Hai, ini Rei kembali membawa chapter kedua dari 4G. Tapi sebelum itu, kalian udah pada baca belum karya tulis Rei yang judulnya Big Mistake? Rei cuma ingin tau, apakah sudah sesuai dengan tujuan fict tersebut yang angst.

Kalau sempat baca juga ya? Judulnya Big Mistake, main chara Ino-Naruto-Hinata.

Buat yang sudah ngasih review, Rei ucapkan banyak terima kasih dan maaf karna gak sempat balas satu-satu. Gomen ne.

Untuk semuanya,

"MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN"

-4G-

-Chapter 2-

-Begin-

Hari-hari sibuk perkuliahan pun dimulai. Seperti hari ini, ratusan orang hilir mudik di pelataran gedung utama. Terlihat seseorang yang tergesa-gesa menuju ruang loker dengan sejumlah buku dipelukannya. Orang-orang buru-buru memberi jalan padanya begitu mengetahui orang itu adalah salah satu dari anggota geng 4G. Bisa punya urusan panjang kalau sampai menghalangi jalan gadis itu.

Orang itu adalah Ino Yamanaka.

Naruto menatap bingung pada gadis pirang itu. Jadi ia salah satu anggota 4G, pikirnya. Ia menatap jalur lintasan gadis itu dan ia dapat melihat dengan jelas Hinata, yang berjalan dengan tertunduk tidak melihat kedatangan Ino yang juga kelihatannya tidak sadar kalau ia akan menabrak.

Baru saja ia akan berteriak memperingatkan Hinata, tabrakan itu terjadi. Hinata dan Ino sama-sama jatuh terduduk, sedangkan buku-buku mereka berhamburan di lantai.

"Kalau jalan lihat-lihat dong," bentak Ino pada Hinata yang buru-buru memunguti buku yang berserakan. "Kamu buta ya?" ejeknya.

"Ma-Maaf," suara Hinata terdengar bergetar. Mungkin ia sedang menahan tangisnya.

"Ternyata kamu memang buta ya?" ejek Ino lagi.

"Hei, tidak usah sekasar itu kan?" sahut Naruto yang tiba disana. "Ia kan sudah minta maaf. Lagipula semua ini bukan hanya kesalahannya."

"Kau siapa?" tanyanya sambil menatap Naruto, bingung dan jengkel.

"Kita sekelas dan kau tidak mengenaliku? Namamu Ino Yamanaka kan, anak dari pemilik toko bunga terbesar di Tokyo?" tanyanya balik, balas menatap Ino bingung.

"Tidak penting mengenal orang yang sekelas. Buat apa? Hanya buang-buang waktuku saja," katanya dengan nada merendahkan.

Dahi Naruto berkerut tanda ia semakin bingung. Hinata yang selesai memunguti semua buku menyerahkan buku milik Ino. Gadis itu mengambil buku miliknya dengan cukup kasar dan berlalu begitu saja.

"Hei, setidaknya ucapkan terima kasih," seru Naruto pada Ino yang semakin menjauh.

"Sudahlah Naruto-kun," pinta Hinata. Ia merapikan bukunya.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto khawatir. Hinata menggeleng cepat, tanda ia baik-baik saja.

"Kau mau ke kelas?" tanya pemuda itu, Hinata mengangguk.

"Kalau begitu bareng aja," ajaknya sambil menyamakan langkah dengan Hinata. Tanpa Naruto sadari, wajah Hinata memerah.

-di loker-

"Mengapa terlambat?" tanya Shion pada Ino yang baru saja tiba. Sakura dan Temari terlihat kesal karena harus menunggu lama.

"Maaf, tadi ada masalah sama si Hyuuga dan pemuda pirang yang ngaku sekelas sama kita," jawab Ino sambil membuka lokernya dan memasukkan buku yang ia bawa tadi.

"Pemuda pirang? Maksudmu anak gembel yang duduk dekat si Hyuuga?" tanya Sakura penasaran.

"Kau tau?" Ino balas tanya, menatap bingung pada Sakura.

