.

"Kyaaaaaaaa…!

Suara yang diyakini Sakura sebagai milik Ino, telah berhasil menggemparkan seisi penginapan tersebut.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Fatal Frame All Series by Tecmo

Village, Ritual and Nightmare by Neo Ravena

Second Nightmare 'Doll's Kid or Kid's Doll'

.

.

Sakura segera bergegas lari menaiki tangga ke lantai 3, boneka yang tadi ia pegang sudah tergeletak di lantai lagi. Selang beberapa saat kemudian, sesosok anak kecil yang dilihat Sakura tadi, sekarang berdiri tepat di hadapan boneka itu. Tangan kecil nan pucat itu meraih sepasang boneka di lantai. Sambil tersenyum, anak itu sedikit menggumamkan kata-kata tak jelas. Lalu detik itu juga, anak itu menghilang bersama dengan hembusan angin yang entah dari mana datangnya.

Sakura menaiki anak-anak tangga yang hampir roboh itu. Derit-derit kayu menyertai setiap langkahnya. Senter di tangannya terus ia arahkan ke atas, tak memperdulikan lagi 'sesuatu' yang menyentuh kakinya. Sampai akhirnya, ia berhasil mencapai lantai 3 dan langsung disambut oleh jendela besar yang terbuka lebar dengan lorong-lorong gelap di kanan dan kirinya. Sakura melangkah mendekat hingga kakinya nyaris mendekati bibir jendela itu, ia menundukkan kepalanya ke bawah, dan...

Bau amis memasuki indra penciumannya. Dalam keadaan gelap, Sakura dapat melihat sesuatu jauh dibawah sana.

.

Sakura's POV

.

Aku bisa melihatnya! Gundukan tinggi nun jauh di bawah sana, meski berkabut aku masih dapat melihat noda darah dan… tulang belulang itu. Oh tuhan, sebenarnya apa yang terjadi disini? Kurasakan bulu kudukku berdiri. Dan tanpa aku sadari, suasana menjadi lebih 'berat' dan mencekam dibanding saat aku baru tiba disini.

Aku bisa merasakan sesuatu menghembus tengkukku. Angin… bukan, bukan angin, tapi lebih tepatnya hawa seperti ada seseorang yang lewat. Segera aku membalikkan badanku, tak ada siapa-siapa, pikirku. Batinku terkejut, tak terasa aku menahan nafas, suara berderit-derit terdengar jelas di telingaku, semakin lama semakin mendekat. Aku menutup mataku tak mau melihat apapun. Dan…

"Sakura, kau tidak apa-apa?"

Aku membuka sedikit mataku. Bukan, bukan 'apa-apa', tapi itu Sasori. Oh Tuhan, syukurlah. Kurasa aku akan pingsan tadi.

"Ino, mana Ino?"

Ino? Aku lupa. Dengan sigap, aku mengarahkan lampu senterku ke lorong kiri maupun lorong kananku, sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah mereka yang baru datang. Aku melihat ada Sasori yang tepat dibelakangku, disusul Gaara yang ikut mengarahkan senternya ke kanan dan ke kiri, lalu Guy-sensei dan Kakashi-sensei yang berjalan berdampingan. Tak sengaja aku mengarahkan pandanganku pada dinding yang tepat berhadapan dengan baris tangga pertama. Sesosok bayangan terpahat di dinding itu, membentuk seperti badan manusia dan semakin lama bayangan itu menghilang seakan terserap oleh dinding. Aku memekik kecil dan berusaha mengalihkan pandanganku dari tempat itu, sekilas kulihat Gaara juga mengedarkan pandangannya ke tempat itu lalu memandangku, kulihat sekilas ekspresinya seperti orang yang penuh kecurigaan.

"Hei lihat! Ada cahaya senter disana." Sasori bergegas lari ke arah lorong di sebelah kiri. Tepat beberapa meter dari tangga itu, kami melihat Ino tengah berlutut dihadapan sebuah ruangan, senter yang digunakannya tergeletak tak berdaya disisinya dalam kondisi menyala. Tubuh Ino bergetar hebat, wajahnya tertutup oleh kedua tangannya, lirihan kecil mulai terdengar seiring langkah kami yang semakin mendekat.

"Ino...?" Sasori perlahan mendekat, tangannya menggapai bahu Ino.

"Aaaaahhhh...!" Tiba-tiba saja gadis itu berteriak histeris, spontan Sasori menarik kembali tangannya. Wajah Ino tampak sangat pucat, matanya terlihat sembab, air mata terus mengalir di kedua pipinya.

