Karena tak ingin mengecewakan, Rei berusaha mengupdate chapter ini lebih cepat dari sebelumnya. Semoga memuaskan. . . ^^

-4G-

-Chapter 3-

-Begin-

Suara burung-burung yang terbang dan hinggap di pohon-pohon sakura yang tumbuh di sepanjang jalan menemani perjalanannya. Sinar matahari yang sudah muncul separo menyebabkan ia sesekali harus meletakkan telapak tangan di dahinya, seperti orang yang sedang hormat. Ia mengayuh sepeda itu dengan santai, tak ingin buru-buru karena ingin menikmati udara pagi yang menyegarkan.

Orang-orang yang beraktifitas dengan pekerjaannya masing-masing mulai memenuhi trotoar. Toko-toko pun mulai di buka oleh pemiliknya. Rutinitas yang biasa terjadi di kota besar tokyo.

"Hari ini sejarah dengan dosen yang paling membosankan," gerutunya, menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang mendengarnya berbicara sendirian. "yah, walaupun harus kuakui, dosen itu cukup cantik," tambahnya sambil membayangkan wajah dosen bernama Kurenai.

Lamunannya terpaksa berhenti saat suara lembut itu memanggil namanya. "Naruto-kun," sapa suara itu. Naruto buru-buru berhenti saat ia sadar yang memanggilnya adalah Hinata. Dilihatnya gadis itu sedang kesulitan karena sepeda biru miliknya kempes pada ban depan.

Bibirnya tertarik membentuk senyum. "Butuh tumpangan Hinata?" tawarnya, mengerti dengan apa maksud Hinata memanggilnya.

Hinata mengangguk. "Kalau kau tidak keberatan."

"Mungkin berat, kau kan gendut," ejeknya, yang tentu saja bercanda. Tubuh Hinata termasuk mungil dan ramping. Tipe yang membuat seseorang ingin memeluknya karena gemes.

Gadis itu menekuk wajahnya dan menggembungkan pipinya, tanda ia sedang kesal. Ia pun kembali menyeret sepedanya tanpa peduli pada Naruto yang memanggil namanya beberapa kali.

"Hinata, tunggu," pintanya seraya mengejar Hinata. "Ayolah, aku hanya bercanda. Jangan katakan kau merajuk," bujuknya.

Hinata menatap Naruto dengan sebal. "Aku bukan merajuk, aku marah," ucapnya dengan tegas, tanda ia tak main-main.

"Oke, aku minta maaf karena menyebutmu gendut. Jadi sekarang lebih baik titipkan sepedamu dan ikut denganku," bujuk pemuda itu, berusaha menyamakan langkah dengan Hinata yang semakin cepat menyeret sepedanya. "Kampus masih jauh, kau bisa terlambat kalau jalan seperti ini."

Hinata berpikir sejenak, 'Mengapa aku ini? Diejek seperti itu marah. Apa karena yang mengejekku itu Naruto?' tanyanya pada dirinya sendiri, setengah menyesal. 'Padahal ia sudah berbaik hati menawarkan bantuan, aku malah bersikap seperti ini.'

Hinata menghela napas, "Baiklah Naruto-kun, aku ikut denganmu." ia pun menitipkan sepedanya pada salah satu bengkel yang ada di dekat situ.

"Tapi aku tidak gendut kan Naruto-kun?" tanyanya was-was saat ia naik ke sadel sepeda pemuda itu. Ia duduk menyamping. Hinata paling tidak ingin bertubuh gendut. Ia sudah mungil, bagaimana kalau ia berbadan gendut? Pendek dan gendut memang terdengar mengerikan bagi seorang perempuan.

Naruto tersenyum padanya. "Aku tadi hanya bercanda Hinata," ia terkekeh. "Kau terlalu cepat percaya."

Hinata memasang tampang bersalah. "Ma-Maafkan aku," ucapnya sambil tertunduk.

"Untuk apa?"

"Karena sudah marah kepadamu."

Naruto tertawa. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku memang keterlaluan kok," katanya sambil tetap fokus pada jalanan yang semakin ramai. Ia harus hati-hati, karena ia tak ingin gadis yang diboncengnya ini terluka gara-gara kecerobohannya.

"Terima kasih Naruto-kun,"

"Sama-sama." 'Hinata-chan.'

-Di kampus-

Ino menyikut Temari, lalu menunjuk kearah Naruto dan Hinata yang baru saja memasuki daerah parkir. Temari menyikut Shion yang juga melihat kejadian itu yang kemudian menyikut Sakura yang sibuk dengan laptop apple merah jambunya.

