Yosh~ Minna-san, genki desuka? ^^

Jiya mau balas review dulu ya, setelah itu baru kita lanjut fanficnya, ^^9

Hanaka of Nadeshiko :

Terima kasih sudah baca dan review. Ini sudah di update. ^^

Soal Hime jadi dibunuh atau ngga, kita liat aja nanti. hohoho...Salam kenal juga, ya. ^o^

Ayano464cweety :

Terima kasih sudah baca dan review. Ini sudah di update.

Silakan baca dan review lagi ^^

Relya Schiffer :

Terima kasih sudah baca dan review. Ini sudah di update. Silakan baca dan review lagi ^^

Hidup Ulqu-Hime ! XD

Fragmented Purgatory :

Hey! You,re not random! =,="

I saw you from Monday till Saturday at school, its bored me you know *plak XD

Ayaaayy, captain... I'll try to do my best ^o^

Please read and review again ^^

Chai Mol :

Terima kasih sudah baca dan review. Ini sudah di update. Silakan baca dan review lagi ^^

Kuraishi cha22dhen :

Terima kasih sudah baca dan review. ^^

hmm... Karena baru sampai chapter dua, jadi author masih belum berani kasih spoiler. Kita liat aja nanti ^^

Silakan baca dan review lagi ^^

Jiya Hayasaka present :

An Ulqui-Hime Crime/Angst fic

AKU HARUS MEMBUNUHMU, ONNA

2nd Chapter

Semi AU. OOC. Gajeness spreading out.

BLEACH Kubo Tite

Happy read, Minna-san. ^^

"Nah, anak-anak. Kita lanjutkan pelajarannya minggu depan dan jangan lupa kerjakan PR halaman 69. Mata raishuu!" kata Mayuri-sensei mengakhiri pelajaran Kimia yang menjadi pelajaran terakhir sekaligus paling membosankan hari itu.

Murid-murid selalu terperangah dengan kecepatan sensei yang satu ini mereka menjelaskan pelajaran terkutuk nan nista itu. Bukan kagum, melainkan bingung karena tidak mengerti dan diragukan apa ada yang sempat mencerna apa saja yang dijelaskan tadi. Hanya ada beberapa siswa yang tampak sangat antusias memperhatikan Mayuri-sensei saat menjelaskan—Keigo contohnya. Bukan memperhatikan pelajaran, tapi memperhatikan kuku Mayuri-sensei yang sering kali dijadikan tebak-tebakkan di kalangan para murid dengan pertanyaan : "berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang Mayuri Kurotsuchi untuk bisa menghasilkan kuku sepanjang itu?"

"Hey, Inoue." panggil Ichigo yang penampilannya sudah tidak karuan seperti preman. Rambut berantakan, baju seragam keluar, celana melorot sampai pinggul—sangat tidak sedap dipandang mata.

Melihat yang ditanya belum merespon, ia pun bertanya lagi "kamu belum pulang?"

"Sebentar lagi. Kenapa?" sahut Orihime yang sedang merapikan buku-bukunya.

"Kamu mau pulang sama-sama?" Ichigo menawarkan.

"Ku..kurosaki..tidak pulang bersama Kuchiki?" gadis itu tampak bingung—antara senang bercampur gugup.

"Ah, dia pulang duluan, ada urusan katanya. Jadi, kamu mau?" tanyanya lagi.

Orihime belum menjawab, ia berpikir sejenak.

'jadi, aku hanya diajak kalau Kuchiki tidak ada ya? Percuma saja kalau begitu.'

'Tapi...tak apalah. Asalkan aku bisa sejenak bersama Kurosaki.'

"Tentu, aku mau." jawab Orihime mantap disertai senyum manisnya. Ia cepat-cepat menunduk untuk menyembunyikan semburat merah yang sedari tadi pasti sudah memenuhi wajahnya.

-oOo-

BRUUUUUKKK!

Grimmjow menghempaskan tubuh pemuda berkulit pucat itu begitu saja di tengah-tengah sebuah ruangan yang sarat cahaya. Ruangan yang cukup luas dengan banyak ornamen-ornamen unik di setiap sisi dindingnya. Tidak begitu banyak barang-barang di sana. Hanya ada sebuah sofa memanjang berwarna abu-abu kusam di dekat satu-satunya jendela yang menjadi sumber cahaya, sebuah meja besar dan sebuah kursi yang bisa berputar membelakangi meja tadi—seseorang duduk di sana didampingi seseorang berkulit gelap berkacamata dengan rambutnya yang tidak biasa.