"Kenapa I…no... Ahhhhh!" Sasori terjatuh saking terkejutnya, kami bergegas menghampirinya.

.

End of Sakura's POV

.

Sakura segera menghampiri Ino dan merangkul gadis rapuh itu. Ia mengelus lembut punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.

"I-ini tidak mungkin..." Kakashi terlihat syok, tangannya melemas, tubuhnya jadi bergetar sendiri, Guy juga berekspersi sama sepertinya.

"Sense...i..." Gaara terhenti di sebelah Kakashi dan segera mengedarkan pandangannya ke arah yang sama dengan Senseinya.

"Asuma… Kurenai…" lirih Kakashi hampir tak terdengar, senter ditangannya kini meluncur bebas mengikuti gravitasi bumi.

"Kenapa…?"

.


I know, I can't become a great doll maker in my village

But I know, you're the only one who always support me for that


.

Kakashi menatap kosong ke arah dua sosok tak bernyawa di hadapannya. Stakes kecil tercengkram kuat di tangan Asuma, menusuk dalam tepat jantung Kurenai. Stakes kecil juga dipegang erat oleh Kurenai dan menancap di dada suaminya, sekilas mirip dengan 2 orang yang saling membunuh. Stakes panjang menembus perut mereka dan tertancap dalam di tembok, membuat mereka tergantung tinggi dari lantai. Perlahan Kakashi mulai melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Air mata perlahan menggunung di pelupuk matanya.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Ino…?"

"A-Aku t-tidak tahu, sensei," Ino menangis sesenggukan dipelukan Sakura, gadis itu nampaknya masih teramat syok menghadapi kenyataan didepannya. "B-Begitu aku kemari, aku… sudah melihat mereka… seperti i-itu..."

"Kakashi…" Guy berusaha menyadarkan lamunan temannya dengan menepuk pundaknya. Ia masih merasakan getaran pelan dari tubuh itu.

"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" lirih Kakashi. Ia berpikir liburan kali ini bisa menjadi hal terbaik penghilang depresinya. Namun, sayangnya Tuhan belum menyetujuinya, ia malah diberikan 'suguhan' kematian temannya dalam keadaan sangat mengenaskan.

Mata Gaara kembali menangkap siluet bayangan yang berkelebat tak jauh di dekat lemari kamar. Namun kali ini, ada seorang lagi yang turut menyaksikannya. Dan lagi-lagi orang itu adalah gadis berambut pink bernama lengkap, Sakura Haruno.

Didorong rasa penasarannya, Sakura melepas pelukan Ino dan menyerahkannya ke Sasori yang masih termenung, lalu perlahan berjalan memasuki ruangan tersebut.

"Sakura?"

~~VRN~~

~~Doll's Kid or Kid's Doll~~

~~VRN~~

Sakura berjinjit pelan ketika memasuki kamar itu. Suasana yang sama, tak jauh beda dengan kamar lain. Hanya saja suasana itu diperkeruh dengan hawa kematian yang baru saja terjadi. Perlahan tangan rampingnya menyusuri kayu lemari yang lapuk.

BRAKK! Pintu lemari terbuka lebar. Dan..

BRUGH!

"AHH!" Sakura menjerit histeris sampai terjatuh, tubuhnya yang sedari tadi gemetaran, bertambah lagi gemetarnya. Sekarang, dihadapannya tergeletak sesosok manusia bermandikan darah. Orang itu jatuh terlungkup tepat di ujung jari kaki Sakura.

"Nar-Naruto!"

Sosok yang dipanggil Sakura itu nampaknya mulai terbangun. Ia menggerakkan perlahan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya yang telungkup.

"Ugh… Eh? Loh? Sakura!"

"Naruto! Kenapa kamu bisa ada disini?" Sakura bertanya sembari membenahi duduknya yang nyaris terlentang itu.

"A-aku ti-tidak tahu, Sakura," jawab Naruto bingung.

SREKK!

Suara gesekan kayu dengan sesuatu mulai terdengar tak jauh dari tempat mereka berada. Semuanya pun otomatis membatu, Naruto tidak lagi melanjutkan kata-katanya.

SREKK!

Gesekan kedua. Bulu kuduk Sasori kini hampir berdiri tegak.

SREKK! SREKK!]

Suara itu membelah menjadi 2. Bukan, bukan membelah, tapi ada dua objek yang menghasilkan suara itu.

SREKK! SREKK!

Isakan Ino mengecil hingga tak lagi bersuara, tangannya menggenggam kuat jaket milik Sasori.

