NOTES:
DOAKAN SAJA UPDATE BERIKUTNYA LEBIH CEPAT, YANG BERARTI TUGAS-TUGASKU JUGA CEPET SELESAI :"D
Tambahan:
"AaBbCc" – Ucapan biasa (Kutip dua biasa)
'AaBbCc' – Pikiran (kutip tunggal dengan huruf miring)
Pada chapter ini:
"AaBbCc" – Ucapan yang terdengar dari alat elektronik seperti radio, pengeras suara, telpon atau suara seseorang yang terdengar sangat pelan. Atau ucapan yang mempertegas sesuatu. (Kutip dua dan huruf miring)
𝙲𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚂𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖𝚗𝚢𝚊...
Artur mulai ragu. Ia benar-benar ingin pergi dari tempat ini bersama adik-adiknya. Tapi akankah mereka berhasil? Haruskah ia mempercayai Noah?
Bagaimana dengan Dion dan Erla? Apakah ia harus meninggalkan dua adiknya di rumah yang bukanlah rumah itu?
Apapun itu, Artur harus bertahan hidup. Ia harus selamat agar bisa bebas dari tempat itu. Hingga ia bertemu dengan paman mata-mata dari Waiss, dan pembunuh bayaran dari Garden...
"Oke, cukup. Penjelasan. Sekarang," desak Paman Vine, pembunuh bayaran yang Artur temui, pada Noah.
"Baik, oke. Perkenalkan, namaku Noah. Lebih tepatnya, itu nama samaranku di 𝙺𝙸𝙽𝙳. Nama asliku adalah Elias Grey."
∙∙·▫▫ᵒᴼᵒ▫ₒₒ▫ᵒᴼᵒ▫ₒₒ▫ᵒᴼᵒ ᵒᴼᵒ▫ₒₒ▫ᵒᴼᵒ▫ₒₒ▫ᵒᴼᵒ▫▫·∙∙
ALLIANZ
Fanfiction by LittlePeanutz
Spy x Family © Endō Tatsuya
𝐂𝐡𝐚𝐩𝐭𝐞𝐫 𝟏𝟐: 𝐒𝐢𝐝𝐞 𝐌𝐢𝐬𝐬𝐢𝐨𝐧 𝐑𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭
Singkatnya, siapakah Antoine von Augony.
𝙻𝚊𝚙𝚘𝚛𝚊𝚗
(KBBI) n segala sesuatu yang dilaporkan.
—ᴬˡˡⁱᵃⁿᶻ ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹²: ˢⁱᵈᵉ ᴹⁱˢˢⁱᵒⁿ ᴿᵉᵖᵒʳᵗ—
Di South Ruddow.
Malam hari.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"...jadi begitu ceritanya…"
Noah—yang ternyata bernama asli Elias Grey—mengakhiri ceritanya, "Kalau paman ingin tahu tempat dimana terdapat paling banyak anggota 𝙺𝙸𝙽𝙳 yang bersembunyi, ada dua tempat di Ostania. Salah satunya Universitas Berlint, begitulah caraku memasuki 𝙺𝙸𝙽𝙳."
Umbra dan Vine hanya terdiam mendengarkan. Sementara Artur dan dua anak lainnya berusaha untuk memahami cerita tersebut.
"Lalu aku sempat dengar kalau akan ada pertemuan di Ruddow. Banyak sekali orang baru yang hadir di pertemuan itu sebagai pesuruh. Setelah aku mencari tahu, sebagian besar yang datang ke tempat ini hanyalah orang-orang biasa di 𝙺𝙸𝙽𝙳. Nggak ada Antoine atau orang-orang penting ke sini. Bahkan bos ku nggak datang! Hanya ada Nyonya Gracie, yang bisa ditutup dengan uang. Jadi kupikir itu bisa menjadi tempat yang bagus untuk bisa menyelinap keluar dari 𝙺𝙸𝙽𝙳…"
"Kemudian aku mendengar dari bosku kalau anak-anak eksperimen ini bakalan ada di sini. Makanya aku segera mencari tahu gimana caranya untuk bisa ke tempat ini. Akhirnya aku berhasil memasuki tempat ini sebagai suruhan dari salah satu Antoine…"
"Tunggu sebentar," Vine lalu memotong pembicaraan Noah. "Kamu bilang di sini isinya orang-orang biasa di KIND?" tanya Vine memastikan. Noah lalu mengangguk tanpa menjawab.
"Itu sebabnya di sini isinya orang-orang yang amatiran…" guman Umbra yang masih bisa terdengar.
"Dan kamu hampir mati gara-gara para amatir tersebut," ejek Vine.
"Diam."
"Oke, baik fokus. Kamu bilang di sini isinya orang-orang biasa, lalu kamu bisa mendapat akses masuk ke tempat ini dengan mudah, begitu?"
Noah mengangguk lagi.
"Terus kenapa kamu nggak curiga?" tanya Vine.
Noah mulai bingung menjawabnya, "K-Kenapa a-aku harus curiga?" Apakah dia sudah melakukan kesalahan sejak saat itu?
"K-Karena tanpa sadar kamu telah masuk ke dalam rencananya [Antoine] ini," giliran Umbra menjelaskan. "S-Seperti yang kamu bilang, gedung ini berisi orang-orang terbodohnya 𝙺𝙸𝙽𝙳. Bukan tanpa alasan, tapi [Antoine] ini m-memang ingin membersihkan orang-orang ini, dan kamu kebetulan termasuk di dalamnya. E-Entah apa yang telah kamu lakukan sebelumnya, m-mungkin kamu melakukan sesuatu yang bikin Antoine curiga makanya ia dengan mudah membiarkanmu masuk. Kamu selayaknya berjalan menuju lubang kematianmu sendiri."
Noah yang mendengarnya langsung pucat pasi.
"Itu menjelaskan semuanya…" Vine bergumam, ia mulai menyadari sesuatu.
"Kenapa? Ada apa?"
"Begini. Pantas aja hari ini rasanya mudah sekali," ungkap Vine, "maksudku, seluruh jalan di Kota Ruddow itu kan terkenal sangat sulit buat dilewati karena jalannya yang sangat bercabang dan berliku juga amat sangat sering sekali terjadi penutupan jalan. Tapi tadi aku ke sini nggak ada satupun jalan yang kulalui yang ditutup. Awalnya aku bersyukur, tapi jika dipikir-pikir lagi, ini seakan-akan aku dipermudahkan menuju tempat ini."
