-

-

Gaara's POV

Aku terus memandangi kedua matanya yang kini menjelma menjadi merah darah, lengkungan bibirnya membentuk senyuman menakutkan. Aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat. Ingin sekali aku pergi dari tempat itu secepat mungkin. Tapi kaki ini seakan tak punya saraf yang tepat menyambung ke otakku.

Seringainya semakin lebar dan menakutkan, semua wajah yang ada disekitarnya menghadap kearahku, memperlihatkan sesuatu yang berhasil membelalakkan mataku untuk kedua kalinya.

Wajah mereka tak lagi berbentuk seperti layaknya manusia biasa, hancur dan bercorak merah tanda darah kering menodainya. Mungkin saja jika jarakku dekat, aku dapat mencium aroma busuk dari tubuh mereka.

Aku menarik nafas panjang mencoba mencerna penglihatanku barusan, menutup penglihatanku sementara berharap ini semua hanya mimpi belaka.

'Kita bertemu lagi, Sabaku.'

Aku tersentak kaget. Suara yang tadi bergema di kepalaku seakan membuatku membeku, lantas aku kembali menajamkan penglihatanku pada sosok Itachi.

'Sabaku, jangan pura-pura bodoh. Kau pikir aku tidak tahu kemampuanmu itu.'

'Kemampuan apa? Jangan sok tahu!'

Aku mencoba menjawab pertanyaanya yang mampir dalam hatiku, rasanya seperti telepati. Tak kusangka dia mampu mengetahui diriku sejauh ini.

'Kemampuan yang pastinya akan menghambat rencanaku, Sabaku,'

Aku tertegun sejenak, mengalihkan pandanganku padanya. Sebelum akhirnya aku bertanya lagi untuk kesekian kalinya.

'Apa rencanamu Uchiha?'

Itachi menyeringai lebar, senyumannya kini beralih pada menjadi senyuman yang mirip dengan iblis, seperti senyum yang menjadi kebanggaannya.

'Menyelesaikan kembali ritual leluhurmu, Sabaku...'

-

-

-

Naruto by Masashi Kishimoto

Fatal Frame All Series by Tecmo

Village, Ritual and Nightmare by Neo Kaze-Hime

First Nightmare 'Reunion'

-

-

-

Normal POV

Gaara melenggang pergi dari tempatnya berdiri, menatap sekilas sosok yang membuatnya ingat. Yah, ingat akan garis keturunannya, keturunan terkutuk keluarga Sabaku. Tanpa bertingkah apa – apa lagi, ia segera berlari menuju arah rombongan teman – temannya yang telah jauh meninggalkannya. Menyisakan Itachi yang tertawa, tawa abadi yang hanya ia tujukan pada Gaara, tawa kemenangan yang turut menyertai jatuhnya belasan orang dibelakangnya. Tawa yang mengembalikan wujud asli mereka, wujud yang tidak akan bisa lagi diungkapkan oleh siapapun di dunia ini.

-


-

Finally, you've come…

I hope you will be happy…

'cause this reunion will begin again…

Welcome back to Konohagakure…

Namikaze…

Sabaku…

But now it's called Village of the Death…

-


-

Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya, membuat siapapun merasakan kedinginan yang amat sangat, tak terkecuali rombongan pecinta alam ini, meskipun baju mereka sekarang sudah agak kering. Namun tetap saja dinginnya angin malam menusuk ke dalam tubuh mereka.

Naruto pun demikian, tapi kali ini ia sedikit gelisah, sekali – kali kepalanya ia tengokkan ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sesuatu yang tak kunjung ditemukan. Yah, dia mencari Gaara. Dia sangat khawatir dengan Gaara. Temannya yang satu itu mendadak aneh, pergi tanpa alasan yang jelas, dan anehnya lagi menurut Naruto, tak satu pun dari teman – temannya menyadari kalau kini mereka telah kehilangan salah satu anggotanya.

Rombongan pecinta alam itu pun berhenti tepat di depan sebuah penginapan yang cukup besar dan kumuh. Sora dan Narumi mempersilahkan rombongan itu masuk kedalam. Namun apa yang mereka lihat diluar merupakan kebalikan dari yang didalam. Pemandangan dalam penginapan yang sangat mewah, ruangan besar dengan tungku api ditengahnya, beberapa meja dan bantalan duduk yang tersusun rapi mengelilinginya membentuk sebuah persegi, guci – guci tua yang tampak mengkilat terkena cahaya, menambah kesan sangat mewah. Lalu lantai kayu yang nampak bersinar terkena cahaya lampu, membuat semua orang berpikiran jika lantai ini berbahan kaca, lampu besar di tengah ruangan yang menambah kesan ramai pada ruangan besar itu dan sebuah tangga kokoh menjulang tinggi ke lantai 2 disisi kiri ruangan tersebut.

Benar – benar sempurna, itulah yang dipikirkan oleh orang – orang yang melihatnya. Tampak para gadis terkagum – kagum memandangi ukiran dan lukisan pemadangan yang tergantung manis pada dindingnya. Beberapa anak lainnya ada yang langsung menyerbu masuk ke tengah ruangan, duduk nyaman mengelilingi perapian ditengahnya. Shikamaru yang sedari tadi menahan kantuknya segera mengikuti anak – anak lain, akal sehatnya telah dikalahkan oleh perasaan lelahnya, tak lagi memikrikan keanehan dari semua peristiwa ini.

Kakashi memandangi anak – anaknya, dia tersenyum lega. Bebannya kini bisa sedikit teratasi karena kebaikan Itachi. Dan sepertinya syndrome yang sama dengan Shikamaru kini telah mempengaruhi otak Kakashi, membuatnya tak mampu lagi berpikir jernih.

Gai yang berdiri di sebelah kanannya hanya memandangi Kakashi dengan tatapan heran. Dia tak pernah melihat sahabatnya seperti ini, terlalu mudah percaya pada orang lain.


"Gaara kemana sih?" tanya Naruto pada Deidara yang kebetulan duduk disampingnya.

"Entahlah, dari tadi aku ga liat dia, mungkin dia sedang bersama yang lain di lantai dua," jawab Deidara sembari menunjuk pada kumpulan anak – anak yang asyik memandangi pemandangan malam lewat jendela besar di lantai dua.

"Ga mungkin aku tahu dia ga bakal suka gituan. Ah, udahlah kucari di depan saja. Siapa tahu dia sedang bersama Kakashi-sensei," ujar Naruto sembari bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu utama.

