedua
Chapter: 01 / ?
Disclaimer: Yak, saya bukan pemilik Hetalia! (Terima kasih koreksiannya Sindy Beilschmidt! :3)
Notes: Lihat footnote!
...
BOOM. Ledakan kecil terdengar di bagian belakang pesawat. Apakah itu kargo? Ah, spekulasimu mungkin saja benar, tetapi yang terpenting, ledakan itu membuat pesawat oleng dan membuat semuanya panik. Perlahan, butiran-butiran keringat yang turun dari jidatmu menandakan vonis terakhir yang sudah diumumkan. Kau mungkin tidak mendengarkannya, tetapi orang secuek kamu pun bisa merasakannya, kan?
Apalagi yang kau lihat Lars? Panorama luar pesawat yang gelap? Hey, awan-awan hitam menutupi pandanganmu, untuk apa kau menghabiskan waktu untuk hal bodoh itu? Sekarang, hal yang kau harus lakukan adalah memasang sabuk pengaman sekencang-kencangnya, sebab ketahuilah, ini akan menjadi mimpi burukmu yang kedua setelah kejadian yang menimpamu dengan orang tua-mu.
Sementara getaran besar dari bawah kursimu mengguncang mentalmu, membuatmu lebih takut .. takut, dan takut, sang pramugari berusaha menenangkan massa, nampaknya usaha yang dilakukan wanita tua itu tidak berhasil. Setelah kau menunggu saat-saat yang menegangkan itu, pesawat yang kau tumpangi tiba-tiba oleng ke sebelah kanan-mu. Barang-barang yang ada di kubumu jatuh, orang tua di seberang kanan-mu itu tertimpa tas-tas yang berat, lalu, benda raksasa yang kau tumpangi perlahan turun, dan turun, turun … tekanan mental maupun udara menjadi sangat kuat, membuatmu hanya bisa menutup mata dan berdoa.
Hal yang lebih mengerikan terjadi—dari luar badan pesawat terdengar benturan yang kuat, lalu sesuatu yang tajam menusuk isi pesawat dengan tiba-tiba. Nampaknya itu adalah sayap pesawat yang hancur akibat ledakan yang tiba-tiba membuat jantungmu berdetak lebih cepat.
Tidak hanya itu saja, Lars. Kau lihat anak kecil di sana? Ya, anak kecil dengan rambut dikepang dua? Sebelumnya kau lihat ia menangis seperti anak yang kehilangan lollipop dan mainan kesukaannya. Sekarang, kau pasti bisa melihat perbedaannya. Ia sudah tidak menangis lagi, matanya berdarah. Dari mulutnya keluar cairan lengket bewarna merah metalik. Oh, dia sudah mati. Mata biru lautannya tidak ada sinarnya lagi. Lihatlah bagian pesawat yang rusak itu. Anak kecil beserta orang tuanya itu sama-sama tertancap. Paling tidak, mereka semua mati bersama, kan?
Bukankah ini mengingatkan kau dengan kematian keluargamu, Lars? Mereka bukannya juga mati bersama? Kecelakaan 7 tahun lalu, kau ingat? Hanya kau seorang diri yang hidup di keluarga Anderson. Bagaimana dengan perasaanmu sekaarang? Nampaknya ..
"TOLONG! AKU TIDAK MAU MATI!"
"MAYDAY, MAYDAY—!"
Aih, teriakan-teriakan penuh kefrustasian. Sama seperti kejadian yang lalu. masih ingatkah kamu Lars? Tidakkah kau merasakan perasaan tidak enak itu di dalam hatimu?
"Stop …"
Hey, kau mau ngomong apa? Aku tidak dapat mendengarkanmu. Kau tahu kan, tempat ini sangat ribut sekali! Banyak sekali teriakkan anak-anak kecil dan orang-orang dewasa yang frustrasi. Oh lihat itu! Banyak sekali orang yang tidak beruntung tertusuk-tusuk dengan sadisnya oleh pilahan kecil bagian kapal yang rusak! Lars-jangan tutup matamu, pesawat ini akan terdampar di tengah lautan, kau harus li-
"BERHENTI BERBICARA DI PIKIRANKU, SIALAN!"
Baik-baik ... Paling tidak kau meresponku. Hey, mulutku sudah keburu berbusa mengomentari perilaku bodohmu di sini. Tunggu, jangan hilang kesadaran dulu bodoh! Kau mau beneran mati di sini? Lars!