"Sekilas. Kalau tidak salah namanya Naruto Uzumaki. Dia mungkin satu-satunya orang yang tidak takut pada geng kita di kelas," jelas Sakura jengkel. Naruto memang tidak terlalu peduli pada mereka berempat dan seringkali terlihat menantang. Apalagi kalau mereka dekat-dekat dengan Hinata.

"Kudengar ia tinggal di kost murahan dekat sini," tambah Temari dengan sedikit jijik.

"Apa yang kita harus lakukan pada mereka berdua?" tanya Ino dengan senyum jahil.

Sunyi sesaat hingga akhirnya Sakura bicara. "Aku punya ide."

-di kelas-

Hinata dan Naruto sudah duduk di kursi mereka seperti biasa saat Sakura dan teman-teman satu gengnya tersebut masuk. Suasana yang awalnya penuh dengan pembicaraan disana-sini mendadak sunyi, senyap. Seperti areal pekuburan di malam jum'at minus suara anjing dan jangkrik tentunya.

4 orang tersebut mendekati tempat duduk Hinata dan mengelilinginya. Naruto yang ada disamping Hinata langsung pasang telinga, kalau-kalau ada yang tidak beres. Sudah menjadi kebiasaan, kalau punya masalah dengan 4G, tentu itu bukan hal yang baik.

"Hei, kudengar kau tadi menabrak Ino yah?" tanya Sakura dengan suara amat sangat di manis-maniskan. 3 orang lainnya tersenyum, senyum mencurigakan. Naruto merasakan hal yang tidak baik akan terjadi.

"Buku apa itu Hinata?" tanya Ino pada Hinata yang masih memegang bukunya yang tadi ia baca." Sini aku lihat," rebut Shion dari tangan Hinata dengan kasar.

"I-Itu buku paket milikku. Kumohon Shion, Kembalikan," katanya sambil tangan mungilnya berusaha menggapai buku yang sekarang berada ditangan Temari. "Dosen Ibiki bisa menghukumku kalau sampai terjadi apa-apa pada buku itu. Temari, kumohon," pintanya lagi.

Mendengar hal itu, muncul ide di kepala Sakura. Dengan senyum licik, ia ambil buku tersebut dari tangan gadis berkuncir empat tersebut. Begitu buku milik Hinata berada ditangannya, masih dengan senyum liciknya, ia merobek buku tipis tersebut menjadi dua bagian.

Hinata menatap helaian buku miliknya yang berjatuhan ke lantai. Ia menggigit bibir bagian bawahnya, kebiasaannya menahan tangis. 'Sudah cukup kau menangis Hinata, Ini tidak apa-apa dibandingkan hal itu,' batinnya mencoba tegar. Benar, hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan peristiwa tragis yang telah merenggut seluruh keluarganya.

"Hey, apa-apaan kalian?" seru Naruto yang telah berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap marah pada empat gadis itu.

"Tidak apa-apa," kata Sakura santai, seakan ia tidak melakukan apa-apa. "memangnya ada yang salah?" tanyanya menantang.

"Tentu ada, kalian merobek buku orang lain. Itu salah!" bentaknya. Sesekali kau harus keras menghadapi orang-orang macam 4G. "Cepat minta maaf,

" perintahnya.

"TREEENG"

Bel tanda kelas dimulai berbunyi. Sakura mencibir pada pemuda pirang itu.

"Selamat menikmati hukuman dosen killer itu," ucap Ino dengan nada di panjang-panjangkan pada Hinata yang masih memunguti robekan-robekan buku miliknya di lantai. Empat gadis itu pun menduduki kursi mereka masing-masing sambil ber

tos-tosan.

"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir pada gadis berambut Indigo itu yang telah kembali duduk.

"Aku akan dihukum Naruto-kun," ia menatap sisa-sisa dari bukunya tersebut dengan wajah sedih.

Naruto berpikir sejenak sebelum akhirnya menyodorkan buku miliknya. Hinata menatap bingung, buku kemudian Naruto lalu buku lagi. Hinata menggeleng.