"Ada apa sih?" bentaknya kesal. Shion, dengan isyarat kepala menunjuk ke arah Naruto dan Hinata. Sakura menatap kedua insan berbeda gender itu dengan seksama lalu menatap 3 orang yang juga menatap kearahnya dengan senyuman jahil khas mereka.

"Kenapa?" serunya seraya berpose seperti emak-emak yang sedang marah, kedua tangan di pinggang.

"Gak, cuma pengen ngasih tau aja," Temari ngales.

Wajah Sakura terlihat kurang bersahabat sekarang. "Lalu, apa hubungannya denganku hah?"

ketiga orang itu cuma mengangkat bahu mereka dan berkata dengan enteng, "Kau kan tertarik dengan si pirang itu?"

Oke, kelihatannya kotak kesabaran Sakura sudah meledak. Itu sih wajar, karena kotak kesabaran Sakura kurang lebih sama dengan kotak tertawa milik si Squid, teman 'baik' Spongebob. Disinggung sedikit, meledak.

"Kalian ini..." desisnya mengerikan, "Cari mati rupanya." Sakura mengepalkan kedua tangannya lalu menatap tajam ketiga sahabatnya ini. Alarm merah berbunyi di otak mereka bertiga.

"Kabur!" teriak trio pirang itu seraya mengambil langkah seribu. Sakura tak tinggal diam, ia pun ikut tancap gas.

"Kau lihat mereka Sasuke?" tanya si kuncir empat pada si rambut duck style.

"Hn..." tanggap pemuda berjas biru itu seraya berjalan menuju pintu masuk gedung utama. Rupanya ia tidak tertarik dengan tingkah polah para personel 4G itu.

"Seharusnya kau tak usah mengajaknya Bicara Shikamaru," komentar pemuda dengan tato segitiga terbalik di pipinya.

"Kau benar Kiba, dia Troublesome."

"Kau lihat tadi si Shion? Dia ternyata cantik juga yah?" tanya Kiba, meminta pendapat sahabatnya tersebut.

Shikamaru menatap Kiba dengan tampang mengantuknya. "Jangan bilang kau tertarik dengannya Kiba, kau kan sudah punya Sasame. Kau juga sama dengan Sasuke, troublesome."

"Yah, Temari pun Troublesome," ejek Kiba seraya melirik Shikamaru yang masih menatap kejar-kejaran yang dilakukan Sakura cs.

blush, wajah Shikamaru sedikit memerah. Aku tepat sasaran, pikir Kiba dan pemuda penyuka anjing itupun tersenyum licik.

"Kau memang troublesome Kiba."

-Time skip-

Pagi ini kelihatan kurang bersahabat, awan hitam terus saja bergantung diatas sana. Hawa dingin tentu sangat dirasakan oleh orang-orang, termasuk Naruto yang berangkat kuliah dengan sepeda tuanya. Sesekali tangannya merapatkan kerah jaket oranye miliknya, mencegah udara dingin masuk. Bibirnya sedikit biru. Ia tak berani mengayuh sepedanya terlalu cepat, karena jalanan yang agak licin.

Perhatiannya tiba-tiba teralih pada seseorang yang sedang memeriksa mesin mobilnya dipinggir jalan. 'Rasanya aku kenal,' batinnya sambil mengingat pemilik mobil Honda Jazz berwarna biru itu.

"Ah..." serunya senang karena ingat dengan orang itu. Ia pun bergegas mendekatinya.

"Shion?" sapanya pada hadir berambut pirang pucat panjang tersebut.

Gadis itu, mendengar seseorang menyapa dirinya segera berbalik. "Na-Naruto?" ia terkejut melihat pemuda itu berdiri di belakangnya. Di satu sisi ia senang ada orang yang menolongnya. Di sisi lain, mengapa orang itu harus Naruto?

"Sini aku lihat," kata pemuda itu seraya menengok ke arah mesin.

Shion terperanjat mendengarnya. "Hah?" ia menatap Naruto bingung.

Ia tersenyum tipis. "Aku akan membantumu, ada masalah?" masih tersenyum.

'Senyumnya menawan...' batin Shion tanpa berpikir terlebih dulu. Namun otaknya itu buru-buru mencerna 2 kata tersebut. 'SHION! Mengapa kau terpesona dengan pemuda ini? Ayolah, dia itu musuhmu,' makinya pada dirinya sendiri. Lekas ia memasang wajah jutek.

"Memangnya kau bisa?" gadis itu dengan nada meremehkan. "Oh, aku tau. Kau ingin membuat mesin mobilku meledak kan?" tanya gadis itu sambil menuduh.

Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa? Apa untungnya bagiku? Kurasa tidak ada," ucapnya bingung.

Sementara itu matahari yang terlihat kurang jelas di balik awan mendung terlihat semakin tinggi. Kerumunan orang pun semakin banyak.

"Kau membenci kami kan?" jelas ini bukan pertanyaan, ini lebih seperti pernyataan.

"Siapa bilang?" kini kedua alis pemuda itu yang terangkat. Artinya ia semakin bingung dengan maksud dari perkataan Shion barusan.

"Dari sikapmu itu. Kau selalu berlawanan arah dengan kami, apalagi kalau menyangkut gadis itu."

"Gadis itu?" Naruto berpikir sejenak. "Ooh, maksudmu Hinata?"

"Ya, gadis Hyuuga itu."

"Itu karena kalian selalu mengganggunya."

"Apa masalahmu?" selanya sengit. Wajah gadis terlihat kurang bersahabat sekarang.

Naruto menatap wajah Shion dengan serius. "Itulah masalahnya. Kalian tidak kasihan dengannya?"

"Sama sekali tidak. Apa untungnya bagiku?" jawabnya ketus.

Ia hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap gadis ini yang sangat anti-sosial. " karena kalian tidak pernah mengalaminya," ucapnya dengan suara yang hampir berbisik.

"Apa? Bisa diulang?" pinta gadis itu karena kurang jelas.

"Sudahlah, tidak ada apa-apa." ia rupanya tidak ingin perdebatan itu menjadi panjang sementara ia mulai kehilangan waktu. "Sekarang, kau mau dibantu atau tidak? Waktu kita tidak banyak," katanya sambil melihat ke arah jam tangannya.

Shion berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini, hingga akhirnya ia mengangguk setuju. "Baiklah, daripada terlambat."

Naruto pun mulai memeriksa bagian mesin. Jujur saja, ia cukup berpengalaman dalam menangani mobil yang mogok. Ia belajar dari pamannya, Pain yang mempunyai showroom mobil di Kanada sana. Setelah beberapa lama, ia memanggil gadis pemilik mobil tersebut.

"Shion, kemari sebentar," pintanya pada Shion yang bersandar di body mobil. "Coba lihat ini."

Gadis itu buru-buru menggeser tubuhnya untuk berada di samping pemuda pirang itu. Ia melihat Naruto memegang sebuah kabel yang terlihat putus.

"Kabel menuju starter ini putus, dan perlu ke bengkel untuk memperbaikinya karena kita kekurangan alat," jelasnya.

Bagi Shion itu tidak masalah. Tapi yang menjadi masalah baginya sekarang, bagaimana bisa sampai ke kampus tepat waktu, sedangkan jalan ini bukan rute bagi mobil taksi. Jadi percuma untuk menunggu taksi disini.

"Kau bisa meninggalkan mobilmu disini dan kau ikut denganku," tawar Naruto, seakan membaca pikiran gadis itu. "Itupun kalau kau mau."

Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan. Ia telpon bengkel langganannya dan memberitahukan posisi mobilnya yang rusak, kemudian ia naik ke sepeda Naruto. Tentu saja dengan mengabaikan egonya yang setinggi langit.

"Pegangan yang erat," perintah pemuda itu. "Kita akan ngebut."

"Maksudmu... KYAAA!" belum sempat Shion menyelesaikan kalimatnya, ia menjerit kencang. Wajar saja sih, karena pemuda itu dengan tiba-tiba mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga. Terpaksa Shion berpegangan erat pada pinggang pemuda itu seraya membenamkan wajahnya di punggung Naruto.

-4G-

Ino mengguncang pundak Sakura dengan sekuat tenaga begitu melihat dua orang dengan satu sepeda melewati gerbang.

"Apa sih?" bentaknya kesal karena Ino mengganggu ritual paginya. Dandan.

"Itu tuh." tunjuk Temari yang juga melihat Naruto dan Shion yang baru saja lewat. Terlihat jelas tangan Shion memeluk erat pinggang pemuda itu. Ini lebih mesra dari saat dengan Hinata dulu.

Mulut Sakura kini terbuka, megap-megap seperti ikan lohan dan menatap Ino bingung. "Ini pasti mimpi. Tampar aku," pintanya.

"Beneran nih?" Tanya gadis itu memastikan. Sakura, yang masih menatap tidak percaya pada Shion yang membonceng sepeda Naruto, tanpa sadar menggangguk.