Deidara hanya menghela nafas panjang, rasanya kelelahan yang bertumpuk tadi kembali mengganggu tubuhnya lagi. Ia mencoba meregangkan otot – otot tubuhnya yang kaku, sebelum matanya tertuju pada sebuah hiasan dinding di sudut ruangan. Hiasan bergambar kipas bulat yang terlukis rapi di tangah kanvasnya. Namun yang membuat Deidara penasaran adalah warna merah yang mewarnai kipas itu, beserta bercak – bercak merah disekelilingnya.

'Lukisan apa itu yah? Ko gambarnya aneh dan.. bercak merah apa itu? Tak ada seninya,' komentar Deidara dalam hati. Tapi yang namanya penasaran, tetap saja penasaran. Deidara pun berdiri dari duduknya melangkah menghampiri lukisan itu. Tangannya mencoba meraih pajangan yang memang sedikit tinggi dari badannya sendiri. Sedikit kesulitan, namun akhirnya usahanya tersebut berhasil. Jarinya meraih ujung lukisan itu.

CTASSSHHHH!!!

Sekelebat cahaya putih kini tiba – tiba muncul dan memenuhi otak Deidara, memperlihatkan suatu peristiwa yang sama sekali tak diketahuinya.

-

In Deidara's Mind

"AAKKHH!!! Sakit.. sakit.. aku mohon hentikan ayah," teriak seorang anak kecil pada ayahnya. Memohon agar segera menghentikan kegiatan menyakitkan tersebut.

"Diamlah!! Jangan banyak bicara, kau mau mulutmu kusobek dengan belati ini," sahut sang ayah sembari menunjukkan belatinya tepat di depan mata anaknya yang berwarna Onyx, berhasil membuat bocah itu terdiam beberapa saat. Sang ayah kembali menggoreskan dengan kasar sisi tajam belati di kedua lengan anaknya. Membuat sang anak terpaksa menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya, darah segar mulai mengalir ke bawah dagunya.

"Ukhhh.. hiks.. hiks.. sakit.. ka.. kakak.. kakak.. tolong.. tolong aku," isak bocah itu pelan, berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh ayahnya. Bibirnya masih ia katupkan, darah dari bibirnya kini mulai mengalir di lehernya hingga jatuh mengenai futon yang didudukinya. Futon yang berwarna kuning bambu itu kini telah berubah warna menjadi merah darah. Bercak – bercak dan cipratan darah itu mengenai sekeliling bocah dan ayahnya itu, membentuk seperti lautan darah pekat.

Diantara ayah dan anak itu tergeletaklah sebuah kanvas dengan goresan gambar kipas pada tengahnya. Darah pekat sang anak jatuh tepat mengenai gambar kipas itu. Berkali – kali jari ayahnya menggoreskan darah itu ke gambar kipas agar merata, berkali – kali pula sang ayah menggoreskan pisaunya di kulit anaknya. Seakan semua kegiatan itu hanya berulang – ulang saja, tanpa ada yang menghentikan.

CTAAASSSHH!!

End of Deidara's Mind

-

Ingatan peristiwa menyakitkan yang sempat terlintas di otak Deidara telah berhenti. Deidara mengeluh kesakitan sembari memegangi kepalanya, nafasnya memburu begitu cepat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, tubuhnya kini sedikit bergetar. Ia tak tahu harus berpikir tentang apa sekarang. Gambaran lukisan dan anak-ayah itu seakan telah menghilangkan segala hasrat berpikirnya.

Seseorang menepuk pelan pundak Deidara, berusaha menanyakan apa yang terjdi padanya. Namun kesadaran Deidara belum pulih seluruhnya, pikirannya masih bertahan di peristiwa itu.

"Dei…"

'Apa yang kulihat tadi?'

"..dara.."

'Siapa mereka? Apa aku pernah melihat mereka?'

"Hei.."

'Tapi wajah anak itu mirip sekali dengan seseorang,'

"Woi, Deidara.. kenapa..?"

'Yah, anak itu mirip dengan ...'

"Deidaraaaaa….!!! Kamu kenapa."

Deidara tersentak kaget, dihadapannya telah berdiri seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis yang ia kenal bernama Sabaku no Temari. Rasa khawatir terlihat jelas dari raut wajah itu. Kedua tangannya memegang erat pada pundak Deidara.

"Dei, kau kenapa?" tanyannya khawatir seraya melepaskan pegangannya pada pundak Deidara. Matanya menatap lurus dan tajam pada mata Deidara.

"Eh, eh entahlah mendadak aku…" kata – kata Deidara terputus, wajahnya menunduk, berusaha menyembunyikan matanya dari tatapan introgasi Temari.

"Mendadak kenapa?" Tanya Temari penasaran.

"Aku.. eh hanya kelelahan dan pusing itu saja.. hehehe.." Deidara memberikan alasan konyol yang berhasil membuat Temari menaikkan satu alisnya tanda keheranan.

"Heh, kau aneh.. hah sudahlah tak usah dibahas lagi. Kakashi-san tadi memanggilmu dari lantai 2, tapi kau tidak menyahutnya. Ya jadinya aku yang disuruh turun memanggilmu," ujar Temari panjang lebar.

"Oh, begitu.. hehehe maaf yah merepotkanmu," Deidara menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Keduanya beranjak pergi menuju lantai 2, tak satu pun dari mereka yang menyadari kalau sepasang mata merah tengah menatap tajam ke arah mereka. Menyeringai seram lalu menghilang secepat angin berhembus.

-


-

"Yak, anak – anak. Ayo berkumpul!"

Suara Kakashi menyadarkan semuanya dari hawa kekaguman mereka akan pemandangan di luar jendela. Serentak semuanya berkumpul mengelilingi Kakashi dan seorang perempuan paruh baya yang tengah duduk di sebuah ruangan tatami bernuansa mewah.

"Aku ingin membagi kelompok tidur kalian, supaya tidak ada lagi kata – kata ribut yang keluar dari mulut kalian lagi. Oh yah, ini bibi Sana, dia pengurus penginapan ini," ujar Kakashi panjang lebar sembari menunjuk dengan ibu jarinya pada orang yang duduk disampingnya. Senyum terbentuk dari wajah perempuan baya itu.

"Yak salam kenal, kalau kalian butuh apa – apa bilang saja padaku," ujar bibi Sana.

Semuanya mengangguk tanda mengerti. Kakashi tersenyum melihat reaksi semuanya. Tanpa disadari semuanya, Gaara telah kembali berbaur dengan mereka, hanya Naruto yang menyadarinya, tanpa disengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Gaara. Naruto mencoba mengalihkan penglihatannya, namun tatapan itu tetap tak berhenti menginterogasinya.