"Ayolah Hinata, terima ini," katanya dengan sedikit memaksa. Hinata tetap menggeleng.

"Nanti kau dihukum. Aku gak mau merepotkan orang lain," kata gadis itu, tetap menolak.

Dosen Ibiki telah masuk ke dalam kelas. Tentu ia akan menanyakan tentang buku paket seperti biasa. Bagi yang tidak membawa, siap-siaplah keluar dari ruangan ini. Siapa yang berani melawan, akan berurusan panjang. Itulah Ibiki Morino, yang mempunyai julukan the killer.

Sakura, Ino, Temari, dan Shion tersenyum senang memikirkan sang gadis Hyuuga yang sebentar lagi akan dikeluarkan. Sementara itu Hinata masih menolak tawaran Naruto untuk memakai buku paket miliknya.

"Siapa yang tidak membawa buku paket? Jangan sampai bapak yang memeriksa satu-satu dan menyeret orang yang tidak membawa buku paket keluar dari ruangan ini," ancam sang killer. Semua anak bergidik. Senyum para personel 4G semakin lebar.

Namun, sebelum sempat Hinata mengangkat tangan, Naruto lebih dulu melakukannya. Semua anak menatap kearahnya.

"Baiklah, silahkan keluar Uzumaki."

Naruto segera merapikan semua miliknya dan memasukkannya kedalam tas. Sambil berdiri ia menyerahkan buku itu pada Hinata tanpa sepengetahuan yang lain. Hinata menggeleng sedih, namun Naruto malah tersenyum.

"Tidak apa-apa Hinata," bisiknya agar yang lain tidak mendengar. "Lagipula sekali-kali aku ingin merasakan bagaimana rasanya bolos," katanya sambil nyengir dan ia pun berjalan menuju pintu.

Sakura cs tercengang menatap Naruto yang telah sampai di pintu. Mereka gagal menyingkirkan Hinata. 'Ada hubungan apa diantara mereka,' batin mereka bersamaan sambil bertukar pandang, bingung.

Sebelum menutup pintu, ia menatap kearah Hinata yang juga menatap kearahnya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis itu.

Sontak, perasaan geli memenuhi perasaan Hinata. Seakan-akan ada 2 ekor kupu-kupu menari didalam perutnya. Ia tersenyum melihat buku yang tergeletak di atas meja.

'Ternyata masih ada yang peduli padaku,' batinnya sambil tersenyum manis. Membuat Beberapa orang mimisan melihatnya. Tidak ada yang salah Hinata, kau memang sangat manis.

-Waktu istirahat-

I wanna go to a place where I can say

that I'm all right and I'm staying there with you

I wanna know if there could be anyway

that there's no fight and I'm safe & Sound with you

Suara khas Rie Fu terdengar dari hp milik pemuda pirang yang sedang duduk di pojok perpustakaan. Ia buru-buru merogoh saku celana dimana hp miliknya ia simpan.

From : Hinata

Aku ingin mengembalikan buku milikmu. Kau ada dimana?

Ia menekan tombol reply dan mulai mengetik balasannya.

To : Hinata

Aku di perpustakaan. ^^

Ia pun menekan tombol send.

Tak sampai sepuluh menit, gadis lavender itu muncul.

"Na...Naruto-kun," sapanya sambil terengah-engah. Mungkin ia berlari menuju ke tempat ini.

"Hey Hinata," balasnya. Hinata duduk disamping Naruto dan mulai membongkar tasnya. Ia mengeluarkan buku yang dipinjamkan oleh Naruto tadi.

"Ini," katanya seraya menyerahkan buku itu pada Naruto. "Makasih ya. Sampai merepotkanmu seperti itu."

"Merepotkan apanya? Apa sih yang gak buat gadis semanis kamu," godanya. Mendengar pujian setinggi itu, wajar saja wajah gadis pemalu itu memerah. Kalau saja ia punya sayap, mungkin ia sekarang sudah terbang.

"Aku terlalu gombal ya?" tanyanya. Hinata tersenyum padanya, manis banget. Lihat saja, sampai seorang Naruto saja blushing.

