Kenapa saya malah buat fic ini? Padahal fic yang lain masih numpuk "orz #nyadar -gedebuk# tapi fic ini sebenarnya special buat my lovely uke, MiuScarlet XD
Oke, maybe this is threeshot or fourshot fic. Happy reading~! :D
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, Sakura POV, shonen-Ai, typo?
Genre : Romance/Fantasy/a little bit Humor
Pairing : SasuSaku
Flames NOT ALLOWED and that won't work with me
.
.
MY FUTURE
"Ngg!" suaraku mendengung saat aku bergumul di dalam selimutku. Berkali-kali aku merubah posisi agar kembali nyaman dan tidak kalah dengan sinar matahari yang seenaknya masuk melalui celah-celah kamar tidurku. Aku malas sekolah hari ini Kami-sama, karena itu kumohon biarkan aku kembali ke alam tidurku!
Samar-samar aku mendengar suara pintu dibuka. Beberapa saat kemudian seseorang menarik paksa selimut hangatku, "SAKURA, BANGUN! KAU MAU SEKOLAH JAM BERAPA?" dan teriakan sang pelaku menggema di dalam kamar tidurku. Aku mendengus kesal, segera aku membuka mata dan menatap kesal pada nenek-nenek di depanku.
"Aku sudah bangun nek," jawabku malas. Nenek Chiyo sang pelaku tadi, melipat dadanya di depanku. Seolah mengatakan 'aku-tak-akan-pergi-sampai-kau-masuk-ke-kamar-mandi'. Sial.
Aku mendengus dan memutar bola mataku, "Iya iya," aku berjalan lunglai melewati nenek Chiyo dan mengambil handuk di dalam lemari. Berkali-kali aku menguap untuk menunjukkan pada nenek bahwa aku benar-benar mengantuk hari ini. Tapi hasilnya? Nihil.
Ah maaf aku lupa, sebelumnya salam kenal. Namaku Sakura, gadis biasa dengan kehidupan biasa. Tidak kaya tapi juga tidak miskin. Orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan entah apa, aku juga tidak tahu. Yang jelas kata nenek, orang tuaku meninggal beberapa saat setelah ibu melahirkanku. Sekolahku juga sekolah biasa, bernama SMA Konoha. Nothing special in my life, mungkin itu bahasa kerennya.
Memang tidak ada yang spesial, tapi ada yang terburuk. Dan sesuatu yang terburuk itu akan kutemui di sekolah nanti. Selesai mandi, aku masih harus sarapan bersama dengan nenek atau aku akan diceramahi selama 5 jam ke depan. Untungnya sarapan hari ini hanya roti dan susu jadi aku tidak perlu berlama-lama mendengarkan omelan nenek setiap pagi di meja makan.
Setelah meminta izin, aku segera berjalan keluar dan membuka pagar. Di luar rumah aku melihat beberapa anak sekolah lain di sekitar rumahku juga sudah siap berangkat. Beberapa dari mereka menyapaku yang hanya kubalas dengan cengiran tak berarti. Aku biasa berjalan menuju sekolah, namun itu bukan berarti rumahku dekat dengan tempatku menuntut ilmu itu. Sebenarnya hanya untuk menghemat ongkos saja.
Craat
"Ouch!" aku berdecak kesal. Oh tidak, lagi-lagi. Ini sudah yang kelima kalinya dalam seminggu aku terkena cipratan lumpur di jalan saat akan menuju sekolah. Aku menggerutu kesal, begitu kulihat mobil apa kali ini yang 'mencelakakan'ku. Aku mengutuki pagi hari ini.
"Hn, hai Sakura," sapanya setelah si pantat ayam sialan itu menurunkan jendela mobilnya dan menatapku. Emeraldku bertemu dengan onyxnya. Sedetik kemudian, aku membuang muka dan kembali berjalan lurus.
"Dingin sekali kau," ucapnya sambil memajukan mobilnya. Saat ini aku berjalan dan di sampingku si pantat ayam dengan mobilnya entah mengapa mengikutiku.
