A/N : chapter two is up! Kali ini adalah chapter terakhir dari 'Orange Special'. Silakan dibaca kalau kalian ingin tau akhir dari cerita ini. Sebelum itu aku mau berterima kasih untuk para reviewer yang mau RnR fic ini. Aku bales review dulu ah~
Crow Layn : Lucu? Benarkah :D Para Vocaloid stress? Memang XDDD *plak* oke, makasih reviewnya ya. Aku jadi semangat ni!
Yuu Tsukiyomi : Makasih atas pujiannya. Salam kenal juga ya~
Hikari Kamisa : udah bagus? Wah, tapi menurutku masih kurang sreg nih *dibacok* bercanda, makasih dukungan dan pujiannya ya! Hm, masih kurang romantis gak ya di chappie ini? *smirk*
Kurara animeluver : Len imut? Memang! XDD ahahah… Kalau bisa ngakak di chap sebelumnya aku bersyukur… Amat bersyukur tapi di chapter ini…. Hem =.=a aku meragukannya kamu bisa ngakak. Twincest? Yap! Kau bisa lihat di warning yang kutulis Oke, makasih reviewnya :D
Itu balasan atas review-review yang saya terima. Review lagi ya kawan-kawan! *dijambak*
Discalimer : Bukan punya saya, tapi punya Yamaha Corp atau Crypton
Pairing : LenxRin
Chapter 2 begin!
Orange Special
Rin's POV
Aku membalik-balikan halaman demi halaman manga romansa yang sedang berada di tanganku. Sekarang aku merasa sedang amat bosan, kenapa Len lama sekali kembali ke kamar? Sedang apa dia? Apa sesuatu yang spesial itu benar-benar spesial sehingga membuatnya begitu sibuk?
Aku berhenti membalikkan halaman begitu menemukan adegan ciuman antara tokoh utama dan laki-laki yang sudah diidam-idamkannya sejak pertama melihat si laki-laki. Aku tersenyum kecil, memikirkan apakah suatu saat nanti aku bisa menemukan seseorang yang cocok untukku. Sesungguhnya, kalau perasaan suka sih sudah kurasakan, namun masalahnya hanya satu yaitu aku menyukai saudara laki-lakiku sendiri. Dan lagi kami kembar! Entah apa yang akan Len katakan kalau dia tau perasaanku yang sebenarnya.
Namaku Rin Kagamine, aku adalah Putri paling egois di dunia! Dan aku menemukan perasaan istimewa terhadap Ksatria sekaligus kembaranku Len Kagamine. Ini bukan salahku menyukainya! Ini salah Len! Mengapa dia bisa begitu manis, baik hati, pengertian, penurut dan… mau mengurusiku yang egois dan memiliki sifat keras?
Kulempar manga yang sudah bosan kumainkan di tanganku. Kurebahkan punggungku di kamar tidur yang aku dan Len biasa pakai untuk tidur dan bersantai. Setidaknya kami masih empat belas tahun, jadi kupikir masih bisa ditolerir kalau kami tidur bersama. Di umur segitu masih lumrah kalau saudara kembar itu tidur bersama 'kan? Begitulah yang aku dan Len ucapkan ketika kami, para Vocaloid memutuskan kamar yang akan digunakan oleh kami.
Setelah beberapa saat bernaung dalam pikiranku yang tidak berguna, aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Beberapa saat kemudian Len menyeruak masuk.
"Len?" kududukan badanku agar dapat melihatnya dengan jelas. Di tangannya kulihat sebuah jeruk yang terlihat ranum. Aku menenggak ludah, menahan hasratku untuk tidak memakannya.
"Rin, ini jeruk untukmu." Dia menyodorkan jeruk yang terlihat enak itu tepat di depan wajahku. Baunya yang segar menggugahku.
"Untukku? Jadi ini hadiah spesial itu?" Buatku sebenarnya tak masalah walau itu hanya sebuah jeruk, lagipula di mataku jeruk ini bahkan memanggil-manggilku. Beberapa saat keheningan menghantui sebelum Len akhirnya mengangguk ragu.