-

Gaara's POV

-

Aku terus memandang ke arah Naruto berdiri, tapi tatapan ku tidak tertuju padanya. Namun dapat kulihat jelas kalau ia sedikit jengah. Mataku mendelik tajam ketika menyadari jaraknya semakin dekat dengan tempat Naruto berdiri. Memang Naruto tidak berdiri di pinggiran, melainkan ditengah – tengah dan diapit oleh Shino dan Shikamaru. Tapi bayangan itu terus melangkah maju menembus semua benda nyata di hadapannya. Shino, Shikamaru atau mungkin semua orang disini tidak akan pernah merasakan kehadirannya.

Plokk!!

Tepukan tangan Sai berhasil membuyarkan konsentrasi penuhku akan bayangan itu, spontan aku menengok dan tentu saja melihat senyuman palsunya. Namun sesegara mungkin aku kembalikan pandangan mataku ke arah Naruto tadi.

'Sial,' umpatku seraya mengepalkan tanganku.

Bayangan itu lenyap begitu saja tanpa ku ketahui apa maksudnya tadi mendekati Naruto. Hatiku mendengus kesal meskipun wajahku tetap tak mampu menggambarkannya. Sai yang berada di sampingku nampaknya hanya terbengong – bengong ria melihat ekspresiku.

"Kenapa Gaara?" Sai bertanya padaku, wajahnya memasang tampang tak bersalah andalannya. Mungkin mulai sekarang aku harus setuju dengan kata – kata Naruto, kalau dia adalah orang paling menyebalkan yang pernah kujumpai.

Aku hanya bergumam 'hm' pelan, bahkan hampir tak terdengar. Namun, harus kuakui kalau pendengarannya diatas rata – rata. Ia dapat mendengar suaraku tadi dan terdiam tak lagi menanyakan sesuatu padaku.

Aku hanya menghela nafas, Aku masih bertanya – tanya dalam hatiku. Apa maksudnya dengan 'melanjutkan ritual' itu? Atau jangan – jangan…

End of Gaara's POV

-


-

"… disini ada 20 kamar. 5 di lantai bawah, 10 dilantai atas dan 5 di lantai 3, masing – masing kamar isinya 4 kamar tidur dan sebuah kamar mandi," terang bibi Sana, senyuman tak terlepas dari wajah wanita itu.

"Ada yang mau bertanya?" lanjut bibi Sana. Semuanya menggeleng serentak. Kakashi ikut mengangguk sebelum ia maju dan mengumumkan pembagian kamar yang tentu saja telah ditentukan dengan sewenang – wenangnya.

-

-


-

-

Kamar no. 10 : Ino, Sakura, Tenten dan Hinata

"Uh, jidat lebar! Kenapa sih kita mesti satu kamar. Aku ga bakalan betah kalau gini jadinya," seru Ino ketika mereka memasuki kamar.

Sakura yang sedang membenahi tasnya, spontan menengok menatap Ino dengan pandangan kesal.

"Memangnya aku mau sekamar denganmu, NONA CEREWET!! Ini semua kan suruhan Kakashi-sensei, kalau bukan suruhannya, mungkin kau kutendang dari kamar ini," Sahut Sakura penuh penekanan pada kata 'nona cerewet'.

"Hei, sudahlah teman – teman. Jangan bertengkar, me.. memangnya kalian ga capek," lerai Hinata.

Bukannya mendengar, keduanya malah memandang dengan tatapan 'jangan ikut – ikutan dengan kami' pada Hinata. Alhasil, Hinata hanya terdiam, menundukkan kepalanya tak berani memandang mereka.

Tenten yang sembari tadi terdiam dan membenahi barang – barangnya segera berdiri dan berjalan menghampiri Sakura dan Ino, sambil memasang wajah marah dan tidak suka.

"Kalian bisa diam ga sih! Ga bisa bikin suasana tenang apa? Dasar anak kecil," ujar Tenten meremehkan, ia kembali membenahi barang – barangnya tanpa memperdulikan Sakira dan Ino.

Kening mereka berkedut, berusaha menahan amarah. Serentak mereka membuang muka lalu berjalan ke arah berlawanan. Suasana dalam kamar itu pun menjadi lebih tenang, walaupun sekali – kali terdengar suara teriakan Tenten.

-


-

Kamar no. 11 Shikamaru, Chouji, Kiba dan Shino

Suasana dengkuran memenuhi ruangan bernomor 11 ini. Lampu temaram seakan membasahi wajah – wajah tidur mereka. Tas – tas bertebaran dimana – mana, mungkin dapat ditebak pemiliknya langsung tertidur begitu mereka memasuki ruangan ini. Shikamaru sedikit menggeliat ketika ia merasakan pipinya tersentuh benda dingin, sedikit mengerjapkan kedua matanya. Garis pandangannya berpendar ke berbagai arah di ruangan itu, mulai dari tempat tidur Kiba yang berseberangan dari tempat tidurnya, tempat tidur Chouji disampingnya dan tempat tidur Shino yang tepat bersebelahan dengan tempat tidur Kiba. Namun, tak ada sesosok apapun yang berperilaku aneh di ruangan itu, mencoba mengusir pikirannya sekali lagi. Shikamaru kembali berkutat dengan selimut dan gulingnya. Tak menyadari kalau sepotong tangan tengah ikut menggeliat jatuh ke bawah sisi tempat tidur Shikamaru.

-

-


-

-

Kamar no. 12 Deidara, Kankurou, Neji dan Lee

"Uaahhh!! Kamarnya besar sekali. Membuat semangatku kian meninggi," seru atau lebih tepatnya teriakan Lee begitu mereka memasuki kamar berdinding coklat muda itu.

"Lee benar – benar tidak berubah yah," Sahut Deidara sembari meletakkan tasnya didepan lemari kamar.

"Tapi memang benar kamarnya besar sekali. Jarang aku pergi ke penginapan yang seperti ini," ujar Kankurou seraya merebahkan badannya di tempat tidur yang dekat dengan jendela.

"Aku tidur disini yah," lanjutnya, badannya ia miringkan sehingga tepat menghadap jendela.

"Kalau Kankurou disitu. Aku akan di seberangnya saja. Yihaaa!!!" Lee berlari ke arah tempat tidur yang ditunjuknya.

Neji dan Deidara hanya geleng – geleng kepala melihat polah anak itu. Mereka kembali melanjutkan aktivitas yang sedari tadi tertunda.

