Title: Kehidupan Kedua

Chapter: 02/?

Disclaimer: Pemilik tulen Hetalia itu hanya Himaruya Hidekaz selalu. Saya hanya numpang beberapa minor OC dan Nesia (Yang dianggap sebagai Fem!Indonesia di sini).

Notes: asdfghjkklasdfgjl saya sudah menunda fanfiction ini selama berapa lama oh Tuhan. Maaf pembaca-pembaca sekalian, saya emang paling suka telat update (alasannya: oke-oke, salah satu alasan utamanya adalah karena ulangan yang tiap hari ada aduh) Ini aja baru bikin 2 hari yang lalu dan baru jadi hari ini.. /author dilempar botol/ Tapi mudah-mudahan update-an ini sedikit memuaskan kalian semua. ;A;

Satu lagi: meskipun saya ada yang tidak membalas review-an anda sekalian, saya bener-bener pengen bales via PM, cuman … Sumpah, saya dikejar waktu! ;A; /peluk readers/ Tetapi saya berusaha mereply review-review anda semua di footnote! o/

Oke … Komentar-komentar tak pentingnya selesai sudah. Have a good RnR!


{ TOP SECRET. THIS DOCUMENT WAS PRINTED IN 2004.

[Tanggal kelahiran: 29/04/1985]

Nama: Lars van Anderson.
Umur: 19

Seorang laki-laki berpostur gagah dan nampak arogan yang berasal dari negeri dataran rendah, the Netherlands. Memiliki ibu kandung yang meninggal di tahun 1991 dan seorang ayah yang memberikannya seorang adik dengan istri barunya. Tinggal bersama ayahnya sampai dengan tahun 2004. Menyewa sebuah flat yang cukup murah di dekat tempat kerjanya untuk keluar dari rumah ayahnya.

Pelit dan sedikit murah hati adalah dua kata sifatnya. Lars si pengacau. Lars, si muka dua. Begitulah ia dipanggil. Alasan mengapa ia dipanggil si muka dua, masih dipertanyakan dan tidak ada jawaban yang dinilai memuaskan.

(Catatan tersendiri: Bajingan ini—laki-laki ini adalah contoh manusia yang kebanyakan orang tidak suka, tetapi sulit untuk membuktikkan bahwa ia adalah seorang yang tidak memiliki otak yang brilian. Kelemahan: uang, rokok, dan kumpulan ganja.)

[Tanggal kelahiran: 28/05/1987]

Nama: Willem van Anderson.
Umur: 17

Will adalah panggilan akrabnya. Seorang laki-laki dari keluarga besar Anderson yang tidak kalah tampan seperti kakak laki-lakinya (Catatan: Sumber dari orang-orang di sekitarnya). Berpostur tinggi (Meskipun tidak lebih tinggi daripada kakak angkatnya), dan berwatakkan seperti seorang laki-laki manis bak madu. (Lagi: Sumber dari orang-orang di sekitarnya).

Willem adalah seorang yang murah senyum, kutipan teman-temannya. Berbeda 180 derajat besarnya dibandingkan dengan kakaknya. Meskipun begitu, Lars van Anderson, terbukti memiliki prestasi yang terkenal sedikit lebih hebat. Baik dari segi akademis maupun olahraga. Meskipun Willem jauh lebih terkenal lagi sebagai seorang yang mampu berteman dengan siapa saja.

(Catatan tersendiri: No comment. Kelemahan: Laura Bowell)

END OF THE UNOFFICIAL REPORT.
WRITTEN BY: VARGAS. }


Chapter 02.

Kehidupan Kedua.

.:: Mimpi Seorang Gadis Desa ::.


Perlahan tetapi pasti, seorang perempuan berambut hitam menawan berbusana baju katun berkerah dan kain berpola-kan batik terbelit dengan sempurna yang menjadi pengganti roknya itu berjalan menuju kamar pribadi miliknya yang bertempat sebelah bekas kamar almarhum ibunya. Kamar ibunya itu … telah ia pakai untuk seorang laki-laki dari antah berantah yang sedang dengan marahnya berbaring lemah. Nesia tertegun, sesaat, ia melupakan waktu.