SREKK! SREKK! KRIETT!

Suara itu mengalun lagi, kali ini disertai dengan deritan pintu kayu yang jelas sekali suaranya itu dekat sekali dengan tempat mereka.

SREKK! SREKK!

Suara itu semakin dekat dan dekat. Serasa berada tepat disebelah telinga mereka.

"Sakura.." Suara Naruto mulai memecah keheningan dan ketegangan yang sempat melanda atmosfer kamar itu

"A-Ada apa Naruto?" dan disahut dengan bisikan Sakura. Tampaknya ia masih agak ketakutan.

"Aku…"

"…."

"…."

"…."

"…."

Hening…

"Sakura…"

"…."

"…."

"…."

GRAUKKK!

SSSHHHHHHHH! SSSHHHHHHH!

"AAHHH!" Sakura berteriak kencang, membuat semua orang tersadar dari ketegangan sesaat mereka. Dan Kakashi-lah yang menghampiri mereka lebih dahulu.

"Naruto! Sakura!" Ia mencoba secepat mungkin tiba di tempat mereka yang terletak disudut ruangan itu.

"Jangan Kakashi-sensei!" Gaara mencoba menghalangi tindakan gurunya itu. Namun terlambat, ia telah membuat pria berambut silver itu terpaku ditengah ruangan, tepat 3 langkah dari posisi Sakura sekarang.

Sedangkan gadis itu tengah berusaha menggerakkan tubuhnya yang mendadak kaku akibat rasa ketakutan yang sudah menumpuk sejak tadi dan ditambah dengan hal yang sedang terjadi sekarang dihadapannya.

Dihadapannya. Naruto. Sahabatnya terdekatnya. Tangan berkulit tan itu terulur jauh berusaha menggapai Sakura. Tepat dibelakangnya, sesosok makhluk tengah menjerat tubuh itu. Suara desis yang diyakini semuanya sebagai suara ular mulai memenuhi atmosfer ruangan itu. Sakura semakin ketakutan, air mata mulai tergenang di pelupuk matanya.

"Sakura, tolong aku…" rintih Naruto jeratan ekor ular itu semakin kuat, membuat rasa sakit yang amat sangat pada tubuhnya.

"T-Tidak.. Tidak.. Tidak! Tidak!" Energi besar menghampiri Sakura, dengan segera ia bangkit berusaha lari dari gapaian tangan didepannya

GREP!

Terlambat. Tangan itu telah mencengkram kuat pergelangan kaki Sakura, membuat gadis itu terpaksa jatuh lagi.

"AAHH! Kakashi-sensei!" Tangan Sakura mencoba menggapai Kakashi yang berdiri dihadapannya.

GREP!

"Jangan Kakashi-sensei!" Gaara melesat lari ke arah Kakashi, ia menarik kuat tangan gurunya itu sebelum tangan Sakura menggapainya.

"Gaara!" Kakashi berusaha memberontak. Prioritas utamanya kini menyelamatkan murid-muridnya.

"Jangan Sensei!" Dibantu Guy, Gaara berhasil menarik pria berambut silver itu menjauh hingga pintu kamar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Sakura dan Naruto yang kini tengah berusaha melepaskan diri. Ia terkejut menyadari sosok dibelakangnya. Sosok berbentuk ular berkepala manusia, berambut hitam panjang dengan lidah yang terjulur panjang, lidah itu melilit erat leher Naruto, membuat pemuda itu sesak nafas karena tercekik. Sementara Sakura yang dipegangnya kini tak jauh berbeda dengan Naruto, sesosok ular besar yang diyakini Gaara sebagai tubuh makhluk itu kini menggerayangi tubuhnya, melilit erat hingga batas wajah gadis itu.

"Gaa...ra..." Namanya disebut terakhir oleh gadis itu, sebelum seutuhnya tubuh itu tertutup ular besar. Gaara melihat puluhan bahkan ratusan ular menghampiri posisinya saat ini.

"Semuanya keluar!" Serentak Gaara, Kakashi dan Gai meloncat ke arah pintu keluar.

BRAKK! BLAMM!

Pintu itu tertutup. Namun yang dilihat mereka bukanlah daun pintu lagi, melainkan tembok lumut yang besar nan kokoh. Pintu itu kini seolah bersembunyi dibaliknya. Semuanya terkejut melihatnya. Kakashi yang tidak mau menyerah segera bangkit dan menghampiri dinding kokoh itu.