"Biasanya juga kau dingin," ketusku, "ah aku memang benar-benar sial hari ini," gumamku pasrah. Dan sepertinya si pantat ayam alias Sasuke Uchiha itu mendengar gumamanku.
"Hn, nasib sial memang tidak ke mana," responnya tanpa perlu kutanggapi, "mau ikut denganku? Tenang saja, tak perlu menjaga gengsi," tawarnya. Aku sedikit tersentak dan menoleh menatap laki-laki itu.
Aku sedikit bergidik ngeri melihat seringai Sasuke yang entah kenapa terlihat menyeramkan bagiku, "Aku tak sudi satu mobil denganmu, dasar pantat ayam!" cercaku. Dan sesaat kami bertatapan, tawa Sasuke meledak.
"Hahahaha dasar bodoh, terserah sih toh aku sudah baik mau menawarkan tumpangan padamu," tawanya. Nada bicaranya jadi terlihat lebih santai dari sebelumnya, "emm sebelum aku pergi, ada baiknya aku menyarankanmu untuk melihat jam berapa sekarang," ujarnya. Aku terdiam bingung, spontan aku melihat jam dan—
"HAH? SIAL, 5 MENIT LAGI BEL MASUK!" teriakku histeris. Dan tanpa aba-aba aku langsung berlari padahal jarak sekolah masih cukup jauh. Sementara aku melihat mobil Sasuke melesat maju melewatiku, jendelanya terbuka dan seketika aku mendengar Sasuke berteriak.
"Sampai bertemu di sekolah Sakura~!"
Aku bersumpah akan mencekik pantat ayam itu di sekolah!
.
.
"Hah hah pagi sensei.." engahku yang kelelahan. Aku membuka pintu kelasku dan di dalamnya berdiri Asuma-sensei, guru paling galak di sekolah ini. Oh mungkin Kami-sama memang tidak berpihak padaku hari ini.
"Kau telat Haruno?" tanyanya sinis. Aku mengangguk gugup, "Huh, sini berdiri di depan kelas!" perintahnya sambil menunjuk pojokan kelas. Aku menghela nafas dan akhirnya dengan berat aku menuruti guru killer itu.
Aku berdiri di pojokan kelas. Sementara aku memperhatikan beberapa siswa yang menatapku sambil tertawa. Hahh bahkan Ino pun tertawa sumringah dan membentuk kode tangan yang berarti 'sabar-ya-forehead' uh ingin kulempar mukanya yang puas itu. Alih-alih pandanganku kini berhenti di tempat duduk musuh terbesarku, Sasuke Uchiha. Aku merengut tak suka saat Sasuke menatapku lalu tertawa kecil dan menggeleng. Sial, seandainya tak ada guru sudah aku lempar mukanya dengan penghapus papan tulis di depanku ini.
Ah perlukah kukasih tahu kalau aku dan Sasuke sudah terkenal sebagai 'pasangan rival mengerikan' sejak SMP? Semuanya berawal saat di SMP Konoha, aku menjadi ketua kelas di kelas dua. Lalu Sasuke datang sebagai anak baru, dan takdir menyebalkan membuatku dipilih wali kelas untuk mengantar Sasuke keliling sekolah. Bagian dalam tidak setampan luarnya. Setiap aku menjelaskan satu-satu tempat yang kami lewati, Sasuke selalu memberi kritik atau komentar pedas. Awal aku bisa sabar, tapi aku juga manusia yang punya batas kesabaran!
Sejak itu, kami jadi sering adu mulut. Awalnya aku masih bisa dikontrol, tapi lama kelamaan tidak. Aku sering lepas kendali jika sudah 'bertarung' dengan pantat ayam itu. Bahkan bukan tak mungkin aku menendang Ino saat sahabatku itu ingin meleraiku dengan Sasuke. Sama sepertiku, kadang Sasuke juga mendorong Naruto apabila sahabatnya itu ingin menghentikan kami. Nah kalian mengerti? Kesimpulannya, tidak ada yang berani mendekati kami saat kami memulai adu mulut.