"Menyebalkan. Mengapa sebagian besar laki-laki harus seegois itu hah?" katanya dengan pelan ketika ia menyandarkan tubuh mungilnya di tempat tidur penuh buku-buku tebal yang sedikit berdebu dengan rasa kesal yang mendalam.

"Ga pak kepala desa, engga dia. Semuanya sama aja! Maunya apa sih?" bisiknya pelan dan memegang pipinya.

Ia pikirkan lagi laki-laki yang telah ia selamatkan malam itu. Rasa penasarannya mengambil sedikit dari waktu berharganya. Ia mulai membayangkan laki-laki itu di benaknya.

Lars. Seorang laki-laki kebarat-baratan dengan luka di sebelah kanan dahinya. Dari cara berbicaranya, ia adalah seorang Belanda tulen. Memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang sudah tergolong cukup bagus untuk orang sepertinya.

Nesia mendapatkan suatu kesimpulan sementara: Lars, antara seorang pengelana yang kerap kali ke Indonesia atau …Dari bajunya yang elegan dan scarf yang sangat halus itu, kesimpulan yang satu lagi lebih menonjol. Ia adalah …

Seorang pengusaha luar negeri.

Sesaat ia selesai menganalisa laki-laki itu, ia mengambil salah satu bukunya di tempat tidurnya, dan tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia teringat sesuatu hal yang sangat penting.

Ketika ia menyadari hal itu, ia bergegas membangunkan tubuhnya dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan menggebrak keras pintu kayu dari dalam kamarnya, batinnya berteriak, Sial, aku kan harus melaporkan si bule itu ke kepala desa. Aduh, bikin ribet aja! Tetapi … Kalau dia dilaporkan ke Pak Arief …

Nesia keluar untuk mempersiapkan dirinya, mengambil keranjang untuk menampung bahan-bahan makanan yang akan ia beli di desa dan seketika, ia mendengar suara laki-laki itu lagi dari dalam kamarnya (untuk sementara, pikir Nesia) dan sesaat, ia berpikir laki-laki bernama Lars itu sudah menjadi gila.

Tidak percaya akan pendengarannya itu, Nesia mendekatkan telinganya sedikit demi sedikit—menempelkan telinga kanannya di permukaan pintu kayu yang cukup kasar itu. Lalu ia mendengar dan mendengar apa yang Lars katakan di dalam.

"Stop—stop, kamu—"

Apa?

"Bajingan! Jangan—kamu—stop!"

Apakah si Lars bercakap-cakap dengan dirinya sendiri? Tidak, tidak. Nesia sudah tahu bagaimana ia berbicara dengan dirinya sendiri. Saat ini, omongan laki-laki itu berbeda dengan apa yang ia dengar sebelumnya. Di tiap perkataannya terdapat kata 'kamu' dan 'bajingan' di bahasa Belanda yang Nesia kenali sebelumnya.

Dia berbicara dengan siapa?

Ia mengetuk pintu kayu itu dan beranjak masuk. Dan untuk sementara, dunia menjadi lebih dingin dan sunyi daripada biasanya.

Nesia berdeham untuk memecahkan kehinangan yang nampaknya tidak akan berhenti itu, "Aku harus pergi melihat kepala desaku dulu," katanya dengan bahasa Indonesia yang pelan.

Lars dengan mata zamrud kehijauannya itu melirik kearah Nesia dengan rasa yang tidak tertarik. Seakan-akan Nesia merupakan suatu hambatan untuk dirinya saat ini. Meskipun ia tidak tahu mengapa.

"Kamu mengerti maksudku?" tanya Nesia dengan bertolak pinggang. Sungguh demi apapun yang hidup, ia sangat tidak menyukai tipe laki-laki seperti ini. Mana respeknya, hai tuan-yang-sudah-kuselamatkan?