"Lihatkan? B-Bukan sebuah kebetulan," Umbra membenarkan. "L-Lalu, jika ditengah-tengah pembunuhan kamu ketemu dengan anak kecil seperti mereka—" Kemudian bertanya ke Vine sambil menunjuk ke arah Artur dan anak lainnya, "—Apakah kamu juga bakal ngebunuh mereka?"
"Tentu aja nggak! Aku nggak membunuh anak kecil!" seru Vine. "Tunggu," Ia menyadari sesuatu, "gimana dia tau kalau aku nggak bakal ngebunuh anak kecil?!"
Umbra berpikir sebentar, "Entahlah. Gambling menurutku. Pembunuh bayaran profesional yang masih memiliki hati nurani yang kutahu nggak akan membunuh anak kecil, meski ada beberapa pembunuh di luar sana yang juga nggak segan-segan buat melakukan itu. Jadi kupikir [Antoine] ini melakukan gambling dengan anak-anak ini."
"Gila… meng-gambling nyawa orang…" Vine mengumpat. "Aku awalnya memang sudah curiga dengan semua ini setelah mendengar ceritanya. Tapi aku nggak tau bakalan segila ini."
"Lalu anak-anak ini buat apa? Kenapa mereka ada di sini?" tanya Noah.
"Umpan," jelas Umbra, "B-Buat orang sepertimu."
Pada saat itu Noah mengutuk dirinya dalam-dalam. Bisa-bisanya dia termakan umpan seperti ini?! Kenapa ia tidak curiga sedikitpun?!
"Antoine m-mungkin memperkirakan hanya anak-anak ini aja yang bakal selamat dari pembantaian massal di tempat ini. L-Lalu anak-anak ini bakal dibawa oleh Sang Pembunuh untuk diselamatkan jika pembunuh itu memiliki hati nurani. Bla bla bla entah gimana caranya Antoine atau 𝙺𝙸𝙽𝙳 akan melacak anak-anak ini. Tapi menurutku b-bukan itu tujuan utama dari [Antoine]. Nggak sesimpel itu," Umbra kembali menjelaskan, meski napasnya masih sedikit tersendat akibat efek dari racun racun yang belum hilang.
Vine perlahan mulai memahami maksud dari Umbra, "Anak-anak ini digunakan buat mancing Si Kecoak keluar."
"I-ini emang kedengaran agak nggak masuk akal tapi dari tadi aku kepikiran. C-Coba bayangkan skenario ini, kamu bisa ngebuktiin kalau kamu nggak berada di pihak 𝙺𝙸𝙽𝙳 pada anak-anak ini dengan kemampuan membaca pikiran mereka sehingga kamu bisa aman dari Sang Pembunuh karena telah dijamin sama anak-anak ini. T-Terdengar familiar?" Umbra menoleh ke arah Noah, berharap remaja itu mengerti maksudnya.
Remaja itu tak membatu, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Melihat ekspresi yang dibuat oleh remaja itu, Umbra yakin Noah mengikuti penjelasannya.
"Yap, seperti yang sedang terjadi sekarang. Lalu kamu b-bakalan kabur bersama Sang Pembunuh. Gak akan ada yang sadar kalau kamu hilang karena semua orang akan berpikir nggak bakal ada yang selamat dari pembantaian massal di tempat ini. Tapi nyatanya?" lanjut Umbra. Ia kembali memerhatikan ekspresi yang dibuat oleh remaja di depannya, "A-Aku merasa kalau mereka bakalan kesini lagi buat mengecek satu per satu jumlah tubuh di sini dan nantinya menemukan satu yang hilang. Siapa yang hilang? Kau."
Mata-mata itu menunjuk ke arah remaja yang masih belum berpengalaman.
Skenario yang sangat tidak masuk akal sekaligus juga bisa dibilang masuk akal… Bagaimana bisa ada orang yang kepikiran seperti itu?! Kenapa bisa kepikiran sejauh itu?! Kenapa Noah tidak menduga hal itu sebelumnya?!
Noah menggigit bibir bawahnya, "Maafkan aku… Aku nggak kepikiran sampai ke sana…" Memangnya siapa sih yang kepikiran buat ngecek satu per satu mayat yang ada di sini?!
Lalu ia melirik ke arah Artur dan anak-anak lainnya, "Begitu pertama kali aku melihat anak-anak ini, aku nggak berpikir panjang. Aku cuman ingin segera mengeluarkan mereka dari tempat itu. Benar-benar ingin." Noah mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, "Maafkan aku. Aku ceroboh dan idiot."
Umbra langsung memotong penyesalan Noah, "Tidak, kamu sama sekali nggak idiot," tegasnya, "Justru orang yang memikirkan rencana ini hanyalah orang gila yang paranoid. Aku juga nggak kepikiran skenario seperti ini jika aku nggak melihatnya dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dilihat dari manapun, rencana ini banyak sekali kekurangannya, tapi entah bagaimana bisa berhasil sampai sejauh ini. Tapi tetap, tindakanmu memang ceroboh."
Vine menepuk kepala Noah. "Kamu terlihat cukup muda buat terlibat dengan ini semua. Tapi sekali lagi, kita masih berada di masa-masa pasca perang. Nggak ada yang terlalu muda dalam hal ini. Kami juga memiliki perasaan yang sama, ingin menyelamatkan anak-anak ini. Jadi kamu harus lebih berhati-hati. Kita masih tinggal di masa dimana dunia gak mentolerir kecerobohan," tegur Vine dengan tegas juga.
Noah mengangguk mengerti. Dalam hati ia masih merutuk dirinya sendiri. Umbra memang sudah menggaris bawahi bahwa ia tidaklah idiot, tapi jelas-jelas ceroboh. Ia tidak percaya melakukan kecerobohan ini yang bisa mengancam nyawanya serta nyawa anak-anak ini.
"B-Baiklah, kita tetap kembali ke rencana awal yang tadi," seru Umbra mengubah topik pembicaraan. Ia lalu menunjuk ke arah Vine, "Kau bawa buku catatanku bersamaan anak-anak itu dan berikan pada Twilight."