Pluk
Aku mengernyit saat ada kertas yang sudah diremas menjadi bola jatuh di dekat kakiku. Dengan ragu aku berjongkok dan mengambil bola kertas itu lalu membukanya. Isinya huruf besar semua dan sepertinya aku mengenal tulisan ini.
WARNING!
ADA PINKIE BODOH YANG DISETRAP DI SMA KONOHA! (~'O')~
A.. Apaan nih? Sialan! Aku menengadah dan mencari siapa yang membuat tulisan menyebalkan ini. Bingo! Sesuai yang kuduga, Sasuke sedang menatapku sambil menjulurkan PANTAT AYAAAM!
Bletak!
Ups gawat, aku lepas kendali. Baru saja aku mengambil penghapus papan tulis dan kulempar ke kepala pantat ayam itu. Harusnya aku bangga karena tepat sasaran, apalagi saat Sasuke tengah meringis kesakitan. Tapi masalahnya, adalah si Asuma itu. Aku menelan ludah saat keadaan kelas jadi hening dan guru killer itu menatapku horror.
"Haru—"
Braaak!
"APA-APAAN KAU PINKIE?" teriak Sasuke tiba-tiba sambil menggebrak mejanya dan berdiri. Mata onyxnya menatapku tajam, tapi dia bilang apa tadi? Pinkie? What the..?
"KAU YANG DULUAN PANTAT AYAM!" teriakku tidak mau kalah.
"Tapi kan nggak perlu lempar penghapus segala, bodoh!" balas Sasuke tidak mau kalah. Aku menggertakan gigiku.
"Terus kau maunya apa? Sepatu?" tanyaku balik. Oh gawat, aku benar-benar lepas kendali sekarang. Dan sepertinya Sasuke juga.
"PINKIE!"
"PANTAT AYAM!"
"DADA RATA!"
"SOK KEREN!"
"SUDAAAAAH!" teriakan Asuma-sensei menggema, membuat aku maupun Sasuke membeku di tempat. Kami saling mendelik tajam sementara Asuma menatap kami horror bergantian.
"Uchiha dan Haruno, sepulang sekolah kalian bersihkan kamar mandi, lapangan, kelas, ruang UKS, SEMUANYA! Tidak ada protes, TITIK!" perintah Asuma tegas. Kalau sudah begini, tidak ada satupun anak yang berani melawan suami dari Kurenai-sensei tersebut. Aku menelan ludah meratapi nasib.
Uh, Kami-sama tolooong~
.
.
Hahh, badanku pegal-pegal semua hari ini. Gara-gara si pantat ayam sialan itu aku jadi kena hukuman menyebalkan. Mana dia kerjanya cuma dikit! Pokoknya si pantat ayam itu benar-benar gak mensyukuri hidup. Awas saja dia!
"Uuuh, aku ingin cepat-cepat dewasa dan lulus dari SMA Konoha lalu hidup bahagia dengan suamiku, bebas dari Sasuke Uchiha, SELAMANYAAAA!" teriakku seperti orang gila di jalanan. Tak apa, biarkan saja toh jalanan juga sepi begini karena sudah malam. Aku mengumpat kesal dan menendang-nendang batu kecil di depanku.
"Penasaran?"
Aku tertegun. Suara siapa tadi? Aku menoleh ke kanan, kiri, dan belakang tapi tak ada siapa-siapa. "Di atas," ucap suara itu lagi. Dengan takut-takut aku menengadah dan hampir saja melonjak kaget saat melihat seekor eh bukan, seseorang duduk di atas pohon dan menatapku dengan cengiran yang aneh.
"Si.. Siapa?" tanyaku takut-takut. Orang itu norak sekali, rambutnya ngebob tapi mukanya bapak-bapak bahkan alisnya pun tebal. Dan—oh apa itu? Ada bulu mata di bawah matanyaaa! Aaa, makhluk apa itu?
"Ya~haaaa!" teriak orang itu dan sedetik kemudian dia.. MELOMPAT? Hei yang benar saja! Pohon rindang itu tinggi sekali!