"Dei, apa baju ini perlu dimasukin ke lemari itu?" tanya Neji selepas ia berkutat dari tumpukan tas – tas dari 2 orang yang paling tak bertanggung jawab itu.

"Untuk apa? Kurasa kita hanya semalam disini," sahut Deidara, ia kini terduduk di pinggir ranjangnya, matanya menatap binar pada novel yang sedang dibacanya.

"Aha, bagian ini yang paling kusuka," gumam Deidara ketika ia membaca bagian yang menurutnya bagus.

Neji hanya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia melangkah menuju lemari yang berada dekat dengan pintu kamar itu. Tangannya menggapai pintu lemari itu, perlahan ia membukanya. Terlihat jelas sekali ruangan kosong dalam lemari itu bersih tanpa ada noda sekalipun. Tatapan Neji menyusuri semua ruang dalam lemari itu, tatapannya berhenti pada sebuah buku yang teronggok dibagian bawah. Tangan Neji bergerak tanpa diperintah lagi oleh sang otak, seakan hipnotis telah menguasai gerakan tangan Neji.

Perlahan Neji menghadapkan buku itu pada kedua matanya. Matanya menyusuri cover kumuh di buku itu, kertas kekuningan yang menjadi pemandangannya seakan menggodanya untuk menyusuri setiap halamannya. Neji tersadar dari 'hipnotis' buku itu. Wajahnya sedikit mengernyit ketika ia membaca tulisan pada ujung cover buku itu.

'Sasuke Uchiha, namanya mirip dengan Itachi-san'

-


-

Kamar no. 13 Kakashi, Gai, Asuma dan Sasori

"Kakashi, kau tidak curiga dengan mereka?" Gai memulai percakapan kikuk diantara mereka. Sepertinya ia sudah terlalu lama menahan pertanyaannya ini di benaknya.

Kakashi hanya menatap Gai sebentar sebelum ia melanjutkan mengobrak – abrik tasnya. Benda yang ia cari pun tak kunjung ditemukan jua.

'Tadi aku taruh dimana yah,' pikir Kakashi sembari berhenti sejenak dari aktivitasnya itu.

Gai menatapnya kesal, ia lalu bersiap untuk menyemburkan kembali pertanyaanya yang tadi. Tapi Kakashi terlanjur menghentikannya dengan isyarat tangan 'stop'.

"Gai, kurasa kau sudah tahu alasannya. Kita tak punya pilihan lagi. Jika kita tetap di hutan saat malam itu lebih membahayakan anak – anak," ujar Kakashi tenang.

"Tapi.." bantah Gai.

Kakashi meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri, menyuruh Gai untuk diam, lalu menujuk kepada kedua orang yang tengah terlelap di belakang Gai, yang tak lain tak bukan adalah Asuma dan Sasori. Gai hanya terdiam seraya bangkit menjauhi Kakashi, mengambil tasnya yang tergeletak tak berdaya di depan pintu. Dalam hati, ia masih saja menggerutu tak jelas dengan kelakuan Kakashi tadi.

-


-

Kamar no. 14 Temari, Anko dan Kurenai

"Anko, ini taruh mana?" Tanya Kurenai seraya mengangkat ransel Anko yang sangat besar itu.

"Taruh mana saja, asal beres," jawab Anko asal – asalan, dia kini tengah tidur-tiduran di tempat tidurnya. Di sebelahnya tampak Temari tengah mengeringkan rambut yang basah dengan handuk kecil, sweater kuning gading melekat hangat di tubuh mungilnya.

Kurenai menghela nafas panjang, Ia segera merapikan tas Anko yang berceceran kemana – mana. Sebenarnya ia tidak mau melakukan hal ini, namun pemandangan berantakan yang ikut menyertakan barang – barang sahabat sejatinya itu mau tak mau menjadi alasan utama mengapa ia mau melakukan hal yang serasa mirip pembantu ini.

Setelah sedikit bergulat dengan tas Anko yang sangat berat itu, Kurenai melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Wangi lavender menyeruak ketika ia membuka pintunya. Hm, wangi Temari, anak itu benar – benar tak berubah. Wanginya sama, gumam Kurenai. Kurenai bergegas masuk untuk segera membersihkan tubuhnya. ia berhenti tepat di sebuah kaca besar berukuran sebadan manusia. Kaca itu memperlihatkan hampir seluruh pemandangan dalam kamar mandi tersebut.

"Hm, ternyata tampangku kucel banget sih," seru Kurenai sembari memegang kedua pipinya.

"Ah, sudahlah aku udah ga betah," lanjutnya sembari berjalan menuju shower dan menutup tirainya, menyisakan sesosok tubuh yang sedari tadi berdiri dibelakangnya. Sosok wanita paruh baya dengan kondisi amat mengenaskan, bayangannya terlihat di kaca itu, sangat kucel dengan penuh corak darah dipakaiannya. Tangannya yang nyaris putus menggelayut di sisi badannya.

'Tanganku… mana tanganku?'

Dan sosok itupun pergi menembus pintu kamar mandi meninggalkan bercak darah yang menggenang di lantai dan tembok.

-


-

Kamar no. 16 Sai, Naruto dan Gaara

"Hei, Gaara kau tidak lelah apa berdiri disitu terus?" tanya Naruto ketika memandangi teman akrabnya tak bergegas menata barangnya melainkan berdiri mematung di depan pintu kamar.

Gaara menganggukan kepalanya, namun ia pun tak juga beranjak dari sana. Memulai Naruto untuk berpikir 'jangan – jangan dia phobia tidur bareng'. Sai yang sedari tadi merapikan barangnya tertarik ikut membujuk Gaara.

"Gaara kalau kau tidak mau tidur bersama kami bilang saja," ujar Sai tanpa menyadari tatapan tajam Naruto yang seakan menyatakan 'kamu aja kali aku enggak'. Sai pun menengok membalas Naruto dengan senyuman terlebarnya, membuat Naruto mendengus kesal.

Naruto kembali berkutat dengan ranselnya, membuatnya berpindah tempat dari sisi tempat tidur ke atas tempat tidur, kakinya berselonjor ke depan, membuat Gaara sedikit mengernyit, ketika memandang ke arah kaki Naruto.

'Andai dia tahu apa yang ada disana,' batin Gaara,

Gaara sedikit menghindar ketika pandangannya menangkap 'sesuatu' menggelinding dari atas tempat tidur Naruto. Ia memandang jijik ke arah dekat kakinya, membuat yang lain keheranan.