"PLAK"

pipi gadis itu memerah, tampak terlihat bekas seperti telapak tangan. Tentu mirip bekas telapak tangan, telapak tangan milik Ino.

"AWW!" pekik Sakura kesakitan. Tangannya buru-buru mengusap-usap bekas dimana telapak tangan Ino tadi mendarat.

"Lagi? Mungkin yang sebelahnya?" tanya Temari dengan tampang innocent miliknya, yang bagi Sakura tampak seperti makhluk bertanduk dengan tombak bermata tiga.

Shion dan Naruto tiba di parkir dengan selamat sentosa, sentosa karena dengan semua kejadian yang telah terjadi seperti hampir terlindas truk, hampir menabrak kakek-nenek yang lagi pacaran, hampir tercebur ke selokan, dan hampir-hampir yang lainnya, mereka bisa sampai dengan tidak kurang suatu apapun.

"Kita sudah sampai putri tidur," ejeknya pada Shion yang masih memeluk erat Naruto dengan mata tertutup tertutup.

Shion membuka mata ungu miliknya dengan perlahan. "Eeh?" serunya kaget menyadari ia masih melingkarkan kedua tangannya dipinggang Naruto. Buru-buru ia melepaskan tangannya dan memalingkan wajah, menyembunyikan rona-rona merah yang mulai menjalari pipinya. Ia pun turun tanpa menatap wajah Naruto yang menatap bingung kepadanya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Bisa berabe kalau anak orang apa-apa gara-gara dia. Apalagi anak orang terhormat.

"Tidak, hanya sedikit pusing," jawabnya berbohong. "Trims ya, maaf sudah merepotkanmu."

Naruto tersenyum lebar sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Tak apa-apa. Itu gunanya teman."

Shion tersentak. "Teman?" tanyanya bingung. Mungkin kata teman dalam kosakatanya sudah terlupakan.

"Ya, kita teman sekelas kan?" tanyanya, masih tersenyum.

"Ooh," jawabnya. "Sekali lagi terima kasih." Shion pun melangkah pergi, meninggalkan Naruto sendiri di tempat parkir yang sepi tersebut.

-Hinata-

Ia tak bisa berpura-pura tidak melihat kejadian itu. Bahkan masih terulang-ulang di kepalanya seperti kaset film yang rusak, Shion yang membonceng pada Naruto. Sama halnya seperti ia beberapa minggu yang lewat. Kupu-kupu yang dulu mengisi hatinya kini berubah menjadi seekor monster, mungkin naga hungaria. Mencakar-cakar isi perutnya, melilitnya hingga napasnya menjadi sesak, dan menghembuskan hawa panas ke pikirannya.

Namun hati kecilnya mengingatkannya. Ia bukan siapa-siapa Naruto, hanya sekedar teman, tidak lebih. Namun ia juga tak dapat memungkiri bahwa perasaan sedih menyergapnya saat hati kecilnya berkata 'hanya sekedar teman'. Tangannya meremas pelan bagian depan jaket ungu yang ia pakai hari ini.

Salahkah bila ia cemburu?

-4G-

"Hey," sapanya pada ketiga temannya sambil melambaikan tangan.

Sakura langsung memasang tampang juteknya saat Shion sampai di depan mereka. Ino dan Temari mengikuti langkah yang di ambil pemimpin mereka, ikut-ikutan manyun.

Setetes keringat dingin turun dipelipisnya. "Kalian kenapa sih?"

"Kau masih bertanya pada kami?" Sakura bertanya balik.

"Tanya dirimu sendiri," Temari menimpali.

Shion langsung paham penyebab sikap aneh para sahabatnya ini. "Ini tentang Naruto kan?" tanyanya memastikan.

"Tuh, sudah tau,' dengus Sakura semakin sebal.

"Begini..." Ia pun mulai menceritakan asal-muasal peristiwa tersebut. Lengkap dari A sampai Z.

Begitu cerita tersebut selesai, Ketiga orang itu pun manggut-manggut mengerti. Mungkin kalau mereka punya jenggot, mereka akan membelainya juga.

"Bagaimana rasanya naik sepeda?" tanya Ino penasaran.

Shion tersenyum tipis, "Hangat," jawabnya.

Ketiga orang itu terperangah heran. "Hah?" komentar ketiganya bersamaan.

Senyum Shion makin terlihat jelas. 'Ya, ia memang hangat.'

-TBC-

HOREEE. . . Akhirnya konflik antara Naruto dan para personel 4G dimulai... Diawali dari Shion.

Siapa yang akan terlibat dalam konflik tersebut selanjutnya?

Bagaimana dengan perasaan Hinata?

Review. . .