Gin memberi hormat lalu berkata, "Itu orangnya. Sesuai perintah anda, Aizen-sama."

Orang yang tadi duduk membelakangi meja membalikan kursinya perlahan. Sesosok tubuh yang tegap berdada bidang, rambutnya cokelat tua begitu kontras dengan kulit putihnya. Usianya mungkin hanya berkisar paruh baya, terlihat dari tidak begitu banyak kerutan yang berarti di tiap lekukan wajahnya. Matanya teduh, tersirat kedamaian disana. Bibir tipis dan hidung mancung turut menjadi padanan yang pas di wajah yang tentu masuk dalam kategori tampan itu. Gambaran seorang suami atau ayah idaman bagi seorang wanita dan anak-anak.

Sambil bertopang dagu, orang yang dipanggil Aizen-sama itu berkata disela senyum tipis menawannya, "Bawa dia mendekat, Gin. Perlihatkan padaku anak 'kucing' yang kau dapatkan."

"Grimmjow, bawa dia kemari." ujar Gin.

Grimmjow yang sebenarnya sudah bosan diperintah Gin mau tidak mau harus selalu menurut tanpa membantah, diseretnya pemuda tadi tepat di hadapan meja sang Aizen-sama.

"Dia..Ulquiorra Schiffer?" tanya Aizen disambut langsung oleh anggukan kepala Gin yang pastinya cukup menjadi jawaban terhadap pertanyaan tuannya itu.

"Hmm... Anak yang malang. Tapi, kau tetap harus membayar apa yang sudah ayahmu lakukan. Simpan saja dulu dia, Gin. Masih ada waktu sebelum waktunya tiba. Lagipula, kelihatannya anak ini masih perlu tidur." kata Aizen datar.

"Baik, Aizen-sama." jawab Gin.

Grimmjow menyeret Ulquiorra keluar ruangan disusul Gin dibelakangnya. Merasa cukup jauh dari ruangan yang tadi, Grimmjow mendelik kesal ke arah Gin.

"Apa?" tanya Gin yang merasa terganggu dengan death glare yang dilontarkan Grimmjow.

"Bantu aku, Rubah sipit! Kau pikir mudah mengangkat orang ini sendirian?" cerca Grimmjow.

"Apa maksudmu, Serigala lemot?" balas Gin.

"Apa? Siapa yang lemot? Dasar kau sipit!"

"Kau yang lemot! Siapa suruh kau terlalu banyak menaruh obat bius? Mengangkat anak seperti ini saja tidak mampu! Aku bahkan ragu apa kau benar-benar laki-laki, Grimmjow!"

"Kalau kau memang mapu, lakukan saja sendiri!" Grimmjow mengakhiri pertengkaran mereka dan berpi begitu saja meninggalkan Gin yang masih emosi dan Ulquiorra yang masih nyenyak.

Setelah sedikit lebih tenang, Gin meraih tubuh Ulquiorra sambil menggerutu, "Cih! apa susahnya mengangkat seperti ini. Astaga! Anak ini...berat..juga...Uuugghh..."

Sekuat tenaga Gin akhirnya berhasil sepenuhnya mengangkat tubuh Ulquiorra dan menumpukannya di bahu. Dalam hatinya, Gin diam-diam mengakui bahwa Ulquiorra memang bertubuh kecil namun bobotnya tidak bisa diremehkan.

Stelah menelusuri berbagai koridor-koridor panjang, Gin masuk ke salah satu ruangan yang bisa dibilang mirip bahkan lebih mewah dari kamar di hotel bintang lima. Semua perabotan khas berwarna putih. Spring bed king size lengkap dengan bantal guling, meuble set yang terdiri dari sofa-sofa dan meja tamu, sebuah cermin berukuran besar dengan bingkai glitter silver, AC, TV, Tape, dan sebuah meja rendah yang dijadikan tempat menata sedikit buah, snack, dan beberapa kaleng minuman soda. Gin membaringkan Ulquiorra di atas spring bed yang tampak sangat empuk itu.

"Huh... Akhirnya..." kata Gin sambil menghapus peluh yang membanjiri keningnya. Dari sekian banyak tugas yang pernah dilaksanakannya, mulai dari membunuh, mengintai, menculik, dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Tugas kali ini terasa begitu memakan tenaga—menggendong tubuh seorang Ulquiorra Schiffer.

"Nah, saatnya pergi." ucap Gin sambil berlalu dan mengunci pintu dari luar.

-oOo-

Tap...tap...tap...