"Kau ini kenapa sih?" tanya Naruto heran. Sai menganggukan kepalanya.

"Tidak apa.." jawab Gaara pelan.

Gaara kembali memandangi sekelilingnya. Kelebihan yang dimilikinya telah membuatnya tak berkutik sedikitpun. Pemandangan mengerikan seakan telah menjadi 'makanan' tetap kedua matanya. Matanya melirik kearah tempat tidur Naruto. Sedikit menyipitkan matanya, Gaara menyusuri setiap inci daerah sekitar tempat Naruto.

Darah dan tubuh seseorang tanpa kepala teronggok dekat meja lampu. Bercak darah dan sepotong kaki muncul dari bawah tempat tidur Naruto. Gaara menghela nafas panjang, sebelum akhirnya matanya memandang ke arah Sai, potongan tangan seakan melingkari pemuda itu tanpa bisa diketahuinya. Corak darah dapat terlihat jelas pada pintu lemari pakaian yang baru saja dibuka Sai, sepotong tangan keluar dari lubang pintu itu. Membuatnya seakan mirip sekali dengan gagang pintu lemari. Dan berkali – kali Sai menyentuhnya, mendorong ataupun menariknya tanpa tahu apa sebenarnya yang dia tarik.

Gaara mencoba menjelaskan pada teman – temannya. Namun pikirannya seakan terkunci dan mulutnya serasa tersegel. Mencoba mengusir segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, Gaara mencoba berjalan ke tempat tidur disebelah kanan ranjang Sai yang paling dianggapnya 'bersih'. Sambil berusaha menghindar dari segala macam 'benda' yang aneh dan menggeliat disekitarnya. Sepasang mata merah menatapnya jauh dibalik jendela kamarnya. Tersenyum dan menjilati bibir pucatnya yang kini dihiasi darah.

-


Let's start now, shall we?


-

"Uh, dimana aku?"

Naruto terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya kini terbangun di sebuah lapangan luas dengan lilin – lilin mengelilinginya. Ia agak sedikit silau mengingat terlalu banyaknya lilin disekitarnya. Naruto mencoba bangkit berdiri. Namun badannya sangat berat, dan tak tahu kenapa ia terjatuh lagi, membuatnya mengerang pelan saat bagian belakang tubuhnya membentur tanah.

"Uh, sakit, kenapa badanku jadi ga seimbang gini yah?" tanyanya pada dirinya sendiri. Naruto kembali mencoba bangkit. Dan kali ini ia berhasil. Ia mulai berjalan meskipun sedikit terseok. Pandangannya berpendar ke segala arah, mencoba mencari jejak teman – temannya yang mungkin juga sedang ada disini.

"Kemana yah yang lainnya?" gumam Naruto. Pandangan lalu bertemu dengan sebuah gerbang Shinto dengan sebuah jalan menurun setelahnya. Naruto tersenyum senang saat menyadari adanya jalan lain disini. Melupakan rasa tak enak pada badannya yang berat, Naruto sedikit berlari ke arah jalan itu, berharap ada salah seorang dari temannya berada disana.

Naruto menyusuri jalan menurun yang berbatu itu, semakin mendekat, semakin ramai suara yang ia dengar. Hentakan suatu benda keras ke tanah terus mengalun ditelinganya. Mencoba mengalihkan segala kebingungan yang hinggap diotaknya. Naruto berusaha menembus jalan panjang yang tetap saja menurun itu. Tak sampai memakan waktu lama, cahaya terlihat diujung jalan yang ia tempuh, Naruto semakin mempercepat larinya. Dan…

Naruto membelalakkan kedua bola mata birunya. Mulutnya ternganga lebar seiring semakin kerasnya bunyi tongkat dan tanah beradu, setidaknya itu yang terlihat oleh Naruto. Matanya berpendar ke segala arah, orang – orang berjubah dan bertopi tinggi dengan tongkat pada tangan mereka berkumpul mengelilingi sebuah lubang besar yang berada ditengah lapangan luas. Naruto dapat melihat pandangan mereka berkumpul pada titik yang berada tepat sejajar didepannya, diseberang lubang itu.

Naruto sedikit memajukan badannya tanpa disadarinya. Ia kembali melihat ke sekeliling tempatnya berdiri. Sempat heran karena tak seorang pun menyadarinya, mengingat jaraknya dengan orang – orang itu cukup dekat. Setelah menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar serta mengumpulkan segala keberanian yang dimilikinya. Naruto berjalan ke arah lubang itu hingga jaraknya tinggal 1 meter lagi dari tepi lubang. Naruto sedikit menundukkan kepalanya, melihat kebawah tepat ke arah lubang itu.

Gelap pekat..

Kata itu yang hanya mampu diucapkan Naruto itupun hanya dalam hati. Kepalanya seakan pusing begitu hidungnya mencium bau anyir darah yang terbang bersama hembusan angin. Mencoba mengendalikan tubuhnya, Naruto mundur beberapa langkah dari bibir lubang itu. Matanya memandang tepat kedepannya. Kali ini bukan hanya badannya yang lemas. Namun jiwanya pun turut bergetar dan terasa lemas. Kontak mata dengan pemandangan didepannya berhasil membuat mentalnya turun drastis.

Naruto's POV

'Aku melihatnya, aku melihatnya,' kata – kataku terus bergema dalam hatiku bagai mantra. Aku bisa merasakan dadaku sesak dan sakit bukan main. Pemandangan didepanku, seakan berhasil membuatku ketakutan setengah mati.

Aku melihatnya jelas, seorang pemuda tertancap di batu yang menjulang tinggi dan berbentuk persegi panjang. Tangan dan kakinya tertancap oleh benda panjang berbentuk paku. Darahnya menetes membasahi bajunya, paku itu dan tanah dibawahnya. Wajahnya pucat seperti orang yang kehabisan darah. Aku bisa melihat sayatan – sayatan disekujur tubuhnya. yukatanya robek didepan, memperlihatkan sayatan yang cukup dalam di dada hingga perutnya. Bola matanya yang berwarna hitam memperlihatkan seberapa besar kepasrahannya. Tapi bola matanya seakan mengingatkanku pada seseorang yang anehnya tak dapat kuingat sedikitpun. Bibir pucatnya mengeluarkan segaris darah segar yang mengalir deras ke arah lehernya.