Hey, Lars Van Anderson! Jangan pingsan dulu, sia-
...
CRASH.
Hari Pertama.
Kehidupan Kedua.
.:: Keajaiban Seorang Mayat Hidup ::.
...
Sinar terang rembulan menyinari suatu hutan yang diselubungi oleh berbagai jenis pohon-pohon tropis, yang membuat segala yang ada di dalam hutan itu tidak segelap kegelapan pekat dan angin sepoi-sepoi membuat segalanya menjadi lebih baik.
Di balik pepohonan yang penuh memenuhi segala tempat, terdapat seorang wanita muda yang sedang berjalan menyelusuri hutan tropis ini. Sang gadis mungkin merupakan salah satu figur wanita Asia yang sangat cantik dan menawan. Senyumnya bagaikan senyuman yang dipenuhi oleh kebahagiaan semata, dan matanya yang sedikit menyerupai bulatan coklat gelap menambahi kecantikan gadis tersebut. Mukanya terlihat sangat muda, dan rambutnya jatuh sempurna di atas pundaknya. Terlebih lagi, sinar rembulan yang muncul dari sela-sela dedaunan membuat kulitnya terlihat lebih cerah dan mulus.
Si gadis berlari, berlari dan akhirnya berhenti.
Ia telah sampai di dermaga tua yang perairanya teduh dan sunyi. Pemandangan tengah malam dengan deruan laut di pantai membuat gadis Asia ini tersenyum lebih lagi. Wangi musim panas menghadang hidungnya yang sedikit mancung itu, membuat lekungan di mulutnya itu tertarik ke atas. Sang gadis tidak dapat komplein lebih lanjut lagi. Sekarang, yang ia ingin lakukan adalah berjalan menuju lautan, mengambil kerang di pinggiran pantai pasir putih, dan mendengar suara 'yang memanggilnya', seperti biasa.
Perempuan itu berjalan mendekati air laut, melepaskan sandal jepitnya yang terlumuri oleh lumpur, lalu ia menggerakkan salah satu kakinya menyentuh air yang bening itu. Ritual malam yang selalu gadis itu lakukan sesaat semua orang yang ada di daratan gadis itu berjalan tertidur pulas. Gadis itu tersenyum lebar, dan ia nampak sedang termenung ... Sebelum satu benda raksasa asing terhantam keras ke laut.
"Astaga, itu pesawat?" katanya gugup, menggerakkan tangannya secara reflek dan menutupi mulutnya yang sedikit terbuka itu. Perlahan, benda tersebut terbelah menjadi dua setelah jatuh ke laut luas, dan hanya puing-puing kecil jatuh dari angkasa mengenai daratan maupun lautan satu persatu.
Sang gadis terkejut, lalu puing-puing yang besar maupun kecil, segera di lahap oleh kedalaman lautan luas, membuat segalanya kelihatan tidak ada apa-apa. Khawatir akan hal ini, perempuan itu dengan bodohnya berenang menuju tempat tersebut.
Ya. Berenang.
Mungkin bagi sebagian orang, itu merupakan hal terbodoh yang dapat dilakukan oleh gadis macam dia. Tetapi ketahuilah, berlari dan kehabisan nafas untuk meminta pertolongan akan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada berenang ke lautan itu dengan sendirinya. Jika masih ada orang yang hidup di tempat itu, berarti ia telah meninggalkannya untuk mati sendiri. Lagipula, berenang itu sudah menjadi keseharian gadis itu dan laut merupakan sahabatnya sejak ia masih kecil.
Dengan sekejap, ia menerjang dirinya untuk masuk ke dalam pelukan lautan biru itu dan mendayung kakinya untuk mendorongnya lebih jauh, dan akhirnya, ia sampai ke lokasi pesawat jatuh itu. Banyak puing-puing ringan yang masih mengapung di permukaan laut. Lalu ada beberapa tubuh manusia yang juga mengapung tanpa arah di sekitarnya.
Perempuan itu dengan beraninya melihat keadaan orang itu, lalu dilihatnyalah tubuh laki-laki berumur sekitar dua puluh tahunan, tertusuk oleh puing kecil di lambungnya. Bajunya yang bewarna putih di mata perempuan itu menjadi merah pekat di sekitar perutnya. Setelah ia mengecek nafasnya, laki-laki itu sudah kehilangan nyawanya. Dengan sedih, ia menghela nafas, lalu berteriak, "Siapapun yang masih hidup di sini, tolong teriaklah!"