Lars dengan kantung matanya yang terlihat jelas di muka porselennya itu mengangguk dengan malas dan berkata pada akhirnya juga, "Y-ya ya, aku tahu apa maksudmu," dengan bahasa Indonesia yang terlihat agak terbatah-batah.

"Oke kalau begitu. Ada segelas air untuk kau minum di atas meja makanku. Aku akan kembali sekitar err … Oh, 3 jam lagi, atau lebih."

Nesia melirik ke arahnya, dan sang laki-laki asing itu hanya bisa menghela nafas dan tiba-tiba ia berkata, "Apa yang akan kau lakukan di sana?"

Aku juga masih berpikir. Apa aku harus melaporkanmu atau tidak?

"Kewajiban mingguan. Karena, err.. rumahku jauh sekali dari desa. Jadi aku harus tiap kali datang ke sana untuk membeli kebutuhan sehari-hari," katanya dengan gestur tubuh yang plin-plan, sambil menggaruk kepalanya. Sang perempuan tersenyum cerah, berusaha menunjukkan kepada laki-laki asing itu bahwa ia tidak sedang memikirkan sesuatu. Tetapi aneh bin ajaib adalah Lars, dengan santainya berkata, "Bohong. Matamu tidak berkata seperti itu, tahu?"

Untuk pertama kalinya, Nesia melihat Lars berganti ekspresi. Perempuan itu tersenyum lega tanpa tahu mengapa. Paling tidak, laki-laki yang ia anggap seperti mayat hidup sebelumnya—bisa berekspresi juga.

Meskipun ekspresi itu adalah menggerakkan sebelah kanan bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah kekehan yang menurut Nesia, menyebalkan.

"Ah, sudahlah," kata Nesia sambil berjalan keluar kamarnya.

"Oh, aku tidak tahu kalau perempuan Indonesia bisa sejudes kamu," hela laki-laki itu dan Nesia mendengar terusan dari kata-katanya yang agak terbatah-batah itu, "Bukannya … Indonesia itu terkenal akan keramah-tamahannya ya? Aku tidak menyangka."

"Kalau begitu, Lars—aku bukanlah orang Indonesia yang patut di contohi. Maaf-maaf saja," Nesia tersenyum sinis.

Setelah menjawab pertanyaan Lars (yang sepertinya hanya sindiran untuk Nesia) dengan nada yang kesal, Nesia berbalik badan dan meninggalkan laki-laki itu dengan pipi yang disengajakan menggembung dan Lars mendengar suara bantingan pintu.

Lars, kembali dalam kesendiriannya.

Tidak. Tidak.

Suara itu menghampirinya lagi. Mengapa? Ia pikir, dengan menghabiskan waktu bersama perempuan itu sebentar—Ia dapat menghilangkan suara yang menghantuinya—ya, suara itu.

"Hey hey, Lars! Kok perempuan itu mirip sekali dengan Willem ya?"

Nesia Raya. Seorang perempuan berbadan mungil, tinggal di sebuah rumah tua jauh dari desa karena suatu sebab. Dan karena itulah ia tinggal sendiri selama 8 tahun lamanya. Nesia, soerang gadis desa yang bermimpi untuk mendapatkan kesempatan hidup yang kedua, yang ingin pergi keluar dari pulau ini—dan mencari dia.

Sang pemuda Australia.

Laki-laki yang ceria, dengan senyuman yang merekah—dan juga baik hati.

Tidak, tidak.

Nesia berjalan. Berjalan dan berjalan, melupakan apa yang ia pikirkan sebelumnya. Ia lalu melirik puluhan ribu semak-semak yang ada di sekitarnya. Pepohonan besar di sekelilingnya seperti menimang dirinya—merangkul dirinya, di dalam kesunyian hutan. Di sinilah tempat dimana ia tinggal dan dibesarkan.