"Naruto! Sakura! Jawab aku!" Kakashi memukul keras tembok itu, tak perduli tangannya yang memerah. Tak ada jawaban. Semuanya kosong yang ada hanya suara deritan kayu yang semakin mengecil dan mengecil.

.


Finally, I get him, Itachi-sama

Do you want me to bring his doll?


.

"AHH!" Suara diruang tengah tak kalah kencangnya di banding di atas, meski tak akan terdengar berhubung mereka dipisahkan hampir 10 meter ke atas. Anko yang sedari tadi tertidur di pangkuan Tenten tiba-tiba tersadar, sepertinya ia mimpi buruk dan gadis bercepol itu tak mengetahuinya, berhubung ia juga tertidur menyender dengan tembok tepat dibelakangnya.

Anko menatap sekelilingnya, semuanya terlelap tidur tak ada satu pun yang terjaga. Sakura, Kakashi, Guy, Gaara, Sasori, Ino, Asuma dan Kurenai belum kembali dari lantai 3. Ia mencoba membangunkan Tenten yang masih saja tertidur nyenyak disampingnya, tapi hanya suara dengkuran halus yang menjadi jawabannya.

Anko bangkit berdiri dari tempatnya, diedarkannya pandangan matanya itu ke sekelilingnya. Semuanya tampak terlelap tidur, meskipun ada sedikit keganjilan ketika pandangannya bertemu dengan Chouji yang tengah asyik tertidur bersama kripik kentang dipangkuannya. Anko tak habis pikir, apa segitu kelelahannya ia makan, sampai-sampai kripik favoritnya dibiarkan berceceran seperti itu. Ini salah, ada yang aneh dengan ini semua. Ia memutuskan untuk kembali membangunkan satu persatu orang dimulai dari Deidara. Namun, lagi-lagi dengkuran halus yang didengarnya.

SSHHHH.. SSHHHH..

Desisan ular. Dituntun insting, Anko menolehkan kepalanya kebelakang menatap sebuah pintu kecil di pojok ruangan. Pintu yang sama sekali belum terjamah dari tadi. Pintu dengan palang kayu dan rantai berkarat didepannya. Ia yakin suara desisan ular tadi berasal dari pintu itu, didorong rasa penasaran ia mencoba mendekatinya.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah…

SSHHHH.. SSHHHH..

Tiba-tiba asap ungu menguar pekat dari celah kecil dibawah pintu. Anko terkejut bukan main. Ia berusaha mengendalikan dirinya dari rasa takutnya sendiri.

Ia melihatnya, matanya sendiri yang memastikannya bahwa itu semua nyata. Sesosok makhluk berambut panjang keluar dari celah sempit itu, aura ungu pekat menguar dari tubuhnya. Anko tak dapat melihat wajahnya. Tapi ia dapat mengetahui kalau makhluk itu berusaha keluar dari celah yang sangat sempit itu. Otomatis ia pun mundur beberapa langkah kebelakang. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

Sososk itu berhasil keluar. Anko dapat melihat tubuhnya, tubuh ular. Anko memekik pelan ketika sosok itu menengadahkan kepalanya, membuat wanita muda itu memandang langsung kedua bola matanya yang seakan-akan telah mati.

'Anko…'

Suara itu. Suara yang dikenalnya dulu. Suara yang menghiasi masa sekolahnya. Ia mencoba lagi menelaah wajah itu. Wajah yang sama persis dengan 'dia'. Wajah guru kesayangannya.

"Orochimaru-sensei…" lirih Anko hampir tak terdengar.

.


I want to collect them

And I'll make them to be your best present


.

Anko mundur beberapa langkah lagi, ketika sosok itu mendekatinya. Lidah panjang makhluk itu menjulur-julur ganas hampir mengenai kakinya. Rasanya ia tak sanggup berlari sekarang.

"K-Kenapa..?"

'Anko…'

"AHH! Aku tidak mau. Jangan ganggu aku! Jangan! Jangan! Kumohon…" Anko mulai terisak kecil. Ia mencoba menolehkan kepalanya ke arah teman-temannya. Namun, sayangnya tak ada satu pun diantara mereka yang terbangun karena suaranya.

'Anko…'

"Pergi! Pergi kubilang! Kau bukan Orochimaru-sensei yang kukenal!"

'Anko…'

"AAHHH!"

.

-Flashback-

"Ada apa Anko?" tanya seorang pria yang sedang merapikan bukunya, ketika sesosok gadis berusia 15 tahun yang diyakini sebagai muridnya datang tiba-tiba ke ruangannya.