"Kyaaa!" aku menutup mata. Takut-takut kalau orang itu jatuh dan kepalanya mendarat duluan. Bagaimana kalau kepalanya pecah? Bagaimana kalau tangan dan kakinya terpisah dari tubuhnya? Bagaimana kalau—Ah sudahlah aku tidak mau membayangkannya!
"Hup," ucap suara itu lagi. Pelan-pelan aku membuka mata, hooh syukurlah dia selamat. Tapi tetap saja menyeramkan, bagaimana dia bisa selamat coba? Mana orang itu malah nyengir di depanku, seolah tidak terjadi apa-apa. Sekilas, aku melihat giginya bercahaya.
"Yup salam kenal nona cantik!" dia membungkuk di depanku, "aku Maito Guy, lelaki tampan dari tahun 2015 hohohoho!" ucapnya tanpa ada keanehan sama sekali. Sebentar, dari tahun 2015? Eh, dia dari masa depan? Hah yang benar saja!
"Aku berumur 30 tahun, mempunyai murid kesayangan bernama Rock Lee, memiliki wajah tampan yang tidak ada tandingannya di dunia ini, suka warna hijau, selalu gosok gigi 5 hari sekali, lalu hobiku—"
"Aa cukup!" potongku sebelum aku pingsan di tempat, apa maunya sih laki-laki tua ini? "Ka.. Kau dari masa depan?" tanyaku tak percaya. Dan jawabannya hanyalah cengiran.
"Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu lady, aku dari tahun 2015," jawabnya santai, "aku datang ke sini karena penasaran dengan diriku di masa lalu, dan saat aku mau pulang, aku mendengar keluh kesahmu di bawah pohon," jelasnya panjang lebar.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" tanyaku masih berusaha mengembalikan kesadaranku. Guy hanya tertawa.
"Hahaha dasar orang zaman prasejarah, hal segampang itu pun kalian tak tahu," ejeknya. Aku mendelik kesal, "tentu saja dengan mesin waktu, apa lagi?" tanyanya balik. Aku menatapnya dengan tatapan, 'mana-mesin-waktu-yang-kau-maksud?'
"Ini dia," ujarnya sambil menunjukkan padaku jam tangan yang dipakainya padaku. Di sana memang tertulis '12-9-2010' itu tanggal sekarang, "cara kerjanya gampang saja, tinggal kau tentukan tanggal dan tahun berapa kau mau pergi di layar ini lalu menekan tombol hijau. Begitu kau mau pulang, tinggal menekan tombol 'back' ini," jelasnya. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya.
"Kudengar kau ingin hidup tanpa Sas Sas—Sascake! Dan hidup bahagia dengan suamimu selamanya," ungkapnya, aku sedikit tertawa geli mendengar nama Sascake, "bagaimana kalau kau pastikan? Mau ikut denganku ke tahun 2015? Kali saja kau sudah menikah di tahun itu," tawarnya.
Aku terlihat berpikir sesaat. Mungkin tidak ada salahnya dicoba, toh aku juga penasaran akan jadi apa aku nanti. Aku mengangkat sebelah alisku dan menatap Guy, "Apa kau bisa kupercaya? Dan apa yang harus aku lakukan agar bisa ikut bersamamu?"
Guy kembali nyengir, "Tenang saja, kau tinggal memegang erat tanganku dan kita akan masuk ke dalam warp time. Aku menjamin keselamatanmu dengan wajahku yang memukau ini," narsisnya. Yikes, aku jadi ingin muntah.
Aku menelan ludah lalu mengangguk, "...Baiklah," Guy tersenyum dan mengulurkan tangannya di depan wajahku. Aku mengangkat tanganku dan memegang tangannya erat. Jujur saja tanganku agak gemetar.
"Siap?" aku mengangguk gugup, "bagus, one two three, LET'S GO!" teriaknya sambil menekan tombol back pada jam tangannya. Spontan aku langsung menutup mataku saat aku merasakan sesuatu seperti angin kencang menerpa wajahku.
