Fanfics from all Yu-Gi-Oh! Series
Original Author: Takahashi Kazuki
Special Appearance from Canvas-Ranger Re-Generation (CR Generation Next)
ATTENTION!
Tidak ada yang terluka dalam pembuatan fanfics ini kecuali nyamuk…
Laskar Pamungkas 5DX on Vacation
"Dufan's Challenge"
Part 8
Pas sampe di tepi pantai, Judai ngebeliin es krim buat Fransisca. Setelah itu, mereka mandangin laut sambil makan es krim.
"Judai-san, makasih ya atas es krimnya. Maaf ngerepotin."
"Gak apa kok. Aku juga senang." Judai tersenyum kecil. Pas saat itu Yami dan Shinera sampe di tempat mereka bersantai.
"Lho, Judai? Ngapain lo disini?" tanya Yami.
"Lo sendiri gimana, Yami-san?" Judai balas nanya.
"Yah, kita kan mampir disini aje, ya gak, say?" kata Yami sambil ngedipin mata ke Shinera. Shinera ngangguk.
"Wuih, tumben akrab..." Fransisca rada heran ngeliat Yami-Shinera akrab banget, bahkan ampe gandengan tangan segala.
"Hehehe, setelah ngobrol-ngobrol, ternyata Rei ini cewek yang manis! Gue suka dia!" Yami segera mencium pipi Shinera. Shinera langsung blushing.
"Wuaaaaaaaaaah, muantep! Tapi kok gak mimisan tuh?"
"Ehm, ini sih gak bisa bikin aku mimisan." kata Shinera pede. Judai dan Fransisca langsung ngegubrak ala anime.
"Trus harus begimana!"
"Being naked..." kata Shinera pelan. Judai-Fransisca mangap gaje.
"Lu kira...!"
Di balik semak-semak, Ardi, Ryan, dan Higeruu lagi mata-matain 5 pasangan itu dengan teropong jarak jauh. Mereka lagi mantau Johan-Aoi.
"Weh, emang dasar duo rambut biru! Baru bentar aja udah akrab banget!" kata Ryan sambil make tu teropong.
"Eits, iya juga yah..." bales Ardi sambil ngikutin arahnya Ryan.
"Gimana yah dengan pasangan lain?" tanya Higeru.
"Tau ah." kata Ryan. "Ehm, kita mata-matain Yusei-Noir yuk!"
"OK!"
Sementara itu, Yusei sama Noir lagi makan di kafe deket pantai. Mereka lagi asik ngobrol-ngobrol. Higeru, Ryan, sama Ardi mata-matain mereka lewat semak-semak dan jendela kafe.
"Cieh! Prikitiw!" seru Higeru rada ditahan biar gak ketauan.
"Sssssssssssst! Ketauan bisa celaka kita!" seru Ryan sambil nabok Higeru.
"Sori lah..., gue kan kesengsem ngeliat Noir mesra gitu, bang..."
"Eh, cari tempat lain yuk!" ajak Ardi.
"Mau kemana?"
"Tauk lah..."
Sementara itu, Yusei sama Noir lagi ngobrolin soal Neo Domino. Dengan agak blushing, Yusei nanya-nanya sama Noir.
"Ehm, padahal kamu cocok jadi hero juga kok..."
"Maksud Yusei-san?" tanya Noir.
"Yah, rasanya aneh aja kalo kubu Villain deket banget sama kubu Hero macam Ryuzaki gitu." pas bilang gitu, Yusei garuk-garuk kepala. Noir ngerti maksud perkataan Yusei tadi.
"Oh, gak apa kok. Meski kubu kami beda, kami masih bisa temenan kok. Kami baru bisa berantem pas perang antar kubu aja."
"Wuah, kayaknya asik yah di Canvas-Ranger..." sahut Yusei.
"Ah biasa aja kok..."
"Oh ya, Noir. Jalan-jalan lagi yuk!" ajak Yusei keluar kafe. Noir ngikutin dari belakang. Di luar kafe, Yusei nyodorin lengannya pada Noir. Tau maksud si Yusei, Noir langsung ngegandeng lengan Yusei.
Kita beralih ke tempat lain, tepatnya di bawah pohon yang rindang...
"Hehehehe, kak, asik ya jalan-jalan gini." kata Ryuzaki sambil makan es batu yang baru dibeli dari tukang es krim.
(buset deh! Kelakuan author ditiru! XD)
"Iya. Udah lama yah gak jalan-jalan..." kata Riry sambil natap muka Ryuzaki.
"Kak..."
"Iya?"
"Sebenernya..., aku merasa ada yang aneh deh pada Judai." kata Ryuzaki. Yap, kalo pada Riry, dia gak bakal ber-elo-gue.
"Aneh apa, dik?"
"Ehm, itu lho..." Ryuzaki menceritakan dari awal sampe akhir, tepatnya momen saat pertama kali ke dufan sampe sekarang. Riry manggut-manggut.
"Ehm, kayaknya dia itu punya sesuatu yang harus diungkapin tapi gak bisa."