Tetapi tidak ada suara apapun. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Perempuan itu lalu melihat ke sekitar lokasi jatuhnya pesawat itu, memang, banyak tubuh-tubuh yang mengapung, tetapi sejauh wanita itu melihat, tidak ada kehidupan di mata mereka sama sekali. Tidak ada getaran dari jantung mereka, tidak ada yang bernafas.
"Apa semua penumpang pesawat ini mati…?"
Lalu di sebelah kirinya terdapat banyak gelembung udara yang meletus, dengan sekejap, ia menyeburkan wajahnya untuk melihat dengan seksama dengan mata yang nampak bersemangat lagi, ia tersenyum. Ternyata, masih ada manusia yang hidup.
Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu ia menyelam. Bongkahan pesawat itu tidak terlalu jauh dari permukaan laut. Setelah ia mencapai isi bongkahan itu, sinar terang dari bulan dapat membuatnya melihat tubuh-tubuh manusia yang tidak ada nyawanya lagi. Ada yang tertusuk, ada yang tertimpa bagian pesawat, tetapi akhirnya ia menoleh kearah kanannya, melihat seorang laki-laki berjas hitam pekat mengeluarkan gelembung udara dari hidungnya. Mungkin, ini adalah suatu keajaiban yang membuat lelaki itu selamat. Tanpa berpikir lagi, dengan cepat, ia menyelam ke sana sebelum suplai oksigen di paru-parunya habis.
Laki-laki itu tidak membuka mata. sabuk pengaman masih terllilit di tubuhnya. Perempuan itu nampak sedikit kesusahan untuk melepas sabuk tersebut, sebab jarang sekali ia melihat hal asing macam ini.
'Sial … Apa yang harus aku lakukan?'
Ia melihat apa yang ada di sekitarnya. Ia mencari sebilah pisau, atau benda tajam untuk memotong sabuk yang melilit tubuh laki-laki itu. Tetapi ia tidak menemukannya.
'Ayo, Nes, pikir—apa yang harus kamu lakukan?'
Ia melihat di sekitar laki-laki itu lagi. Lalu ia menemukan sesuatu yang janggal. Tombol apa yang ada di ujung sabuk itu? Berpikir tentang pertanyaan itu, tubuhnya mengingatkan dirinya bahwa oksigen yang ada di dalam tubuhnya tidak banyak lagi, sehingga ia menekan tombol itu, dan sabuk menyebalkan itu terlepas dari tubuh laki-laki itu.
Tersenyum melihat keadaan yang mengejutkan itu, ia langsung membawa tubuh laki-laki itu keluar dari kedalaman laut sampai pada ke permukaan. Untunglah pesawat itu terjatuh di dekat pantai, kalau tidak … Mungkin perempuan berbaju putih itu tidak dapat menyelamatkan laki-laki berambut pirang itu.
Perempuan muda itu berenang ke tepi sambil menyeret laki-laki pirang yang kian tidak sadarkan diri itu. Di baringkannya tubuh laki-laki itu dan raut mukanya semakin pucat, nampaknya ia telah meminum sedikit dari air laut setelah nafasnya sudah habis. Segeralah perempuan itu melakukan pertolongan pertama, untungnya, air yang masuk ke dalam tubuh laki-laki itu keluar, membuat tubuh orang yang lebih besar daripada perempuan itu terbatuk-batuk untuk mengeluarkan cairan asin yang tersisa keluar melalui mulutnya.
"Fuih … Untunglah," katanya pelan, setelah beberapa detik ia melihat laki-laki pirang yang tampan itu, ia menolehkan wajahnya ke lautan lagi sambil berkata kepada dirinya sendiri, "Apakah masih ada orang-orang yang hidup di sana? Sejauh aku melihat …"
'Tidak ada lagi yang selamat dari kecelakaan itu selain laki-laki beruntung ini.'
Beberapa detik ia mengambil nafas untuk mengisi kehidupan di organ-organnya kembali, ia dikejutkan dengan lelaki tampan di sebelahnya bergumam—raut wajahnya nampak ia sedang kesakitan, "Will …"
"Will?" kata perempuan itu pelan, lalu dari wajahnya nampak ekspresi simpatik dan kasihan. Setelah melihat wajah lelaki itu dengan seksama, ia memutuskan untuk membuat api unggun untuk menghangatkan mereka berdua. Baju yang ia gunakan sangat basah, dan ia tidak mau mendapat flu sesaat ia memaksakan untuk pulang ke rumah saat itu juga.