Nesia berjalan lagi. Berjalan. Sudah berapa lama ia berjalan? Ah ya. Sudah sekitar setengah jam ia berjalan dari rumahnya yang terpencil itu ke desa. Perempuan yang rambutnya hitam memikat, terjatuh sempurna di pundaknya yang mungil itu, menghela nafas sekali lagi. Menghela nafas sudah menjadi aktivitas, dan kecenderungan yang saat ini, sudah menjadi ketergantungannya.

Tidak jauh lagi.

Ya, tidak jauh lagi. Ia melihat pagar-pagar yang terbuat dari bambu, dan juga suara ramai penduduk desa yang sedang bercakap-cakap ria. Suasana santai nan ramai, sesuai dengan apa yang Nesia bayangkan. Tetapi, ada sesuatu yang sedikit berbeda.

Ketika Nesia mencapai perbatasan desa itu, banyak sekali penduduk desa berkumpul di tengah-tengah pusat desa yang terletak di depan rumah sang kepala desa, Pak Arief. Nesia bergegas berjalan menuju kumpulan penduduk desa itu dan mendesak masuk kumpulan orang itu dengan paksa.

Nesia terkejut melihat beberapa figur yang dinilai asing baginya. Perempuan itu secara tidak sadar telah membesarkan kedua matanya yang bulat indah itu dan akhirnya ia menyadari apa yang telah terjadi di sini.

"Oh, akhirnya kamu datang juga, neng!"

Seorang perempuan tua yang sedang menggendong anaknya menghampiri Nesia dan perempuan itu memiliki ekspresi yang membingungkan.

"Siapa mereka, bu?" tanya Nesia.

"Mereka bilang kalau mereka itu wartawan. Mereka tanya tentang pesawat jatuh, neng," katanya dengan sedikit khawatir yang timbul di mukanya.

Ya, pasti ini berkaitan dengan Lars dan terjatuhnya pesawat itu.

"Mereka tanya apa kita-kita pada dengar-dengar tentang pesawat jatuh di dekat pulau kita. Tapi emang iya sih. Kita benar-benar denger hal yang aneh malam kemarin. Kayak … Suara ombak yang terlalu keras. Kita masih belum yakin sih.."

"Oh … Begitu …" bisik Nesia pelan dengan kepala tertunduk ke bawah.

"Iya tuh. Si bapak sampai marah-marah loh. Yah, kamu tahu deh… Bapak kan paling benci sama orang-orang yang bukan dari sini.."

Ya, karena …

Nesia menggeleng sejenak. Meninggalkan pikirannya untuk sesaat, dan kembali, ia harus melanjutkan apa yang harus ia lakukan di desa itu. Saat itu juga, pikiran Nesia untuk melaporkan Lars kepada Pak Arief, sang kepala desa—stop. Ia berpikir, ini bukanlah saat yang tepat. Toh, si Lars juga …

Tunggu.

Apakah ini keputusan yang benar?

"Bu, apa berasnya masih ada?"

"Oh, masih ada neng! Ayo ayo, ke sini! Si tukang ikan juga masih ada tuh!" sahut ibu itu dengan gembira. Nesia mengangguk pelan dan tersenyum sebagai balasannya. Nesia sedikit senang, karena ibu itu masih berbaik hati padanya.

Saat seluruh warga mengecam dan mengasingkan dia dan ibunya bertahun-tahun—dan itu pun belum berhenti sekarang. Yah … Paling tidak, akses untuk membeli makan masih bisa didapatkan Nesia. Uang untuk membeli sembako dan segala macamnya ia pakai dari uang tabungan ibunya hanya untuk sekedar mendapatkan beberapa takaran beras.

Sudah saatnya dia mencari pekerjaan tetap, uang yang ada di tabungan ibunya itu pasti akan habis tahun depan. Dan belakangan ini, suplai sembako dan bahan-bahan lain sudah sangat mahal. Beras tidak didapat di bagian pulau sini, karena tidak ada tanah yang cukup lembab dan tinggi untuk dijadikan sawah. Pulau ini menjual kayu dan memelihara peternakan.

Cukup untuk penghasilan desa pada umumnya.