Perpaduan langkah senada yang kompak milik Orihime dan Ichigo. Keduanya masih membisu. Hingga...

"Kurosaki, kenapa berhenti?" tanya Orihime menatap Ichigo yang diam terpaku di sampingnya.

"ngg...bisa tidak... Kita berbalik arah sebentar?" pinta Ichigo.

"eh, mau kemana?" tanya Orihime.

"Ke padang rumput di tepi sungai dekat jembatan." jawab Ichigo.

"baiklah, kalau Kurosaki ingin kesana..."

Belum habis Orihime berkata, Ichigo menarik tangannya lembut.

"Ayo!" kata Ichigo sambil tersenyum.

Orihime hanya mengangguk. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Orihime sungguh bahagia. Memang bukan pertama kalinya Ichigo memeggang tangannya. Namun entah kenapa, kali ini terasa lebih hangat dari yang sebelumnya.

'Andai saja, Kurosaki. Andai aku bisa mengatakan dengan jujur rasaku yang itu terlalu sukar untukku.' batin Orihime.

Langkah mereka terasa begitu ringan dan cepat. Sebentar saja mereka sudah berdiri di antara padang rumput di tepi sungai yang dimaksud Ichigo tadi.

"Bagaimana, indah kan?" kata Ichigo sambil menunjuk ke arah matahari terbenam di ufuk barat, tepat di hadapan mereka.

Orihime terbelalak. Begitu sering rasanya ia melewati tempat ini. Tapi, baru kali ini rasanya ia benar-benar melihat dengan seksama matahari terbenam yang begitu indah. Semburat oranye yang terlukis apik tak bertepi bagaikan lautan lepas di langit luas. Cahaya menerpa dua insan yang begitu menikmati pesona alam yang indah itu, membentuk dua bayangan diagonal yang begitu menyatu.

"Rambutmu..." celetuk Ichigo.

"Apa?" Orihime tidak mengerti.

"Warna cahaya matahari terbenam itu mirip warna rambutmu." jelas Ichigo.

"Oh, benarkah? Menurutku, mirip juga dengan warna rambut Kurosaki. Sama-sama oranye." tutur Orihime.

"Tapi lebih indah jika disandingkan dengan warna rambutmu, Inoue. Kalau rambutku, seperti daun maple setengah kering di musim gugur. Mencolok sekali." keluh Ichigo.

"Tapi aku su...umppp..." Orihime membekap mulutnya sendiri.

'hampir saja aku mengatakan "aku suka". Dasar Orihime! Bodoh..bodoh!' gerutu Orihime dalam hati.

"Tapi kamu apa? dan, kenapa kamu menutup mulutmu, Inoue?" Ichigo yang heran tampak ingin sekali mendengar kelanjutan dari perkataan Orihime.

"Aku...eh...aku bilang...Aku su..sudah harus pulang. Dan tadi aku menguap karena mengantuk, makanya aku menutup mulutku. Iya, begitu..Kurosaki." Orihime berupaya keras agar jawabannya terlihat meyakinkan.

"Oh, begitu. Ya, sudah. Ayo, aku antar kamu pulang."

"Eh, tidak perlu Kurosaki. Aku bisa pulang sendiri, kok. Sungguh."

Ichigo menggeleng, "Tidak bisa begitu, Inoue. Aku sudah mengajakmu, jadi aku juga yang harus mengantarmu."

"Tapi, aku tidak apa-apa, kok. Lagipula, Kurosaki pasti lelah." kata Orihime.

"Kalau tidak melihatmu benar-benar selamat sampai di apartemen, aku cemas. Ayo, jangan membantah." pinta Ichigo sambil menarik tangan Orihime.

Orihime betul-betul tidak bisa membantah. Sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Ichigo, ia hanya tersenyum kecil. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat, namun mewakili kebahagiaan yang teramat besar dalam hati seorang Orihime Inoue.

-TBC-

Nyuuuu~

Di chapater ini sedikit lebih banyak mengulas Orihime. Tapi, next chapter akan lebih banyak tentang Ulquiorra. So, Ulqui FC bersabar ya^^

Update kali ini lumayan cepat deshou?

Soalnya, cerita dari awal sampe akhir itu udah terbayang di kepala. Kendalanya sih, Cuma bagaimana menuliskannya supaya enak dibaca. ^^

Homma ni arigatou untuk review para readers.

Semuanya membuat Jiya lebih termotivasi untuk melanjutkan fanfic ini dengan lebih baik tanpa patah semangat.

Ganbarou! d^o^b

See ya in the next chaptaa... ^o^

Jiya-chu~