"Malam ini masih panjang, Nesia ... Dengarkan suara lautan …" katanya pelan.
Dan malam yang panjang itupun diakhiri dengan sang perempuan berambut panjang itu memandang ke lautan sekali lagi dan berdoa, agar nyawa-nyawa yang telah hilang di lautan tercintanya dapat kembali ke pangkuan yang Mahakuasa.
…
"Will, apa aku perlu ikut kalian bertiga dalam acara kelulusanmu?" tanya seorang laki-laki muda berambut pirang melawan arah gaya gravitasi sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Ia sedang duduk di bangku kayu tua dan di sebelahnya terdapat seorang laki-laki berambut berantakan yang cukup mirip dengannya.
"Kau tahu, mereka akan lebih menyukai hari ini kalau aku tidak ikut dengan kalian. Aku ini pengacau."
Seorang laki-laki yang lebih pendek tingginya dibandingkan dengan lelaki muda berambut tulip itu menjawab, "Tetapi aku yang akan sedih jika kakak tidak ikut. Kau tahu."
Sang pemuda yang lebih tua umurnya itu tertawa kecil lalu berdiri sambil mengacak rambut adik laki-lakinya itu. Kemudian ia berjalan kearah dapur kecil di sebelah kanannya, "Ada-ada saja kamu."
"Ya, Lars, itu memang benar, aku serius," katanya kembali sambil tertawa, "Tetapi … Baiklah, kalau kakak tidak mau ikut, aku tidak akan paksa."
Lars—kakaknya itu mengepulkan rokoknya lagi dan lengkungan bibirnya tertarik ke bawah sekali lagi, membuat ekspresi dingin—tidak seperti yang sebelumnya, "Willem, aku ingin kamu mengerti, bahwa hubunganku dengan laki-laki dan perempuan itu sudah tidak akur lagi. Maafkan aku."
Sang adik berjalan menuju pintu apartemen kecil yang sedikit kumuh itu, lalu mengambil jas kasmirnya dan berkata, "Lars, kau ini masih berumur 20 tahun, tidak terlambat bagimu untuk kembali lagi ke rumah."
"…Aku tahu," kata Lars dari dapur, mengaduk secangkir kopi hitam sambil menghisap batang rokoknya yang sudah pendek itu, "Tetapi aku memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri."
"Baiklah. Tetapi ingat, aku akan terus membantumu jika kamu butuh bantuan, oke?" katanya sebelum membuka pintu.
"Ya ya, Willem. Hati-hati di jalan. Jangan sampai sakit, bocah kecil. Ini adalah hari besarmu."
"Aku tahu," angguk laki-laki berekspresi lembut itu. Willem melambaikan tangannya dan pintu kayu yang menimbulkan suara yang menyirit telinga itu mengingatkan Lars tiga hari kemudian…
Bahwa adik satu-satunya itu telah hilang dari dunianya—meninggal dalam kecelakaan mobil yang juga mengakibatkan dua nyawa selain dirinya melayang.
Satu nyawa lagi yang berarti untuk Lars telah menghilang.
…
Sehari setelah kejadian pesawat jatuh itu, laki-laki yang ditolong oleh seorang gadis muda itu akhirnya membuka matanya. Sinar terik mentari yang datang dari jendela kayu tempat laki-laki itu berbaring membuat matanya sedikit kesialuan. Sekujur tubuhnya ditutupi oleh selimut tipis terbuat dari kain, dan dengan tidak direncanakan, laki-laki bermata zamrud hijau itu mengeluh kesakitan ketika ia menggerakkan tangan kirinya. Sesaat ia melihat, tangannya itu ditutupi oleh balutan kain dan daun-daun hijau.
Keluhannya itu didengar oleh gadis bernama Nesia itu, lalu ia berjalan sambil membawa segelas air putih ke kamar dimana laki-laki barat itu berbaring dan dengan tidak sengaja, ia mendengar kata-kata serapah yang diucapkan laki-laki itu dalam bahasa Belanda.
"Kasar sekali kata-katamu itu …" kata perempuan itu pelan, seperti mengerti sekali mengenai kata-kata asing itu, "Ah, sebaiknya kau tidak menggerakkan tangan kirimu itu, banyak sekali serpihan-serpihan—"
"Siapa kamu?" katanya dalam bahasa Indonesia berlogat kebarat-baratan, "Dimana ini?"