"Aku ingin Orochimaru-sensei menuruti undangan peneliti itu untuk pergi ke Myoboku," ujar gadis yang dipanggil Anko itu.

"Apa alasanmu memaksaku ikut, Anko?" Orochimaru masih tetap fokus terhadap buku yang dipegangnya.

"Orochimaru-sensei! Kalau kau ikut, aku 'kan bisa mendapatkan ular langka di sana,"

"Kau 'kan sudah tahu, aku punya banyak urusan selain ikut penelitian itu."

"Sensei jahat! Aku benci Sensei!" Anko merajuk dan berlari meninggalkan ruangan itu, menyisakan Orochimaru yang sangat terkejut mendengar perkataannya.

Beberapa hari kemudian…

"Orochimaru-san, kita akan berangkat sekarang," ujar rekannya sembari menepuk pelan bahu sang guru. Orochimaru sempat membalikkan badannya, menghadap balkon koridor asrama atas, tempat anak-anak melihat keberangkatan mereka. Matanya menangkap sesosok gadis yang selama ini menjauhinya. Ia melihat wajah datar gadis itu. Ia tahu ada segurat rasa senang yang bernaung di wajah itu. Dan Orochimaru pun membalikkan badannya mengikuti arahan rekannya tadi, berjalan tenang tanpa tahu bahwa pandangan tadi adalah pandangan terakhir yang ia berikan pada gadis itu.

- End of Flashback-

.

-VRN-

-VRN-

.

3rd Floor

.

Ino nampak masih terguncang mentalnya, ia menangis sesenggukan dipelukan Sasori. Kakashi berlutut di hadapan tembok, kedua tangannya masih meninju pelan tembok itu, menyesali perbuatan lambannya. Tembok yang memisahkan dirinya dengan kedua muridnya itu. Guy berinisiatif untuk menghampirinya duluan.

"Kakashi, tak baik seperti ini, jangan salahkan dirimu terus. Lebih baik kita segera…"

"AAHH!" Suara wanita memotong perkataan Guy, Suara itu berasal tepat di depan tangga. Tak berapa lama kemudian, mereka menangkap sesosok wanita tengah menjerit histeris sembari melangkah mundur mendekati jendela besar yang terbuka lebar seakan menyerapnya. Gaara mengarahkan senternya ke arah wanita itu.

'Anko-sensei?'

Bukan hanya Anko, sosok berambut panjang dengan badan ular yang mereka lihat tadi kini turut merayap mendekati Anko.

"Anko-sensei!" Gaara berlari sekuat tenaga ke arah senseinya.

"Gaa…ra…" Otomatis Anko menolehkan kepalanya itu melihat muridnya yang berusaha lari secepat mungkin. Tapi sayangnya itu adalah tindakan yang sangat fatal.

GRAUKKK!

"KYAAA!"

BRUUKK!

"Anko-sensei!"

.

-VRN-

-VRN-

.

"Ugh… " Sakura tersadar dari pingsannya. Ia mencoba bangkit duduk mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhnya. Lama ia bergulat dengan rasa sakit itu tanpa menyadari keberadaannya sekarang.

"Huh, dimana ini?" Dalam kondisi pusing, ia mencoba mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Sakura meraba tubuhnya sendiri dari atas sampai bawah memastikan tak ada apapun yang menyentuh atau melilitnya. Sakura tiba-tiba teringat sesuatu. Naruto. Ia menoleh ke sekelilingnya dan tak mendapati sosok berambut oranye cerah itu. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tak sing tak jauh dari tempatnya.

'Boneka?'

Sakura mencoba bangkit dan kembali menelaah benda disekitarnya setelah pandangannya sempat mengabur sesaat.

"Ah! T-Tidak mungkin…" Sakura menatap tak percaya di hadapannya. 2 sosok yang tak asing baginya tergantung di dinding ruangan itu, 2 boneka tergeletak dibawah kaki mereka. Boneka yang sama persis seperti mereka yang diingat Sakura pernah ditemukannya sesaat sebelum teriakan Ino terdengar.

2 sosok itu. Asuma dan Kurenai…

Sebuah stakes panjang menancap dalam ke jantung mereka dan darah kering terlihat menempel di dinding sekitar mereka. Kedua tangan mereka masing-masih ditancapkan stakes yang ujungnya dikaitkan dengan kertas mantra. Masih menatap tak percaya, Sakura mencoba meneliti tempat dimana ia sekarang, tembok disekitarnya terlihat kosong hanya ada meja panjang yang merapat ke tembok dengan berbagai jenis boneka khas Jepang lampau. Sepasang matanya menangkap sesuatu didekat meja itu.