"Tidak, cuma lain kali hati-hati Naruto-kun. Bisa-bisa banyak yang pingsan mendengarnya. Very very very gombal," kekehnya geli.

"Ternyata seorang Hinata bisa juga ya bercanda?" ia ikut-ikutan terkekeh. "Masalah buku itu, simpan saja. Aku baru saja beli di koperasi tadi."

"Hah?" gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata lavendernya bingung.

"Ini untukmu Hinata," katanya seraya menyerahkan kembali buku itu. "Dan jangan menolak, mubazir aku punya 2 buku. Memangnya aku kutu buku sepertimu," tegasnya sambil bercanda karena melihat sikap Hinata yang akan menolak pemberiannya tersebut.

"Terima kasih Naruto-kun," katanya sambil refleks memeluk pemuda pirang itu. Tentu saja Naruto terkejut.

"Hi-Hinata?"

Hinata yang sadar ia sedang memeluk Naruto buru-buru menjauh. Wajahnya menjadi sangat merah. Untunglah keadaan perpustakaan yang remang-remang menyembunyikan rona wajahnya.

"Ma-Maaf," katanya dengan nada takut. Takut pemuda itu marah karena ia lancang telah memeluknya.

"Tidak usah takut, memangnya aku akan memakan orang yang memelukku? Lagipula itu wajar saja, karna kamu lagi senang."

'Lagipula aku pengen lagi,' batinnya senang. Hei, jangan buruk sangka dulu dong. Munafik namanya kalau gak senang dipeluk sama orang seperti Hinata. Bikin Ketagihan.

"Kau sudah ke kantin Hinata?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan. Hinata hanya menggelengkan kepala yang artinya ia belum ke kantin.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi kesana? Perutku lapar," ajak pemuda itu sambil berdiri dan menarik tangan Hinata. Terjadi lagi, blushing. "Tapi kamu yang traktir aku ya?"

"Eeh? Ma-Masa cewe yang traktir cowo?" tanyanya bingung. Dasar cowok gak modal.

"Becanda Hinata. Ayo, nanti ramennya habis," katanya cemas seraya mempercepat jalannya.

-Sementara itu-

Empat orang berdesakan di sela rak buku hanya demi mendengarkan pembicaraan dua orang itu. Siapa lagi kalau bukan geng 4G.

"Satu hal yang ingin kutanyakan padamu Jidat," kata Ino terdengar jengkel. "Apa yang membuat kita berdesakan di tempat kotor begini?"

"Ya Sakura, kuharap ada alasan yang cukup logis untuk kita berada disini. Tempat ini penuh debu," dukung Shion.

"Jangan lupa laba-laba dan kecoa," Temari menambahkan.

"Ulang lagi Temari?" pinta Sakura was-was.

"Laba-laba dan kecoa?" ulangnya. Dua nama binatang menjijikkan ini berputar-putar di kepala mereka. Hingga akhirnya,

"Kyaaa!" jerit mereka semua. Mereka pun berusaha keluar dari tempat sempit itu secepat mungkin. Saling tarik terjadi. Hingga akhirnya,

"braaak"

"traang"

"klontang"

"bruuk"

"meawww"

"guk guk"

baiklah, dua yang terakhir bukan berasal dari mereka. Itu suara kucing milik dosen Kurenai yang dikejar anjing milik dosen Kakashi.

Penjaga perpustakaan dan Para pengunjung menengok kearah mereka, namun melihat kalau mereka adalah geng 4G, mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Seakan tidak terjadi apa-apa.

Mereka terjatuh, tumpang tindih dengan Sakura yang berada paling bawah.

"Cepat bangun, berat nih," protesnya.

"Sulit nih, wajahku ditindih dada Shion. Sesak napas," protes Ino yang ada diatas Sakura dan dibawah Shion.

Temari yang berada paling atas tersenyum jahil. "Enak kan Ino?" tanyanya dengan nada innocent.

"Aku normal tau! Cepat berdiri Temari!" teriak Ino yang mulai kehabisan kesabaran dan tentu saja, napas.