"Kamu bisa berbahasa Indonesia? Dan namamu?"
Dia tidak menjawab, melainkan memberikan lirikan mata yang sangat menakutkan bagi sebagian orang. Tetapi tidak untuk Nesia, sayangnya.
Nesia dengan terpaksa menghela nafas dan menjawab pertanyaan laki-laki itu. Nampaknya ia mengetahui apa arti di balik tatapan dari lelaki asing itu, "Baiklah … Namaku Nesia. Kamu ada di rumahku, tentu saja."
"Lars," jawabnya sambil menoleh kearah jendela yang penuh dengan tumbuhan hijau, "Bagaimana aku bisa ada di sini?" tanyanya lagi dalam bahasa Indonesia. Untuk seukuran orang barat macam dia, itu tergolong cukup lancar. Lalu ia merogoh pakaiannya, dan melihat di sekelilingnya, "Dan dimana syalku?"
"Syalmu sedang kukeringkan diluar," kata Nesia setelah meletakkan air putih di atas meja kayu di sebelah tempat tidur Lars, "Aku menyelamatkanmu kemarin dan …" raut wajahnya kalut dan terlihat simpatis.
"Dan…?" pertanyaan yang diajukan lelaki itu dinyatakan dalam nada yang rendah. Membuat Nesia sedikit merinding dan melihat serius kearah mata zamrud hijau itu.
"Semuanya tidak ada yang selamat selain kau."
Jantung Lars berdetak semakin cepat. Perasaan yang tidak enak menusuk hatinya. Mata laki-laki itu tidak nampak kaget, tetapi dari sinarnya, Nesia tahu bahwa sesuatu yang tidak mengenakkan telah membuatnya seperti itu.
"Kenapa …"
Nesia tidak bisa mendengar kata-kata laki-laki itu, karena ia latunkan dengan sangat pelan.
"Gott—Kenapa kamu harus menyelamatkan aku? Seharusnya kamu biarkan aku mati tenggelam saja!" ekspresinya antara lain marah dan kesal. Tetapi entah mengapa, Nesia dapat merasakan bahwa Lars tidak marah pada dirinya—melainkan pada dirinya sendiri. Kedua tangannya mengepal dan Nesia tidak tersenyum lagi, ia benci ekspresi seperti itu. Dia benci stress dan frustrasi.
Nesia mengambil cangkir berisi air putih yang dingin itu dan ia melemparkan semua isinya ke muka Lars. Sekejap, laki-laki itu mengelak dan rambutnya menjadi lebih berantakan. Emosi kemarahannya tertuju pada Nesia sekarang. Tatapan dari kedua mata mereka sama-sama ingin mengatakan apa-yang-kau-lakukan-bodoh. Lalu, Lars mengatakan, "Apa yang kau lakukan?"
"Menuangkan air putih untuk menenangkanmu? Kau tidak buta kan?" jawab Nesia sinis.
Sebelum Lars berkata-kata lebih lanjut, Nesia langsung berkata, "Oke, aku tahu apa yang akan kau katakan berikutnya. Tetapi ada satu hal yang ingin aku katakan kepadamu."
"Pikirkan ulang. Kamu terlalu marah. Dinginkan kepalamu dulu. Kamu terlihat seperti mayat tanpa mata hijau-mu itu, Lars."
Setelah ia berkata seperti itu, perempuan berbaju hijau tua itu berjalan keluar dari kamar berukuran kecil itu. Dilihatnyalah laki-laki pirang itu dan menutup pintu. Lars, sedangkan, hanya bisa menghela nafas dan berusaha untuk menggapai ritme nya kembali. Tetapi hal yang ia takuti datang.
'Wah, kau belum mati, Lars?'
Mimpi buruknya telah kembali.
Footnote: Sebelum berkata-kata lebih lanjut-Terima kasih ya atas review-reviewnya. Akhirnya jadi juga chapter keduanya. Mudah-mudahan tidak terlalu abal dan bisa nyambung ke chapter ketiga nanti. Makasih atas semua review-nya, terutama saran mengenai bahasa asing di chapter pertama, itu membantu banget! Seterusnya, penulisannya akan diterapkan seperti yang sudah ditulis di chapter kedua.
Gimana menurut kalian? Apa yang bakal terjadi sama Lars dan Nesia? Apa Nesia bakal tsun-tsun? Ditunggu ya review-review-nya~