'Altar?'

Sakura melangkah perlahan ke altar tersebut. Matanya menangkap 'sesuatu' yang teronggok tepat dibelakang meja itu. Sesosok manusia yang hanya tinggal tulang-belulang saja. Dilihat dari warna hitam kecoklatan tanda membusuk di tulang itu, dapat dipastikan mayat itu telah berada sangat lama disana. Sakura agak bergidik geli sekaligus takut. Tapi rasa itu berubah ketika matanya menangkap sesuatu yang berkilau tepat di meja altar itu.

'Kristal yang indah.'

Kata-kata itu dilontarkan Sakura. Tanpa sadar, ia meraih kristal biru kehitaman itu.

.

CTAASSSSHHH!

.

"Kamu ini bisa atau tidak sih membuat boneka?"

"Ta-tapi aku sudah berusaha, ayah.."

"Berusaha? Membuat buntelan tak jelas ini berusaha namanya? Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus bisa membuatnya sama seperti milikku atau kau akan kutendang dari rumah ini. Paham!"

Anak itu mengangguk seraya menangis, boneka merah yang menjadi penyebab tangisannya itu kini tergolek pasrah di ujung jari kakinya. Setelah ayahnya pergi dari hadapannya, anak itu beranjak keluar dari rumahnya membawa serta boneka dan berlari sekencang-kencangnya tanpa tahu arah seraya menahan derasan air mata yang menyembul dari pelupuk matanya.

BRUKK!

Anak itu terjatuh cukup keras ketika tubuh mungilnya menabrak sesosok tinggi di hadapannya. Bocah itu menengadahkan kepalanya untuk melihat sosok itu. Senyum kecil terukir perlahan di bibir mungilnya. Rasa sakit yang menyergap punggungnya hilang seketika saat sosok itu membalas senyuman yang diberikannya.

"Inari…"

"Itachi-sama!" Anak yang bernama Inari itu melonjak berdiri dan memeluk erat pria yang dipanggilnya Itachi-sama. Itachi tersenyum dan mengelus lembut kepala anak itu, lalu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Inari.

"Kau sedang apa di sini? Hei, kenapa dengan wajahmu." Itachi mengusap-usap kedua kelopak mata Inari yang terpejam erat seraya menyejajarkan tingginya dengan bocah itu.

"Hah? Oh… aku baik-baik saja, Itachi-sama!" seru bocah itu seraya memamerkan senyumannya yang paling lebar, membuat Itachi ikut tersenyum. Tapi ia tahu, ada sesuatu yang janggal dengan keadaan anak itu.

"Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku." Itachi mengelus pelan kepala Inari sebelum akhirnya kedua pasang matanya menangkap sesuatu yang teronggok di tanah.

"Ini… milikmu?" Itachi mengambil boneka itu dan menunjukkannya pada Inari. Tiba-tiba saja pelupuk mata Inari telah kembali penuh oleh air mata.

"Apa ini terlalu buruk, Itachi-sama?" Inari mengusap-usap matanya yang mulai basah. Itachi terdiam sebentar lalu mengamati boneka itu dengan seksama.

"Tidak, ini sudah cukup baik kok. Hanya saja kau harus berusaha lebih keras lagi untuk membuatnya lebih, lebih, lebih dan lebih baik lagi," ujar Itachi tersenyum.

"…bolehkan ini untukku?" lanjutnya masih dengan senyuman yang terasa hangat bagi Inari.

Tak sadar, air mata Inari telah mengalir deras di kedua pipinya. Ia pun memeluk Itachi seerat-eratnya, seakan-akan ia bisa mengalirkan rasa kasih sayang yang besar kepada pria yang telah dianggapnya sebagai kakak. Itachi yang terkejut karena kelakuan Inari, perlahan mengembangkan senyumannya dan mengelus lembut kepala bocah itu.

"Aku berjanji… aku berjanji, Itachi-sama. Aku akan menjadi pembuat boneka yang paling hebat di desa ini bahkan seluruh dunia, dan akan kubuat boneka terbaik yang pernah ada hanya untukmu."

"Ya… aku akan sangat menantikannya, Inari. Saat ritual itu…"

.

CTAASSSSHHH!

.

BRUKK!

Sakura terjatuh dengan nafas yang terengah-engah hebat. Tangannya yang lemas tanpa sengaja menjatuhkan kristal itu di pangkuannya. Keringat terus mencucur deras di dahi gadis itu. Tubuhnya agak bergetar hebat dan kepalanya pusing bukan main.