Aku benar-benar merasa gugup. Pasalnya aku merasakan diriku seperti melayang, kakiku tidak menginjak tanah sama sekali. Dengan takut-takut aku membuka mata, huwaaa di mana aku? Tempat ini seluruhnya gelap berwarna abu-abu. Yang kulihat hanya Guy. Dia terlihat santai bahkan terlihat menyenandungkan lagu entah apa. Detak jantungku berdegup sangat kencang. Uh, aku benar-benar takut. Aku kembali menutup mataku dan mengeratkan peganganku.
Detik berikutnya, aku merasa diriku terjatuh di atas sebuah kasur yang empuk. Aku meringis kesakitan karena kepalaku yang membentur kasur duluan. Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah kamar yang bernuansa serba hijau. Namun bukan itu yang membuatku merinding, melainkan foto-foto di temboknya adalah foto wajah Guy dengan berbagai macam pose! OMG, laki-laki tua ini benar-benar narsis! Mana alay lagi gayanya! Ah, aku benar-benar ingin keluar dari sini!
"Nah, welcome to my room!" ucap Guy setelah beberapa saat aku terkaget. Dia menunjukkan cahaya di giginya, "jadi? Mau langsung saja?" tanya Guy akhirnya. Aku mengangguk cepat.
Aku mengikuti Guy berjalan keluar kamar. Wah, ini kan daerah di pinggir Konoha. Rupanya rumah Guy tidak jauh beberapa blok dari rumahku. Aku melihat sekeliling, di sini masih siang dan daerah ini tidak banyak berubah, hanya ada beberapa rumah baru di pinggiran sana, dan bendungan baru di sungai dekat rumahku. Lama kemudian, aku berlari menuju blok rumahku sementara Guy ikut berlari di belakangku.
Aku terus berlari dan berhenti di depan rumahku 5 tahun mendatang. Tidak banyak berubah sih, hanya saja sepertinya ada beberapa bagian tembok yang dicat ulang. Aku tersentak saat mendengar suara sandal kayu mendekat. Yang suka pakai begini di sekitar rumahku cuma nenek Chiyo! Segera saja aku menarik Guy sembunyi di balik semak-semak dekat rumahku. Aku mengintip, hm keriput di wajah nenek Chiyo bertambah!
Aku melihat nenek Chiyo mengetuk rumah, "Sakura, buka pintunyaa!" teriak nenek Chiyo. Hahh dasar nenek. Tapi yang membuatku tertegun bukan itu, melainkan seseorang yang membuka pintu rumahku.
"Hn, nenek sudah pulang,"
Sebentar, Sasuke? Ngapain dia di rumahku?
"Ya, mana Sakura?" tanya nenek Chiyo acuh.
"Di dalam, lagi masak," jawab Sasuke datar. Nenek terlihat mengangguk lalu masuk ke dalam. Sementara Sasuke menutup pintu rumahku.
Tapi.. ngapain si pantat ayam itu di rumahku? Oh gawat, aku merasakan firasat buruk. Aku keluar dari semak-semak dan memanjat pagar. Guy terlihat masih mengikutiku seperti tai ikan. Aku langsung berlari ke belakang, tepatnya dapur. Ada satu jendela di sana dan karena Sasuke bilang aku sedang memasak, harusnya aku 5 tahun mendatang juga ada di sana. Aku mengangkat kepalaku, benar ada aku di sana. Hee rupanya rambut soft pink milikku ini sudah tambah panjang di tahun ini, panjangnya sepunggung ya kira-kira. Aku masih sibuk menatap diriku yang sedang memotong tomat, sampai pemandangan selanjutnya membuat aku ingin menusuk diriku sendiri!
"Sakura," Sasuke berjalan dan memeluk aku dari belakang. Saat ini, mulutku sudah terbuka melihatnya, "nenek Chiyo sudah datang," bisiknya di telinga diriku itu.
"Oh iya Sasuke-kun," kun? Aku merinding mendengarnya. Lalu kulihat aku berbalik dan menatap Sasuke itu la.. lalu...