"Wah, bude … Kalau ikan engga deh… Aku cuman mau beli beras ibu aja," kata Nesia sambil melirik ibu itu menakar beras dan menuangkannya ke dalam plastik hitam yang ia pegang di tangan kiri. Ibu itu tersenyum dan Nesia memberikan sejumlah uang.

Setelah Nesia memberi salam kepada ibu itu, ia berjalan pulang dari desa itu dengan cepat. Tatapan tidak senang tertuju tajam padanya. Baik dari orang-orang tua, maupun orang-orang yang tidak lebih tua daripadanya. Semuanya melakukan hal yang sama.

Tanpa melirik anak-anak kecil yang dengan senangnya bermain kelereng di atas tanah yang hijau, tanpa melirik anak-anak muda yang bercakap-cakap ria di depan sekolah—ya, tidak. Nesia berjalan pulang tanpa melirik dan melihat kearah belakang. Dan di sana Nesia tahu, bahwa ia adalah seorang gadis berumur 17 tahun yang berbeda.

Tidak mempunyai ibu untuk dipeluk. Tidak mempunyai ayah untuk dilihat. Semua orang membencinya tanpa alasan yang jelas. Tidak bisa bersekolah karena krisis uang, tidak mendapat dana BOS yang katanya dapat membantu dalam mendapatkan pelajaran yang seharusnya. Dan yang terlebih parahnya lagi: kehilangan seorang laki-laki yang harus ia bayar budinya.

Nesia Raya pulang dengan beban pikiran yang selalu menghantuinya tiap hari. Ia ingin sekali keluar dari tempat ini. Ingin sekali.

Tetapi bagaimana?

Bagaimana ia bisa mendapatkan kehidupan kedua?

Bagaimana?

...


Tenang saja kok! Tiap chapter, paling tidak, misteri di antara Lars, Nessie dan keseluruhan plot ini bakal terungkap. Mudah-mudahan dapat dikemas dengan serapih, dan dalam tempo yang sesuai ya! Ahaha /ngarep

Oke. Sampai di sini dulu, readers semua! Nantikan chapter ketiga ya~

Oh ya. Review please! Terima kasih!

Replies (Terima kasih atas reviewnya!)

To Sindy Beilschmidt: Sip deh! Disclaimernya mulai dari prolog-chapter 2 lengkap! Terima kasih atas koreksiannya! Mengenai Lars punya kepribadian ganda—sebetulnya masih mau ditentukan. Antara cuman trauma biasa atau mau dipake ide yang atas aja. Tapi nampaknya sih … iya dia punya kepribadian ganda.

To Deiharu dianita & miss-morningdew:Terima kasih ya! ^^ wah, kalau Nesia mau dibikin tsun … Mungkin bukan tipe saya. Ada unsur tsun-tsunnya, tetapi yang pasti, saya bakal bikin Nesia ga terlalu berlebihan tsun-tsunnya. Terima kasih!

To : Uwah, typo-nya ternyata banyak banget. Terima kasih banget buat koreksinya. Bakal saya edit lagi nanti eheh! Mudah-mudahan di chapter selanjutnya, penggambaran suasana di fanfiction ini bisa lebih kerasa ya. Terima kasih!

To bluebell: Ini dia lanjutannya! ^^ menurut saya juga begitu. Saya masih kurang bisa membayangkan kenapa Nesia bisa tsun-tsun (sedikit boleh, tetapi terlalu berlebihan rasanya kurang pas), karena di sejarah hubungan Indonesia—saya bilang malah Nesia itu easy-going, ga begitu tsun-tsun. Tetapi okelah! Kalau Netherlands, saya mau tetap sama dasar sifat Himaruya yang udah di deskripsiin di webcomic-nya & zerochan. (Yang mengenai Netherlands & Belgium) Agak cool cuman kadang fail aja di mata orang hahaaha /ditampar Netherlands/ Haha, bisa jadi kok! :3 tinggal dilihat di chapter berikutnya aja ya! /dilempar botol/ Yay! Saya bakal terus dukung NethFem!Nesia eheh!