'Itachi… Inari… Siapa sebenarnya mereka?'

Sakura kembali menatap kristal itu sebelum akhirnya meraih benda bulat itu dan menggenggamnya kuat.

'Apa hubungan mereka dengan ini semua? Dan sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini?'

DRAP! DRAP! DRAP!

Sakura terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu yang tak jauh dari tempatnya. Ia ingat betul pintu itu sebelumnya dalam keadaan tertutup. Tapi sekarang telah terbuka sedikit, menampakkan sedikit cahaya bulan yang menyinari ruangan di luarnya.

Terdorong rasa penasaran, Sakura perlahan melangkah ke pintu dan mendapati sepasang kaki terdiam di balik screen yang menutupi pintu ruangan altar dari luar. Sakura baru saja melangkahkan kakinya keluar pintu saat menyadari sepasang kaki itu telah bergerak cepat ke arah koridor kiri. Sakura segera berbelok dan mendapati sesosok bocah kecil berambut hitam berlari menyusuri koridor yang bersebelahan langsung dengan halaman. Sakura segera berlari menyusul anak itu, tak menyadari rute yang dilaluinya.

Bocah itu berhenti tepat di hadapan sebuah pintu yang sangat besar dan sedikit terbuka. Ia menunjuk pelan ke dalam seperti memberi isyarat kepada Sakura. Sakura menghampiri anak itu dan berusaha melihat ke dalam melalui celah pintu. Saat ia menolehkan kepalanya untuk melihat bocah itu lagi, tengkuknya langsung merinding hebat begitu objek yang akan dilihatnya telah lenyap. Sakura menahan nafas sejenak akibat rasa syok itu. Ia tak punya pilihan selain tetap melanjutkan langkahnya sambil bersugesti dalam hati jika kejadian barusan adalah petunjuk untuk mengantarkannya keluar dari tenpat yang cukup aneh ini. Sakura mendorong sedikit daun pintu itu dan melongokkan kepalanya ke dalam berusaha melihat sesuatu.

'Altar… dan siapa itu?'

Sakura melangkah masuk dan segera kedua pasang matanya menangkap sesosok laki-laki berambut oranye yang sedang berdiri diam menghadap altar.

'Naruto!'

Sakura berjalan cepat ke arah sahabatnya itu, Rasa senang membuncah kuat dalam dadanya karena berhasil menemukan sahabatnya itu. Tepat 3 meter dari posisi Naruto, Sakura berhenti karena mendengar suara berat yang tak biasa terlontar dari Naruto.

'Tolong… tolong… tolong pertemukan aku dengan kakak…'

Sakura mengernyitkan dahinya mendengar permintaan aneh Naruto. Sakura segera meraih kedua bahu Naruto dan menghadapkan tubuh itu ke arahnya. Sakura terkejut bukan main. Mata itu. Mata indah Naruto. Biru langit yang selalu bersinar cerah itu kini digantikan oleh warna merah darah dengan pupil yang terbelah tiga. Wajah berkulit tan milik Naruto tampak memucat sempurna di bawah naungan cahaya bulan yang menerobos sempurna lewat celah-celah atap yang lapuk.

'Tolong aku... bawa aku pada kakak.'

"Kau? Kau bukan Naruto! Siapa kau?" Tangan Sakura terlepas dari bahu Naruto. Memperlihatkan seberapa besar getaran kedua tangan gadis itu. Perlahan Sakura dapat melihat sesosok transparan keluar dari tubuh Naruto. Sosok tinggi dengan rambut jabrik biru kehitaman. Kimono yang dikenakannya robek dan bernoda darah. Wajah yang terselubungi warna putih pucat mayat tak membuat garis ketampanannya sirna begitu saja. Segaris darah kering terbentuk lurus dari mulut menuju dagunya.

Sakura menahan nafasnya saat sosok itu menatap lurus, menusuk dalam ke mata Emerald-nya dengan lautan darah merah yang mengerikan. Sosok itu keluar sempurna dari tubuh Naruto, menyebabkan remaja berambut oranye itu terjatuh ke arah Sakura. Dengan sigap Sakura menangkapnya sebelum jatuh mencium tanah. Berat badan Naruto yang lebih besar membuat Sakura ikut terjatuh dengan Naruto di atas pangkuannya.

Sakura kembali menatap sosok transparan yang sedang terdiam itu.

"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan pada Naruto, hah?"