"Kok gak bisa?"
"Mungkin dia malu sama lo..."
"Malu kenapa? Padahal udah 3 tahun sekelas bahkan seasrama sama dia..."
"Ceilah..., ada lho cowok yang kayak gitu lho!"
"Contohnya?" Ryuzaki nanyain sesuatu yang sempet bikin Riry shock sesaat. Sambil narik napas panjang, dia ngejawab.
"Gue..."
"Lho?"
"Hey! Kalian sedang apa?" panggilan dari Yugi bikin Riry sama Ryuzaki 'terinterupsi' sesaat. Ryuzaki langsung nyapa Yugi dan Mizuki.
"Hai, kami hanya ngobrol doang. Kalian abis darimana?"
"Dari sana." tunjuk Mizuki pada arena permainan anak TK macam kereta-keretaan, ayunan, dan mobil-mobilan. Ryuzaki dan Riry mulai ilfil.
"Kok dari sana?" tanya Riry. Mizuki mulai blushing, gitu juga Yugi.
"Ng, anu..., Yugi-san naik kereta-keretaan..."
*sfx: Dooooooooooooooong!
Wuapa itu? Naik kereta-keretaan buat anak TK? Anak yang udah ampir berkepala dua? Ih amit-amit..., pekik Riry dan Ryuzaki dalam hati.
"Ehm, oh ya, disana ada perahu layar. Naik bareng-bareng yuk!" ajak Riry dengan upaya ngilangin aura negatif yang barusan nyerang Riry dan Ryuzaki. Berhubung udah gak ada kegiatan lain, Yugi dan Mizuki setuju-setuju aja. Akhirnya mereka pergi ke tempat penyewaan perahu layar.
Sementara itu, di tepi pantai tempat perahu layar menepi...
"Buset deh! Mata-matain 5 pasangan itu bikin capek!" seru Higeru.
"Tau ah, bosen..." kata Ryan. Ardi hanya mainin gitar yang sempet dipungut di deket pohon kelapa.
(lho, itu kan nyolong, mas? =/)
Pas lagi ber-sigh ria, ngedadak mata tiga cowok itu nangkep bayangan Yugi, Mizuki, Ryuzaki, dan Riry ke arah tempat penyewaan. Entah dapet sugesti apaan, mereka mulai ngerencanain sesuatu.
"Eh, kita nyamar aja yuk jadi pengamen!" ajak Ardi.
"Emang ada gitu pengamen di atas perahu layar?" Ryan mulai mikir.
"Pasti ada dong! Kalo gak ada, kita gebrak tradisi aja! Kita jadi orang pertama yang ngamen di atas perahu layar!" seru Ardi dengan gaya 'semangat 45'. Ryan dan Higeru pasang muka cengo.
"Ide lo luar biasa gokil, Di! Mantep lah!" seru Higeru dengan nada nyindir.
"Tapi kita ngamen di perahu yang ditempatin mereka, kan?" tanya Ryan. "mending pake penyamaran aja, gimana?"
"Asem! Tapi penyamaran apa nih? Kita kan gak bawa baju apapun?"kata Higeru. Pas lagi ngerundingin hal itu, lewat sekelompok pengamen jalanan yang bersiap-siap ngamen.
"Good timing! Ada pengamen tuh!" kata Higeru. Ardi langsung ngendap-ngendap buat ngeringkus salah satu pengamen itu. Beberapa menit kemudian...
*sfx: duak duak! Jduuuuk!
"Tengkyu..." kata Ardi sambil make baju si pengamen yang udah diiket pake daun kelapa dan tali rafia. Ryan dan Higeru terkaget-kaget.
"Buset deh, sangar bener lu! Orang gak berdosa lu sambit!" kata Higeru sambil ngeliat si pengamen asli yang babak belur.
"Dia-nya memberontak, makanya gue hajar." jawab Ardi datar.
"Tapi kok keterlaluan gitu sih? Jangan kayak gitu ah!" pinta Ryan. Ardi hanya manggut-manggut.
"Hhhhhhhhh, okeh. Nah, lu bedua! Cari gih penyamaran kalian!"
"Gue jadi asisten ngamen lu kan, Di?" tanya Ryan. Ardi ngeiyain.
"Kalo gitu, ringkus lagi satu pengamen!"
"Pake artblock aje kali yah? Jadi ngelumpuhin diam-diam aja..." pikir Ryan. Higeru nyolek dari belakang.
"Eh, sekalian bagian gue juga lho!" pinta Higeru.
"Maksut lo! Gak ah! Seorang satu!" Ryan mulai gak terima.
"Eh fren, gue kan Hero. Gue malah ngebasmi artblock nanti. Hayoh?" kata Higeru yang sempet bikin Ryan mikir dua kali. Buat nenangin suasana, Ardi langsung bertindak.
"Ya udah, bagian gue aja deh ngeringkus buat si tukang roti! Yan, buruan cari mangsa artblock!"
"Iye ye!"
Part 8 – the end –