"Terus kamu sendiri gimana?"
"Aku bersama anak ini—" Umbra menunjuk ke arah Noah, "—kabur lewat jalan lain."
"Jalan lain?"
Umbra masih berusaha menahan rasa sakit yang masih tersisa. "Selain ruangan rahasia yang ada di lantai enam yang menuju ke parkiran belakang, aku telah menghafal seluk beluk tempat ini, termasuk daerah di sekitarnya. Ada banyak sekali kamera pengintai di tempat ini dan aku tahu titik dimana aja yang terhindar dari itu. Aku berhasil melewatinya ketika datang ke tempat ini dan aku berniat kembali dengan cara yang sama."
Noah ragu dengan rencana itu. "Tapi itu sangat beresiko…"
"Kita harus mengambil resiko untuk menghadapi orang yang paranoid ini."
"Mata-mata itu benar," potong Vine. "Kamu ikut dia. Antoine cuman menduga kalau ada kecoak di sini, tapi mereka belum tahu siapa dan berapa. Jika kamu ketahuan tertangkap kamera keluar hidup-hidup dari gedung ini, mati sudah."
"Perlu diingat, orang paranoid itu sangatlah teliti dan waspada. Tapi itu bisa menjadi kelemahannya."
Noah tak lagi menentang. "B-Baiklah…" Ia akhirnya menyetujui rencana beresiko tersebut.
Mungkin itu adalah rencana terbaik yang bisa dipikirkan sekarang, mengingat kedua pria di depannya ini merupakan orang-orang profesional dan lebih berpengalaman dari pada dirinya dalam situasi ini. Apalagi orang yang dihadapinya adalah Antoine. Jangan pernah macam-macam dengan Antoine.
"A-Aku punya rekan yang menungguku di mobil di dekat jalan raya utama. Awalnya aku memang niat kabur dari tempat ini sebelum rencana bodohku berantakan. Kita bisa pergi pakai itu," usul Noah pada Umbra, ia juga ingin ikut berkontribusi pada rencana itu walau sedikit.
"Ide yang bagus," Umbra menyetujui usulan itu. "Apakah kamu sempat berkomunikasi dengan rekanmu itu?"
"Tidak. Mereka selalu menggeledah para pesuruh secara acak di sini. Alat komunikasi sangat beresiko ketahuan. Tapi aku udah bilang untuk segera meninggalkan tempat ini jika jam empat pagi aku tidak berhasil menemuinya…"
"Jam empat?" Vine melihat ke arah jam tangannya. "Kita masih punya beberapa waktu."
"Oke, sebelum itu," Umbra mulai berdiri dari duduknya. Tubuhnya sedikit sempoyongan akibat terlalu lama duduk. "Apa k-kamu punya bahan peledak?" tanya Umbra tiba-tiba.
Hah?
"Bahan pe-peledak? Seperti bom?"
"Yap."
Noah berusaha mengingatnya. "Ng, Nggak ada… Tapi… aku sempat lihat ada satu kotak berisi bahan peledak kecil saat bongkar muatan tadi. Kurasa sekarang tersimpan di lantai lima…" terang Noah.
"B-Bagus. Mungkin ini kedengaran agak gak manusiawi dan menjijikan, tapi kita akan menghancurkan beberapa identitas mayat disini supaya gak dapat dikenali. Jaga-jaga kalau 𝙺𝙸𝙽𝙳 beneran k-kembali ke tempat ini dan bakalan nyari identitas pengkhianatnya seperti dugaan kita."
—ᴬˡˡⁱᵃⁿᶻ ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹²: ˢⁱᵈᵉ ᴹⁱˢˢⁱᵒⁿ ᴿᵉᵖᵒʳᵗ—
"Jadi, maksudmu… Agen Umbra… masih hidup?"
Twilight masih berusaha mencerna apa yang baru ia dengar dari anak berambut merah yang sedang duduk di depannya, Artur.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Satu setengah jam setelah tiba di Rumah Persembunyian K.
26 jam setelah pertemuan Artur dengan Umbra dan Vine.
Di suatu tempat di West Berlint, Ostania. Rumah Persembunyian K.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"B-Benar."
Artur menjawab ragu mengakhiri cerita panjangnya. Tangannya ia kepalkan di atas lutut, kebiasanyaanya ketika merasa takut. Ia masih takut dimarahi jika ada salah kata yang terucap olehnya, meski ia tahu paman dan bibi—maksudnya, kakak—mata-mata yang ada di depannya ini tak akan memarahi atau bahkan memukulnya.
"Hm, Anak-anak eksperimen… pembunuh bayaran dari Garden… agen Umbra yang terluka… uji coba di Berlint…" Sylvia berusaha mencerna cerita yang hampir tak masuk akal yang baru saja ia dengar untuk kedua kalinya hari ini.
Dunia sudah makin aneh dan manusia makin menggila. Apa-apaan eksperimen pada anak-anak…
"S-Saya hanya tahu sampai disitu. Setelah itu, orang-orang dewasa yang jahat ada yang datang lagi, lalu Paman Vine membunuh semuanya lagi. Kemudian Paman Umbra dan Noah meledakkan gedungnya. Noah pergi bersama Paman Umbra, kami pergi bersama Paman Vine. Itu terakhir kalinya kami bertemu dengan Paman Umbra… Maaf—" jelas Artur.
"Nggak apa-apa, nggak ada yang perlu diminta maafkan. Mengetahui anggota kami selamat saja sudah berita yang sangat bagus," Sylvia menepuk pundak Artur perlahan, menghentikan kebiasaan anak itu yang selalu meminta maaf pada setiap tindakan yang dilakukannya.
"Hm… [KIND] ya…" gumam Twilight sambil membuka buku catatannya, ia sudah menyalin sebagian besar informasi penting dari buku catatan Agen Umbra yang baru saja ia amankan dari Kota Ruddow ke dalam buku catatannya. Kini buku catatan asli milik Umbra sedang dalam perjalanan ke markas besar oleh rekannya Umbra untuk diserahkan dan dianalisis lebih lanjut.
"Apakah Anda pernah mendengar tentangnya, Handler?" tanyanya pada pengawasnya.