Sosok itu tetap diam. Pandangannya tetap lurus terarah ke dalam kedua mata Sakura.

'Kakak… aku ingin kakak…'

Tangan pucatnya yang penuh luka menunjuk ke arah altar tanpa membalikkan tubuhnya. Sakura mengikuti arah tangan itu dan mendapati sebuah figura foto di antara cahaya lilin-lilin altar.

'Itu… Itachi-san…?

"Apa maks-?" Sakura mematung saat menyadari sosok itu telah menghilang. Tak berapa lama suara tawa terdengar pelan dari bibirnya bersamaan dengan air mata yang jatuh turun tanpa terkendali. Tubuh Sakura kembali bergetar hebat. Bibirnya terus terbuka dan mengatup seperti berusaha meredam rasa ketakutan yang meluap luar biasa dari dirinya.

Tak berapa lama kemudian, tubuh Sakura jatuh tersungkur di atas tubuh Naruto yang telungkup di pangkuan gadis itu.

.


Brother, wait me…

Wait me in the End


.

Kakashi, Sasori, Ino, Gaara dan Guy telah kembali ke lantai satu, tempat dimana semua kawan-kawan mereka menunggu. Wajah lesu mereka dan mata sembab yang bengkak milik Ino telah menjadi jawaban yang cukup jelas bagi semuanya yang menunggu di sana. Kabar kematian Asuma dan Kurenai telah menyebar dalam kesunyian itu, menyebabkan beberapa gadis tak dapat menahan air mata karena kepergian keduanya.

"Sakura dan Naruto… bagaimana dengan mereka?" tanya Shikamaru seraya mendekat ke arah Gaara yang terdiam sejak tadi.

"Dia… aku tidak tahu… maaf…" Gaara menundukkan kepalanya penuh penyesalan.

.

Deg

.

Gaara yang menunduk langsung terlonjak kaget. Ia mendengarnya. Suara itu, suara yang semakin terdengar jelas. Suara gemuruh yang terlontar dari seruan manusia.

Sedetik kemudian, kedua matanya memandang ke arah sekeliling mencari sesuatu. Matanya kemudian menangkap pintu berantai di ujung ruangan yang langsung menembus ke halaman belakang penginapan.

"Semuanya, cepat pergi dari sini!"

"Ada apa Gaara?"

"Cepat atau hal yang buruk akan segera terjadi lagi." Gaara berjalan ke arah pintu tertutup itu dengan tongkat bambu di tangannya. Besi lapuk ini pasti mudah dihancurkan dengan bambu, pikir Gaara seraya memukulkan benda itu ke rantai pintu.

Mendengar kata 'buruk' semua langsung bangkit berdiri dan membantu Gaara. Kiba yang tak sabaran membantu mereka dengan tendangannya.

Tenten yang tengah merangkul Ino mendengar suara dentuman keras dari arah pintu utama. Lantas ia menoleh dan mendapati manusia-manusia berwajah pucat berkumpul di halaman depan lewat kisi-kisi screen pintu.

"Semuanya cepat! Mereka akan segera masuk!" Tenten menarik Ino yang masih lemas mendekat ke teman-temannya yang sedang berusaha.

DUGG

DUGG

DUGG

BRUKK!

Pintu berantai itu telah terbuka. Serentak semuanya mulai berebut keluar. Tenten segera menyerahkan Ino pada Temari yang langsung ditariknya ke luar. Semenit kemudian, pintu utama berhasil didobrak. Kakashi yang berjalan paling belakang segera menutup pintu itu dari luar dan menjatuhkan beberapa kayu-kayu yang tergeletak di sisi kiri dan kanan dinding. Kemudian ia segera berlari sekuat tenaga mengacuhkan semua yang ada di belakangnya. Ia terhenti begitu melihat Tenten yang terdiam di dekat pohon besar.

"Tenten, ayo cepat! Mereka akan segera menyusul kita." Kakashi menarik lengan Tenten, mengajaknya berlari.

"Sensei… itu…" Tenten menunjuk ke arah gundukan tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Anko-sensei…"

.

.

To Be Continued

.

.

Update! Huft, setelah setahun lamanya tak muncul di fandom ini. Gomen, untuk hiatus berlebih karena kesibukan yang memuncak di awal tahun kemarin. Thanks to Hayashi Vilka, Kurohana Sakurai, Azuka Kanahara, dan teh Eka Kuchiki (hehehe). Tak mau berkata banyak hanya Enjoy Reading dan...

Akhir kata

.

.

.

Review Please ^^