"Mu… mungkin jeruk ini terlihat biasa, tapi…"
"Tidak apa-apa Len. Di mataku jeruk ini terlihat spesial karena kau yang memberikannya padaku." Aku tersenyum semanis mungkin, berniat menggodanya dari lubuk hatiku. Kulihat wajahnya yang memerah dengan hebat, melihat reaksinya membuatku merasa wajahku pun ikut memanas.
"Po… Pokoknya, arigatou Len." Kuterima jeruk itu dari tangan Len. Langsung kukupas jeruk itu tanpa pikir panjang. Aku sadar Len memperhatikan setiap gerakan yang kubuat. Situasi ini membuatku agak kurang nyaman. Setlah selesai kukupas kulit jeruk di tanganku aku merasakan aroma di jeruk itu agak berbeda dari jeruk biasa, agak tercium bau vanilla.
"Bau vanilla?"
"Eh?"
"Jeruk ini bau vanilla Len, bagaimana bisa?"
"I…Ini, seperti kataku Rin. Jeruk spesial."
"Em-hem, baiklah." Kucuil sebuah dari jeruk itu dan kukunyah dengan gerakan lambat. Hem, rasanya enak sekali. Mungkin ini adalah jeruk terenak yang pernah kurasakan. Ini benar-benar jeruk yang spesial! Aku harus tanya di mana Len mendapat buah enak ini! Beberapa saat kemudian aku merasa sesuatu dalam kepalaku berputar, namun karena rasa penasaran mengenai jeruk ini, kuabaikan pening yang tiba-tiba menyerangku.
"Su…"
Eh…
"Suki."
Apa yang kukatakan, huh?
"Aku suka Len."
TUNGGU! Mulutku bergerak sendiri! Dan tanpa memedulikan ke-shock-an diriku sendiri tubuhku mendekat ke arah Len yang sepertinya sama shock-nya denganku. Kuulurkan kedua lenganku dan kulingkanrkan di sekitar leher Len. Woah, ini adalah perbuatan paling menjijikan yang pernah kuperbuat. Aku tidak tau apakah ini bisa dikatakan kuperbuat, yang pasti setelah ini adalah sesuatu yang bahkan lebih memalukan dari aksi tak sadarku yang sebelumnya. Kunaikan daguku sedikit ke atas hingga bibirku dan Len bertemu. AKU MENCIUM LEN! Dan lagi, DIA MEMBALAS CIUMANKU!
Tanpa perintah dari tubuhku, lidahku menjilat bagian bawah bibir Len yang disambut oleh mulutnya yang terbuka. Menyediakan akses untuk lidahku agar dapat menelusur masuk. Kurasakan lengannya yang melingkar di sekitar pinggangku. Entah apakah Len pun sama-sama kehilangan control atau… Perbuatanku terlalu sibuk untuk mengurusi beribu pertanyaan dalam pikiranku. Len pun mendominasi lidahku yang sedang menjulur ke dalam mulutnya, sesaat kemudian aku dapat mengontrol tubuhku dan segera mendorong Len menjauh dariku. Aku tak bisa menggambarkan betapa malunya aku saat ini.
Kulihat matanya yang mengerjap kaget menatap lurus ke arah mataku. Kuseka bibirku sampai terasa perih, tanpa menunggu aba-aba dari diriku sendiri kurasakan air mata menetes dari kelopak mataku. Kudengar Len yang menahan nafas begitu melihat reaksiku yang sepertinya tidak diduga.
"Rin, aku…" sebelum sempat berkata sesuatu aku memotong kalimatnya,
"Ada yang aneh denganku Len. Tubuhku entah kenapa bergerak sendiri, aku…" kututup kedua mataku agar seolah-olah tak dapat dilihat oleh siapapun. Aku berharap untuk menghilang saja.
"Maaf Rin. Mungkin ini karena aku. Bukan kau yang salah, tapi… Tapi aku!" seru Len tiba-tiba. Kata-katanya yang terakhir membuatku terlonjak kaget. Bagaimana mungkin perilakuku menjadi salahnya?