Sylvia mencoba menggali kembali seluruh informasi yang ada di kepalanya. "Sebenarnya itu bukanlah nama yang sering muncul dalam radar W.I.S.E., mungkin hanya beberapa kali. Tapi setahuku organisasi itu tak ada hubungannya dengan konflik antara Timur dan Barat."
"Aku juga berpikiran seperti itu. Kemungkinan kenapa W.I.S.E. mulai menyelidiki KIND karena akhir-akhir ini S.S.S. juga menyelidikinya…" kata Twilight. Mata-mata itu lalu berdiri dan mengambil topi dan jaketnya yang tergantung pada gantungan kayu di dekat pintu. "Aku akan minta informasi tentang itu dari informan kenalanku."
"Sekarang?"
"Semakin cepat semakin baik."
"Jam segini informanmu mungkin masih tidur."
Twilight menghentikan langkahnya dan melihat ke arah jam dinding, tengah malam sudah terlampau jauh. Yah mungkin Franky memang sedang tidur sekarang.
"Duduk dulu sebentar, Twilight," perintah Sylvia menyuruh mata-mata itu untuk kembali duduk di kursinya tanpa menoleh. "Kenapa kau jadi terburu-buru sekali hari ini." Pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan itu dilontarkan oleh Sang Handler.
Memangnya dia terlihat seperti itu di mata Handler? Sial.
"Saya tidak begitu, Handler," Twilight mempertegas.
Sylvia mengernyit, meragukan ucapan dari pria pembohong itu. "Jika ada masalah kecil dengan istri atau anakmu pada operasi Strix, kuharap laporan itu bisa ditunda dulu. Aku ingin kita fokus sebentar pada permasalahan KIND ini."
Kalimat pertama yang baru saja dilontarkan itu ingin sekali Twilight protes secara tegas. Ia sedang tidak ada masalah apa-apa dengan keluarga palsunya. Sungguh. Hanya saja ia sedang merasa… ragu. Semua itu gara-gara wanita yang menusuknya di hutan tadi.
"Baik, Handler."
Sylvia lalu menoleh ke arah Artur dan tersenyum. "Sekarang kamu bisa istirahat dengan adik-adikmu di kamar. Ini sudah sangat malam. Terima kasih sudah menceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi tadi. Pasti itu sangat sulit. Kamu sudah sangat berani."
Artur sedikit tergagap, pertama kalinya ia mendapat ucapan terima kasih yang begitu tulus dari orang dewasa… "S-Sama-sama…" Namun ia tak beranjak dari tempatnya. "Tapi saya masih ingin membantu…"
'𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.'
Hari ini Artur memang merasa sangat lelah. Tapi rasa mengganjal di hatinya, entah apa itu, benar-benar mengganggunya. Masih banyak informasi yang harus Artur beritahu ke para mata-mata itu tentang orang-orang dewasa yang berada di rumah yang bukanlah rumah tempat selama ini ia tinggal.
Tapi saking banyaknya yang ingin ia sampaikan, Artur bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Seketika pikirannya menjadi kosong, ia benar-benar merasa sangat takut tak dapat membantu kedua orang ini.
"Kamu bisa membantu kami setelah tidur dengan cukup. Kami udah membolehkanmu bercerita hari ini padahal harusnya kamu sudah tidur sekarang. Jangan paksakan dirimu, kamu baru saja mengalami hari yang berat. Sekarang istirahatlah."
Artur akhirnya mengangguk dan mengucapkan selamat malam. Memang tadi ia bersikeras untuk segera bercerita pada dua orang dewasa ini padahal mereka sudah menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu. Tapi ia benar-benar ingin membantu. Apapun akan ia lakukan demi bertahan hidup dan benar-benar terbebas seratus persen dari organisasi yang mengikatnya.
Perlahan Artur berjalan menuju kamar tidur yang sudah disiapkan untuknya. Adik-adiknya yang sudah tertidur sejak tadi tak bergeming ketika ia membuka pintu kamar. Adik-adiknya bahkan sudah menyiapkan tempat untuk Artur tidur di dekat mereka.
Setelah memastikan Artur memasuki kamarnya, Sylvia mengambil berkas-berkas yang tersebar di atas meja yang ada di depannya. Berkas-berkas yang berserakan itu memuat salinan informasi dan beberapa kode yang ada di buku catatan Agen Umbra yang masih belum sempat diuraikan oleh Twilight.
"Sambil menunggu hasil analisis dari tim analisis," Sylvia mengambil salah satu catatan yang ada di depannya dan menyerahkannya pada Twilight, "Coba lihat di sini, Agen Umbra merujuk 'orang' ini sebagai orang penting di KIND."
Twilight menerima kertas itu. Ditengah-tengah kalimat-kalimat yang hampir memenuhi isi kertas, tertulis sebuah nama cukup tebal dan diberi garis bawah yang begitu mencolok di mata.
[𝒜𝓃𝓉𝑜𝒾𝓃𝑒 𝓋𝑜𝓃 𝒜𝓊𝑔𝑜𝓃𝓎]
"Anda benar. Dari catatan Umbra, memang orang ini terlihat cukup ditakuti di dalam organisasi. Namanya sudah disebutkan 192 kali dalam catatannya."
"Bisa jadi dia adalah pemimpinnya…"
"Mungkin…" Twilight menyerahkan kembali selembar kertas itu pada Sylvia.
"Jadi bagaimana jika kita mulai dari mencari tahu siapa orang ini sebenarnya."
"Antoine merupakan nama yang lumayan umum. Mungkin kita bisa memulainya dari tempat asalnya, von Augony. [Dari Augony]."
Sylvia membuka lebar gulungan peta negara Ostania yang bersebelahan dengan Westalis di atas meja tepat di atas tumpukkan-tumpukkan kertas. Bahkan Twilight tak sadar sejak kapan Sylvia sudah memegang gulungan peta besar itu.
"Yang jelas setahuku tidak ada satupun tempat dengan nama 'Augony' di Ostania maupun Westalis."
"Mungkinkah dari negara lain?"