Tiba – tiba seseorang datang. Seseorang berjubah yang menutupi kepalanya dengan tudung hitamnya. Orang itu berdiri tepat dihadapan pemuda yang tertancap tadi. Itu berarti ia membelakangiku sekarang. Kulihat tangannya membawa sesuatu, panjang dan runcing diujungnya. Ya, paku yang sama dengan paku pemuda itu. Kulihat tangan sebelahnya melepas jubah yang menutup kepalanya. Membuatku sangat amat terkejut.

End of Naruto's POV

Naruto sangat terkejut menyadari seseorang berjubah itu. Pemuda itu membalikkan badannya. Membuat Naruto terduduk lemas.

'Ini tidak mungin. Aku…'

-

"Uwaaaaa!!!!"

Sai terbangun begitu mendengar suara jeritan Naruto. Ia berusaha bangkit saat menyadari kakinya sama sekali tak bisa bergerak. Suasana yang gelap berhasil membutakan kedua matanya. Sai tidak ingat kalau ia mematikan lampunya. Ia pun menyibakkan selimutnya. Dan…

"Gyaaaaa!!!"

Kali ini giliran Gaara yang terjaga sepenuhnya.

-


-

"Uh, uh Gaara kenapa.. kenapa kamar kita berubah menjadi kuburan massal begini?" tanya Sai ketakutan. Ia bisa merasakan bulu kuduknya merinding, matanya ia tutup agar tak melihat kembali apa yang ada di balik selimutnya tadi.

"Aku ga tahu, lebih baik kita ke tempat tidur Naruto, sepertinya tadi ia berteriak kencang," ujar Gaara sembari memantapkan langkahnya ke arah ranjang Naruto. Senter ditangannya terus menyinari lantai tempat mereka berpijak. Sambil sesekali menghindar atupun sekedar melangkahi 'sesuatu' yang tergeletak disana. Bau busuk menyergap ke hidung mereka, membuat Sai muntah tepat di bahu kanan Gaara. Gaara hanya mendelik tajam pada Sai, namun ini bukanlah saat yang tepat untuk memulai pertengkaran konyol dengannya mengingat suasana yang sangat tidak mendukung.

Setelah melewati rintangan yang sangat amat sulit, Gaara telah sampai di ujung ranjang Naruto berikut Sai yang terkulai lemas sambil berpegangan pada bahu Gaara. Gaara sedikit menarik selimut Naruto mencoba membangunkannya. Namun, rupanya Naruto sudah tebangun dari tadi, wajahnya yang berkulit coklat terlihat pucat pasi dan pandangannya kosong, badannya menggigil, keringat bercucuran di sekujur badannya. Naruto tidur tepat menghadap ke sebelah kirinya. Gaara yang ikut mengikuti arah penglihatan Naruto, terkejut ketika mendapati sesosok tubuh terbaring tepat di sisi kiri Naruto. Sai ikut melongokkan kepalanya dari balik badan Gaara, mulutnya ternganga lebar dan…

"Gyaaaaaaaaa!!!"

Lagi – lagi Sai berteriak dan kali ini giliran Naruto yang tersadar sepenuhnya. Matanya menangkap sesosok mayat berwajah mengenaskan dengan kondisi lehernya yang nyaris putus tengah ikut berbaring disebelahnya tepat menghadap kepadanya.

"Aaaaahhhhh!!!"

Kini gantian Gaara lagi yang tak berkutik, tubuhnya dipeluk depan belakang oleh Sai dan Naruto.

-


-

"Kakashi, kenapa bisa sampai begini?" tanya Gai kebingungan. Dirinya kini tengah bersama Kakashi dan Asuma di depan pintu utama penginapan itu.

"Aku tidak tahu, apa ini yang disebut sebagai.."

"Desa kematian yang terkenal dari Myoboku, itu maksudmu," potong Sasori yang kini berdiri tepat dibelakang mereka, senter di tangannya menerawang ke satu persatu wajah sensei – sensei itu.

"Kupikir itu hanya rumor belaka saja," ujar Kakashi putus asa.

"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Apa kita harus mencari gerbang desa yang tadi kita lewati?" tanya Asuma mencoba member suatu harapan pada kawan – kawannya.

"hm, kurasa tidak buruk. Kita coba dulu," sahut Kakashi seraya berjalan diikuti Asuma, Gai dan Sasori.

-


-

Suasana mencekam tengah mewarnai ruangan utama penginapan itu. Sekelompok remaja tengah berkumpul ditengahnya. Beberapa gadis tampak menangis histeris, salah satunya Tenten. Dia terlihat paling trauma diantara semuanya. Matanya bengkak dan badannya menggigil, berulang kali Temari berusaha menenangkannya. Namun gadis itu malah bertambah histeris. Lain halnya dengan Anko, guru perempuan itu sempat pingsan, setelah menemukan dirinya tertidur bersama badan wanita paruh baya yang kehilangan kedua matanya yang ternyata diketahui sebagai bibi Sana, Berulang kali Kurenai berusaha menenangkannya. Namun ingatan itu tertancap tajam di otak Anko.

Sai, Naruto dan Gaara menjadi orang terakhir yang tiba di ruangan utama itu. Gaara terpaksa membopong kedua temannya yang mendadak lemas setelah melihat apa yang terjadi di kamar mereka.

"Gaara, apa yang terjadi di kamarmu?" tanya Sakura pelan.

"Kami melihat banyak tubuh bergelimpangan di lantai, dan kurasa kamar kami lebih tepat disebut kamar duka massal," ujar Gaara sembari duduk diantara Sai dan Naruto yang kini sudah terduduk.

"Memangnya kalian mengalami hal apa?" tanya Gaara kepada semua anak disana.

"Kamar kami mendadak banyak darah dan Tenten.." Sakura menghentikan suaranya begitu ingat kejadian tadi.

"Di sekeliling tempat tidurnya banyak mayat dan potongan tubuh," lanjut Ino cepat. Semuanya bergidik ngeri membayangkannya.

"Kalau kamar kami, banyak sekali daging gantung," ujar Chouji ang langsung mendapat lirikan tajam dari semuanya.

"hei, aku tak bohong. Tanya saja pada Shikamaru," lanjutnya.

"Hoahm, mendokusei, yah memang seperti itu adanya. Aku curiga ada sesuatu dibalik ini semua," ujar Shikamaru memulai topik baru.

"Maksudmu?" tanya Kiba penasaran.

"Apa kalian tidak pernah mendengar tentang desa kematian yang terdapat di hutan Myoboku ini?" tanya Shikamaru pada semuanya.