"Ke… Kenapa?" tanyaku terbata, suaraku terdengar tercekat.
"Je… Jeruk yang kau makan sudah kuberi ramuan."
"Eh?" aku menatapnya bingung. Kumiringkan sedikit kepalaku ke samping.
"Ramuan itu kudapat dari Luka-san."
"Tapi, ramuan apa yang dia berikan padaku?" aku mencoba menahan amarahku, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal keluar dari mulut Len. Namun aku pun penasaran ramuan apa yang membuatku menjadi berperilaku aneh.
"Itu…" Dia terdiam menatapku.
"Well?"
"A… Aku juga tak tau… Rin, entahlah. Luka-san hanya bilang dengan ramuan ini jeruk biasa pun bisa jadi spesial. Mungkinkah pemanis rasa yang mengandung alcohol?"
"Eh? Bohong, tapi tubuhku seperti dikontrol sesuatu dengan kesadaran penuh! Aku tidak mabuk! Ayo kita tanya pada Luka-san!"
Kutarik lengan Len dengan paksa menuju kamar Luka-san. Setelah kami sampai di depan pintu kamarnya aku dan Len saling berpandangan.
"Baiklah, Len. Ketuk pintunya."
"Aku?"
"Tentu saja! Siapa juga yang minta ramuan aneh itu dari Luka-san?" seruku tak sabar. Dengan wajah kurang senang Len mengetuk pintu kamar Luka-san. Dengan segera pintu di hadapan kami terbuka, Luka-san menyembulkan kepalanya dan tersenyum setelah melihat kami.
"Hallo, Kagamine. Oh, Len. Apakah Rin menyukai ramuan dariku?" Kulihat semburat merah di kedua pipi Len sebelum akhirnya menjawab.
"A… kami kemari bermaksud menanyakan sesuatu."
Luka-san menatapku dan Len bergantian dengan bingung. Sampai setelah itu Luka-san menghela nafas panjang dan memperlebar pintu kamarnya agar dia bisa melangkah keluar dan menyandarkan bahunya di bingkai pintu sebelah tempatku berdiri.
"Teruskan."
"Begini, aku melakukan apa yang kau instruksikan Luka-san. Tapi setelah Rin memakan secuil saja jeruk yang telah kuberi ramuan dia mulai berbuat aneh."
Luka-san menaikan alisnya mendengar penjelasan dari Len, "Aneh? Aneh bagaimana?"
"Em, yah… Itulah, aku ingin bertanya ramuan apa yang kau berikan pada Len sehingga aku berbuat aneh." Aku segera mengganti alih pembicaraan karena tidak mau apa yang baru saja terjadi terdengar oleh Luka-san.
"Itu hanya ramuan penyedap rasa vanilla yang dapat membuat makanan apa pun menjadi enak, walau efek sampingnya membuat tubuh kita menjadi berbuat apa yang ingin dilakukan sesuai dengan apa yang kita inginkan dari dalam hati." Lanjut Luka-san panjang lebar dan itu semua mampu menjawab persoalan yang kami hadapi. Aku mencuri pandang ke arah Len, dan setelah sadar dia pu mencuri pandang ke arahku kami segera memalingkan wajah.
"Ja… Jadi perbuatan aneh yang aku lakukan itu…"
"Yap, itu adalah perbuatan yang ingin kau lakukan dari dalam hatimu."
Oh, tidak!
"Rin, itu berarti kamu..."
"Shut up, LEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN!"
OWARI~
A/N : Akhirnya TWO-SHOTS Len/Rin ini selesai juga. Hum, akhir yang gaje karena dibuat oleh Author yang gaje pula. Romance-nya kurang terasa? Oke! Nanti aku tambah di story berikutnya! Tapi please, review dulu karyaku yang satu ni baru aku mau bikin fic baru lagi~ *dilempar* bercanda kok, review saja kalau kalian ikhlas review~ XD