Dahi Twilight berkerut, "Jangan bilang kali ini ada keterlibatan dengan negara ketiga?" Semoga saja tidak… kumohon…
Sylvia dengan cepat langsung menepis teorinya yang tadi, "Tidak, sepertinya tidak mungkin. Penyebab perang antara kedua negara ini tak ada sangkut pautnya dengan negara-negara tetangga. Jadi sepertinya ini hanyalah hubungan antara Ostania dan Westalis saja."
"Mungkinkah…" Otak Twilight terus berputar, sejenak ia bahkan melupakan wanita yang membuatnya terus kepikiran sejak tadi. Ia terus berpikir dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda.
"Handler, bagaimana jika itu adalah… sebuah anagram?"
"Anagram?"
Anagram adalah salah satu jenis permainan kata yang huruf-huruf di kata awal biasanya diacak untuk membentuk kata lain atau sebuah kalimat, biasanya juga sering digunakan dalam kode. Sylvia yang mengerti maksud dari Twilight lalu mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih berbeda.
"Itu bisa jadi. Kode anagram memang mulai banyak dipakai pada saat perang lalu, tapi ketenarannya sempat hilang pasca perang."
"Itu berarti…" Twilight kembali memutar otak dengan cepat, "Ada sekitar tujuh ratus dua puluh susunan huruf yang dapat terbentuk dari kata [Augony] itu sendiri..."
Sylvia mulai frustasi, ini semua benar-benar memakan banyak waktu. "Sial, kita tidak ada waktu buat permainan kata seperti ini."
"Kita bisa coba mulai dengan mengeliminasi nama-nama tempat yang ada di peta yang gak tersusun dari huruf A, U, G, O, N, dan Y," saran Twilight yang kemudian mengambil pena untuk mengeliminasi nama-nama yang ada di peta.
"Ya, kita bisa lakukan itu. Jika dia benar-benar berasal dari tempat yang bernama anagram dari Augony. Benar-benar mencari jarum di tumpukan jerami." Sylvia ikut mengambil pena dan mulai mengeliminasi.
KREK.
"Bukan 'dia'..."
Terdengar suara pintu terbuka. Twilight dan Sylvia langsung menoleh ke arah kamar tempat tidur anak-anak tadi. Terlihat pintu kamar terbuka sedikit dan kepala Artur menyembul dari balik pintu.
"Artur… belum tidur?" tanya Sylvia pelan, berusaha untuk tidak menakuti anak tersebut. "Maaf, kita terlalu berisik ya?" Padahal ia merasa kalau dia dan Twilight tidak bersuara terlalu kencang.
"Maaf… Saya mendengar pembicaraannya…"
"Tidak, nggak perlu minta maaf, sayang," Sylvia berdiri dan menghampiri Artur, "Ada apa, Artur? Kenapa belum tidur?"
"Tidak bisa tidur…"
"Maaf suara kami terlalu keras ya... Kami akan melanjutka—"
"B-Bukan orang ini," Artur langsung memotong ucapan Sylvia. Inilah yang sejak tadi ingin Artur sampaikan pada para mata-mata ini! "Tapi orang-orang ini."
Sylvia langsung berhenti. Orang-orang ini? Apakah ia salah dengar? Twilight bahkan langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Eh?"
"Antoine itu bukan dia. Tapi mereka!" jelas Artur.
Twilight dan Sylvia terkejut, sama sekali tidak menduganya. "Maksudnya?" Twilight langsung bangkit dari kursi dan berjalan menuju Artur.
Tunggu, jangan bilang kalau…
"Antoine bukan satu orang, tapi lebih dari satu. Salah satunya adalah [Bunda] kami."
Apa-apaan KIND ini…
—ᴬˡˡⁱᵃⁿᶻ ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹²: ˢⁱᵈᵉ ᴹⁱˢˢⁱᵒⁿ ᴿᵉᵖᵒʳᵗ—
Sabtu, 18 Maret.
Malam hari, pukul 22.00 waktu setempat.
Di suatu tempat yang tidak diketahui.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Tok Tok Tok.
Tok Tok Tok.
"Masuk."
Lelaki berpakaian rapi yang memakai vest berwarna cokelat tua itu memasuki ruangan setelah dipersilahkan masuk. Di tangannya terdapat beberapa dokumen yang terlihat penting. Raut wajahnya terlihat berantakan, berbanding terbalik dengan apa yang ia kenakan sekarang.
"Kenapa masih di sini?" tanyanya kepada Si Pemilik Ruangan dan satu-satunya orang lain di ruangan itu selain dirinya.
Lelaki yang sejak awal berada di dalam ruangan hanya menghela napas panjang. Ia merenggangkan badannya selayak orang yang telah duduk terlalu lama. "Anna baru aja kesini," jelas lawan bicaranya singkat. Dari nadanya, ucapan itu sudah menjelaskan semuanya. Lelaki pemilik ruangan itu sedang duduk di sebuah meja kerja yang cukup besar di tengah ruangan sambil memijat keningnya. Raut wajahnya tak beda jauh dengan tamu tersebut.
"Oh," Pria yang baru datang itu langsung mengerti. "Pantas aja tadi aku melihatnya di lantai satu. Dia terlihat sangat kesal, sekarang aku tahu kenapa."
"Yah dia kesal karena gak diberitahu tentang rencana itu. Biarin aja. Paling besok udah tenang amarahnya dan segera pulang, seperti biasa," keluh lawan bicaranya. "Jadi, gimana laporannya, Neel?"
Laki-laki dewasa yang dipanggil dengan [Neel], yang baru saja memasuki ruangan, menyerahkan sebuah dokumen, "Kau benar, T. Memang ada orang yang mengirim pembunuh bayaran ke tempat itu. Kontak terakhir dengan Gracie yang ada di Ruddow adalah tepat tengah malam kemarin. Sepertinya pembantaian terjadi tak lama setelah itu."
Lawan bicaranya Neel, yang dipanggil [T] olehnya, menerima dokumen itu dan membaca isinya. "Apakah udah diselidiki siapa yang mengirim pembunuh itu?"
"Aku masih mengumpulkan informasi dari para informan yang ada di bawah kita, siapa tahu orang yang mengirim pembunuh bayaran itu memperoleh informasi tentang kita dari sana. Sejauh ini petunjuk mengarahkan Sang Pengirim berasal dari Kota Berlint. Sisanya masih dalam proses," jelas Neel.