"Hm, aku pernah dengar dulu, kalau ga salah banyak penjelajah hutan Myoboku yang menghilang setelah mereka melewati hutan ini pada malam hari," sahut Shino dan berhasil membuat mereka membelakakkan mata.

"Serius?" tanya Sai.

"Aku diceritain sama ayahku ko', tapi aku bingung kenapa yah kita ga curiga dari awal sama mereka? Mana mungkin ada desa yang ramai di tengah hutan lebat Myoboku ini?" Shino menggarukan belakang kepalnya yang tidak gatal.

"Iya, semenjak masuk sini, aku ga bisa mikir apa – apa," sahut Shikamaru yang langsung diikuti anggukan yang lainnya.

"Seperti ada yang menutupi pikiranku," lanjutnya.

Deidara terdiam, sebenarnya ia sudah mengetahui hal ini semenjak dirinya menyentuh lukisan itu, ia ingin sekali menceritakan apa yang ia lihat waktu itu dalam pikirannya. Namun ada sesuatu yang seakan mengunci mulutnya.

Lama mereka terdiam tak mampu menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan maupun pernyataan tersebut. Hingga Kakashi dan sensei lainnya tiba di penginapan, wajah mereka lesu bukan main, bahkan Asuma sempat muntah ketika mereka baru melangkahkan kaki ke dalam ruangan utama.

"Bagaimana Kakashi-san?" tanya Kankurou penuh harapan. Kakashi menghela nafas panjang sebelum menjawab,

"Pintu gerbang tak bisa dibuka, kita tidak akan bisa keluar dari sini"

-


-

"Kita harus bisa keluar dari sini," ujar Kakashi walau suaranya terdengar putus asa.

"Kalau begitu berpencarlah. Kita cari jalan keluarnya," saran Sasori yang langsung diiyakan Kakashi dan Sensei lainnya

Sekelompok anak itu berpencar, mencoba mencari siapapun yang kemungkinan masih hidup atau apapun yang merupakan kunci ataupun pintu keluar.

-


-

"Naruto kemana?" tanya Sakura pada Kiba yang langsung disambut gelengan kepalanya.

"Lagi begini ko' mendadak hilang," ujar Sakura putus asa.

Kali ini Sakura sekelompok dengan Kiba, Naruto, dan Deidara. Mereka mencari ke arah timur dari penginapan. Setelah sekian berjalan jauh sambil 'menikmati' pemandangan mengerikan, akhirnya disinilah mereka berhenti, di sebuah rumah kecil dengan pohon yang amat besar di depannya. Suara burung hantu bersahut – sahutan diikuti hembusan angin yang semakin mencekamkan suasana.

-


-

"Loh dimana yang lainnya?" seru Naruto saat menyadari dirinya tersesat di suatu tempat yang belum pernah dilewatinya.

Naruto ketakutan ketika ingatannya terbang ke kejadian beberapa jam yang lalu. Tubuhnya menggigil dan merinding. Samar – samar ia bisa mendengar tangisan anak kecil yang kiranya keberadaannya tak jauh dari posisi Naruto sekarang.

'Huhuhu…'

'Eh? Suara anak kecil? Dimana?', batin Naruto, kepalanya ia tengokkan ke kiri dan kanan mencoba mencari sumber suara, senyuman harapan terlukis di wajahnya. Ia senang masih ada warga yang 'selamat', walaupun hanya anak kecil.

Perlahan Naruto mendekati sebuah pohon maple besar yang berguguran daunnya. Dalam siluet gelap, ia bisa melihat sesosok anak kecil terduduk di bawah pohon, anak itu menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Naruto berusaha memegangnya sebelum akhirnya anak itu beranjak tiba – tiba dan berlari menjauhi Naruto menuju sebuah mansion besar yang terletak tak jauh dari situ.

"Kenapa dia lari?" tanya Naruto heran. Ia bergegas mengikuti anak itu dan membuatnya terpaksa memasuki mansion yang sama sekali asing baginya. Namun rasa penasaran pada anak kecil itu seakan telah membutakan penglihatannya akan lingkungan disekitar.

-


-

Naruto terus mengikuti kemanapun anak kecil itu berlari. Dan tak disangkanya anak itu berhenti tepat di depan pintu yang sangat besar yang berada di lorong panjang mansion yang baru dimasuki Naruto. Wajah anak itu tidak terlalu kelihatan karena cahaya tak cukup terang. Anak kecil itu menangis sesenggukan, tangannya berusaha menggapai – gapai gagang pintu,. Naruto yang mengerti keadaan anak itu beranjak dari tempatnya menghampiri anak kecil itu. Tangannya membuka pintu besar itu, dan secepat kilat pula anak itu masuk, ketika pintu hanya terbuka sekitar beberapa cm dan berhasil membuat Naruto heran sekaligus bingung.

'Ba, bagaimana bisa?' tanyanya dalam hati. Ia pun bergegas masuk dan seketika itu matanya membulat, menyaksikan apa yang terdapat tepat didepannya.

Anak itu menangis lagi disana. Tapi kali ini ia berbalik menghadap Naruto. Satu tangannya menutup seluruh wajahnya, sehingga Naruto tidak dapat melihat jelas wajahnya, hanya rambut jabrik berwarna hitam milik anak itu yang diterpa cahaya bulan yang dapat dilihatnya. Dan satu tangannya yang lain ia bentangkan ke belakang, membentuk suatu isyarat seperti menunjuk. Naruto sedikit memiringkan kepalanya tanda tak mengerti, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya mendekati anak itu, dan barulah ia mengerti akan maksudnya. Naruto mengikuti arah tunjuknya.

'Altar?'

'Kakak, kakak, kakak, aku ingin ketemu kakak,' gumam anak kecil itu dan berhasil membuat Naruto tersentak untuk kesekian kalinya. Namun, suaranya lama kelamaan semakin lirih dan mengecil. Naruto hampir tak bisa mendengarnya. Pandangannnya kembali lagi ke altar itu. Ia dapat melihat sesuatu tergantung disana bersama dupa – dupa dan lilin – lilin kecil.

Naruto berjalan mendekat ke altar tersebut, matanya tertuju pada sesuatu yang berupa figura foto.

'Ini kan…'

"Adik kecil, dia kakakmu?"

Tak ada jawaban.

Naruto segera membalikkan badannya. Namun matanya tak mendapati anak kecil tadi. Kini pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan tersebut.

'Loh, kemana adik kecil tadi? Atau.. atau jangan – jangan dia..'

"Huaaaaa!!!" Naruto menjerit histeris, saat ia bersiap berlari menuju pintu, suara aneh berhasil menghentikannya.