"Baiklah," katanya dengan malas.

-setelah semua orang berdiri-

"Jadi Sakura, kuharap kau punya alasan yang pantas untuk kita yang telah mengalami kejadian yang hampir saja merenggut nyawaku ini," omelnya pada Sakura yang sibuk membersihkan pakaiannya dari debu disana-sini.

"Kau lebay Ino," tanggap Shion.

"Kau juga Shion," kini ia mengomel pada gadis berambut panjang pirang yang lebih pucat dari miliknya. "Dadamu terlalu besar, hampir saja aku mati kehabisan napas," protesnya sambil menunjuk bagian dada Shion.

"Hey, Ini takdir," protesnya balik.

"Sudah cukup kalian berdua, bersikaplah seperti orang dewasa. Ingat umur kalian," kata Temari menengahi. "Sekarang Sakura, jawab pertanyaan kami. Apa alasan kita mengintai mereka berdua?"

"Hanya untuk mengetahui hubungan mereka berdua," jawabnya singkat, padat, dan jelas.

"Cuma itu?" tanya mereka bertiga memastikan.

"yap," jawab Sakura.

"plak"

"plak"

"plak"

"Hei, mengapa kalian memukul kepalaku, sakit tau," sungutnya sambil manyun.

"Kau menyuruh kami berdesak-desakan disana," tunjuk Shion pada tempat mereka mengintip tadi.

"Sampai kami terjatuh dan aku hampir mati kehabisan napas terjepit 'gunung' raksasa," Ino lagi-lagi menunjuk dada besar Shion.

"Hanya karena kau penasaran dengan hubungan mereka?" tanya Temari memastikan.

Sakura mengangguk pelan, takut kalau ia salah bicara lagi dan di hajar para preman berambut kuning ini. Ia tidak mau surat kabar Tokyo mempunyai headline seperti ini, "Ditemukan Mayat Dengan Tubuh Terpotong-Potong di Perpustakaan". Ngeri ia membayangkannya.

"Ayolah Sakura, mau mereka pacaran, menikah, atau apalah, terserah mereka. Apa urusanmu? Kecuali..." Ino tak melanjutkan perkataannya, malah senyum paling jahil yang terlukis di bibirnya sekarang.

"Kecuali apa?" tanya Shion dan Temari penasaran. Sakura menunggu.

"Kecuali Sakura tertarik pada Naruto, hahaha," Ino tertawa diiringi oleh Temari dan Shion yang ikut tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Sakura berubah masam.

"Mana mungkin aku tertarik pada yang begituan, dia kalah keren dengan Sasuke," bantahnya, membandingkan Naruto dengan Sasuke, cowok pujaannya. "Atau malah kalian yang tertarik padanya?" tanyanya balik.

Mereka bertiga sontak berhenti tertawa dan kini terlihat sedang berpikir.

"Yah, dia cute," kata Ino. "Wajahnya eksotik."

"Tinggi," kata Shion yang memang menyukai cowok berbadan tinggi.

"Dan ia baik," tambah Temari.

Sakura menatap ketiga sahabatnya tersebut dengan tatapan tidak percaya. "Masa kalian benar-benar tertarik dengannya?"

"Tentu... TIDAK!" jawab mereka berbarengan.

Oh, kalian tidak tahu 4G. Tidak tahu kejutan apa yang kalian dapat ketika mengenal seorang Naruto lebih dalam.

-T B C-

masih Naruhina? Hahaha, masiiiih banyak komplik di chapter-chapter depan.

Apa karakter Hinata terlalu lemah disini? Ayolah, ia baru saja kehilangan keluarganya. Wajar kan kalau ia sedang down. Tapi dengan sedikit bantuan Naruto ia akan kembali ceria. Tunggu aja.

Bukan maksud menjelek-jelekkan para karakter mereka berempat (4G), ini cuma awal. Rei jamin kedepannya mereka akan berubah. Tapi gak janji mereka berubah menjadi Sailormoon... ^^

any idea for next chapter? REVIEW. . . .