"Hm, Berlint ya… tempat kerjanya Anna…" T mendengarkan laporan Neel sambil membaca berkas yang diberikan. Ia terdiam cukup lama untuk memproses apa yang terjadi pada pendengaran dan penglihatannya. "Kota Berlint itu kota yang lumayan jauh dari Ruddow… Terus gimana dengan 'kecoak' itu?" tanya T.
"Selain Si Pembantai dan subjek eksperimen punya Anna, sejauh ini nggak ada orang lain yang tertangkap kamera di wilayah tersebut. Tapi udah dipastikan ada kecoak di dalam gedung di malam itu. Jumlah mayat yang ditemukan di sekitar gedung itu gak sama dengan jumlah para pesuruh yang harusnya datang di hari itu. Seperti yang sudah kita duga, selisih satu. Tapi tetap entah gimana caranya kecoak itu bisa ngehindarin seluruh kamera yang terpasang di wilayah itu."
"Jadi kecoak itu cukup pintar buat menyelinap kabur ya…" T menutup map dokumen yang ia pegang dan meletakkan di atas meja. Ia kembali memijat keningnya yang sedikit kaku, pertengkaran dengan adik perempuannya di obrolan sebelumnya cukup menguras energinya. "Padahal udah susah-susah ngitung jumlah mayat di sana…" gerutunya.
Neel mendengus, ingin sekali memprotes pada pria yang ada di depannya. Padahal pekerjaan mengidentifikasi mayat-mayat di gedung di kota sebelah itu dilakukan olehnya dan anak-anak buahnya selama seharian penuh. Kenapa justru lawan bicaranya ini yang mengeluh?!
Antara orang di depannya ini sedang tenggelam di banyak pikiran atau pria ini memang suka mengakui pekerjaan orang lain.
Apapun itu, Neel kembali melanjutkan laporannya, "Sayangnya agak susah buat nyari tahu siapa aja yang hilang di malam itu berdasarkani data yang hadir. Sepertinya kecoak itu sengaja meledakkan beberapa mayat supaya sulit buat diidentifikasi. Meski kecil, tapi ledakkan itu cukup menghancurkan struktur gedung dan beberapa tubuh di sana."
"Lalu? Kau udah punya daftar nama-nama yang kira-kira jadi kecoaknya?"
Neel menyerahkan dokumen lainnya yang sebelumnya masih ia pegang. "Kita menemukan lima tubuh yang benar-benar hancur dan gak bisa diidentifikasi. Lalu dari data orang yang hadir, ada enam nama yang belum dicocokkan dengan tubuh mereka. Coba kau buka halaman di belakang, kupikir kecoaknya itu adalah salah satu dari mereka."
T membuka halaman paling akhir dari dokumen yang diserahkan padanya sesuai ucapan Neel. Terdapat 6 wajah dengan 6 nama, beserta informasi singkat dari masing-masing nama tersebut.
ᴘᴀᴛʀɪᴄᴋ. ᴇᴅᴅɪᴇ. ɴᴏᴀʜ. ᴏʟɪᴠᴇʀ. ᴀʙᴅɪᴇʟ. ʜᴀʀʀʏ.
Benar-benar nama-nama yang sangat tidak familier di telinga T, meski beberapa sudah ada yang ia tahu. Jika begitu berarti sebagian besar orang-orang ini adalah orang-orang baru yang belum lama bergabung di sini.
Ia perlu mengecek daftar nama-nama orang yang baru memasuki sistemnya.
Seharusnya tidak begitu sulit mengecek satu per satu dari puluhan nama itu.
Ah sial. Menambah pekerjaannya saja.
Orang baru memang pantas untuk dicurigai. Orang-orang itu bisa sengaja maupun tidak sengaja mengungkapkan rahasia penting miliknya. Apalagi pikiran orang-orang baru masih mudah goyah dan memungkinkan terjadinya pengkhianatan.
T lalu menutup dokumen tersebut dan meletakkan di atas meja kerjanya. "Orang-orang pada foto ini masih terlalu muda. Antara kecoak ini adalah jenius k*mpret atau kecoak ini ternyata gak bekerja sendiri. Mungkin aja dia dapat bantuan dari orang luar. Bantuan dari orang profesional, mungkin itu bisa ngejelasin kenapa kecoak ini gak tertangkap di kamera manapun."
"Mata-mata?" tebak Neel sedikit asal.
"Hm, bisa jadi, bisa jadi."
"Kapan dan dimana mereka bisa ketemu…"
"Entahlah. Mungkin dari tempat yang sama dengan mata-mata yang kita bunuh bulan lalu. Kita jadi harus lebih hati-hati lagi. Semenjak polisi nasional k*mpret itu tahu tentang kita, mata-mata b*jing*n juga ikutan tertarik pada kita. Ugh, merepotkan."
TOK TOK TOK.
Serentak kedua pria itu menoleh ke arah pintu. '𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?' batin T kesal. Ia sudah cukup pusing dengan rengekan adiknya serta seluruh informasi baru ini.
"Permisi, Antoine. Saya Rei, izin melapor," seru pemilik suara dari balik pintu.
"Rei?"
Sepertinya T pernah mendengar nama itu sebelumnya. Rei… Rei… Ia langsung menelusuri nama tersebut di dalam memorinya. Seharusnya nama itu tidak begitu umum di sistemnya. Rei… Rei… Ah.
"Hei, Neel. Bukankah dia itu salah satu anak buahmu? Rei Stein?" tanyanya pada Neel.
Neel tidak terlalu terkejut ketika pria di depannya ini mengenali pemilik suara itu sebagai salah satu dari puluhan anak buah yang dimilikinya. Karena T, sejauh yang Neel tahu, hampir mengetahui siapa saja yang bekerja di bawah mereka yang jumlahnya hampir ratusan, terutama nama dari orang-orang yang sudah bekerja cukup lama untuk mereka.
Oleh karena itu ketika baru saja T tak menyadari nama-nama yang diberikan oleh Neel pada dokumen tadi membuat Neel berpikir kalau kecoak itu merupakan salah satu dari anggota yang baru saja bekerja di bawah mereka atau mungkin orang yang tidak terlalu mencolok di organisasi.