'Mau lari kemana kau Namikaze?'

Naruto berhenti tepat di depan pintu, sebelum akhirnya ia menoleh dan memutar badannya ke belakangnya. Betapa terkejutnya ia menyadari sesosok tak asing telah muncul dihadapannya.

'Kau…'

-


-

You had left us long time ago

You didn't feel the pain that we held

You broke our promise

But now you come again

Come with more happiness

That's why…

I want you to feel our pain

Me and my brother

-


-

"Naruto tidak kesini?" tanya Sakura begitu kelompok mereka tiba di penginapan tersebut kepada Tenten yang keadaannya semakin membaik.

"Tidak, belum ada yang kembali kesini selain kalian," ujarnya.

Setelah Tenten berbicara begitu, suara langkah – langkah kaki terdengar mendekat di luar. Kakashi muncul paling pertama, raut wajahnya kusut dan terlihat putus asa. Begitu juga dengan yang lainnya, hanya Gaara yang menampakkan wajah datar.

"Tak ada jalan keluar," ujar Kakashi lemas.

Semuanya terdiam, larut dalam pikiran masing – masing. Sakura memecahkan kekakuan dengan beranjak dan melangkah pergi menaiki tangga ke lantai atas.

"Ja, aku ke atas dulu, mau melihat kelompok yang masih diatas," ujarnya seraya berlalu. Dan suasana kembali hening seperti tadi.

Sementara yang lainnya hanya dibuatnya tercengang, dalam hati mereka berkata,

'Berani sekali anak itu yah.'

-


-

'Uh, tahu begini, kenapa tadi aku tidak minta ditemani?' gerutu Sakura.

Sekarang ia tengah berada lorong panjang yang akan membawanya menuju tangga lantai 3. Jalannya agak dipercepat ketika ia mulai merasakan aura aneh disekelilingnya. Sakura hanya bisa menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Senter ditangannya digenggamnya erat – erat. ia menyesal egonya telah membuatnya menjadi seperti ini. Namun sekarang sudah terlambat, ia kini tengah berada di tengah perjalanan, melanjutkan atau balik lagi hasilnya pun akan tetap sama.

Sakura bernafas lega ketika ia berhasil mencapai anak tangga ke lantai 3, ia dapat melihat beberapa cahaya senter diatasnya. Tanpa pikir lebih lama lagi, ia melangkah naik, mulai menapaki anak tangga itu.

Krincing!! Krincing!! Krincing!!

Sakura tepat berhenti di anak tangga ke 2, ketika ia mendengar suara gemerincing lonceng dari balik pintu disisi tangga. Pintu yang agak sedikit terbuka itu menampilkan cahaya lilin yang cukup terang benderang. Rasa penasaran mulai merambati diri Sakura. Ia beranjak turun dan menghampiri pintu tersebut. Sakura mencoba melihat ke dalam dengan membentangkan pintu itu. Namun ketika tangannya akan bersentuhan.

Krincing!! Krincing!! Krincing!!

Sakura terlonjak kaget setengah mati. bagaimana tidak sesosok anak kecil telah mengagetkannya dengan muncul secara tiba – tiba di depannya. Berlarian dalam pintu itu. Sakura mencoba mengatur nafasnya yang mendadak memburu sebelum perhatiannya tertuju pada 2 benda yang teronggok dilantai yang dilalui oleh anak itu.

'Boneka.. apa milik anak itu yah? Tunggu.. Boneka ini, kenapa mirip dengan…'

"Kyaaaaaaaa…!!!

Suara yang diyakini Sakura sebagai milik Ino, telah berhasil menggemparkan seisi penginapan tersebut.

-


-

It begins…

It begins…

It begins…

Namikaze…

It begins..

The Chain of the Death…

-


-

Maaf yah, saya ga' update lama. Maklum sibuk sekali dengan urusan sekolah, ulangan yang berjibun ataupun PR yang mengantri, belum lagi pemadaman bergilir yang turut melanda kawasan rumah saya. Huft, menyedihkan :'(

Deskripsi penginapan saya ambil dari Tenchu Fatal Shadows, ada yang pernah main? Deskripsinya kurang lebih sama kayak penginapan Geisha itu (kalo ga salah dan itu menurut saya hehehe…) pokoknya itu adalah tempat dimana Rin beraksi hehehe…

Lilin – lilin yang ada di lapangan itu adalah Hellish Abyss yang diatas. Yang pernah main pasti tahu tempat ini, tempat Mio vs Kusabi. Kalau yang ga tahu bayangkan saja lapangan yang dikelilingi lilin kecil dan sekumpulan lilin ditengahnya.

Ada miss atau typo? Beritahu saya jika anda menemukan :D

Balasan Review:

- Aquamarine26 : Ganti nama? Hehe iyah, kemarin cepet - cepet, karena takut ga bisa update untuk waktu yang lama seperti sekarang. Makanya ga dibaca dulu. Tapi mudah – mudahan yang ini bisa lebih baik. Hm, iya terima kasih atas infonya :D

- Erune : Yah masih awal – awal sih belum terlalu tegang hehe.. Chara matiin semua? Dari awal emang niat gitu, tapi… ga jadi :D

- Sanada Sasuke : Banyak yang ganti nama yah : D tak apa2. Pengocok jantung?. Hm, mungkin ga nyasar di mansion aja tapi di seluruh desa. Yah ini update. Semoga anda puas :D

- Nie Akanaru : Makasih :D. seru ko' main aja hehehe, pasti ketagihan (kalau saya). Eh Nightmare nya keren. Saya suka lanjutin yah :D

- Azuka Kanahara : Makasih lagi.. dibaca sama direview juga udah seneng apa lagi difave. Mudah – mudahan ga mengecewakan. Iyak betul!! Loh ko' menyerah padahal itu belum sampai chapter 1 loh, ngecheat? Bagus dong udah dapet lensa – lensa yang kuat. Saya baru ngulang yang baru nih, tapi sayang misinya banyak yang kelewat hiks, hiks, ga bisa ketemu Tidus deh.. :'D. iya saya main tapi baru 1/5 jalan mungkin. Iya neh, nyambung begini. Tapi ga papa lah sekalian bagi info hehehe. Gaara ma Sasori? Hm kita liat aja chap-chap selanjutnya khukhu :D..

Bagaimana Chapter ini? Kurang memuaskan? Terlihat memaksa? Saya tunggu pendapat anda :D hehehe

Akhir kata

-

-

-

Review Please