BERCIUMAN?
Apa? Apaan nih? Hei, apa yang terjadi di sini? Kenapa aku di 5 tahun mendatang berciuman dengan Sasuke? Aku tidak sudi! Tidaaaaak! Bibirku yang berharga... sudah kotor! AAAAA! Sumpah aku bingung, kenapa begini? Kenapa Sasuke menciumku? Dan yang membuatku tambah bingung...
KENAPA AKU MENERIMA CIUMANNYAAA?
"Aduh, dasar pengantin muda zaman sekarang!" gusar nenek Chiyo dari belakang dua pasangan itu. A.. Apa tadi katanya? Pengantin muda? "Jangan bermesraan terus! Sasuke juga jangan ganggu istrimu yang lagi masak, nenek lapar!" cerocos nenek Chiyo. Kulihat Sasuke mencium leher aku sekilas dan nyengir, sesaat kemudian dia pergi dengan seringai mesum khas miliknya yang sungguh mengerikan!
Tapi..
Pengantin? Suami? Istri? Sasuke? Aku?
Seketika aku merasakan lututku lemas, dan aku pun jatuh terduduk, menyandar pada tembok di belakangku. Kulihat Guy mengambil alih posisiku mengintip jendela dan bergumam, "Jadi itu suamimu ya? Hmm, cukup tampan walau masih belum bisa mengalahkanku," ucapnya saat kepalaku mulai terasa pening, "hei, kenapa kamu? Sudah puas belum?" tanyanya lagi sambil mendekatiku.
"Sasuke jelek, si pantat ayam menyebalkan..." aku bergumam sendiri, "..jadi suamiku?" aku menatap kosong di depanku. Guy mengangkat sebelah alis tebalnya.
"Hee, jadi itu yang namanya Sascake?" tanyanya tanpa kuberi respon, "kenyataannya dia sudah menjadi suamimu, sekarang kau mau apa?" tanya Guy penasaran.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak! Masa depan ini pasti akan kuubah!" aku bertekad, "pokoknya aku tidak sudi menjadi istri si pantat ayam yang sudah menjadi musuhku sejak SMP, TIDAK SUDI!" teriakku menggebu-gebu.
"Hei jangan teriak-teriak! Kalau mereka dengar gimana?" tanya Guy sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, tanda menyuruhku diam. Aku mendengus lalu menatap Guy.
Aku menarik nafas. Pokoknya masa depan ini tidak boleh ada! Aku tidak mau! "Guy! Ayo kita taruhan!" ajakku, Guy menatapku bingung, "kalau aku tidak berhasil merubah masa depan, maka aku akan melakukan satu permintaanmu apa saja!" tantangku.
Guy terlihat berpikir sesaat lalu menyeringai, "Hmm boleh boleh, sepertinya menarik," jawabnya. Heh! Kalian juga, para pembaca! Pegang kata-kataku! Aku bukan perempuan yang akan menarik ucapanku!
Aku tersenyum yakin, seolah aku akan benar-benar bisa merubahnya. Sejujurnya aku masih ragu. Detak jantungku berdegup kencang. Jauh di lubuk hatiku aku berteriak...
KAMI-SAMA, SEMOGA INI HANYA MIMPI..!
.
To Be Continued
Hemm jadi deh. Entah kenapa ide ini terlintas begitu saja. Sebenarnya unsur pindah ke masa depan ini kudapat setelah membaca Hai! Miiko! Pokoknya yang edisi Miiko jadi anak SMA, ada yang tahu? XD
Tapi tenang saja, sisanya murni dari ideku sendiri. Seperti ficku yang lain hohoho. Sebenarnya ide fic ini tadinya mau aku buat untuk pair 'SasuSai' tapi begitu sampai tengah, tiba-tiba feelnya hilang dan jadi aja kembali ke SasuSaku~ X3 #bangga -dhuak#
Oke, SS for SasuSaku (and SasuSai)! #dihajar tetangga# boleh minta review? :3