"Memang benar. Tadi kusuruh dia buat ngelacak kemana perginya penelitiannya Anna. Aku lupa memberitahumu kalau tadi kusuruh dia buat ngasih laporannya langsung ke dirimu sesaat setelah ada informasi terbaru, tapi aku gak menyangka akan selarut ini," jelas Neel.
"Oh begitu…" Lalu dengan suara sedikit lebih keras, T mempersilahkan orang itu masuk, "Masuk."
Sesosok laki-laki lainnya memasuki ruangan, dengan sebuah dokumen hitam berada di tangannya, "Selamat malam, Antoine. Saya ingin memberikan laporan perta—" Pandangan laki-laki itu langsung mendapati Neel yang tengah berdiri di sebelah meja kerja dari Si Pemilik Ruangan.
"A, Ah!"
Laki-laki itu hampir melompat kaget karena terkejut. '𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘥𝘶𝘢 𝘈𝘯𝘵𝘰𝘪𝘯𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨?!'
"Laporan apa?" tanya T tanpa basa-basi, tak mempedulikan keterkejutan yang dialami oleh laki-laki itu.
"Maaf datang larut malam, Pak! Kapten—maksud saya—Antoine," Laki-laki itu, Rei, menunjuk ke arah Neel dengan sopan, "memerintahkan saya untuk melacak anak-anak eksperimen tersebut dan kemudian langsung melaporkannya pada Anda, Antoine," lalu menyerahkan dokumen hitam pada T dengan sopan, meski tanggannya masih sedikit bergetar akibat keterkejutan tadi. "Anak-anak itu tidak dibunuh dan malah mengikuti Si Pembantai, lalu kembali terpisah. Berdasarkan informasi yang terbaru, kamera pengawas ada yang menangkap beberapa orang di sekitar tempat kejadian."
T lalu membuka kembali membuka dokumen baru lagi hari ini, "Beberapa?"
"Benar. Ini Si Pembantai yang hampir membantai habis satu gedung," Rei menunjuk ke salah satu foto yang terdapat gambar buram seorang pria yang berpakaian serba hitam dan sekilas terlihat ada sebuah pantulan cahaya seperti dari besi di lengan pakaiannya.
Tak sampai di situ, Rei lalu menunjuk ke salah satu foto lainnya, "tapi ternyata masih ada orang lain lagi beberapa jam setelah pembantaian massal itu. Ini Si Pembunuh Nyonya Gracie." Kali ini terdapat sosok wanita, yang sekali lagi terlihat buram, "Diperkirakan Nyonya Gracie berhasil melarikan diri bersama beberapa orang lainnya dari pembantaian di gedung utama. Tapi sialnya nyawa mereka tetap tidak selamat karena wanita ini."
T tidak begitu terkejut dengan kematian dari Gracie. Ia lebih terkejut ternyata ada lebih dari satu pembunuh yang datang ke tempat itu.
Ini diluar dugaannya.
Bahkan Neel tidak mengatakan apa-apa, sepertinya ia memikirkan hal yang sama.
"Lalu pria ini?" tanya T menunjuk ke salah satu foto yang terdapat sosok pria paruh baya yang selalu terlihat berada di dalam satu frame dengan wanita pembunuh tadi.
"Tidak ada rekaman yang menunjukkan pria ini berkontribusi dalam pembunuhan. Hanya terlihat pria ini sepertinya sedang mengawasi wanita ini."
Kumpulan gambar lainnya terlihat buram dan gelap. T mengecek gambar lainnya satu per satu. "Lalu kemana perginya para subjek penelitian itu?"
Rei mengambil salah satu foto yang di berada di bawah tumpukan foto tersebut dan menunjukkannya di depan T, "Di sini mereka terlihat bersama dengan Si Pembantai." Pada foto itu terlihat jelas anak-anak penelitian itu sedang mengikuti Si Pembantai. Jumlahnya pas, tidak ada yang hilang.
"Lalu," Rei mengambil salah satu foto lainnya, "Beberapa jam setelahnya, pada saat sekitar waktu pembunuhan Nyonya Gracie, ditemukan ada orang lain lagi yang tertangkap kamera."
Kali ini samar-samar terdapat sosok yang terlihat seperti pria berpakaian hitam lainnya yang tertangkap kamera. Meski sama-sama mengenakan pakaian serba hitam, pria baru ini memiliki postur tubuh dan tinggi yang sangat berbeda dengan Si Pembantai.
Orang yang berbeda?
Gila. Ada berapa banyak penyusup di tempat itu? Berapa banyak informasi mengenai sistemnya yang sudah bocor? Siapa saja yang sedang mengincarnya?
Tak seperti Si Pembantai, Pria baru ini tampaknya sangat mengetahui seluk beluk keberadaan kamera yang ada di tempat itu. Sosoknya yang tertangkap kamera ini hanya terdapat sekitar 2 atau 3 foto dan itu pun semuanya didapat dari pantulan-pantulan benda, tak seperti ketiga orang sebelumnya yang tertangkap kamera langsung dan memiliki banyak bukti. Jika orang-orang yang bertugas melihat rekaman ini tak teliti, mungkin tak akan ada yang menyadari sosok misterius baru ini dalam rekaman kamera.
Apakah ini kecoaknya? Tapi penampilan dan usianya tidak ada yang sesuai dengan foto-foto yang diberikan oleh Neel. Apakah ada orang kelima atau keenam?!
Neel lalu mengambil foto-foto tersebut dan juga ikut memeriksa foto buruk itu dengan seksama. Sepertinya ia juga memikirkan hal yang sama.
"Lalu pada foto ini, terlihat Si Pembantai ini bertemu dengan Si Pembunuh Gracie dan Pria paruh baya tadi, tapi tak ditemukan anak-anak eksperimennya. Setelah itu anak-anak dan pria baru itu tak terlihat dimanapun," jelas Rei mengakhiri laporannya.
Sial. Ini lebih rumit dari perkiraannya. Kenapa rencananya jadi berantakan? Tunggu, berantakan? Rencananya berantakan?
Tidak! Tidak mungkin berankatan! Ia masih bisa memperbaiki ini!
"Baiklah, terima kasih, Rei. Tetap selidiki kemana anak-anak itu pergi. Kamu boleh pergi," perintah T pada laki-laki itu. Laki-laki itu lalu mengangguk dan pergi.
Setelah Rei keluar dari ruangan, Neel langsung bersuara. "Lalu sekarang kamu mau gimana, T?" tanya Neel mengembalikan foto tersebut ke dalam dokumen dan menyimpannya dengan rapi, "Sudah kubilang rencanamu itu banyak kekurangan. Sekarang rencanamu berantakan."
T justru malah tersenyum, "Mana mungkin berantakan!" serunya dengan nada seperti orang yang bersemangat. "Kamu kan udah tahu kalau rencanaku ini memang gila dan gak jelas, tapi bukankah ini jadi jauh lebih menarik?"
Ah. Senyuman itu. Neel tahu itu dengan pasti kemana arah pembicaraan ini.
"Hal gila apalagi yang bakal kamu lakuin kali ini, T?" Neel menghela napas. '𝘚𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘨𝘪𝘭𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪.'
"Tentu aja nyari penelitannya adikku dan Si Kecoak K*mpret itu!" seru T dan langsung berdiri dari kursinya. Kemudian ia mulai berjalan pelan mengelilingi ruangan. "Berkat penelitiannya Anna kita sekarang yakin beneran ada kecoak di organisasi ini dan ada para b*jing*n yang lagi tertarik dengan kita. Mencari gituan doang seharusnya mudah! Kita tuh udah hampir menguasai Ostania dalam bayangan, apa yang perlu kita takutkan lagi, Nathanael?"
"Jangan sebut nama itu disini, T," dengus Neel memperingati, "Jadi, kamu pikir orang-orang yang ada di foto ini salah satunya adalah kecoak yang kita cari?"
"Entahlah, bisa jadi. Bisa jadi semuanya adalah kecoaknya," ujar T mengangkat bahu. Ia kembali membuka dokumen yang sebelumnya telah dirapikan oleh Neel dan memilih salah satu foto di antaranya.
"Malah bisa jadi juga kecoak yang membocorkan informasi kita bukan salah satu dari orang-orang ini. Penampilan mereka gak ada yang mirip dengan profil yang baru aja kamu kasih. Mungkin orang-orang ini hanyalah pihak ketiga yang kira-kira membantu kecoak itu pergi. Terutama orang ini—" sambil menunjukan foto yang terdapat sosok pria misterius yang hampir tak tertangkap kamera, "—yang gak sengaja tertangkap kamera. Sepertinya orang misterius ini yang membawa pergi eksperimen punya Anna, melihat bocah-bocah itu tak lagi terlihat bersama Si Pembantai."
"Memang menurutmu, siapa orang itu?"
"Mata-mata."
"Maksudmu seperti mata-mata pada teori singkat yang baru kepikiran tadi?!" Neel bahkan hanya asal sebut kata mata-mata pada saat itu! Ia tidak percaya pria di depannya ini benar-benar menelan bulat-bulat ucapannya itu!
"Benar. Kalau mata-mata, mungkin saja mereka sudah tahu layout daerah itu dan menghindari seluruh kamera," jawab T percaya diri. Ia terus menjelaskan teorinya panjang lebar yang sudah hampir tak bisa dicerna lagi oleh Neel. Lalu ekspresinya langsung berubah. Ia terdiam di tengah-tengah racauannya sebelum menatap Neel.
"Tunggu, Neel. Apakah aku kepikiran terlalu jauh lagi?"
"..."
"..."
Giliran Neel yang duduk di kursi kosong yang ditinggalkan oleh T. Ia menyilangkan kaki dan meletakkannya di atas meja. Jemari tangannya yang saling terpaut ia istirahatkan di atas dadanya. Ia menatap pria tercerewet yang pernah ia ketahui itu dengan wajah sedikit lelah. "Kamu tahu… antara kamu dan Anna, kalian berdua sama-sama gila," ungkap Neel.
Setelah bertahun-tahun mengenal pria yang ada di depannya ini, ia tetap takjud bagaimana pria ini selalu berpikir terlalu jauh hingga tak masuk akal namun dugaannya sering sekali tepat sasaran apapun yang terjadi. Seakan-akan memang tuhan selalu berpihak pada orang ini.
Oleh karena itu Neel tak banyak protes dan tetap menuruti teori gila itu. Ia sudah tak mau ambil pusing memikirkan alasan logis dan konsekuensi di baliknya.
"Antara kamu yang terlalu beruntung, atau Si Jenius Gila, atau kamu adalah penyihir," gerutu Neel yang masih tidak mempercayai bahwa dirinya percaya pada apapun yang pria di depannya ini katakan.
"Kamu kan tahu kalau aku nggak jenius, Neel," tawa T, "Justru yang jenius adalah Anna. Aku hanya beruntung, tapi nggak terlalu. Buktinya kebocoran informasi itu merupakan kesialan bagiku—bagi kita."
'𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.'
"Oke, gini aja, aku yang nyari kecoaknya dan kamu nyari penelitian adikmu. Kamu `kan yang bertanggung jawab atas lepasnya mereka. Aku nggak mau berurusan dengan kegilaan adikmu."
T menggerutu, "Iya, iya… Aku emang udah janji ke Ann. Aku juga udah cukup dengan masalah kita kebobolan kecoak dan informasi yang sempat bocor ke para polisi nasional kep*rat itu. Jika sekali lagi aku dengar rengekan Anna selama dua jam kayak tadi, aku bisa tambah gila."
~ 𝐄𝐧𝐝 𝐨𝐟 𝐂𝐡𝐚𝐩𝐭𝐞𝐫 ~
Preview Next Chapter : Mereka
Singkatnya, di antara Loid Forger dan Yor Forger.
NOTES:
Ada yang terkejut kalau [Antoine] bukanlah nama dari 'satu' orang? Sebenernya udah ada petunjuk-petunjuk yang mengarah ke [Antoine] di chapter-chapter sebelumnya. Mungkin kurang kelihatan sih.
Oke. Update berikutnya? Entah kapan. Karena tugas-tugas semester akhirku udah mau selesai, aku udah mulai masuk ke per-skripsi-an. Jadi kayaknya makin lama sekali updatenya. Jadi ditunggu ajah!
[Last Edit : 09/04/2023]
Terima kasih sudah membaca!
